Minggu, 27 Juni 2021

Hadis Arbain Nawawi I (Bagian 2)

kotretaniyek Hadis Ke-2 Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga, beliau berkata: Pada suatu  hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam,  tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya  sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada  seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi  shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi,  dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata:  ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh  shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau  bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya  Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar  zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika  engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.”  Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.  Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”.  (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman  kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan  hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”Orang tadi  berkata: ”Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu  terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah  engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau  tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat  engkau.” Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari  kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu  daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah  kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: ”Apabila budak melahirkan  tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang  miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.”  Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya.  Lalu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar, tahukah engkau  siapa orang yang bertanya itu ?”. Aku menjawab: ”Alloh dan Rosul-Nya  yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat  Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”(HR.  Muslim).  Kedudukan Hadis Materi hadis ke-2 ini sangat penting sehingga sebagian ulama menyebutnya  sebagai “Induk sunnah”, karena seluruh sunnah berpulang kepada hadis ini.  Islam, Iman, dan Ihsan Dienul Islam mencakup tiga hal, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Islam berbicara  masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan mencakup keduanya. Ihsan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari iman, dan iman memiliki  kedudukan yang lebih tinggi dari Islam. Tidaklah ke-Islam-an dianggap sah  kecuali jika terdapat padanya iman, karena konsekuensi dari syahadat mencakup  lahir dan batin. Demikian juga iman tidak sah kecuali ada Islam (dalam batas  yang minimal), karena iman adalah meliputi lahir dan batin.  Perhatian! Para penuntut ilmu semestinya paham bahwa adakalanya bagian dari sebuah istilah  agama adalah istilah itu sendiri, seperti contoh di atas.   Iman Bertambah dan Berkurang Ahlussunnah menetapkan kaidah bahwa jika istilah Islam dan Iman disebutkan  secara bersamaan, maka masing-masing memiliki pegerttian sendiri-sendiri, namun  jika disebutkan salah satunya saja, maka mencakup yang lainnya. Iman dikatakan  dapat bertambah dan berkurang, namun tidaklah dikatakan bahwa Islam bertambah  dan berkurang, padahal hakikat keduanya adalah sama. Hal ini disebabkan karena  adanya tujuan untuk membedakan antara Ahlussunnah dengan Murjiáh.  Murjiáh mengakui bahwa Islam (amalan lahir) bisa bertambah dan berkurang,  namun mereka tidak mengakui bisa bertambah dan berkurangnya iman (amalan batin).  Sementara Ahlussunnah meyakini bahwa keduanya bisa bertambah dan berkurang.  Istilah Rukun Islam dan Rukun Iman Istilah “Rukun” pada dasarnya merupakan hasil ijtihad para  ulama untuk memudahkan memahami dien. Rukun berarti bagian sesuatu yang menjadi  syarat terjadinya sesuatu tersebut, jika rukun tidak ada maka sesuatu tersebut  tidak terjadi.Istilah rukun seperti ini bisa diterapkan untuk Rukun Iman,  artinya jika salah satu dari Rukun Iman tidak ada, maka imanpun tidak ada.  Adapun pada Rukun Islam maka istilah rukun ini tidak berlaku secara mutlak,  artinya meskipun salah satu Rukun Islam tidak ada, masih memungkinkan Islam  masih tetap ada.  Demikianlah semestinya kita memahami dien ini dengan  istilah-istilah yang dibuat oleh para ulama, namun istilah-istilah tersebut  tidak boleh sebagai hakim karena tetap harus merujuk kepada ketentuan dien,  sehingga jika ada ketidaksesuaian antara istilah buatan ulama dengan ketentuan  dien, ketentuan dien lah yang dimenangkan.  Batasan Minimal Sahnya Keimanan  1. Iman kepada Allah. Iman kepada Allah sah jika beriman kepada Rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan  asma’ dan sifat-Nya.  2. Iman kepada Malaikat. Iman kepada Malaikat sah jika beriman bahwa Allah menciptakan makhluk bernama  malaikat sebagai hamba yang senantiasa taat dan diantara mereka ada yang  diperintah untuk mengantar wahyu.  3. Iman kepada Kitab-kitab. Iman kepada kitab-kitab sah jika beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab yang  merupakan kalam-Nya kepada sebagian hambanya yang berkedudukan sebagai rasul.  Diantara kitab Allah adalah Al-Qurán.  4. Iman kepada Para Rasul. Iman kepada para rasul sah jika beriman bahwa Allah mengutus kepada manusia  sebagian hambanya mereka mendapatkan wahyu untuk disampaikan kepada manusia, dan  pengutusan rasul telah ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallaahu álaihi wa  sallam.  5. Iman kepada Hari Akhir. Iman kepada Hari Akhir sah jika beriman bahwa Allah membuat sebuah masa sebagai  tempat untuk menghisab manusia, mereka dibangkitkan dari kubur dan dikembalikan  kepada-Nya untuk mendapatkan balasan kebaikan atas kebaikannya dan balasan  kejelekan atas kejelekannya, yang baik (mukmin) masuk surga dan yang buruk  (kafir) masuk neraka. Ini terjadi di hari akhir tersebut.  6. Iman kepada Taqdir. Iman kepada taqdir sah jika beriman bahwa Allah telah mengilmui segala sesuatu  sebelum terjadinya kemudian Dia menentukan dengan kehendaknya semua yang akan  terjadi setelah itu Allah menciptakan segala sesuatu yang telah ditentukan  sebelumnya.   Demikianlah syarat keimanan yang sah, sehingga dengan itu  semua seorang berhak untuk dikatakan mukmin. Adapun selebihnya maka tingkat  keimanan seseorang berbeda-beda sesuai dengan banyak dan sedikitnya kewajiban  yang dia tunaikan terkait dengan hatinya, lesannya, dan anggota badannya.  Taqdir Buruk Buruknya taqdir ditinjau dari sisi makhluk. Adapun ditinjau dari pencipta  taqdir, maka semuanya baik.  Makna Ihsan Sebuah amal dikatakan hasan cukup jika diniati ikhlas karena Allah, adapun  selebihnya adalah kesempurnaan ihsan. Kesempurnaan ihsan meliputi 2 keadaan:  1. Maqom Muraqobah yaitu senantiasa merasa diawasi dan  diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktifitasnya, kedudukan yang lebih tinggi  lagi.  2.  Maqom Musyahadah yaitu senantiasa memperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan  seluruh aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut.     

Download Aplikasi KESAN (Gratis & Tanpa Iklan) di https://kesan.id/app/hadis/Arbain_Nawawi_I/2

Sabtu, 26 Juni 2021

6 Tahun Kotretan Iyek

kotretaniyek Belum berada pada performa seharusnya.
Di ulang tahun yang ke 6 ini, penulis akan berusaha kembali meningkatkan performa blog ini. Semoga Alloh SWT menghendaki dan mengizinkan.
Tidak bisa panjang lebar, singkat saja, kesimpulannya, saya haturkan terimakasih kepada pembaca setia blog ini, walau belum banyak, tapi terlihat selalu ada pembacanya.

Kamis, 17 Juni 2021

Jaga Akhiratmu

kotretaniyek Jaga akhiratmu maka Allah akan menjaga duniamu. Jaga kehidupan pribadimu maka Allah akan mengurus kehidupan publikmu.
 
Umar ibnu Abdul Aziz
  

Selasa, 15 Juni 2021

6 Kriteria Bahagia Hidup Di Dunia dan Akhirat

kotretaniyek Suatu hari Rasulullah bertemu dengan salah seorang sahabatnya yang
kondisinya sangat memprihatinkan sehingga mengundang perhatian Rasul sampai
Rasul bertanya, mengapa kamu menjadi seperti ini. Orang tersebut menjawab
dengan penuh percaya diri, bahwasanya dia menjadi seperti itu justru karena
doanya. Doanya adalah : Ya Allah berilah saya kesengsaraan dunia dan
jadikan kesengsaraan dunia sebagai indikator bahwa saya akan mendapat
kebahagiaan akhirat. Mendengar jawaban itu Rasulullah hanya bersabda :
inginkah aku tunjukkan doa yang lebih baik dari itu? Lalu dari peristiwa
ini turunlah Surat Al-Baqarah ayat 201 "Robbana atina fiddunyaa hasanatan
wa fil aakhiroti hasanatan waqinaa adzaabannaari" (Ya Allah berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa
neraka)
Jadi Rasul lebih suka kita punya sebuah kerangka berfikir bahwa kita
berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akan mejadikan kebahagiaan
dunia sebagai jembatan untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Itu
sebenarnya yang lebih disukai Rasul. Dan bapak-ibu pada musim haji atau
yang sudah pergi haji doa yang sering kita baca, doa itu. Jadi doa yang
sudah sering kita dengar atau yang sudah familiar dengan pendengaran kita
itu doa yang sangat luar biasa.
Bapak ibu yang dimuliakan....
Doa Robbana (dikenal juga doa sapu jagad) artinya merupakan doa yang paling mewarnai ketika kita
melaksanakan ibadah haji dan juga untuk kita yang tidak sedang melakukan
ibadah haji tampaknya doa itu harus menjadi bagian urat nadi kehidupan
kita. Kita minta diberikan kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhirat.
Menurut Ibnu Abbas salah seorang ulama tafsir di kalangan sahabat pernah
menyebutkan bahwa yang dimaksud kebahagiaan dunia itu ada 6 yaitu :
1. Pasangan hidup yang sholeh
Pasangan hidup yang terdapat dalam Al-Quran dalam surat At-Tahrim
disebutkan ada 3 macam pasangan hidup kita yaitu :
a) Tipe pasangan hidup Nabi Nuh
Nabi Nuh orang sholeh beliau diberi umur hampir 1.000 tahun dan hampir dari
seluruh umurnya habis untuk dakwah, tapi ternyata istrinya sendiri yang
termasuk menentang dakwahnya. Ada tipe seperti ini suami tdk pernah
ketinggalan sholat, shaum senin-kamis namun istrinya tidur saja.
b) Seperti Firaun
Kita kenal Firaun simbol kedzoliman dan ketakaburan. Apalagi ada 3 pencetus
kesombongan yaitu : ilmu, kekayaan dan kekuasaan. 3 hal ini ada pada
Firaun. Namun Firaun yang begitu dzolim dan takaburnya, kata Rasul ada 3
wanita sholehah (riwayat Imam Muslim):
- Khadijah : istri Rasulullah
- Maryam : ibunda nabi Isa
- Asiyah : istri Firaun
Tipe ini adalah istrinya taat beribadah namun sang suami jauh dari Allah
c) Keluarga Imron
Imron adalah orang sholeh, punya istri sholeh, punya anak (Maryam) orang
sholeh dan cucu (Nabi Isa) juga sholeh. Sebenarnya bukan hanya keluarga
Imron saja ada keluarga Rasulullah, keluarga Ibrahim namun mereka semua
Nabi sedang Imron bukan Nabi.
Bagi yang belum menikah ada 4 kriteria pasangan hidup : ganteng/cantik,
pinter, kaya dan sholeh. Namun setelah dicari tidak dapat 4 kriteria
tersebut yang penting adalah hidup dan sholeh. Tentu harus klop antara doa
dan ikhtiar, mencari pasangan sholeh jangan dicari di diskotek, cafe,dll
tapi carilah di majelis taklim seperti ini.
2. Anak yang jadi penyejuk hati
Anak bisa jadi surga dunia atau neraka dunia. Walau keluarga pas-pasan tapi
anaknya sholeh maka dianggap oleh lingkungan sebagai keluarga yang
sukses/berhasil
3. Lingkungan yang sholeh
Kalau kita punya teman yang sholeh itu adalah kebahagiaan dunia. Tidak
semua orang pintar/cerdas , arif dalam menghadapi persoalan. Tidak
selamanya kecerdasan berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Majelis taklim
bukan hanya sekedar ilmu, tapi mencari teman-teman dan lingkungan yang
sholeh. Nabi bersabda: Siapa yang duduk di majelis taklim dan niatnya
ikhlas maka malaikat akan memberi barokah kepada majelis itu dan langkah
yang dilakukan akan menjadi kifarah dosa-dosanya. Maka yang rumahnya jauh
itu lebih bagus asal ikhlas.
4. Harta yang halal
Kalau yang menjadi paradigma kita atau tolak ukur kita itu harta yang
banyak, hati-hati kita cenderung menghalalkan segala cara. Karena demi
banyak itu. Tapi kalau tolak ukur kita itu harta yang halal insya Allah
kita akan bekerja keras mencari yang halal, syukur-syukur bisa banyak.
Sehingga bagaimanapun harta yang banyak itu akan memberikan kemudahan bagi
kita dalam ber-taqarub kepada Allah.
5. Keinginan untuk memahami Islam dan mau mengamalkan
Ada keinginan/semangat untuk memahami Islam itu patut disyukuri sebab tanpa
keinginan yang kuat dan karunia Allah kita tidak mungkin hadir disini.
Problem terbesar yang dihadapi umat Islam adalah banyak yang mengakui
dirinya muslim tapi tidak mau memahami Islam, itu problem kita.
6. Umur yang barokah
Nabi bersabda: Kalau kamu meninggal kamu akan mendengar derap kaki orang
yang mengantarkan kamu itu pulang dan yang setia menemani adalah amal
sholeh. Makanya ukuran kebahagiaan dunia adalah bagaimana kita bisa mengisi
hidup dengan kesholehan. Usia makin bertambah, kita juga makin sholeh.
Hadirin sekalian...
Jadi ketika kita mengatakan 'Ya Allah beri kami kebahagiaan dunia'..enam
hal itulah yang kita minta. Pasangan hidup yang sholeh, anak yg sholeh,
lingkungan yang sholeh, harta yang halal, keinginan utk memahami Islam
(ilmu yg bermanfaat) dan umur yang barokah.

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...