Selasa, 20 April 2021

Menari Di Mimpi Yang Salah (Bagian 7 - Seperti yang diinginkan)

kotretaniyek Malam hari tiba begitu nyata, gelap dan Hitam tidak seperti biasanya. Kenzi sudah tertidur lebih cepat tidak seperti biasanya, mungkin karena udara terlalu dingin buat dia. Fery memanggil Hindun ke ruang tengah untuk bicara masa depan. Fery memulai pembicaraan dengan membuka kata bahwa tabungannya sudah mulai dari awal lagi. Langkah selanjutnya adalah harus bisa membangun rumah. Ide cemerlang Hindun keluar dari mulutnya, ia memberi ide agar gaji suaminya yang seperempat dia simpan di bosnya, jika sudah mencapai seharga bahan bangunan belikan. Misalnya jika sudah terkumpul seharga pasir, beli dulu pasir, jika cukup untuk batu bata, pesankan dulu batu bata. Ide isterinya cukup cocok di otak Fery, dengan senyum renyah akhirnya selesai dengan baik dan tanpa alot diskusi malam itu.
Hindun kembali ke kamar untuk menemani Kenzi. Sedangkan Fery menghampiri ayahnya yang sedang nonton sinetron Tersanjung malam itu. Fery langsung memegang punggung ayahnya, sambil memijit kecil dan membuka perkataan. "Dulu bapak pernah nawarin Fery sebidang tanah untuk di buat rumah, apa itu masih berlaku?" Tanya Fery.
Ayah Fery tersenyum dan menjawab bahwa tanah itu boleh di bangun rumah untuk Fery. 

Satu tahun berjalan, pasir, batu, bata, kayu beberapa kubik sudah terkumpul, sekarang simpanan sudah menuju semen. 
Namun, hari itu ayahnya Fery sakit masuk rumah sakit. Ayahnya tidak punya biaya, Hindun menyuruh Fery mengambil uang simpanannya di toko bangunan, padahal tinggal sebulan lagi bahan bangunan akan hampir terkumpul. Setan sedikit berbisik, bahwa uang itu sayang jika di kasih ayahnya karena Fery susah payah bekerja dan cukum lama. Namun energi positif Hindun mengalahkan bisikan setan pada Fery. Akhirnya uang di ambil dan menghentikan sementara harapan itu.

Satu Minggu kemudian ayahnya sehat kembali, pulang dari rumah sakit. Namun hampir semua simpanannya habis. Fery tidak kecewa juga tidak marah, karena dalam pemikirannya yang terpenting ayahnya sehat kembali.
Fery kembali bekerja di toko bangunan seperti biasa. Tiba-tiba sore hari sebelum pulang, semua pegawai di suruh untuk berkumpul sebelum pulang. 
Ternyata bos dari toko bangunan sejahtera Jaya mendapatkan bonus dari semen karena target penjualan tercapai bahkan lebih. Ada bonus untuk pemilik toko dan ada bonus untuk pegawai disana. Semua bahagia dan semua pegawai senang.
Semua karyawan dapat bagian yang sama. Fery tidak menerima uang tunai, ia membelikan bonusnya untuk membeli bahan bangunan lainnya yang ia butuhkan. [Yek] bersambung...

Minggu, 18 April 2021

Menari Di Mimpi Yang Salah (Bagian 6 - Harapan)

kotretaniyek Pagi sudah datang kembali, masih dalam pilu dan cukup bingung Fery masih ditemani secangkir kopi dan beberapa buah bala-bala buatan rumah. Kalau hanya untuk sekedar makan dan minum sepertinya tidak ada masalah untuk Fery dan keluarga kecilnya, namun rasa malu dan ingin hidup lebih maju lagi yang menjadi harapan Fery terbesar saat itu. Kenzi sudah mulai lucu dan menggemaskan untuk di ajak bermain. Menandakan waktu akan segera cepat berlalu, akan melihat Kenzi menjadi anak laki-laki yang pasti punya keinginan. 
Fery masih bekerja di Sejahtera Jaya dengan posisi yang sama ketika masuk pertama kali kesana. Memang gajinya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, tapi cape dan lelahnya juga cukup merepotkan badannya. 

Waktu lama berselang terasa begitu cepat, tak terasa Fery sudah bekerja di sana setahun lamanya. Menandakan Fery sudah cukup kerasan dan adaptasi yang cocok sebagai karyawan di toko bangunan tersebut. Baju kaos bermerk alat dan bahan bangunan sudah tak terhitung, baju seragam dari toko juga cukup banyak, bonus dan gaji pokok tidak pernah telat. Selamatlah perekonomian dari keluarga Fery ini.
Keinginan terdekatnya sekarang ini adalah harus punya si kuda besi alias motor untuk kemudahan dia dalam mobilitas ketika berangkat ke tempat kerja atau setidaknya membawa anak isterinya berkunjung ke nenek atau sanak keluarga lainnya.
Waktu sudah sore, seperti biasa Fery pulang di bonceng Oni, karena satu arah.
Di perjalanan Fery curhat ingin punya motor sendiri. Oni pun memberi motivasi agar dia cepat beli motor.
Setibanya di rumah, setelah selesai makan dan mandi, Fery membawa main Kenzi di ruang tamu, hilanglah semua penat dan beban hidupnya ketika Kenzi berada di pangkuannya. Hindun yang telah menyelesaikan semua tugasnya menghampiri Kenzi dan Fery sambil membawa gorengan panas di piring putih bercorak merk penyedap masakan. Fery tersenyum renyah, dan membuka obrolan, mengutarakan keinginannya memiliki motor. Di jawab dengan senyum oleh Hindun, dan berkata bahwa dirinya ada simpanan uang tiga juta. Fery keheranan, darimana uang sebanyak itu? Lirih jawab Hindun sisa dari uang belanja. 
Senyum lepas dari Fery, bisa membeli motor bekas dalam pikirannya.
Hindun mengizinkan menggunakan uang tersebut untuk motor asal tidak melalui kredit, lebih baik motor jadul bekas saja dulu, agar tidak kebingungan dengan uang setoran bulanannya. Sedikit merengut Fery, karena dia inginnya motor baru walau kredit. Diskusi cukup alot antara keduanya. Namun setelah di bolak balik berfikir Fery pun mengerti dan paham atas pendapat isterinya Hindun. 
Dengan uang 5 juta Fery mulai melakukan pencarian motor second. Uang 3 juta simpanan Hindun dan 2 juta simpanan Fery di tempat kerja Fery. Setiap bulan gajinya di potong untuk di simpan di kantor, itung itung celengan saja.
Oni memberi rekomendasi sebuah motor matic yang dia tahu akan di jual.
Di carinya posisi motor tersebut, dengan penuh ketelitian akhirnya Fery cocok dengan motor tersebut. Di beli lah motor itu dengan harga 4,7juta. Ada sisa uang 300.000 ia guanakan untuk service motornya agar enak di gunakan.
Beberapa bulan kemudian, keinginan Fery baru lagi, dia ingin membuat rumah.
Ini bukan permasalahan tapi itu adalah harapan.

Menari Di Mimpi Yang Salah (Bagian 5 - Tempat Bergantung)

kotretaniyek Udara hari ini sangat dingin menusuk ke tulang, mungkin secangkir kopi hangat sangat cocok menemani udara sedingin itu. Fery yang telah 38 hari diam tanpa kerja tanpa pemasukan dan penghasilan, sampai simpanan sedikit besarnya terpakai hampir habis. Kerja di toko bangunan baru menginjak hari ke 4, belum ada gaji yang masuk, masih dalam tahap percobaan kerja. Memang sebenarnya Fery memiliki harapan jika nanti memiliki modal usaha, ingin membuat sebuah pabrik rumahan yang bergerak di bidang kuliner. Ayahnya memang seorang peternak ayam pedaging, namun jumlah tidak begitu banyak, hanya cukup untuk makan dan biaya hidup sehari-hari. Jika Fery melanjutkan jejak ayahnya juga kemungkinan besar tidak akan bisa, karena terkendala lokasi kandang ayam yang semakin dekat dengan rumah warga, yang mendirikan bangunan hampir mendekati kandang ayahnya yang berada di kebun. Jika rumah sudah sampai ke sana, akan terbentur masalah polusi bau dari pakan dan kotoran ayam. 
Fery sedikit kebingungan dalam posisi ini, dia bekerja di Sejahtera Jaya sekedar mengisi waktu menganggur, jika gajinya bisa mensejahterakan akan di lanjut, jika tidak, mungkin harus bergerak di bidang lain seperti cita dan harapannya membuka pabrik dalam bidang kuliner.
Sekitar pukul 7 pagi berangkat Fery menuju tempat ia bekerja. Disana Fery bertugas sebagai pengangkut barang yang di pesan pembeli, ada yang di angkut ke mobil untuk di antarkan, ada juga yang di angkut pakai motor pembeli. Sekitar 6 hari lamanya Fery menekuni pekerjaan itu. 
Hingga di suatu hari, ketika ia hendak mengangkut semen, ditegur oleh konsumen yang sedang membeli semen dan bahan lainnya. Ternyata dia adalah kawan lama Fery ketika SMA, sebut saja namanya Fajar. Menurut cerita dari kawan Fery lainnya, Fajar adalah salah satu kawan yang terbilang sukses, karena dia diberi warisan toko Grosir mainan anak-anak yang cukup terkenal di sana. Berbincang lah mereka segitu asyiknya, karena kurang enak dengan bos nya Fery pun menghentikan pembicaraan dan menutup dengan kata nanti kita ketemu, nongkrong sambil ngopi di tempat dekat pasar sambung Fajar. 
Esok harinya setelah pulang kerja sekitar pukul 4 sore, Fery langsung menuju tempat ngopi langganan Fajar. Disana ia menunggu kurang lebih 10 menit, dan tibalah Fajar di tempat itu dengan mobil putih mengkilap. Ngobrol kesana kemari melapas rindu masa lalu, dan sesekali bercerita kegilaan Meraka waktu dulu, di selingi tawa terbahak-bahak dan tawa kecil juga malu.
Hingga bercerita masa depan, membuat Fajar merasa kasihan pada Fery yang sedikit bermasalah dalam kondisi perekonomian. Fajar pun menawarkan bantuan modal jika memang Fery menginginkan membuka pabrik rumahan. 
Sumringah Fery karena merasa bisa di bantu. Fajar menyuruh Fery membuat rencana anggaran untuk perencanaan pabrik rumahannya. Dan Fery meminta waktu 2 sampai 3 hari untuk hal itu.
"Saya sangat bergantung dan berharap sekali padamu Jar, untuk bisa menjalankan mimpiku ini dan sangat berterimakasih sebelumnya".
Hari berselang, rencana anggaran pun selesai tersusun rapi dan tertata. Berangkatlah Fery menuju rumah Fajar. Sesampai nya di dekat rumah Fajar, terlihat banyak orang di sana, Fery pun sedikit menghentikan langkahnya seraya bertanya-tanya ada apa gerangan di sana? Semakin dekat, Fery tambah penasaran. Dan mencoba mencari orang yang bisa di tanya tentang ada apa yang terjadi di sana. Ternyata Fajar telah di tipu oleh dua karyawannya yang membawa uang di tokonya dan tidak menyetorkan uang hasil pesanan yang di bayar tempo. Hampir 100 juta kerugian yang di derita Fajar, kata orang tersebut yang tadi ikut masuk di dalam rumah Fajar. 
Fery pun melamun, dan merasa kasihan pada Fajar juga kecewa, karena dana untuk cita-citanya membuat pabrik rumaha kandas dan sirna.
Masuklah Fery ke rumah Fajar, dan tiba-tiba Fajar berlari memeluk Fery sambil menangis dan berbisik "Aku di tipu anak buahku sendiri, maafkan aku tidak bisa melanjutkan membantu impianmu itu".
Sesampainya Fery di rumah, dengan penuh kesadaran, berbisik di hatinya bahwa salah besar jika bergantung kepada selain Alloh SWT karena hanya Dia tempat manusi bergantung dan meminta pertolongan.

Jumat, 16 April 2021

Menari Di Mimpi Yang Salah ( Bagian 4 - Sejahtera Jaya)

kotretaniyek Sudah hampir satu bulan Fery tidak bekerja, hanya diam di rumah mengurus Kenzi dan sesekali membantu ayahnya mengurusi ternak ayamnya dan mengantar ibunya belanja ke pasar. Rasa jenuh dan malu pun mulai menghantui Fery. Berbicaralah ia dengan istrinya, untuk meminta izin pergi keluar mencari solusi. Bertemulah Fery dengan salah satu kawan lamanya yang sedang bekerja menjadi tukang parkir. Terbesit Fery ingin mengikuti jejak kawannya. Namun kawannya Fery malah menunjukan ke sebuah toko bangunan yang cukup besar di sana, dia bilang bahwa toko bangunan tersebut sedang membutuhkan seorang karyawan yang bisa mengendarai mobil truk.
Sesuai saran dari kawannya tersebut, Fery mencoba bertanya kepada para pekerja di sana, Fery di suruh langsung menghadap ke manager disana, tanpa basa basi Fery masuk ke ruangan manager disana dan mencoba membuka pembicaraan.
Setelah kurang lebih 10 menit mereka bicara, akhirnya Fery di suruh kembali lagi besok untuk membawa persyaratan dan sekaligus mendapatkan penerimaan dari pemilik toko bangunan tersebut. 
Keesokan harinya Fery datang kembali ke TB Sejahtera Jaya dengan membawa persyaratan di tangannya. 
Singkat cerita, Fery di terima di sana dengan langsung menjadi karyawan, karena toko tersebut sedang membutuhkan setidaknya 5 karyawan tambahan karena banyak yang keluar.
Beruntungnya Fery bisa langsung masuk kerja di sana. Sebelum pulang Fery mampir duku ke kawan penjaga parkiran, sambil membawa rokok dan makanan, sebagai tanda terimakasih kepadanya. 
Fery pun pulang dengan wajah sumringah dan mengabarkan kabar baik itu ke isteri dan orang tuanya bahwasannya Fery sudah mulai bekerja. [Yek] bersambung....

Menari Di Mimpi Yang Salah (Bagian 3 - Bermimpi Tanpa Tertidur)

kotretaniyek Siang hari ini cukup panas, membuat tenggorokan kering, bincang Fery dengan Hindun. "Mah bolehkah aku dibuatin es teh manis?" Fery seraya menyuruh istrinya dengan suara lirih nan santun. Dengan sigap Hindun langsung pergi ke dapur dan memberikan Kenzi kepangkuan Fery. Dua menit berselang Hindun kembali dengan membawa segelas teh manis pakai es dan di simpan tepat dekat dengan Fery. Kenzi pun beralih pangkuan dari Fery ke pangkuan mamahnya.
Perbincangan suami istri pun di mulai kembali dengan topik pekerjaan Fery di kampung. Karena memang sudah seminggu lamanya Fery tidak bekerja, namun keuangan tidak menjadi kendala bagi mereka karena masih ada simpanan hasil dari kerja Fery selama di kota.
Fery pun mulai menjelaskan impian-impian dan harapannya kedepan. Munculah sebuah kesimpulan bahwa Fery akan mencoba melamar di sebuah perusahaan distributor ice cream terkenal di Indonesia. Ternyata sebelum memutuskan resign dari mall tempat ia bekerja dulu, Fery telah menghubungi rekannya di kampung untuk menanyakan lowongan kerja.
Waktu berselang, ternyata Fery tidak diterima di perusahaan tersebut dengan berbagai alasan. Akhirnya Fery pun harus memutar otak lebih keras lagi agar ia bisa menjalankan roda kehidupan rumah tangganya.
Fery bermimpi tanpa tertidur, mencoba menerawang angan mau apa di depan? Mencari sebuah jawaban yang bisa membuat dirinya dapat menghasilkan uang untuk menafkahi anak isterinya.
Dalam mimpi tanpa tidurnya Fery, akhirnya memutuskan jika keluarga kecil mereka harus pindah ke rumah orang tua Fery.
Dengan diskusi yang cukup sengit dengan sang isteri, akhirnya keluarga kecil Fery ini sudah siap menetap di rumah orang tua Fery.
Fery merupakan anak pertama dari dua bersaudara, adiknya yang perempuan sudah menikah jauh sebelum Fery menikah. Adiknya diboyong suaminya tinggal di Jakarta, karena suaminya bekerja di salah satu bank daerah di sana.
Ayah Fery adalah seorang peternak ayam pedaging dan ibunya memiliki warung kecil-kecilan di rumahnya.
Esok harinya Fery dan Hindun juga Kenzi meminta izin berangkat ke rumah Fery di sebrang desa, dengan menggunakan mobil sewaan, mereka bertiga berangkat. Hanya 30 menit lamanya mereka sampai di rumah mertua Hindun. Kenzi di sambut riang gembira oleh ayah dan ibu Fery juga tetangga sekitar. 
Malam harinya Fery melanjutkan mimpi tanpa tertidur di kursi depan sambil meminum kopi dan rokok. 
Dan ayahnya duduk mendekat sambil membawa teh manis dalam mug besar, seraya mereka berdiskusi sedikit bercanda dan alot mengenai pekerjaannya di kampung. Ayahnya sebenarnya mengharapkan Fery bisa melanjutkan usahanya beternak ayam pedaging yang sudah di jalaninya sekitar 5 tahun. Namun Fery sedikit menolak dengan bahasa lirih dan santun dibarengi candaan khas mereka berdua.
Belum ada keputusan bagi Fery, sambil menunggu kerjaan, Fery membantu ayahnya mengurus ternak Ayam Pedaging [Yek] bersambung ...

Menari Di Mimpi Yang Salah (Bagian 2 - Pulang kampung)

kotretaniyek Haripun berganti hari, Kenzi terlahir kedunia menjadikan sebuah kesempurnaan bagi pasangan suami istri Fery dan Hindun. Kenzi Ahmad Dzikra nama lengkap dari anak tersebut. 
Hindun yang merasa kesulitan dalam hal mengurus rumah dan anak, mengajukan pendapat kepada suaminya, bahwasannya ia ingin tinggal kembali di kampung. Alsan peetama karena Hindun merasa tidak ada yang bisa membantu menjaga anak ketika ia harus masak atau beres-beres rumah. Kedua agar Hindun bisa memulihkan kembali stamina dan kondisi tubuhnya agar dapat memberikan ASI eksklusif buat Kenzi. Fery pun penuh pertimbangan sambil menghitung dan membolak balikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan demi kebaikan semuanya.Karena mengingat Fery bekerja sebagai karyawan mall yang memiliki jam kerja khusus, sudah barang tentu akan banyak meninggalkan rumah dan anak istrinya. Juga Fery karena kegigihan dan prestasinya, atas kehendak Yang Maha Kuasa, Fery dalam beberapa bulan kebelakang mendapatkan promosi jabatan dari pihak mall. Akhirnya keputusan didapat dengan memperbolehkan Hindun untuk tinggal bersama orang tuanya. Karena Hindun hanya tiga bersaudara, ada kakaknya perempuan sudah menikah dan tinggal di daerah Kalimantan juga seorang adik pemerpuan yang masih kelas 12 SMA.
Hindun, Fery dan juga anaknya Kenzi berangkat setelah 4 hari dari kelahiran Kenzi menuju rumah orang tua Hindun mertuanya Fery. 
Setibanya di rumah mertua Fery, di sana sudah banyak sanak saudara yang menunggu kedatangan sang bayi yang baru lahir. Sanak saudara juga tetangga datang melihat Kenzi. Sebuah penghargaan dan rasa bahagia, karena ternyata semua orang suka kepada Kenzi. 
Keesokan harinya Fery pun pulang kembali ke kota di tempat ia bekerja.
Setiap rasa kangen dan rindu pada Kenzi datang, Fery selelu menyempatkan diri untuk menghubunginya melaui Video Call.
Bulan berganti bulan, Fery merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Karena merasa hidup sendiri lagi, anak istri tinggal di kampung. Melalui telfon Fery meminta kepada istrinya agar ia diperbolehkan tinggal bersama kembali di kampung. Adapun soal pekerjaan ia bisa kembali mencari di kampung. Tak lupa Fery juga meminta pendapat kepada orang tua dan mertuanya. 
Singkat cerita Fery pun kembali ke kampung halamannya. [Yek] bersambung...

Kamis, 15 April 2021

Menari Di Mimpi Yang Salah (Bagian 1 - Kenzi)

kotretaniyek Cerita ini bermula ketika seorang lelaki berlari menuju puskesmas dengan wajah tegang membawa isterinya yang berbadan dua. Sebutlah Fery nama lelaki itu. Fery adalah seorang pria berdarah Sunda yang bekerja sebagai pegawai di sebuah toko bangunan terbesar di daerahnya. Fery ini merupakan lelaki yang cukup baik dan memiliki seorang isteri shalehah dengan satu anak, dan akan bertambah menjadi dua.
Sebut saja isterinya bernama Hindun, ia merupakan perempuan Sunda jebolan salah satu pesantren di daerahnya, walaupun hanya sebentar karena keburu ada yang melamar yaitu Fery yang sekarang menjadi suaminya. Anak yang pertama kedua pasangan ini adalah seorang anak laki-laki usia SD kelas 3 bernama Kenzi. Pasangan ini memberi nama Kenzi karena ketika anak mereka lahir dibantu oleh seorang dokter yang memiliki suami bernama Kenzi.
Waktu mereka menikah, Fery dan Hindun langsung berangkat ke kota, karena Fery waktu itu masih berstatus sebagai seorang karyawan di sebuah mall di kita tersebut. Fery tinggal di sebuah kostan yang tak jauh dari tempat dia bekerja. Satu tahun mereka menjalani hidup di kostan tersebut, sampai akan lahirlah anak pertama mereka yaitu Kenzi.
Waktu itu isterinya sudah merasa akan melahirkan, karena waktu itu mereka memiliki kartu jaminan kesehatan dari tempat Fery bekerja, maka dibawalah Hindun ke sebuah rumah sakit besar di kota tersebut. Hindun menginginkan dokter perempuan yang membantu persalinannya. Namun waktu itu kebetulan semua dokter spesialis kandungan perempuan tidak ada jadwal di hari itu, karena kebetulan tidak ada dan beberapa dokter perempuan lainnya sedang melaksanakan seminar. Hindun yang waktu itu bersikukuh hanya ingin dokter perempuan yang membantu persalinannya. Fery kebingungan mau pindah rumah sakit, tidak memungkinkan karena jarak jauh. Dia memberanikan diri datang ke ruangan untuk menanyakan ada dokter perempuan. Seorang penjaga berkata "sebenarnya hari ini harusnya Bu dr Naya yang jadwal jaga, tapi suaminya sedang di operasi hari ini, jadi beliau menemani suaminya dulu". Fery yang kebingungan pun dengan sedikit kecewa tambah bingung saja, namun kebetulan di pinggir penjaga ada yang sedang di telpon, dan kedengaran berkata "ya Bu dr Naya" berarti yang menelfon itu adalah dr Naya, tanpa pikir panjang Fery pun merebut telfon pegawai tersebut dan berkata kepada dr Naya agar ia bisa membantu isterinya yang akan melahirkan. Sebuah keajaiban dr Naya pun mengiyakan permintaan Fery.
Singkat cerita lahirlah Kenzi dengan sehat dan normal. Fery pun langsung menemui dr Naya dan mengucapkan terimakasih. Fery pun sedikit bertanya tentang suami dr Naya, namun hanya air mata yang dikeluarkan oleh dr Naya sambil berkata mohon doanya saja untuk suami saya Pak Kenzi Adiputro semoga bisa melewati masa kritisnya. Namun tiba-tiba dr Naya ada yang menelfon, diangkatnya kemudian dia sedikit lesu tak bisa menopang kakinya hampir terjatuh karena mendengar kabar duka. Di papahnya dr Naya ke kursi di dekatnya, sambil menangis dan berucap mas Ken .... Mas Ken .... rekannya bertanya ada apa dok? 
Ternyata suaminya telah tiada.
Dari sanalah Fery memberi nama Kenzi untuk anaknya karena menghormati dr Naya yang memiliki suami bernama Kenzi Adiputro. [Yek] bersambung....

Senin, 12 April 2021

Hadis Arbain Nawawi (Bagian 2)

kotretaniyek Bismillahirrahmanirrahim sebagai awal ucapan sebelum melanjutkan bacaan berikut. Saya memposting postingan ini seraya agar bisa menyimpan bacaan ini dan agar bisa menyebar untuk di baca dan di pahami oleh pemirsa Kotretan Iyek.
Konten ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya mengenai Hadis Arbain Imam Nawawi yang di rahmati Alloh SWT.

Hadis Arbain Nawawi I No. 2

Hadis Ke-2    Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga, beliau berkata: Pada suatu  hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam,  tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya  sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada  seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi  shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi,  dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata:  ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh  shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau  bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya  Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar  zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika  engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.”  Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.  Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”.  (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman  kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan  hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”Orang tadi  berkata: ”Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu  terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah  engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau  tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat  engkau.” Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari  kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu  daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah  kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: ”Apabila budak melahirkan  tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang  miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.”  Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya.  Lalu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar, tahukah engkau  siapa orang yang bertanya itu ?”. Aku menjawab: ”Alloh dan Rosul-Nya  yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat  Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”(HR.  Muslim).  Kedudukan Hadis Materi hadis ke-2 ini sangat penting sehingga sebagian ulama menyebutnya  sebagai “Induk sunnah”, karena seluruh sunnah berpulang kepada hadis ini.  Islam, Iman, dan Ihsan Dienul Islam mencakup tiga hal, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Islam berbicara  masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan mencakup keduanya. Ihsan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari iman, dan iman memiliki  kedudukan yang lebih tinggi dari Islam. Tidaklah ke-Islam-an dianggap sah  kecuali jika terdapat padanya iman, karena konsekuensi dari syahadat mencakup  lahir dan batin. Demikian juga iman tidak sah kecuali ada Islam (dalam batas  yang minimal), karena iman adalah meliputi lahir dan batin.  Perhatian! Para penuntut ilmu semestinya paham bahwa adakalanya bagian dari sebuah istilah  agama adalah istilah itu sendiri, seperti contoh di atas.   Iman Bertambah dan Berkurang Ahlussunnah menetapkan kaidah bahwa jika istilah Islam dan Iman disebutkan  secara bersamaan, maka masing-masing memiliki pegerttian sendiri-sendiri, namun  jika disebutkan salah satunya saja, maka mencakup yang lainnya. Iman dikatakan  dapat bertambah dan berkurang, namun tidaklah dikatakan bahwa Islam bertambah  dan berkurang, padahal hakikat keduanya adalah sama. Hal ini disebabkan karena  adanya tujuan untuk membedakan antara Ahlussunnah dengan Murjiáh.  Murjiáh mengakui bahwa Islam (amalan lahir) bisa bertambah dan berkurang,  namun mereka tidak mengakui bisa bertambah dan berkurangnya iman (amalan batin).  Sementara Ahlussunnah meyakini bahwa keduanya bisa bertambah dan berkurang.  Istilah Rukun Islam dan Rukun Iman Istilah “Rukun” pada dasarnya merupakan hasil ijtihad para  ulama untuk memudahkan memahami dien. Rukun berarti bagian sesuatu yang menjadi  syarat terjadinya sesuatu tersebut, jika rukun tidak ada maka sesuatu tersebut  tidak terjadi.Istilah rukun seperti ini bisa diterapkan untuk Rukun Iman,  artinya jika salah satu dari Rukun Iman tidak ada, maka imanpun tidak ada.  Adapun pada Rukun Islam maka istilah rukun ini tidak berlaku secara mutlak,  artinya meskipun salah satu Rukun Islam tidak ada, masih memungkinkan Islam  masih tetap ada.  Demikianlah semestinya kita memahami dien ini dengan  istilah-istilah yang dibuat oleh para ulama, namun istilah-istilah tersebut  tidak boleh sebagai hakim karena tetap harus merujuk kepada ketentuan dien,  sehingga jika ada ketidaksesuaian antara istilah buatan ulama dengan ketentuan  dien, ketentuan dien lah yang dimenangkan.  Batasan Minimal Sahnya Keimanan  1. Iman kepada Allah. Iman kepada Allah sah jika beriman kepada Rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan  asma’ dan sifat-Nya.  2. Iman kepada Malaikat. Iman kepada Malaikat sah jika beriman bahwa Allah menciptakan makhluk bernama  malaikat sebagai hamba yang senantiasa taat dan diantara mereka ada yang  diperintah untuk mengantar wahyu.  3. Iman kepada Kitab-kitab. Iman kepada kitab-kitab sah jika beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab yang  merupakan kalam-Nya kepada sebagian hambanya yang berkedudukan sebagai rasul.  Diantara kitab Allah adalah Al-Qurán.  4. Iman kepada Para Rasul. Iman kepada para rasul sah jika beriman bahwa Allah mengutus kepada manusia  sebagian hambanya mereka mendapatkan wahyu untuk disampaikan kepada manusia, dan  pengutusan rasul telah ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallaahu álaihi wa  sallam.  5. Iman kepada Hari Akhir. Iman kepada Hari Akhir sah jika beriman bahwa Allah membuat sebuah masa sebagai  tempat untuk menghisab manusia, mereka dibangkitkan dari kubur dan dikembalikan  kepada-Nya untuk mendapatkan balasan kebaikan atas kebaikannya dan balasan  kejelekan atas kejelekannya, yang baik (mukmin) masuk surga dan yang buruk  (kafir) masuk neraka. Ini terjadi di hari akhir tersebut.  6. Iman kepada Taqdir. Iman kepada taqdir sah jika beriman bahwa Allah telah mengilmui segala sesuatu  sebelum terjadinya kemudian Dia menentukan dengan kehendaknya semua yang akan  terjadi setelah itu Allah menciptakan segala sesuatu yang telah ditentukan  sebelumnya.   Demikianlah syarat keimanan yang sah, sehingga dengan itu  semua seorang berhak untuk dikatakan mukmin. Adapun selebihnya maka tingkat  keimanan seseorang berbeda-beda sesuai dengan banyak dan sedikitnya kewajiban  yang dia tunaikan terkait dengan hatinya, lesannya, dan anggota badannya.  Taqdir Buruk Buruknya taqdir ditinjau dari sisi makhluk. Adapun ditinjau dari pencipta  taqdir, maka semuanya baik.  Makna Ihsan Sebuah amal dikatakan hasan cukup jika diniati ikhlas karena Allah, adapun  selebihnya adalah kesempurnaan ihsan. Kesempurnaan ihsan meliputi 2 keadaan:  1. Maqom Muraqobah yaitu senantiasa merasa diawasi dan  diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktifitasnya, kedudukan yang lebih tinggi  lagi.  2.  Maqom Musyahadah yaitu senantiasa memperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan  seluruh aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut.     

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...