Aku Mencintai Istrimu, Mas
Karya Ayu Wahyuni
Part 27/ending story
Aisyah tak dapat menutupi pancaran bahagia yang menyelimuti wajahnya. Kata sah yang diucapkan Nindy dan Bara terdengar bagai gaungan zikir jamaah yang kerap membuat jiwanya larut pada syukur yang dalam.
Ia masih berdiri sambil tak henti mengucap tahmid. Sampai akhirnya, Pak Rahman menuntun agar putrinya itu menyalami tangan Faiz yang kini sudah sah menjadi suami.
Dengan sedikit canggung Aisyah meraih jemari yang masih terpasang selang infus, lalu sejenak matanya dan pemuda itu saling bertatapan. Seolah meluapkan rindu yang sehasta, kedua pasang mata tersebut sama-sama berkaca.
Faiz menggenggam jemari tangan Aisyah setelah telapak tangannya dikecup.
"Maaf Aisyah ...," ucap pemuda itu lirih.
"Maaf kenapa, Mas?" Aisyah mencoba menenangkan dengan mengelus punggung tangan suaminya.
"Mas tidak hati-hati, harusnya kamu bisa bertemu sama Mami."
Faiz sudah tak lagi mampu membendung tangisnya. Baru kali ini ia terlihat begitu rapuh, hingga membiarkan air mata jatuh di hadapan orang lain. Dua rasa yang mendominasi hati, bahagia akan pernikahannya, sedih jika mengingat Mami telah pergi untuk selamanya.
"Semua sudah takdir, Mas. Tidak ada yang perlu disesali. Kita hanya harus mendoakan Mami, agar beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah."
"Aamiin. Makasih, Aisyah."
"Mas Faiz, Nindy tinggal dulu, ya. Aisyah, Mbak titip Mas Faiz," pamit Nindy pada keduanya.
Sedang Bara tampak menepuk pundak sang adik mencoba menyemangati lalu ikutan keluar ruangan. Yang terakhir meninggalkan mereka adalah sang ayah.
"Nak Faiz, secara agama, Aisyah sudah sah menjadi istrimu. Perlakukan ia dengan baik, muliakan ia sebagaimana Nabi senantiasa memuliakan istrinya," pesan Pak Rahman pada pemuda yang kini sudah menjadi menantunya.
Faiz mengangguk mengiyakan. Setelah ruangan bersekat kain hijau itu hanya bersisakan dirinya dan Aisyah. Faiz tampak kembali menatap sang istri. Rindu namun musibah yang terjadi membuat semua perasaan itu tak layak ada.
"Aisyah ...."
"Iya, Mas."
"Tarik kursinya, duduk sini dekat Mas."
Aisyah mengangguk dan melakukan apa yang dimintakan Faiz.
Pemuda itu kemudian menggerakkan tangannya untuk menggenggam jemari Aisyah. Tentu saja gelenyar aneh hadir menghujam dada gadis itu. Sebab ini adalah kali kedua ia bersentuhan dengan lelaki.
Memang dahulu, tangannya pernah disentuh oleh satu lelaki, ialah Bara suami yang pernah mengabaikannya. Tapi Aisyah sangat yakin, degupan yang ia rasa kini begitu berbeda dengan ketika ia mengizinkan Bara memasangkan cincin di tangannya.
Faiz kembali menatap wanitanya. Ia sentuh lama jemari itu, baru kemudian memasangkan cincin di jemari manis sang istri.
"Alhamdulillah, terima kasih, Mas," ucap Aisyah sambil mencium punggung tangan Faiz.
"Cincin ini tadinya cuma sebagai cincin tunangan, tapi kini malah jadi cincin pernikahan", lirih Faiz bagai sapuan angin lembut.
"Tidak apa-apa, Mas."
"Bahkan mereka meninggalkan kita sebelum Mas memasangkan cincin ditangan kamu...".
Aisyah menunduk, mengukum senyum.
"Mungkin mereka tidak ingin mengganggu kita, Syah."
Aisyah mengangguk, tak bisa berkata apapun.
"Kamu bahagia?", tanya pemuda itu lagi.
"Sangat bahagia, Mas."
"Alhamdulillah, Mas juga sangat bahagia. Allah menjawab semua doa Mas selama ini. Sebenarnya, Mas punya salah sama kamu Aisyah."
Aisyah mendongak, menatap bola kelam itu penuh tanya.
"Tiga tahun yang lalu, Mas sempat berbahagia saat tahu kamu dan Mas Bara berpisah. Astaghfirullah! Nggak pernah berhenti Mas minta maaf sama Allah atas syukur yang letaknya salah itu. Sekian lama, Mas terus menahan diri, menjaga perasaan cinta untukmu dalam setiap doa...".
Aisyah begitu terharu mendengarnya. Ternyata yang selama ini menjaga seseorang dalam doa, bukan hanya dirinya. Faiz pun melakukan hal yang sama.
'Bagaimana ya Allah hamba harus mengungkapkan syukur ini. Sungguh sujud syukur seratus kali disetiap harinya pun tak mampu membayar apa yang telah Engkau enugerahkan ini.'
Aisyah menyeka buliran bening yang mengalir di sudut matanya. Faiz yang menyadari sang istri kini menangis, segera menggunakan tangannya untuk mengusap pipi Aisyah yang kini basah.
"Andai kamu tahu Aisyah, sungguh keinginan untuk melamarmu sudah ada sejak dulu. Sejak Mas tahu kamu sudah bukan lagi kakak ipar buat Mas."
Mereka tersenyum dalam tangisan, bersama. Faiz membawa telapak tangan Aisyah mendekati bibirnya, lalu mengecup pelan punggung tangan itu. Aisyah hanya menunduk mendapati sikap romantis sang suami.
"Tapi Mas nggak berani melakukannya, Mas takut kamu nggak siap, dan menolak lamaran Mas itu. Mas terus memendamnya Aisyah, padahal tiap ingat kamu kadang Mas harus olah raga sekalipun itu tengah malam, kadang Mas ikut razia, padahal lagi nggak tugas juga. Mas berusaha mengalihkan semua pikiran Mas tentangmu dalam hal-hal positif. Mas nggak mau Allah tidak meridhai sebab mengingat seseorang yang belum halal itukan haram hukumnya."
Aisyah mengangkat wajahnya yang tertunduk. Sejenak kedua mata itu kembali bersitatap.
"Tapi kemarin, saat Mas pulang ke Jakarta, Mas sudah tidak sanggup menahannya Aisyah. Apalagi tiap kali Mas masuk ke kamar Mas, seakan Mas merasa kamu ada di sini. Sedang membuka-buka buku dan melihat-lihat foto-foto Mas yang ada di kamar."
Aisyah terhenyak, dulu sebelum meninggalkan rumah itu, dia memang sempat memasuki kamar Faiz. Hingga catatan tentang perasaan Faiz buatnya berhasil ia baca.
"Ya Allah ...."
Hatinya menyeruak perasaan haru.
"Mas memutuskan untuk mengutarakan keinginan Mas melamarmu sama Mami. Masya Allah Aisyah. Saat itu, Mami memeluk Mas sambil mengucap syukur. Ternyata selama ini Mamipun berharap demikian, Mami ingin Mas menggantikan posisi Mas Bara untuk mendampingimu. Mami sangat berharap kamu kembali Syah, kembali menjadi menantunya."
Ucapan Faiz berhasil membuat kelopak mata Aisyah kembali basah. Sesak di dada ia rasa begitu membuat napasnya tercekat. Rindu ia pada wanita yang bahkan setelah palu perceraian diketuk, masih sangat berharap bisa kembali menjadi ibu mertua.
Tapi bagaimanapun jua, semua adalah ketetapan Allah. Tentu ada hikmah yang bisa dipetik dibaliknya. Aisyah ikhlas, Mami pergi sebelum berhasil memberi wejangan di hari pernikahan mereka.
"Sini, Aisyah."
Faiz menunjuk dadanya, bermaksud agar sang istri mau merebahkan kepala di tempat terbaik yang ia punya.
Hati.
Dengan perlahan Aisyah mengikuti permintaan Faiz. Takut jika berat kepalanya akan menganggu jalan napas sang suami, Aisyah menahan diri saat rebah.
"Tidurlah, Aisyah. Semua tempat di sini milik kamu", ucap Faiz sambil menunjuk hatinya.
Tidak hanya merebahkan kepala, Aisyah mendekap Faiz, erat.
"Bismillahirrahmanirrahim ... Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih. ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."
Setelah selesai membaca doa, Faiz mengecup kening sang istri. Keduanya begitu larut dalam bahagia, haru, dan tangisan.
'Mi, terima kasih. Doamu akan mengantarkan kami pada rumah tangga islami untuk menuju keridhaan-Nya."
***
Empat hari tak terasa berlalu begitu cepat. Setiap saat Aisyah ada di dekat sang suami mendampingi. Ternyata, menikah dengan mempelai lelaki dalam keadaan sakit pun ada hikmahnya.
Aisyah jadi bisa mengabdikan diri walau baru mendapat gelar istri. Pemenuhan kebutuhan biologis tampaknya bukanlah satu-satunya yang menjadi alasan utama pernikahan mereka. Tapi rasa sayang, cinta, ingin melindungi dan memuliakan. Alasan itulah yang lebih tepat hingga bisa menjadi tameng untuk berjuang mempertahankan keutuhan rumah tangga.
Hari ini Faiz dibolehkan pulang. Pak Hasan, Bara dan istrinya serta Nindy dan suami ikut mengantar kedua mempelai itu ke rumah sewa baru yang sudah disiapkan sang kakak.
"Terima kasih Mas, Ndy. Faiz nggak tahu harus seperti apa kmembalas semuanya," ucap pemuda itu sambil terus menggenggam jemari tangan sang istri. Aisyah hanya manggut-manggut, merasa begitu terharu dan sedikit sungkan.
"Pak, terima kasih sudah membantu Faiz melewati semuanya."
"Jangan sungkan menantu. Bapak titip Aisyah, ya. Jika masakannya tidak enak, jangan dimakan. Suruh buat yang lain, jika rumah kotor, jangan kasih dia tidur sebelum semua beres. Ajarkan dia menjadi istri yang shalihah, supaya dia bisa masuk syurga dari pintu manapun yang dia mau. Itukah sabda Rasul?"
Faiz mengangguk. Kemudian menyalami sang ayah mertua untuk kemudian mengantar lelaki itu dan kedua saudaranya pamit pulang.
Kini tinggal Faiz dan Aisyah berdua di dalam rumah itu.
Sejenak hening, mereka saling berpandangan. Ada gelenyar aneh yang berusaha menjalari hati. Ah, bukankah sudah halal.
"Yuk Sayang, kita ke kamar."
Aisyah terhenyak, lima hari membersamai, baru hari ini ia mendengar Faiz menyebutnya sayang. Adaptasi yang cukup lama, tapi begitu terasa nikmat.
Dan jujur, bertambah rasa rindu di hati Aisyah mendengar Faiz memanggilnya sayang.
"Mau makan apa siang ini, Mas?", tanya Aisyah mengingat pesan sang ayah, jangan sampai suami terlambat makan, jangan sampai suami lelah tapi saat beristirahat tempat tidur kotor. Dan masih banyak lagi jangan sampai yang harus dijaga Aisyah.
Faiz mengerling, lalu mendudukkan istrinya di atas ranjang.
"Mas masih kenyang. Kamu udah lapar?"
"Belum Mas."
"Kalau gitu, kita pergi lagi, yuk."
"Mau kemana, Mas?"
"Mas pengen ziarah tempat Mami."
Aisyah tersentak. Memang Faiz terlihat seperti enggan langsung pulang ke rumah. Ternyata itu yang sangat diinginkan suaminya.
Senyuman seindah pelangi pun tercipta di wajah gadis itu.
"Ayo, Mas, kita pergi sekarang."
"Alhamdulillah."
"Emang Mas udah bisa bawa motor?"
"Kamu percaya sama Mas 'kan?"
"Tapi Aisyah takut, Mas 'kan belum sembuh benar."
"Bismillah ayok."
Meski ragu Aisyah menuruti keinginan lelaki itu.
Faiz kembali mengeluarkan motor RX-Kingnya. Lalu memanaskan untuk sementara waktu.
"Ayo, Yank. Naik," ajak Faiz setelah terlebih dahulu menaiki motornya.
Aisyah pun menjejakkan kaki menaiki motor itu. Tak lama, kendaraan mereka mulai melaju di jalanan.
"Syah, rapat lagi. Tadi katanya takut, peluk donk."
Aisyah masih sedikit risih. Membuat Faiz. tak sabaran, segera meraih lengan sang istri untuk kemudian menyelipkan di pinggangnya.
Fais tersenyum melihat di kaca spion wajah Aisyah yang sudah merona merah.
"Baru pertama ya, Neng. Semotor sama pemuda?".
Aiysha mencubit perut Faiz. Pemuda itu hanya tersenyum sambil lebih merapatkan lengan Aisyah di perutnya. Ah, bahagianya mereka. Jika semasa gadis terus menjaga diri, ternyata tiap kebersamaan setelah pernikahan memiliki debaran tersendiri yang tak bisa diungkapkan dengan kata.
"Syah, coba lihat cewek itu."
"Mana?"
"Itu, sini lagi pipinya biar kelihatan."
Aisyah mendekatkan pipinya hingga hampir tersentuh dengan pipi Faiz. Tak lama.
"Mmuachhh."
Kecupan singkat mendarat di pipi Aisyah.
"Ih, Mas Faiz, nyiumnya kok diatas motor gini."
"Biarin, udah halal."
Aisyah hanya tersenyum, sembari kini dirinya yang semakin memeluk erat sang suami.
"Syah, kok jadi kangen gini, ya?"
" ... "
"Syah ... Kangen ...."
" ... "
"Syah, I love you, Sayang."
"Hem ... Love you too, Mas."
*
Bahkan ketika cinta sempat terjeda sekian lama, mereka saling menjaga dalam doa.
Indahnya Islam. Semoga adik-adik remaja bisa mengambil pelajaran. Ingat pesan Salim A. fillah ini ya.
Sering mentergesai kenikmatan tanpa ikatan, akan membuat detik-detik di depan terasa hambar.
Belajarlah dari ahli puasa. Ada dua kebahagiaan bagi mereka saat berbuka. Dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Mereka akan tersenyum seraya berkata, inilah puasa panjang syahwatku. Kekuatan ada pada menahan. Dan rasa nikmat itu terasa, diwaktu berbuka yang penuh kejutan.
Coba saja, kalau Allah yang menghalalkan. Setitis cicipan surga, kan menjadi sadaqah berpahala.
TAMAT