Kamis, 30 Juni 2022

Kelemahan Dalam Mengurus Blog (Selamat Ulang Tahun KOTRETAN IYEK)

KOTRETAN IYEK - Awal dari tulisan hari ini kita mulai dari melihat waktu, yaitu di hari Kamis 30 Juni 2022 pukul 19:43 WIB. Waktu itu tubuh ini terdiam duduk di sofa depan yang berwarna cokelat muda. Teringat kembali di bulan Juni sebenarnya ada satu kisah kecil untuk blog ini. Tepatnya 24 Juni itu adalah hari lahirnya atau pertama kalinya blog ini dibuat dan di terbitkan catatan kecil. Jika di hitung sudah mencapai usia yang ke 7. Angka yang masih kecil dan jika di samakan dengan manusia masih terhitung anak - anak. Walaupun sudah mencapai angka itu, namun blog ini sungguh sangat banyak kekurangan. Ada beberapa masalah atau alasan tentang blog ini yang masih sangat jauh dari blog yang seharusnya. Dan saya pun akan sedikit mencatat sebagai sebuah pengingat di masa depan. Berikut adalah beberapa alasan kekurangan dari blog ini:
1. Belajar blog otodidak, belum berani bertanya kepada ahlinya atau blogger yang senior. Alasannya adalah masih banyak rasa malu yang menghalangi.

2. Kurang membaca, ini adalah salah satu kekurangan terbesar mungkin, karena blog ini adalah bacaan, tapi pemilik blognya kurang membaca. Dan ini adalah kesalahan yang fatal. Alasannya masih ada rasa malas yang membelenggu. Semoga kedepannya saya khusunya dan para pembaca yang baik hati lebih suka membaca lagi.

3. Meluangkan waktu khusus, seharusnya memang jika ingin mengembangkan blog ini, harus ada waktu khusus untuk mengurus blog ini agar tetap eksis dan dibaca oleh orang lain. Alasannya, blog ini di buat awalnya untuk menyimpan tulisan - tulisan penting agar tidak hilang, juga untuk menuangkan suasana hati, memberi tugas anak didik dan sebagai sarana untuk menyalurkan hobi di bidang menulis.

4. Kurang kreatif dan inovatif. Mungkin karena waktu terbentur dengan pekerjaan dan waktu dengan bersama keluarga membuat pemikiran tidak begitu fokus untuk membuat kreatifitas dan inovasi untuk di salurkan di blog ini. Pikiran ini lebih banyak di gunakan untuk bekerja, berkumpul dengan famili dan lainnya.

5. Blog ini tidak fokus dalam satu bidang. Nah hal ini juga yang membuat blog ini belum di cari oleh pembaca karena blog ini tidak terfokus dalam satu bidang bahasan, misalnya keagamaan, fashion, pendidikan atau lainnya. Jadi blog ini terlihat campur gado-gado, mulai dari agama, cerpen, cerbung, catatan pribadi, pendidikan dan lainnya.

6. Masih minim karya original, blog ini masih banyak produk copy paste. Hal ini di akibatkan karena minim pengetahuan, tidak fokus, belum percaya diri, dan intinya masih harus banyak belajar.

7. Sosialisasi kurang. Atau kurang sosialisasi. Blog ini tidak di publikasikan secara umum, karena merasa malu dengan isi dan tampilan blog yang belum bagus dan kurang enak di pandang dalam tampilannya.

Masih banyak lagi kekurangan yang harus di tutupi, namun untuk sekarang ini saja terlebih dahulu. 
Harapan kedepan, semoga blog ini dapat inspirasi lebih baik dar sebelumnya. Juga fokus dalam bahasan satu bidang.

Akhirnya saya sebagai pemilik blog KOTRETAN IYEK ini mengucapkan selamat Hari Ulang tahun yang ke 7. Semoga berkah!!!

Selasa, 21 Juni 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 27 - SELESAI)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Karya Ayu Wahyuni
Part 27/ending story



Aisyah tak dapat menutupi pancaran bahagia yang menyelimuti wajahnya. Kata sah yang diucapkan Nindy dan Bara terdengar bagai gaungan zikir jamaah yang kerap membuat jiwanya larut pada syukur yang dalam.

Ia masih berdiri sambil tak henti mengucap tahmid. Sampai akhirnya, Pak Rahman menuntun agar putrinya itu menyalami tangan Faiz yang kini sudah sah menjadi suami.

Dengan sedikit canggung Aisyah meraih jemari yang masih terpasang selang infus, lalu sejenak matanya dan pemuda itu saling bertatapan. Seolah meluapkan rindu yang sehasta, kedua pasang mata tersebut sama-sama berkaca.

Faiz menggenggam jemari tangan Aisyah setelah telapak tangannya dikecup. 

"Maaf Aisyah ...," ucap pemuda itu lirih.

"Maaf kenapa, Mas?" Aisyah mencoba menenangkan dengan mengelus punggung tangan suaminya.

"Mas tidak hati-hati, harusnya kamu bisa bertemu sama Mami."

Faiz sudah tak lagi mampu membendung tangisnya. Baru kali ini ia terlihat begitu rapuh, hingga membiarkan air mata jatuh di hadapan orang lain. Dua rasa yang mendominasi hati, bahagia akan pernikahannya, sedih jika mengingat Mami telah pergi untuk selamanya.

"Semua sudah takdir, Mas. Tidak ada yang perlu disesali. Kita hanya harus mendoakan Mami, agar beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah."

"Aamiin. Makasih, Aisyah."

"Mas Faiz, Nindy tinggal dulu, ya. Aisyah, Mbak titip Mas Faiz," pamit Nindy pada keduanya.

Sedang Bara tampak menepuk pundak sang adik mencoba menyemangati lalu ikutan keluar ruangan. Yang terakhir meninggalkan mereka adalah sang ayah. 

"Nak Faiz, secara agama, Aisyah sudah sah menjadi istrimu. Perlakukan ia dengan baik, muliakan ia sebagaimana Nabi senantiasa memuliakan istrinya," pesan Pak Rahman pada pemuda yang kini sudah menjadi menantunya.

Faiz mengangguk mengiyakan. Setelah ruangan bersekat kain hijau itu hanya bersisakan dirinya dan Aisyah. Faiz tampak kembali menatap sang istri. Rindu namun musibah yang terjadi membuat semua perasaan itu tak layak ada.

"Aisyah ...."

"Iya, Mas."

"Tarik kursinya, duduk sini dekat Mas."

Aisyah mengangguk dan melakukan apa yang dimintakan Faiz.

Pemuda itu kemudian menggerakkan tangannya untuk menggenggam jemari Aisyah. Tentu saja gelenyar aneh hadir menghujam dada gadis itu. Sebab ini adalah kali kedua ia bersentuhan dengan lelaki. 

Memang dahulu, tangannya pernah disentuh oleh satu lelaki, ialah Bara suami yang pernah mengabaikannya. Tapi Aisyah sangat yakin, degupan yang ia rasa kini begitu berbeda dengan ketika ia mengizinkan Bara memasangkan cincin di tangannya.

Faiz kembali menatap wanitanya. Ia sentuh lama jemari itu, baru kemudian memasangkan cincin di jemari manis sang istri.

"Alhamdulillah, terima kasih, Mas," ucap Aisyah sambil mencium punggung tangan Faiz.

"Cincin ini tadinya cuma sebagai cincin tunangan, tapi kini malah jadi cincin pernikahan", lirih Faiz bagai sapuan angin lembut.

"Tidak apa-apa, Mas."

"Bahkan mereka meninggalkan kita sebelum Mas memasangkan cincin ditangan kamu...".

Aisyah menunduk, mengukum senyum.

"Mungkin mereka tidak ingin mengganggu kita, Syah."

Aisyah mengangguk, tak bisa berkata apapun.

"Kamu bahagia?", tanya pemuda itu lagi.

"Sangat bahagia, Mas."

"Alhamdulillah, Mas juga sangat bahagia. Allah menjawab semua doa Mas selama ini. Sebenarnya, Mas punya salah sama kamu Aisyah."

Aisyah mendongak, menatap bola kelam itu penuh tanya.

"Tiga tahun yang lalu, Mas sempat berbahagia saat tahu kamu dan Mas Bara berpisah. Astaghfirullah! Nggak pernah berhenti Mas minta maaf sama Allah atas syukur yang letaknya salah itu. Sekian lama, Mas terus menahan diri, menjaga perasaan cinta untukmu dalam setiap doa...".

Aisyah begitu terharu mendengarnya. Ternyata yang selama ini menjaga seseorang dalam doa, bukan hanya dirinya. Faiz pun melakukan hal yang sama. 

'Bagaimana ya Allah hamba harus mengungkapkan syukur ini. Sungguh sujud syukur seratus kali disetiap harinya pun tak mampu membayar apa yang telah Engkau enugerahkan ini.'

Aisyah menyeka buliran bening yang mengalir di sudut matanya. Faiz yang menyadari sang istri kini menangis, segera menggunakan tangannya untuk mengusap pipi Aisyah yang kini basah.

"Andai kamu tahu Aisyah, sungguh keinginan untuk melamarmu sudah ada sejak dulu. Sejak Mas tahu kamu sudah bukan lagi kakak ipar buat Mas."

Mereka tersenyum dalam tangisan, bersama. Faiz membawa telapak tangan Aisyah mendekati bibirnya, lalu mengecup pelan punggung tangan itu. Aisyah hanya menunduk mendapati sikap romantis sang suami.

"Tapi Mas nggak berani melakukannya, Mas takut kamu nggak siap, dan menolak lamaran Mas itu. Mas terus memendamnya Aisyah, padahal tiap ingat kamu kadang Mas harus olah raga sekalipun itu tengah malam, kadang Mas ikut razia, padahal lagi nggak tugas juga. Mas berusaha mengalihkan semua pikiran Mas tentangmu dalam hal-hal positif. Mas nggak mau Allah tidak meridhai sebab mengingat seseorang yang belum halal itukan haram hukumnya."

Aisyah mengangkat wajahnya yang tertunduk. Sejenak kedua mata itu kembali bersitatap.

"Tapi kemarin, saat Mas pulang ke Jakarta, Mas sudah tidak sanggup menahannya Aisyah. Apalagi tiap kali Mas masuk ke kamar Mas, seakan Mas merasa kamu ada di sini. Sedang membuka-buka buku dan melihat-lihat foto-foto Mas yang ada di kamar."

Aisyah terhenyak, dulu sebelum meninggalkan rumah itu, dia memang sempat memasuki kamar Faiz. Hingga catatan tentang perasaan Faiz buatnya berhasil ia baca.

"Ya Allah ...."

Hatinya menyeruak perasaan haru. 

"Mas memutuskan untuk mengutarakan keinginan Mas melamarmu sama Mami. Masya Allah Aisyah. Saat itu, Mami memeluk Mas sambil mengucap syukur. Ternyata selama ini Mamipun berharap demikian, Mami ingin Mas menggantikan posisi Mas Bara untuk mendampingimu. Mami sangat berharap kamu kembali Syah, kembali menjadi menantunya."

Ucapan Faiz berhasil membuat kelopak mata Aisyah kembali basah. Sesak di dada ia rasa begitu membuat napasnya tercekat. Rindu ia pada wanita yang bahkan setelah palu perceraian diketuk, masih sangat berharap bisa kembali menjadi ibu mertua.

Tapi bagaimanapun jua, semua adalah ketetapan Allah. Tentu ada hikmah yang bisa dipetik dibaliknya. Aisyah ikhlas, Mami pergi sebelum berhasil memberi wejangan di hari pernikahan mereka.

"Sini, Aisyah."

Faiz menunjuk dadanya, bermaksud agar sang istri mau merebahkan kepala di tempat terbaik yang ia punya.

Hati.
Dengan perlahan Aisyah mengikuti permintaan Faiz. Takut jika berat kepalanya akan menganggu jalan napas sang suami, Aisyah menahan diri saat rebah.

"Tidurlah, Aisyah. Semua tempat di sini milik kamu", ucap Faiz sambil menunjuk hatinya.

Tidak hanya merebahkan kepala, Aisyah mendekap Faiz, erat.

"Bismillahirrahmanirrahim ... Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih. ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."

Setelah selesai membaca doa, Faiz mengecup kening sang istri. Keduanya begitu larut dalam bahagia, haru, dan tangisan.

'Mi, terima kasih. Doamu akan mengantarkan kami pada rumah tangga islami untuk menuju keridhaan-Nya."

***

Empat hari tak terasa berlalu begitu cepat. Setiap saat Aisyah ada di dekat sang suami mendampingi. Ternyata, menikah dengan mempelai lelaki dalam keadaan sakit pun ada hikmahnya. 

Aisyah jadi bisa mengabdikan diri walau baru mendapat gelar istri. Pemenuhan kebutuhan biologis tampaknya bukanlah satu-satunya yang menjadi alasan utama pernikahan mereka. Tapi rasa sayang, cinta, ingin melindungi dan memuliakan. Alasan itulah yang lebih tepat hingga bisa menjadi tameng untuk berjuang mempertahankan keutuhan rumah tangga.

Hari ini Faiz dibolehkan pulang. Pak Hasan, Bara dan istrinya serta Nindy dan suami ikut mengantar kedua mempelai itu ke rumah sewa baru yang sudah disiapkan sang kakak.

"Terima kasih Mas, Ndy. Faiz nggak tahu harus seperti apa kmembalas semuanya," ucap pemuda itu sambil terus menggenggam jemari tangan sang istri. Aisyah hanya manggut-manggut, merasa begitu terharu dan sedikit sungkan.

"Pak, terima kasih sudah membantu Faiz melewati semuanya."

"Jangan sungkan menantu. Bapak titip Aisyah, ya. Jika masakannya tidak enak, jangan dimakan. Suruh buat yang lain, jika rumah kotor, jangan kasih dia tidur sebelum semua beres. Ajarkan dia menjadi istri yang shalihah, supaya dia bisa masuk syurga dari pintu manapun yang dia mau. Itukah sabda Rasul?"

Faiz mengangguk. Kemudian menyalami sang ayah mertua untuk kemudian mengantar lelaki itu dan kedua saudaranya pamit pulang.

Kini tinggal Faiz dan Aisyah berdua di dalam rumah itu.

Sejenak hening, mereka saling berpandangan. Ada gelenyar aneh yang berusaha menjalari hati. Ah, bukankah sudah halal.

"Yuk Sayang, kita ke kamar."

Aisyah terhenyak, lima hari membersamai, baru hari ini ia mendengar Faiz menyebutnya sayang. Adaptasi yang cukup lama, tapi begitu terasa nikmat.

Dan jujur, bertambah rasa rindu di hati Aisyah mendengar Faiz memanggilnya sayang.

"Mau makan apa siang ini, Mas?", tanya Aisyah mengingat pesan sang ayah, jangan sampai suami terlambat makan, jangan sampai suami lelah tapi saat beristirahat tempat tidur kotor. Dan masih banyak lagi jangan sampai yang harus dijaga Aisyah.

Faiz mengerling, lalu mendudukkan istrinya di atas ranjang. 

"Mas masih kenyang. Kamu udah lapar?"

"Belum Mas."

"Kalau gitu, kita pergi lagi, yuk."

"Mau kemana, Mas?"

"Mas pengen ziarah tempat Mami."

Aisyah tersentak. Memang Faiz terlihat seperti enggan langsung pulang ke rumah. Ternyata itu yang sangat diinginkan suaminya. 

Senyuman seindah pelangi pun tercipta di wajah gadis itu.

"Ayo, Mas, kita pergi sekarang."

"Alhamdulillah."

"Emang Mas udah bisa bawa motor?"

"Kamu percaya sama Mas 'kan?"

"Tapi Aisyah takut, Mas 'kan belum sembuh benar."

"Bismillah ayok."

Meski ragu Aisyah menuruti keinginan lelaki itu. 

Faiz kembali mengeluarkan motor RX-Kingnya. Lalu memanaskan untuk sementara waktu.

"Ayo, Yank. Naik," ajak Faiz setelah terlebih dahulu menaiki motornya.

Aisyah pun menjejakkan kaki menaiki motor itu. Tak lama, kendaraan mereka mulai melaju di jalanan.

"Syah, rapat lagi. Tadi katanya takut, peluk donk."

Aisyah masih sedikit risih. Membuat Faiz. tak sabaran, segera meraih lengan sang istri untuk kemudian menyelipkan di pinggangnya.

Fais tersenyum melihat di kaca spion wajah Aisyah yang sudah merona merah.

"Baru pertama ya, Neng. Semotor sama pemuda?".

Aiysha mencubit perut Faiz. Pemuda itu hanya tersenyum sambil lebih merapatkan lengan Aisyah di perutnya. Ah, bahagianya mereka. Jika semasa gadis terus menjaga diri, ternyata tiap kebersamaan setelah pernikahan memiliki debaran tersendiri yang tak bisa diungkapkan dengan kata. 

"Syah, coba lihat cewek itu."

"Mana?"

"Itu, sini lagi pipinya biar kelihatan."

Aisyah mendekatkan pipinya hingga hampir tersentuh dengan pipi Faiz. Tak lama.

"Mmuachhh."

Kecupan singkat mendarat di pipi Aisyah. 

"Ih, Mas Faiz, nyiumnya kok diatas motor gini."

"Biarin, udah halal."

Aisyah hanya tersenyum, sembari kini dirinya yang semakin memeluk erat sang suami.

"Syah, kok jadi kangen gini, ya?"

" ... "

"Syah ... Kangen ...."

" ... "

"Syah, I love you, Sayang."

"Hem ... Love you too, Mas."

*

Bahkan ketika cinta sempat terjeda sekian lama, mereka saling menjaga dalam doa.

Indahnya Islam. Semoga adik-adik remaja bisa mengambil pelajaran. Ingat pesan Salim A. fillah ini ya.

Sering mentergesai kenikmatan tanpa ikatan, akan membuat detik-detik di depan terasa hambar.

Belajarlah dari ahli puasa. Ada dua kebahagiaan bagi mereka saat berbuka. Dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Mereka akan tersenyum seraya berkata, inilah puasa panjang syahwatku. Kekuatan ada pada menahan. Dan rasa nikmat itu terasa, diwaktu berbuka yang penuh kejutan. 

Coba saja, kalau Allah yang menghalalkan. Setitis cicipan surga, kan menjadi sadaqah berpahala.



TAMAT

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 26)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 26



Sudah satu jam Faiz didalam ruang operasi, sedang di luar Aisyah duduk seorang diri dengan kecemasan terhebat. Tak ada satupun yang keluar dari ruangan, yang dari luar masih tampak menyala lampu pertanda operasi.

Aisyah duduk tak tenang, pandangannya tak menentu. Kadang melirik ponsel, detik berikutnya menelisik ke dalam ruangan melalui kaca buram. Padahal sudah pasti tak terlihat apapun melainkan pantulan wajahnya sendiri.

Aisyah benar-benar khawatir.

Setengah jam berikutnya berlalu, derit pintu berkaca buram itu membuat Aisyah terhenyak. Buru-buru ia bangkit untuk menanti informasi dari dokter atau siapa saja.

"Maaf, Adik ini keluarga dari pasien Faiz Alfarisy?".

"Iya benar, Pak...".

"Alhamdulillah operasi sudah selesai Dik, tapi pasien masih dalam masa kritis. Mohon doanya, agar pasien bisa sadar dalam 24 jam ke depan...".

Sambil mengangguk, Aisyah menghela napas berat. Dadanya kembali terasa sesak. Doa yang sedari tadi tak henti ia langitkan, dengan maksud agar sang calon imam bisa sadarkan diri, kini terasa bagai mengambang di langit. Tak sampai pada Sang Penguasa Kehidupan.

Aisyah kembali terduduk lemas di atas kursi tunggu. Tak ada tempat menumpahkan segala kesedihan, sang ayah pun setengah jam lalu, ijin pulang untuk mengurusi jenazah mami.

Seharusnya saat ini Makcik beserta sepupunya sudah di rumah sakit menemani, tapi musibah menimpa dua saudaranya itu. Kendaraan yang mereka tumpangi ditahan pihak polisi saat razia. Tersebab surat menyurat motor yang mereka naiki tidak lengkap.

Beberapa menit berlalu, tampak dua orang perawat keluar dari ruang operasi sambil mendorong brangkar. Jantung gadis itu berdentum tak karuan. Ia kembali memandang wajah itu, wajah yang teramat ia jaga untuk tak dirindui.

'Akankah kita bisa bersama, Mas?'.

Dengan lembut ia menyeka sebulir bening yang menyembul di sudut mata. Diiringi langkah yang terasa amat goyah, ia barengi brangkar itu hingga berhenti di ruang ICU.

Setelah mendapatkan bed khusus. Perawat kembali menyambungkan berbagai alat ke tubuh Faiz. Aisyah tak kuasa menahan perih yang menghujam dada bertubi-tubi. Dengan jarak beberapa meter, ia berdiri kaku di dekat tirai.

Ingin mendekat, tapi ingat akannya batasan haram yang tidak boleh ia abaikan. Aisyah memilih bergeming. Menatap sesekali , selebihnya menunduk.

"Bertahan Mas, saya disini. Menunggu...".

***

Menjelang ashar, Aisyah meninggalkan Faiz untuk melaksanakan shalat fardhu di mushalla. Dengan khusuk gadis itu menengadahkan tangan memanjat doa, agar Allah memberi kesempatan hidup dan memberi keberkahan umur pada calon imamnya. 

Ia juga melangitkan doa terbaik untuk wanita yang pernah dan akan menjadi ibu mertuanya kembali. Doa agar selamat iman, Husnul Khatimah, mendapat pengampunan dan tempat terbaik disisi Allah.

Usai shalat, Aisyah tidak berlama-lama di mushalla. Sebab Faiz seorang diri tanpa keluarga yang mendampingi.

Begitu terhenyak saat ia mendapati Nindi dan ayahnya berdiri di pintu masuk ICU.

"Mbak?".

Nindy menoleh, segera ia merentangkan tangannya, menyambut Aisyah.

"Aisyah ....".

"Yang sabar, Mbak. Dunia hanya singgahan, di sanalah tempat kita kembali. Hanya masalah waktu yang menjadi rahasia Allah."

"Iya, Syah. Makasih ya. Semoga Mas Faiz bisa segera sadar. Mbak kasihan sama kamu."

Aisyah bergeming sejenak, mengusap air mata dengan punggung tangan.

"In Syaa Allah Mbak, kita harus yakin. Bukankah Allah sesuai prasangka hamba-Nya?"

Nindy mengangguk. Tak lama, kedua netra Aisyah membelalak. Lelaki yang dahulu pernah begitu ia cintai muncul di ujung koridor bersama seorang wanita.

"Mas Bara?".

Nindy segera berpaling ke belakang.

Suasana terasa canggung, terlebih saat Bara dan istrinya sudah bergabung bersama mereka.

"Selamat atas pernikahannya, Mas," ucap Aisyah lirih.

"Terima kasih Aisyah. Ini Siska..", kenal Bara pada Aisyah.

"Aisyah."

"Siska."

"Harusnya bukan begini pertemuan kita ya, Mas?".

Nindy kembali berduka.

"Semua sudah musibah, Dik. Kita semua harus ikhlas. Biar Mami pun tenang disana."

"Mami sudah dikebumikan?". Aisyah bertanya pada mereka semua.

Sesak kembali memenuhi dada, teringat Faiz yang belum sadar dan tidak sempat melihat jenazah sang ibu untuk terakhir kalinya. Bagaimana jika nanti lelaki itu sadar, dan Faiz tak bisa menerima semua ini?.

Semua terdiam.

"Kenapa nggak nunggu Mas Faiz sadar, Pak?".

"Sudah lepas ashar Aisyah, kita tak mungkin menunggu lebih lama."

Ayah Aisyah menimpali. Nindy berusaha menenangkan Aisyah dengan pelukan.

"Ini yang terbaik melihat kondisi Mami, Aisyah ....".

"Ya Allah, kasihan Mas Faiz. Pasti dia akan sangat sedih karena tidak sempat melihat jenazah Mami terakhir kalinya ...."

Air mata Aisyah kembali berderai.

"Faiz pasti akan mengerti Aisyah."

Sang ayah mencoba ikut menenangkan anaknya.

Hari itu menjadi hari kedukaan buat mereka. Rencana menggelar bahagia, justru musibah yang menimpa. Namun, tak ada sesuatu yang terjadi, melainkan Allah selipkan hikmah dibalik semua itu.

Aisyah tetap sabar dan yakin bahwa Allah Maha Penolong, Allah Maha penyayang. Dengan meluaskan sabar, Aisyah percaya Allah akan memberi jalan keluar terbaik.

***

Tak sekalipun gadis itu mendekat, ia tetap memandang rindu dari kejauhan. Sudah lewat dua puluh empat jam seperti yang diisyaratkan oleh dokter, namun Faiz belum juga sadarkan diri.

"Sudah Aisyah, kamu pulang saja. Biar Mbak sama Mas Bara yang menunggu".

Nindy memberi solusi, melihat Aisyah yang tampak lemah bahkan tak sanggup lagi untuk berjalan.

"Nggak papa Mbak, Aisyah mau disini aja. Kalau gitu makanlah, dari siang Mbak lihat makanmu sedikit sekali."

Nindy menyodorkan nasi bungkus ke arah Aisyah. Dengan air mata mengalir, gadis itu meraih untuk kemudian menundukkan wajah. Menutupi kedukaan dan rasa cemasnya.

Bagaimana jika Faiz tak juga siuman? 

Haruskah ia terus menanti sambil menatap dari kejauhan? Sedang dirinya ingin sekali bisa merawat pemuda itu? 

Pertanyaan tersebut sedari tadi terus memenuhi kepalanya.

Ia ambil sesuap nasi, lalu memasukkan ke dalam mulut dengan terpaksa.

Tiba-tiba, dua orang perawat berlarian ke arah bed dimana Faiz di rawat. Bara yang hendak masuk, segera memberi tahu yang lain.

"Tolong menunggu diluar ya, Pak."

Suster mencegah keluarga masuk berbarengan. Hanya Bara yang ikut mendampingi di dalam. Sedang yang lain menunggu di luar dengan perasaan tak menentu.

Tak lama, Bara kembali keluar dengan rona wajah lega.

"Faiz udah sadar..".

"Alhamdulillah."

"Kamu masuk Nin, nggak boleh ramai-ramai"

Nindy segera meluncur ke dalam bersama suaminya.

Aisyah merasa jantungnya tak karuan, bahagia, lega, seketika ia bersujud ke lantai memanjatkan syukur tak terhingga kepada Sang Pemilik Kehidupan.

"Terima kasih ya, Allah."

Aisyah tak tahu seperti apa menggambarkan bahagia yang kini ia rasa. Ternyata benar, setelah hujan badai, ada pelangi indah yang membuat mata takjub. Bahkan saat kita melihat hamparan padang sahara yang seolah memanjang tanpa batas, agar kita ketahuilah bersama bahwa di balik kejauhan itu terdapat kebun yang rimbun penuh hijau dedaunan. 

Wahai manusia, kita harus yakin, setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah bergadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap yang hilang pasti ketemu. Sebagaimana dalam kesesatan akan datang petunjuk, juga dalam kesulitan ada kemudahan. Dan sudah pasti, setiap kegelapan akan terang benderang.

Maka dari itu, jangan pernah merasa terhimpit sejengkalpun. Karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baiknya ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar.

***

"Mami mana, Mbak?" 

Pertanyaan Faiz menyayat hati siapa saja yang mendengar. Termasuk salah satu suster yang sedang memeriksa keadaan pemuda itu. Dengan segera wanita itu pergi, membiarkan keluarga besar memberitahu kabar kematian ibu mereka.

"Mami baik, Mas."

"Bawa saya ketemu Mami, Mbak."

"Iya, Mas. Nanti Nindy bawa."

"Ada apa, Ndy? Katakan yang sesungguhnya sama Mas?".

Sejenak suasana hening, air mata Nindy menjadi jawaban buat Faiz. Denyut jantungnya melemah.

"Mami nggak papa 'kan Ndy?"

Nindy semakin terisak.

"Yang sabar Iz, Mami udah nggak ada", jawab Bara mencoba menenangkan Faiz.

"Innalillahi wainnailaihi rajiun ... Ya Allah, Mami...".

Hancur perasaan Faiz mendengar kabar duka tersebut. Betapa terkenang detik-detik kepergian mereka ke rumah Aisyah, dimana mami masih saja memberi nasihat padanya. Agar ia menjaga Aisyah, mencintai dan melindungi Aisyah sepanjang umur. 

Faiz terhenyak saat mendapati kata-kata perpisahan yang tak ditangkap oleh dirinya saat itu. 'Nanti Mami akan pergi, Iz. Berjanjilah untuk selalu bertanggung jawab pada pernikahanmu. Jangan pernah sakiti Aisyah. Jika Mami gak ada, maka nggak ada lagi yang bakalan ngingatin kamu, kecuali dirimu sendiri, Iz.'

"Ya Allah, Mi, Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa Mami, dan menempatkan Mami di syurga-Nya." Faiz berucap seraya merahup wajah

"Aisyah mana, Ndy?"

"Ada diluar...".

Tanpa diperintah, Nindy segera berjalan keluar untuk memanggil. Istri Bara dan suami Nindy begantian keluar ruangan.

Faiz masih menanti kedatangan gadis yang menjadi alasan kuat untuknya terus memohon agar terus hidup.

Aisyah kini ada di hadapan. Haru syukur menyeruak memenuhi dada. Netra pemuda itu kini tampak berkaca-kaca, hal yang sama pun dialami oleh gadis itu. Pandangan itu bertemu sejenak. Sebelum akhirnya sang gadis menundukkan wajah.

"Aisyah ....".

"Alhamdulillah Mas sudah sadar," ucapnya sambil terisak.

"Mami Mas--" diangkatnya wajah sambil menatap sekilas, sungguh Aisyah tak kuasa menatap bola mata itu. Akan ada rindu yang membarengi walau pandangan hanya bertemu sekejap kedipan mata. Dan Aisyah sangat menjaga hal itu. Ia ingin merindui Faiz dengan halal.

"Mas yang sabar, ya?"

Faiz mengangguk lalu mengalihkan pandangan menatap Pak Rahman. Tak ada cara untuknya selain menghalalkan gadis itu.

"Ijinkan saya menikahi Aisyah, Pak."

Semua terhenyak, tak terkecuali Aisyah. Tak percaya sekaligus teramat bahagia.

"Apa Nak Faiz yakin sekarang waktunya?"

Aisyah masih mengatur degup di dadanya, diam-diam dia melangitkan doa pada Rabbnya. 

'Teguhkanlah pendiriannya ya Allah.'

"In Syaa Allah, saya yakin, Pak. Ini juga yang Mami inginkan. Agar saya tidak lagi menunda. Saya ingin melalui semua ini bersama Aisyah sebagi kekasih halal saya."

"Alhamdulillah ...."

Dengan mahar berupa cincin emas seberat sembilan gram yang diniatkan Faiz sebagai cincin tunangan, pemuda itu menikahi Aisyah hari itu juga.

"Saya nikahkan anak saya Siti Aisyah binti Abdurrahman dengan mas kawin cincin seberat sembilan gram dibayar tunai."

"Saya terima nikahnya Siti Aisyah binti Abdurrahman dengan mas kawin cincin seberat sembilan gram dibayar tunai."

"Sah."

"Sah."

"Sah."

"Alhamdulillah."



BERSAMBUNG

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 25)

*Aku Mencintai Istrimu, Mas*
Part 25



Aisyah mematut diri di depan cermin, gamis coklat susu dengan hijab senada tampak indah di tubuhnya. Sedang di luar riuh beberapa saudara juga tetangga dekat membuat jantungya semakin berdebar tak menentu. 

Semua menanti kedatangan Faiz dan maminya. Yang menurut kabar sudah sampai ke Aceh sejak kemarin pagi. Karena ingin tinggal beberapa hari, mami tidak menyewa hotel, melainkan memilih kosan Faiz sebagai tempat tinggal sementara.

"Aisyah ...."

Suara seorang lelaki terdengar dari luar kamarnya. Aisyah beringsut dan berjalan untuk membukakan pintu. 

Setelah pintu kayu tersebut terbuka, tampak ayahnya berdiri dengan membawa sebuah ponsel. Wajahnya tak biasa, terlihat tegang.

"Ada apa, Pak?" tanya Aisyah dengan raut ketakutan.

"Kita ke rumah sakit Meraxa."

"Apa, Pak? Ke rumah sakit? Bukannya sebentar lagi Mas Faiz mau kemari?"

Sesaat hening, Bapak terlihat ragu untuk berkata.

"Calon suami dan ibu mertuamu, kecelakaan, Aisyah."

"Apa? Astaghfirullah ... bagaimana bisa, Pak?"

"Nanti di sana kita tanyakan."

"Iya Pak. Ayo Pak, kita pergi sekarang."

Aisyah kembali ke kamar mengambil tas serta handphone, lalu bergegas mengikuti langkah sang Bapak yang terlihat sangat cepat. 

Beberapa saudara dan para tetangga yang hadir, semua terlihat berduka. Acara yang harusnya meriah malah berganti kedukaan. 

Tak sepetah katapun keluar dari mulut mereka. Padahal satu jam yang lalu semua terlihat amat bahagia, terlebih setelah tahu jika yang melamar adalah Faiz, adik ipar mantan suaminya yang pernah melamar Aisyah dahulu sebelum dilamar sang kakak.

Aisyah memandang rumahnya saat motor yang dijalankan sang ayah perlahan bergerak meninggalkan halaman.

Dalam hati tak henti ia melangitkan doa, agar Faiz dan ibunya dalam lindungan Allah. Bulir air mata terus membanjiri wajah, teringat bahwa hari yang paling ia nanti ternyata harus berakhir dengan tragis.

Hanya doa yang ia harap mampu membawa angannya menjadi kenyataan. Mimpi mengecap rumah tangga bahagia bersama lelaki pujaan, semoga bisa diijabah Allah.

***

UGD terlihat ramai, sepertinya kecelakaan melibatkan banyak pihak. Aisyah berjalan tergesa mengikuti langkah ayahnya yang tak kalah cepat. Sampai di depan ruangan itu, sang ayah langsung membuka pintu.

"Mohon tunggu di luar, Pak."

Langkah Pak Rahman dihadang oleh seorang petugas rumah sakit.

"Kami keluarga korban, Pak."

"Oh baik. Silakan masuk, Pak."

Abah dan Aisyah langsung berhamburan ke dalam ruangan. Terlihat beberapa bed yang harusnya tertutup, kini tirai tersibak dengan para perawat ada pada tiap bed. Kedua netra Aisyah langsung terlempar pada dua bed yang letaknya bersisian.

Di sana, ada seorang wanita yang amat ia sayangi seumpama rasa sayangnya pada ibu kandung sendiri.

'Mami.'

Wanita itu terlihat memejamkan matanya, kedua tangan terletak di samping tubuh. Darah masih mengalir di pelipis yang sudah di tutupi kain perban. Tak ada sesiapun lagi perawat yang membersamainya. Semua berpencar pada sekian banyak bed lainnya yang ada di ruangan itu.

Aisyah sudah tak lagi dapat membendung tangisnya. Kembali air mata mengalir di kedua sudut. Sedang jantungnya kian melemah, tak mampu lagi bahkan untuk memompa dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh. 

Dia alihkan pandangan. Terasa kedua tungkai gadis itu kini kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya berdiri, saat mata teralih pada bed di sebelah mami. 

Di sana, Faiz masih ditangani oleh beberapa petugas. Dengan bergantian, mereka mengusahakan agar berbagai tempat yang mengeluarkan darah bisa segera tertutup.

"Ya Allah, selamatkan mereka."

Doa yang tak henti mengalir seiring embusan napasnya.

"Bapak keluarga korban yang mana?"

Pak Rahman menunjuk pada bed yang diatasnya terbaring mami dan Faiz. 

"Oh, yang satu harus segera dioperasi. Ada benturan pada kepala yang menyebabkan perdarahan. Korban yang satunya lagi, kami mohon maaf. Sudah tak terselamatkan."

"Astaghfirullah! Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Ya Allah ...."

Tangis Aisyah pecah di dalam dekapan sang ayah. Pak Rahman mencoba menenangkan anak sulungnya. Meski sejujurnya hatinya pun sama hancur dan terluka terhadap musibah ini.

"Siapa yang harus dioperasi, Pak?"

"Pemuda itu."

Aisyah mengatup mulutnya, berusaha agar suara isakannya tak terdengar pada siapapun.

"Berarti mami sudah tiada, Pak," sebutnya dengan hati bak diiris-iris sembilu. 

Wanita yang teramat ia sayangi, yang bahkan tadi malam cukup banyak memberi nasihat padanya di telpon. Tak tersirat bahwa saat itu adalah kesempatan terakhir mendengar suara lembut wanita itu.

"Kamu yang sabar ya, Aisyah. Kita doakan mamimu Husnul Khatimah. Sekarang, kita harus fokus pada keselamatan calon suamimu. Semoga Allah memanjangkan umurnya. Coba kamu beri kabar pada keluarga yang di Jakarta tentang semua ini."

"Aamiin Allahumma Aamiin ... baik, Pak."

Dengan mengumpulkan segenap kekuatan, Aisyah mengeluarkan ponselnya. Segera ia menelpon Nindy untuk menyampaikan kabar duka tersebut. 

Sedang Seorang perawat terlihat membimbing Pak Rahman untuk menandatangi surat persetujuan operasi. 

[Assalamualaikum Mbak.]

[Aisyah, selamat ya. Maaf nggak bisa hadir.]

Aisyah terdiam, menarik napas sambil terisak.

[Ada apa, Syah?]

[Mami, Mbak.]

[Mami kenapa?]

[Mami sama Mas Faiz kecelakaan]

[Astaghfirullah. Sekarang gimana keadaan mereka?]

[Mbak yang sabar, ya. Mami sudah mengembuskan napas terakhirnya, Mbak.]

[Innalillahi wainna ilaihi rajiun.]

Tangis Nindy terdengar pilu. Aisyah tak lagi dapat menggambarkan remuk hatinya.

[Mas Faiz gimana, Aisyah?]

[Alhamdulillah, Mas Faiz selamat. Tapi harus segera dioperasi, Mbak. Kepalanya mengalami benturan yang terus mengeluarkan darah.]

[Ya Allah, kenapa bisa begini? Lakukan yang terbaik Aisyah, Mbak sama Mas Bara segera terbang ke Aceh.]

[In Syaa Allah, Mbak.]

Setelah menutup telpon dari Nindy. Aisyah berusaha tegar berjalan menghampiri mami. Gadis itu menarik napas dalam, berusaha tak menangis di depan jenazah maminya.

"Mi, maafkan Aisyah. Aisyah sayang sama mami."

Air matanya menetes perlahan, ia sapu cepat dengan punggung tangan. Lalu mulai membacakan doa.

"Bismillahirrahmanirrahim. Subhanallah hayyil ladzi la yamuutu Allahumagfirlihadzal mayyiti warhamhuma. Allahumma Anis filqobri wahdatahu waghurbatahu wannawwir Wallahu. Maha suci Allah dzat Yang Maha Hidup dan Tidak Mati. Ya Allah berilah ampunan kepada mayit ini dan belas kasihanilah dia. Ya Allah berikanlah kesenangan kepadanya dalam kubur sendirian dan dalam rantauan, serta sinarilah kuburnya....".

Aisyah mengecup pelan wajah yang tampak pucat itu. Sejenak kenangannya bersama wanita yang pernah dan harusnya kembali ia sebut ibu mertua,  kembali berputar dibenak. Bagai putaran kaset di layar lebar.

Bagaimana mami menerimanya dengan penuh suka cita sebagai menantu. Hingga melepaskannya dengan hati tersayat ketika pengajuan cerainya diterima di pengadilan agama. 

Selain ibunya, mami adalah wanita luar biasa kedua yang pernah ia kenal.

"Terima kasih, Mi untuk semua kebaikan Mami selama ini. Semoga Allah membalas dengan syurga-Nya."

Setelah cukup puas memanjatkan doa, Aisyah terhenyak saat menyadari brangkar yang diatasnya berbaringkan Faiz, didorong keluar ruangan. Buru-buru Aisyah mengejar brangkar itu.

"Mas Faiz mau dibawa kemana, Pak?"

Aisyah bertanya saat sudah membarengi sang ayah yang terlihat ikut di belakang brangkar.

"Faiz harus dioperasi secepatnya Aisyah. Mencegah darah keluar terlalu banyak."

Aisyah kembali merasa sesak di dadanya. Buliran bening kembali menganak sungai di pelupuk. Ia mencoba kuat.

"Sudah ditelpon keluarga di Jakarta?" tanya ayahnya sembari terus berjalan.

Aisyah mengangguk.

"Apa kata mereka?"

"Mbak Nindy dan Mas Bara segera  ke Aceh, Pak."

"Alhamdulillah ... Pemakaman Bu Ningsih sebaiknya tidak berselang hari. Mudah-mudahan mereka bisa sampai sebelum Ashar."

Kembali jantung gadis itu bagai tertancap sembilu tertajam. 

'Ya Allah, kuatkanlah hati ini.'

Tepat di depan pintu ruang operasi, perawat tampak mencegah Pak Rahman dan Aisyah yang hendak memasuki ruangan.

"Keluarga mengantar sampai sini saja, ya".

Aisyah berdiri kaku. Ia terpaksa melepaskan Faiz untuk berjuang seorang diri. Dengan air mata yang tak henti mengucur, gadis itu berucap lirih.

"Bertahanlah Mas, aku menunggumu. Kamu sudah janji padaku, untuk menghadiahkan rumah tangga bahagia setelah pernikahan kita. Aku menunggu kamu menunaikan janjimu, Mas. Bertahanlah Mas, bertahanlah demi apa yang sudah kita perjuangkan selama ini."

Perlahan pintu ruang operasi tertutup, menyisakan bayang kabur yang berakhir pada gambar buram pintu kaca.

"Ya Rabb, kasihanilah kami, berilah umur panjang baginya. Beri kemudahan, agar kami bisa menunaikan Sunnah Rasul-Mu."



BERSAMBUNG...

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 24)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 24



Rasulullah SAW bersabda: "Siapa saja wanita yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas wanita tersebut".

***

Aisyah menyibak gorden yang menutupi jendela kamarnya, lalu merasakan embusan angin lembut membelai wajah. Sudah tiga tahun ia berada di kota itu, salah satu kota penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia, 'Lhokseumawe.'

Setelah sidang pengajuan khulunya diterima di Mahkamah Agung Jakarta Barat, ia dan seluruh keluarga memutuskan untuk kembali ke Aceh. Meski berjauhan, hubungannya dengan ibu mertua masih tetap terjaga. Bu Ningsih hampir tiap bulan menyempatkan diri memberi kabar.

Dan info terakhir yang Aisyah dapat, ternyata setelah kata talak sah terucap dari mulut Bara, lelaki itu terkena depresi berat. 

Hampir setahun mami menemani Bara melalui masa-masa sulitnya. Memasuki tahun kedua pasca perceraian, lelaki itu sudah terlihat lebih baik. Walau masih rutin mengikuti terapi EMDS untuk mencegah depresi ulangan.

Di tahun kedua itu pula, mami mengabarkan bahwa Nindy telah hamil setelah sekian lama menanti kehadiran buah hati. 

Dan yang paling membuat Aisyah tak mengerti dengan jalannya takdir Allah adalah kenyataan bahwa 'Alifa sudah menikah dengan lelaki lain di kampungnya.'

Jika mengingat hal itu, Aisyah tak henti mengucap istighfar. Teringat akannya sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam: "Ahbib ma ahbabta fainnaka mufariquhu, wa'isy ma syi-ta fainnaka mayyitun wa'mal ma syi-ta fainnaka mujziun bih...". 

Cintailah apa atau siapa saja, tapi sadarilah bahwa anda akan berpisah dengan semuanya itu, hiduplah sesuka Anda, tapi yakinlah bahwa Anda pasti mati. Dan berbuatlah sesuka Anda, tapi ingatlah bahwa Anda akan dapat balasan atas perbuatan Anda itu." (H.R. Al-Thabrani).

Bagaimana Bara begitu mencintai Alifa, hingga ia membiarkan seorang istri sah tak tersentuh bahkan hingga kata cerai terucap kedua kali.

"Sungguh benar yang pernah dipesankan oleh Umar bin Al-Khaththab r.a. Beliau berkata: “Wahai Aslam, janganlah rasa cintamu berlebihan dan jangan sampai kebencianmu membinasakan”.

 Aslam berkata: “Bagaimana itu?”.

Umar radiallohu anhu berkata : “Jika engkau mencintai seseorang, janganlah berlebihan seperti halnya anak kecil yang menyenangi sesuatu dengan berlebihan. Jika engkau membenci seseorang, jangan sampai kebencian menimbulkan keinginan orang yang kamu benci celaka atau binasanya”.

***

Aisyah memejamkan matanya, menyesapi nikmat udara yang sampai detik ini masih ia syukuri sebagai karunia terindah dari Allah.

"Maafkan kami ya Rabb, yang setiap saat bergelimpangan dosa ...," lirihnya dalam hati.

Sejenak pikirannya terlempar pada sesosok pemuda, berwajah oriental khas oppa Korea... Faiz Alfarisy.

Jika tiap kali memberi kabar melalui telpon, mami kerap membicarakan semua anak-anaknya. Tapi ada apa dengan Faiz, kenapa nama itu tak pernah menyebutnya?. Padahal Aisyah pun menaruh rasa penasaran, apakah pemuda itu juga sudah menikah. Jika sudah, apakah sudah memiliki momongan, berapa jumlahnya?.

Seketika Aisyah menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran akan mengingat seseorang yang haram untuk diingat.

Kenyataannya, Aisyah memang sengaja menjauh, mengganti nomor handphone, dan sangat menekankan kepada keluarganya yang di Banda Aceh untuk tidak memberi tahu keberadaannya pada siapapun. Termasuk jika suatu ketika Faiz bertanya.

Dan keinginan untuk menjauh dari dua lelaki yang pernah hadir di hidupnya itu memang terpenuhi seutuhnya. Hingga malam ini, untuk pertama kalinya nama pemuda yang kerap tersebut pada bentangan kedua tangannya, terdengar kembali di telinga Aisyah.

"Faiz titip salam buatmu, Aisyah...".

Jantung Aisyah tersentak kuat. Ia tak dapat menutupi rasa gugup yang mendera tatkala mendengar nama pemuda itu kembali disebut mami.

"Sekarang Faiz lagi ambil cuti dua hari untuk pulang ke Jakarta. Sekaligus mau menghadiri pernikahan--".

Ucapan wanita itu terpenggal.

"Mas Bara mau menikah lagi, Mi?".

Sejenak hening, wanita di seberang telpon ragu mengatakan hal sebenarnya. 

"Iya, Aisyah. Mami terus mendukung agar dia segera mencari pasangan, agar ada yang memperhatikan, dan tidak terus larut dalam depresi."

"Mas Bara nya gimana, Mi?. Apa juga sudah siap menikah?".

"Tadinya Mami juga takut, bakal keulang kejadian dahulu. Tapi Bara yang meyakinkan Mami. Lagipun sekarang, Bara sudah sangat sering berbaur dalam setiap kajian, pendalaman agamanya sudah lebih baik".

"Alhamdulillah kalau gitu Mi, semoga wanita itu menjadi jodoh dunia akhirat Mas Bara."

"Aamiin, terima kasih, Sayang."

"Boleh Aisyah tahu, siapa nama mempelai wanitanya, Mi?"

"Tentu Sayang, namanya Siska. Maafkan Mami ya Aisyah, sengaja Mami tidak mengundang kamu. Mami takut kamu kecewa ...."

"Astaghfirullah, Mi, tidak mungkin Aisyah kecewa. Justru Aisyah bahagia, karena Mas Bara sudah kembali mau membuka hati."

"Kamu mau bicara sama orangnya?" tanya mami membuat Aisyah sedikit deg-degan.

Sejenak ia menarik napas, ingin tapi entahlah.

[Assalamualaikum Aisyah ....]

Gadis itu memperbaiki posisi duduk, padahal ia belum menjawab iya pada mami, wanita itu sudah duluan memberikan ponselnya. Huh!

[Aisyah ....]

Deg!

'Ini bukan suara Mas Bara.'

[Waalaikum salam, Mas.]

Jantung gadis itu berdentum tak karuan. Bukankah tadi mereka sedang membicarakan Bara, tapi kenapa mami memberi ponselnya pada Faiz?

[Apa kabar Aisyah?]

[Mas Faiz?]

[Iya, ini saya Aisyah.]

'Alhamdulillah.' 

Entah kenapa gadis itu sangat bahagia, akhirnya kembali bisa mendengar suara Faiz.

[Apa kabar, Aisyah?]

[Baik, Mas. Mas Faiz sendiri, apa kabar?]

[Ehm ...]

Faiz berdehem pelan, mencoba mengusir kecanggungan. Nyatanya, mereka memang hanya berbicara di telepon. Tapi entah kenapa, serasa Aisyah ada di depannya. 

Tiga tahun ia mencoba menjaga perasaan, tak sekalipun menghubungi Aisyah. Padahal hati terus meronta. Terlebih saat ia tahu bahwa kakaknya sudah resmi menceraikan gadis itu.

Faiz berjuang menahan diri, tak ingin mengganggu Aisyah yang pastinya sedang dalam kedukaan. Tapi hari ini, saat kakaknya sudah kembali membuka hati, seakan ada yang menggerakkan batin pemuda itu. 

Semalaman ia tak bisa berhenti memikirkan Aisyah. Hingga puncaknya, ia memberanikan diri menyatakan pada mami akan keinginan untuk melamar gadis impian.

Faiz amat tercengang ketika melihat Mami yang tampak tenang menanggapi. Ternyata beliau sudah lebih dahulu tahu dari Roy. Sahabat Faiz itulah yang menceritakan semua duduk masalah. 

Dalam wejangannya Mami berpesan, bahwa tidak ada keharaman menikahi mantan kakak ipar. Tapi yang mami takutkan adalah putusnya kembali tali silaturrahmi karena perselisihan. Mami berharap penuh agar Faiz bisa bertanggung jawab pada perasaan dan keinginannya itu.

Berdebar dada Faiz ketika kini ia kembali mendengar suara Aisyah. Wejangan dan keijinan sang ibu, semakin membulatkan tekadnya.

[Aisyah ....]

[Ya, Mas.]

[Sudah lama Mas ingin mengutarakan hal ini, tapi Mas pendam sebab dirasa belum sampai waktunya. Tapi sekarang Mas rasa waktunya sudah tepat. Ijinkan Mas dengan segenap kerendahan diri menyatakan keinginan untuk melamarmu, menjadi istri Mas, Aisyah ....]

Gadis di ujung telpon terduduk ke atas ranjang. Benarkah yang ia dengar kini?

'Mas Faiz melamarku ya Allah?'

Seketika ia menundukkan diri, bersujud melangitkan syukur dan tahmidnya. 

[Aisyah ....]

[Ya, Mas] jawabnya dengan linangan air mata bahagia yang mulai mengenangi pelupuk.

Rasa harunya tak lagi dapat ia lukiskan. Syukur tak henti mengalir dalam batinnya. 

[Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak Mas kelak?]

Sejenak hening melingkupi keduanya. Aisyah tak tahu harus berkata apa. 

"Datanglah pada Bapak, Mas. Lamarlah Aisyah pada orang tua Aisyah," ucap gadis itu lirih, berusaha menutupi suara isak tangis bahagianya.

[Mas takut, Aisyah ....]

[Takut kenapa?]

[Mas takut Bapak nggak merestui.]

[Aisyah yang akan membantu Mas mendapatkan restu Bapak.]

[Benarkah? Alhamdulillah ... Mas langsung pulang malam ini, ya?]

[Lho, jangan Mas. Besok 'kan acara Mas Bara. Tinggallah sehari lagi. Yakinlah Mas, jika jodoh, kita pasti akan bertemu.]

[Iya. Aisyah. Mas ... Hihihi]

[Kenapa, Mas?]

[Nggak ada apa-apa.]

[Yaudah, Aisyah tutup telponnya ya, Mas. Sampaikan salam untuk Nindy dan Mas Bara.]

[Siap.]

[Assalamualaikum, Mas.]

[Waalaikum salam, Sa ...]

Aisyah menutup telponnya dengan rasa gembira yang tak lagi tertakar. Sedang di seberang, Faiz melengkapi kata yang diucapnya terputus.

"Waalaikum salam, Sayang."

"Ya Allah, Engkau persatukan kami setelah sekian lama mengubur rapat perasaan bernama cinta. Aku yakin, nyatanya kesabaran dan doa menjadi jawaban. Bahwa jodoh akan saling bertemu ketika cinta pada manusia tidak lagi menjadi yang utama. Tapi mencintai-Mu adalah tujuan cinta kami."

"Aisyah, lihatlah, cinta selalu punya caranya sendiri, mempertemukan yang terbuang, atau menyatukan yang hilang. Keharaman telah membuat kita saling mengubur cinta, menahan rindu atau membunuh suka. Tapi keberhasilan kita melenyaplah rasa itu, telah membuat Allah ridha. Mas percaya, cerita kita akan jadi cerita bersama saat kita bertemu. In Syaa Allah."



*Bersambung*

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 23)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 23



Dari mana aja kamu Aisyah?".
Pak Rahman memergoki Aisyah yang baru sampai rumah sekitar pukul sepuluh malam. Wajahnya memerah menahan kekesalan. Seharian ia terus menghubungi ponsel anak sulungnya itu, tapi panggilan tersebut terus saja dijawab oleh call center.

"Maaf Pak, Aisyah pergi menemui teman di Purwokerto".

"Sendirian kamu?".

Aisyah mengangguk.

"Semalam menantuku pulang dalam keadaan mabuk, hari ini anakku yang tak pernah meninggalkan rumah tanpa pamit, baru pulang setelah jam selarut ini. Sebenarnya apa yang terjadi dengan rumah tanggamu, Aisyah?. Tolong jelaskan sama Bapak!....".

Aisyah menunduk, berdebar jantungnya mendengar suara lantang sang ayah. Dengan segenap keberanian, gadis itu mencoba memberi jawaban.

"Kami sudah bercerai, Pak....".

"Apa, bercerai?. Astaghfirullah... kenapa bisa bercerai, Nak?", ucapnya sambil mengusap wajah lemah. Ia tak menyangka, apa yang dipikirkannya semalam benar-benar menjadi kenyataan.

"Kami sudah tidak bisa bersama, Pak".

"Tapi kenapa Aisyah?".

"Aisyah tidak bisa memberitahu alasannya. Aisyah hanya berharap, agar Bapak tidak menentang keputusan kami ini. Bukan sebulan Aisyah memikirkan semuanya, tapi berbulan-bulan, Pak".

Pak Rahman menghela napas panjang. Terlalu sakit menerima kenyataan bahwa pernikahan putri pertamanya hanya bertahan seumur jagung. Dan juga, menantu yang telah ia gantungkan harap agar bisa bersama dengan putrinya sampai tua, kini kembali menjadi orang asing.

"Katakan pada Bapak Aisyah, apakah Bapak telah salah memilihkan suami untukmu ....".

Terhunus jantung gadis itu mendengar pertanyaan sang ayah. Memang nyatanya, Bara adalah lelaki terbaik yang dipilihkan ayahnya. Namun urusan hati, bukankah tiada satupun yang tahu, kecuali Allah.

Begitupula dengan hati seorang Bara, siapa bisa menebak jika ternyata, di balik jiwanya yang tenang ada satu kisah yang mampu membuat semua ketenangan itu berguncang hebat.

Aisyah kembali merasakan berat pada kedua bola matanya. Ada yang terasa menggantung disana, andai tak hiraukan siapa yang di depannya kini, sudah ia biarkan bendungan itu mengembun.

"Nggak ada yang salah, Pak. Aisyah udah ikhlas dengan semua ini. Sekarang Aisyah hanya minta agar Bapak pun bisa menerima dan berlapang dada dengan keputusan kami...".

***

Mentari terlihat menyembul dibalik pepohonan, sinarnya yang tegas seolah menjadi semangat baru bagi Aisyah memulai harinya tanpa kehadiran Bara. 

Jika biasanya, setiap pagi ia terlihat cantik dengan make up tipis, hari ini semua alat kosmetiknya masih tertutup rapat di dalam tas. Andai setiap pagi ia sering kelihatan kebingungan menentukan menu makanan, pagi ini ia hanya membuat nasi goreng telur dadar.

Selalu, bersama Bara ia sarapan pagi dalam keheningan. Tapi di rumah ayahnya, riuh sang adik mengalihkan rindunya akan sang suami.

Setelah semua selesai sarapan, adik keduanya mengambil alih membersihkan meja. Sedang Aisyah memilih kembali ke kamar. 

Ketukan pintu depan membuat gadis itu urung melangkahkan kaki. Ia kembali berjalan ke ruang tamu untuk kemudian mengecek siapa gerangan yang bertamu ke rumahnya pagi-pagi.

Sangat terhenyak ketika Aisyah menemukan siapa yang kini berdiri di ambang pintu. Mami dan Bara. 

Serasa ada yang kembali menghujam dadanya. Melihat Bara didepan mata, Aisyah tak mempu menutupi rasa sakit dan kecewa. Terlebih jika mengingat kejadian malam kemarin. Rasanya ingin ia kembali menutup pintu rumah.

Tapi, saat melihat wanita bersahaja di samping sang lelaki, rasa hormatnya mampu menyingkirkan segala duka.

"Silakan masuk, Mi."

Sengaja Aisyah hanya menyuruh maminya masuk, bermaksud agar Bara tahu bahwa kehadirannya sedang tidak diinginkan.

 

"Silahkan duduk, Mi. Biar Aisyah panggilkan Bapak."

Terlihat Bara pun ikut duduk disamping maminya. Aisyah masih bersikap acuh. Ia meninggalkan tamu untuk kemudian menemui sang ayah.

"Ibu Ningsih, Nak Bara? Oh maaf ini sebenarnya saya sudah siap-siap mau berangkat," ucap ayah Aisyah setenang mungkin.

"Kami cuma sebentar, Pak."

"Iya, tidak apa-apa, Bu. Wong saya juga kerjanya di tempat menantu sendiri, jadi terlambat sedikit bisa dimaklumi," lelaki paruh baya itu mencoba berguyon mengusir ketegangan.

Mami hanya tersenyum kecut. Sedang Bara terlihat menunduk.

"Aisyah, buatkan minuman untuk ibu mertua dan suamimu."

'Suami? Bukankah Mas Bara sudah menceraikanku?' batin Aisyah bergejolak hebat.

Ingin ia membenarkan, tapi takut merusak suasana. Akhirnya ia memilih ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan.

"Maaf Pak, mungkin Bapak sudah tahu apa yang telah terjadi dalam rumah tangga putra putri kita. Sejujurnya, sebagai seorang wanita, saya sangat menyesalkan gegabahnya sikap Bara hingga dengan mudah mengucap kata cerai. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, Pak. Kata cerai itu sudah terlanjur terucap. Kini, saya hanya bisa menuruti keinginan Bara untuk kembali merujuk Aisyah."

Pak Rahman menarik napas panjang.

"Hem ... sebaiknya kita tunggu Aisyah dulu, Bu. Biar masalahnya bisa mereka selesaikan berdua. Dan jika memang masih ada kesempatan untuk kembali, supaya mereka bisa sama-sama memperbaiki diri. Karena menurut saya, kata cerai itu adalah akhir dari sebuah cara yang dilakukan suami untuk mencari jalan keluar. Jika Nak Bara sudah berani mengucap kata itu, maka Nak Bara pun harus tahu konsekuensinya."

Mami menghela napas panjang, menahan rasa malu dan kecewa pada kesalahan putranya. Sedang Bara lebih memilih bergeming.

Lima menit berlalu, Aisyah kembali dengan nampan berisi makanan dan minuman di tangan. Setelah meletakkan makanan dan minuman di depan tamu. Aisyah memilih duduk di kursi sebelah sang ayah.

"Aisyah, ibu mertuamu datang kemari dengan membawa sebuah tujuan. Beliau ingin kamu rujuk dengan suamimu," ucap Pak Rahman mengawali.

Aisyah tersentak, sejenak ia menatap lekat pada bola mata sang ayah. Ingin dirinya supaya lelaki itu bisa membantu mempertahankan apa yang sudah ia katakan semalam. Bahwa ia ingin berpisah dari Bara.

Bukan tak ingin mencoba, tapi takut terluka. 

"Nak Aisyah, Mami nggak tahu masalah apa yang terjadi diantara kalian, tapi Mami harap kalian bisa segara berbaikan dan kembali menjadi sepasang suami istri. Mami sangat terkejut saat Bara mengatakan sudah menceraikan kamu. Mami tidak menyangka, masalah sebesar apa yang menimpa kalian hingga membuat Bara lepas ucap begitu. Tapi di atas semua kejadian ini, Mami minta maaf. Mami sudah habis-habisan mengulang wejangan yang pernah Mami sampaikan dulu sebelum Bara memutuskan melamar kamu. Bahwa pernikahan itu bukan mainan, bukan pula tindakan coba-coba. Allah mengistilahkannya mitsaqan ghalizhan, perjanjian yang teguh. Kata cerai itu tidak selayaknya diucapkan jika memang tujuannya untuk evaluasi diri dan menyambung pernikahan. Mami harap ini menjadi suatu pembelajaran buat kalian, terutama buat Bara. Ingat, suami istri itu jika diibaratkan seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Dengan karakter masing-masing yang khas, kalian seharusnya bisa saling memahami dan terus belajar, demi terciptanya hubungan yang harmonis. Bukan saling melepas amarah lalu berujung pada perpisahan."

Aisyah tergugu, buliran bening kembali memenuhi pelupuk mata.
'Dua sisi mata uang, benarkah begitu?'

Disisi lain, Bara tertunduk tak berdaya, mendengar nasihat yang entah keberapa kalinya diucapkan sang ibu. Sesekali ia mengangkat wajah, menatap Aisyah yang juga tertunduk.

"Bara sangat menyesali kecerobohannya, Aisyah. Dia sudah berjanji untuk tidak mengedepankan emosi dalam menyelesaikan masalah. Dan sekarang semua Mami serahkan sama Aisyah, gimana baiknya. Tapi besar harapan Mami, agar Aisyah bisa memaafkan Bara, dan kembali sebagai menantu pertama yang sangat Mami sayangi."

Buliran yang sedaritadi sekuat tenaga ditahan, kini luruh sudah. Tak kuasa ia pendam tatkala mendengar ibu mertuanya mengucap kata 'menantu pertama yang sangat disayangi.'

Sejenak hening. Tak ada suara yang terdengar selain detak jarum jam di dinding.

"Bagaimana dengan Bara sendiri, adakah yang mau disampaikan pada Aisyah?".Pak Rahman berusaha memecah keheningan.

Semua pandangan sekarang teralih pada Bara, termasuk Aisyah.

"Aisyah, Mas mau minta maaf sama kamu. Mas banyak salah sama kamu. Mungkin jika ditulis tidak akan cukup seratus halaman untuk menjabarkan semuanya."

Aisyah menatap lekat bola mata yang nampak kelelahan di hadapannya.

'Sungguhkah permintaan maafnya ini?' batin Aisyah kembali meracau. Jika kesalahan itu adalah perkara ringan, seperti tidak sepaham dalam satu masalah, mungkin Aisyah masih bisa bernego dengan hatinya. Tapi yang 
menjadi masalah antara mereka adalah masa lalu. Masa lalu yang masih hidup dalam hati suaminya. 

Kembali, gadis itu menarik napas panjang.

"Aisyah sudah memaafkan Mas Bara, sekalipun jika Mas tidak memintanya," jawab gadis itu dengan suara bergetar menahan isak.

Bu Ningsih dan Pak Rahman ikut terharu. Seumur hidup mereka tidak pernah berada pada situasi begini, namun putra putri merekalah yang membuatnya kini terasa nyata.

"Mas ingin merujukmu kembali Aisyah. Maukah kamu menerima niat Mas ini?".

Aisyah terhenyak, sejenak ia menarik napas panjang. Semalam ia larut dalam sujud khusuk, memantapkan hati untuk melupakan dan benar-benar memilih mengakhiri pernikahan ini. Tapi kenapa kenyataan yang ia temukan justru membuatnya ragu. 

Sungguh, ia tak ingin kembali tersakiti oleh Bara. Tapi, juga tak tega memusnahkan harapan ibu mertua? 
Aisyah benar-benar tak ingin menyakiti hati ibu mertuanya. 

Apakah berkorban kembali dan memberi kesempatan akan membuat Bara berubah? Pikirannya saling beradu.

'Ya Allah, bantulah hamba ....'.

"Bismillahirrahmanirrahim ... Semoga Allah melimpahkan kebaikan bagi kita semua, Mas," Aisyah kembali menarik napas sambil memejamkan mata sejenak.

"Baiklah Mas, jika memang Mas sangat ingin kembali pada Aisyah. Aisyah bersedia menerima kembali Mas Bara, tapi ada satu syarat yang harus Mas penuhi."

Semua mendelik seraya menatap Aisyah.

"Apa syaratnya Aisyah?"

"Jika kejadian serupa terulang kembali, maka ijinkan Aisyah mengajukan khulu."

Bara terhenyak dan segera memutar otak, sedang di sisinya mami nampak mengelus dada. Hanya berselang lima menit, Bara langsung mengemukakan pendapatnya.

"Baiklah Aisyah, Mas akan mengabulkan permintaanmu. Terima kasih karena kamu sudah mau memaafkan dan menerima Mas kembali."

"Alhamdulillah ...."

Serempak mami dan Pak Rahman mengucap tahmid tanda syukur. Raut bahagia tak dapat ditutupi dari keduanya. Pun demikian dengan Bara, lelaki itu terlihat amat lega. Hanya Aisyah yang nampak bimbang. 

Benarkah yang ia pilih ini akan mengantarnya pada kebahagiaan?

Aisyah hanya bisa bertanya dalam hati, sembari berharap agar Allah tidak lagi membiarkan lelaki bergelar suami itu, terus membuatnya menangis sepanjang sujud.

***

Hari itu juga Bara dan Aisyah kembali ke rumah mereka. Aisyah tak menolak, kata rujuk yang diiyakannya otomatis menjadi syarat dimana Bara bisa kembali menentukan apapun dalam hidupnya.

Dua hari kembali serumah dengan Bara, Aisyah akui, lelaki itu terlihat lebih banyak berbicara, tersenyum beberapa kali dalam sehari, dan lebih peduli. 

Namun, pada beberapa keadaan, Bara terlihat menahan marah hingga memilih pergi meninggalkan Aisyah. Salah satunya ketika Aisyah terlihat berias di malam hari. Pasti Bara memintanya untuk menghapus lalu menjauh dengan muka masam.

Aisyah mencoba kembali menguatkan hati dan bertahan, ia sangat tidak ingin kembali berpisah. Teringat olehnya, bagaimana ketika mereka rujuk dahulu, hingga kedua pihak orang tua terpaksa terlibat untuk menyatukan mereka.

Hingga suatu malam, malam ketiga puluh setelah mereka rujuk. Bara demam tinggi. Dia mengigau tak jelas.

Aisyah dengan penuh kesabaran menemani sepanjang malam. Mengompres, hingga bersedia menjadi selimut saat Bara memintanya dirangkul karena terus menggigil.

Hingga kata itu terucap, antara sadar dan tidak. Bara kembali mengigau dengan menyebut nama seorang wanita, tapi bukan dirinya.

"Alifa ...," sebutnya sambil mengeratkan tangan Aisyah yang melingkar di pinggang.

Tubuh Aisyah bergetar hebat, jantungnya hampir berhenti berdetak. Sakit, perih ia rasa sampai ke dasar hati. Ternyata Bara tak sepenuhnya melupakan Alifa.

"Saya Aisyah, Mas. Bukan Alifa," bisik Aisyah di telinga Bara. Air matanya perlahan kembali membasahi pipi.

Mendengar bisikan itu, Bara melepas tangan Aisyah yang tadi digenggamnya erat.

Aisyah tersentak.

'Ternyata kamu tak menginginkanku, Mas?'

Gadis itu beringsut perlahan.

'Saya sudah memberi Mas kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi Mas kembali mengulang kesalahan dahulu. Kini, tidak ada lagi alasan untuk saya bertahan, Mas. Saya akan mengajukan khulu padamu.'


*Bersambung*

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 22)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
AyuWahyuni
#Part 22

Kedua kaki Aisyah kini sudah menapak di depan kediaman Alifa. Jantungnya tak lagi tenang, sudah riuh sejak lima belas menit yang lalu.

Gadis itu sejenak kembali merenung dengan apa yang sudah ia perbuat kini, sudah benarkah yang ia lakukan? Dirinya tak ingin apa yang diyakini berbuah baik justru menjadi duri dalam daging.

Kembali Aisyah menarik napas panjang. Dilangkahkan kedua kaki dengan pasti memasuki pagar. Namun, netra gadis itu membelalak tatkala melihat sosok yang ia tunggu keluar dari rumah.

Sejenak kedua pasang netra kini saling berpandangan. 

Melihat Aisyah di depan rumahnya, Alifa tampak begitu terkejut, tapi tak urung menyunggingkan seulas senyuman.

"Aisyah?" sapanya lembut setelah jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah.

Aisyah mengatur napas.

"Bisa bicara sebentar, Mbak?"

***

Di bawah rindangnya pohon kenari, kedua gadis itu tampak sedikit canggung. Mereka saling memandang pada satu titik dengan perasaan campur aduk. Aisyah mengawali pembicaraan.

"Apa kabar, Mbak?"

"Baik, kamu gimana?"

"Alhamdulillah, saya baik, Mbak."

"Kira-kira apa gerangan yang menuntun kamu hingga sampai ke kampung ini?"

Alifa masih bertanya dengan nada santai, membuat Aisyah sedikit menoleh.

"Hanya ingin silaturrahmi sambil membawa sebuah tujuan, Mbak."

Seketika pandangan Alifa tertoleh mendengar jawaban yang keluar dari mulut Aisyah.

"Tujuan apa??"

Gadis yang nampak cantik dengan gamis tosca di hadapan Alifa, menyunggingkan senyuman.

"Saya ingin mengembalikan sesuatu yang sudah lama saya rebut dari pemiliknya."

Alifa mendelik, menatap Aisyah dengan penuh tanya.

"Mbak, Aisyah mohon, menikahlah dengan Mas Bara."

Sesuatu mengguncang tubuh Alifa.

"Apa maksud kamu Aisyah?"

Mereka kembali bersitatap.

"Saya melamar Mbak untuk menjadi istri dari Mas Bara."

Alifa mencoba tersenyum, meski dada teramat terasa sesak. Sedang di sisinya, Aisyah terlihat menundukkan wajah, tengah mengusap mata. Nyatanya, ia sedang belajar untuk tegar, walau sebenarnya rapuh. Air mata terus meluncur bebas dari pelupuk mata, beberapa kali Aisyah menyeka buliran itu. 

Melihat gadis yang yang duduk di sampingnya sesengukan, Alifa menggenggam jemari yang terkulai di atas kedua paha.

"Jika kamu mencintainya, maka jangan pernah kamu lepaskan."

Sesaat waktu terasa hening. Mereka larut dalam kedukaan.

"Menikah bukankah untuk mencari kebahagiaan, Mbak? Mencari penyempurna hidup. Tapi, cinta Aisyah tidak menjadikan hidup Mas Bara sempurna Mbak. Mas Bara tidak bahagia bersama Aisyah."

Alifa tampak terhenyak. Diwaktu bersamaan, Aisyah mengeluarkan cincin bermata berlian yang yang masih bertahta di jari manisnya. Lalu ia meraih jemari tangan Alifa, dan meletakkan cincin itu diatas telapak tangan yang kini terasa amat dingin.

"Cincin ini seharusnya menjadi milik Mbak Alifa. Tapi malah singgah di jemari saya selama setahun," ucapnya dengan sangat hati-hati.

"Mbak nggak bisa Aisyah ...."

Alifa berusaha mengembalikan cincin itu pada Aisyah.

"Jangan lagi membohongi diri, Mbak. Mas Bara masih sangat mencintai Mbak Alifa. Dan Aisyah tahu, Mbak pun masih sangat mencintainya. Aisyah mohon Mbak, jangan lagi berdusta. Atau kita semua akan saling menyiksa satu sama lain karena kebohongan itu."

Kedua bola mata Alifa tampak berkaca.

"Untuk apa kamu bertahan jika pada akhirnya hanya akan kamu lepaskan Aisyah?

Bertahanlah sejenak lagi, Mbak pastikan hati Mas Bara akan seutuhnya menjadi milikmu."

Aisyah menggeleng.

"Nggak Mbak, sudah cukup Aisyah menyiksa Mas Bara karena keegoisan hati ini. Tolong Mbak, terima Mas Bara jika suatu ketika ia datang menyatakan perasaannya."

Aisyah kini bangkit dari duduknya.

"Tunggu Aisyah, Mbak nggak bisa menyakiti perasaanmu. Perasaan Mami, Mas Faiz dan Nindy," ucap Alifa setengah terisak.

"Aisyah sudah ikhlas Mbak. Aisyah yakin, Mami dan yang lain pasti tidak akan menyalahkan kita. Bukankah saya dan Mas Bara sudah bertahan? Namun hingga detik ini, perasaan kami memang nggak bisa bersatu. Kami memang dipersatukan dalam satu rumah, tapi ada tabir yang membentengi kami untuk sekadar saling menyapa, Mbak. Aisyah lelah, Mbak. Aisyah ingin mencari kebahagiaan sendiri."

"Bersabarlah sedikit lagi, Aisyah.. Mbak yakin Mas Bara hanya butuh lebih banyak waktu untuk bisa mencintaimu."

"Tidak Mbak, setahun bukan waktu yang sebentar untuk seseorang belajar mencintai--"

Aisyah menahan ucapannya. Haruskah ia berterus terang bahwa selama pernikahan, bahkan Bara tidak pernah sekalipun mengecup bibirnya, apalagi untuk hubungan yang lebih intim dari itu.

"Hanya itu saja Mbak yang mau saya sampaikan. Setelah ini saya akan pergi, jauh. Dan jika suatu saat saya kembali, saya harap Mbak dan Mas Bara sudah dikaruniai banyak momongan."

Air mata Alifa tak lagi terbendung. Ucapan Aisyah benar-benar mengoyak bathinnya. 

Dua langkah Aisyah menuruni pondok tempat mereka duduk lesehan, langkahnya kembali terhenti. 

"Aisyah, maafkan Mbak ... maaf, karena kehadiran Mbak, rumah tanggaku berantakan ...."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mbak. Mbak nggak bersalah, kita hanya diharuskan menjalani takdir Allah. Dan dari semua ini, Aisyah belajar banyak hal, terutama tentang sabar dan ikhlas. Aisyah yakin, dibalik seetiap cobaan, pasti ada hikmah yang dapat kita ambil."

Gadis itu tak lagi menunggu. Langkah kembali tergerak. Air mata Alifa mengiringi kepergiannya. 

Jika kali ini Alifa dirundung rasa bersalah, maka hal sebaliknya terjadi pada Aisyah. Gadis itu kini benar-benar merasa lega, serasa ada berton-ton batu besar yang dipindahkan dari pundaknya. Sedemikian bebas jiwanya setelah mengungkapkan apa yang dia rasakan pada Bara selama ini.

Tak ada lagi air mata, hanya senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya. 

'Ya Allah, janganlah Engkau memurkai apa yang telah hamba putuskan. Hamba anggap ini adalah jawaban atas dosa hamba dihampir sepertiga malam selama perkawinan ini. Jagalah ia, bahagiakan ia dimana pun dirinya berada. Himpun ia dalam rumah tangga islami bersama wanita yang amat dicintainya. Dan beri hal sama bagi diri ini. Pertemukan hamba dengan lelaki shalih yang dapat mencintai hamba dengan sepenuh hati.'

***

Sudah lima belas menit semenjak kepergian Aisyah, Alifa masih memilih berdiam di tempat semula. Perasaannya bergemuruh hebat. Masih tak percaya dirinya pada apa yang baru saja diminta Aisyah padanya. 

"Menikah? Dengan Mas Bara?" 

Alifa menghela napas, dikumpulkan cukup kekuatan untuk melangkah masuk. Namun, sebelum kaki berhasil menuruni tempat duduknya, kedatangan sebuah mobil yang pemiliknya tak lain adalah yang menjadi buah bibir beberapa waktu tadi, membuat Alifa kehilangan kekuatan untuk bergerak.

Bara terlihat menuruni mobil, penampilannya berantakan, rambut kusut tak tersisir. Berbeda dengan biasanya, Bara terlihat kacau pagi ini.

'Beginikah kamu tanpa dirinya, Mas? Kau sudah lama mencintainya, tapi karena aku matamu tertutup.'

"Alifa, apa Aisyah tadi kemari?"

Bara bertanya dengan gegabah.

Dada Alifa terasa sesak, jelas terlihat dari sorot mata Bara, jika dia sangat mengkhawatirkan Aisyah.

"Iya Mas, Aisyah memang kemari tadi. Tapi lima belas menit yang lalu, dia sudah pergi."

"Berarti masih di terminal? Saya akan segera menyusulnya."

"Tunggu, Mas."

Bara menoleh sejenak.

"Saya akan kembali nanti, setelah masalah saya dengan Aisyah selesai."

Alifa hanya bisa menghela napas, membiarkan lelaki itu pergi dari pandangannya.

"Lihat Aisyah, jika saja kamu mau bertahan. Mas Bara akan menjadi milikmu seutuhnya."

Tak dapat disangkali, bahwa apa yang tersirat dari raut wajah Bara telah membuat Alifa cemburu. Tapi, bukankah ini yang dia inginkan?

'Kenapa aku harus cemburu? Ya Tuhan ....'

*** 

Bara terlihat seperti orang kebingungan, setiap loket pemberangkatan bus ia singgahi. Lelaki itu tampak begitu kecewa, karena yang ia cari tak jua ketemu. Aisyah tak ada di terminal itu.

"Kemana kamu Aisyah?" lirihnya pasrah. Ia kembali ke mobil, tak henti merutuki betapa bodohnya menjadi lelaki. Jelas ia secara sadar melamar Aisyah pada orang tuanya, tapi dengan semena-mena ia menghadirkan masa lalu dalam rumah tangga mereka.

Setahun, sebagai suami, ia telah menelantarkan Aisyah sebagai seorang istri yang sah. Ia justru hidup dengan membangun mahligai harapan bersama gadis masa lalunya. 

Kemana kewarasannya selama ini?

'Astaghfirullah! Aku sudah sangat berdosa padanya ... Akankah ia memaafkanku?'

Sedang di balik sebuah bangunan tua, seorang gadis tampak mengusap matanya. Tidak ada yang memerintah, buliran itu kembali tumpah ruah tatkala melihat kedatangan Bara di terminal itu.

"Maafkan aisyah, Mas. Aisyah nggak bisa membiarkan hati ini kembali mencintai, Mas. Kembalilah pada Mbak Alifa. Semoga kamu bahagia bersamanya, Mas."

***

Detik setelah kepergian Bara, terasa amat menyiksa bagi Alifa. Ia masih betah berlama-lama duduk di pondok di halaman rumahnya.

Matanya terus menatap ke jalanan. Berharap sosok itu kembali hadir sesuai janjinya tadi sebelum meninggalkan tempat itu.

Tak lama, harapannya menjadi kenyataan. Bara kembali, seorang diri.

"Bagaimana Mas, ketemu?" tanya Alifa setelah Bara berdiri dekat dengannya.

Lelaki itu menggeleng lemah. Tak sengaja matanya menatap sesuatu yang ada digenggaman Alifa.

"Kenapa cincin Aisyah ada di tangan kamu?"

Alifa terhenyak.

"Aisyah yang memberikannya, Mas. Dia meminta saya untuk--" 

Alifa memberi jeda pada ucapannya. Ragu, tapi ia kembali merangkai kalimat itu.

"Aisyah meminta saya menikah dengan Mas Bara ...."

Seketika itu tubuh sang lelaki bergetar. Pikirannya masih kacau. Dia masih meraba, apa yang diingin hatinya. Jika Alifa tujuannya, maka dia sudah mendapatkan semua itu. Tapi kenapa, sisi lain hatinya berkata bukan. Ada hal lain yang masih membuatnya resah.
 
"Lalu kamu jawab apa?"

"Saya bilang nggak bisa, Mas. Saya minta dia untuk bertahan beberapa waktu lagi. Tapi dia menolak."

Bara menghela napas.

"Kesalahan saya sudah sangat fatal. Saya telah melukainya terlalu dalam. Jika saja saya mendengar kata-katamu kemarin, mungkin saya tidak akan kehilangannya seperti hari ini."

Bara terduduk lemah.

"Saya yakin masih ada waktu, Mas. Berusahalah untuk menemuinya, lalu tunjukkan bahwa Mas benar-benar telah berubah. 

Bara kembali menatap Alifa. Andai ia bisa mengganti memori kepalanya. Ingin dia melakukan hal itu. Dua gadis dengan pesona yang berbeda, tak bisa ia pilih, apalagi untuk melepaskan.

Ia masih mencintai Alifa, tapi Aisyah? Ia tak mungkin menelantarkan gadis itu setelah semua yang ia lakukan selama ini untuknya. 

Pengabdian Aisyah? Tak ada satu manusia pun yang bisa seperti dirinya.

Lalu, apakah meninggalkan Alifa akan membuat hidupnya bahagia?

'Ya Allah ....'

"Pergilah, Mas. Bawa ia kembali ke dalam rengkuhan Mas. Lupakan saya, sampai kapan pun, saya tidak akan menikah dengan Mas Bara," ucap Alifa sambil menyerahkan cincin Aisyah.

Detik berikutnya, Alifa beranjak.

"Alifa ...."

Gadis itu berhenti sejenak, lalu ia kembali melangkah.

"Hidup dengan mengenang masa lalu, hanya akan menghancurkan kebahagiaan di masa depan. Ingat itu, Mas. Semoga Allah mempersatukan kita dengan jodoh terbaik kita, Mas."


Bersambung

Lamun Urang Geus Kolot

LAMUN URANG GEUS KOLOT.
Sisihkeun waktu pikeun babarengan jeung salaki/papamjikan anjeun sabab salah sahiji bakal mulang leuwih ti heula sarta nu masih hirup bakal mampuh neundeun panineungan anu éndah.

LAMUN URANG GEUS KOLOT.
Bakal datang mangsana rék leumpang kana panto ogé ripuh, meungpeung masih kénéh mampuh prak jalan-jalan ka sawatara tempat keur nyawang lingkungan kaagungan Allah swt. Keur muji kaéndahan ciptaanaNa. 

LAMUN URANG GEUS KOLOT.
Ulah ngariripuh manéh mikiran barudak kalawan kaleuleuwihi.  Maranéhanana mampuh usaha sorangan. Tangtukeun mah anjeun geus teu boga hutang saméméh maot supaya maranehna henteu nanggung beungbeurat nu ditinggalkeun anjeun. 

LAMUN URANG GEUS KOLOT.
Nyisihkeun waktu babarengan jeung babaturan heubeul sabab lolongkrang pikeun babarengan beuki ngurangan ti mangsa ka mangsa.

LAMUN URANG GEUS KOLOT.
Tarimakeun panyakit nu nimpa. Sabab kabéh ogé sarua, boh beunghar atawa miskin bakal ngaliwatan kaayaan nu sarua nyaéta: lahir, orok, budak, déwasa, kolot, gering & maot. 

Peupeujeuh:
"Téangan babaturan nu siga kaca, urang gumbira manéhnaa gumbira, urang sedih manéhna milu sedih."
Wilujeng ngalakonan mangsa kolot kalawan kabagjaan .. pamugi manfa'at

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...