Cerita ini bergulir ketika suatu hari sebut saja Iyek namanya, sedang
mencari pekerjaan karena telah lulus sekolah. Ketika obrol sana dan obrol sini
sambil berceloteh asyik dengan kawan lainnya, tiba – tiba saja ada seorang
dengan perawakan tegap berusia sekitar 40 tahunan ikut nimbrung disana. Dan
perbincanganpun dilanjutkan dengan diselipkan berbagai macam lelucon dan
lawakan ringan. Lelaki 40 tahunan itu juga ikutan bersama, karena dia juga
adalah warga dari sana juga, hanya dia adalah seorang pegawai swasta kantoran
yang terbilang sukses. Bagaimana tidak terlihat sukses, dia sudah memiliki lima
mobil dan rumah mewah yang mentereng di kampung itu. Namun dia memiliki
karakter yang masuk kemana saja tidak pilih-pilih kawan. Walhasil berlanjutlah
obrolan tersebut, sampai-sampai terlontar dari mulut si Iyek sambil bercanda,
berkata kepada lelaki 40 tahun itu, kalau dirinya dan kawan yang lainnya sedang
membutuhkan pekerjaan. Dan lelaki 40 tahun itu pun mengamininya dengan seraya
berkata kepada Iyek dan kawannya bahwa dia bisa membantu memasukan karyawan,
karena dirinya sudah begitu dekat dengan pimpinan tempat ia bekerja, bahkan dia
adalah salah satu orang kepercayaan pemimpin perusahaan tersebut.
Ceritapun berlanjut dengan singkat
cerita, Iyek dan kawannya memiliki keyakinan kalau mereka pasti akan bisa masuk
bekerja dengan mudah karena mereka masuk melewati jalur orang dalam, bahkan
orang dalamnyapun memiliki jabatan yang lumayan sentral diperusahannya.
Dihari selanjutnya, Iyek beserta
lima kawan lainnya bersegera mendatangi perusahaan tempat bekerja lelaki 40
tahun tersebut. Karena sebelumnya si lelaki 40 tahun tersebut telah memberikan
harapan pasti bahwa Iyek dan kawannya bisa langsung masuk bekerja tanpa uang
pelican dan apapun itu. Singkat cerita mereka berenam telah berada di dalam
kantor perusahaan, dengan rasa sedikit malu-malu dan penuh harap mereka
langsung menuju ruangan yan telah diarahkan oleh lelaki 40 tahun itu dan
disuruh untuk mememui seorang laki-laki bernama Pak Antoni. Setelah mereka
berincang-bincang sangat lama, ternyata dijelaskan bahwa perusahaan itu memang
perusahaan yang sedang berkembang bahkan sedikit akan maju. Tetapi karena perusahaan
ada sedikit permasalahan dengan keuangan dikarenakan ada suatu masalah dengan
perizinan perusahaan, maka perusahan itu akan ditutup untuk waktu yang tidak
ditentukan.
Walhasil Iyek dan kawannya pun
kembali pulang dengan sedikit rasa kecewa dan rasa sedih karena pekerjaan yang
dihadapan mata sirna begitu saja. Ketika ditemui kembali oleh lelaki 40 tahun
itu, dia meminta maaf karena tidak bisa menepati janjinya untuk memberikan
pekerjaan. Namun Iyek dan kawannya tidak merasa marah, malah berterimakasih
kepadanya karena telah memberikan kesempatan, walaupun kesempatan itu hilang
dengan keadaan yang tak bisa di selesaikan dengan waktu yang singkat.
Hari-hari selanjutnya si Iyek
berbincang kembali dengan orang tuanya. Dan perbincangan itupun mengarah kepada
soal pekerjaan. Sampai terdengar ceritaan mereka jika disimpulkan adalah bahwa
si Iyek disuruh bekerja dengan cara berwirausaha atau usaha sendiri. Bengkel
atau tambal ban adalah ujung ceritanya, kebetulan Iyek adalah seorang siswa
lulusan kejuruan di bidang otomotif atau perbengkelan kendaraan ringan. Namun
yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah permasalahan modal yang tak
dimiliki oleh orang tua atau kerabat sekitar yang dekat dengan rumahnya.
Sampai suatu ketika Ayah si Iyek
memberikan kabar bahwa temannya yang sukses namun tinggal diluar provinsi, dia
adalah seorang pengusaha batu yang cukup sukses mau meminjamkan modal asal
jangan lebih dari 30 juta katanya. Dayung pun bersambut karena modal yang
dibutuhkan tidak sebesar itu, setelah diperhitungkan mungkin hanya sekitar
20-25 juta saja.
Dengan perasaan yang riang dan
gembira, Iyek pun mau memberanikan diri untuk datang menuju luar provinsi.
Karena dengan asas kesopanan dan ingin lansung melihat orang yang baik hati
yang mau meminjamkan uang sebesar itu. Padahal bisa dengan cara di transfer
mealaui bank. Namun Iyek lebih merasa sopa jika ia sendiri datang langsung
menemuinya, untuk menghaturkan terimakasih juga. Dengan membawa oleh-oleh khas
daerahnya dan membawa sedikit uang untuk ongkos dan perbekalan di jalan.
Singkat cerita, Iyek telah sampai di
kota luar provinsi tersebut, dengan melihat alamat yang hemdak dituju,
sampailah dia dirumah teman ayahnya. Dengan penuh harapan dan cita-cita dia
langsung saja menyambangi rumah yang tertera di alamat tersebut. Namun keanehan
dan keterkejutanpun langsung menerjang Iyek, karena ketika hendak masuk menuju
rumah yang tertera di alamat itu, ada sekitar 7 orang berdasi dan berpakaian
rapi seperti sedang berkomunikasi dan berbincang dengan teman ayahnya. Ketika
semakin dekat dia menuju rumah dan mengucapkan izin masuk, teman ayahnya pun
langsung menyambangi Iyek. Seraya berkata bahwa dirinya mau minta maaf kalau
uang yang dijanjikan tidak bisa di pinjamkan karena ada pihak bank yang akan
menyita rumahnya dan mengharuskan dirinya membayar sejumlah uang kepada pihak
bank. Itu terjadi karena istri dan ketiga anaknya telah menggunakan kartu
kredit dengan melebihi tunggakan dan bayaran yang berbulan-bulan tidak
dibayarkan. Hasilnya uang yang adapun harus dibayarkan dan tidak mencukupi,
sampai-sampai rumhnya pun menjadi jaminan dan harus di sita. Bukan hanya itu
saja, ternyata usaha penambangan batunyapun bermasalah masalah penambangan yang
terlalu mengeksploitasi anak, karena ada separuh anak dibawah usia 17 yang ikut
bekerja. Dan penambangan batunya sedang diberhentikan sementara. Teman ayahnya
itu pun meminta maaf, karena telah menjanjikan pinjaman uang, karena sebelumnya
seperti tidak menyangka akan ada masalah sebesar itu dan sangat tiba-tiba.
Singkat
cerita Iyek pun pulang dengan tangan hampa dan penuh rasa kecewa dan juga ada
rasa iba terhadap teman ayahnya tersebut. Uang pun habis untuk ongkos dan
perbekalan di jalan, modal usaha pun tak didapatkan.
Jika melihat kisah fiktif diatas,
bisa diambil atau bisa ditarik benang merahnya bahwa sesungguhnya manusia
hanyalah makhluk Allah yang berakal dan lemah. Hanya Allah swt lah yang maha
perkasa dan maha kuasa. Bagaimana tidak, ketika manusia merasa bisa diantu dan
berharap bisa terbantu, keadaan yang tiba-tiba bisa saja berubah dengan
cepatnya. Kesimpulan terbesarnya adalah kita sebagai makhluk, janganlah berharap
kepada makhluk lain. Lebih baik berharap itu adalah langsung kepada Allah swt
yang menciptakan makhluk-Nya. Jangan berharap kepada orang kaya, tapi
berharaplah kepada yang menciptkan orang kaya. Jangan berharap kepada orang
berpangkat, tapi berharaplah kepada yang menciptakan pangkat yakni Allah swt
yang Maha perkasa dan Maha Kuasa. Tidaklah akan merasa kecewa ketika kita
berharap kepada sang pemilik alam semesta ini. Karena apapun bisa terjadi
dengan kuasanya dengan Kun Fayakun…… (AH)