Selasa, 12 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 20)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Ayu Wahyuni
Part 20

Bara memukul setir, emosinya membara tatkala melihat Alifa baru saja turun dari sebuah motor yang dikendarai oleh seorang lelaki. Matanya bak elang membidik mangsa, jika tak pikirkan posisinya saat ini, sudah ia layangkan sebuah bogem ke wajah lelaki kurus itu.

Bara masih menanti. Selepas kepergian lelaki yang mengantar Alifa, ia segera turun dan menghampiri gadis itu.

Dengan cepat ia menyambar tangan Alifa yang hendak memasuki pagar.

Alifa terhenyak. "Mas Bara?"

Bara memandang tanpa berbicara. Tatapannya tajam menusuk lawan.

"Lepas Mas, sakit!"

Alifa berusaha melepaskan tangannya, namun sia-sia. Genggaman tangan Bara pada tangannya terlampau kuat.

"Siapa dia?"

"Siapa?"

"Yang tadi ngantar kamu?"

"Apa urusannya sama Mas?"

"Kamu sekarang milikku, aku sudah bercerai dari Aisyah!"

"Apa?"

Kedua bola mata Alifa membulat. "Bercerai? Kenapa, Mas?"

"Mas mencintai kamu Alifa. Setahun Mas memendamnya, Mas mencoba mencintai Aisyah dengan sepenuh hati. Tapi tetap nggak bisa! Mas ingin kembali padamu!"

Alifa menghela napas. Matanya terasa menghangat, sungguh lelaki itu masihlah yang amat ia cintai. Tapi demi apapun, ia takkan bisa menerima kembali Bara dalam hidupnya. Terlebih jika apa yang tadi diucapkannya benar. Menceraikan Aisyah.

"Berhentilah mengejar Alifa, Mas."

"Nggak akan pernah Alifa? Tolong, menikahlah denganku, Alifa."

Sesaat hening. Kedua pasang bola mata itu saling bertatapan dalam luka.

"Alifa nggak bisa, Mas. Kembalilah pada Aisyah, dia adalah istri yang terbaik untuk Mas Bara. Biarkan Alifa memilih jalan bersama orang lain, Mas ...."

"Takkan pernah Mas biarkan!"

"Kenapa Mas keras kepala! Jika Mas begini, aku akan membenci Mas Bara seumur hidupku!...", bentak Alifa sambil menghempas lengan Bara dengan tangan kirinya.

Bara terhenyak. Dadanya terasa sesak, jantungnya seakan hendak berhenti berdetak.

Sedang disisi lain, Alifa terlihat membalikkan tubuh setelah terlepas dari genggaman Bara. Ia mengerjap beberapa kali, agar air mata yang mengenangi pelupuk mata, tak berjatuhan di hadapan lelaki itu.

"Saya akan menikah, Mas."

Deg!

Bara mengangkat wajahnya.

"Yang tadi Mas lihat, dia adalah calon suami saya". Alifa membalikkan kembali badan menghadap Bara: "Jadi berhentilah mengejar Alifa, Mas. Rujuk dan bahagiakanlah istri Mas sendiri."

Tanpa memperpanjang perkataan, Alifa seketika berhamburan ke dalam rumahnya. Sedang masih di tempat itu, Bara seperti baru saja kehujanan batu es dari langit. Hatinya hancur berantakan, cintanya kandas sudah.

Ia mencoba meraba, bertahan dengan rasa sakit yang terus menghujam dada. Sesaat lelaki itu kesulitan menarik napas. Pikirannya benar-benar kacau. Detik itu juga ia kembali ke Jakarta. Ia butuh menenangkan perasaannya yang tak karuan.

Sedang dalam rumah Alifa.

"Mana Rifki, Alifa?"x sapa sang nenek begitu Alifa muncul di pintu kamar.
"Sudah kembali ke pangkalan ojek, Nek".

"Kamu bilang nggak sama dia, kalau besok pagi suruh antar nenek ke rumah Kang Sapta?"

Alifa mengangguk.

"Nenek ucuma takut dia lupa, Nduk. Soalnya dia 'kan ojek terlaris",

Alifa menghela napas. Ia terpaksa membohongi Bara, agar lelaki itu berhenti berharap bisa hidup bersama. Alifa memang masih mencintai Bara, dan tak sedikitpun berniat mencari pengganti lelaki itu. Tapi ia tak ingin menyakiti hati Aisyah, hati mami, hati Faiz juga Nindy. Ia ingin mereka semua bahagia, terutama Bara. Alifa ingin Bara menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mengerti akan kedudukannya sebagai suami dalam sebuah rumah tangga.

Bukankah tak perlu cinta untuk menikah? Bahkan jika menikah melulu mengedepankan cinta, bagaimana jika nanti pasangan tersebut sudah tidak seperti yang kita temui diawal pernikahan, bagaimana jika setelah sekian lama menikah pasangan menjadi lebih gemuk, kelihatan tua, tak secantik dulu, lantas sang suami bisa mencari pengganti lain karena sudah tak cinta lagi?

Lebih dari itu, pernikahan adalah tentang tanggung jawab terhadap Allah. Bukankah berjodoh tidak harus dengan seseorang yang kita cintai. Tapi mencintai jodoh kita adalah sebuah keharusan dalam sebuah rumah tangga. 

Alifa yakin, jika ia keras. Pelan Bara akan belajar melupakannya secara utuh. Dan akan belajar mencintai Aisyah dengan ikhlas, tidak hanya pada ucapan. Tapi dengan sepenuh hati.

***

Gemerlap lampu diskotik membuat mata elang lelaki berkemeja putih itu silau. Ia menutup telinga saat pertama kali menjejak di dalam ruangan pengap penuh lautan manusia yang terlihat minim busana. 

Belum pernah sekalipun dalam hidupnya ia memberanikan diri membaur dalam syurga dunia yang penuh kemaksiatan tersebut. Tapi hari ini, ia sudah tidak tahu lagi kemana harus membawa perasaannya. 

Lelaki gagah itu menenggak wine beraroma strawberry yang disuguhkan dalam gelas kecil ke hadapan. Matanya menyipit sedang bibirnya mengerut saat merasakan perpaduan asam, sepet, manis, hingga asin menyatu dalam satu minuman yang ia teguk barusan.

Tandas satu gelas. Ia merasa kepalanya amat ringan. Ia mendorong gelas kecil itu kembali pada writers. Tak ayal, lelaki di hadapan Bara kembali menuang wine merah dalam gelas.

Bara menuang isi dalam gelas keduanya seteguk dalam mulut. Mendadak, penglihatannya mulai samar, perut terasa mual. Bara menghentikan menenggak minuman itu. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya.

"Mau saya temani, Mas?"

Bara mengangkat wajah. Dimata lelaki itu, wanita di hadapannya adalah Alifa. Ia merangkul wanita itu.

"Alifa ...."

"Oh, yaudah, saya temani di tempat lain ya, Mas," ucap wanita itu sambil memapah Bara. Ia membawa Bara pada sebuah kamar yang ada di bagian belakang discotik.

Wanita itu lalu merebahkan Bara yang sudah setengah sadar ke atas ranjang. Dengan licik ia membuka pakaian lalu mengelus lembut rambut tebal yang dimiliki Bara.

***

Ini adalah malam kedua setelah dirinya berpisah dari Bara. Aisyah masih menanti lelaki itu datang menjemput, atau setidaknya menelpon.

Entah, sepertinya Aisyah masih berharap rujuk atau mengutarakan apapun untuk menenangkan gundah gulananya setelah memutuskan pergi dari rumah. 

Malam itu, ia sadari, talak yang diucapkan Bara membuatnya begitu terguncang. Tanpa pikir panjang, ia memutuskan untuk pergi. Padahal Allah melarang seorang istri yang ditalak oleh suaminya untuk keluar dari rumah, sebagaimana yang tersebut dalam surat Ath-Thalaq:1 :

"Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.”

Aisyah tampak tak tenang. Seharian ia mematikan ponsel tersebab ia tak ingin semakin terpuruk karena Faiz terus saja menghubunginya. 

Sekarang ia berniat menghidupkan kembali benda pipih itu. 

Aisyah ingin menghubungi Bara. Merendah dan meminta maaf tak akan mengurangi derajat seorang manusia di hadapan Allah. Tak mengapa jika di hadapan manusia kita terlihat hina, karena jika kita benar dan sesuai syariat, maka ada Allah yang akan 

mengangkat derajat kita kelak.

Aisyah mulai menghidupkan ponselnya. Beberapa pesan dari Faiz masuk, gadis itu mengabaikan.

Ia mencari nomor Bara untuk dihubungi.

***

Wanita dengan rambut merah bata itu meraih dompet Bara. Lalu ia membuka benda tersebut. Seketika matanya membelalak menatap rupiah yang nangkring indah dalam saku tengah. 

"Alifa ...."

Bara terus memanggil nama Alifa sambil menangis.

"Diam! Lemah banget jadi laki lu!" teriak wanita itu ke wajah Bara.

Setelah ia menghitung jumlah rupiah yang ada di dalam dompet Bara, ia mengambil semua lembaran itu lalu memasukkan ke dalam dompetnya. Saat hendak beranjak dari kasur, tangannya berhasil diraih oleh lelaki itu.

"Alifa ...."

"Sinting, frustasi nyebut Tuhan! Ini wanita lu panggil, tambah sinting lu!"

"Alifa ...."

"Huh!"

Wanita itu mendesah sebal. Lalu menatap Bara.

"Tampan juga sih."

Wanita itu kembali ke atas ranjang.

"Sebenarnya aku udah nggak boleh melayani siapapun, karena penyakit pada alat kelaminku sudah parah. Aku hanya perlu uang untuk menghidupi anak haramku. Tapi, karena kamu sangat butuh belaian, aku akan sedikit mengulurkan waktuku," wanita itu berhenti berucap, lembut ia mengelus pipi Bara yang kelihatan seperti orang kebingungan, "Jangan salahkan aku jika nanti kamu dan istrimu akan mengalami penyakit yang sama."

Ia tersenyum sinis. Saat hendak melancarkan aksinya, tiba-tiba ponsel Bara yang masih di saku celana berdering.

Dengan malas wanita itu beringsut dan meraih ponsel Bara. Ditatapnya layar yang sudah menyala itu.

'Aisyah.'

'Pasti istrinya, tapi daritadi ia memanggil nama Alifa. Apa dia lelaki beristri dua?'

Wanita itu mengangkat telpon Aisyah dengan penuh tanya.

[Hallo]

Aisyah terhenyak mendapati seorang wanita mengangkat telpon Bara. Batinnya kembali terasa sesak. Pelupuk matanya pun kembali digenangi cairan.

[Assalamualaikum.] Ucapnya lembut.

[Waalaikum salam.]

Aisyah menarik napas dalam. 'Jadi benar Mas kamu ke rumah Alifa?'

[Maaf, Mbak Alifa---]

[Saya bukan Alifa]

Aisyah terhenyak.

[Lalu anda siapa?]

[Saya Iren, suamimu sedang bersamaku sekarang. Dia mabuk, aku yang sudah menyelamatkannya. Dan kini dia aku letakkan di sebuah kamar di Club ******.]

[Apa dia baik-baik saja, Mbak?]

Aisyah merasa jantungnya berhenti berdetak saat tahu keberadaan Bara kini. Sekujur tubuh pun ikut bergetar menahan kecewa.

[Sangat baik Mbak, aku belum menyentuhnya. Dia hanya sedang fly. Untung saya yang menemaninya, jika wanita lain, mungkin mereka sudah check in.]

Lagi-lagi, Aisyah mengelus dada mendengar penuturan wanita itu.

[Bisa Mbak sebutkan alamatnya, biar saya menjemput.]

Wanita itu tertawa keras.

[Kamu pasti wanita berkerudung besar 'kan? Namamu saja Aisyah. Sebaiknya kamu jangan kemari, atau kamu akan dikerjai lelaki hidung belang di sini.]

Aisyah terdiam. Jelas dia tidak berani ke tempat haram seperti itu.

[Mbak tenang saja di rumah, saya akan menaikkan suami Mbak ke dalam taksi. Sebutkan alamatnya dimana.]

Aisyah memberi tahu alamat rumah ayahnya dengan suara serak. Sedikit saja ia naikkan intonasi, maka jelas sudah terdengar isakan nya ke seberang sana.

[Uang yang ada di dalam dompet, semuanya buat aku ya Mbak. Sebagai ganti rugi karena telah menjaga suami Mbak.]

[Baiklah, Mbak. Silahkan diambil saja, tapi tolong pastikan supir taksi mengantar suami saja sampai ke tempat]

[Oke, jangan khawatir.]

Setelah telpon terputus, Aisyah menangis dalam diam. Betapa ia amat menyesali apa yang sudah terjadi pada suaminya. 

'Ya Allah, apa yang seharusnya hamba lakukan kini? Hamba salah ya Allah, telah meninggalkannya. Andai bisa mengulang, aku ingin kembali ke malam itu, nggak akan kuangkat kakiku walau selangkah hingga masa iddahku habis. Ampuni hamba ya Allah ....'



BERSAMBUNG
[29/3 11:54] +62 813-7834-7019: *#Aku Mencintai Istrimu, Mas*
Part 21



Aisyah masih menanti di ruang tamu, detik kini terasa begitu lambat merangkak.

'Bagaimana jika wanita itu berbohong? Dia tidak jadi membantu Mas Bara pulang, justru membiarkannya menghabiskan waktu semalamam di discotik, bersama wanita-wanita yang lain?'

'Bagaimana jika ada wanita berpenyakit yang mencoba menggoda? Bukankah orang mabuk nggak sadarkan diri? Diajak melakukan sesuatu, pasti mau? Lalu bagaimana jika sampai wanita itu mengajak Mas Bara---?'

Aisyah tak tenang dalam duduknya. Berbagai pertanyaan melintas lalu di benak. Sebentar-sebentar ia bangkit, menyibak gorden sambil menatap ke luar pagar. Berharap Bara bisa segera sampai ke rumahnya. Tapi setengah jam berlalu, yang ditunggu tak jua nampak.

Memasuki menit ke empat puluh lima, Aisyah terhenyak saat mendengar deru mobil yang berhenti di depan rumah. Segera ia bangkit membuka pintu.

Tampak oleh kedua netranya, Bara menuruni taksi sambil dibantu oleh supir. Kini mereka sudah memasuki halaman rumah. 

Aisyah berdiri kaku, tulang belulangnya serasa lunglai, bahkan tak kuasa lagi berjalan. Melihat lelaki yang pernah mengijab qabul namanya itu awut-awutan setengah sadar. 

Berbicara ngawur dan terus menyebut nama 'Alifa.'

'Kuatkan hati ini ya Allah.'

Di atas teras ia menyambut Bara lalu memapahnya masuk ke dalam rumah.

"Alifa? Mas mencintaimu Alifa ....'

Bara terus mengucap kalimat yang membuat daging gadis itu seakan dikupas dengan paksa. Sakit tak berperi, andai bisa ia ganti dengan nyawanya, maka akan ia lakukan demi tidak lagi merasakan sakit yang demikian kuat.

"Siapa Aisyah?",

Ayah Aisyah keluar dari kamarnya dan terlihat kaget saat mendapati Aisyah memapah seorang lelaki. Gadis itu hanya mematung tak menjawab.

"Bara? Sini Bapak bantu."

Kini lelaki paruh baya itu mengambil alih tugas Aisyah untuk memapah dan membawa Bara ke dalam kamar putri sulungnya. Setelah merebahkan Bara untuk berbaring di atas ranjang, lelaki itu memangg Aisyah untuk berbicara di luar kamar.

"Selama Bapak mengenal Bara, nggak pernah sekalipun Bapak melihatnya begini. Sebenarnya apa yang terjadi sama kalian?"

Aisyah bergeming, menunduk dalam.

"Katakan Aisyah, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Jika sepasang suami istri mengalami kebuntuan dalam memecahkan masalah rumah tangga mereka, ada baiknya mereka membicarakan dan meminta pendapat pada orang yang lebih dipercayai. Orang tua adalah pihak pertama yang harus kalian mintai pendapat. Jika kami tidak bisa mencari pemecahan masalahnya, barulah kita sama-sama membicarakannya dengan pihak lain, semisal seorang ustadz, jika masalah yang kalian hadapi lebih kepada syari'at."

Aisyah masih bergeming. Bagaimana jika ia mengatakan bahwa Bara sudah menceraikannya? Apakah Bapak masih bisa bersikap tenang begini?

"Selama ini Bapak menyekolahkanmu di Pesantren, tujuannya agar kamu bisa lebih menghormati orang tua. Dan sekarang kamu sudah berkeluarga, maka yang harus kamu hormati bukan hanya Bapak saja, tapi suamimu. Bapak tidak mau kamu lupakan hal itu."

Aisyah mengangguk tetap tak membuka suara. Melihat anak gadisnya yang hanya mengangguk, Rahman terlihat gundah.

"Ya sudah beristirahatlah. Besok kita bicarakan lagi. Kamu bantu suamimu melewati malam ini, pasti dia akan sangat kerepotan karena pengaruh minuman memabukkan itu," ucap ayahnya mengakhiri percakapan.

Selepas kepergian sang ayah, Aisyah melangkahkan kaki menuju dapur. Ia menghangatkan air, lalu memasukkan air tersebut ke dalam baskom kecil. Lalu Aisyah berjalan kembali ke kamar. 

Dipandangi suaminya yang terbaring lemah di atas ranjang. Hanya berselang beberapa detik, Bara terlihat berusaha bangkit.

"Mas kenapa?" 

Aisyah segera mendekat sambil meletakkan baskom air hangat di atas nakas. 

Oeeekkk!

Bara memuntahkan isi perutnya ke lantai.

"Astaghfirullah, Mas."

Gegabah ia segera mengambil plastik untuk menampung muntahan yang terus dikeluarkan Bara. Setelah agak tenang, Aisyah membantu lelaki itu untuk kembali berbaring.

"Mas tiduran dulu ya, nanti Aisyah balurkan minyak telon di punggung. Biar enakan."

Gadis itu kembali membersihkan muntahan yang berserakan di lantai. Setelah selesai, ia kembali ke sisi Bara yang kini mulai semakin parah meracau.

"Mas, minum air hangatnya dulu," tawar Aisyah sambil mengarahkan gelas minuman kepada Bara.

Lelaki itu memandang Aisyah dengan tatapan tak biasa.

"Alifa ...," sebutnya kemudian. Jantung gadis itu seolah diremas kuat. Perih hingga keulu hati.

"Saya Aisyah, Mas."

"Alifa ....".

Bara semakin mendekati Aisyah yang sedikit-sedikit menjauhkan posisi duduknya. Ia teringat akan ilmu yang pernah ia pahami. Jika seorang suami yang sudah mentalak seorang istri dengan talak satu, lelaki itu boleh merujuk kapan saja selama masa Iddah. Tidak perlu akad, cukup mengucapkan aku kembalikan kamu sebagai istriku atau bisa juga dengan langsung menggaulinya. Tapi tentu saja jika itu dilakukan dalam keadaan sadar.

Melihat Bara saat ini yang sedang mabuk, dan dimulutnya pun tak henti tersebut nama gadis lain. Meski Aisyah sangat ingin Bara menyentuhnya. Tentu ia tak akan menyerahkan dirinya pada lelaki itu.

Buat apa bersama, jika yang diingatnya wanita lain. Buat apa bersatu jika setelah ini ia lupa siapa yang telah membersamai menikmati secawan madu.

Aisyah bangkit.

"Jangan pergi Alifa, Mas sangat ingin bersamamu."

Tak lagi berdiri tegak, tergopoh gadis itu berlarian ke luar kamar. Tertatih ia mengelola perasaannya yang tak lagi berwujud. Hancur berantakan tersebab cinta tulusnya untuk sang suami. Detik ini dirinya yakin, tak ada satupun wanita yang akan bertahta di hati suaminya. Kecuali Alifa. Ya, hanya Alifa pemilik seluruh cinta yang dimiliki oleh lelaki itu.

***

Sudah lewat tengah malam, Aisyah masih betah duduk di kursi tamu. Beberapa saat lalu, masih terdengar suara berisik dari dalam kamarnya. Tapi, kini senyap. Sepertinya Bara telah tertidur.

Perlahan gadis itu beringsut dan berjalan mendekati kamar. Dibuka pintu dengan perlahan. Matanya menatap sosok Bara yang sudah tertidur dengan kedua kaki selonjor ke lantai, dan sebuah bantal menutup wajah.

Pelupuk matanya kembali terasa berat. Aisyah menguatkan hati untuk melangkah mendekat. Ia mengangkat bantal, lalu membawa kedua kaki lelaki itu untuk sepenuhnya berada di atas ranjang. 

Aisyah memandangi Bara dari jarak dekat. Terenyuh ia jika membayangkan bagaimana cintanya lelaki itu pada Alifa.

"Kenapa bukan aku? Ah!"

Aisyah menghela napas.

"Mas, ijinkan untuk yang pertama dan terakhir kali buat saya, Mas," lirihnya sangat pelan.

Lalu gadis itu mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Bara. Ia seka wajah dan badan lelaki itu dengan handuk yang sudah ia basahi air hangat. Ragu, tetapi ia mulai menurunkan pakaian bawah yang dikenakan Bara. Hal yang sama ia lakukan kembali, mengusap kedua kaki lelaki itu hingga telapak kaki. 

Tak lelah, walau harus bolak balik ke dapur untuk mengganti dan menghangatkan ulang air dalam baskom. Sesekali tangannya tergerak untuk mengusap air mata yang ikut luruh membasahi pipi.

Usai menyeka, Aisyah kembali memakaikan Bara sebuah kaos. Sedikit kepayahan dia juga memasangkan sarung menutupi tubuh bagian bawah sang lelaki. Setelah semua selesai ia lakukan, jantungnya melemah. Ternyata tadi ia hanya berpura-pura tegar. Beginilah rasanya, mengurusi seseorang yang kita cintai namun tak mencintai kita?

Tubuh Aisyah roboh ke atas ranjang.

'Allah, setiap kali aku kecewa, aku memendamnya kuat dalam dada. Saat tak mampu lagi kupendam, maka kubiarkan air mata ini luruh membersamai. Harapanku setelah itu, aku bisa kembali tersenyum dan menyambut hari seolah tak pernah terjadi apapun dalam hidupku. Tapi kini aku sadar Tuhan, menangis tidak seutuhnya membuatku melupakan segalanya. Mungkin aku benar-benar harus ikhlas, tak perlu lagi berharap padanya. Apakah memang Engkau tak mentakdirkan dia untukku ya Rabb?'

Ia berbalik memandang Bara.

"Kamu sangat mencintainya, Mas? Baiklah aku akan membuat kalian bersatu ...."

***

"Bus keberangkatan Purwokerto sesaat lagi akan berangkat, bagi penumpang yang sudah mengambil tiket, agar dapat segera masuk ke dalam bus."

Aisyah mempercepat langkahnya. Ia sudah membulatkan tekad untuk bertemu dengan Alifa. Tiada satu orangpun yang tahu tentang kepergiannya, termasuk Bara. 

Alamat ini, ia dapat sebulan yang lalu, saat tak sengaja membuka notebook milik suaminya.

Sambil menghela napas, kakinya mantap menaiki bus. 

'Bismillah, mudahkan ya Allah.'

***

Bara terhenyak saat untuk kesekian kalinya alarm pada ponselnya berbunyi nyaring. Seketika kepalanya terasa berputar-putar, sakit di berbagai belahan otak.

Bara kembali merebahkan tubuh di atas bantal. Matanya teliti menelisik keberadaan kini.

'Aisyah.'

Dia menundukkan pandangan, menatap tubuhnya yang sudah berganti kostum. Dan yang membuat perasaannya merinding, celana yang semalam ia kenakan sudah berganti sarung.

"Aisyah, kamukah yang melakukan ini semua?"

Sakit, Bara merasa dadanya teramat perih. Begitu baik dan perhatiannya wanita yang telah ia abaikan selama ini. Betapa ikhlas Aisyah membersamainya dalam setahun pernikahan. Tidak pernah gadis itu mengeluh, pun memperlihatkan kekecewaan atas sikap Bara padanya.

"Ya Allah ... Astaghfirullah!"

Saat hendak bangkit, tangan lelaki itu tak sengaja menyentuh bagian atas nakas. Sesuatu terjatuh akibat sentuhan tangannya itu. Bara menunduk, memeriksa apa yang telah terjatuh barusan.

Sebuah surat.

Bara segera membuka kertas yang sudah terlipat itu, lalu membaca satu persatu untaian kata yang tertulis dengan sangat rapi.

*

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Semoga saat membaca surat ini, Mas Bara sudah dalam keadaan sehat dan sadar sepenuhnya. Mas, maafkan Aisyah, karena telah lancang membuka pakaian yang Mas kenakan semalam. Aisyah pula yang telah lancang menyeka seluruh tubuh Mas, tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Tapi Aisyah tak sampai hati membiarkan Mas tertidur dengan pakaian yang menguar bau alkohol.

Anggaplah ini yang pertama dan yang terakhir Aisyah persembahkan untuk Mas sebagai seorang suami.

Mas, selama ini Aisyah terus menyangkal, bahwa hati dan cinta Mas Bara selamanya hanya akan dimiliki oleh Mbak Alifa semata. Aisyah berkeyakinan, bahwa suatu saat Aisyah akan menjadi satu-satunya wanita yang akan menduduki tahta tertinggi dalam hati Mas Bara. Tapi ternyata, semua hanya asa yang takkan pernah menjadi kenyataan. Tadi malam adalah bukti, bahwa saat sedang tidak tersadar pun, Mas tetap menyebut nama Mbak Alifa. Hanya Mbak alifa yang Mas ingat, bukan saya. 

Bahkan, Mas hampir saja melakukan sesuatu yang selama ini begitu Mas hindari. Maaf, karena Aisyah menolak melakukannya. Karena saya yakin, Mas menginginkannya karena dimata Mas, saya adalah Mbak Alifa.

Aisyah tidak perlu menceritakan bagaimana rasa sakit yang menghujam dada ini. Dan tak perlu pula menggambarkan bagaimana rasanya mencintai tapi tak dicintai. Aisyah hanya berharap Allah menganugerahkan rasa ikhlas yang dalam pada diri Aisyah. Karena pada akhirnya, hanya keikhlasanlah yang akan membuat hidup Aisyah bahagia.

Mas ....

Hari ini, Aisyah akan membawa kembali Mbak Alifa dalam rengkuhan Mas. Aisyah tak perlu bermohon, karena Aisyah tahu Mas akan menjaga, mencintai, menyayangi dan memperlakukannya layaknya seorang istri. Karena dialah wanita yang Mas cintai.

Aisyah hanya meminta satu hal sama Mas, sebelum Mas pergi dari rumah Bapak. Mas katakan pada Bapak, bahwa Aisyahlah yang sudah meminta bercerai dari Mas. Aisyah tidak ingin Bapak kecewa pada Mas Bara. Mas adalah lelaki yang sangat dihormati oleh Bapak. Aisyah tak ingin Bapak mengurangi rasa itu terhadap Mas Bara. 

Biarlah Aisyah sendiri yang akan menanggung kemarahan Bapak. Aisyah tahu bagaimana Bapak, dia tidak akan sanggup mendiamkan Aisyah dalam waktu lama.

Terakhir, sebelum Aisyah mengakhiri surat ini. Ijinkan Aisyah jujur Mas, Aisyah sangat bahagia bisa menjadi istri Mas, walau hanya setahun. Tapi setidaknya Aisyah sudah memberikan pengabdian yang sempurna sebagai seorang istri.

Semoga Mas bisa segera naik pelaminan bersama wanita yang Mas cintai. 

Yang selalu akan mendoakanmu.

Siti Aisyah.

*

Bergetar tubuh Bara membaca surat dari Aisyah. Tak menunggu lama, ia segera mengganti pakaiannya. 

'Aku harus menemuinya. Aisyah, maafkan Mas Aisyah. Maafkan Mas. Jangan pergi ....'



BERSAMBUNG

Aku Mencintai Isterimu, Mas ( Bagian 19)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
AyuWahyuni
Part 19

"Dia masih coas Iz, namanya Salsabila. Anaknya santun, supel dan energik."

Faiz mengerling pada sosok gadis berjas dokter yang baru saja turun dari mobil jazznya. Dengan mengenakan rok hitam dan jilbab ungu, gadis itu terlihat modis dan berkharisma.

"Kedua orang tuanya dokter, kalau kata ulama sih, nasabnya bagus. Tinggal kamunya aja, Iz gimana ngedeketin mereka. Soalnya Salsabila itu anak perempuan satu-satunya. Keturunan ningrat pula. Tapi nggak ada salahnya dicoba. Siapa tahu kamu jodohnya."

Kata-kata Hasan Minggu lalu saat mengenalkannya pada Salsa kembali terngiang. Kini disinilah dia, di ruang tamu rumah megah milik orang tua gadis yang mulai memberi warna lain pada hidup Faiz.

"Diminum dulu Mas, teh melatinya."

Faiz mengangguk canggung lalu meneguk seteguk teh beraroma melati itu. Tak lama keluar seorang lelaki paruh baya dari dalam sebuah kamar.

"Itu Ayah, Mas."

Faiz berdiri dan menyalami lelaki tersebut dengan penuh hormat.

"Kamu yang namanya Faiz?"

"Iya, Pak."

"Kesatuan apa?"

"Reserse narkoba di Polda, Pak."

"Asli orang Aceh?"

"Bukan Pak, saya keturunan Jawa."

"Jadi di sini cuma penugasan atau penempatan?"

"Penugasan, Pak selama satu tahun."

"Jadi nanti balik lagi ke Jawa?"

"In Syaa Allah, Pak."

Berdebar jantung Faiz mendengar pertanyaan lugas yang diajukan oleh lelaki berperawakan besar itu. Sekilas ia teringat akan kisahnya dahulu ketika melamar Aisyah.

'Kenapa tiap kali berurusan dengan orang tua, selalu terasa bagai sedang disidang di tengah pengadilan mahkamah?'

Faiz menghela napas sambil mengatur degup tak menentu di dada. Matanya mencoba melirik ke sebelah lelaki yang kini tampak sibuk dengan gawai di tangan.

Salsa tersenyum menanggapi lirikan Faiz.

'Saatnya benar-benar move on. Bismillah, semoga kali ini diterima.'

"Waduh Nak Faiz, kebetulan saya ada jadwal operasi mendadak. Nak Faiz silahkan duduk sambil nikmati cemilannya, ya."

Faiz mengangguk sembari tersenyum. Penerimaan orang tua Salsa hari itu meninggalkan kesan baik di hati Faiz. Ia yakin, keinginannya kali ini untuk melamar Salsabila bakalan diterima.

Tapi, kenyataan yang ia terima sungguh menyakitkan. Setelah hari itu, ia merasa ada jarak yang membentang antara dirinya dan Salsabila.

Apakah ayah gadis itu tak merestui?

Karena semakin merasa dijauhi, sebab tiap kali Faiz mencoba menghubungi, selalu saja ada alasan Salsa menolak berbicara.

Maka hari ini, Faiz mengajak Hasan untuk kembali mempertemukannya dengan Salsa.

"Gimana pendapat orang tuamu Dik, tentang Faiz?"

Hasan mengawali pembicaraan. Dia duduk di sebelah Faiz yang langsung berhadapan dengan Salsa. Suasana cafe siang itu amat hening.

"Maafkan saya Mas Faiz. Sebenarnya saya ada rasa sama Mas, tapi ayah meminta saya untuk tidak memelihara rasa itu. Ayah mau saya bersuamikan lelaki pribumi, keturunan Teuku supaya garis keturunan kami tetap terjaga. Makanya saya menjaga jarak dengan Mas Faiz. Saya tidak ingin Mas Faiz kecewa dengan keputusan orang tua saya."

Faiz menghela napas mendengar penuturan Salsa. Dadanya terasa perih, sedang tubuhnya bergetar. Dua kali ia sudah berniat ingin serius membina hubungan, tapi kedua-duanya malah tak direstui orang tua pihak wanita.

Apa salahnya?

Faiz hanya tersenyum dan mencoba tegar.

"Tidak apa-apa, Dik. Berarti kita belum jodoh."

"Mas Faiz masih mau 'kan berteman sama Salsa?"

"Tentu."

Perasaan pemuda itu benar-benar kacau. Ia merenungi nasib, apa yang salah padanya. Selama ini, ia begitu menjaga diri perihal wanita dan jodoh. Ia tidak pernah menghalalkan trend pacaran yang berselimutkan ta'aruf, seperti kebanyakan teman-temannya lakukan. Dia jauh dari kata zina. Dari kecil hingga ia sedewasa ini. Tapi kenapa Allah tidak memudahkan jalannya mendapat jodoh?

'Astaghfirullah!

Faiz mengusap wajah, begitu menyesal karena telah melampiaskan kekecewaan pada Rabb-Nya. Hanya karena cinta, lalu lupa betapa karunia yang lain tak pernah henti mengalir.

Udara yang tiap detik ia hela, nikmat pandangan yang hingga detik ini masih terus diberi secara gratis, nikmat kekuatan pada kedua kaki. Semua itu, apakah sebanding dengan cintanya pada satu manusia?

Faiz benar-benat menyesal telah menangisi nasibnya. Ia.memutuskan untuk kembali kekosan. Namu, sebelum menanjak naik ke motor RX-King nya, gawai pemuda itu berdering.

'Pak Hasan?'

[Assalamualaikum.]

[Waalaikum salam, Nak Faiz. Bapak dengar dari Aisyah kamu sedang berada di Aceh, ya?]

[Nggih, iya Pak.]

[Wah, kebetulan sekali. Kalau ada waktu, singgah di Kampung Bapak hari ini, di Aceh Besar. Kebetulan ada acara nikahan anak sepupu saya.]

[Oh, tapi ini sudah sore, Pak.]

[Nggak papa, datang aja. Kasih tahu mereka kamu keluarga suaminya Aisyah di Jakarta, ya.]

[Baik, Pak.]

Faiz menutup telpon lalu duduk sejenak menimbang- nimbang.

Pemuda itu tersenyum, lalu melesat cepat dengan motornya menuju kampung Pak Hasan.

'Daripada di kos merana, lebih baik beramai-ramai di tempat pesta orang. Siapa tahu dalam waktu dekat, bisa mengadakan pesta sendiri,' racaunya dalam hati.

***

Suasana perkampungan yang tadi disebutkan alamatnya oleh Pak Hasan terlihat jauh berbeda dengan tempat tinggal Faiz kini di Kota Banda Aceh. Di Aceh besar ini, suasana pedesaan dengan hamparan sawah yang menghijau, mampu membius indera penglihatan untuk beberapa detik menatap tanpa ingin berkedip.

Ditambah kicauan burung yang mengalun menyuarakan masuknya petang, Faiz benar-benar seperti berada di alam yang berbeda.

Kedua netra pemuda itu tak lekang dari memperhatikan berbagai bentuk Rumoh Aceh yang mendominasi kampung itu dengan berbagai corak dan model.

Rumah adat dengan pondasi kayu berbentuk persegi panjang disertai tangga sebagai jalan masuk ke dalam rumah, masih menjadi pemandangan utama di perkampungan tersebut. Tidak ada pagar pembatas halaman, hanya tanaman yang dibentuk menyerupai pagar yang mambatasi antara rumah yang satu dengan rumah lainnya.

Setelah berhenti di sebuah kios untuk menanyakan alamat rumah keluarga Pak Hasan, Faiz kembali menjalankan motornya hingga berhenti pada sebuah lorong yang telah dipasang janur kuning sebagai penanda adanya pesta pernikahan.

Hanya berselang tiga rumah, pemuda itu bisa melihat bahwa di rumah keempat terpasang dua buah tenda dengan kursi berwarna hijau. Kursi-kursi itu masih tersusun rapi walau nampak kosong. Pertanda bahwa acara sudah selesai. Hanya satu dua orang yang masih tersisa, duduk-duduk sambil membersihkan sisa-sisa sampah.

Faiz mendekati lelaki yang tengah mengelap meja sambil melipat kain alas meja tersebut.

"Assalamualaikum," ucanya sopan.

"Waalaikum salam."

"Benar ini alamat keluarganya Pak Hasan?".

Dua lelaki itu menatap heran, dilihatnya Faiz dari kepala hingga ujung kaki. Pemandangan yang tak biasa, pemuda bertubuh tegap dengan pistol menyembul dibalik baju kemeja yang sedikit terangkat.

"Bapak ada perlu apa kemari?", tanya salah satu dari mereka, seakan tahu jika Faiz adalah seorang polisi.

"Saya salah satu keluarga besarnya beliau yang di Jakarta. Saat ini sedang tugas di Kota Banda aceh," jawab Faiz santai.

"Sebentar biar saya tanya ke dalam dulu."

Lelaki itu berlari ke dalam rumah menaiki anak tangga. Tak lama ia keluar bersama seorang wanita.

"Nak Faiz?".

Wanita itu menyapa dari kejauhan. Faiz sedikit terhenyak, ia tak mengenali wanita tersebut.

"Hasan tadi sudah telepon kasih tahu kalau adik ipar Aisyah mau bertamu. Ayo masuk ke dalam Nak," ajak wanita itu sambil membarengi jalan Faiz.

Halaman rumah itu jadi ramai kembali, beberapa warga terdekat mulai mengerumuni rumah keluarga Pak Hasan. Terutama yang gadis-gadis, satu persatu mulai berdatangan karena heboh ada pemuda Jakarta yang datang ke rumah tersebut.

Faiz disambut tak biasa oleh keluarga Pak Hasan. Ia dilayani layaknya pengantin baru. Berbagai hidangan di angkat menggunakan talam ke hadapan Faiz. Ditemani pengantin lelaki, ia melahap berbagai masakan khas Aceh yang dihidangkan untuknya.

Kuah sie Itek (kuah daging bebek), kuah pliek (sayur dari patarana), telor bebek asin, engkot keumamah, udang tumis, telor balado, semua dicicipi Faiz tanpa ketinggalan.

Terakhir pemuda itu meneguk juz timun sebagai penyeimbang kadar darah.

Wanita bernama Salimah kini terlihat mengambil ponselnya. Lalu dia menelpon seseorang.

[Assalamualaikum Hasan.]

[Waalaikum salam, Kak Ima. Pue katrok adik ipar Aisyah keunan u rumoh?] (Apa sudah sampai adik ipar Aisyah ke rumah?)

[Ka, Bang. Kalheuh ji pajoh bue saree. Aisyah Hoka, lon neuk peugah haba siat?] (Sudah, Bang. Sudah makan pula. Aisyah mana? Saya mau bicara sebentar.)

[Jeut] (Baik.)

Pak Hasan berjalan keluar kamar menuju kamar Aisyah. Gadis itu baru saja sampai ke rumahnya tadi malam. Pak Hasan begitu terhenyak, saat mendapati anaknya pulang seorang diri ke rumah tanpa ditemani suami, terlebih itu waktunya sudah tengah malam.

Ada apa sebenarnya yang tengah terjadi pada rumah tangga putrinya? Pak Hasan belum mendapatkan jawaban dari Aisyah. Tapi biar begitu, ia tahu satu hal, anaknya sedang tidak dalam keadaan baik.

"Aisyah, Makbitmu menelpon, apa kamu mau bicara?"

Aisyah yang tidur berbalik menghadap jendela seketika membalikkan badannya.

"Mana telponnya, Pak?"

Gadis itu beringsut menghampiri sang ayah.

Dan lelaki itupun memberikan ponselnya.

[Assalamualaikum Makbit?]

[Waalaikum salam. Aisyah, apa kabar?]

[Baik Makcik. Makcik sehat?]

[Alhamdulillah Makcik sehat? Kamu hamil? Kok bengkak gitu wajahnya?]

Aisyah terdiam, matanya berkaca. Apa yang harus ia katakan pada semua orang? Tentu menyandang status janda sedang usia perkawinan belumpun melewati angka satu, pastinya sangat memalukan bila diumbar pada orang lain.
 
[Belum, Makcik.]

Aisyah tak berani jujur.

[Aisyah, ada adik iparmu di rumah kami. Kemarin pas di Jakarta Makcik nggak terlalu perhatian Syah. Rupanya that tari lageu (cukup tampan), that sopan (sopan), si Rini ka jatuh cinta ie ke Faiz, kiban Syah?( Gimana Aisyah?)]

Aisyah terdiam sejenak, entah kenapa tiba-tiba ia merasa takut.

[Cocok Makcik, Kak Rini kan tamatan AKBID, cocok sama Faiz. Sama-sama abdi negara.]

[Kalau gitu, coba tanyain ya, Syah. Udah punya calon belum, kalau belum coba kamu jodohin, ya.]

Aisyah kembali bergeming sejenak, hatinya bagai ada yang merambat perlahan. Perpaduan rasa sakit, kecewa, dan takut. Aisyah menelan saliva.

[Ya Makcik. Nanti Aisyah tanya.] 

[Syah,ngomong bentar sama Faiz ya.]

[Eh Mak---]

Belum sempat Aisyah menolak, wanita itu sudah mengarahkan ponselnya pada Faiz?

"Siapa?" tanya Faiz pelan saat benda pipih milik Salimah mengarah ke hadapannya.

"Aisyah?"

Faiz terhenyak mendengar nama gadis yang belum sepenuhnya menghilang di jiwanya itu tersebut kembali. Beberapa detik ia menatap layar yang sedang menyala itu tanpa menyentuh.

"Ini ambil, bicara sebentar."

Dengan bergetar ia meraih ponsel itu.

"Assalamualaikum, Aisyah."

"Waalaikum salam, Mas Faiz."

Suara Aisyah bergetar, Faiz yang punya kepekaan segera dapat membaca situasi gadis itu.

"Aisyah, kamu kenapa?"

Aisyah menarik napas, menahan isak yang sudah keduluan terdengar.

"Aisyah ...."

Tut!

Gadis itu mematikan ponsel milik ayahnya. Ia berhamburan kembali ke atas ranjang. Air mata turut membersamai. Ia ingin bercerita, tentang nasib hidupnya. Tentang usahanya yang tak berbuah hasil. Tentang keinginannya membangun rumah tangga hingga ke Jannah yang telah gagal.

Pada siapa? Aisyah malu menceritakannya pada siapapun.

Sedang di seberang sana, Faiz tampak galau. Ia mengembalikan ponsel Makcik Aisyah, lalu mengeluarkan ponselnya dan kembali menelpon gadis itu.

Beberapa panggilan berlalu, Aisyah tetap tak mengangkat.

'Kamu kenapa Aisyah?'

Saat tengah sibuk membaca keadaan Aisyah, wanita tadi kembali bersuara.

"Malam ini menginap di sini semalam 'kan?'

Faiz membelalak dan hendak menolak.

"Alhamdulillah, siapkan kamar buat tamu dari Jakarta."

Perintah Salimah pada saudaranya yang lain.



Bersambung.

Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 18)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 18
Ayu Wahyuni

Bara telah menuruni mobil, Aisyah yang masih shock dengan mimpinya memilih duduk sejenak sambil membaca situasi. Detik berikutnya, langkah gadis itu pun turut tergerak.

Tak lekang dari matanya setiap apa yang dilakukan Bara. Mengingat mimpinya bercerai dari sang suami, membuat gadis itu merasa teramat takut. 

Tapi, jika mengingat pengabaian yang diberikan Bara padanya, sungguh ia ingin mengakhiri semua.

Aisyah kembali menghela napas saat mendapati sang suami dengan langkah cepat memasuki kamar dan tak peduli dengan dirinya. Mungkin jika Aisyah memilih tidur di mobil, itu akan terasa lebih baik untuk Bara. 

Gadis itu kembali sadar bahwa Bara memang bersama dengannya di rumah itu, tapi tidak dengan hatinya. Seseorang telah membawa pergi hati lelaki itu.

***

Bara terbangun setelah satu jam merebahkan tubuh di atas ranjang. Dipandanginya Aisyah begitu lekat. Sesuatu amat dalam menusuk dada. Bukan tak tahu ia perihal signal rindu dan cinta yang dikirimkan Aisyah untuknya. Tapi untuk apapun, ia tak bisa membalas perasaan Aisyah. Hatinya masih terlalu dalam mencintai Alifa.
Digerakkan tangan menyentuh pucuk kepala sang istri.

"Maafkan Mas, Aisyah. Sudah lama kamu berjuang seorang diri, sedang Mas selalu mengacuhkanmu siang dan malam. Kenapa kamu harus memberi Mas pilihan yang begitu menyakiti dirimu sendiri. Andai Mas bisa mengakhiri semua ini, kamu takkan terlalu lama terluka."

Bara merebahkan kembali tubuhnya dengan membelakangi Aisyah. Sesaat hening, dengan susah payah ia mengelola perasaannya agar tak terlalu memikirkan Alifa, terutama disaat malam begini. Disaat ia sudah merebahkan tubuh di sisi sang istri. 

Sedang di sampingnya, ternyata dua bola mata milik Aisyah kembali terbuka. Rupanya gadis itupun tidak juga tertidur meski sudah melalui satu jam di kamar itu dalam keadaan terpejam. Ia mampu mendengar lirihan yang keluar dari mulut lelaki itu.

Perasaan hatinya saling berdebat, sisi yang satu selalu mendengungkan kata sabar, mengingatkan bahwa perceraian adalah tindakan yang mendatangkan bala serta kebencian Allah. 

Sedang sisi yang lain memberinya pilihan agar menyerah dan melepaskan.
Aisyah terguncang. Begitu sakit untuk dipendam terlalu lama seorang diri. Sekilas ia teringat pada sebuah kisah para shahabiyah di masa Rasulullah, pernikahan dua orang shalih-shalihah Zaid bin Haritsah dan Zainab binti Jahsy. 

Keduanya adalah orang terdekat Rasulullah. Zaid bin Haritsah adalah seorang budak yang kemudian dijadikan sebagai anak angkat Rasulullah. Sedangkan Zainab binti Jahsy merupakan anak dari bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muthalib.

Keduanya menikah karena perintah Allah, yang turun dalam firman surat Al Ahzab ayat 36. Zainab yang semula terus menolak, namun karena ketaatannya pada Allah dan Rasul, akhirnya menyetujui untuk menikah dengan Zaid. 

Namun, pernikahan mereka hanya bertahan satu tahun. Zaid meminta ijin kepada Rasul untuk bercerai dari Zainab. 

Tidak seperti Khadijah dan Rasulullah yang ditakdirkan Allah terus bersama meski perbedaan strata terlihat begitu jelas diantara keduanya. Zainab tidak bisa menerima perbedaan strata antara dirinya dengan Zaid sang suami. Zainab tidak mampu melihat hal-hal yang baik pada diri Zaid. Apabila Zaid ingin mendekatinya, Zainab menjauh darinya. Apabila Zaid berbicara kepadanya dengan lemah lembut, Zainab menjawabnya dengan keras. Hal itu lah yang membuat keduanya tidak bahagia menjalani biduk pernikahan.

Ketika Zaid meminta kepada Rasul untuk bercerai, Rasul menyuruh agar Zaid bersabar. Hingga pada akhirnya Rasulpun mengijinkan Zaid bercerai setelah turun perintah dari Allah.

Di balik gagalnya pernikahan Zaid bin Haritsah dan Zainab binty Jahsy, Allah memberikan ganti kepada keduanya pasangan yang lebih baik. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa Zainab menikah dengan Zaid atas dorongan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga ketika menunggu masa iddahnya berakhir, Allah menurunkan perintah kepada Rasulullah agar menikah dengan Zainab melalui malaikat Jibril dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 37-39.

Sedangkan Zaid bin Haritsah menikah dengan mantan budak dan pengasuh Rasulullah, Ummu Aiman. Keduanya dianugerahi anak yang luar biasa dan juga salah satu sahabat kesayangan Rasulullah, Usamah bin Zaid.

Aisyah merenung dengan cepat, lalu bertanya pada diri sendiri, jika benteng dalam diri suaminya tak mampu ia runtuhkan, haruskan ia bertahan?. Apakah kesabarannya akan berbuah bahagia?. Bagaimana jika sebaliknya, mereka terus berada dalam keberasingan dan saling menyakiti perasaan?.

Aisyah tak mampu menjawab. Hanya air mata yang kian berderai seolah menjadi penghibur hatinya begitu gundah.

***

Tahajud Aisyah kini lebih panjang, waktunya disepertiga malam bertamu pada Sang Khalik menjadi moment paling ia nanti. Di atas sajadah, dengan dua tangan terbuka, air mata menjadi saksi. Betapa harapannya pada Allah agar segera memberi jalan keluar terbaik, bagi masalah dalam rumah tangganya. 

Hampir genap setahun, ia bertahan. Bahkan kesuciannya menjadi bukti, betapa Bara sang suami tak pernah ingin menyentuhnya sama sekali.

Malam ini, genap setahun pernikahan mereka. Aisyah telah mempersiapkan semuanya, brownies cokelat, nasi goreng istimewa, ditemani dua gelas jus poligami. Aisyah menanti kepulangan sang suami di meja makan. 

Pakaian yang ia kenakan tak biasa. Sengaja ia membeli gamis bercorak pelangi dengan hijab warna pink muda. Tak lupa lipstick, perona pipi, celak dan maskara. Semakin menawan dengan aroma bunga Seulanga khas Aceh yang diberikan makciknya saat pernikahan dahulu.

Sudah satu jam ia menunggu di kursi tamu. Bara belum juga pulang. Aisyah terus melempar pandangannya keluar rumah melalui jendela, berharap sosok yang dinanti segera tiba. 

Tapi, hingga pukul setengah dua belas malam, lelaki itu tak jua kunjung datang.

Aisyah mengeluarkan ponsel, tadi selepas magrib dia sempat menelpon, Bara mengatakan bahwa ia akan pulang selepas isya. Gadis itu berpikir, tak ada salahnya menghubungi kembali.

Tuuuttt!

'Nomor yang anda tuju, sedang berada di luar jangkauan. Silahkan tinggalkan pesan atau menghubungi beberapa saat lagi.'

Aisyah menghela napas. Lalu dia menyandarkan kepalanya pada sofa. Perlahan, kelelahannya menanti sang suami bertemu tempat ternyaman. Alam tidur.

"Aisyah."

Gadis itu membuka mata, sesuatu menyentuh pipinya dengan lembut.

"Mas Bara? Maaf Mas, Aisyah ketiduran."

Bara terlihat menghela napas. Pandangannya intens menatap gadis yang sudah resmi menjadi istrinya semenjak setahun yang lalu.

"Berhentilah seperti ini, Aisyah. Mas tidak mau kamu terluka lebih lama".

Aisyah terhenyak. Dadanya sesak mendengar tutur sang suami.

"Hari ini kita genap setahun, Mas," ucapnya dengan mata yang mulai kembali dipenuhi cairan.

"Aisyah ...."

Bara amat menyesali kenapa dirinya terperangkap pada rasa cinta yang salah. Tak sanggup lagi menahan, sebulir bening meluncur lebih dahulu dari pelupuk mata lelaki itu.

"Maafkan Mas Aisyah, Mas menyayangimu. Tapi Mas tidak bisa mencintaimu, Aisyah."

Gadis itu menghela napas berat. Serasa sesuatu mengantam tubuhnya kuat.

"Mari kita akhiri pernikahan ini, Aisyah. Kamu berhak bahagia, kamu berhak mendapat cinta dan kasih sayang dari orang yang begitu mencintaimu. Dan orang itu bukanlah Mas Aisyah. Maafkan Mas Aisyah."

Detik itu juga Aisyah merasa lututnya goyah, pijakannya runtuh. Bahu gadis itu berguncang pelan.

"Mas menceraikan Aisyah?" 

Dia bertanya dengan suara bergetar.

Bara mengangguk. "Iya Aisyah, maaf. Mas tak ingin kamu terluka lebih lama. Mas menceraikan kamu."

Aisyah mengatup mulutnya dengan kedua tangan. Isakannya kini terdengar, lalu secepat kilat ia berlari ke dalam kamar.

"Inikah jawabanmu ya Allah?".

Dia mulai memasukkan bajunya kedalam koper. Sesekali tangan kanan menyeka air mata yang sudah menganak sungai membasahi wajah.

Tak lama pintu kamar terbuka. Bara muncul di balik pintu itu dengan wajah tak karuan. Perpaduan rasa bersalah dan penyesalan. Tapi ia tak ingin menahan kebahagiaan gadis di hadapannya.

"Maafkan Mas Aisyah. Mas hanya ingin kamu bahagia."

Dengan penuh luka ia menjawab kata suaminya.

"Aisyah mengerti Mas. Aisyah juga sudah memaafkan Mas Bara. Sekarang ijinkan Aisyah pergi dari rumah ini."

Cepat gadis itu segera mengangkat koper berisi pakaiannya ke luar kamar.

"Mas yang akan mengantarmu pulang."

"Tidak usah Mas, Aisyah akan pulang sendiri," ucapnya sambil menghentikan langkah sejenak.

"Kembalilah pada Alifa, Mas. Jika bersamanya Mas bahagia, Aisyah rela."

Bara kembali menatap wajah gadis di hadapannya.

"Aisyah ....".

Seulas senyum duka terukir di wajah gadis itu.
"Selamat tinggal, Mas. Terima kasih untuk waktu yang tak sebentar ini. Aisyah bersyukur, walau pada akhirnya kita memutuskan untuk berpisah."

Langkahnya kembali tergerak. Bara tidak tahu harus bagaimana bersikap. Ia pada akhirnya membiarkan gadis itu pergi. 

***

Ada kalanya kita harus bertahan dan berjuang. Namun, ada suatu waktu dimana kita harus menyerah dan ikhlas. Mencintai itu tidak cukup dengan tidak melukai yang dicintai. Tapi juga harus sabar saat dilukai oleh yang dicintai. (KH Baha'uddin Nursalim)

'Semuanya sudah kulewati, dan kini waktu untukku berbahagia.'

***

Sementara itu, di belahan bumi yang lain. Faiz tampak mondar mandir di depan kamar kosannya. Pemuda itu melirik jam di dinding. Sambil membuka kaos oblong ia menelungkupkan tubuh di atas ranjang, lalu memukul-mukul kepala pada bantal.

"Aisyah, romantisnya cintamu dengan Nabi. Dengan Baginda kau pernah main lari-lari. Selalu bersama, hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah."

Ia bernyanyi sambil bersiul-siul. Entah kenapa malam ini ia merasa tak tenang. Pikirannya yang sudah lama hampir sempurna menghapus jejak Aisyah, kini seakan kembali diminta untuk mengingatnya.

Ia membalikkan tubuhnya perlahan. Sembari menatap lampu pada langit-langit kamar yang dikelilingi rumah laba-laba.
"Sudah hamil belum ya, dia?"



*Bersambung*

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 17)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Ayu Wahyuni
Part 17

Enam bulan berlalu begitu cepat, tapi tidak bagi Aisyah. Enam bulan serasa enam tahun lamanya. Selama ini, ia terus menghitung hari-hari kelabunya bersama Bara. 

Setiap malam ia menanti, kapankah lelaki itu dengan segenap keinginan, mendekati dan meminta haknya dari Aisyah sebagai seorang istri. Ia tak pernah putus berharap, suatu ketika Bara bisa tersenyum, tertawa dan menatap matanya penuh cinta.

Apapun itu, segala doa ia langitkan, pun bermacam upaya ia lakukan. Dari berpakaian lingerie yang bahkan dirinya sendiri pun terlihat risih mengenakan, hingga pengkodean baik terselubung maupun terang-terangan. Tapi semua tak ditanggapi dengan baik. Aisyah terkalahkan oleh rasa yang terpelihara ldalam kebersalahan.

Memang, setelah kepulangan mereka dari villa tempo hari, Bara terlihat lebih pemurung. Tersenyum dan berbicara seadanya. Perpaduan rasa bersalah dan rasa tak sanggup melupakan tengah menguasa hati dan pikiran lelaki itu. 

Aisyah tersakiti. Tapi, bukankah ia telah berjanji untuk menanti waktu dimana sang suami akan membuka hatinya?.

Hal itulah yang menjadi kekuatan untuknya bertahan hingga detik ini. Aisyah tetap tersenyum, memberi pelayanan paripurna, meski kadang ia harus berhenti sejenak, kala merasa bahwa usahanya hanya akan menjadi asa yang sia-sia.

Aisyah tidak membenci Bara, pun tidak pernah menyesal karena harus menjalani takdir yang sedemikian pelik bersama seorang suami. Ia hanya sedikit menaruh angan, andai bisa bertemu Bara lebih dahulu dari pada Alifa, tentu sekarang mereka sudah hidup bahagia.

Sebuah petuah mengatakan, adakalanya seseorang datang tidak selalu menjadi teman seumur hidup, melainkan ia hadir sebagai pembelajaran agar kita menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih baik. Andai bisa, sampai kapanpun Aisyah ingin memusnahkan petuah itu. Ia ingin Bara tidak hadir sebagai pembelajaran melainkan sebagai teman seumur hidupnya.

***

Hari ini, Aisyah dan Bara kembali ke rumah Mami. Setelah berbulan-bulan lamanya mereka memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri. 

Pertunangan Nindi menjadi alasan dua sejoli itu berpulang sejenak ke rumah orang tua mereka.

Jika tidak, maka ibu mertualah yang kerap bertandang ke rumah mewah milik sulungnya itu.

"Wah, Nak Aisyah apa kabar? Sudah ngisi belum, ini?".

Salah satu tetangga terlihat menggoda Aisyah. Gadis itu hanya tersenyum menanggapi.

"Belum Bu, belum rejeki."

"Kok bisa? Padahal masih muda, ya?".

"Ya namanya rejeki Bu, kalau Allah belum berkehendak, kita bisa apa ....".

"Tapi ibu dengar dari kader posyandu, kalau sudah lebih setahun itu udah disebut mandul atau kata lainnya infertil. Benar nggak sih?".

Aisyah tersentak. 

"Tapi Aisyah 'kan belum setahun menikah Bu Lastri ...."

Wanita yang lain ikut menyanggah. Aisyah masih bersikap tenang.

"Kalau begitu, Nak Aisyah kudu lebih ekstra biar segera punya momongan. Kasihan, soalnya lelaki tujuannya menikah salah satu 'kan supaya punya momongan."

Aisyah menghela napas.

"Anak itu 'kan anugerah dari Allah Buk, dikasih cepat ya bersyukur. Kalau belum, tetap tawakkal dibarengin ikhtiar. Saya dan Mas Bara tidak mempermasalahkan kapan waktunya, kami lebih ke mempersiapkan diri. Karena manusia tidak boleh memaksa Tuhan dalam hal apapun."

Wanita yang tadinya hendak nyinyir karena Aisyah belum juga hamil, sekarang terlihat menunduk dan diam.

"Maaf, Ibu-Ibu, saya permisi ke belakangan sebentar."

Aisyah berpamitan ketika dirasa obrolan itu sudah membuat perasaannya terluka. Gadis itu memilih menyendiri di taman belakang. Ia memerhati kawanan ikan yang terlihat mengelilingi tempat pemancuran. 

Selintas, ia kembali terkenang awal pernikahannya dengan Bara. Di taman ini, ia pernah merasa diperlakukan sebagai seorang istri, tangannya disentuh, netranya ditatap lekat, bahkan keningnya pernah dikecup oleh lelaki itu.

Dan benar, semua itu terjadi sebelum kedatangan Alifa ke rumah ini. Setelah kedatangan Alifa, sikap Bara berubah seratus persen padanya. Jangankan berharap mendapat perlakuan manja, perhatian lebih yang ia berikan saja, Bara terlihat enggan menerima.

'Ah, ternyata peribahasa waiting tresno jalaran Suko kulino itu ada kalanya tak berlaku dalam sebuah hubungan suami istri. Kita salah satu contohnya, Mas."

Aisyah menarik napas panjang, dikerjapkan mata beberapa kali. Mencoba mengusir derasnya bulir-bulir yang mendesak keluar. 

Ia mencoba meraih umpan yang terletak di dinding dekat kolam. Ingin mengulang apa yang pernah dilakukannya dahulu bersama Bara, tapi mendadak gerakan gadis itu terhenti. Nindi memanggilnya untuk bergabung.

Aisyah kembali ke dalam seraya memasang wajah ceria. Di atas karpet putih berbulu tebal yang di latar belakangi backdrop simple bernuansa cream-putih, semua telah siap untuk diabadikan dalam selembar foto.

'Di sana ada suamiku, Mas Bara, Mami, Nindy, dan ... Roy. Sahabat Mas Faiz yang ternyata akan menjadi calon suami adik iparku. Sungguh, jika dipikir-pikir, dunia amat sangat sempit.'
 
Aisyah berjalan cepat, lalu berdiri di sebelah Bara. Terasa melayang tubuhnya ke angkasa, kala lengan kekar suami merangkul pinggang saat blizt camera menerpa wajah.

Senyumnya terkembang, gundah yang melebihi tingginya Gunung Krakatau, lebur sudah. Beberapa kali jepretan dengan gaya yang berbeda, semua tampak begitu bahagia.

"Mi, Mas Faiz telpon."

Nindy menjerit kegirangan, mengalihkan keharuan yang tengah membalut perasaan Aisyah ketika Bara mengajaknya foto berdua.

[Assalamualaikum Mas Faiz.]

[Waalaikum salam, Ndi.]

[Mas kok nampak kurusan? Mas pasti makannya nggak teratur, ya?]

[Mas bukan kurusan Ndi, Mas lagi proses membentuk tubuh. Mas lagi persiapan mau ikut pendidikan perwira akhir tahun ini.]

[Ceile Mas, kawin dulu nggih. Baru mikir pangkat.]

[Ah, kawin gampang itu.]

[Udah dapat tapi 'kan Mas?]

[Apanya?]

[Calon?]

Faiz tersenyum menanggapi. Wajahnya yang tampak pada video call di gawai Nindi tak sengaja terlihat oleh kedua netra Aisyah. Kali ini gadis itu tak lagi menunduk atau memalingkan wajah. Ia merasa sudah cukup membentengi hatinya dengan cinta pada suami.

[Calon Mas biar Mas yang pikirkan, sekarang kamu fokus sama acara yang bakal digelar bentar lagi, ya. Ndi, Mas cuma bisa ngucapin Barakallah deh buat adik Mas tercinta ini. In Syaa Allah, pesta pernikahanmu nanti Mas usahakan pulang.]

[Iya, Mas. Makasih ya, Mas.]

[Ryo mana, Ndi? Mas mau beri wejangan.]

[Bentar,]

Nindy memberikan ponselnya pada Ryo. 

[Hallo, Komandan.]

[Yo, kamu jaga adikku baik-baik. Jangan sakiti dia, setia, jangan mendua. Atau kuturunkan pangkat jadi security.]

[Hihihi ... Siap laksanakan Ndak. Ada lagi, Ndan?]

[Sebelum nikah, jangan kamu boncengin adikku, kuharamkan kamu menyentuhnya sebelum akad terucap.]

[Siap empat lima, Ndan.]

Aisyah tersenyum mendengar guyonan Faiz. Tak bisa ia sangkali, dimana ada Faiz, disitu ada keceriaan. Pemuda itu punya magnet tersendiri untuk membuat siapapun yang ada didekatnya merasa bahagia dan nyaman.

Nindy kembali mengambil gawainya dari Ryo dan memberi benda itu pada Mami.

[Assalamualaikum ibunda. Apa kabar, Mi?]

[Faiz ... Mami rindu, Nak.]

Mami tak dapat menahan deraian air matanya. Wanita itu menangis.

[Faiz juga rindu, Mi.]

Terdengar di seberang, suara Faiz pun bergetar.

[Kapan pulang, Nak?]

[Segera Mami Sayang.]

[Jaga kesehatanmu ya, Nak. Jangan telat makan, shalat tepat waktu, tidur yang cukup. Itu rambutnya dipangkas dikit, biar rapi. Jambangnya ditipisin. Kamu udah nggak mirip polisi lagi Le, malah mirip model.]

[Hihihi ... Iya, Mi.]

[Kamu mau bicara sama Mas Bara?]

[Boleh, Mi.]

Jantung Aisyah berdegup seiring langkah mami yang mendekati suaminya.

"Bicaralah sama adikmu, Bara."

Bara mengangguk dan meraih ponsel dari tangan maminya. Dia melempar pandang ke arah Aisyah, lalu mulai menatap wajah sang adik yang nampak di layar.

[Apa kabar, Dik]

[Alhamdulillah baik, Mas.]

Terlihat Faiz mencuri pandang menatap gadis di samping Abangnya. Hanya sekejap kedipan mata, pandangannya langsung teralih.

[Mas Bara sekeluarga, gimana kabarnya?]

[Kami sehat, Iz. Kamu baik-baik di sana ya, Dik. Mas doakan apapun yang kamu impikan, bisa segera terwujud.]

[Aamiin ... Makasih, Mas]

Bara menutup sambungan telpon, lalu menyerahkan benda pipih itu pada Nindi.

"Udah, Mi. Jangan sedih, Faiz sehat banget itu. Nampak aura wajahnya benar-benar nggak ada beban."

Bara mencoba menenangkan maminya yang masih menyeka air mata.

"Iya, Mami cuma kepikir aja. Kasihan adikmu, dari dulu nggak pernah lama hidup sama Mami. Yang sekolah minta masuk pesantren, yang maunya tamat pesantren ikut pendidikan polisi. Sekarang malah dilempar ke pulau lain, nanti pulang ke Jawa sudah bawa istri. Entah kapan Mami bisa bahagiain dia."

Bara dan Nindy terkekeh berbarengan, jika semasa kecil Bara kerap mengamuk tiap kali Mami memanjakan Faiz berlebihan, setelah dewasa. Hal itu malah menjadi lelucon buatnya.

"Mi, ada juga dari di dalam kandungan Mami udah bahagiain Faiz. Kasih ibu itu tak terhingga, jauh pun tetap dia rasa."

Mami tampak semringah. Sedang Aisyah merasa amat terharu mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut suaminya. Seketika ia mengelus perut yang masih nampak tipis.

'Kapan Mas, kamu menitipkan benih di rahimku?'

***

Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Aisyah pikir, malam ini ia akan menginap di rumah mami. Sebab sudah lama mereka tak berkunjung ke rumah itu, tentu suaminya ingin menghabiskan malam bersama keluarga besar. Ternyata tidak, malam itu juga Bara mengajak Aisyah pulang.

"Menginaplah semalam Bara, kasihan Aisyah. Pasti dia kecapean dan butuh istirahat."

Terdengar mami tak menyetujui keinginan anak lelaki sulungnya. Tapi Bara tetap pada pendirian.

Akhirnya dengan berat hati mami mengijinkan anak mantu pergi malam itu juga. Di perjalanan pulang, Bara lebih memilih diam. Membuat Aisyah yang duduk di sisinya merasa serba salah.

"Mas kenapa?"

"Hmm ... Nggak kenapa-kenapa?"

"Tapi kenapa seperti sedang memikirkan sesuatu, Mas?"

"Mas cuma kecapean. Mas pengen cepat pulang dan beristirahat."

Aisyah mengatur degup di dadanya. Entahlah, setiap kali melihat suaminya itu, sesuatu sering berdesir di dada. Hanya saja sikap Bara teramatlah dingin.

Gadis itu menggerakkan tubuh, melihat Nindy dan Rio berbahagia, iapun seperti sangat ingin memanjakan diri pada lelaki yang sudah bisa direngkuhnya dengan halal.

Sedikit ragu, Aisyah memberanikan diri merebahkan kepala di pundak sang suami. Tapi mendadak, Bara mengerem mobilnya. Membuat gadis itu terhunyung ke depan dan hampir menabrak kaca mobil bagian depan.

"Astaghfirullah! Maaf, kamu nggak papa, Aisyah?"

Aisyah menatap lelaki itu penuh luka.

'Sebegitu tak inginkah kamu untuk kudekati, Mas?'

Aisyah membuang wajah, kecewa karena sikap Bara padanya. Tapi sangat ia harapkan lelaki itu mau mengulur tangan mengelus bagian kepalanya yang sakit akibat rem mendadak yang dilakukan Bara.

Tapi apa? Jangankan mengelus, menolehpun tak lagi. Bara kembali fokus menyetir.

Sikap Bara kali ini begitu membuat jiwanya terguncang. Ia tak bisa lagi diam. Aisyah hanya perlu bersabar hingga sampai rumah. Ia sudah bertekad akan mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini pada sang suami.

***

Mobil perlahan memasuki teras. Lalu kendaraan itu berhenti sempurna setelah Bara memasukkannya ke dalam garasi. Aisyah berjalan tergesa ke dalam rumah. Di belakang, Bara menyusul langkah gadis itu yang terlihat tak biasa.

"Aisyah kamu kenapa?"

"Kita perlu bicara, Mas?"

"Bicara? Tentang apa?"

"Aisyah mau kita bercerai, Mas. Aisyah udah nggak kuat, Mas. Tiap saat Mas acuhkan begini. Aisyah ini seorang wanita yang juga punya perasaan. Jika hanya untuk menjadi pajangan, buat apa kita teruskan pernikahan ini ...."

Bara terhenyak mendengar kata-kata Aisyah. 

"Baiklah jika itu yang kamu mau. Sudah lama Mas ingin melakukannya. Tapi Mas masih ingat Mami, Mas ingat Bapakmu. Tapi jika kamu sendiri yang meminta, Mas akan kabulkan. Mas ceraikan kamu dengan talak satu."

Deg!

"Mas Bara ...."

*

"Aisyah ... Bangun, kita udah sampai di rumah."

Sebuah tepukan pelan menyentuh pipi Aisyah. Gadis itu mengangkat wajah dan membuka mata perlahan. Ia melihat sekeliling, memerhatikan dengan baik keberadaannya saat itu.

"Mas, kita dimana?"

"Kita di teras. Kamu ketiduran daritadi. Ayo, bangun."

Aisyah menghela napas. 'Jadi yang tadi hanya mimpi?'

Aisyah benar-benar merasa takut. Keinginannya untuk memancing dengan kata-kata cerai mulai ia pikir ulang. Ia takut, jika hal yang terjadi dalam mimpinya, benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. 

'Bercerai! Tidak, aku tidak mau menjadi janda.'


*Bersambung*

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 16)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Karya Ayu Wahyuni
Part 16

Tepat pukul setengah delapan malam, Pak Surya menelpon meminta agar Bara dan Aisyah ikut acara bakar ayam yang dibuat lelaki paruh baya itu di depan villanya. Dengan semangat Aisyah memilih baju terbaik diantara beberapa baju yang ia bawa.

"Ini bagus nggak, Mas?".

Aisyah memperlihatkan sebuah gamis yang sudah melekat di tubuhnya. Bara hanya melihat sekilas sambil mengangguk. Lalu ia kembali asyik dengan gawai di tangan.

Aisyah menghela napas. Padahal ia menyuruh Bara untuk menilai bukan saja karena ingin lelaki itu melihatnya memakai gamis terbagus yang ia punya, tapi karena malam ini ia memutuskan untuk memoles listip pada bibirnya.

Tapi, jangankan menilai, dilihatpun sekejap mata.

'Sedingin itukah kamu padaku, Mas?'

Kecewa pada sikap suaminya, Aisyah segera mengambil tissu lalu membasahkan benda itu dengan air. Digosok-gosok kasar bibirnya hingga bekas merah jambu yang terlukis indah itu terhapus tak bersisa. Lalu ia membuka lemari.  

Sebelum tangannya berhasil mengeluarkan sebuah gamis lainnya, terlebih dahulu Aisyah kembali menatap Bara. Berharap lelaki itu tersadar karena grasak grusuknya seorang diri.

Semakin sesak dada Aisyah melihat lelaki lelaki itu tetap asyik dengan gawainya. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera membuka pakaiannya. Ia bahkan tak lagi ragu-ragu melakukannya di depan Bara. Toh, lelaki itu tidak akan melihat.

Aisyah kemudian mengambil sebuah gamis yang warnanya sudah sangat pudar. Lalu ia mengenakan gamis terburuk itu pada tubuhnya.

Emosi yang membuncah diikuti tabuhan jantung yang riuh berdetak, membuat napas Aisyah tiba-tiba terengah-engah. Ia mencoba menarik napas, menstabilkan kekacauan yang sedang melanda jiwa. Sejenak gadis itu merasa badannya begitu tak bergairah. 

Aisyah mendudukkan kembali tubuhnya di samping Bara. Mungkin karena amarah serta berselimutkan kekecewaan yang luar biasa, hingga membuatnya semangatnya yang tadi membara kini hilang entah kemana.

"Sudah siap?",tanya Bara saat mendapati istrinya terduduk dalam kebisuan.

Aisyah bergeming.

"Lho, kok pakai baju yang itu, kamu nggak bawa baju yang lain?"

Aisyah menatap tajam ke dalam bola kelam sang suami.

Kecewa, ternyata benar Bara tak menggubris saat tadi ia memperlihatkan dirinya mengenakan baju terbagus.

'Apakah ponsel itu lebih kau senangi daripada melihat aku, istrimu, Mas?'

Tak sanggup melempar mata terlalu lama, Aisyah memutuskan untuk berbaring.

"Lho, kok malah tidur?"

"Aisyah, nggak enak badan, Mas," jawabnya setelah memalingkan wajah ke arah tembok. Suaranya bergetar, betapa kecewa yang ia rasa sudah memenuhi seluruh ruang dalam hatinya.

"Yah, padahal tadi 'kan kamu teramat bersemangat."

Aisyah memilih bergeming, tengah mencari cara melawan rapuhnya diri karena suaminya.

"Ya sudah, kalau kamu nggak enak badan, biar Mas aja yang pergi. Kamu istirahat saja, ya," ucap Bara sambil menepuk-nepuk telapak kaki Aisyah.

Sejenak hening. Mereka sesaat seperti berada dalam ruang hampa udara. 

"Mas pergi dulu, Pak Surya sudah mengirimkan wa."

Aisyah hanya mengangguk.

Bara mulai merasa ada yang berbeda dengan istrinya. Tak pernah Aisyah membiarkannya keluar rumah tanpa mengecup punggung tangan. Malam ini, jangankan mengecup, memandangnya pun tidak.

Bara menggeleng- gelengkan kepalanya. Tak ingin membiarkan hatinya tersentuh kembali oleh sesuatu yang bernama cinta.

Mencintai manusia, hanya akan membuat kecewa. Ia tak akan membiarkan penyakit itu kembali menguasai dirinya. Cukup Alifa saja yang sudah membuat hidupnya sengsara. 

Tidak untuk yang lain.

'Alifa?'

Bayang gadis itu kembali melintas lalu di ingatannya. Kembali ia rasakan perih menghujam dada.

***

Tanpa Aisyah, Bara tetap memutuskan untuk ikut pada acara bakar ikan. Tersebab acara inilah ia ada di villa tersebut. Oleh sebab itu, apapun rintangan yang menghadang. Ia tak boleh mengabsenkan diri pada undangan Pak Surya.

Suasana malam tampak begitu meneduhkan jiwa, Bara yang baru saja menjejakkan satu langkah di luar rumah, dapat merasakan energi positif pada dirinya. Yang tadi moodnya dibawah rata-rata, seketika menjadi meningkat bersemangat. 

'Andai Aisyah ikut?' batinnya berkata pelan.

Ia teruskan langkah hingga sampai pada villa Pak Surya. Di sana, terlihat beberapa keluarga sudah berbaur pada karpet yang dibentang lesehan di atas rumput. 

Setelah sampai di dekat pemanggangan. Matanya langsung beradu dengan lelaki paruh baya yang mengajaknya ke villa itu.

"Alhamdulillah, Nak Bara sudah hadir. Nyonya dimana?" tanya lelaki paruh baya itu dengan sedikit guyonan.

"Sedang kurang sehat, Pak. Jadi nggak bisa ikut bergabung.

Pak Surya menghentikan kegiatannya dan mengajak Bara duduk di sebuah kursi.

"Istrimu sedang hamil?", tanya lelaki itu santai, dibukanya kulit kacang lalu mengarahkan dua butir isinya ke dalam mulutnya.

Bara menggeleng. "Hanya tidak enak badan, Pak."

"Oh, Bapak kira hamil."

"Belum, Pak...".

Bara mencoba bersikap biasa, meski jujur hatinya seperti ada yang menyentak saat mendengar kata hamil.

"Bara, apa kamu tahu, wanita itu pandai sekali menutup perasaannya demi menjaga perasaan suaminya?".

Bara mendelik.

"Maksud saya, adakalanya, wanita itu sangat menginginkan sesuatu. Tapi karena ia melihat suaminya belum mampu, atau sedang tak sehati dengan keinginannya. Maka ia memilih diam atau berbohong."

Bara semakin tak mengerti dengan maksud perkataan Pak Surya.

"Saya yakin istrimu tidak sakit. Dia hanya berpura-pura sakit. Ada hal yang ia ingin sampaikan padamu, tapi mungkin karena tak ingin kau membatalkan hadir di acara saya, dia harus berbohong dan mengatakan bahwa dirinya sedang tidak enak badan."

Bara menghela napas panjang. Ia teringat akan gamis yang dikenakan Aisyah. Sepertinya kata-kata Pak Surya benar. Aisyah sengaja menutupi perasaannya agar dirinya bisa tetap hadir di acara ini.

"Kembalilah padanya, tanyakan apa keinginannya padamu."

Bara tersentak.

"Jagalah hati istrimu. Karena nabi pernah bersabda, "Sebaik-baik diantara kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluargaku.(HR. Ibnu Majah).

Sesuatu membuat tubuh Bara tergerak. 

"Terima kasih, Pak. Saya minta maaf karena tak dapat hadir di acara puncak Bapak ini."

"Sudah, jangan risaukan. Aku hadiahkan liburan ini, untukmu berbulan madu bersama istrimu. Nikmatilah, semoga setelah ini, akan ada zuriyah yang kau tanamkan di rahim istrimu."

Bergetar hati Bara mendengar keinginan Pak Surya, sama dengan harap haru maminya di rumah. Tapi bagaimana, mampukah ia melakukannya dengan wanita selain Alifa.

Dengan perasaan tak menentu Bara kembali ke rumah. Ia tak langsung menuju kamar, tapi memilih duduk merenung sejenak di ruang tamu. Sekiranya telah habis waktu satu jam berlalu, barulah akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menaiki lantai dua.

Dibukanya pintu perlahan. Ia melihat Aisyah masih tidur dengan menghadap ke arah dinding.

"Assalamualaikum," ucapnya lembut.

Aisyah tergerak. 

'Benar saja, Aisyah tidak tidur. Matanya pun bengkak, apa dia baru saja menangis,' batin Bara bergumam penasaran.

"Mas Bara sudah pulang?" 

Bara mengangguk dan memilih duduk di samping Aisyah yang sudah terlebih dahulu memposisikan dirinya untuk bangkit.

"Aisyah, Mas ingin bertanya sesuatu."

Aisyah terhenyak. Lalu duduk dengan baik menghadap suaminya.

"Mas mau nanya apa?"

Bara menarik napas sejenak.

"Sebelum memutuskan menikah dengan Mas, apa kamu pernah mencintai lelaki lain?"

Aisyah merasa sekujur tubuhnya bergetar, pertanyaan Bara sejenak melempar kembali ingatannya pada Faiz.

Aisyah mengangguk.

"Boleh Mas tau siapa orangnya?"

Lagi-lagi Aisyah terdiam beberapa detik. Bara sudah pernah menanyakan hal ini. Dan saat itu Aisyah memilih berdusta. Apakah malam ini ia harus kembali menutupinya dari lelaki itu?

"Aisyah akan jujur Mas, tapi perlu Mas ketahui bahwa semua itu adalah masa lalu. Dan Aisyah pun sudah tidak lagi ingin mengingatnya."

Bara semakin lekat memandang sang istri. Membuat Aisyah harus menunduk dalam saat ingin mengeluarkan suaranya.

"Pemuda yang pernah singgah di hati Aisyah adalah adik Mas Bara sendiri, Mas Faiz."

Bara sedikit terhenyak mendapati kejujuran sang istri. Lelaki itu menghela napas berat lalu ia merebahkan kepala di atas pangkuan Aisyah.

"Ijinkan Mas tidur di sini, Aisyah. Sebentar, saja."

Mata lelaki itu basah. Aisyah tak dapat menggambarkan retak hatinya ketika mendapati sang suami menangis dalam pangkuannya.

"Maafkan Mas Aisyah ...."

"Maaf untuk apa, Mas?"

Bagaimana kecewanya ia pada Bara tadi, tapi itu tak akan berlangsung lama. Aisyah tetap berjiwa besar memaafkan suaminya.

"Mas bukan lelaki terbaik untukmu."

Aisyah tak kuasa lagi membendung tangisnya. Ia biarkan setetes demi setetes buliran itu merembes dari pelupuk matanya. Lalu jatuh mengenai wajah Sang suami.

"Mas yang terbaik, buktinya Aisyah memilih Mas Bara?" ucapnya dengan suara bergetar menahan isak.

Bara memandang sorot sayu yang dipenuhi guratan merah yang kini telah berurai air mata.

"Tapi Mas tidak bisa memenuhi kewajiban Mas sebagai seorang suami," isakan lelaki itu semakin jelas terdengar.

Aisyah mengulurkan tangan mengusap wajah suaminya.

"Kenapa tidak, Mas?"

Sesaat hening, seolah Bara kehabisan kata untuk menjawab. Jiwanya benar-benar tak lagi dapat dibacanya dengan baik. Kala ia berusaha sekuat tenaga menghapus wajah Alifa, tapi semakin jelas bayang dan rasa buat gadis itu bertahta di hatinya.

"Maaf Aisyah, Mas belum bisa melupakan sosok Alifa dalam hati Mas.

Deg!

Dunia Aisyah gelap gulita. Tak ada tempatnya lagi bertahan, ia hampir terjerembab ke dalam lembah terpekat di dunia. 

"Inikah alasanmu tak pernah menyentuhku sebagai istri sahmu, Mas?. Tapi kenapa harus Alifa? Ya Rabb ....".

Aisyah tak dapat lagi dapat berkata, suaranya tertahan di tenggorokan. Sedang Bara, usai memporak-porandakan dunia Aisyah. Ia tak lagi mampu menatap wajah gadis itu. 

Dia sadar, ucapannya barusan pasti telah memusnahkan segala angan Aisyah berumah tangga bersamanya.

Kini Bara membalikkan wajahnya menelungkup di paha sang istri. Ia sudah sangat rapuh tersebab perasaannya terhadap wanita.

Aisyah yang mendapati suaminya menangis sesengukan, hanya bisa mengelus pelan rambut tebal yang ingin sekali ia miliki pemiliknya.

Dengan segenap kebesaran hati, ia mencoba memberika jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Tak mengapa jika ia harus berkorban, asal keutuhan rumah tangganya bisa terpelihara. Karena bagi Aisyah, setelah menikah, yang tidak ingin sama sekali ia terima adalah perceraian.

"Tidak apa-apa, Mas. Aisyah akan menunggu Mas siap melakukannya. Kapanpun itu".



Bersambung.

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 15)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 15

Sudah sebulan Mas Faiz pergi, suasana rumah terasa ada yang berbeda. Kupikir, tidak bertemu akan membuat hati ini lupa padanya. Tapi ternyata, mengingatnya lebih mudah dari menghela napas.

***

Aisyah membuka kamar yang dahulu amat dihindarinya bahkan untuk sekadar dilirik. Entah apa yang mendorong gadis itu menuju kamar Faiz. Mungkin karena bosan, sendirian menghabiskan dua belas jam di rumah menunggu yang lainnya pulang. Atau sekadar melepas sesuatu yang sudah memenuhi dadanya semenjak sebulan yang lalu.

Aisyah tak bisa membohongi diri, selama Faiz tak lagi terlihat oleh mata, semenjak itulah sesuatu bernama rindu kian menaungi hati.

Ia berjalan mendekati ranjang. Menilik kasur, bantal dan selimut yang tersusun begitu rapi. Sekali waktu, dielus pelan ranjang berbalut seprai dengan motif Bayern Munchen.

'Jadi seperti ini kamarnya.'

Aisyah meneruskan langkah menuju meja belajar. Beberapa berkas tertata dengan teratur di samping kalender duduk. Ada sebuah foto berukuran dompet tertanam di bawah kaca yang melapisi meja. 

Faiz nampak rapi dan menawan dalam kemeja putih lengan panjang lengkap dengan dasi menjuntai sepanjang garis dada.

Aisyah tak dapat menutupi keterpanaan pada pemuda itu. Sejenak seperti ada yang menghentak dadanya, ia segera membuang wajah. 

"Maafkan hamba ya Allah ...."

Perih, ia sudah berjanji akan melupakan Faiz, tapi lagi-lagi ia kalah pada bisikan itu.

Menyadari rasa bersalah di hati kian besar. Aisyah tak ingin lagi berada di kamar itu. Ia membalikkan badannya dengan cepat, namun sesuatu menyentuh tangan hingga terjatuh ke lantai. Penasaran, gadis itu meraih benda tersebut lalu membukanya.

Halaman pertama.

Matanya membelalak menatap rincian tanggal yang tertulis dengan tinta hitam. 

'Kenalan, 15 Januari 2015.'

Angannya terlempar pada masa pertama mengenal Faiz.

***

"Siti Khadijah?".

"Bukan Mas, Siti Aisyah."

"Nggak ada beda, dua-duanya 'kan nama istri Nabi?", ucap Faiz segarang mungkin.

"Ya bedalah Mas, Siti Khadijah ra adalah nama istri Nabi yang pertama, kalau Siti Aisyah ra adalah nama istri Nabi yang kedua."

***

Aisyah tersenyum mengingat bagaimana Faiz berhasil menggodanya waktu itu. Kembali, Aisyah membaca paragraf kedua.

 'Menyatakan cinta, 15 Februari 2015.'

*

"Mas suka kamu...".

Sungguh ia tak menyangka Mas Faiz menyukainya dan berani melamar tanpa bekal apapun pada Bapak.

"Saya ingin melamar Aisyah, Pak."

*

Deg!

Jantungnya berdegup kencang.

'Waktu itu entah apa yang Bapak tak suka dari dirimu, Mas. Apakah karena Bapak trauma pada lelaki bersenjata. Karena setau Aisyah dahulu, Bapak sampai harus pindah dari Aceh karena dituduh oleh aparat Kepolisian sebagai salah satu penggerak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di era pemerintahan Gus Dur. Ya Allah, jika mengingat semua itu, hatiku ingin menjerit kuat.

*

Kembali Aisyah membaca paragraf terakhir.

'Ditinggal kawin 15 Maret 2015. Sungguh dia telah menghancurkan duniaku. Kenapa harus Mas Bara?'

*

'Ya Allah Mas, sungguh Aisyah nggak tahu jika kalian bersaudara.'

Aisyah menghela napas berat. Selintas terbesit pikiran, begitu menyesal karena dahulu tak mampu bertahan pada lamaran Faiz yang ditolak Bapak. Padahal kenyataannya sekarang, Faiz-lah yang kelihatan benar-bemar cinta, sedang Bara yang kini bergelar suami, malah terus mengabaikannya tanpa sedikitpun menaruh simpati.

"Astaghfirullah, maafkan Aisyah Mas!"

Aisyah merasakan dadanya begitu sesak. Menarik napaspun terasa tercekat di kerongkongan.

'Buatlah hati ini benar-benar ikhlas ya Allah ....'

Gadis itu memutuskan untuk meninggalkan kamar tersebut. Saat ingin menutup kembali pintu, Aisyah begitu terkejut mendapati bahunya dicengkeram oleh sebuah tangan. Segera ia menoleh.

"Mas Bara?".

"Kamu ngapain di kamar Faiz?",tanya sang suami yang tampak keheranan.

"Em ....".

Aisyah gelagapan.

"Tadi Aisyah dengar suara berisik di kamar ini, Mas. Jadi Aisyah periksa...".

Bara melewati tubuh istrinya, lalu membuka kembali pintu kamar Faiz yang telah tertutup. Sejenak lelaki itu menoleh ke dalam.

"Nggak ada apa-apa 'kan?"

Bara mengangkat bahu memastikan. Aisyah menggelengkan kepala.

"Mungkin cuma suara cicak..".

Bara mencoba mencari jawaban.

"Iya, Mas. Sepertinya begitu. Mas kok cepat pulangnya?", tanya Aisyah sambil meraih tangan Bara lalu mencium takzim.

"Semua urusan sudah beres, jadi Mas langsung pulang," ucapnya menggantung.

"Aisyah, sebenarnya kita dapat undangan dari Pak Surya, pelanggan tetap restaurant untuk menginap di villa beliau di puncak. Beliau membuat acara anniversary ke dua puluh bersama istrinya di tempat itu. Menurutmu, bagaimana?"

Aisyah tersenyum sebelum menjawab. Mungkin ini adalah kesempatan buatnya mendapat ijazah istri lahir batin dari seorang Bara. Bukankah selama ini suaminya terlihat begitu dingin di atas ranjang, siapa tahu jika berlibur di tempat yang sangat romantis, bisa membangkitkan gairah seorang lelaki normal?

"Hai!" 

Bara menggerak-gerakkan tangan di depan wajah Aisyah.

"Maaf, Mas. Kalau Aisyah sih, mau aja Mas. Selama ini Aisyah juga belum pernah sekalipun ke tempat itu. Pasti asyik," serunya begitu bersemangat.

"Acaranya malam ini, lho?"

"Kalau begitu, biar Aisyah siapkan terus pakaiannya, Mas."

Bara termanggu menatap gadis di hadapannya. Tampak begitu bersemangat. Padahal tadi dia sempat berpikir ingin menolak, tapi saat melihat keinginan yang menggebu di hati sang istri. Rasanya tak tega jika membatalkan.

"Yasudah, bersiaplah. Kita berangkat sehabis Ashar."

***

Setelah melaksanakan shalat Ashar, mereka pun menuruni tangga hingga sampai di lantai satu. Mami yang tengah duduk di ruang teve nampak kaget melihat anak menantunya sudah siap dengan koper di tangan.

"Mau kemana sore-sore begini bawa koper, Bara?"

Keduanya berhenti melangkah, Aisyah segera mendekati mami hendak menyalami.

"Kami mau ke puncak, Mi."

Nindi yang juga ada di ruang itu seketika bereaksi.

"Mau bulan madu, Mas? Telat amat! Hihi." 

Bara tak menggubris, ia hanya melempar pandang pada bola coklat milik istrinya.

"Cie ... Cie."

Nindy kembali menggoda.

"Sudah seharusnya Aisyah itu dibawa bulan madu, Bara. Dan seharusnyapun bukan ke puncak. Tapi ke luar kota, atau ke luar negeri," goda mami membuat Bara dan Aisyah salah tingkah.

"Mi, bulan madu nggak harus kemana-mana kok, di rumah juga bisa."

Aisyah bergetar mendengar ucapan Bara. Memang perkataan lelaki itu sangatlah benar. Tapi apakah yang mereka lakukan selama sebulan ini sudah dikatakan berbulan madu di rumah?

Lagi-lagi gadis itu hanya bisa menghela napas

"Kepergian kami ini, cuma memenuhi undangan klien, Mi."

"Lha terus, bulan madunya kapan donk, Bara? Jangan di rumah, harus keluar rumah gitu. Nyenangin istri itu 'kan dihitung shadaqah. Lagipula Mami membaca Aisyah pasti nggak pernah kemana-mana, wong dia 'kan lulusan pesantren. Wes seneng dia kalau kamu ajak jalan-jalan."

Bara hanya bergeming.

"Satu lagi Bara, kalau nggak sekarang, mau kapan lagi. Nanti kalau Aisyah udah hamil, bawaannya udah malas diajak kemana-mana."

Bara dan Aisyah tersentak bersamaan.

"Ck! Kalau usul Mami sih, jadikan kesempatan ini untuk kalian berbulan madu. Nggak baik disibukin terus sama kerjaan, Bara. Tinggalin dulu semua urusan kamu di dunia usaha, fokus sama Aisyah untuk beberapa hari."

Bara tercenung.

"Iya, Mi," jawabnya singkat.

"Pokoknya, Mami nggak mau besok kalian udah bertengger lagi di rumah, Bar. Maksimal seminggu, minimal tiga hari lah ...."

Bara kembali menoleh ke arah sang istri. Yang juga ternyata sedang melempar pandang pada kedua matanya. Sejenak ia menyunggingkan senyuman.

"Iya, Mi. Kami akan liburan selama beberapa hari."

"Dan, setelah pulang liburan, Mami harap sudah ada kabar pasti tentang kehadiran calon cucu Mami, ya Mas Bara."

Seketika lelaki itu berdehem untuk menutupi ketidakstabilan rasa, ketika mendengar kata calon cucu keluar dari mulut maminya. 

Sedang Aisyah, tampak menunduk malu. Meski sejujurnya, hal ini pula yang telah dipikirkan oleh hatinya sedari awal.

***
 
Sekitar sepuluh menit mereka mendapat siraman nasihat dari sang ibu. Setelah melewati beberapa pertanyaan penutup, akhirnya keduanya diperbolehkan untuk meneruskan perjalanan. 

Kurang lebih satu jam, mereka sampai di kawasan Villa Arjuna Puncak Resort. Villa yang terdiri dari dua lantai ini terletak di kawasan Sukanagalih, Cipanas. Ada empat kamar dengan dua kamar mandi, terdapat dalam satu villa.

Bara mengira, keluarga kecilnya akan menempati satu villa yang sama dengan keluarga besar Pak Surya, yang sudah memiliki empat buah hati. Ternyata mereka malah di tempatkan berdua saja dalam satu villa.

"Ayo masuk," ajak Bara pada Aisyah setelah memarkirkan mobil.

Suasana saat itu amat sejuk, sepoi angin penghujung hari membelai lembut khimar besar yang digunakan Aisyah. Ia mengikuti langkah tegap suami memasuki rumah yang berdasar hijau muda itu.

Berdesir dada Aisyah saat untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki melewati batas pintu memasuki villa. Seperti ada yang menyentak, jantungnya tiba-tiba berpacu kencang. Terlebih saat mendengar sesuatu keluar dari mulut sang suami.

"Mau tidur dimana? Lantai atas atau lantai bawah?".

Yang terpikir di benak Aisyah saat itu adalah yang kebanyakan dipikir oleh seorang gadis berstatus pengantin baru. 

'Memadu kasih sepanjang malam bersama pasangan halal.'

Terlebih selama menikah, ini adalah perjalanan pertama mereka keluar rumah.

'Ah, benarkah ini bulan madu kita, Mas?'

Secercah bahagia menyeruak di hati gadis itu. Persatuan mereka amat ia harapkan, karena sebelum menikah ibunya pernah berpesan, 'menikahlah dengan siapapun meskipun kamu belum mencintai lelaki itu. Asalkan dia baik, taat agama, lembut dan sayang sama keluargamu. Karena setelah kamu melalui satu malam saja bersamanya dengan penuh keikhlasan, kamu akan tahu bagaimana hatimu begitu mudah mencintainya, Anakku.'

"Aisyah ....".

Gadis itu tersentak ketika Bara memanggil-manggil namanya sambil menggerakkan-gerakkan tangan.

"Kalau Mas nggak keberatan, Aisyah mau tidur di lantai atas aja, Mas."

"Oke, nggak masalah. Ya sudah yuk," ajaknya dengan kembali menggerakkan langkah. Tak ada pegangan tangan padahal jelas sebelah tangan lelaki itu bebas dari memegang benda apapun. 

Langkah Bara juga terlihat begitu cepat, seakan ia tak merasa ada yang sedang mengekornya dari belakang. Dan seseorang itu tak lain adalah istrinya.

Kenyataan itu membuat angan Aisyah yang tadi sempat melambung tinggi seketika terhempas ke jurang terdalam. Detik itu ia semakin yakin, bahwa tak ada namanya dalam hati Bara.

'Katakan Mas, selain memenuhi undangan, tak adakah hal lain yang ingin kau lalui bersamaku malam ini?'

Tak disadari, air mata gadis itu mulai mengenangi pelupuk. Ia kembalikan bulir-bulir itu agar tak berjatuhan dengan mengerjap beberapa kali.

Sayang, embun itu sudah terlalu jauh untuk kembali ke peraduan. Aisyah kini menangis, sendiri di belakang Bara.



Bersambung.

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 14)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 14

Aisyah menatap sosok yang kini berdiri dipintu teras rumahnya. Ada kekecewaan yang mencoba menguasai hati. Nyatanya, sosok ini telah menjadi sebab kenapa Aisyah tak hadir saat ibunya mengembuskan napas terakhir. 

Tapi, tak jua dapat ditutupi, kelegaan saat melihat sang suami dalam keadaan sehat, tak kurang satu apapun.

Aisyah berjalan perlahan mendekati sosok itu. Saat ia meraih tangan suaminya untuk ia cium seperti biasa, diwaktu itu pula tubuhnya tersungkur ke lantai.

Sudah terlalu lama ia bertahan, kini bukan saja jiwanya yang lemah. Tubuhnya pun tak mampu lagi memendam segala rasa.

"Aisyah!"....

Teriakan Bara masih terdengar di telinga gadis itu. Sebelum semua, benar-benar gelap.

***

Sudah satu jam Aisyah pingsan. Bara terlihat tenang menunggui didalam kamar. Sedang Faiz terlihat mondar mandir keluar masuk rumah. Selalu menjadi tempat Pak Rahman meminta tolong, entah itu untuk membentang terpal, bahkan hingga membeli keperluan pemakaman.

Tepat jarum merah berdetak di angka dua belas, sedang jarum pendek berada di angka sebelas. Kedua netra kecoklatan milik Aisyah terbuka perlahan. Gadis itu memandang nanar pada langit-langit kamar, lalu menarik wajah ke arah samping. Masih serupa bayangan, ia melihat seseorang duduk sambil membaca buku di atas meja belajar miliknya.

"Mas Faiz ....".

Ia mencoba memanggil sosok yang sedang membaca itu. Sosok itupun bangkit mendekat. 

Aisyah mengerjap, memperjelas pandangan.

Lelaki yang tadi ia panggil berjalan mendekat.

"Kamu sudah sadar, Aisyah?" tanya lelaki itu  sambil mengelus pucuk kepala Aisyah.

"Mas Bara ...."

.

"Iya, ini saya. Maafkan Mas karena pulang terlambat. Mas, merasa amat bersalah padamu ...."

Lelaki itu menatap lekat manik sang istri yang kini tampak berkaca. Tak ada genggaman tangan, atau pelukan layaknya pasangan lain jika meminta maaf untuk sebuah kesalahan besar.

Hanya kata ...

"Jangan menangis ...."

Hanya itu?

Air mata Aisyah semakin deras mengucur, dua perasaan, kecewa-lega, tak mau menyingkir sama sekali. Ingin ia menanyakan alasan, kenapa sampai mematikan ponsel. Tapi ia lupa cara memanjakan diri pada seorang lelaki yang sudah bergelar suami.

Tok ... Tok ...

Suara ketukan pintu kamar membuat keduanya terhenyak.

"Aisyah sudah sadar, Bara?"

Maminya muncul dari balik pintu.

"Alhamdulillah, sudah Mi."

Mami melangkah memasuki kamar dengan raut lega. Masih di tempat yang sama, setelah mami Bara melangkah maju. Sosok yang sedaritadi dipertanyakan benak Aisyah, tampak berdiri gagah.

Faiz!

Aisyah segera menundukkan pandangannya. Tanpa ia perintah, buliran bening kembali mengembun membasahi pipi.

'Ya Allah, kenapa hati ini masih terikat pada mencintainya? Kenapa selalu Engkau hadirkan dia disaat hamba dalam kesedihan, kenapa kesempurnaan itu Engkau beri padanya, bukan pada suamiku?'

"Kamu baik-baik saja anakku, yang sabar, ya. Mami tahu gimana perasaanmu. Tapi kamu harus kuat, harus ikhlas."

Pandangan Aisyah kembali tertuju pada Bara, entah kenapa ia ingin orang yang menyemangatinya bukan yang lain, melainkan suaminya sendiri. Tapi seolah menutup mata hati, setelah kehadiran mami. Bara memilih duduk kembali di kursi baca.

'Apa kau tak mencintaiku, Mas. Jangan abaikan aku disaat aku membutuhkanmu ...."

Faiz memerhati keadaan dalam kamar dengan seksama.

'Yang sabar, Syah. Aku memang tak tahu persis apa yang membuatmu menangis, mungkin karena kepergian ibumu, atau karena kakakku yang tak punya hati itu. Kamu hanya harus yakin, Syah, semua indah pada waktunya. Allah takkan membiarkan air matamu keluar sia-sia, pasti Ia akan segera merubah segalanya.'

Faiz menghela napas panjang, ingin ia menghampiri. Tapi tak mungkin. Beberapa hati ini, kentara sekali ia mendapati perubahan sikap Aisyah padanya. 

'Semoga Mas Bara segera melupakan Alifa, dan belajar mencintaimu Aisyah. Sebagaimana engkau terlihat sangat mencintainya.'

Faiz melesat jauh dari rumah duka. Berlama di tempat itu hanya akan membuat jiwa perempuan dalam dirinya meronta.

Ia memilih berhenti pada sebuah kios kecil pinggiran jalan. Hatinya berperang hebat!

'Katanya sabu bisa membuat lupa diri, tapi candu sabu membuat lupa Allah!'

Faiz menggeleng-gelengkan kepalanya. Bodoh jika patah hati membuatnya ingin mencecapi barang laknat itu! 

"Minta rokoknya satu bungkus, Mang."

Lelaki pemilik kios itu menyerahkan sebungkus rokok.

"Mancisnya, Mang."

Lelaki itu kembali mengulurkan mancis.

"Ini uangnya, kembalian ambil aja buat beli gadis kecil itu mainan," ucap Faiz sambil melirik gadis kecil yang sedang bermain tanah di pinggir kios.

Kini ia kembali menaiki mobilnya. Pemuda itu memilih bergeming sejenak. Wajah Aisyah saat menanti kedatangan Bara terngiang-ngiang dalam benaknya. Sambil pikiran diajak melambung jauh, tangan Faiz tergerak untuk menyalakan sebatang rokok yang baru ia beli tadi. 

"Belum pernah aku mencobanya. Tapi ini nggak haram, hanya makruh!" lirihnya pelan.

Ia mulai menyalakan batang rokok itu. Tarikan pertama, terasa ada yang mencekik lehernya. Bukan karena asap yang mengandung Nikotin dan Tar. Melainkan cintanya untuk Aisyah! 

Semakin kuat ia menghapus, semakin sakit terasa di dada!

Faiz menghentikan menghisap rokok pertama seumur hidupnya. Lalu dia ... menangis.

***

Satu minggu terasa amat cepat berlalu. Faiz sudah bersiap dengan pakaian kebanggaan SAMAPTA lengkap dengan baretnya.  Hari ini dia dan beberapa personil lainnya akan diberangkatkan ke Aceh selama setahun.

Faiz mematut diri di depan cermin, beberapa waktu lalu sempat frustasi dan memilih lari pada sebatang rokok!

Mengingat hal itu, ia ingin menertawai diri. Harusnya saat frustasi, aku menyibukkan diri dengan Al Qur'an, mengulang hafalan dan mendalami tafsirnya. Setelah istikharah walau hanya semalam ia mantap untuk mencari pengganti Aisyah. 

Semoga saat kembali ke Jakarta, ia bisa membawa pulang nama calon menantu untuk maminya.

Ia meraih tas ransel, lalu beranjak ke lantai bawah. Semua sudah siap mengantar Faiz ke bandara. Ada mami, Nindi, juga Bara. 

Mana Aisyah?

"Aisyah kemana? Nggak ikut mengantar?" tanya mami sebelum menaiki mobil yang akan dikemudikan oleh Bara.

"Aisyah kurang sehat, Mi. Tadi Bara suruh Aisyah istirahat biar nggak sakit."

"Oh, yaudah."

Faiz menghela napas, sejujurnya ada kecewa yang mendera hati. Ingin rasanya ia berpamitan pada gadis itu.

'Semoga kamu selalu sehat Aisyah.'

Ia kembali menggerakkan langkahnya, namun entah kenapa netra pemuda itu diajak melirik jendela kamar kakaknya di lantai dua.

Benar atau salah, dia dapat melihat gadis itu, bersembunyi di balik gorden untuk melihat kepergiannya. Faiz tersenyum. 

'Selamat tinggal Aisyah."

Sedang di kamarnya, Aisyah menyeka sebulir bening yang menetes di sudut mata.

'Selamat jalan Mas Faiz. Semoga Allah selalu melindungimu.'

Aisyah kembali membuka selembar kertas. Semalaman ia menulis sebuah surat terbuka pada Allah.

Bismillahirrahmanirrahim...

Aku bersyukur pada-Mu Rabb, karena sampai detik ini Engkau masih mengaruniakanku dan dirinya nafas. Aku tahu, semua hanya untuk satu tujuan, semakin mendekatkan diri pada-Mu.

Maafkan aku ya Rabb, sempat memabukkan diri pada cinta yang salah. Aku pasti telah membuat-Mu marah, marah karena memandangnya dengan ratapan cinta, marah karena setitik sentuhan padahal tak halal untuk disentuh. Marah karena membiarkan lamunanku penuh akan bayangannya.

Maafkan aku ya Rabb...

Tapi kini, aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik dari-Nya. Yang tidak pernah mengantuk dan Tak Pernah Tidur. Yang siap terus menerus Memperhatikanku dan Mengurusku. Yang bersedia berduaan di sepertiga malam. Yang siap Memberi apapun yang kupunya. Engkau yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.

Ijinkan kupersembahkan cinta ini hanya pada-Mu, ya Rabb. Ampuni aku, berikan aku kebaikan, sebagaimana siapapun tak berkuasa memberi kecuali atas kehendak-Mu.

***

Aisyah menutup surat cintanya untuk Allah, sedang tangan ia gunakan untuk menyapu mata.

'Aku percaya, jika kita mendekati Allah, Allah akan mendekatkan kita pada hal baik. Jangan berharap cepat. Karena semua akan indah jika telah sampai waktunya. Kamu harus meyakini itu, Mas Faiz.'



Bersambung

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...