Rabu, 16 Desember 2020

Rebo Wekasan

kotretaniyek Hari Rabu terakhir di bulan Shafar biasa di sebut Rebo Wekasan. Di tempat tinggalku biasanya pengurus DKM suka memberi pengumuman agar pagi hari di hari Rabu itu berkumpul di mesjid untuk melaksanakan shalat sunat. Biasanya ibu - ibu pengajian selalu memenuhi masjid di kampung itu. Bapak-bapak, muda mudi sampai anak-anak pun ikut hadir jika tidak ada kegiatan lain. Kebetulan hari itu, sekolah di laksanakan di rumah atau BDR Belajar Di Rumah karena pandemi Covid-19. Jadi anak-anak ikut hadir di masjid itu. 
Kegiatan itu di pimpin oleh seorang kiayi yang selalu membimbing di kampung itu. Ketika jamaah sudah berkumpul, pak kiayi pun memulai tugas nya memberi pengarahan tentang hari itu.
Disebutkannya, bahwa rebo Wekasan itu adalah hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Menurut para ahli sufi golongan tertentu, mengatakan bahwasannya Alloh SWT menurunkan 1500 balai di hari tersebut. Maka kita selaku umat muslim, meminta perlindungan agar terhindar dari balai dan musibah. 
Kenapa di Mesjid? Karena mesjid itu adalah tempat terbaik bagi umat islam. Kemudian pak kiayi menerangkan bahwa di hari ini sekitar jam 7 lebih kita melaksanakan shalat sunat hajat.
Kenapa melaksanakan shalat? Karena pada waktu shalat lah seorang hamba berada dekat dengan Alloh SWT, disana waktunya meminta dan memohon ampunanNya.
Tata cara melaksana shalat sunat hajat diawali dengan niat shalat sunat hajat, yang membedakan adalah bacaan setelah Al-fatihah, yakni membaca surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Al-ikhlash 5 kali, Al-falak dan An-Nas masing-masing satu kali. Dilaksanakan masing-masing tanpa berjamaah. Dilaksanakan 2 rakaat sebanyak dua kali.
Kemudian setelah selesai shalat, menurut ijtihad pak kiayi tersebut bersama membacakan surat Al-fatihah sebanyak 7 kali, Al-ikhlash 7kali, Al-falak 7kali, An-Nas 7kali, Al-insirah 7kali, kemudian shalawat 7kali dan diakhiri dengan doa. 



Ada satu wejangan yang teringat dari pak kiayi, yang berdasarkan ilmu psikologi dan secara agama. Ketika kita keluar rumah, kemudian bertemu dengan orang lain, kita doakan sampai dengan 10 orang.
Misal, pertama kita bertemu dengan anak yang mau berangkat sekolah, kita doakan semoga menjadi anak pintar misalnya, bertemu dengan petani, kita doakan semoga hasil tani nya bagus dan sampai 10 orang. Insya Alloh, kita di sana akan merasakan ketenangan hidup.

Rukun Islam

kotretaniyek Rukun Islam ada 5, yaitu :

Rukun Islam ada lima perkara, yaitu:

  1. Bersaksi bahwa tiada ada tuhan yang haq kecuali Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah utusanNya.
  2. Mendirikan sholat (lima waktu).
  3. Menunaikan zakat.
  4. Puasa Romadhan.
  5. Ibadah haji ke baitullah bagi yang telah mampu melaksanakannya.
Sebagai orang Islam pasti mengetahui rukun Islam ini, dari kecil kita biasa di ajarkan rukun Islam. Setelah menginjak dewasa atau baligh sudah saatnya kita memahami makna dari rukun Islam tersebut.
Selanjutnya kita dituntut untuk melaksanakannya atau mengamalkannya.

Minggu, 27 September 2020

Dengki

kotretaniyek Ada suatu penyakit hati yang mendzolimi orang lain, tapi diri sendiri yang tersakiti, yaitu penyakit hasad atau dengki. Prinsipnya SMS yakni Susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah. 
Padahal Rasulullah SAW telah bersabda tentang bahaya dari sifat dengki, yaitu bisa memakan amal kebaikan diri kita seperti api membakar kayu bakar. 
“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda: “Jauhilah hasad (dengki), karena dapat  memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR Abu Dawud)
Sudah jelas sangat merugi jika kita memiliki penyakit ini. Padahal, misalnya kita dengki terhadap seseorang, belum tentu orang yang kita dengki akan berkurang rezekinya, amalnya, jabatan atau pangkatnya. Karena itu semua Alloh SWT yang mengatur karena Alloh SWT maha berkuasa, maha perkasa dan maha bijaksana.
Jadi untuk kita selaku umat muslim, sudah seharusnya kita meninggalkan penyakit ini. Seharusnya kita perbanyak bersyukur atas segala pemberian Alloh SWT. 

Sabtu, 19 September 2020

Hal Kecil Yang Besar

kotretaniyek Entah ini hari yang ke berapa dunia yang kita pijak ini dilanda pandemi Covid-19. Hati ini menangis ketika melihat berita dengan angka-angka yang bergerak terus. Seperti tak ada berguna hidupku ini, belum bisa melakukan sesuatu untuk orang sekitar, apalagi untuk bangsa dan negara. Mungkin mentaati peraturan dan anjuran pemerintah menjadi sesuatu yang bisa kulakukan untuk bersama melawan virus itu. 
Memang betul ternyata nikmat sehat itu adalah nikmat yang begitu besar, anugerah terbesar yang Allah SWT berikan kepada kita. 
Banyak sekali sebenarnya yang bisa kita lakukan untuk ikut bersama melawan pandemi ini. Namun menjaga diri, keluarga, dan tempat sekitar juga merupakan hal kecil yang besar yang bisa kita lakukan bersama. Ketika orang lain yang memiliki harta berlebih, mereka memberi harta mereka. Ketika orang lain memiliki ilmu pengetahuan yang luas, mereka memberikan ide dan pandangan hebat mereka. Ketika orang lain memiliki kekuatan besar, mereka menguras tenaga mereka untuk jiwa yang lainnya. Ketika mereka punya pangkat dan jabatan, mereka bisa membuat kebijakan untuk kebaikan rakyatnya. 
Kita sebagai rakyat biasa bisa menjadi luar bisa dengan hal kecil yang besar, salah satunya dengan menjalankan anjuran pemerintah untuk menjalani protokol kesehatan yang sudah di arahkan.
Semoga ini secepatnya berakhir.

Sabtu, 29 Agustus 2020

Kesempatan

kotretaniyek Kesempatan merupakan sebuah peristiwa untuk kita bisa memperbaiki kembali jika terjadi sebuah kesalahan atau kekhilafan. Tidak semua manusia bisa mendapatkan kesempatan terbaik di dunia ini. Biasanya manusia yang tidak diberi kesempatan untuk merubah atau untuk memperbaiki, akan berujung rasa penyesalan. 
Ketika kita masih berada di dunia ini, sepertinya kita punya banyak kesempatan namun kita janrang bahkan tidak mau menggunakan kesempatan yang di berikan itu.
Di kacamata agama, kesempatan biasanya sedikit identik dengan pertaubatan. Misal, ketika kita diberi sebuah peristiwa kecelakaan, kemudian tidak terlalu parah, disana kita biasanya berfikir bahwasannya Alloh SWT masih memberi kesempatan dan peringatan kepada kita untuk bisa kembali atau bisa merasa menyesal yang kemudian kita memperbaikinya.
Alloh SWT selalu memberi kesempatan untuk hambaNya yang ingin berubah. Karena Alloh SWT maha pengampun, maha penyayang. Tinggal kita yang meski tahu diri bahwa kita adalah hambaNya yang lemah. 

Senin, 27 Juli 2020

Contoh Soal Matematika Kelas 7 Operasi Bilangan Bulat

kotretaniyek Berikut ini adalah beberapa contoh soal matematika yang kaitannya dengan operasi bilangan bulat, dilengkapi dengan pembahasannya. Semoga bermanfaat.

Contoh 1: Soal UN Matematika SMP/MTs Tahun 2012
Hasil dari 5 + [6 : (−3)] adalah….
A.     7
B.     4
C.     3
D.     −2
 
Pembahasan:

  \[ 5 + \left[ 6 : (−3) \right] = 5 + (−2) \]

  \[ = 5 - 2 \]

  \[ = 3 \]

Jawaban: C

 
 
Contoh 2: Soal UN Matematika SMP/MTs 2011
Hasil dari (−20) + 7 x 5 − 18 : (−3) adalah…
A.     −21
B.     −14
C.     14
D.     21
 
Pembahasan:

  \[ (−20) + 7 \times 5 − 18 : (−3) = −20 + 35 − (−6) \]

  \[ = −20 + 35 + 6 \]

  \[ = 21 \]

Jawaban: D

 
 
Contoh 3: Soal UN Matematika SMP/MTs 2010
Hasil dari −6 + (6 : 2) − ((−3) \times 3) adalah ….
A.     0
B.     3
C.     6
D.     9
 
Pembahasan:

  \[ −6 + ( 6 : 2 ) −((−3) \times 3 ) = −6 + 3 − (−9) \]

  \[ = −6 + 3 + 9 \]

  \[ = 6 \]

Jawaban: C

 
 
Contoh 4: Soal UN Matematika SMP/MTs 2009
Hasil dari (−18 + 30) : (−3 − 1) adalah…..
A.     –12
B.     –3
C.     3
D.     12
 
Pembahasan:

  \[ (−18 + 30) : (−3 − 1) = 12 : (−4) \]

  \[ = −3 \]

Jawaban: B

Selasa, 21 Juli 2020

Pengenalan Prakarya (Khusu untuk kelas 7 SMPN 2 Cikijing)

kotretaniyek Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum.... Semoga hari ini kita masih tetap berada dalam lindungan dan Ridha Alloh SWT, aamiin.
Catatan ini khusus untuk kelas 7 SMPN 2 Cikijing, mengenal sedikit tentang prakarya, karena mungkin di SD belum ada atau tidak ada secara khusus belajar pelajaran ini. Maka dari itu, sikahkan untuk mengenal apa itu prakarya, langkah paling mudah adalah buka buku paket tanpa di baca, lihat-lihat gambar yang yg tampak di sana. Selanjutnya, baca judul-judul atau sub judul yang ada. Mungkin dari sana kita sudah sedikit bisa menyimpulkan apa itu prakarya.
Pada pertemuan pertama ini, silahkan kalian buka link di bawah, kemudian isi jawabannya. Satu handphone bisa untuk beberapa orang, asal berbeda namanya. 
Pengisian ini hanya bersifat anjuran saja, berarti tidak wajib jika tidak paham atau belum bisa, sikahkan bertanya pada kawan sekitarmu jika ingin coba mengisi.
Berikut adalah link untuk menjawab beberapa pertanyaan atau respon dari kalian.
https://bit.ly/pengenalan-prakarya7
Silahkan klik tautan di atas!

Rabu, 01 Juli 2020

Rezeki Itu Punya Alamat

kotretaniyek Kalau rizqi itu diukur dari kerja keras...
maka kuli bangunan lah yg akan cepat kaya.
 
Jika rizqi itu ditentukan dr waktu kerja...
maka warung kopi 24 jam lah yg akan lbh mendapatkanya..
bahkan mungkin mampu mengalahkah KFC dan Mc. DONALD

Jika rizki itu milik orang pintar...
maka dosen yg bergelar panjang yg akan lbh kaya...

Jika rizqi itu karena jabatan...
maka presiden dan rajalah orang yg akan menduduki 100 orang terkaya di dunia..

Rizqi itu karena kasih sayang Allah.

" Mengejar rizqi, jangan mengejar jumlahnya, tetapi berkahnya."
( Ali bin Abi Thalib )

MESKIPUN LARI, RIZKIMU AKAN TETAP MENGEJARMU

“Kalaulah anak Adam lari dari rizqinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rizqinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR Ibnu Hibban No. 1084)

Miskin kaya sudah ada yang mengaturnya.

ABDURRAHMAN BIN AUF SELALU GAGAL JADI ORANG MISKIN

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi "down",  dalem terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, Abdurrahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. 
Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. 

Abdurrahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi  dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur, Alhamdulillah, kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Sahabat gembira. 
Abdurrahman bin Auf r.a pun juga gembira.

Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku.
Abdurrahman bin Auf r.a gembira juga, sebab berharap
jatuh miskin!

Masya Allah, hebat.

Coba kalau kita ? Usaha diuji dikit, udah teriak tak tentu arah.

Abdurrahman bin Auf r.a merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin. 

Namun, Masya Allah
Rencana Allah Subhanahu wa ta'ala itu memang terbaik...

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah KURMA BUSUK !

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Subhanalloh
Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah:

"Wahai manusia, di langit ada rizqi bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian " (Qs. Adz Dzariat, 22 )

Jadi, yang banyak memberi rizqi itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

Allah Subhanahu wa ta'ala lah yang Memberi rizqi

Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita semua,  yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita, UNTUK LEBIH MENGUTAMAKAN URUSAN KEPADA ALLAH dibanding urusan dunia yang sementara ini...

*آمِــــــــــيْÙ†َ ÙŠَا رَبَّ الْعَالَÙ…ِــــــــــيْÙ†َ*

Senin, 22 Juni 2020

KALANGSU 45

K A L A N G S U
_Yasana : Titin Wiarti_
Bagian ka-45

Waktu nyedek ka soré, di imah Rahma ngumpul adina nu keur silihgonjak jeung Arya nyacapkeun kasono. Rahma ukur neuteup ti kajauhan. Manéhna reugreug nempo adina nu keur suka bungah. Arya témbong nyaah pisan ka adina, meusmeus ngusap buuk Rizal nu ogo. Rahma teu apaleun yén Arya kungsi kagegeringan ku manéhna ampir teu inget ka dirina sorangan.

Ba'da asar Arya amitan, manéhna jangji dua poé deui bakal ka dinya deui pikeun nyaksian Rahma. Rio jajap nepi ka hareup.

Di imah, Wira nyampeurkeun Rahma nu keur mérésan gelas urut ngarinum.
"Rahma, calik heula!" ceuk Wira.
"Kumaha, Pa?" tanya Rahma panasaran.
"Hampura Bapa, kasebutna hidep rék dirapalan tapi Bapa teu bisa méré nanaon. Lain aya teu dibikeun, tapi da sakieu buktina," Wira nyarita bari dareuda.
"Wios teuing, Pa! Bujeng-bujeng Bapa dalah abdi ogé teu mantuan nanaon ka Andi. Abdi mah teu terang itu-ieuna, Andi wé sareng Bu Aminah nu ngaturna. Sakapeung mah abdi ogé sok ngaraos isin," ceuk Rahma bari neuteup ka bapana.
"Ieu mah ngajimatan loba mah henteu, tamba pamali wé."
Wira ngasongkeun amplop. Haténa mah angger nalangsa mun inget asal-usulna éta duit. Duit tabungan Arya nu ngahaja dikumpulkeun jang nanyaan Nisa.
"Teu kedah, Pa! Simpen wé kanggo Bapa. Ieu ogé aya sakalieun abdi mah." Rahma neundeun deui amplop kana lahunan bapana.
"Rawatan! Bapa bakal nalangsa lamun hidep teu narima," pokna teh bari ngasongkeun deui amplop ka Rahma.
Rahma kapaksa nampanan, "Nuhun, atuh, Pa! Mugia kagentosan deui langkung ti kieu."

***

Sabot tas ti Garut, Rahma teu pernah papanggih deui jeung Andi. Andi sibuk ngurus keur acara, bari kudu ka kantor nguruskeun pagawéan. Nelepon sakali-sakali lamun pareng aya perlu hungkul.
Mun diidinan mah hayang manéhna ogé mantuan sakamampuh manéhna, tapi pan teu dimeunangan. Nyebutna téh 'surprise', cenah.

Mingkin deukeut haténa mingkin degdegan, rareuwas, seseblakan, sakapeung mah asa teu percaya manéhna bakal diwalimahan poé éta. Boa wadul, boa moal tulus, bakuna mah kapan pédah acarana moal di imah jadi teu karasa, siga euweuh persiapan nanaon.

Ngoloyong ka kamar ninggalkeun bapana nu keur ngariung jeung anak lalakina, Rahma ngagoledag. Muka HP macaan urut 'chart' jeung Andi. Sababaraha poto manéhna keur di hiji tempat dikirim pikeun bukti ka ka manéhna. Poto diusap, asa can percaya jalma nu aya 'na poto éta baris jadi salakina. Asa anyar kénéh wawuh, teu nyangka Andi bakal neundeun harepan ka manéhna. Papanggih teu dihaja, kacilakaan harita mawa duriat pikeun manéhna.
Gagah, kasép, beunghar, bageur, bagja pisan pikeun saha baé nu jadi praméswarina, tapi Rahma masih cangcaya kana haténa, haté manéhna sorangan. Naha manéhna bener-bener bisa narima Andi? Nyaah ka Andi sakumaha Andi nyaah ka manéhna? Naha bet karasa ngageter lamun paadu teuteup jeung Kang Arya? Karunya, nalangsa. Naha salah lamun manéhna nyieun kaputusan kieu?
Galécok haténa teu bisa dijawab. Poto Andi diteuteup hiji-hiji, nyéh imut basa nempo Andi keur ngajebian.
Tring! Hp disada.
[Online baé! Nuju naon?] WA ti Andi.

[Nuju di kamar!]

[Sami atuh! Nuju émut ka Andi, nya?]

[Muhun!]

[Lah sok bohong, badé iraha atuh émutna?]
Rahma asa diciwit dipurilitkeun, nyeri. Haté Andi seukeut siga bisa maca pikiranana.
[Nyaan, ieu nuju ningalian poto Andi.]

[Sono, nya! Andi mah komo asa disééh, tos sababaraha dinten teu pendak téh. Tapi wios lah, béh engké sosonoanana disakantenankeun.]

[Muhun...]

[Énjing badé aya nu ngajemput, Tuan Putri ka salon, nya! Perawatan béh wangi.]

[Muhun...]

[Geura kulem, teu kénging gadang baé, abdi mah aya kénéh pidameleun sakedik deui. Lopyu sayang.]

[Lopyu too!]

Rahma ngagolérkeun HPna, laju noong nu tadi guntreng di rohangan tengah. Talibra.

Hanca

KAKANGSU 44

K A L A N G S U
_Yasana : Titin Wiarti_
Bagian ka-44

Wira diuk di téras imahna, ngahuleng mikiran Rahma nu rék lakirabi. Salaku bapa, kuduna manéhna nu tanggung jawab. Nyawang kaayaan Rahma nu ukur jeung barudak hungkul, Wira ngarasa melang.
Uleng mikiran Rahma, manéhna sasat teu boga naon-naon nu baris dibikeun ka anak. Usaha geus teu mampuh, kakayaan geus nungtut dijualan paké tatamba. Lalakon hirup manéhna ngan ukur nyésakeun kabingung.

Arya bangun nu surti kana naon nu keur dipikiran ku Wira, manéhna nyampeurkeun. Gék diuk gigireunana.
"Pa...!" ceuk Arya bangun nu kararagok.
Wira ngalieuk, gancang nyusut cimata nu beueus.
"Teu kénging seueur émutan," pokna deui.
Wira ngarahuh, kumaha teu rék jadi pikiran, rék ngawinkeun bari dibéré waktu ukur saminggu. Sanajan sagala rupana ditanggung jawab ku pihak lalaki, tapi manéhna ogé hayang mahanan ka nu jadi anak.
"Bingung nyaritakeunana, Jang! Bapa éra ku Rahma, éra ku Andi, kaciri pisan Bapa téh teu walakaya. Euweuh pangaji, euweuh tanggung jawabna," pokna téh bari dareuda.
"Bapa anggo baé artos abdi nu kamari ladang ti kebon, lumayan kanggo mahanan Rahma alakadarna," ceuk Arya daria.
"Ulah! Keun éta mah, pan hidep ogé bakal boga kahayang. Rék ti mana ngagantianana,"
"Gampil abdi mah, Pa! Kabujeng milarian deui ogé."
Arya méré sumanget ka bapana. Wira teu némbalan, nalangsa euweuh bandinganana. Ras inget kana lalakon diri nu geus ninggalkeun Rahma bari teu miroséa pisan. Ayeuna Rahma geus sawawa manjing rumah tangga, manéhna teu bisa kukumaha. Lain teu hayang méré, tapi pan sakieu buktina, keur sapopoé ogé sasatna mun euweuh Arya mah angger bingung.

Bari jeung ngarasa beurat ogé teu burung Wira narima duit ti Arya. Cimata ngawakilan haténa, Wira nganuhunkeun kana kahadéan Arya.
"Bapa rék tiheula ka Bandung, melang ka Rahma. Hidep mah engké wé bareng jeung Ema hidep," ceu Wira.
"Badé iraha ka Bandungna?" tanya Arya.
"Isuk wé isuk-isuk ayeuna mah kagok geus burit."
"Muhun atuh! Wios ku abdi diréncangan."
"Ulah teuing, Bapa gé ludeung,"
"Pan abdi melang ka Bapa angkat nyalira mah, wios diréncangan baé."
"Nya atuh ari kitu mah."

Isukna Arya jeung Wira geus siap, mangkat ka Bandung 'na beus. Teu loba nu dicaritakeun, Wira jeung Arya anteng jeung pikiran séwang-séwangan.

Teu kacaturkeun di jalanna, duanana geus nepi ka Bandung. Ngincig muru imah nu lawas jadi panineunganana. Budak tingjéréweét silihudag, disérangkeun ku manéhna bari ngopi di téras imah. Ayeuna budak geus sawawa, loba pisan waktu nu kapiceun tanpa marengan maranéhanana.

Jempling, teu katémbong ilaharna nu rék aya gawéan. Kituna mah pantes da sagala ditangkes ku Andi, Rahma mah tinggal ngaligincing mawa awak sakujur.
"Assalamu'alaikum!" ceuk Wira.
"Waalaikumsalam!"
Rahma norojol ti jero imah.
"Aéh Bapa! Teu ngawartosan badé ka dieu," ceuk Rahma bari salim, rét ka Arya nu nangtung gigireun bapana.
"Kang Arya...!" pokna.
"Melang Bapa angkat nyalira, ku Akang dijajapkeun," ceuk Arya bari ngécagkeun tas babawaanana.

"Barudak mah sakola, Néng?" Wira nanyakeun Rio jeung adi-adina.
"Sakola, Pa! Sakedap deui ogé mulih," ceuk Rahma bari nanggeuy lampan hol ti dapur.
"Sok dileueut heula, capé panginten di jalan ogé," Rahma neundeun gelas cientéh 'na luhur méja.
Manéhna ngarasa bungah bapana datang téh. Asa teu cuang-cieung teuing.
"Alhamdulillah Bapa ka dieu, abdi bingah," cenah bari ngalimba.
"Bapa ogé melang ka hidep, inget baé. Mana ayeuna Bapa ka dieu ogé."
"Abdi teu acan ngembang ka Ema. Maksadna mah badé engké ngantosan barudak marulih ti sakolana."
Haté Wira asa tingsérését ngadéngé Rahma nyarita kitu. Ras inget manéhna geus tambelar ka nu jadi pamajikan, ninggalkeun tanggung jawab; ninggalkeun budak saopat-opat nu keur meumeujeuhna uruseun. Tug nepi ka hanteuna dipundut ku Nu Kawasa, kasalahan manéhna geus moal bisa dihampura. Ningsih, indungna Rahma ayeuna geus tenang di kalanggengan, indit salilana mawa kapeurih nu kungsi Wira guratkeun dina jero haténa.
Waktu teu bisa diputer deui, sagala laku lampahna ukur nyésakeun rasa hanjakal.

Ba'da lohor Rio Reza katut Rizal geus daratang ti sakolana. Nyampak aya bapana jeung Arya téh mani barungaheun teu sirikna digabrugan, sono, cenah.

Sanggeus ngareureuh, saréréa marangkat rék ngembang ka makam Ningsih nu tempatna rada jauh ti dinya.
Anjog ka makam, Arya mingpin ngadunga nu séjénna ngahaminan. Wira teu eureun ngaluarkeun cimata, nalangsa inget kana kalakuan.
"Ma, dinten Minggu abdi badé diwalimahan. Mugi abdi teu lepat léngkah, mugi abdi kénging kabagjaan," ceuk Rahma bari angger panon mah beueus.

Hanca

KALANGSU 43

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-43

Euweuh basa sulit pikeun Andi mah, najan sagala sarwa dadakan tapi teu burung bukti. Uleman, riasan, kétring, jeung sagala rupana aya 'na tungtung curukna.
Rahma geus dicarék ka kantor, manéhna titah cicing di imah ngadagoan waktu.

Rahma ngarasa nalangsa, sabab manéhna teu siga calon pangantén awéwé séjénna. Nu biasana sibuk nyiapkeun sagalana pikeun acara, manéhna mah ngan ukur cicing ngadagoan paréntah ti Andi. Bobo-boro imahna dihias, kapan acarana ogé rék di gedung bari jeung geus diatur ku Andi.

"Tuan Putri, énjing ka butik aya acuk dua deui teu acan dicobian," cenah dina WA.

Isuk kénéh Rahma geus siap, pesen taksi muru ka butik Ibu Aminah. Najan teu loba nyieun bajuna, tapi ka hareupna geus aya rencana yén di dinya rék dipaké husus produksi baju pangantén.
Anjog ka butik, Bu Aminah mapagkeun, nuyun Rahma ngajak ka jero.
"Sok énggal cobian bilih aya nu kirang kantun nambihan," pokna ngasongkeun baju. Rap baju dipaké. Bu Aminah imut pinuh kareueus.
"Alhamdulillah, tos cekap. Mingkin geulis baé," cenah, teu weléh bari imut. Rahma teu tuluy balik, manéhna tuluy mantuan bébérés. Pikirna di imah ogé karesel euweuh kagiatan.

***

Pasosoré, Arya geus saged; dijekét, maké sapatu, helm ngagolér 'na luhur méja.
"Rék ka mana Jang?" Wira nanya ka anakna.
"Badé ngajemput Nisa ka terminal," témbalna bari ngeunteung.
"Geus lulus sugan sakolana?"
"Muhun, kamari Kang Ustadz ogé ka Tasik, tapi Nisa teu ngiring mulih, saurna aya kénéh nu kedah dilereskeun di kampusna."
"Nya atuh geura jung, mawa jas hujan bisi hujaneun!"
"Muhun, Pa! Ngabantun ieu ogé."

Arya ngadius muru ka terminalkeun, teu kungsi satengah jam gé geus nepi. Bubuhan patalimarga teu pati ramé.

Diuk 'na bangku, culang-cileung ngadagoan nu néang. Nisa geus nelepon Arya yén manéhna rék datang kira-kira jam tiluan. Témbong ti kajauhan Arya nyampeurkeun 'na motorna, Nisa ngawurkeun imutna nu kareueut, matak nyeblak kana haté.

"Tos lami?" ceuk Arya bari ngudar helm.
"Teu acan, paling ogé aya sapuluh menit mah."
Nisa ngiser diukna, méré tempat ka Arya sangkan diuk gigireunana.
"Badé teras ayeuna?" Arya nanya deui.
"Ké heula asa capé kénéh. Mobilna pinuh, abdi horéam ngantosan deui nu pengker. Kapaksa wé pasesedek," ceuk Nisa bari gegeber.
"Tos bérés di kampus téh?" ceuk Arya, gék gigireunana.
"Alhamdulillah! Atos, Kang! Kumaha Akang séhat? Mani pangling," ceuk Nisa bari neuteup.
"Alhamdulillah, pidu'a salira. Akang tos séhat deui, jagjag deui," Arya males neuteup.
"Syukur alhamdulillah atuh! sok damel naon baé pami siang téh?" Nisa hayangeun apal kagiatan Arya sabot tas gering.
"Akang mah siang wengi ogé apan ngantosan salira," pokna deui bari seuri. Nu diheureuyanna langsung tungkul, pameunteuna ngemu euceuy.
Arya cengkat, ngasongkeun helm ka Nisa, "Yu, ah! Bilih kabujeng hujan."
Arya ngajingjing tas Nisa laju diteundeun kana motor. Nisa nuturkeun.

Kira-kira satengah genep, Arya nepi ka imah Nisa. Diandeg ku emana sangkan ulah waka mulang, cuang dahar heula, cenah.

Sholat magrib berjamaah, Arya jadi Imam, Nisa jeung emana ngama'mum. Ustadz Jéjén mah Magrib di tajug, bubuhan loba barudak nu sok diajar ngaji ba'da Magrib.

Arya geus teu asa di imah batur, bubuhan kamari salila gering manéhna matuh di dinya. Diuk 'na korsi rohangan tengah, mukaan buku nu ngajajar 'na lomari tukangeunana.
"Kang Arya badé ngopi?" Nisa nyelengkeung ti dapur.
"Moal, ah! Warareg," témbalna bari jongjon mukaan buku.
Nisa nyampeurkeun bari leungeunna nanggeuy piring, eusina rupa-rupa kuéh.
"Sok dicobian, tadi abdi mésér di jalan."
Arya nyokot hiji laju dihuapkeun.

"Néng, dinten Minggu ngiring, yu!" ceuk Arya daria.
"Ka mana?" Nisa kerung.
"Ka Bandung, eu... Rahma pan badé nikah sareng Andi." Arya nyarita bangun nu karagok.
"Isin, ah!" ceuk Nisa.
"Naha isin? Pan sareng Akang."
"Moal nanaon kitu pami Nisa ngiring?"
"Nya moal atuh!"
"Muhun atuh Insyaallah, mugi wé teu aya halangan nanaon."
"Aamiin."

Arya ngarasa reugreug Nisa daék diajak ngaluuhan acara walimahan Rahma. Manéhna asa boga kakuatan pikeun nyaksian Rahma nu pernah disawang diuk jadi
praméswarina.

Hanca

KALANGSU 43

K A L A N G S U
_Yasana : Titin Wiarti_
Bagian ka-43

Euweuh basa sulit pikeun Andi mah, najan sagala sarwa dadakan tapi teu burung bukti. Uleman, riasan, kétring, jeung sagala rupana aya 'na tungtung curukna.
Rahma geus dicarék ka kantor, manéhna titah cicing di imah ngadagoan waktu.

Rahma ngarasa nalangsa, sabab manéhna teu siga calon pangantén awéwé séjénna. Nu biasana sibuk nyiapkeun sagalana pikeun acara, manéhna mah ngan ukur cicing ngadagoan paréntah ti Andi. Bobo-boro imahna dihias, kapan acarana ogé rék di gedung bari jeung geus diatur ku Andi.

"Tuan Putri, énjing ka butik aya acuk dua deui teu acan dicobian," cenah dina WA.

Isuk kénéh Rahma geus siap, pesen taksi muru ka butik Ibu Aminah. Najan teu loba nyieun bajuna, tapi ka hareupna geus aya rencana yén di dinya rék dipaké husus produksi baju pangantén.
Anjog ka butik, Bu Aminah mapagkeun, nuyun Rahma ngajak ka jero.
"Sok énggal cobian bilih aya nu kirang kantun nambihan," pokna ngasongkeun baju. Rap baju dipaké. Bu Aminah imut pinuh kareueus.
"Alhamdulillah, tos cekap. Mingkin geulis baé," cenah, teu weléh bari imut. Rahma teu tuluy balik, manéhna tuluy mantuan bébérés. Pikirna di imah ogé karesel euweuh kagiatan.

***

Pasosoré, Arya geus saged; dijekét, maké sapatu, helm ngagolér 'na luhur méja.
"Rék ka mana Jang?" Wira nanya ka anakna.
"Badé ngajemput Nisa ka terminal," témbalna bari ngeunteung.
"Geus lulus sugan sakolana?"
"Muhun, kamari Kang Ustadz ogé ka Tasik, tapi Nisa teu ngiring mulih, saurna aya kénéh nu kedah dilereskeun di kampusna."
"Nya atuh geura jung, mawa jas hujan bisi hujaneun!"
"Muhun, Pa! Ngabantun ieu ogé."

Arya ngadius muru ka terminalkeun, teu kungsi satengah jam gé geus nepi. Bubuhan patalimarga teu pati ramé.

Diuk 'na bangku, culang-cileung ngadagoan nu néang. Nisa geus nelepon Arya yén manéhna rék datang kira-kira jam tiluan. Témbong ti kajauhan Arya nyampeurkeun 'na motorna, Nisa ngawurkeun imutna nu kareueut, matak nyeblak kana haté.

"Tos lami?" ceuk Arya bari ngudar helm.
"Teu acan, paling ogé aya sapuluh menit mah."
Nisa ngiser diukna, méré tempat ka Arya sangkan diuk gigireunana.
"Badé teras ayeuna?" Arya nanya deui.
"Ké heula asa capé kénéh. Mobilna pinuh, abdi horéam ngantosan deui nu pengker. Kapaksa wé pasesedek," ceuk Nisa bari gegeber.
"Tos bérés di kampus téh?" ceuk Arya, gék gigireunana.
"Alhamdulillah! Atos, Kang! Kumaha Akang séhat? Mani pangling," ceuk Nisa bari neuteup.
"Alhamdulillah, pidu'a salira. Akang tos séhat deui, jagjag deui," Arya males neuteup.
"Syukur alhamdulillah atuh! sok damel naon baé pami siang téh?" Nisa hayangeun apal kagiatan Arya sabot tas gering.
"Akang mah siang wengi ogé apan ngantosan salira," pokna deui bari seuri. Nu diheureuyanna langsung tungkul, pameunteuna ngemu euceuy.
Arya cengkat, ngasongkeun helm ka Nisa, "Yu, ah! Bilih kabujeng hujan."
Arya ngajingjing tas Nisa laju diteundeun kana motor. Nisa nuturkeun.

Kira-kira satengah genep, Arya nepi ka imah Nisa. Diandeg ku emana sangkan ulah waka mulang, cuang dahar heula, cenah.

Sholat magrib berjamaah, Arya jadi Imam, Nisa jeung emana ngama'mum. Ustadz Jéjén mah Magrib di tajug, bubuhan loba barudak nu sok diajar ngaji ba'da Magrib.

Arya geus teu asa di imah batur, bubuhan kamari salila gering manéhna matuh di dinya. Diuk 'na korsi rohangan tengah, mukaan buku nu ngajajar 'na lomari tukangeunana.
"Kang Arya badé ngopi?" Nisa nyelengkeung ti dapur.
"Moal, ah! Warareg," témbalna bari jongjon mukaan buku.
Nisa nyampeurkeun bari leungeunna nanggeuy piring, eusina rupa-rupa kuéh.
"Sok dicobian, tadi abdi mésér di jalan."
Arya nyokot hiji laju dihuapkeun.

"Néng, dinten Minggu ngiring, yu!" ceuk Arya daria.
"Ka mana?" Nisa kerung.
"Ka Bandung, eu... Rahma pan badé nikah sareng Andi." Arya nyarita bangun nu karagok.
"Isin, ah!" ceuk Nisa.
"Naha isin? Pan sareng Akang."
"Moal nanaon kitu pami Nisa ngiring?"
"Nya moal atuh!"
"Muhun atuh Insyaallah, mugi wé teu aya halangan nanaon."
"Aamiin."

Arya ngarasa reugreug Nisa daék diajak ngaluuhan acara walimahan Rahma. Manéhna asa boga kakuatan pikeun nyaksian Rahma nu pernah disawang diuk jadi
praméswarina.

Hanca

KALANGSU 42

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-42

Arya ngadaweung kénéh di luar, wanci geus nyedek ka peuting. Hawa mingkin tiis, jempling aranteng jeung impian séwang-séwangan. Ukur jangkrik jeung caricangkas nu satia ngahariring mépéndé anu keur tibra.

Arya nguniang nangtung, babatek, ngoloyong ka jero imah, waktu geus jam sawelas peuting.
Golédag ngedeng, nyipta-nyipta keur munggaran panggih jeung Nisa. Imutna nu kareueut, teuteupna nu liuh, ucapna nu ngareugreugkeun, némbongan 'na kongkolak panon. Reup peureum miharep bisa ngadatangan Nisa di alam pangimpian.

Can aya samenit ngalenyap, Arya ngagebeg, hudang tina saréna, "Rahma..!" pokna bangun nu reuwas.
Arya ngusap beungeut, "Astaghfirullaahaladzim! Rahma kunaon Anjeun? Tara-tara ning bet datang kaimpikeun goréng. Muga-muga Anjeun teu kunanaon."
Arya ngarongkong gelas cinginum nu aya 'na luhur méja. Laju ngalekik nginum. Diuk 'na sisi dipan ngareureuhkeun kareuwas. Lila euweuh kabar ti Rahma, saprak néang Rio ogé teu pernah aya béjana. Boa gering?

Sanajan satékah polah mopohokeun, tapi 'na haté leutikna mah tetep cumantél. Rahma nu kungsi mapaésan haténa moal kasilih najan aya deui nu leuwih.
Ti mimitina ogé Arya euweuh niat ninggalkeun Rahma, lamun seug Rahma teu kabawa ku amarahna tangtu Arya masih babarengan. Ngan hanjakal, kapeurih Rahma mangsa ka tukang maksa dirina ngécagkeun rasa nu méh kabeungkeut ku tali duriat.

Arya teu ngabibisani palebah dinyana mah, lamun seug manéhna nu aya di posisi Rahma, can tangtu bisa tahan nepi ka kiwari. Boa teuing kumaha.
Arya geus rido kudu ngubur rasa katresna ka Rahma, demi naon? Demi kabagjaan Rahma. Tapi Arya teu bisa leupas hubungan, ceuk paribasana pondok jodo panjang baraya, komo deui Rahma anak teges ti nu jadi bapa téréna. Bapa nu geus diangken bapa kandung ku manéhna. Teu mungkin Arya haré-haré, masa bodo kana kasalametan Rahma katut adi-adina. Kahariwang mah keukeuh aya.
Peuting asa lila pisan ka isuk, Arya teu tibra saré.

Hayam kongkorongok, manuk récét mapag balébat, méré sumanget ka sakur mahluk nu aya di alam dunya. Arya geus bérés mandi, awakna karasa seger dibanjur cai tiis isuk-isuk.
"Pa, Rahma aya nelepon henteu?" ceuk Arya bari ngasurkeun suluh di hawu.
"Geus lila ogé henteu, kumaha kitu?" témbal Wira, regot nguyup cikopi.
"Wengi mah kaimpikeun ku abdi, anjeunna kacandak palid dina cai umpalan. Tapi muga mah sanés pertanda kukumaha."
"Dungakeun baé sina calageur saréréana. Bapa ogé sono ka barudak. Mun aya waktu mah hayang ngilikan ka Bandung," ceuk Wira ngarahuh.
"Muhun atuh kin upami aya waktos ku abdi dijajapkeun," témbal Arya.

***

Rahma nu dipikahariwang keur dipupujuhkeun, ucapanana nu nyebut siap jadi batur hirup Andi mawa kabagjaan keur kulawarga Andi.

Isukna Andi geus metakeun pagawéna. Indit isuk kénéh ka kantor.
"Dian, nitip dulu ya! saya ada perlu sama Rahma. Kalau ada yang nyariin saya, suruh datang lagi aja besok," ceuk Andi rurusuhan.
"Iya, Pak!" Témbalna.

Andi indit deui, sanggeus nandatangan sababaraha berkas.
Mobil ngadius nuju imah Rahma, reg eureun hareupeunana. Rahma geus ngajanteng ngadagoan.
"Sinarieun siang?" ceuk Rahma bari ceg kana tas gawéna.
"Dinten ieu mah teu kedah ka kantor," ceuk Andi bari gék 'na korsi téras.
"Naha?" Rahma nanya bari semu teu ngarti.
"Urang ka Garut."
"Ka Garut?"
"Muhun..."
"Naha teu ngawartosan ti tadina?"
"Wios teuing atuh, sami baé diwartosan ayeuna ogé."
"Mani ngadadak pisan. Aya nu kedah ditandatangan pan di kantor."
"Atos, Geulis! Ieu Aa Andi téh wangsul ti kantor," ceuk Andi seuri bari nepak dadana.
"Kutan?" Rahma ngemu teu percaya.
"Muhun, nembé abdi tos wawartos ka Dian."
"Jadi ayeuna abdi kumaha?" Rahma siga nu bingung.
"Ayeuna mah simpen tasna, urang ka Garut."
"Ayeuna?"
"Muhun ayeuna, abdi badé wawartos ka bapa yén putrina badé diculik," ceuk Andi bari nyikikik.

Mobil laju ka Garutkeun, hawa masih karasa tiis bubuhan isuk kénéh. Patalimarga ramé nganteur kasibukan séwang-séwangan.
"Rahma, upami ayeuna aya jalmi nu bagja kénging lotré puluhan milyar, sigana langkung bagja abdi," ceuk Andi meupeuskeun simpé.
"Kunaon kitu?" Rahma nanya.
"Pan sakedap deui badé janten raja, rajana Ratu Rahma."
"Kumaha upami bapa teu nyaluyuan?" ceuk Rahma.
"Abdi badé nangis gégéréléngan payuneun bapa. Pokona bapa kedah satuju."
"Maenya raja nangis gégéréléngan?" ceuk Rahma bari seuri.
"Apan raja ogé jalmi, pasti pernah galow," ceuk Andi pipilueun seuri.
"Abdi mah ngadungana ogé sawewengi supados kénging widi ti bapa," pokna deui.
"Muhun percanten ka Andi mah."

Duanana ngébréhkeun kabungah, mobil laju mawa harepan, harepan dua nonoman nu geus paheut rék nyangreudkeun tali pasini.

Mobil asup ka pakarangan, dua lalaki cengkat tina diukna. Andi turun tina mobil disusul ku Rahma. Imut kabungah nu jadi bapa mapagkeun, pon kitu deui Arya.
"Panjang umur, anaking," ceuk Wira bari ngusap sirah Rahma.
"Alhamdulillah, Pa!" témbal Rahma bari salim. Rét ka Arya nu ngajanteng gigireun bapana. Song Rahma ngasongkeun dampal leungeunna, bari teu wani paadu teuteup. Arya nampanan.
"Damang?" ceuk Rahma.
"Alhamdulillah!" témbal Arya.
Disusul ku Andi, sarua salim ka duanana.

"Ka lebet atuh!" kecap Arya bari mukakeun panto.
"Mangga, hatur nuhun," ceuk Andi.
Ti jero imah Enah norojol, "Geuning aya urang Bandung, tos lami?" pokna.
"Nembé pisan," ceuk Rahma.
"Hayu ka lebet atuh!"

Saréréa ngariung di tengah imah, Enah paciweuh nyuguhan, sosodor saaya-aya.

"Hapunten sateuacanna, abdi mah teu tiasa malapah gedang. Kieu, Pa! Maksadna abdi ka dieu téh aya nu badé didugikeun ka Bapa sareng ka sadayana, wiréh abdi téh aya niat badé mihukum putri Bapa," ceuk Andi bari rét ka Rahma nu ngeluk tungkul.
"Ari Bapa mah bungah wé nu aya, kituna ogé ari Rahmana kersaeun," témbal Wira, teu nyangka Andi rék nyarita kitu.

Arya nu diuk gigireun bapana ngan ukur cicing, sakali-sakali ngarérét ka Rahma. Manéhna kudu milu bungah sabab Rahma aya nu mikanyaah. Tapi nyatana mah 'na haténa aya nu sésélékét, karasana peurih pisan.
"Alhamdulillah Rahma mah tos ditaros, anjeunna siap," walon Andi bari gap nyekel dampal leungeun Rahma.
"Leres éta téh?"ceuk bapana negeskeun bari neuteup ka Rahma. Rahma unggeuk.
"Kinten-kintenna iraha? Tos milari waktosna?"
"Atos, Pa! Alhamdulillah moal dilamikeun. Hoyong énggal jongjon," ceuk Andi bari ngasongkeun keretas.
Keretas ditampanan laju ditengetan, "Atuh saminggu deui, nya!"
"Muhun, Pa. Hoyong sarumping sadayana, Bapa, Ibu, ogé Kang Arya," ceuk Andi tandes.
"Insyaallah, mugi wé dilancarkeun sagala rupina.
"Perkawis kendaraan mah teu kénging salempang, ké aya nu ngajemput ti Bandung. Abdi badé miwarang réréncangan," ceuk Andi deui.
"Muhun, atuh!" témbal Wira.

Rahma ukur ngeluk, teu loba mairan. Teuing ngarasa sungkan ku Arya teuing aya deui nu dipikiran. Nepi ka waktu ayeuna, Rahma ngan ukur nurutkeun kumaha ceuk Andi. Andi néangan waktu Rahma mah teu apal nanaon, nepi ka ayeuna manéhna diuk hareupeun bapana ogé teu apal ti tadina. Andi nu ngatur sagalana.

Bungah teu bungah pikeun Wira ngadéngé nu jadi anakna aya nu mileuleuheungkeun. Bagja pikeun Rahma, tapi can tangtu pikeun Arya. Karunya ogé lamun dipikiran mah. Tapi sakituna mah Arya teger. Ngadéngé béja Rahma rék ngajadi jeung Andi téh manéhna teu némbongkeun riuk nalangsa.

Waktu nyérélék, panonpoé geus manceran, Andi jeung Rahma amitan. Bungah lain caturkeuneun pikeun Andi. Manéhna balik ka Bandung geus ngagémbol restu ti Wira.

Waktu tinggal ngitung poé, manéhna geus teu sabar hayang geura nyanding jeungeun widadari pupundén haténa. Imutna teu weléh mapaésan pameunteuna.

Hanca

KAKANGSU 41

KALANGSU
Ku: Titin Wiarti
Bagean ka 41

Neuteup eunteung satangtung nu aya hareupeun. Nyaan boro-boro batur dalah kuring sorangan gé kalinglap nempo kalangkang diri. Ngalem kana kaparigelan Bu Aminah, teu éléh ku 'desainer' kahot. Kembang jeung rénda nu mapaésan gaun nyari pisan katempona, nyerep kana diri, ngajadikeun kuring asa leuwih cahayaan. 
Andi nangkeup harigu, neuteup teu ngiceup-ngiceup, imutna teu lesot tina biwirna. Bu Aminah nyampeurkeun, ngomékeun beulah tukangna, dibebener, bari teu eureun-eureun muji kageulisan kuring. 
Karérét Andi nyabut kembang palastik tina pot. Manéhna nyampeurkeun laju sideku hareupeun, song kembang diasongkeun, "Tuan Putri, maukah kau jadi permaisuriku?" pokna bari sura-seuri. 
Kuring teu maliré, anteng ngobrol jeung Bu Aminah. 
"Tuan Putri...." Manéhna Noél.

Andi ngaléos ngasupkeun deui kembang kana wadahna, kaciri pameunteuna kuciwa nu dijieun-jieun. Diuk na bangku panjang bari anteng noélan HP. 
"Mah tos tuang teu acan? Andi mah lapar."
"Teu acan, mésér atuh jig. Candak wé ka dieu urang ngariung."
"Muhun, atuh!" 
Andi indit, kuring ngaganti baju. Hareudang geuning sakeudeung ogé. 

"Alhamdulillah cocog pisan sareng néng Rahma acukna," ceuk Bu Aminah bari méréskeun deui gaun dipakékeun kana bonéka. 
"Muhun, Ibu tiasaan." 
"Resep wé, Néng, Ibu mah. Karesel di rorompok ogé."
"Anu di bumi ogé kénging Ibu?" kuring nanyakeun baju nu di kamar Andi. 
"Muhun, éta téh Ibu ngawitan diajar sareng Si Jenat." Bu Aminah ngarahuh, katémbong bangun nu nalangsa. Kuring ngusapan tonggongna. 

"Néng, Ibu mah miharep Néng Rahma kersa janten réncang Andi. Boh Andi boh Ibu ngaraos kaubaran ku ayana Enéng téh. Mémang bénten sareng Si Jenat, tapi ku kasoléhan Néng Rahma Ibu asa kaubaran. Andi ogé sumanget deui. Néng mah teu uninga basa Andi udur lantaran dikantunkeun ku Kinan. Ibu mah tos teu gaduh harepan Andi tiasa sapertos ayeuna deui. Alhamdulillah, ti kawit wanoh sareng Néng, Andi katingal bérag deui. Insya Allah Andi mah moal nguciwakeun." Bu Aminah nyarita panjang lébar. Gedé pisan harepan Bu Aminah nu dibikeun ka kuring.  Leungeunna teu eureun ngusapan, deudeuhna lain pupulasan, karasa pisan matak tingtrim kana haté. 
Kuring unggeuk tanda nyatujuan, Bu Aminah nangkeup, cisocana karasa haneut maseuhan taktak. "Nuhun, geulis!" pokna dareuda. 

Andi datang, "Aya naon ieu ibu-ibu berpelukan? Ngiringan atuh!" ceuk Andi bari ngésotkeun babawaanana. Bu Aminah imut bari nyusutan cipanon. 
"Moal dilamikeun deui, Néng. Ibu mah hoyong saénggalna supados jongjon." 
Andi mencrong ka Bu Aminah, "Naon téa ieu téh?" ceuk Andi panasaraneun. 
"Hidep sareng Néng Rahma." 
"Nu leres?" Andi teu bisa nyumputkeun kabungahna. 
Bu Aminah unggeuk rét ka kuring nu tungkul kaéraan. 

**

Kocapkeun Arya nu kakara hudang tina geringna, soson-soson digawé; nuluykeun hanca saméméh manéhna brek gering nu sakitu lilana. Sumanget nu dibikeun ku Nisa mangaruhan pisan kana jiwana. 
Duka cinta duka naon nu puguhna mah tékad Arya ayeuna hayang ngabagjakeun awéwé nu geus nulungan manéhna tina geringna. 

Kebon jagong geus kaala hasilna, aya nu ngabajong ti kota. Kitu deui sayuranana, aya nu meuli mahal sabab kualitasna alus. Sakeudeung deui Nisa lulus, madrasah geus bérés dibebenah sangkan pikabetaheun. Barudak ogé sumanget dialajarna. 
"Jang Arya, bantuan mapatahan barudak atuh  salsé mah ari pasosoré téh," ceuk Ustadz Jéjén nyarita dina hiji poé.
"Ah teu tiasa abdi mah, Kang! Kanggo saabdieun ogé abdi mah kirang ka ditu-ka dieu. Bilih lepat," walon Arya. 
"Pan bari diajar, aya bukuna, jaba dibarengan ieuh ku abdi." 

Pasosoréna Arya saged, nyarita ka Enah yén manéhna diajak mapatahan barudak di madrasah. Bungah nu aya pikeun Enah jeung Wira. Itung-itung ngeusian waktu luang, tibatan paké ngadaweung teu puguh.

Sapoé dua poé mah karasa karagok, aya éra sanajan nyanghareupan budak ogé. Tapi lila-lila mah jadi biasa. Kang Ustadz reueus, bungah ngarasa kabantuan, atuh barudak ogé resepeun diajar ku Arya.

Bubar isa Arya mulang, leumpang pairing-iring jeung bapana. Beuteung geus karasa kukurubukan. Datang ka imah tuluy wé ngalimed dahar saaya-aya. 

Enah jeung Wira anteng lalajo tipi. Arya mah ngadaweung di luar, neuteup bulan nu sabeulah deui mah katutupan méga. Pikiran manteng ka Nisa, aya rasa sono nu minuhan dadana. Arya inget kana bageurna, sholéhahna, imut katut sagala rupana. Tring HP 'na jero pésakna disada.

[Assalamu'alaikum, Kang Arya. Insyaallah dua dinten deui abdi wangsul.]
Teu waka dibalesan. HP dikekewek, kasonona tembus ka Nisa. 
[Waalaikumsalam, alhamdulillah. Akang ngantosan.]

Hanca

KALANGSU 40

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-40

Andi diharudum simbut basa kuring ka imahna. Nyenghél nempo polahna nu persis budak leutik.
"Can ibak, nya?"
"Atos, dong! Tapi kalahka tiris kieu," témbalna bari ngomékeun simbut nu ngabulen awakna.
"Moyan atuh! Teu kénging cicing baé di lebet." Kuring nangtung ngoloyong ka luar. Diuk 'na korsi téras neuteup kekembangan nu anyar dicébor. Andi nuturkeun bari nangkeup harigu, kuliat laju babatek.
"Nyaan haneut di luar mah," pokna, gék diuk gigireun.

"Rahma...!"pokna daria. Kuring ngalieuk, neuteup ka manéhna.
"Kah...! Kumaha?"
"Urang nikah, yu!"
"Hah! Nikah?" kuring molotot.
"Muhun, abdi badé ngalamar, teras urang nikah. Moal dilamikeun deui. Abdi teu tiasa tebih ti Salira, hoyong sasarengan baé. Abdi tos badanten sareng pun biang, anjeunna nyaluyuan."

Kuring ngadak-ngadak leuleus, tetempoan ranyay, teu nyangka sacongo buuk Andi rék nyarita kitu. Ngahuleng salila-lila, mikiran pilampaheun.

Pilihan nu beurat, nikah lain heuheureuyan. Kudu panceg kayakinan lamun téa mah daék narima Andi. Kuring asa can yakin.

"Kumaha?" Andi nanya deui binarung neuteup. Kuring tungkul ngulinkeun tungtung baju, embung nguciwakeun Andi. Boh daékna boh teu daékna, sarua jadi pilihan nu beurat pikeun kuring. Dina daékna kuring inggis teu bisa ngabagjakeun, ogé dina teu daékna geus jadi kapastian Andi bakal kuciwa.

"Rahma...! Tingali soca abdi, aya katingali niat heureuy ka Salira?" ceuk Andi, neuteup seukeut. Kuring ngabalieur, teu sanggup paadu teuteup jeung manéhna. Teuteupna lir maksa sangkan kuring narima pangajakna.

"Kedah diwaler ayeuna, nya?" kuring nanya halon.

"Hmmm. Nya atos atuh teu kedah diwaler ayeuna. Tapi upami tos aya waleran, saénggalna nyarios. Abdi ngantosan pisan."

Jempling. Masing-masing ngumbar lamunan. Kandeg di pertelon rasa, dua rasa ngarancabang, kalangsu dina kabingbang. Naha jadi keueung? Ngaléngkah gé asa teu ludeung.

Aya gurat kuciwa dina pameunteuna. Karérét Andi ngarénghap jero, laju ngadengklang.
"Urang ka Garut, yu!" pokna ujug-ujug. Teu gugur teu angin jol ngajak ka Garut.

"Ka Garut?" mastikeun yén kuring teu salah déngé.

"Muhun, apan Salira nuju kangen ka Kang Arya, sanés?" pokna teu euleum-euleum.

"Henteu! Kanggo naon ngémutan nu teu penting." Kuring baeud teu resep kana ucapanana.

"Teras anu penting naon? Andi teu penting, Arya ogé teu penting."
Andi pinter pisan ngulinkeun rasa, kuring mindeng buntu pijawabeun.

"Ibu ka mana?" kuring nyalénggorkeun obrolan bari luak-lieuk, da mémang saenyana Bu Aminah teu témbong ti barang kuring datang ogé.

"Badé naon ka pun biang? Badé wawartos yén Andi ngajak nikah? Jig baé da pun biang ogé tos uningaeun yén Andi téh hoyong énggal nikah. Saur pun biang téh , 'mangga wé da Mamah ogé tos hoyong incuan', tuh pan ngadukung anjeunna ogé."

"Ih! Dasar pikasebeleun!"
Kuring ngajéngkat indit ka jero imah. Léong ka dapur nyampeurkeun Bi Surti. Andi ngiclik tukangeun bari sarangah-séréngéh.

"Bi, awas Bi! Aya nu nuju bendu. Teu kénging dicaketan."

Kuring teu malire ka manéhna.
"Masak naon, Bi? Bantosan ku abdi, nya!"
Kerewek kana péso, laju mantuan ngeureutan bawang. Bi Surti ukur mésem bari gogodeg nempo galagat Andi jeung kuring kitu téh. Gék Andi diuk 'na korsi gigireun, nanggeuy gado bari peneuteupna teu leupas ti kuring. Meusmeus imut bari ngarindat, kuring ngabalieur nyumputkeun piseurieun. Teu bisa ambek, aya wé pikaseurieun téh.

"Yés! Tuan Putri seuri deui."
Andi ngaléos teu lila geus hol deui maké jékét. Leungeunna nyekel konci motor.

"Tuan Putri, yu, ah!"

"Ka mana?" kuring kerung.

"Ka Garut! Éh, ka payun," pokna nyéréngéh.
"Aya péséreun kanggo di kantor. Réncangan sakedap, yu!" ceuk Andi kituna téh bari ngoloyong ka luar. Sanggeus amitan mah ka Bi Surti, kuring indit diboncéng.

Di jalan teu loba nu diobrolkeun. Pikiran ngimpleng kana naon nu diucapkeun ku Andi tadi. Kuring kudu bisa nyieun kaputusan, euweuh salahna kuring narima Andi. Bageur, sabar dina nyanghareupan kuring. Najan sakapeung mah kalakuanana sok siga budak leutik.

"Tuan Putri tibra?" pokna ngagareuwahkeun, kuring nyiwit cangkéngna. Andi ngagurubug, "Ampun! Galak pisan, geulis-geulis!"

Teu lila motor méngkol ka hiji wangunan, sanggeus markirkeun motorna, Andi nuyun kuring asup ka hiji rohangan. Hiji dedegan nu teu bireuk deui pikeun kuring, diuk nukangan nyanghareupan hiji gaun nu keur diterapan manik-manik.

"Assalamu'alaikum!" kuring uluk salam.
"Waalaikumsalam!" walonna, ngalieuk nyéh imut matak tingtrim kana ati.
"Ibu di dieu?"
Nyacapkeun kapanasaran, kuring nanya.
"Muhun, ngeusian waktos supados teu jenuh teuing. Yap calik!" Anjeunna nuduhkeun korsi palastik.

Kuring niténan kaayaan sakurilingna. Teu béda jeung kamar pribadi Andi, di dinya ogé aya sababaraha gaun pangantén nu geus satengah jadi.
"Atos, Mah?" ceuk Andi bari gap kana guan nu bieu dipigawé ku Bu Aminah.
"Sakedik deui, kumaha suksés teu?" Témbal Bu Aminah bari ngalieuk ka kuring binarung imut.
"Linghas pisan, Mah! Cobi we taros ku Mamah," pokna téh bari biwirna dipanyunkeun ka kuring.

"Néng Rahma, Ibu ngahaja ngadamel gaun ieu kanggo Néng Rahma. Iraha baé siapna, Ibu sareng Andi moal ngarurusuh. Mangga diémut heula, sing yakin heula. Atuh cenah Néng Rahma teu nampi, teu nanaon. Gaun ieu tetep kanggo nu geulis." Imutna teu weléh mapaésan pameunteuna, imut nu méh akur jeung imut Andi. Bageurna Andi ogé pasti nurun ti Bu Aminah.

Dua urang nu banget mikanyaah ka kuring nangtung hareupeun. Kagagas ku kabageuranana, kuring ngagabrug Bu Aminah. Anjeunna ngudar tasmana, nyusut cai hérang nu ngeclak tina panonna. Kuring ogé teu bisa nahan cimata. Bagja, tingtrim haté kuring aya 'na rangkulan Bu Aminah.
Andi ogé katémbong ingsreuk-ingsreukan.

"Teu kénging nangis, lebar cipanon. Tos sanés waktosna deui nu geulis nangis. Ayeuna mah kantun bagjana. Sok geura cobian acukna. Bilih aya nu kirang Ibu kantun nambihan." Bu Aminah ngudar gaun bodas nu dipakékeun kana bonéka, laju diasongkeun ka kuring.

Kuring ka luar ti kamar ganti, dipapagkeun ku paneuteup Andi nu colohok, ku imut Bu Aminah nu pinuh ku kareueus.
"Pas pisan!" ceuk Andi ngacungkeun jempolna. Kabungah témbong atra nambahan kakasépanana.

Hanca

KALANGSU 39

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-39

Poé Minggu kuring peré digawé, alhamdulillah aya waktu pikeun ngareureuhkeun kacapé. Nya ngareureuh sotéh ti pagawéan kantor, ari pigawéeun di imah mah siga nu mangpang-meungpeung. Bagi-bagi tugas jeung adi. Rio ngumbah motor, Reza sasapu di buruan, Rizal mah ngelapan kaca. Kuring? Biasa kabagéan masak, nyiapkeun jang sarapan.

Jam dalapan geus réngsé, ni'mat dahar ngariung saaya-aya. Adi bangun nu ponyo pisan, silih soro deungeuna, nyebutna téh sono pasakan Tétéh, cenah. Ari lain poé Minggu mah kuring ukur bisa nyiapkeun sarapan ladang meuli, sangun konéng atawa nu séjénna.

Imah leutik titinggal indung karasa haneuteun, Andi sababaraha kali ngajak pindah ka imah nu rada lega tapi kuring nolak. Teu wasa kudu ninggalkeun imah nu loba panineunganana. Sahenteuna méméh kuring rumah tangga mah embung ninggalkeun imah ieu.

Hapé ngagolér luhur méja disada tanda aya pesan asup. Diilikan téh Andi nga-WA.

[Assalamu'alaikum Tuan Putri!]

[Waalaikumsalam!]

[Asa lami teu papendak,]

[Hmmm... Nembé ogé sadinten.]

[Ah, asa tos saminggu pan!]

[Aya peryogi naon?]

[Aya hal penting nu badé didugikeun...]

[Naon téa?]

[Andi kangen, Tuan Putri kangen teu?]

[Henteu...!]

[Ih, Mani kitu! Tuan Putri nuju naon?]

[Nuju calik.]

[Abdi mah nuju ngadapang sambil mikirin kamu.]

[Wios wé teu naros]

[Antosan, abdi ka dinya ayeuna.]

[Badé naon?]

[Badé nepangan Tuan Putri.]

Hmmm... Andi teu bisa jauh ti kuring. Kuring seuri sorangan. Asa bungah ogé Andi rék ka imah. Gura-giru mandi, diwedak saeutik, lipen saulas, baju ganti ku nu rada hadé. Heup ah! Cukup sakieu ogé. Sura-seuri hareupeun eunteung, laju ngadaweung di tepas ngadagoan Andi datang.

Hapé dikeukeuweuk basa disada deui, Andi nga-WA.
[Tuan Putri, punten maol cios ka dinya.]

[Kunaon teu cios?]

[Abdi ngadadak teu raraos, rieut sirah. Asa moal kiat mios ka dinya.]

[Oh muhun atuh wios, sing énggal damang baé.]

[Tuan Putri moal ngalongok?]

[Moal, ah. Sok ogoan.]

[Longok atuh, plissss!]

[Hmmm]

[Énggal, ulah lami teuing ngémutna. Pan tos ibak ayeuna mah.]

[Ih, so tau!]

[Terang atuh! Pan tadi basa abdi nyarios badé ka dinya, Tuan Putri teras ibak, teras dipupur...!]

Naha kuring éra? Mani bener pisan éta ucapanana. Karesel ogé, di imah ukur ngahuleng. Kuring mutuskeun rék ulin ka imah Andi.

[Abdi ka dinya ayeuna] kuring mungkas obrolan 'na WA, laju ka hareup megat taksi.

Hareupeun gerbang imah Andi, kuring lenga-lengo. Bi Surti teu témbong. Mencét bél tilu kali, kurunyung Bi Surti nyampeurkeun.
"Euleuh Néng Rahma, mangga ka lebet," pokna marahmay.
"Damang, Bi?" cekéng
"Alhamdulillah, pangésto. Néng Rahma kumaha?"
"Alhamdulillah abdi ogé, saurna Andi teu damang?"
"Muhun nembé nyarioskeun rieut sirah," Bi Surti némbal bari nyikikik seuri.
"Di mana ayeuna, Bi?"
"Tuh!" cenah bari nunjuk ka rohangan tengah. Katémbong Andi ngagojod di simbut. Peuruem kekerejepan, taktakna oyag-oyagan siga nu muriang.

"Hey!" kuring diuk tunjangeunana. Andi teu maliré. Gap kana tarangna, ah biasa baé. Curiga ti tadi ogé yén Andi ngabohong.
"Aduh! Mani panas kieu...!" kuring pura-pura reuwas.
Manéhna ngulisik, menerkeun anggel bari angger peureum.
"Ieu mah kedah dicandak ka rumah sakit," kuring nyarita rada tarik.
"Hallo ambulan?" ceuk kuring deui.
Andi ngoréjat, ngalungkeun simbutna. Kuring nyenghél hayang seuri.

Hanca

KALANGSU 38

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-38

Bubar Jumaahan, Ustadz Jéjén mulang jeung Wira. Tina pameunteuna katémbong marahmay. Tayohna mah Ustadz Jéjén geus nyarita ngeunaan kaayaan Arya ayeuna.
"Assalamu'alaikum!" duanana uluk salam.
"Waalaikumsalam!" témbal nu di jero imah.
Wira gancang ka jero bangun nu teu sabar hayang geura panggih jeung Arya.
Bréh Arya keur diuk di tengah imah. Awakna beresih, buuk geus pondok, janggot katut kumis geus beresih dikurud.
"Arya!" ceuk Wira bari ngagabrug.
"Bapa...!" témbalna dareuda.
Wira nyusutan cimata, "Alhamdulillah...! Bapa bungah hidep geus cageur deui." Ceuk Wira bari ngusapan tonggongna.

"Ngaleueut, Pa!" ceuk Nisa bari sok neundeun gelas kopi 'na luhur méja, gék manéhna diuk milu ngariung.

"Néng Nisa, hatur nuhun pisan kana kasaéanana. Bapa bingung kedah kumaha males kasaéan kulawargi di dieu. Alhamdulillah ku saréatna Kang Ustadz di dieu, pun anak tiasa cageur deui."

"Wios, pa! Tos kawajiban apan urang téh kedah silihtulungan. Nya Kaleresan wé diijabah ku Gusti Alloh." Nisa nyaritana téh teu weléh bari imut.

"Jang Arya tinggal ngajagjagkeun, sing remen barang dahar. Éta awakna béh ngeusi deui, béh getihan deui." Kang Ustadz norojol ti pawon.

"Kumaha ayeuna, rék milu mulang atawa rék cicing di dieu?" Ustadz Jéjén nanya.
"Badé wangsul baé, Kang!" Témbalna halon.
"Nya atuh, ngan kudu daék leuleumpangan ngalatih suku."
"Muhun."

Nisa bébérés pakéan Arya, dibaturan ku paneuteupna. Dosa lamun manéhna ngapilainkeun Nisa nu sakitu bageurna, béla ka manéhna.
"Ieu acukna tos 'na kantong sadayana. Akang sing neras séhat. Teu kénging seueur émutan." Nisa ngésotkeun kantong baju gigireunna.
"Nuhun, Néng!"
Duka nuhun nu kasabarahakalina nu diucapkeun Arya ka Nisa.

"Akang tos damang mah abdi badé ka Tasik deui, lebar hanca. Sakedap deui pan abdi kedah nyusun skripsi. Pokona ké upami abdi wangsul, Akang kedah tos séhat."
Nisa nyarita kituna téh bari neuteup. Asa aya nu nyelekit kana angen Arya, duka pédah rék pajauh, duka aya alesan nu lain. Nu pasti Arya asa meunang kakuatan jeung sumanget anyar pikeun neruskeun hirupna.
"Akang bakal ngantosan," pokna méh teu kadéngé.
Deui-deui Nisa ngawurkeun imutna nu kareueut.

***

Arya geus di imahna deui. Bungah lain caturkeuneun pikeun Enah, kahariwang nu jadi indung ngalir ngahiji jeung pangdungana sangkan nu jadi anak bisa cageur deui tina katunggaraanana. Arya ngarasa awakna leuleus kénéh, babari capé, kituna mah pantes manéhna sasat tirakat salila-lila ngosongkeun beuteungna.
"Ayeuna kari cageurna, ulah loba pikiran nu teu puguh." Ceuk Enah basa Arya keur ngadaweung di tepas.
"Sing nyaah ka Nisa nu sakitu bageurna ngurusanan hidep, ulah nguciwakeun haténa. Nu engeus mah enggeus tong jadi halangan pikeun ka hareupna. Hidep ogé boga hak pikeun bagja." Enah nyaritana téh bari dareuda. Ngarasa watir ka anak nu geus kagegeringan ku Rahma.

Arya asa kasuat-suat, hésé mémang nu ngaranna malikkeun rasa téh, teu bisa dipaksakeun. Najan biwir nyarita muhun, tapi haté mah duka teuing. Dua widadari anu geus nyieun tapak 'na haténa lir ucang anggé, ngaléléwé. Iwal kayakinan diri nu kudu dikuatkeun sangkan panceg kana léngkahna. Arya embung deui kagoda ku ruruhit katresna Rahma nu biheung kapimilik. Nisa jadi hiji-hijina tujuan manéhna ayeuna. Arya jangji yén manéhna kudu kuat, kudu cageur, pikeun males kahadéan Nisa jeung kulawargana.

***
Arya mingkin getol kana ibadahna, awakna mimiti ngareusi deui. Sumangetna ngagedur, pikiranana manteng ka hiji tujuan. Manéhna hayang ngabagjakeun widadari nu geus ngajait manéhna tina leutak kahirupan.

Sabulan panceg saprak Arya cageur tina geringna. Sakali-sakali manéhna ngalongok ka kebon nu sakeudeung deui panén. Pigawéeun di madrasah mimiti dikeureuyeuh deui; ngabebenah tempat nu bakal jadi sumber kabungah pikeun Nisa. Ustadz Jéjén reueus nempo kasumangetan Arya, teu salah Nisa neundeun harepan ka lalaki nu aya hareupeunana. Pangdunga ti nu jadi bapa ngajaul marengan tiap léngkah Nisa, ngalancarkeun tiap paniatanana.

Hanca

KALANGSU 37

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-37

Wanci keur meujeuhna haneut moyan basa Nisa jeung bapana dariuk di tepas maturan Arya. Ustadz Jéjén ngobrol ngalalakonkeun pangalamanana basa keur ngora, Nisa ngalokan; meusmeus ngarérét miharep Arya milu ngabandungan.

"Sok deui dileukeunan éta kulub huina, béh jagjag aya tanaga. Mun geus jagjag mah urang keureuyeuh deui pigawéeun di madrasah, meungpeung aya nu méré sumbangan," ceuk ustadz bari ngasongkeun kulub hui, Arya teu ngarérét-rérét acan.

"Upami Kang Arya teu kersa barang tuang mah, Nisa badé mios wé ka Tasik," ceuk Nisa semu ngancam laju ngaléos ka jero imah.

Rentang-rentang Wira leumpang muru imah Ustadz. Niat seja ngilikan Arya.

"Assalamu'alaikum!" pokna.

"Waalaikumsalam!" Ustadz ngabagéakeun.

"Kumaha Arya tos aya robih?" ceuk Wira kituna téh bari neuteup ka Arya.

"Teu acan ngobrol mah, tapi alhamdulillah ayeuna mah daék ka luar ti kamar. Daék barang dahar sautak-saeutik mah dihuapan ku Nisa." Ustadz Jéjén ngajéntrékeun.

"Punten wé janten ngarérépot di dieu. Upami teu aya perobahan mah badé diajakan wangsul wé, hawatos Kang Ustadz." Wira ngalengis.

"Teu ngaraos dirérépot abdi mah. Salami Arya teu ngajak mah abdi moal miwarang mulih, keun baé piraku teu cageur deui. Nisa ogé tulatén ngurusanana."

"Alhamdulillah atuh, abdi nganuhunkeun pisan kana kasaéan Kang Ustadz sareng kulawargi di dieu, mugi Alloh nu ngabalesna." Wira mani ti rengkuh-rengkuh nganuhunkeun ka Ustadz Jéjén.

"Tos janten kawajiban papada urang pan silihtulungan mah," témbalna matak reugreug.

***

Poé Juma'ah isuk-isuk, langit cangra. Sora manuk récét mapag giwangkara medal. Di imah Ustadz Jéjén, kadéngé rada ramé ti sasarina. Ramé téh éta wé saimah-imah katambahan ku Arya. Arya ka luar ti kamarna sorangan, biasana mah sok kudu dipaksa ku Kang Ustadz. Leumpangna sosolontodan, kumareumbing kana témbok. Ngaliwatan tengah imah muru rék ka luar, Arya tigubrag, tarangna raheut tidagor kana juru méja kaca. Kabéh nu keur ngariung di dapur muru nulungan Arya, bungahna aya, reuwasna aya. Bungahna pédah Arya ka luar sorangan, reuwasna pedah nempo tarangna nu ngalambey getihan.

Nisa gura-giru nyokot lamak jang nyusut getih sakalian jeung obat mérahna. Kang Ustadz mayang Arya, didiukkeun 'na korsi.

"Alhamdulillah, Arya. Hidep geus éling deui." Ustadz Jéjén ngucapkeun kabungahna. Arya tungkul bari ngusapan tarang.

Nisa nyusutan getih, laju ngubaran raheutna nu lumayan gedé. "Engké ogé damang," ceuk Nisa binarung imut ngagelenyu. Laju nerapkeun perban kana raheutna. Treup dua paneuteup amprok, aya cai nu nyalangkrung dina panon Arya, laju ngamalir maseuhan pipina nu kemong. Galécok haténa can mampuh dikedalkeun, tapi cimatana ngawakilan sakabéh rasa 'na haténa.

Bungah lain caturkeuneun pikeun Ustadz Jéjén jeung Nisa, nempo Arya nu geus bisa komunikasi deui jeung manéhna. Pangorbanan Nisa salila ieu mimiti katempo aya hasilna.

Awak Arya ngadarégdég bakuna mah kurang barang dahar, bari tara digerakkeun ongkoh; haropak, pias bari buuk gondrong. Moal aya nu nyangka éta Arya lamun seug panggih di kasampangan.

"Geura tuang heula, Jang! Béh jagjag. Yu urang ngariung di dapur. Ni'mat geura saaya-ata ogé ari ngariung mah." Istrina Ustadz Jéjén ngageroan.

Arya cengkat dituyun ku Ustadz muru ka dapur. Brak dalahar, Arya ogé ngahuap ku sorangan najan leungeunna ngaleleper ogé teu burung séép saalas, tapi godeg basa Nisa rék nambahan deui sangu kana piringna mah.

"Alhamdulillah, bungah taya papadanna, Jang Arya geus cageur deui. Ayeuna mah tinggal ngajagjagkeun, sing remen barang dahar. Diajar leuleumpangan deui béh urat lalugay," ceuk Ustadz basa réngsé dalahar. Arya unggeuk, rét ka Nisa nu teu weléh imut.

Réngsé dahar ngariung, Nisa pépérén. Wadahna dikumbahan deui. Arya mah digénjang ku Ustadz, diajak ngadaweung di luar.
"Jang, éta janggot jeung kumis urang kurud, nya! Sakalian buukna urang cukuran," ceuk Ustadz bari neuteup ka Arya. Arya ngarampaan kumisna nu mémang geus panjang pisan. Laju unggeuk tanda nyatujuan.

Nisa norojol ti dapur bari ngélék sapu nyéré, ngarandeg nempo Arya keur dicukuran.
"Wah, bakal awis ieu mah bayaranana. Jaba rambut, jaba kumis," pokna téh ngagoda Arya, cikikik seuri bari ngaléos rék sasapu.

Wanci nyérélék, teu karasa geus satengah dualas. Ustadz Jéjén geus saged rék mangkat jumaahan. Arya geus bérés dicukuran, malah geus tas mandi sagala. Beresih deui katémbong cahayaan.
"Baé ulah waka jumaahan ari can kuat mah, cicing bé heula," ceuk Ustadz basa katémbong Arya siga nu rék cengkat milu ka masjid.

Di imah ngan ukur duaan, Arya jeung Nisa. Gék Nisa diuk hareupeun Arya.
"Alhamdulillah, Kang Arya tos damang, abdi bingah pisan," pokna bari neuteup. Arya malik neuteup dua nétra nu matak iuh niiskeun kana haté.
"Nuhun...," ceuk Arya, sakecap nu kaluar tina biwirna saprak manéhna cicing jeung kulawarga Nisa. Arya teu sanggup ngomong deui nanaon, aya nu nyelek 'na tikorona; nyurungkeun cimata nu teu kungsi lila tuluy bedah. Nisa neger-neger manéh sangkan teu kabawa ceurik, maksakeun imut najan haténa mah sarua mangnalangsakeun.

"Abdi nyandak cuti dua sasih, lirén heula kuliah demi ngantosan Kang Arya damang," ceuk Nisa semu éra, laju ngeluk tungkul.
"Nisa..." Arya teu kebat. Leungeunna ngaragamang kana leungeun Nisa, gancang ditarik deui.
"Abdi hoyong wangsul ka rorompok," pokna deui.
"Moal diwidian mulih ku bapa ogé kajabi Kang Arya badé damang, teu ngalamun baé," ceuk nisa pungkes.
Arya unggeuk, "Abdi kedah damang, margi aya nu kedah diperjuangkeun."
Nisa curinghak, aya gurat kuciwa dina pameunteunna. Pasti masalah Rahma deui, pikirna.
"Abdi kedah kiat deui, margi abdi kedah ngabéréskeun madrasah kanggo salira. Supados Anjeun teu tebih ti abdi." Biwirna ngageter maksakeun imut, neuteup ka Nisa nu hareugeueun ngarasa teu percaya.

Hanca

KALANGSU 36

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-36

Kuring tinggal ngabuktikeun cintana Andi ka kuring wening keur kuring atawa ngan ukur ngabangbalérkeun Kinan. Kuring ogé embung ngan saukur dijieun sérep. Kuring jeung Kinan boga haté nu béda.

Kuring ngarep-ngarep Andi nanya maksud kadatangan kuring ka imahna, tapi bangun nu teu dijieun masalah. Manéhna malah katempo bungah, hanas nyumput.

Bi Surti teu katémbong deui tinggal kuring duaan jeung Andi. Teu nyangka Andi nu sok bérag boga masalah batin nu sakitu beuratna. Hirup mah ngan ukur pasangka-sangka, komo lamun nempona ukur sapaliwat; siga senang, siga bagja, buktina mah naon anu ku urang anggap genah bisa baé jadi sabalikna.

"Ngémutan naon?" ceuk Andi ngagareuwahkeun.
"Henteu!" walon kuring reuwas.
"Bohong, éta pangambungna beureum. Pasti bohong." Cenah, noél irung.
"Beureumna mah apan tadi dipencét ku anjeun!" baeud.
"Duh ari tos baeud kitu! Matak nineung. Mani sok hoyong...,"
"Hoyong naon?"
"Teu ah! Bongan linghas." Kuring seuri ku polahna.
"Andi teu naros, naha abdi ka dieu?" kuring nanya, daria.
"Teu naros ogé abdi mah tos terang,"
"Naon cik?"
"Pasti Tuan Putri panasaran ku cariosan Bi Surti kamari. Teu sangki képo ogé," pokna téh bari teu ngarérét-rérét acan. Kuring jadi asa salah, tapi lamun teu kitu kuring bakal terus panasaran. Can tangtu Andi bakal terus terang nu sabenerna.
"Punten, atuh!" cekéng bari neuteup manéhna. Andi jol imut bari ngarenghap jero.
"Teu nanaon, berarti abdi teu kedah capé ngawartosan. Ayeuna sadayana tos jelas kanggo Rahma, yén lalakon abdi sapertos kitu. Sagala rupina tos diatur ku Alloh. Abdi kaleungitan Kinan, Alloh ngintun Rahma kanggo gentosna; anu langkung sagala-galana." Andi ngarérét ku juru panonna.
"Hanjakal, anjeunna sapertos teu acan tiasa muka panto haténa kanggo abdi. Tapi abdi bakal sabar ngantosan dugi ka waktosna," pokna deui teu euleum-euleum.

Kuring tungkul rumasa kana caritaan Andi. Nalangsa ogé ngadéngé Andi nyarita kitu. Leungeunna ngusapan tonggong, "Badé dugi ka iraha Rahma nutup haté? Buka soca Anjeun, tingali payuneun aya abdi nu siap ngabagjakeun Anjeun. Urang wangun istana nu éndah, urang tinggalkeun sadaya lalakon burem urang; gentos ku lalakon nu éndah." Ucapanana ngabedahkeun cimata.
"Ya Alloh, nuhun abdi tos dikintun jalmi nu sholéh. Paparinan abdi cacaang supados abdi tiasa nampi kanyaah Andi." Ngagerentes jeroning ati.

***

Kacaturkeun Arya nu tunggara, anteng nganyam lamunan dibarengan ku inghak Enah nu jadi indungna. Awak Enah ngabegangan, nalangsa nempo nu jadi anak; kurang dahar kurang saré. Enah teu bisa nyalahkeun sasaha, manéhna sadar kana kanyataan yén Arya kitu téh lantaran lampah manéhanana. Kaduhung teu manggih tungtung, hanjakal ka nu geus kasorang. Rasa salah 'na haténa mingkin nyiksa. Katunggaraan Ningsih indungna Rahma nu geus direbut kabagjaanana baheula, ayeuna kaalaman ku anakna. Batin ngajerit, mun hadé milih kajeun manéhna nu ngaganti posisi Arya ayeuna; Arya nu teu tuah teu dosa kudu nandangan lara.
"Gugah kasép, kanyaah Ema...!" ceuk Enah dina sela-sela inghakna. Arya tetep ngaringkuk, teu boga alesan pikeun hudang.
Ustadz Jéjén getol ngalongokan, anjeunna ngarasa prihatin ka Arya. Tas babarengan digawé ayeuna Arya jadi kieu. Nisa ogé mindeng ngilikan, barang bawa saaya-aya.

"Kang Wira, kumaha upami Jang Arya téh diajak ka rorompok heula. Urang tarékahan, nyuhunkeun kamurahan Gusti Alloh. Sugan wé atuh aya kénéh harepan keur Jang Arya," Ustadz Jéjén nyarita ka Wira waktu isuk harita.

"Mangga wé abdi mah moal ngorétkeun, bungah nu aya. Nya mudah-mudahan mah tiasa cageur sabihari deui. Bingung abdi mah da teu tiasa nanaon." Wira bungah, némbalan Ustadz Jéjén.
Harita kénéh Arya titirah di bawa ka imah Kang Ustadz.

Mimiti dimandian, terus disalinan, buukna disisiran terus dibeungkeut. Ustadz Jéjén yakin haté Arya beresih, masih bisa dibebenah, disadarkeun tina sasabna.

Nisa satia marengan bapana ngurusan Arya, manéhna ogé teu weléh ngadunga pikeun cageurna Arya. Unggal isuk ngahuapan, ngajak ngobrol, dipangmacakeun buku-buku carita 'tokoh teladan'. Harepan Nisa, Arya aya réaksi deui jeung lingkunganana.

Hanca

KALNGSU 35

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-35

Omongan Bi Surti jadi pikiran, naha kuring sarimbag jeung saha? Andi bangun aya nu dirusiahkeun, panasaran. Di imah, kuring ngimpleng ti mimiti wawuh jeung Andi asa teu manggih nu anéh. Andi romantis, bageur, béla, teu pernah ngangluh. Sikepna pikaresepeun, matak nineung. Hiji-hijina cara, kuring kudu nanyakeun langsung ka Bi Surti, tangtuna Andi ulah nyahoeun.

Pasosoré balik gawé Andi bébéja aya perlu jeung 'klien', manéhna ngan ukur ngajajapkeun kuring laju balik deui ka kantor. Padahal kuring geus nyarita rék mulang sorangan baé, teu kudu dijajapkeun. Melang, canah.

Gura-giru pesen taksi, kuring ngadius ka imah Andi. Rasa panasaran ngéléhkeun kasieun kuring. Muga-muga baé Bu Aminah keur marengan euweuh di imah. Reg taksi eureun hareupeun gerbang. Bubuhan kamari mah peuting ayeuna kakara sidik, imah gedong sigrong dikurilingan ku pager jangkung, lamun téa mah karingkeb di imah asa pamohalan bisa ka luar. Sangeus mayar taksi kuring langsung muru gerbang. Lenga-lengo noong tina sela-sela pager, kaciri Bi Surti keur sasapu. Kuring ngahaja teu mencét bél bisi ngagareuwahkeun.

"Assalamu'alaikum! Bi...!" ngageroan lalaunan. Nu digeroan rungah-ringeuh, ngalieuk. "Néng Rahma? Geuning teu sareng Dén Andi?" pokna bari muka panto gerbang.
"Nuju 'meeting' abdi hoyong amengan wé ka dieu," cekéng, ngaléng leungeun Bi Surti.
"Ka lebet atuh! Tapi ibu ogé nuju teu aya."
"Wios di dieu baé, aya peryogi sakedik ka Bibi."

Bi Surti siga nu reuwas, gék diuk gigireun.
"Aya peryogi naon ka Bibi? Rareuwas kieu," pokna mencrong.

"Panasaran kamari basa nuju taruang, Bibi nyarios yén abdi sarimbag sareng saha, Bibi teu kebat nyarios. Sarimbag sareng saha kitu abdi?"

Kuring neuteup Bi Surti nu katémbong reuwas kénéh, manéhna tungkul. Kuring mingkin panasaran.
"Bi!" cekéng, ngagareuwahkeun.
"Muhun, Néng!" manéhna cengkat.
"Saha? Énggal nyarios. Sapertosna Andi ogé nutupan." Kuring satengah maksa.

"Sieun janten lepat Bibi mah, wios Néng Rahma naros langsung baé ka Dén Andi." Bi Surti angger siga nu sieun. Ngadéngé kitu puguh wé mingkin panasaran. Bari jeung reuwas ogé bisi ujug-ujug Andi datang.

"Bi...! Énggal wartosan!" kuring nyekelan leungeuna. Bari semu kapaksa Bi Surti nyarita ogé.

"Dua taun ka pengker, Dén Andi ampir badé nikah. Sasayogian tos siap sagala rupina, katut ka uleman ogé tos ngadamel. Namung nya kitu jalmi mah mung tiasa ngarencana. Tilu dinten deui ka barengna, calon pangantén istri ngantunkeun; kacilakaan. Mobilna tabrakan." Bi Surti ngarandeg, ngarénghap jero bangun keur ngararasakeun kapeurih.

"Innalilahi, teras kumaha?" talék kuring. Paneuteup teu leupas ti Bi Surti.

"Namina Néng Kinan. Rarayna ceplés pisan sareng Néng Rahma." Bi Surti mencrong. Leungeunna ngusapan pipi kuring.

"Mana kamari basa ningal Néng Rahma, Bibi asa teu percaya. Bibi asa ningal Néng Kinan. Anjeunna bageur pisan ka Bibi."
Aya nu ngeclak tina panon Bi Surti. Gancang ku manéhna disusut.

"Karunya Dén Andi, pas aya wartos Néng Kinan cilaka téh anjeunna teras nguyung. Lami teu kersa ka luar. Unggal dinten nungguan patung bonéka nu aya di kamarna." Bi Surti nyawang, teuteupna jauh. Gurat kanalangsana mingkin katara.

Bulu punduk ujug-ujug muringkak. Kabayang kamari basa kuring asup ka kamar Andi, bonéka manekin ngajéjér siga nu narempokeun. Teu mungkin Kinan ngarasuk kana bonéka.
"Astaghfirullaahaladzim!" kuring ngageredeng.
Bi Surti ngalieuk, "Kunaon, Néng?" pokna siga nu reuwas.
"Henteu, Bi!" Cekéng seuri maur.

"Bi, gaun anu dianggo ku bonéka di kamar Andi leres kénging Bu Aminah?"

"Muhun, Néng! Kénging Bu Aminah sareng Néng Kinan. Kaleresan Néng Kinan resep ngaréka-réka anggoan. Anjeunna nu ngadamel modélna, Bu Aminah nu ngaput. Rencanana badé dianggo pas acara. Tapi nya kitu, takdir teu aya nu apal."

Kuring percaya Bi Surti teu ngabohong. Kapanasaran kuring kajawab. Geuning Andi téh boga pangalaman pait.

"Tapi ayeuna mah Andi damang, Bi?" kuring ngedalkeun kasieun, nya kasieunan Andi masih kénéh sok nguyung; ngerem manéh di kamar.

"Alhamdulillah, Néng. Lalandong ka mana-mana aya hasilna. Komo saprak wanoh sareng Néng Rahma mah, katingalna téh langkung bérag." Bi Surti imut bari ngusapan leungeun kuring. Manéhna siga nu masrahkeun harepan ka diri kuring.

"Tapi abdi mah keueung basa ka kamar Andi, keueung ningal bonékana." Kuring balaka.
"Teu aya nanaon, Néng. Bibi ogé unggal dinten bebersih teu kantos mendakan nu anéh."

Jempling, kuring jeung Bi Surti nyawang lamunan sewang-sewangan. Ngalelempeng pikiran sangkan teu kabawa kaayaan. Kuring nguatkeun haté ulah nepi ka boga curiga nu teu puguh, kuring miharep Andi tetep Andi nu salila ieu maturan kuring dina bungah jeung susahna.

Kuring asa dibétahkeun, basa sora mobil Andi ngagerung hareupeun gerbang. Samar polah kuring nyekelan leungeun Bi Surti. Bi Surti imut laju nuduhkeun popojok taman nu rada nyumput, kuring ngahéphép nepi ka mobil Andi asup ka garasi.

Andi rungah-ringeuh, gék gék diuk 'na korsi urut kuring diuk. Teu lila cengkat deui, peneuteupna muter siga aya nu ditéangan. "Bi, saha nu nembé calik di dieu?" ceuk Andi neuteup curiga.
"Teu aya sasaha, Dén!" témbalna ngawadul.
Andi alak-ilik, leumpang beuki ngadeukeutan. Kuring nagog, nyumput 'na rimbunan kekembangan. Kuring mingkin ngahéphép, peuruem nahan ambekan. Awak asa méotan basa kadéngé sora sapatu Andi mingkin deukeut.

Jep sora sapatuna jempling, kuring muka ramo nu nutupan panon. Waktu kuring beunta, bréh téh Andi keur nagog hareupeun bari nyuaykeun daun kembang. Huntuna nu ngabaris bérés nyengir.
"Nuju naon Tuan Putri?" pokna nanggeuy gado ku dua leungeun; pahareup-hareup, metik kembang laju diselapkeun kana sela-sela buuk. Kuring milu nyengir, seuri maur. Reuwas campur éra.

"Moal tiasa dibohongan, abdi mah terang bau kélékna," ceuk Andi bari mencét irung kuring, gék diuk gigireun. Kuring ngabalieur, sangkan leungeunna lésot.

"Resep, nya! ameng di nu nyumput. Jadi tiasa kieu," biwirna monyong.
"Angger...!" cekéng bari indit.
Andi nyéréngéh nuturkeun, gap néwak leungeun.
"Tuan Putri teu tiasa tebih ti abdi, nya! Terang abdi wangsul telat, Tuan Putri ngantosan di dieu. Teu sangki Néng Rahma ludeungan."

"Ih géér!"

"Mémang géér, teu kénging kitu?"

Kuring diuk 'na korsi urut tadi basa ngobrol jeung Bi Surti. Andi teu ngaleupaskeun ranggeumanana.

"Abdi sok nyipta-nyipta waktos sapertos kieu, tiasa calik duaan sareng nu dipikacinta, neuteup éndahna kekembangan. Kukupu haliber nyeuseupan madu. Bagja pisan." Andi ngalieuk, neuteup leleb. Celengok nyium leungeun kuring.
"Rahma, 'love you so much'!" pokna deui.
Kuring imut, unggeuk.

Hanca

KALANGSU 34

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-34

Aya hawa nu béda basa kuring asup ka kamar éta. Manekin nu ngajajar siga narempokeun. Andi jiga nu anéh nempo kuring gura-giru ka luar ti kamar.
"Hayu énggal tos lapar," cekéng bari narik leungeun Andi.

'Na luhur méja, dahareun geus ngabarak. Nu disebut Si Bibi ku Andi nyaéta awéwé nu mapagkeun kuring tadi. Awéwé tengah tuwuh pangawakanana leutik tapi katara tanginas pisan.
"Mangga dituang meungpeung haraneut kénéh," pokna teu weléh bari rengkuh. Kuring ukur imut nembalan manéhna. Andi diuk hareupeun, mimiti ngalas laju ngalimed bangun nu ni'mat pisan. Kuring ngarérét ka Si Bibi, manéhna mindeng maling teuteup laju ngabalieus nalika paadu teuteup jeung kuring.
"Bi Surti damel di dieu ti méméh abdi lahir, anjeunna ngawulaan pun biang sareng almarhum bapa." Andi nyarita basa kuring ngalieuk ka Bi Surti.
"Tos lami atuh, nya!" walon kuring.
"Lami, carogéna ogé damel di dieu kapungkur mah. Tapi nya kitu, ayeuna mah tos ngantunkeun."
"Innalilahi...!"

Bi Surti nyician cai kana gelas, teuteupna siga aya nu disumputkeun. Kuring ngarasa teu genah. Niténan baju asa euweuh nu salah, hmm... Rarasaan wungkul meureun.
"Néng, Bibi mah asa nyeblak basa tadi ningal Néng Rahma. Mani mirip pisan sareng...," pokna teu dikebatkeun.
"Bi, punten pangnyandakeun hapé dina korsi payun," ceuk Andi bari imut ka kuring.
"Sing wareg tuangna bilih salatri, pasakan Bi Surti mah pang raosna sa Jawa Barat. Ké upami mulih nyandak kanggo Rio sareng nu sanésna." Andi neuteup bari seuri.

Bageur pisan Andi téh, kanyaahna lain ukur ka kuring, tapi ka adi-adi ogé sakitu perhatianana. Kuring embung nguciwakeun manéhna. Kaayaan ekonomi kulawarga aya kamajuan saprak wawuh jeung Andi. Lian ti gajih bulanan ti pagawéan, Andi ogé remen méré jang jajan barudak. Komo dahareun mah. Tapi kunaon haté bet can bisa narima. Padahal kuring ogé geus teu miharep Kang Arya.

Andi ngabuyarkeun lamunan.
"Ngalamun baé Tuan Putri mah," pokna bari gék gigireun. Leungeunna nyampay kana panyarandéan korsi tukangeun kuring, awakna satengah nyanghareupan.
"Rahma terang teu?" neuteup leleb binarung imut.
"Naon téa?" kuring malik neuteup.
"Abdi nyaah ka salira."
"Hmmm... Terang," kuring nembal, luk tungkul.
"Tapi kunaon Rahma teu nyaah ka abdi?"
Reuwas, teu nyangka Andi rék nyarita kitu. Haté asa ditonjok keuna pisan. Gancang kuring nyekel pageuh dampal leungeunna, "Saur saha teu nyaah? Sami nyaah abdi ogé."
"Bohong! Haté abdi moal tiasa dibohongan. Haté Rahma masih teu acan nampi katresna Andi. Di dinya masih aya Arya. Leres?" pokna téh bari rada nyentak.
"Andi..., Teu kénging nyarios kitu. Kanggo naon atuh abdi ngémutan baé Arya."
"Leres?"
"Muhun!"
Kapaksa bohong, teu téga nempo Andi sedih. Kuring rék ngusahakeun sangkan haté bisa narima Andi, males cintana. Andi katempo bungah, imutna geus eunteup deui 'na biwirna nu dimonyongkeun beuki deukeut kana biwir kuring. Kuring ngacungkeun curuk laju diadekkeun kana biwirna, "Teu kedah dibuktoskeun sapertos kieu. Sabar, aya waktosna." Jung nangtung, kuring ngoloyong ka cai, ninggalkeun Andi nu garo-garo teu ateul.

Hanca

KALANGSU 33

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-33

Hujan girimis jadi langganan unggal soré, Andi teu pernah mawa motor deui saprak harita balik gawé huhujanan. Kanyaahna ka Rahma teu bisa dilalaworakeun. Manéhna teu téga Rahma kahujanan. Andi geus balaka ka nu jadi kolotna yén manéhna rék bener-bener satia jadi batur hirup ngawangun rumah tangga jeung Rahma.

Mobil laju lalaunan ninggalkeun kantor, kandaraan rada macet bubuhan waktuna marulang ti pagawéan. Hujan ngeureuyeuh mawa hawa tiis. Rahma katémbong capé, bakuna mah kurang saré ongkoh. Teu lila manéhna geus méléhék, sirahna kana taktak Andi. Andi ngusap deudeuh buuk Rahma.

Reg mobil eureun di hareupeun hiji imah agréng, Rahma gigisik. "Di mana ieu?" ceuk Rahma bari luak-lieuk.
"Hayu lungsur, ieu rorompok abdi," ceuk Andi bari miheulaan turun laju mukakeun panto mobil keur Rahma. "Énggal, bilih baraseuh," pokna. Rahma turun bari angger niténan kaayaan di dinya. Saprak wawuh jeung Andi kakara ayeuna diajak ka imahna. Hareupeun imahna pinuh ku rupa-rupa kekembangan, asri matak pikabetaheun. Pantes baé di kantor ogé pinuh ku kekembangan.

Awéwé tengah tuwuh mapagkeun, rengkuh bangun nu ajrih pisan.
"Mangga kalebet! Ibu mah nuju ka pangaosan, nembé pisan angkat," pokna bari nunjukkeun lawang panto ku indung leungeunna. Rahma imut laju nuturkeun Andi ka jero imah.

Rahma asa asup ka istana, parabot serba méwah. Poto kulawarga ngagarantung weweg. Gék manéhna diuk, kurunyung Andi mawa dua gelas téh manis ngebul kénéh, "Sok dileueut landong tiris," pokna. Rahma nampanan binarung imut nu teu weléh mapaésan pameunteuna.

Gék Andi gigireun Rahma, "Tuan Putri capé?" Andi nanya bari ragamang kana leungeun Rahma laju diadekkeun kana pipina. Andi peuruem nyeuseup rasa katresna nu mingkin ngagalura.
"Sayang, abdi badé naros, Anjeun sok ngaraos kieu tara? Dada ngadadak sesek, jajantung ratug, aya nu sésélékét kana ati, peurih tapi éndah." Andi nanyana téh bari neuteup leleb. Rahma ngeluk nyumputkeun semu. Saenyana Rahma ogé sok ngarasa leungiteun lamun Andi lila teu ngahubungan. Tapi rasa nu éta, Rahma asa can bisa ngarasakeunana. "Punten Andi, abdi teu acan tiasa...," haténa ngagerentes. Tapi manéhna embung nguciwakeun haté Andi nu sakitu bageurna. Rahma unggeuk binarung imut, imut nu matak muragkeun jajantung.
"Indah sekali makhluk ciptaanMu ini!" ceuk Andi bangun nu geregeteun.
Andi ngadeukeutan pameunteu Rahma, karasa haneut rénghapna. Teuteupna mingkin deukeut, seukeut niruk jajantung, hérang nétrana mampuh ngageterkeun haté Rahma. Reup peureum, Rahma ngarasa rénghap Andi mingkin deukeut. Sengit parfumna seger. Aya nu haneut eunteup 'na biwirna dibarengan ku tingkolépatna teuteupan Arya nu nganaha-naha. Rahma nyurungkeun Andi laju nungkup rarayna. Andi gogodeg ngarasa teu percaya. Bukti ayeuna mah yén Rahma can bisa narima manéhna sapenuhna.
Jempling sakedapan.
"Tuang, yu! Si Bibi tos bérés panginten masakna." Andi nangtung nuyun Rahma nu masih ngaheneng.
"Teu acan lapar abdi mah," ceuk Rahma mugen.
"Hayu, bilih lebet angin. Tadi tuang di kantor siang kénéh ayeuna tos sonten. Abdi mah tos lapar deui."
"Mangga waé Andi ti payun."
"Abdi gé moal atuh pami Tuan Putri henteu mah!" Andi diuk deui gigireun Rahma.
Bari semu teu purun, Rahma maksakeun cengkat, "Yu atuh!" cenah.

Duanana leumpang ngaréndéng ngaliwatan sababaraha kamer. Ti rohangan hareup ka 'ruang makan' téh rada jauh. Bubuhan imah sakitu gedéna.

Di hiji kamer nu aya tulisan 'private Room' Rahma ngarandeg. Pantona méléngé, katémbong caang mabray. Sababaraha patung manekin dibungkus ku gaun nu kelirna béda-béda. Andi ngalieuk ka Rahma nu anteng niténan ka jero kamer. Gancang pantona ditutupkeun, "Teu kénging noong pamali!" pokna bari nyéréngéh.
"Andi produksi gaun ogé?"ceuk Rahma.
"Mmm.... Henteu!" walon Andi godeg.
"Teu kénging nyarios éta koléksi Andi, nya!"
"Upami uhun, kumaha?"
" Teu kukumaha, sih! Wios abdi ningal?" "Mangga."

Duanana asup ka kamer. Rahma luak-lieuk, siga aya nu anéh. Ceg kana tungtung gaun kelir beureum, pindah ka nu héjo.
"Pun biang nu ngadamelna, kanggo calon abdi," cenah, reueus.
"Sapertosna cekap di badan salira," pokna deui.
Rahma neuteup ka Andi. Duka naon nu aya 'na pikiranana. Manéhna gagancangan ka luar ti kamer.

Hanca

KALANGSU 32

K A L A N G S U
Yasana : Titin Wiarti
Bagian ka-32

Arya bener-bener kabungbulengan ku Rahma, ucap-ucapanana iwal Rahma jeung Rahma. Sapopoéna ukur ngerem manéh di kamer, mopoék. Embung panggih jeung sasaha. Enah bingung pikeun pilampaheun. Dahar diasongkeun ka kamer, kalan mah teu ditoél-toél acan.

Pelak jagong hanca Arya geus mimiti karembangan. Hanjakal Arya teu daék deui ngilik-ngilik. Padahal tiheula manéhna nu sakitu geténna, indit isuk balik burit. Ayeuna Wira nu ngagenténan ka kebon, sanajan awakna teu jagjag pisan; maksakeun nyaah ka modal jeung tanaga nu geus dikorbankeun ku Arya.

Kanyaah Wira ka Arya geus teu asa ka anak téré, wening tina ati sanubarina. Pon kitu deui Wira ngarasakeun kanyaah Arya, karasa pisan salila manéhna gering. Nempo tangkal jagong nu sakitu montokna, haté Wira ngaleketey. Ras inget ka nu melakna, nu keur nandangan tunggara.

Enah jadi mindeng ngahuleng, nalangsa mikiran nasib anak hiji-hijina. Teu nyangka bakal kieu jadina. Rahma teu dibéré nyaho kaayaan Arya ayeuna. Lian ti sieun ngaganggu pikiran Rahma, Enah ogé ngarasa éra komo apal Rahma sakitu ngéwaeunana ka manéhna.

Jam sapuluh isuk-isuk Enah ngalengo ka jero kamer, Arya keur ngaringkuk nonggongan. Hordéng jeung jandéla narutup. Sangu nu diasongkeun tadi isuk kitu kénéh 'na luhur méja, deungeunna geus digulung sireum.
"Arya, Hudang kasép. Ulah kieu baé." Enah dareuda, ngusapan buuk Arya nu acak-acakan. "Geura eusian peujit, ti isuk can nginum-nginum acan." Song Enah ngasongkeun gelas cai nginum. Arya teu ngarérét-rérét acan, anteng neuteup jandéla nu katutupan hordéng. Caangna harepan katutupan lalangsé nu hamo bisa disingraykeun. Geus euweuh harepan pikeun Arya, bagja manéhna ukur sawangan. Euweuh harepan nanaon deui na diri Arya, sagala rupa jadi percumah. Hirup ngan ukur digulung tunggara. Poék, euweuh cahya harepan saeutik ogé.

Enah nginghak gigireun Arya. Kahayangna ngan hiji, Arya cageur sabihari deui. Manéhna teu sanggup kudu nyaksian Arya terus-terusan siga kieu. Paribasana mending kénéh ngubaran raheut tibatan ngubaran nu nyeri haté.

***

Rahma jadi leuwih sibuk, Andi mercayakeun pagawéan kantorna ka Rahma. Pokna téh ngahaja béh biasa engkéna. Andi mindeng gogodeg nyaksian kaparigelan Rahma, teu salah manéhna ngangkat Rahma jadi sekertarisna.

Saperti biasana, isuk-isuk Andi geus nyampeur. Rahma rurusuhan maké sapatu ogé bari leumpang.
"Abdi kasiangan, duh!" pokna bari gancang asup kana mobil.
"Kulem tabuh sabaraha kitu?" Andi mencrong.
"Satengah duabelas. Ngaréngsékeun ieu berkas kanggo Pa Handoko. Saurna énjing kénéh kedah tos dipasihkeun." Rahma ngasongkeun map.
"Abdi ogé ngaréngsékeun ieu kanggo Pa Dayat dugi ka tabuh duabelas." Andi némbongkeun hasil pagawéanana. Duanana seuri bungah.
"Alhamdulillah! Nuhun, nya, Geulis! Abdi reureus ka salira." Andi neuteup leleb.
"Muhun, biasa waé atuh ningalina siga tara pendak baé." Rahma ngabalieur.
"Sono atuh da, teu pendak sawengi ogé. Asa moal kiat upami aya kana dua dintenna henteu pendak. Sono ku galakna, sono ku ogona, sono ku geulisna."
"Ah, gombal!"
"Nyaan, ih! Ke sonten mulihna urang teras jalan, yu!"
"Ka mana?"
"Ka bulan," ceuk Andi nyeukeukeuk. Rahma milu seuri, matak kayungyun.

Hanca

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...