Kotretan Iyek Berteriak sekeras mungkin namun tak kuasa bersuara. Diri ini seakan lemah untuk bersuara, padahal negeri ini menghargai mereka yang bersuara.
Nyanyian dan alunan suara bernada tinggi kerap ditemukan di telinga kiri dan kanan ini. Ketika sengaja ditutup rapat, tetap saja terdengar. Ketika berlari menjauh, tetap saja ada kabar dari burung tetangga yang terbang menghampiri.
Nyanyian suara pilu sering juga terlintas dikuping ini. Suara yang seakan pesimis meminta uluran tangan dari yang manis. Mata berlinang penuh harap, dengan nyanyian yang terkadang melebihi nada semestinya. Agar uluran tangan bisa tiba di tangannya dengan akurat tepat.
Nyanyian empat lima jua tak jarang terbesit di kuping ini. Suara perjuangan nan penuh semangat menjadi pemacu hati yang ingin bisa bernyanyi bersama dirinya. Suara yang menggelegar namun tetap rendah terdengar indah dan menjadi pemacu.
Suara
Suara mereka
Suara mereka terdengar
Suara mereka terdengar begitu
Suara mereka terdengar begitu syahdu
Kamis, 12 April 2018
Gemingan kata Edisi Suara
Senin, 02 April 2018
GHIBAH
- Dalil Al-Qur’an, Allah SWT berfirman yang artinya;
- “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q. S. 49 : 12).
- “Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q. S. Al-Hujurat : 12).
- Dalil hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya;
- Diriwayatkan oleh Said bin Zaid RA, Rasulullah SAW bersabda yang artinya; “Sesungguhnya riba yang paling bahaya adalah berpanjang kalam (ucapan) dalam membicarakan (keburukan) seorang muslim dengan (cara) yang tidak benar.” (H. R. Abu Daud).
- Hadits riwayat Ahmad dari Jabir bin Abdullah; “Kami pernah bersama Nabi tiba-tiba tercium bau busuk yang tidak mengenakan. Kemudian Rasulullah berkata; ‘Tahukah kamu, bau apakah ini? Ini adalah bau orang-orang yang mengghibah (menggosip) kaum mukminin.”
Ghibah yang Diperbolehkan
Bahaya Ghibah dalam Pandangan Islam
Kamis, 22 Maret 2018
4000 Dinar Untuk Istri Yang Dermawan
Kotretan Iyek “Dan empat ribu dinar untuk istrimu, karna dia yang paling dermawan di antara kalian.”
Yahya bin Khalid Al-Barmaki
Kedermawanan memang pantas untuk dihargai mahal, sebagaimana yang dilakukan oleh Yahya bin Khalid Al-Barmaki kepada istri Al-Waqidi. Kisah ini disebutkan oleh Khathib AL-Baghdadi dama Târîkh Baghdâd (4/20):
Abu Abdillah Al-Waqidi Al-Qadhi mengatakan, “Suatu hari, kebutuhan benar-benar menghimpit, meskipun aku sedang bersama Yahya bin Khalid Al-Barmaki. Istriku mendatangiku dan mengatakan, “Hari raya sudah tiba, namun kita tidaka mempunyai uang sepeser pun.”
Aku kemudian pergi menemui salah satu temanku yang berprofesi sebagai pedagang. Aku jelaskan bahwa kedatanganku menemuinya karena ingin berhutang kepadanya. Setelah mendengar penuturanku, dia kemudian mengeluarkan sekantong keperluanku yang distempel seribu dua ratus dirham.
Setelah mengemasi barang-barang tersebut, aku pulang ke rumah. Belum lama aku di rumah, tiba-tiba seorang temanku Al-Hasyimi (dari keturunan Bani Hasyim) datang ke rumahku mengeluhkan perihal keterlambatan penghasilannya dan dia membutuhkan pinjaman. Aku lalu masuk ke dalam menemuiistriku memberitahukan kedatangan Al-Hasyimi itu, dan istriku bertanya kepadaku, “Menurutmu, apa yang akan kamu berikan kepadanya?”
Aku menjawab, “Aku akan memberikan sebagian isi kantong ini kepadanya.”
Istriku berkomentar, “Kamu tidak melakukan apa-apa. Kamu mendatangi temanmu yang berdagang di pasar, dan dia memberi pinjaman kepadamu seribu dua ratus dirham. Sekarang seseorang yang memiliki kekerabatan dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam datang kepadamu, namun kamu akan memberi separoh dari apa yang diberikan temanmu yang pedagang itu! Ini tidak sebanding! Berikan saja kantong ini seluruhnya kepadanya!”
Aku kemudian keluar membaw akantong itu lalu memberikan kepada teman Al-Hasyimi tersebut.
Lain waktu, temanku yang pedagang pergi menemui Al-Hasyimi, dia juga berteman dengan Al-Hasyimi. Dia datang kepada Al-Hasyimi temannya itu untuk mencari pinjaman uang, dan AL-Hasyimi itu pun segera mengeluarkan kantong yang berasal dariku kepadanya. Tatkala temanku si pedagang dan juga Al-Hasyimi itu melihat stempel uang, dia segera mengenalinya. Sehingga temanku pedagang itu pun bergegas menemui diriku dan menceritakan kisah tersebut.
Pada waktu bersamaan, seorang utusan Yahya bin Khalid datang menemuiku. Utusan itu menyampaikan pesan Yahya, “Sesungguhnya utusanku terlambat datang kepadamu karena aku sedang sibuk dengan beberapa keperluan Amirul Mukminin.”
Aku segera mendatangi Yahya bin Khalid dan menceritakan kisah kantong tersebut kepadanya. Yahya berkata kepada pengawalnya, “Pengawal! Bawa kemari uang yang ada di sana itu!”
Pengawal pun datang membawakan uang sepuluh ribu dinar kepada Yahya. Setelah menerima uang itu, Yahya berkata, “Untukmu dua ribu dinar, ambillah! Dua ribu dinar untuk temanmu, dua ribu dinar untuk Al-Hasyimi, dan empat ribu dinar untuk istrimu, karena dia yang paling dermawan di antara kalian.”
Sumber: Buku 155 Kisah Langka Para Salaf, penerbit Pustaka Arafah, hlm. 179-181
Namimmah
Kotretan Iyek Syaikhuna, ‘Abdul Kariim Asy-Syawway, bercerita, “Di antara kisah yang masyhur yang menunjukkan betapa bahayanya perbuatan namiimah adalah kisah seorang laki-laki yang menawarkan barang dagangannya di sebuah pasar bangsa Arab.
“Dijual…dijual….”
Tahukah Anda barang apa yang akan dijualnya itu? Ya…Seorang budak laki-laki.
Setiap kali ada yang berminat untuk membelinya, tuannya ini selalu mengatakan bahwa budaknya bagus dalam bekerja, namun ia memiliki satu ‘aib. Budaknya ini seorang “nammaam” (suka namiimah=alias suka mengadu domba).
Hampir semua orang yang berminat mengurungkan niat untuk membelinya karena hobinya yang suka namiimah itu. Setelah beberapa lama menunggu di pasar, akhirnya datang juga rejeki yang diharap-harapkan. Seorang saudagar tertarik untuk membeli budak itu. Walaupun telah diberitahukan kepadanya tentang ‘aib si budak tersebut, dia tetap pada keinginannya untuk membeli sambil menyepelekan atau menganggap ‘aib yang dimaksud tidak berpengaruh pada pekerjaannya.
Singkat cerita, si budak itu akhirnya berpindah tuan. Selama bekerja di tempat tuannya yang baru, si budak sama sekali tidak menunjukkan hal-hal yang negatif. Pekerjaannya bagus, orangnya rajin, tidak bermalas-malasan. Pokoknya tuannya semakin senang dengannya.
Demikianlah tahun demi tahun dilalui. Hingga pada suatu hari…….
Si budak tukang namiimah ini berkata kepada istri tuannya, “Ya Sayyidatii… Wahai Nyonya… Maukah Anda kuberitahukan agar Tuan -suami Anda- lebih mencintai Anda sedalam-dalamnya dan tidak akan pernah berpaling dari Anda?”
Sang Nyonya pun kepincut. Siapa pula orangnya tak mau disayang suami dengan sangat? “Ah, bagaimana caranya wahai budakku agar suamiku lebih mencintai diriku?”, tanyanya penuh penasaran. Si budak berkata, “Anda cukup mengambil 3 helai jenggotnya. Setelah itu berikan kepada saya. Selanjutnya urusan saya, Anda tinggal terima beres.” Sang Nyonya akhirnya menuruti apa yang diminta oleh si budak.
Pada sore harinya, si budak berkata kepada tuannya, “Ya Sayyidii… Wahai Tuanku… Tahukah Anda kalau selama ini istri Anda telah berkhianat kepada Anda?”
Spontan sang Tuan terperanjat, “Bagaimana mungkin? Kamu tahu darimana?”, tanyanya dengan keheranan. Si budak berkata, “Hmm… Biar Anda tahu saja, malam ini istri Anda berencana akan membunuh Anda agar kasus “selingkuh”nya aman.”
“Waspadalah Tuan… Ini semua karena saya sayang sama Tuan…”, begitu si budak mengingatkan.
Pada malam harinya, sang istri ketika menuju ke kamar suaminya yang sedang tidur, ia membawa pisau cukur guna mengambil 3 helai jenggot suaminya. Suaminya yang melihat hal itu semakin yakin dengan perkataan budaknya. Akhirnya sebelum sang istri mendekat, sang suami terlebih dahulu merebut pisau cukur tersebut dan langsung menikamkan ke dada istrinya. Terbunuhlah sang istri.
Si budak memberitahukan peristiwa ini kepada saudara-saudara sang istri. Mengetahui hal itu, mereka segera memburu sang suami. Mereka berhasil membunuh sang suami.
Wal haashil, berita terbunuhnya sang suami tersebar dan diketahui oleh kabilahnya. Fil akhiir, terjadilah perang antar dua kabilah: kabilah sang suami dan kabilah sang istri. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.
Saudaraku fillaah, demikian lah akhir dari sebuah namiimah. Inilah mengapa namiimah termasuk dosa besar (kabaa’ir). Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa telah mengingatkan kita dengan firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah berita tersebut, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada sebuah kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” (Qs. Al-Hujuraat: 6)
Oleh: Ustadz Abu Yazid Nurdin via Facebook UstadzAris.com
Dipublikasikan kembali oleh: www.KisahIslam.net
Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah
Jumat, 16 Maret 2018
Berhitung Dulu
Kotretan Iyek Hari ini kita belajar matematika dulu sebentar dan sedikit, soalnya tadi udah janji mau ngasih jawaban buat mereka, ini soalnya.
Dua buah kardus berbentuk kubus memiliki ukuran yang berbeda kardus yang besar memilik volume 64 cm kubik jika kardus yang besar dapat diisi penuh oleh 8 kardus kecil maka tentukan volume kardus kecil dan panjang rusuk kardus kecil
Dik :
V besar = 64 cm³
memuat 8 kardus kecil
maka :
V kecil = 64/8
= 8 cm³
jadi panjang sisi kardus kecil adalah :
V kecil = sisi³
8 = sisi³
sisi = ∛8
sisi = 2 cm
Senin, 12 Maret 2018
Obat 99 Penyakit
Kotretan Iyek Agama Islam yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, memang merupakan agama yang baik dan sudah mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia dan semesta alam ini. Bagaimana tidak, sekecil apapun itu sudah ada aturannya yang sudah ditentukan. Tinggal bagaimana kita bisa mencarinya dan mengamalkannya.
Begitupun dengan suatu penyakit yang menimpa kita, sebenarnya sudah ada obatnya, tinggal kita yang harus cerdas mencarinya. Seperti artikel berikut ini yang menerangkan tentang 99 obat penyakit, berikut artikelnya:
Tahukah Anda, bahwa Baginda Muhammad SAW telah mengajarkan kepada umatnya OBAT 99 PENYAKIT? RASA SUNTUK, SUMPEK DAN GUNDAH GULANA merupakan PENYAKIT PALING RINGAN yang dapat disembuhkan dengannya. Caranya cukup mudah, perbanyaklah mengucapkan لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ Laa Haula wa laa quwwata illaa billaah Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah. Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa mengucapkan Laa Haula wa laa quwwata illaa billaah, maka kalimat tersebut merupakan obat bagi 99 penyakit, dan penyakit paling ringan (yang dapat disembuhkannya) adalah rasa suntuk. – Hadits Sahih diriwayatkan oleh Al-Hakim
Untuk mendapatkan materi dari langit segera install Aplikasi GoLangit dari playstore. Atau tekan : https://play.google.com/store/apps/details?id=net.golangit
Kamis, 08 Maret 2018
Dialog Antara Rasulallah SAW dan Iblis
Kotretan Iyek Saya membaca ini dari grup WA dan sepertinya ini sangat bermanfaat untuk diri saya pribadi dan mungkin bagi pembaca semuanya.
*Dialog antara Rasulullah SAW & Iblis*
*Rasulullah* bertanya :
"Apa yg kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku hendak Sholat ?"
*Iblis* menjawab :
"Aku merasa Panas dingin dan Gementar"
*Rasulullah* : “Kenapa ?”
*Iblis* :
"Sebab setiap seorang hamba berSujud 1X kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 Derajat”
*Rasulullah* :
“Jika seorang umatku berpuasa ?”
*Iblis* :
“Tubuhku terasa terikat hingga dia berbuka”
*Rasulullah* : “Jika ia berhaji ?”
*Iblis* :
“Aku seperti orang Gila”
*Rasulullah* :
“Jika ia membaca Al-Quran ?”
*Iblis* :
“Aku merasa meleleh laksana air timah di atas Api”
*Rasulullah* :
“Jika ia bersedekah ?”
*Iblis* :
“Itu sama saja org tersebut membelah tubuhku dgn gergaji”
*Rasulullah* :
“Mengapa bisa begitu ?“
*Iblis*:
”Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya, yaitu :
1. Keberkahan dlm hartanya,
2. Hidupnya disukai,
3. Sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dgn api neraka,
4. Terhindar dari segala macam musibah akan terjauh darinya,
*Rasulullah* :
“Apa yg dapat mematahkan pinggangmu ?"
*Iblis* :
“Suara kuda perang di jalan Allah”
*Rasulullah* :
“Apa yg dapat melelehkan tubuhmu ?”
*Iblis* :
“Taubat org yg bertaubat”
*Rasulullah* :
Apa yg dpt membakar hatimu?”
*Iblis* :
“Istighfar di waktu siang & malam”
*Rasulullah* :
“Apa yg dpt mencoreng wajahmu ?”
*Iblis* :
“Sedekah yang diam-diam”
*Rasulullah* :
“Apa yg dpt menusuk matamu ?”
*Iblis* :
“Sholat fajar”
*Rasulullah* :
“Apa yg dpt memukul kepalamu ?”
*Iblis* :
“Sholat berjamaah”
*Rasulullah* :
“Apa yg paling mengganggumu ?”
*Iblis* :
“Majlis para ulama”
*Rasulullah* :
“Bagaimana cara makanmu ?”
*Iblis* :
“Dengan Tangan kiri dan jariku”
*Rasulullah*:
“Dimanakah kau menaungi anak2mu di musim panas ?”
*Iblis* :
“Dibawah kuku Manusia”
*Rasulullah* :
“Siapa temanmu wahai iblis ?”
*Iblis* :
“Pezina”
*Rasulullah* :
“Siapa teman tidurmu ?”
*Iblis* :
“Pemabuk”
*Rasulullah* :
“Siapa tamumu ?”
*Iblis* :
“Pencuri”
*Rasulullah* :
“Siapa utusanmu ?”
*Iblis* :
“Tukang Sihir (Dukun)”
*Rasulullah* :
“Apa yg membuatmu Gembira ?”
*Iblis* :
“Bersumpah untuk cerai”
*Rasulullah* :
“Siapa kekasihmu ?”
*Iblis* :
“Org yg meninggalkan Sholat Jumat”
*Rasulullah* :
“Siapa Manusia yg paling
membahagiakanmu ?"
*Iblis* :
“Org yg meninggalkan sholat dengan sengaja"
*sebarkan biar 1 dunia tahu apa kelemahan Iblis*.
*Ingat : Nabi berpesan Sebarkan walau sepotong ayat*.
Selasa, 06 Maret 2018
Khalifah Umar Dan Wanita Kelaparan
Kotretan Iyek Kali ini kita akan menceritakan tentang satu sejarah yang mungkin saja sudah tidak asing lagi karena sejarah atau kisah ini sangat terkenal atau biasa di ceritakan. Berikut kisahnya:
Sejarah juga menceritakan bagaimana usaha Sayidina 'Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu untuk membantu kaum lemah. Aslam, pembantu Khalifah Umar bin Khathab ra bercerita: “Suatu ketika aku pernah bersama sayidina Umar ra pergi ke kota Hirah yang terletak di dekat kota Madinah. Kemudian dari kejauhan, di atas gunung tampak api ungun menyala. Sayidina Umar berkata kepadaku, ‘Mungkin itu adalah sebuah kafilah yang kemalaman dan belum sempat memasuki kota. Mereka terpaksa menunggu di luar kota. Mari kita lihat bagaimana keadaan mereka.’ Setelah sampai di tempat nyala api tersebut, nampaklah seorang wanita dengan beberapa anak kecil di sekelilingnya sedang menangis meronta-ronta. Sementara itu wanita tersebut sedang merebus air dalam sebuah kuali di atas tungku yang menyala. Setelah memberi salam dan meminta izin untuk mendekat, Sayidina Umar kemudian bertanya, ‘Mengapa anak-anak ini menangis?’ ‘Mereka menangis karena tidak dapat menahan rasa lapar,’ jawab wanita itu. ‘Apa yang sedang kau masak di kuali itu?’ ‘Aku memasak air untuk mengelabui mereka agar mereka senang karena menyangka bahwa saya sedang memasakkan makanan untuk mereka, sehingga mereka dapat tidur dan melupakan rasa laparnya. Semoga Allah menghukum khalifah yang tidak mau tahu kesusahanku ini.’ Sayidina Umar menangis seraya berkata, ‘Semoga Allah merahmatimu, bagaimana mungkin khalifah Umar dapat mengetahui keadaanmu?’ ‘Sebagai seorang khalifah dia harus tahu keadaan kami.’ Aslam melanjutkan ceritanya, “Sayidina Umar kemudian mengajakku kembali ke Madinah. Beliau mengambil sekarung gandum, kurma, minyak, beberapa potong pakaian dan beberapa dirham uang dari baitul mal. Ia penuhi isi karung tersebut. Setelah penuh beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Aslam, letakkan karung ini di pundakku.’ ‘Biarkan saya yang membawanya wahai amirul mukminin,’ jawabku. ‘Tidak, letakkan karung ini di punggungku.’ Dua tiga kali aku menawarkan diri dengan sedikit memaksa beliau, tetapi beliau justru berkata, ‘Apakah engkau mau memikul dosa-dosaku kelak di hari kiamat? Biarlah aku sendiri yang memikul karung ini. Sebab, aku sendirilah yang harus bertanggung jawab.’ Dengan berat hati kuletakkan karung itu di punggungnya. Kemudian dengan tergesa-gesa beliau membawa karung tersebut ke atas gunung menuju kemah wanita tua tadi. Aku berjalan menemaninya. Sesampainya di sana, beliau langsung memasukkan tepung gandum tersebut di tambah dengan sedikit kurma dan minyak ke dalam kuali dan mengaduknya. Beliau sendiri yang mengaduk dan hingga kulihat asap perapian itu mengenai janggutnya. Ia masak makanan itu hingga matang dan kemudian dengan tangannya yang penuh berkah beliau hidangkan makanan tersebut kepada keluarga itu. Sayidinaa Umar merasa sangat senang dan tersenyum melihat mereka makan. Selesai makan, anak-anak itu bermain-main dengan riangnya, sedangkan si ibu nampak sangat berbahagia. Ia berkata, ‘Semoga Allah membalas kebaikanmu, seharusnya engkaulah yang menjadi khalifaf, bukan Umar.’ Untuk menyenangkan hati ibu tersebut, Sayidina Umar tidak membuka identitas dirinya dan berkata, ‘Jika engkau pergi menjumpai Umar, maka akan kau temui pula aku di sana.’ Setelah itu Sayidina Umar duduk di tanah. Setelah beberapa lama duduk ia kemudian meninggalkan mereka. Beliau kemudian berkata kepadaku, ‘Wahai Aslam, tahukah engkau mengapa aku duduk? Aku ingin menyaksikan mereka tertawa setelah sebelumnya aku melihat mereka menangis kelaparan.’
Untuk mendapatkan materi dari langit segera install Aplikasi GoLangit dari playstore. Atau tekan : https://play.google.com/store/apps/details?id=net.golangit
Minggu, 04 Maret 2018
Do'a Turun Hujan
Kotretan Iyek Do’a ketika turun hujan apa sajakah?
Sebagian orang ketika turun hujan malah berkeluh kesah. Padahal itu adalah nikmat yang baru saja Allah ciptakan. Seandainya setiap orang mengamalkan do’a-do’a ketika turun hujan tentu saja turunnya hujan jadi nikmat terindah. Berikut beberapa amalan yang Rumaysho.Com sampaikan.
Berdo’a Ketika Turun Hujan: Allahumma shoyyiban nafi’an
Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,
إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari no. 1032)
Ibnu Baththol mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan.” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 5: 18, Asy Syamilah)
Turun Hujan Waktu Mustajab untuk Berdo’a
Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ
“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078).
Do’a Ketika Hujan Lebat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a,
اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].” (HR. Bukhari no. 1014)
Syaikh Sholih As Sadlan mengatakan bahwa do’a di atas dibaca ketika hujan semakin lebat atau khawatir hujan akan membawa dampak bahaya. (Lihat Dzikru wa Tadzkir, Sholih As Sadlan, hal. 28, Asy Syamilah)
Berdo’a Setelah Turun Hujan: ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih
Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama’ah shalat, lalu mengatakan, ”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Kemudian mereka mengatakan,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), makadialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71).
Hanya Allah yang memberi taufik.
Sumber : https://rumaysho.com/3759-doa-ketika-turun-hujan.html
Awalnya Pahit, Akhirnya Manis
Kotretan Iyek Berbuat baik, yang baik, yang terbaik, itu nasihat semua orang kepada yang dilakukan nashatinya pasti tidak akan jauh dari kita semua harus berbuat baik. Dan seperti artikel singkat dibawah ini, bahwasannya untuk berbuat baik diibaratkan seperti dibawah ini.
Habîb ‘Abdullâh Bin ‘Alwî Al-Haddâd rahimahullah berkata:
SECARA umum, pada awalnya kebaikan itu berat untuk dilakukan, tetapi akhirnya penuh dengan kenikmatan. Orang yang berbuat baik ibarat seorang pendaki gunung terjal. Ia tidak akan merasa tenang sebelum sampai ke puncaknya. Sedangkan keburukan awalnya manis dan akhirnya kelak berat.
Orang yang melakukan perbuatan buruk adalah ibarat seorang yang jatuh dari puncak gunung atau atap sebuah rumah. Ia baru akan merasa kesakitan setelah mendarat di tanah.
(Habîb 'Abdullâh bin 'Alwî Al-Haddâd, Kitâbul Hikam, Dârul Hâwî, cet.1, 1993, hal.15.)
Sabtu, 03 Maret 2018
Berprasangka Buruk
Besi dan Karat
Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...
-
Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...
-
KOTRETAN IYEK - Dipagi dalam menjelang Subuh beruraian air mata penuh dengan kekhusyukan dan dengan penuh rasa penyesalan akan kekhilapan di...
