Kotretan Iyek Perjalanan manusia itu ada masa lalu, sekarang dan masa depan. Waktu berjalan bersamaan dengan detak jantung kita yang berdendang. Waktu itu seakan tidak terasa, mungkin karena saking betahnya kita hidup di dunia ini. Begitupula denganku, tak terasa usiaku ini sudah akan menginjak diangka 29, sudah bukan usia anak-anak lagi, bahkan remaja pun sudah terlewati. Namun pemikiran ini masih saja ada kekanak-kanakan. Ketika melihat orang lain diluar sana, diusia sepertiku sekarang ini mereka sudah terlihat banyak yang sukses, baik dalam dunia pendidikan, perekonomian, prestasi dan lain sebagainya. Jika dikatakan iri ya memanglah diri ini merasa iri dengan mereka. Tapi diri ini sadar bahwa setiap manusia sudah diberi garis takdir masing-masing jadi tak perlu iri dengan orang sekitar kita.
Di usia seperti ini juga sudah banyak orang yang sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki beberapa anak. Dengan pekerjaan yang baik dan tingkat kesejahteraan yang cukup.
Iya memang usia ini adalah usia peralihan untuk menjadi lebih dewasa lagi. Dan cita-cita diusia sekarang ini untuk meninggalkan masa lajang sudah harus direalisasikan. Karena memang masa penantian yang lama akhirnya sudah cukup. LPN begitulah dirinya seorang perempuan shalehah yang telah meruntuhkan dan meluluhkan dinding hati ini. Kubawa nama itu dalam istikharahku dan kuyakinkan nama itu untuk menjadi pendamping ku. Dan dialah jodohku yang selama ini kutunggu.
Pak Ustadz sang Guruku di PANGAMPIRAN menasihatiku sebelum akad di 6 September, Beliau berpesan janganlah menikah karena melihat orang disekitar yang seusia sudah menikah semua, tapi niatkan pernikahan ini adalah semata-mata hanya untuk ibadah dan mengikuti sunah Rasul. Dan kata-kata itu juga dibisikan ketika pada waktu akad yakni pas waktu akan ijab Qabul,,,, sep.... niatkan ibadah.....
Hati ini pun luluh sedih bercampur bahagia.
Kata-kata lain yang terngiang di otak dan juga sebagai motivasi diri ini untuk semakin memantapkan sunah Rasul ini adalah pesan WA dari sang Paman yakni Abi nya Viro yang mengucapkan selamat, dan dilanjutkan dengan kata-kata "selamat menjalnkan ibadah terpanjang waktunya". Subhanallah sungguh kata yang sangat memotivasi dan meyakinkan hati untuk terus melanjutkan sunah ini.
Namun sayang seribu sayang, cerita lainnya juga bercerita di kisah ini. Sang kakak tercinta di hari bahagia ku ini tak dapat menghadiri dan menyaksikan akad pernikahan ini, karena beliau sakit dan harus di rawat inap di Cirebon tempatnya... hanya video call yang kusaksikan beliau terbaring sakit dengan infus yang menempel ditangannya, seandainya waktu bahagiaku ini dapat diundur waktunya sampai beliau sembuh niscaya ingin ku undur waktunya agar kakaku sayang bisa menyaksikan hari bahagia ku ini. Namun waktu telah ditentukan dan tercatat di negara melalui KUA. Tapi aku yakin bahwasannya segala kejadian ini pasti ada hikmahnya. Alloh SWT mentakdirkan sakitnya kakaku sayang di hari bahagia ku pasti banyak hikmah yang terkandung didalamnya.
Dan dihari itu juga sore harinya kakakku sembuh dan diperbolehkan pulang juga dapat melihatku berbaju raja sehari walau sudah tak banyak keluarga yang menyaksikan. Haru biru di hari Rabu hari itu.....
Hal sedih lainnya juga adalah Almarhum bapa yang pastinya tidak dapat menyaksikan anaknya karena telah berbeda ruang dan waktu, namun kuyakin beliau melihat dan ada di sana menyaksikan anak bungsunya menikah.
Ini babak episode baru saya yang sekarang sudah menjadi Kita.....
Do'aku di selesai Shalatku adalah semoga keluargaku menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah dan mendapatkan keturunan yang shaleh dan shalehah aamiin.......
Nuhun Mih..... mugia Mimih sehat saterasna, panjang yuswana kalayan barokah oge mugia istiqamah Dina ajaran mantenna,,, nuhun do'a-do'a na sareng sadaya nasehatnya............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar