Begitu banyak hal yang bisa kita
lakukan didunia ini, kita bisa begini, kita bisa begitu, itu semua karena
karunia Allah swt yang diberikan kepada makhluk-Nya. Namun karunia yang Allah
berikan tersebut, terkadang kita tidak bisa mensyukurinya. Bahkan kita merasa
menjadi sombong dengan kondisi kita yang seperti itu. Misalnya orang kaya
menjadi merasa sombong dengan kekayaannya, sehingga mereka bisa berbuat
semaunya dengan harta yang dimilikinya. Padahal yang mereka miliki bukan milik
merka, itu semua hanya titipan. Selanjutnya yang paling mengherankan adalah
kelakuan anak-anak orang kaya yang berlaku semaunya juga, merasa dirinya paling
sempurna dan membuat orang-orang disekitarnya takluk terhadapnya karena
kepemilikan harta orang tuanya. Namun tidak semua orang seperti itu, yang
disoroti dalam hal ini adalah mereka yang berkelakuan sepereti itu. Anak-anak
orang kaya tidak sepenuhnya salah, yang paling bertanggung jawab adalah orang
tuanya yang diberi kewaiban untuk mendidiknya. Anak itu berbuat tergantung dari
apa yang dia lihat dan dia terima dari orang tua dan lingkungannya. Misalnya saja
ketika masih anak-anak sudah diberikan peralatan yang seharusnya dimiliki atau
digunakan oleh orang dewasa seperti motor dan mobil juga yang lainnya. Mereka menjadi
merasa lebih dari anak-anak lainnya yang belum memilki atau belum bisa
menggunakannya. Walhasil diwaktu sekarang ini banyak anak yang telah kecanduan
merokok, karena faktor lingkungan dan dukungan dari orang tuanya, dukungan
dalam arti lepas dari pemantauan orang tua. Lepas pemantauan biasanya terjadi
karena kesibukan orang tua dalam mencari uang atau dengan kata lain sibuk
dengan pekerjaannya. Tapi banyak juga anak yang jarang bertemu dengan orang
tuanya karena kesibuakan dalam pekerjaanya tapi dia tumbuh dan berkembang
dengan baik. Itu semua karena pendidikan orang tua yang ditanmkan sejak dini
dan do’a orang tua yang kontinu juga dengan pemantauan menggunakan teknologi,
dan juga mungkin ada hari-hari libur yang mereka gunakan untuk berkumpul,
walaupun misalnya hanya dua kali dalam seminggu.
Sungguh sangat beruntung seoarng
anak yang selama 24 jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu berada dalam
pemantauan orang tuanya dan bertemu setiap saat. Ketika diam dirumah kedamaian
yang dia dapatkan, bercerita tentang hari yang telah dia lewatkan. Namun jika
keadaannya sepereti itu bisa saja membuat si anak tumbuh menjadi aak manja yang
merasa dirinya mendapatkan perlindungan penuh dari keluarganya. Jadi harus ada
pembatasan-pembatasan jangan sampai seperti pepatah orang sunda nyaah dulang yang berarti berkelebihan
terhadap anak yang membuat anak menjadi begitu manja sekali yang tidak baik
untuk masa depannya juga.
Kembali lagi bercerita dengan
kelakuan yang semaunya bagi mereka yang merasa dirinya lebih daripada orang
lain, seperti tadi orang kaya, juga banyak menimpa terhadap orang yang memiliki
kedudukan tinggi atau jabatan tinggi. Mereka yang tidak benar akan menggunakan
jabatan yang mereka milki untuk kemaslahatan dirinya, bisa berlaku
sewenang-wenang bahkan bisa saja membolak-balikan keadaan dengan jabatan yang
dia duduki. Hasil lainnya, anak dari si pejabat yang menggunakan jabatannya
dengan sewenang-wenang membuat anak menjadi merasa dirinya adalah orang penting
dan mendapatkan perlindungan karean orag tuanya adalah pejabat. Namun banyak
juga anak yang semakin rendah hati dengan keadaan seperti itu. Karena factor lingkungan
dan pergaulan yang dia peroleh.
Jadi sebenarnya kelakuan seorang
anak itu masih bisa dirobah dengan cara menempatkan lingkungan dan pergaulannya
di tempat yang baik-baik. Seperti memberikan atau memasukan anak di pesantren,
atau memantau pergaulan anak, dengan siapa saja dia bermain. Karena factor lingkungan
akan sangat cepat merobah kepribadian anak. Misalnya, anak yang tidak suka
merokok ketika banyak bergaul dengan anak perokok, setidaknya dia akan
mendapatkan ajakan untuk merokok, atau olok-olok dari si perokok kepadanya. Namun
ini bisa di halangi dengan dasar anak dikeluarga bahwa merokok itu tidak baik
untuk dirinya dan di keluargapun tidak ada yang merokok. Jadi ketika si anak
memiliki dasar bahwa dia tidak akan menjadi perokok, ketika anak lain akan
menawarkan rokok dia akan menolak dengan senyuman. Bahkan anak-anak perokok
lainnya akan merasa malu ketika merokok dihadapan anak yang tidak merokok atau
menghargai anak yang bukan perokok dengan cara tidak menawarinya atau dengan
izin terlebih dahulu sebelum merokok.
Bukan berarti saya sebagai
penulis artikel ini tidak suka kepada perokok, namun saya kurang suka terhadap
anak kecil dibawah umur apalagi masih SD atau SMP sudah kecanduan merokok. Kasihan
untuk dirinya, karena setidaknya uang jajannya akan sedikit berkurang untuk
dibelikan rokok yang lumayan mahal harganya dan tidak mengenyangkan. Bahkan akan
sangat kasihan ketika uang jajannya habis, tapi karena kecanduan merokok,
akhirnya harus beli rokok dengan cara yang tidak baik. Misalnya memajak anak
lain ataupun cara-cara yang lain yang tidak baik.
Selanjutnya, kembali kepada
pembahasan awal, bahwa diri ini adalah manusia yang tiada daya dan upaya dalam
menjalani hidup ini. Walaupun diberi rezeki berupa harta yang lebih, itu semua
hanya titipan semata, diberi jabatan yang tinggi, itu juga hanya titipan
sementara, diberi ilmu yang tinggi juga hanya titipan semata, semuamya akan diambil
kembali oleh pemiliknya.
Kita harus seperti tukang parkir,
lihat saja tukang parkir ketika di tempatnya akan begitu banyak motor dan mobil
yang di simpan di sana, tapi dia tidak merasa sombong, karena dia tahu bahwa
mobil dan motor yang ada disana semuanya hanyalah titipan dari pemiliknya, dia
hanya menjaga dan mendapatkan upah dari pemiliknya. Begitu pula dengan kita,
semua yang kita miliki itu hanyalah titipan, tidak perlu sombong. Yang pantas
sombong hanyalah Allah swt yang memiliki segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar