Senin, 08 Februari 2016

tak ada judul



Begitu banyak hal yang bisa kita lakukan didunia ini, kita bisa begini, kita bisa begitu, itu semua karena karunia Allah swt yang diberikan kepada makhluk-Nya. Namun karunia yang Allah berikan tersebut, terkadang kita tidak bisa mensyukurinya. Bahkan kita merasa menjadi sombong dengan kondisi kita yang seperti itu. Misalnya orang kaya menjadi merasa sombong dengan kekayaannya, sehingga mereka bisa berbuat semaunya dengan harta yang dimilikinya. Padahal yang mereka miliki bukan milik merka, itu semua hanya titipan. Selanjutnya yang paling mengherankan adalah kelakuan anak-anak orang kaya yang berlaku semaunya juga, merasa dirinya paling sempurna dan membuat orang-orang disekitarnya takluk terhadapnya karena kepemilikan harta orang tuanya. Namun tidak semua orang seperti itu, yang disoroti dalam hal ini adalah mereka yang berkelakuan sepereti itu. Anak-anak orang kaya tidak sepenuhnya salah, yang paling bertanggung jawab adalah orang tuanya yang diberi kewaiban untuk mendidiknya. Anak itu berbuat tergantung dari apa yang dia lihat dan dia terima dari orang tua dan lingkungannya. Misalnya saja ketika masih anak-anak sudah diberikan peralatan yang seharusnya dimiliki atau digunakan oleh orang dewasa seperti motor dan mobil juga yang lainnya. Mereka menjadi merasa lebih dari anak-anak lainnya yang belum memilki atau belum bisa menggunakannya. Walhasil diwaktu sekarang ini banyak anak yang telah kecanduan merokok, karena faktor lingkungan dan dukungan dari orang tuanya, dukungan dalam arti lepas dari pemantauan orang tua. Lepas pemantauan biasanya terjadi karena kesibukan orang tua dalam mencari uang atau dengan kata lain sibuk dengan pekerjaannya. Tapi banyak juga anak yang jarang bertemu dengan orang tuanya karena kesibuakan dalam pekerjaanya tapi dia tumbuh dan berkembang dengan baik. Itu semua karena pendidikan orang tua yang ditanmkan sejak dini dan do’a orang tua yang kontinu juga dengan pemantauan menggunakan teknologi, dan juga mungkin ada hari-hari libur yang mereka gunakan untuk berkumpul, walaupun misalnya hanya dua kali dalam seminggu.
Sungguh sangat beruntung seoarng anak yang selama 24 jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu berada dalam pemantauan orang tuanya dan bertemu setiap saat. Ketika diam dirumah kedamaian yang dia dapatkan, bercerita tentang hari yang telah dia lewatkan. Namun jika keadaannya sepereti itu bisa saja membuat si anak tumbuh menjadi aak manja yang merasa dirinya mendapatkan perlindungan penuh dari keluarganya. Jadi harus ada pembatasan-pembatasan jangan sampai seperti pepatah orang sunda nyaah dulang yang berarti berkelebihan terhadap anak yang membuat anak menjadi begitu manja sekali yang tidak baik untuk masa depannya juga.
Kembali lagi bercerita dengan kelakuan yang semaunya bagi mereka yang merasa dirinya lebih daripada orang lain, seperti tadi orang kaya, juga banyak menimpa terhadap orang yang memiliki kedudukan tinggi atau jabatan tinggi. Mereka yang tidak benar akan menggunakan jabatan yang mereka milki untuk kemaslahatan dirinya, bisa berlaku sewenang-wenang bahkan bisa saja membolak-balikan keadaan dengan jabatan yang dia duduki. Hasil lainnya, anak dari si pejabat yang menggunakan jabatannya dengan sewenang-wenang membuat anak menjadi merasa dirinya adalah orang penting dan mendapatkan perlindungan karean orag tuanya adalah pejabat. Namun banyak juga anak yang semakin rendah hati dengan keadaan seperti itu. Karena factor lingkungan dan pergaulan yang dia peroleh.
Jadi sebenarnya kelakuan seorang anak itu masih bisa dirobah dengan cara menempatkan lingkungan dan pergaulannya di tempat yang baik-baik. Seperti memberikan atau memasukan anak di pesantren, atau memantau pergaulan anak, dengan siapa saja dia bermain. Karena factor lingkungan akan sangat cepat merobah kepribadian anak. Misalnya, anak yang tidak suka merokok ketika banyak bergaul dengan anak perokok, setidaknya dia akan mendapatkan ajakan untuk merokok, atau olok-olok dari si perokok kepadanya. Namun ini bisa di halangi dengan dasar anak dikeluarga bahwa merokok itu tidak baik untuk dirinya dan di keluargapun tidak ada yang merokok. Jadi ketika si anak memiliki dasar bahwa dia tidak akan menjadi perokok, ketika anak lain akan menawarkan rokok dia akan menolak dengan senyuman. Bahkan anak-anak perokok lainnya akan merasa malu ketika merokok dihadapan anak yang tidak merokok atau menghargai anak yang bukan perokok dengan cara tidak menawarinya atau dengan izin terlebih dahulu sebelum merokok.
Bukan berarti saya sebagai penulis artikel ini tidak suka kepada perokok, namun saya kurang suka terhadap anak kecil dibawah umur apalagi masih SD atau SMP sudah kecanduan merokok. Kasihan untuk dirinya, karena setidaknya uang jajannya akan sedikit berkurang untuk dibelikan rokok yang lumayan mahal harganya dan tidak mengenyangkan. Bahkan akan sangat kasihan ketika uang jajannya habis, tapi karena kecanduan merokok, akhirnya harus beli rokok dengan cara yang tidak baik. Misalnya memajak anak lain ataupun cara-cara yang lain yang tidak baik.
Selanjutnya, kembali kepada pembahasan awal, bahwa diri ini adalah manusia yang tiada daya dan upaya dalam menjalani hidup ini. Walaupun diberi rezeki berupa harta yang lebih, itu semua hanya titipan semata, diberi jabatan yang tinggi, itu juga hanya titipan sementara, diberi ilmu yang tinggi juga hanya titipan semata, semuamya akan diambil kembali oleh pemiliknya.
Kita harus seperti tukang parkir, lihat saja tukang parkir ketika di tempatnya akan begitu banyak motor dan mobil yang di simpan di sana, tapi dia tidak merasa sombong, karena dia tahu bahwa mobil dan motor yang ada disana semuanya hanyalah titipan dari pemiliknya, dia hanya menjaga dan mendapatkan upah dari pemiliknya. Begitu pula dengan kita, semua yang kita miliki itu hanyalah titipan, tidak perlu sombong. Yang pantas sombong hanyalah Allah swt yang memiliki segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...