Rabu, 21 Desember 2016

Cerita Mereka

Hari itu kalau gak salah hari Sabtu, di sore hari seperti biasa selalu ada orang yang nongkrong di warungku. Oh iya perkenalkan aku ini penunggu Warung Iyek (haaaaa.... penunggu.... ) penjaga lebih tepatnya. Warung Iyek sebuah warung yang terletak di perkampungan tapi tidak kampungan hahahaaaa...... kalau hari menjelang sore setidaknya suka ada warga yang melepas penat nongkrong di sana.
Sekedar bercengkrama dan bertukar pikiran atau saja untuk "ngahahah" alias bercanda.
Sekitar 3 hari yang lalu sebelum tulisan ini diunggah, ada sebuah cerita dari mereka yang syarat makna jika di telaah lebih dalam lagi.
Ceritanya begini, ketika itu ada seorang tuna wicara dan tuna rungu membeli sesuatu ke warung aku. Seperti biasa beliau menggunakan bahasa isyarat untuk membeli yang beliau inginkan. Terkadang aku suka bingung untuk barang baru yang beliau inginkan. Tapi kalau barang yang biasa beliau beli aku sudah tahu semua berikut bahasa isyaratnya aku pun paham sekali karena sudah biasa. Namun ceritanya bukan ini, ceritanya muncul setelahnya beliau pergi.
Pertanyaanpun dimulai dari bercandaan..... penyakit apa yang langsung menular? Mereka kebingungan karena penyakit ya memang ada yang menular tapi tidak langsung.... namun aku jawab sambil tersenyum tuna wicara... coba saja kalau kita berada dekat denga seseorang yang tuna wicara pasti kitapun akan ikutan menjadi tuna wicara... haaaaaa..... betulkan?????
Namun sontak saja mereka bilang sambil serius (padahal maksud saya bercanda) yaa iya lah kita yang normal harus mengikuti yang kurang atau tidak normal. Yang tahu harus memahami yang tidak tahu.
Sontak saja otak sehat ini bekerja, sungguh itu kalimat sangat dalam sekali.... yang tahu atau dalam arti yang memiliki pengetahuan harus bisa memahami yang belum tahu, dalam arti ketika kita memiliki pemahaman yang lebih dari yang lain jangan sok, tapi kita harus pahami lawan bicara kita yang belum faham. Atau dengan kata lain jangan sombong jangan angkuh.... mentang-mentang kita orang berpendidikan tinggi, kita bicara bahasa-bahasa yang terlalu tinggi, yang mengakibatkan lawan bicara kita tidak paham bahkan menjadi minder karena tidak memahami kata tersebut. Coba saja bayangkan misalnya ada seorang tunawicara juga tunarungu bicara isyarat kepada kita, tapi kita menjawab dengan berbicara biasa seperti kepada orang yang normal. Pasti orang tunarungu tunawicara itu tidak akan memahami. Jadi kita selaku yang normal ya harus mengikuti yang tidak normal, alias mengalah mengikuti bahasa orang itu.
Jadi hargailah orang lain......
Tidak sombong,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...