Belajar membaca seperti lebih sulit dilakukan oleh anak-anak dibandingkan dengan belajar menggunakan handphone.
Ketika si anak disuruh belajar membaca pada selembar kertas, rasa malas hinggap mempengaruhi motivasi belajar.
Ketika si anak melihat orang-orang disekitarnya bermain hp, rasa ingin mencoba timbul, apalagi ketika bermain game.
Ketika si anak di beri kemudahan untuk menggunakan hp/tablet/alat teknologi lainnya bahkan diberikan hak milik, hanya dalam waktu yang sekejap si anak dapat memahami bahkan menguasai gadget tersebut.
Bukannya tidak boleh melek teknologi, pemahaman terhadap teknologi itu harus.
Tapi sebelum mengenalkan teknologi pada anak, harus dan wajib diberi pondasi pendidikan dasar, seperti agama, kedisiplinan, akhlak dan yang lainnya.
Jadi ketika nanti si anak berkenalan dengan gadget, pikirannya tidak seutuhnya terbuai terhadap gadget.
Nantinya ketika menggunakan gadget sedang masa seru-serunya, terus berkumandang suara adzan, si anak akan menyimpan gadgetnya dan lari mengambil air wudhu.
Bukan malah terbuai dan terlena dengan gadgetnya.
Bukan hanya anak-anak yang terbuai terlupakan seperti itu, orang dewasapun sepertinya tidak jauh, termasuk penulis postingan ini juga (heee...)
Teringat pesan sang Ustadz dalam sebuah hadist menerangkan
"aljanatu hufat bimakarihi wan naru hufat bisyahwatihi"
Kalau kebaikan selalu diiringi dengan rasa makruh/malas, sedangkan kejelekan diiringi dengan rasa senang/gembira/bernafsu.
Semoga teknologi tidak memperbudak manusia, tapi teknologi meringankan tugas/pekerjaan manusia. (AH)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar