Rabu, 13 April 2016

GEMINGAN KATA (2)



          Bertanya seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Induk yang menjadi tumpuan berdiri dikaki sendiri. Kesendirian yang berselimut rasa sepi berbalut luka. Terluka karena pertanyaan yang belum terjawab. Jawaban yang diharapkan seperti halnya mereka merindukan sinar rembulan. Bulan yang terindah menghiasi malam ditemani bintang-bintang. Bintang yang berkelip setiap mata berkedip mesra. Kemesraan bersama beriringan menyelimuti kesenangan yang dibarengi kisah canda juga kisah tawa. Tertawa seakan sebuah senyum manis hasil kemenangan. Menang yan terbangun dari kekalahan yang tak diduga oleh logika. Logika yang berimajinasi seakan mereka mengumbar senyuman. Senyuman yang tanpa kata-kata penuh makna.
          Bergurau sendu berjalan tanpa iringan irama tak bernada. Nada-nada yang berbunyi dari biola-biola tak berdawai. Bergurau bagai penerka tersungkur disana. Nada-nada terdengar terhenyak meninggalkan gemingan-gemingan telinga bersahabat. Bergurau bersama mereka yang bersedih hati. Nada-nada tertawa beraturan menjaga kesungguhan diri. Bergurau bersama mereka yang sudah tersenyum. Nada-nada tertawa terbahak-bahak menunjukan pantauan imajinasi mereka. Bergurau dan tersenyum. Nada-nada tersenyum dan tertawa yang terbahak-bahak.
          Puing-puing kenangan belum terhapus dalam pejaman mata. Mata yang indah juga anugerah dari Sang Maha Pencipta alam semesta. Semesta alam menyaksikan kepiluan kenangan yang telah menjadi puingan-puingan kesedihan yang tertanam di memori otak kanan. Kanan yang berdampingan dengan kiri seperti mereka. Mereka yang menjadi kenangan yang tak akan terlupakan apalagi termakan oleh zaman. Zaman yang semakin seperti ini bagi mereka yang tak bisa mengimbangi. Seimbang antara kesedihan dan kebahagiaan. Bahagia yang dulu dirasakan bersama. Bersama dengan dirinya yang memberi kasih sayang yang tak ada ujungnya. Ujung sekecil apapun tak akan ada yang menandinginya dari beliau. Beliau yang bercucuran keringat untuk mereka yang sekecil dan sepolos lucu. Lucu ketika mereka member dan menebar senyuman sebagai penghilang rasa penat dan lelah. Lelah yang hilang ketika mendengar celotehan dan cerita yang tak masuk akan logika. Logika yang berbicara namun mereka menerka dengan senyum lepas bukan menertawakan tapi merasa bahagia akan perkembangan mereka. Mereka yang kehilangan Dia yang terhapus oleh waktu dan ruang yang berbeda. Berbeda dengan hari-hari biasa yang terus bersama dengan kehadiran dirinya. Dirinya yang merasa lelah ketika bermimpi untuk masa depan mereka. Mereka yang belum tahu cara berterimakasih kepada Dia yang menjadi jembatan kehidupan yang layak. Layaknya senyuman dan tawa yang mengembang menyinari dunia dengan hangatnya matahari yang menghangati seisi dunia. Didunia ini hanyalah untaian kata-kata makna yang terkirim untuk Dia yang sudah merasa nyaman disana. Disana tertidur panjang menunggu akhir cerita yang semua orang tak mengetahuinya.
          Semoga Dia nya saya dan dia dia dia dia nya mereka mereka diluar sana diberikan tempat yang terindah ternyaman dan menjadi harapan semua yang bernafas Aamiin….

1 komentar:

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...