Bertanya seperti anak ayam yang
kehilangan induknya. Induk yang menjadi tumpuan berdiri dikaki sendiri.
Kesendirian yang berselimut rasa sepi berbalut luka. Terluka karena pertanyaan
yang belum terjawab. Jawaban yang diharapkan seperti halnya mereka merindukan
sinar rembulan. Bulan yang terindah menghiasi malam ditemani bintang-bintang. Bintang
yang berkelip setiap mata berkedip mesra. Kemesraan bersama beriringan
menyelimuti kesenangan yang dibarengi kisah canda juga kisah tawa. Tertawa seakan
sebuah senyum manis hasil kemenangan. Menang yan terbangun dari kekalahan yang
tak diduga oleh logika. Logika yang berimajinasi seakan mereka mengumbar
senyuman. Senyuman yang tanpa kata-kata penuh makna.
Bergurau sendu berjalan tanpa iringan
irama tak bernada. Nada-nada yang berbunyi dari biola-biola tak berdawai. Bergurau
bagai penerka tersungkur disana. Nada-nada terdengar terhenyak meninggalkan
gemingan-gemingan telinga bersahabat. Bergurau bersama mereka yang bersedih
hati. Nada-nada tertawa beraturan menjaga kesungguhan diri. Bergurau bersama
mereka yang sudah tersenyum. Nada-nada tertawa terbahak-bahak menunjukan
pantauan imajinasi mereka. Bergurau dan tersenyum. Nada-nada tersenyum dan
tertawa yang terbahak-bahak.
Puing-puing kenangan belum terhapus
dalam pejaman mata. Mata yang indah juga anugerah dari Sang Maha Pencipta alam
semesta. Semesta alam menyaksikan kepiluan kenangan yang telah menjadi
puingan-puingan kesedihan yang tertanam di memori otak kanan. Kanan yang berdampingan
dengan kiri seperti mereka. Mereka yang menjadi kenangan yang tak akan
terlupakan apalagi termakan oleh zaman. Zaman yang semakin seperti ini bagi
mereka yang tak bisa mengimbangi. Seimbang antara kesedihan dan kebahagiaan. Bahagia
yang dulu dirasakan bersama. Bersama dengan dirinya yang memberi kasih sayang
yang tak ada ujungnya. Ujung sekecil apapun tak akan ada yang menandinginya
dari beliau. Beliau yang bercucuran keringat untuk mereka yang sekecil dan
sepolos lucu. Lucu ketika mereka member dan menebar senyuman sebagai penghilang
rasa penat dan lelah. Lelah yang hilang ketika mendengar celotehan dan cerita
yang tak masuk akan logika. Logika yang berbicara namun mereka menerka dengan
senyum lepas bukan menertawakan tapi merasa bahagia akan perkembangan mereka. Mereka
yang kehilangan Dia yang terhapus oleh waktu dan ruang yang berbeda. Berbeda dengan
hari-hari biasa yang terus bersama dengan kehadiran dirinya. Dirinya yang
merasa lelah ketika bermimpi untuk masa depan mereka. Mereka yang belum tahu
cara berterimakasih kepada Dia yang menjadi jembatan kehidupan yang layak. Layaknya
senyuman dan tawa yang mengembang menyinari dunia dengan hangatnya matahari
yang menghangati seisi dunia. Didunia ini hanyalah untaian kata-kata makna yang
terkirim untuk Dia yang sudah merasa nyaman disana. Disana tertidur panjang
menunggu akhir cerita yang semua orang tak mengetahuinya.
Semoga Dia nya saya dan dia dia dia
dia nya mereka mereka diluar sana diberikan tempat yang terindah ternyaman dan
menjadi harapan semua yang bernafas Aamiin….
super sekali
BalasHapus