Rabu, 09 Maret 2016

MENGGALI IBROH DARI PERISTIWA GERHANA MATAHARI

Peristiwa gerhana adalah peristiwa dahsyat, penuh ibroh dan pelajaran bagi hamba.
Kalau gerhana Matahari pernah terjadi hanya sekali pada zaman Nabi, sekarang pada zaman ini begitu sering kita dapati peristiwa gerhana matahari. Namun sudahkan kita mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut?!
Ataukah hati kita sudah membeku seperti batu?!
1. Gerhana matahari pernah terjadi pada zaman Nabi di hari Senin 29 Syawwal tahun 10 Hijriyyah/bertepatan dengan 27 Januari 632 Masehi, pukul 08.30 pagi.
2. Disyariatkan Sholat gerhana secara berjamaah di masjid pria dan wanita dengan bacaan keras dan panjang sebanyak 2 rakaat dengan 4 kali rukuk dan 4 kali sujud.
3. Matahari dan bulan merupakan makhluk Allah yang agung, yang menunjukkan kebesaran Sang Pencipta. (QS. Fushilat: 37). Allah bersumpah dengan keduanya dalam Al Qur'an. (QS. Asy-Syamsu: 1-2) karena kemuliaan keduanya dan besarnya manfaat keduanya bagi kehidupan manusia.
4. Gerhana matahari atau bulan tidak ada kaitannya dengan mati atau lahirnya manusia. Ini adalah keyakinan jahiliyyah yang dibatalkan Nabi Muhammad yang datang membawa cahaya serta menghapus kegelapan perangai jahiliyyah yang masih bercokol hingga sekarang seperti pengkultusan kuburan, ramalan bintang dan kiamat, perpecahan, merasa sial dengan angka 13 atau bulan syuro dll. Kita dimuliakan dg Islam, jika ingin meraih kejayaan maka kembalilah kepada Islam bukan kembali kepada jahiliyyah.
5. Tujuan inti adanya gerhana adalah sebagai peringatan bagi hamba agar mereka taubat dari dosa, semangat mengumpulkan bekal akherat, tidak tertipu dengan fatamorgana dunia, dan selalu ingat akan hari akhir (Lihat QS. Al Isra': 59)
Maka termasuk kesalahan jika gerhana malah disambut dengan penuh canda dan tertawa, selfie, apalagi dengan ngadain konser bersama artis ibu kota !!
Sudah begitu keraskah hati kita?!
Oleh: Al-Ustâdz Abu Ubaidah, Muhammad Yusuf bin Mukhtar bin Munthohir As-Sidawi Hafizhahullâh

Selasa, 08 Maret 2016

PESAN AA (24)

  •      Walaupun kita sudah melakukan yang benar tapi adakalanya tetap disalahkan , jangan risau, Alloh tetap akan mencintai yang benar.
  •      “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a” (QS Ali ‘Imran 38)
  • Ayo kita kendalikan pikiran dan hati kita agar tidak terjebak mendramatisir masalah, mudahkan jangan dipersulit.
  • Kalau setiap sikap dan perkataan yang tidak enak  dimasukan ke hati, kapan bahagianya hidup ini? Lapang dada itu nyaman.
  • Ujian hidup ini tidak dirancang untuk menghancurkan hati kita, melainkan untuk membersihkan dan mengangkat derajat, Bersabarlah!!!
  • Mari kita sembunyikan kebaikan kita sebagaimana kita menyembunyikan aib kita.
  • “Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik” (QS Ar Ra’d 18)
  •  “Ingatlah kamu kepada Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu” (QS Al-Baqarah 152)
  • Kalau ada yang berkata jelek kepada kita, kita balas dengan senyuman yang tulus.
  • “Hai manusia sesungguhnya kezalimanmu (bahayanya) akan menimpa dirimu sendiri …” (QS Yunus 23)

Gerhana Matahari (Kusuf)



Tanggal 9 Maret 2016 akan terjadi suatu kejadian alam yang jarang terjadi di alam semesta ini. Itu semua adalah kekuasaan Allah swt yang Menciptakan alam semesta ini yang begitu teraturnya. Bahkan bagi sumber daya manusianya yang diberikan cara berfikir melebihi yang lainnya membuat bisa mempelajari kejadian alam, atau dengan kata lain bisa membaca keadaan alam, bahkan memprediksinya. Di tanggal 9 Maret ini akan terjadi gerhana matahari total, dan untuk Indonesia dibagian timur bisa menyaksikan kejadian alam ini. Ketika terjadi gerhana ini, kita sebagai umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir, berdo’a dan bersedekah.
Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua raka’at dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun, para ulama berselisih mengenai tata caranya.
Ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada sekali ruku’, dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat sebagaimana yang dipilih oleh mayoritas ulama. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1: 435-437)
Hal ini berdasarkan hadits-hadits tegas yang telah kami sebutkan:
“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at. (HR. Muslim no. 901)
“Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.” (HR. Bukhari, no. 1044)
Ringkasnya, tata cara shalat gerhana -sama seperti shalat biasa dan bacaannya pun sama-, urutannya sebagai berikut.
[1] Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan karena melafadzkan niat termasuk perkara yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga tidak pernah mengajarkannya lafadz niat pada shalat tertentu kepada para sahabatnya.
[2] Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.
[3] Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah:
جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)
[4] Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.
[5] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’
[6] Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
[7] Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.
[8] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).
[9] Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
[10] Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
[11] Tasyahud.
[12] Salam.
[13] Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. (Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1: 438)
Sumber : https://rumaysho.com/9044-tata-cara-shalat-gerhana-2.html

Sabtu, 05 Maret 2016

PESAN AA (23)

  • Menghadapi masalah apapun harus diawali mengendalikan diri, usahakan tenang, tidak panik atau emosional, perbanyak dzikir dan do’a.
  • “Barangsiapa yang berat timbangan(Kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan” (QS Al-Muminuun 102)
  •  Ciri orang yang tidak sabar, selalu ingin orang lain mengetahui penderitaannya
  •  Siapapun yang mengenal Alloh Yang Maha Besar tidak akan membesarkan diri, tidak akan kagumterhadap pangkat jabatan para pembesar duniawi.
  • Mendekati Alloh lebih mudah daripada mendekati siapapun, karena Alloh Maha Dekat dan sangat mencintai orang ang mendekati-Nya.
  • ‘Ta’atilah Allah Ta’ala dan RasulNya; Jika Kamu berpaling maka sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menyukai orang-orang kafir” (QS Ali Imran 32)
  • “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya, mereka itu dimuliakan didalam syurga” (QS Al-Ma’aarij 34-35)
  • Makin patuh dan yakin kepada Alloh, mental akan makin mantap membaja, akhlak akan mulia, hidup akan penuh manfaat.
  • Yang membuat berkurangnya kebahagiaan  kita dalam berbuat baik adalah kurang tulus (masih berharap sesuatu)
  •  “Jika mereka tetap berjalan lurus diatas jalan itu (Islam), sungguh Kami akan member minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” (QS Al-Jin 16)

Jumat, 04 Maret 2016

Pekerjaan Yang Allah SWT Cintai



Ketika kita bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak bertemu, dan kembali bertemu setelah menginjak usia dewasa. Salah satu pertanyaan yang terlontar biasanya adalah tentang pekerjaan. Keadaan lain adalah ketika menghadiri suatu acara reuni dengan teman sekolah atau kuliah, biasanya salah satu pertanyaan yang menjadi topik diwaktu itu adalah tentang pekerjaan pula.
Dan sudah semestinya kita selaku manusia beragama dan juga makhluk social, sudah seharusnya memiliki pekerjaan. Apalagi bagi orang yang sudah berumah tangga, status memiliki pekerjaan adalah suatu yang dianggap keharusan, karena demi kelangsungan hidup keluarganya. Walaupun memang hidup kita sudah dijamin oleh Allah swt, tapi jalan ikhtiar jangan dilupakan. Bahkan Allah swt menyuruh kita agar berkeliaran dimuka bumi ketika setelah selesai melaksanakan kewajiban ibadah shalat.
Kita makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Kalau hewan hidup itu untuk mencari makanan. Jadi ketika sekumpulan hewan sedang berkumpul dan salah satu dari mereka ada yang mendapat makanan, maka hewan lainnya akan mengejar makanan milik hewan yang memilik makanan. Dan hewan yang memilik makanan biasanya akan mempertahankan diri agar makanannya tidak direbut oleh hewan lainnya juga. Namun kita ini adalah manusia yang ketika kita makan itu adalah agar kita memiliki energi untuk menjalani hidup yakni untuk beribadah kepada Allah swt.
Selanjutnya, pekerjaan apakah yang Allah swt sukai?
Ada sebuah hadist dari Aisyah Radiallohu’anha, Rasullullah saw bersabda amalan yang paling dicintai Allah swt adalah amalan yang terus menerus walaupun sedikit.
Misalnya Allah swt lebih menyukai hamba-Nya yang membaca Al-qur’an sehari satu ayat dibandingkan dengan hamba-Nya yang membaca Al-Qur’an satu juz tapi jarang.
Sedikit mencerna dari hadist diatas adalah Allah swt sangat mencintai pekerjaan seorang hamba walaupun kecil ataupun sedikit tapi dilakukan dengan terus menerus. Kata terus menerus mengandung arti pula tidak berputus asa, tidak gampang menyerah tapi dijalani secara kontinu.
Secara logika, orang yang tekun dalam bekerja, niscaya akan mendapatkan kesuksesan kelak. Namun ketika seseorag telah mencapai suatu titik kesuksesan atau tercapai harapan dan citanya, bukan berarti berhenti sampai disana. Tapi lanjutkan, kembangkan dan teruskan. Apalagi sampai memberi kesempatan kepada orang disekitar. Akhirnya kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Jadi apapun pekerjaan kita, jangan malu jangan ragu, selama pekerjaan kita halal dan diridhai oleh Allah swt, lanjutkan dan leukeunan  (kata orang sunda) niscaya kita akan menemukan kebahagiaan didepan, bahkan bisa jadi kita akan menemukan kesuksesan didepan. (AH)

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...