Peristiwa
gerhana adalah peristiwa dahsyat, penuh ibroh dan pelajaran bagi hamba.
Kalau
gerhana Matahari pernah terjadi hanya sekali pada zaman Nabi, sekarang pada
zaman ini begitu sering kita dapati peristiwa gerhana matahari. Namun sudahkan
kita mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut?!
Ataukah hati kita sudah membeku seperti batu?!
Ataukah hati kita sudah membeku seperti batu?!
1.
Gerhana matahari pernah terjadi pada zaman Nabi di hari Senin 29 Syawwal tahun
10 Hijriyyah/bertepatan dengan 27 Januari 632 Masehi, pukul 08.30 pagi.
2.
Disyariatkan Sholat gerhana secara berjamaah di masjid pria dan wanita dengan
bacaan keras dan panjang sebanyak 2 rakaat dengan 4 kali rukuk dan 4 kali
sujud.
3. Matahari
dan bulan merupakan makhluk Allah yang agung, yang menunjukkan kebesaran Sang
Pencipta. (QS. Fushilat: 37). Allah bersumpah dengan keduanya dalam Al Qur'an.
(QS. Asy-Syamsu: 1-2) karena kemuliaan keduanya dan besarnya manfaat keduanya
bagi kehidupan manusia.
4.
Gerhana matahari atau bulan tidak ada kaitannya dengan mati atau lahirnya
manusia. Ini adalah keyakinan jahiliyyah yang dibatalkan Nabi Muhammad yang
datang membawa cahaya serta menghapus kegelapan perangai jahiliyyah yang masih
bercokol hingga sekarang seperti pengkultusan kuburan, ramalan bintang dan
kiamat, perpecahan, merasa sial dengan angka 13 atau bulan syuro dll. Kita
dimuliakan dg Islam, jika ingin meraih kejayaan maka kembalilah kepada Islam
bukan kembali kepada jahiliyyah.
5.
Tujuan inti adanya gerhana adalah sebagai peringatan bagi hamba agar mereka
taubat dari dosa, semangat mengumpulkan bekal akherat, tidak tertipu dengan
fatamorgana dunia, dan selalu ingat akan hari akhir (Lihat QS. Al Isra': 59)
Maka termasuk kesalahan jika gerhana malah disambut dengan penuh canda dan tertawa, selfie, apalagi dengan ngadain konser bersama artis ibu kota !!
Sudah begitu keraskah hati kita?!
Maka termasuk kesalahan jika gerhana malah disambut dengan penuh canda dan tertawa, selfie, apalagi dengan ngadain konser bersama artis ibu kota !!
Sudah begitu keraskah hati kita?!
Oleh:
Al-Ustâdz Abu Ubaidah, Muhammad Yusuf bin Mukhtar bin Munthohir As-Sidawi
Hafizhahullâh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar