Ketika malam yang larut mulai menggantikan suasana sore hari, kesunyian seperti datang dengan tergesa-gesa. Masih banyak para penghuni bumi ini yang merubah celananya menjadi bersarung dan berbaju muslim serta peci ala khas Indonesia. Kumandang adzan yang seakan saling bersahutan menandakan bahwa hari ini telah selesai untuk perhitungan tanggal di tahun hijriyah, karena menurut perhitungan hijriyah, pergantian tanggal itu dari pukul 18.00 atau pukul 6 sore. Lain dengan tahun masehi, dimana pergantian tanggal itu terjadi pada jam 00.00 atau jam 12 malam. Mereka yang berjalan menuju masjid seakan penuh dengan kebahagiaan, karena mereka datang atas undangan Alloh. Ketika muadzin berkumandang hayya 'alasshalah mari kita shalat, hayya 'alalfalah mari kita menuju kemenangan, mereka yang menang berjalan menuju rumah Allah yaitu masjid. Padahal ada suatu kata mutiara yang juga bisa dijadikan sebuah motivasi, "jarak yang paling jauh itu adalah dari rumah ke masjid". Betapa berat godaan yang datang ketika kita hendak menuju mesjid, yang katanya jika kita berangkat berjalan menuju mesjid, maka setiap langkah mengandung pahala.
Terlihat disana banyak ibu-ibu yang bermukena pun ikut berjalan dengan senyuman menuju rumah Alloh untuk menggapai janjiNya bahwa jika kita shalat dengan berjamaah maka 27 derajat adalah pahala bagi kita. Ketika ibu-ibu yang berjalan itu didebat, kenapa ikut shalat di masjid, padahal ada keterangan bahwa perempuan itu lebih baik shalat di rumah. Sepertinya penulis menyukai jawaban ibu-ibu itu, mereka menjawab, daripada mesjid kosong, laki-lakinya masih banyak yang shalat di rumah. Ada lagi celetukan dari ibu-ibu lain, "memangnya apa alasan kalau perempuan itu lebih baik shalat dirumah?" Ada seseorang yang menjawab, untuk menghindari fitnah. Namun ibu-ibu itu menceletuk lagi, masa saya pergi sendirian ke pasar, ke supermarket, ke sawah, ke ladang dan sebagainya tak ada yang protes, padahal bisa menjadi fitnah kan? Ini kami pergi ke mesjid untuk benar-benar beribadah menjalankan shalat berjamaah.
Memang ada sebuah keterangan bahwa perempuan lebih baik shalat di rumah, tapi kalau menurut penulis itu tidak harus untuk diperdebatkan, masih banyak hal lain yang menyangkut kepentingan umat yang patut diperdebatkan yang harus dicari jalan keluarnya. Misalnya masih banyak anak-anak yang malas bahkan tak mau pergi mengaji belajar Al-Qur'an, itu mesti kita perhatikan, karena jika anak-anak sudah malas mencari ilmu, siapa generasi penerus yang akan melanjutkan masa depan bangsa yang berkarakter dan berakhlak qur'ani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar