Tersenyum melihat mereka yang menangis karena hasil belajar mereka kurang memuaskan. Ketika mereka menangis, berarti disana ada suatu motivasi besar yang terganjal keadaan. Disanalah kita harus mencari sebuah keadaan yang mereka hadapi.
Memang terlalu konyol ketika kuantitas mereka begitu banyak, namun waktu kita untuk berinteraksi dengan mereka begitu pendek. Walhasil hanya mereka sajalah yang suka merengek mendekati dan meminta perhatian lebih untuk sementara dicoba dilihat lebih dalam, ada apa dengan mereka?
Mereka yang menangis karena kurang merasa bangga atas apa yang dicapai, karena mereka merasa berusaha sebisanya tapi hasilnya pun sebisanya juga.
Setelah diajak berbicara dari suara ke suara dan menembus dinding hati, ternyata sebagian dari mereka belum bisa beradaptasi dengan waktu yang dahulu ketika seragam sebelumnya. Mereka masih menganggap sama bahwa tanpa belajar dirumah hasil akan seperti begitu seterusnya. karena tidak ada persaingan, dan walupun ada sebuah persaingan, saingan dari mereka sudah terbaca dan sudah terduga atau sudah terukur menurutnya.
Ketika waktu belajar mereka merasa begitu padat karena mengejar ilmu agama, sebenarnya bukan suatu alasan untuk tidak berprestasi di ilmu pengetahuan lainnya. Karena tidak sedikit ahli agama yang pintar dalam hal bidang ilmu lainnya.
Mereka masih melihat dengan sebelah mata, masih mengejar sebelah pihak. Padahal kedua-duanya bisa dijalankan asal dengan diiringi kemauan dan kemampuan yang ditunjang dengan waktu yang cukup dan efektif.
Managemen waktu, seperti itulah kuncinya. Membagi waktu, menggunakan waktu seefektif mungkin agar bisa membagi waktu dengan baik dan tidak merasa waktu yang dimiliki habis hanya untuk 'itu' saja, tapi bisa di manfaatkan dengan 'ini' juga.
Semua orang memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, tapi dalam waktu yang sama itu, akan menghasilkan suatu hasil yang berbeda. Kenapa bisa seperti itu? jawabannya adalah bagaimana memenej waktu dengan sebaik mungkin.
Tulisan ini hanyalah sedikit unek-unek dari curhatan mereka yang menangis karena 'itu'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar