Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 7)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 7

Menikahlah denganku."
Alifa tampak tercengang. Terdiam sesaat.

Degup jantungku kini riuh berdetak menanti jawabannya. Bagaimana kalau dia menolak? 

Huh!

"Bagaimana, mau nggak?" tanyaku lagi terkesan memaksa.

"Emm ...," dia sedikit menunduk, "kenapa tiba-tiba Mas Faiz ingin melamar saya, bukankah kita baru kenal sehari?"

"Setelah kejadian semalam, Mas pikir kamu butuh pelindung."

"Jadi Mas mau nikahi Aliya hanya untuk melindungi saya dari Juragan Kasim?"

"Itu misi awal," jawabku santai. Entah juga, visi misiku menikahi Aliya sampai detik ini memang belum jelas. Tapi nggak ada salahnya, sambil jalan dibentuk visi misinya.

"Kalau boleh Aliya tahu, misi Mas selanjutnya apa?"

Aku sedikit terhenyak, pertanyaan menantang.

"Misi selanjutnya ya ... mencintai, kamu."

Dia tertegun. Kini aku yang menunduk dan menarik napas. Ya Allah, bisakah aku mencintai wanita selain Aisyah.

"Jadi diterima apa nggak?"

Aneh sebenarnya dan yang pasti tidak romantis. Jelas bukan begini caraku dahulu melamar Aisyah.

Gadis di hadapanku kini tampak tersenyum. Sejenak mataku diajak membingkai wajahnya, cantik memang. Ditambah gingsul sebelah kanan.

"Alifa pikir-pikir dulu ya, Mas?"

Hah! Nah rasain lu Iz, digantungin!"

"Oke, Mas tunggu."

Aku berlalu dari hadapannya. Sedikit kesal, harusnya langsung aja dijawab, iya apa nggak. Tapi ya sudah lah, wanita memang harus terlihat jual mahal, supaya terkesan berharga.

"Eh, Mas Faiz. Tunggu sebentar."

Ucapan Alifa membuat langkahku terhenti.

"Makasih ya, Mas. Bantuannya semalam. Jika Allah tak mengirim Mas, mungkin saya sudah diapa-apain sama Juragan Kasim."

Kuhela napas panjang. Tak kujawab, hanya sekadar mengangguk. Lalu langkah ini kembali tergerak untuk berlalu pergi. Benar adanya, jika mengingat kejadian tadi di taman, antena di kepalaku benar-benar oleng.

***

Motor baru bergulir beberapa kilometer. Jalanan sedikit sepi. Tiba-tiba, berbagai kejadian melintas lalu di benak. Pertemuan pertamaku dengan Aisyah, saat aku mendatangi rumahnya pertama kali, bahkan saat aku memberanikan diri melamar meski hanya bermodalkan doa. Dan yang membuat napasku tercekat adalah peristiwa saat Mas Bara mengenalkan Aisyah sebagai calon istrinya. Kutarik napas dalam.

Tak mau berhenti sampai disitu, kepalaku kembali terlempar pada peristiwa tadi pagi di taman. Aku menepuk dada perlahan. Aku memang tidak berhak menyimpan rasa ini untuk seseorang yang sudah dimiliki oleh lelaki lain. Tapi gimana cara membunuhnya?

Arghhh!..

Sakit berlipat-lipat menghujam dada. Tak bisa lagi kukontrol emosi diri, seketika kunaikkan kopling motor, seperti melayang kendaraan terpacu di jalanan. 

Jarum merah pada speedometer kini semakin menanjak naik, bertahan di 120 km/jam. Berlenggak lenggok motor menyelip diantara ramainya kendaraan. 

Tiba-tiba, mataku mengabur. Kabut yang sedari tadi memenuhi pelupuk membuat penglihatanku buram.

Teeettt!..

Klakson yang terdengar dari truk bermuatan besar di depan membuat tubuhku tersentak. 

Truk itu sedang menyalip kendaraan dari arah kanan, dan posisiku saat ini, juga tengah menyalip kendaraan dari arah kiri. Seketika aku berusaha menaikkan kecepatan maksimal agar bisa mendahului mobil yang kini berada di sampingku. Sial, usahaku tak berjalan mulus, body belakang motor besarku menyentuh ujung bagian depan truk. Seketika itu motor yang kunaiki oleng, terpental dan terseret sejauh beberapa meter ke sisi kiri jalan. Sedang aku terempas dan ikut terseret beberapa meter.

Astaghfirullah!. Setiap kali terempas, rasanya begitu menyakitkan. Sesaat gambaran neraka terpampang di depan mata. Siksa dunia saja, aku sudah tak mampu bertahan. Lalu bagaimana lagi jika yang menghujam tubuh adalah cambukan yang terbuat dari api neraka?

Maafkan hamba-Mu ini ya Allah.

Dihempasan terakhir, aku merasa seluruh daging dan tulang terlepas dari tubuh. Sakit luar biasa! Aku tak bisa menggambarkan remuknya tubuh ini. Tak ada kekuatan untuk bergerak. Bahkan untuk melepas helm yang masih menyangkut di kepala.

Aku terbaring lemah. Tiada yang mendekat. Inikah akhir hayatku ya Allah? Dengan denyut jantung yang ikut melemah, aku berusaha menarik napas walau begitu berat, terasa ada yang menusuk dada dengan kuat, sakit sekali.

 
Mataku masih berkedip. Dapat kurasakan darah perlahan mengalir dari pelipis. Sedikit-sedikit semua mulai gelap, tapi sebelum semua sempurna menghitam, aku masih bisa menatap dari kaca helm, api menyala menyambar motor besar kesayangan. 

Ya Allah, jika ini akhir hidupku. Maka maafkan diri ini, yang masih begitu berharap bisa bersamanya. 

Deg!..

Deg!..

Deg!..

Mami, maafkan Faiz, Mi. Fais menyerah, Faiz tak mampu bertahan.

Kututup mata yang mulai basah. Rasa kecewa, sakit, cinta yang terabaikan, perasaan dikhianati, mungkin semua akan hilang tanpa bekas. Terima kasih ya Allah.

Hidup adalah tentang belajar dan menerima, atau pergi dan belajar melupakan. Untukmu Aisyah, selamat menempuh hidup bahagia bersama Mas Bara.

"Tolonggg ....!"

Teriakan demi teriakan masih terdengar. 

"Angkat pemuda ini."

Seseorang mengangkat tubuhku. Sekarang nyeri hebat pindah ke dada. Perlahan menjalar ke leher. Apakah sudah sampai janjiku pada Allah?

***

Aisyah!

Aku melihat sosok wanita berdiri di ambang pintu, seberkas sinar menerpa wajahnya. Hingga mataku harus memicing ketika menatap sosok itu.

"Aisyah."

Wanita itu tersenyum.

"Mas Faiz ....".

"Benarkah itu kamu, Aisyah?".

Wanita itu hanya memberi isyarat dengan anggukan.

"Jangan begini lagi ya, Mas. Mas hanya harus berjuang dalam doa, setelah itu ajaklah hati untuk bertawakal. Ingat Mas sesuatu yang baik tidak datang dalam waktu yang cepat. Jika Allah menghendaki suatu kebaikan buat hamba-Nya, Dia akan memberi hamba itu ujian."

Aku tertegun. Sesuatu membuat kedua netra ku terasa berat.

'Andai kau tahu Aisyah, kaulah ujian dalam hidupku.'

Tiba-tiba, semburat warna kekuningan mengalahkan berkas putih yang tadi menerpa wajah Aisyah. Mataku tertutup karena pantulan sinarnya.

"Aisyahhh ...!"

Kubuka mata perlahan. Nanar. Langit-langit kamar berwarna putih kini menjadi sumber penglihatanku. Kugerakkan kepala ke samping, terasa begitu sakit. Tapi masih bisa kukondisikan.

"Mi ....".

Lirih aku memanggil mami yang nampak tertidur di sofa. Wanita itu menggeliat, lalu pandangannya tersorot padaku.

"Ya Allah, Faiz. Kamu sudah sadar, Sayang?".

Aku hanya bergeming, suaraku terlalu berat.

"Mami panggil dokter dulu, ya.

"Mi-"

Aku ingin mencegah, tapi suara terasa amat berat untuk kukeluarkan. Ya Allah, ternyata masih Kau beri aku kesempatan untuk hidup. 

Rasanya begitu terharu, setelah apa yang kualami kemarin, sekarang aku bisa menarik napas kembali.

Kuhela napas panjang. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Aku menoleh, barangkali yang datang adalah Mami dan dokter. Ternyata bukan, Aisyah.

Kami berpandangan sejenak. Dia terdiam. Entah benar, matanya berkaca-kaca, lalu buliran menetas di kedua sudut mata gadis itu. Tak lama, Mami dan beberapa perawat serta seorang dokter masuk. Aisyah tergeser, karena usaha orang-orang itu untuk memasuki kamar.

"Bagaimana perasaannya sekarang, Pak?". Dokter muda berjas putih bertanya sambil meletakkan stetoscop pada perutku.

Aku tak langsung menjawab, mataku terus menatap seseorang yang tengah asyik menyeka matanya. Tapi mendadak ia kaku, saat sebuah tangan kekar menghampiri dan merangkul bahunya.

Mas Bara.

Kuhela napas berat. Mataku sejenak terpejam, kusesapi kembali rasa sakit ini. Mungkin aku harus berhenti, mengubur rapat semua rasaku buatnya. 

Allah memberiku kesempatan hidup tentu karena Dia menginginkan adanya perbaikan dalam diriku, bukan semakin tenggelam pada rasa yang tak sewajarnya ini.

"Aku akan mengakhiri semuanya Aisyah, setelah ini, aku akan pergi."

"Sudah baikan, Dok."

"Mas harus banyak bersyukur, karena kalau saya istilahkan, Allah memberi dua nyawa untuk Mas. Setelah koma selama tiga hari, dengan kerusakan parah di bagian belakang otak, saya pikir mustahil bisa sadar dalam waktu secepat ini. Tapi hidup memang Allah yang mengatur. Kunfayakun. Setelah sehat, shalat sunnahlah dua rakaat."
 
Dokter berpeci itu memberi ceramah singkat. Semua tampak terharu, tak terkecuali Mami dan Nindi. Ternyata selain Aisyah, kedua wanita itu juga bermandikan air mata menyikapi tersambungnya hidupku.

"Kak, helmnya rusak parah lho. Motornya hangus."

Nindi seperti wartawan yang mengekspose peristiwa kecelakaan.

"Tapi Mami janji, bakalan beliin Mas Faiz mobil, biar nggak suka balapan lagi."

Aku mendelik, kalau dulu mungkin aku akan sangat tergiur dengan yang dibicarakan Nindi barusan. Tapi untuk sekarang, aku tidak terlalu memperdulikannya. Kesempatan hidup yang Allah beri ini, akan kugunakan untuk semakin mendekatkan diri pada-Nya.

"Eh ada Alifa. Masuk, Fa."
 
Aku menoleh saat Nindi menyebut nama Alifa, gadis yang sedang menggantung perasaanku.

"Gimana sudah baik keadaannya, Mas?"

Aku tersenyum, "baik."

"Apa karena Alifa tidak memberi jawaban atas pertanyaan Mas Faiz, makanya Mas Faiz tak konsentrasi mengendarai motor?"

Aku tersentak mendengar pertanyaan Alifa.

"Jawaban apa, Sayang?" 

Mami yang duduk di sofa bersama Mas Bara juga Aisyah, segera merespon. Jantungku riuh, entah kenapa sekarang malah tak lagi menginginkan Alifa memberi jawaban.

"Mas mau Alifa jawab sekarang?", tanyanya padaku.

Aku terdiam. Pandanganku terlempar pada Aisyah juga Mas Bara.

"Ya Allah, apa yang harus kulakukan?".

"Faiz ngelamar kamu, Fa?" tanya Mami yang kini, mendekati kami.

Alifa mengangguk. Aku memilih menunduk.

"Ayo kasih jawaban, Mami harap nggak ditolak lho.

"Bismillahirrahmanirrahim, Alifa menerima lamaran Mas Faiz."

Aku terhenyak. Entah apa yang dirasa hatiku, tapi aku tak seperti seseorang yang begitu menanti jawaban dari seorang gadis yang ia lamar. Lebih tepatnya aku merasa hampa.

"Ya Allah, ikhlaskanlah hati ini."
 
Mami tak henti mendengungkan syukurnya, sambil memeluk Alifa.

Aku memilih diam, sekuat tenaga berusaha tak melirik gadis itu. 

"Iz, kamu dah ngucap syukur belum?".

"Udah Mi, dalam hati."

Ah, entah kapan itu terucap. 



BERSAMBUNG

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 6)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 6
by Ayu Wahyuni

Disepertiga malam kau selalu menengadah meminta keikhlasan. Disaat itu juga, aku selalu menengadah meminta didekatkan. Doamu atau doaku yang akan terlebih dahulu mencapai langit?.

***

Kupandangi selembar foto dan sebuah kotak perhiasan berisi cincin permata. Ini adalah cincin pertama yang ingin kuhadihkan untuk seorang gadis saat aku masih duduk di bangku kuliah. 

Dialah gadis pertama yang membuatku mengenal cinta. Aku sungguh mencintainya, hingga berani meminang gadis itu walau masih bergelar mahasiswa.

Cinta bersambut, tapi orang tua tak merestui. Kemana harus kubawa rasa ini?.Sekian tahun aku terus memilih sendiri, mengumpulkan kepingan hati yang berserak karena ulah orang tua gadis itu. Setiap saat aku terus belajar melupakan anak gadisnya. Tapi ternyata, mencintai dia dalam semu masih menjadi candu yang selalu kurindui.

Hingga, bertepatan dengan dua puluh tujuh Ramadhan kemarin, aku bertemu dengan Aisyah. Saat itu aku terjun langsung ke rumah-rumah karyawan untuk membagikan bingkisan Ramadhan. Rumah yang terakhir kukunjungi adalah rumah orang tuanya Aisyah. Aku tak pernah tahu jika Rahman lelaki paruh baya yang berasal dari Aceh itu memiliki kehidupan yang sangat memprihatinkan. 

Istrinya sakit jantung, anaknya ada empat orang, yang sulung baru tamat pesantren, sedang yang bungsu baru duduk di kelas satu SD.

"Yang itu siapa namanya, Pak?" tanyaku pada Pak Rahman saat salah satu anak gadisnya mengantar minum.

"Yang itu si Sulung, Pak. Namanya Siti Aisyah, sudah setahun nganggur. Dianya sih pengen kuliah, tapi mengingat ibunya keluar masuk rumah sakit, dua adiknya mau naik SMP dan SMA. Saya meminta Aisyah untuk bersabar beberapa tahun lagi."

"Lho, beberapa tahun lagi, maksudnya?" Aku bertanya tak mengerti, atau jangan-jangan Pak Rahman memang tak ingin menyekolahkan anak gadisnya ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin saja Pak Rahman menganut prinsip, 'setinggi-tinggi perempuan menuntut ilmu, dapur, sumur, kasur juga kembalinya.'

Miris, aku ingin menceramahi lelaki itu. 

"Setidaknya nunggu dua tahun lagi lah, Pak. Sampai uangnya terkumpul dulu."

"Aisyah sebenarnya mau masuk Fakultas apa?" tanyaku kemudian, rasanya aku ingin membantu Pak Rahman, hitung-hitung beramal. Uangku juga berlebih, anak sendiripun belum punya.

"Katanya sih pengen jadi guru Bahasa Arab."

"Kalau gitu, suruh dia daftar terus di perguruan manapun yang dia mau. Semua biaya, biar saya yang tanggung."

Pak Rahman tampak terkejut. "Bapak serius?" tanyanya tak percaya.

"Ya, saya serius, Bapak."

Lelaki paruh baya itu kembali terdiam.
"Jangan atuh, Pak. Saya nggak enak."

"Lho kok nggak enak, Pak Rahman 'kan tidak meminta, saya yang menawarkan."

Lelaki itu bergeming, seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Bagaimana kalau Bapak beri anak saya pekerjaan, sebagai wujud terima kasihnya pada Bapak," tawarnya padaku.

"Ah, nggak usah Pak, karyawan saya 'kan udah cukup."

Aku kembali menolak keinginan Pak Rahman
Lelaki itu kembali bergeming.

"Kalau begitu jika Bapak tidak menolak, saya ingin menjodohkan anak saya untuk menjadi istri Bapak. Supaya dia bisa mengerjakan pekerjaan Bapak yang tidak dikerjakan orang lain."
 
Aku terhenyak. Saat itu, kata-kata Pak Rahman, tak langsung kutolak. Sepertinya hatiku ingin memberi ruang untuk berpikir.

"Maafkan saya Pak sudah lancang. Mana mungkin seorang pengusaha muda sukses seperti Bapak mau menikahi gadis biasa yang bahkan kuliah saja belum," ucapnya menunduk.

"Nggak ada yang salah Pak, selama dia menjaga diri, siapapun bisa menjadi pasangannya. Tawaran Bapak akan saya pikirkan, kebetulan saya juga sedang mencari calon istri."

Setelah hari itu, beberapa kali aku kembali ke rumah Pak Rahman. Mencari sela agar aku bisa belajar menerima Aisyah sebagai istri. Kupikir untuk melupakan Alifa, aku harus menikah. Karena setelah menikah, akan ada seorang wanita yang selalu mencintai dan mengajakku untuk mencintainya.

Tentang kriteria, memang banyak yang ingin menjadi istri dan tentunya yang melebihi Aisyah. Tapi aku mau yang sederhana, harapanku Alifa. Tapi, Aisyah juga memiliki semua kriteria wanita muslimah yang kuinginkan menjadi pendamping.

Akhirnya, dikali ketiga aku mengunjungi rumah itu, tidak lagi sekadar bertamu. Tapi, menyatakan keinginanku untuk menikahi Alifa.

***

Kupikir semua akan berjalan dengan mudah, layaknya pengantin baru lain dimana-mana.

Ternyata tidak denganku dan Aisyah.

Malam pertama kami, sangat aneh. Aku dan Aisyah seperti dua orang asing yang diletakkan dalam satu kamar. Hampir lebih lima belas menit kami duduk diam membisu di atas ranjang.  

Berusaha memecah keheningan, aku mulai membuka suara.

"Kamu nggak mau ke kamar mandi?".

Dia mengangguk sambil menunduk. Terlihat seperti seorang siswa yang sedang disidang oleh guru pembimbing. Memangnya aku kelihatan seperti guru BP?

Selama sepuluh menit dia di kamar mandi, saat keluar. Tubuhnya sudah berbalut gamis super lengkap.

Kini giliranku membersihkan diri. Entah berapa menit aku di ruangan itu, namun saat keluar, Aisyah masih duduk termanggu di tempat semula dia duduk.

"Kamu nggak mengantuk?".

Dia mengangguk lagi.

"Ya sudah kamu tidur aja duluan."

Dia mengangkat wajahnya. Baru kali ini aku melihat wajah gadis itu setelah sekian lama prosesi pernikahan berlangsung.

"Mas nggak mengantuk?".

Pertanyaan pertama..Aku menggeleng.

"Ada yang harus Mas kerjakan, kamu tidur aja duluan, nggak papa."

Lirih, gadis itu menjawab, "baik, Mas."

Sepertinya, dia menanggapi ucapanku seumpama perintah. Aisyah kini mengangkat tubuh menaiki ranjang, lalu tidur membelakangiku. 

Kuhela napas panjang sambil menarik langkah menuju meja kerja yang ada didalam kamar. Kini semua terasa kembali senyap. 

'Bisakah gadis itu menggantikan posisi Alifa di hatiku?'

Ada yang terasa perih di sudut hati saat memandangi tubuh gadis itu dari kejauhan. Selintas bayang Alifa mencabut kembali keinginanku untuk melupakannya. 

'Andai yang sedang terbaring itu Alifa, tentu tak kubiarkan malam ini berlalu tanpa menyentuhnya.'

***

Pagi ini aku bangun terlambat, tentu saja karena semalaman aku tak mampu memejamkan mata. Teringat bahwa hari ini adalah hari pertama setelah aku resmi menikah. Pasti Mami dan Nindi akan menyambutku dengan berbagai pertanyaan.

Kuedarkan pandang pada seluruh penjuru kamar, tidak ada Aisyah di tempat ini. Apa jangan-jangan, gadis itu sudah turun ke bawah.

Ah, tidak mungkin. Bisa jadi dia di kamar mandi.

Kugerakkan tubuh menuruni ranjang, lalu mengetuk pelan kamar mandi. 

"Syah, kamu di dalam?"

"Iya, Mas."

"Oh, ya sudah."

Kembali aku mendudukkan diri di atas ranjang, menunggu Aisyah selesai. Sepuluh menit berlalu, akhirnya gadis itu keluar dengan berpakaian lengkap. Seperti semalam.

"Kamu mau kemana?", tanyaku penasaran, dia rapi pagi-pagi begitu.

"Mau shalat, Mas."


Aku hampir tertawa. "Mas pikir mau jalan-jalan."

Lekas aku berjalan ke kamar mandi. Sedang di atas sajadah Aisyah tampak tersenyum malu.

***

"Aisyah mana, Bar?", tanya Mama saat aku baru menginjakkan kaki di ruang makan.

"Masih di kamar, Ma. Lagi beresin tempat tidur."

"Pasti tempat tidurnya kayak kapal perang ya, Mas?"

Ah, Nindi, kalau ngomong memang suka ngasal. Apa semua pengantin baru itu harus berantakin kamar? Ck, kumakluki masih dibawah umur. 

"Hus! Anak kecil jangan suka asbun, nanti di dengar kakak iparmu 'kan nggak enak," sanggah Mama sambil menutup mulut Nindi.

Aku tak terlalu peduli.

"Bara, sebaiknya kamu menjemput Aisyah untuk sarapan. Pasti dia malu-malu. Mama juga dulu begitu, hari pertama di rumah mertua itu rasanya kok kayak nginap di rumah presiden. Nggak berani ngapa-ngapain."

Aku mendelik.

"Beneran, Ma?" 

Nindi lagi, kapan sih dia bisa menahan suaranya?

"Mau kemana, Iz? Kamu 'kan belum sarapan?" 

Setelah Nindi, kini Faiz menjadi sumber kerecokan. Kemana juga dia dari kemarin menghilang. Bukannya jadi penerima tamu tapi malah keluyuran di kantor.
 
"Faiz masih kenyang, Mi. Tadi malam selesai razia, seperti biasa, di tutup dengan makan-makan."

Oh, ternyata benar ada kerjaan kantor. Untung aku nggak jadi polisi, jadi jam kerja bisa kuatur sesuka hati. Jika ada acara sakral seperti kemarin, setidaknya aku bisa stay dirumah. Kasihan Faiz.

"Tapi Iz, duduk sebentar lagi, ya. Kita sambut kakak iparmu di meja makan. Cepat Bar, jemput Aisyah."
 
Mendengar perintah mani, aku segera beranjak. Saat sampai di kamar, benar saja, gadis itu sedang duduk di bibir ranjang sambil termenung. Benar-benar pemalu.

"Yuk ikut Mas sarapan sama-sama di bawah," ajakku padanya. 

Aisyah bangkit dan berdiri di sebelahku. Kutatap wajahnya sejenak. Cantik. Tapi, ah...

Kumiringkan tubuh lalu menggandeng lengannya. 

Dia terhenyak. "Bolehkan?" 

Aku mencoba memastikan. Aisyah hanya mengangguk.

Kami menuruni tangga berbarengan. Baru menampakkan wajah di ambang ruang makan, mami menyapa penuh kehangatan.

"Selamat pagi menantu Mami yang cantik, mari duduk, Sayang." Mami bangkit dan menggandeng Asiyah untuk duduk di kursi.

Entah kenapa saat akan duduk, mataku terbidik pada Faiz yang posisi duduknya berhadapan dengan Aisyah. Kuperhatikan gelagatnya.
 
Beberapa menit dia terus menatap istriku. Apa dia jatuh cinta pada kakak iparnya?

"Gimana tidurnya semalam, Aisyah?" pandanganku kembali pada mami, "kalau Bara lasak di atas kasur, kasih tau Mami, ya."

Aku menghela napas mendengar pertanyaan Mami. Bisa-bisanya pertanyaan konyol begitu keluar di meja makan.

Detik berikutnya, netraku kembali terlempar pada Faiz. Menemukannya terus manatap Aisyah, kumenyengaja menggenggam tangan gadis itu, ingin tahu reaksi adikku saat melihat keromantisan kami.

Faiz bangkit. Jiah! Dia terlihat emosional.

"Apa lagi sih, Mi?".

Benar-benar emosional. Tak dapat kupercaya, benarkah karena Aisyah?

"Duduklah sebentar lagi, Iz."

Mami memegang tangan Faiz.

"Biarin aja, Mi. Mungkin Mas Faiz cemburu!", celutuk Nindi yang semakin membuat muka Faiz memerah.

"Benar Iz kamu cemburu?. Kalau kamu sudah siap, bawa gadis manapun yang kamu inginkan untuk jadi istri ke hadapan Mami. Kamu juga sudah pantas untuk menikah Iz, biar teratur hidupmu itu lo."

"Ehuk! Uhuk!

Sepertinya Faiz pura-pura batuk. Jurus jitu menghindar, selama ini 'kan Faiz nggak pernah dekat sama cewek 

"Faiz ngantuk, Mi. Faiz belum dua jam mejamin mata. Faiz udah minum susu, makannya nanti kalau Faiz udah bangun," jawabnya masih dengan suara lembut.

"Mas Faiz kayaknya belum punya pacar deh, Ma."

Ck, Nindi. Kompor merek apa sih dia?

"Mas Faiz mau nggak aku jodohin sama temanku? Anaknya baik, cantik, rajin sholat, setia kalau berteman. Pasti setia sama suami."

Faiz kembali duduk. Suasana sedikit lebih tenang. Kutolehkan pandangan menatap Aisyah, dia nampak terbengong. Hah, penyambutan menantu yang kurang tepat.

"Siapa, Nin?" 

Mami tak berhenti bertanya.

"Namanya Alifa, Mi. Kasihan banget hidupnya. Dia disuruh kawin sama juragan ayam sama orang tuanya demi melunaskan hutang sebanyak sepuluh juta?"

'Alifa?'

Jantungku sontak bertabuh kuat saat mendengar nama Alifa tersebut dari mulut Nindi.

Sejenak kepalaku dipenuhi pertanyaan, dan kembali tersentak saat Faiz mendorong kuat kursi duduknya. Lalu tanpa menggubris panggilan Mami, dia beranjak meninggalkan ruang makan.

Ada apa dengan Faiz, tidak pernah dia begitu?

Belum juga menemukan jawaban, mendadak jantung kembali berdegup, saat mendapati Faiz berhenti menmlangkah. Dia memiringkan kepala dan kembali menatap Aisyah. Sebuah pemandangan yang mengejutkan ketika pada saat yang sama, Aisyah juga membalas tatapan itu.
Sebenarnya ada apa diantara mereka??

*Bersambung*

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 5)

Aku Mencintai Istrimu Mas
Part 5
Karya Ayu Wahyuni

Dengan hati-hati, kakiku menjejak jalan setapak menuju belakang rumah. Halaman rumah juragan Kasim cukup luas. Penyinaran alami sang rembulan menjadi penuntun. Karena memang pada taman itu tak ada lampu sebagai penerang.

Setelah berjalan sekitar tujuh meter, sampailah aku pada teras belakang yang pintu menuju ke dalam rumah tampak terbuka lebar. Dari sini, nampak juragan Kasim baru saja keluar dari sebuah kamar. Lalu, bersama kedua anak buahnya, dia berjalan menuju pintu masuk.

Ini kesempatanku. Dengan cepat aku melesat masuk hingga sampai di depan kamar dimana tadi juragan ayam itu keluar.

Kubuka pintu perlahan. Netra ini membelalak, dua meter ke depan seorang gadis tengah bermandikan air mata di atas ranjang.

Gadis itu tak lagi mengenakan pakaian pengantinnya, tapi setidaknya pakaian lain yang melekat di tubuh Alifa masih lengkap. Jilbab pun masih membalut kepala.

Entahlah, apa dia sudah dilakoni atau belum, yang jelas Alifa sedang dalam tekanan. Buktinya, dia menangis sesenggukan.

"Alifa...".

Gadis yang menekuk wajahnya itu menoleh.

"Mas Faiz?".

Ya Allah, benar kata Nindi, pelipis sebelah kanan Alifa dan di bawah mata terdapat luka lebam

Kuputuskan untuk masuk dan mendekatinya.

"Kamu nggak papa?"

Dia tak menjawab, justru nampak sangat ketakutan.

"Mas Faiz kenapa di sini, nanti kalau ketahuan Juragan Kasim bisa bahaya?"

"Mas mau jemput kamu?".

"Sebaiknya nas Faiz pergi, aku nggak papa kok disini."

"Apanya yang nggak papa, lihat wajah kamu. Seharusnya kamu di rumah sakit, bukan disuruh melayani lelaki beristri sepuluh...", ucapku asal.

"Dia sudah jadi suamiku sekarang, Mas".

"Pernikahannya nggak sah! Ayo ikut Mas!"

Dia terdiam. Kutarik tangannya hendak berlari keluar. Namun disaat bersamaan, dari depan pintu terdengar suara teriakan lantang!.

"Woi! Siapa kamu, lepaskan istri saya!"

Mataku teralih, Juragan Kasim dan kedua bodyguardnya sudah siap-siap hendak menghadang.

Dua lelaki berbadan besar itu, mendekat terlebih dahulu, mereka sudah siap dengan bogem sebesar telapak kaki gajah.

Tak ada cara lain.

"Angkat tangan kalian!", kuarahkan senjata ke arah dua lelaki itu.

Keduanya terhenyak dan berhenti melangkah.

"Saya polisi! Seharusnya saya menyeret kamu ke penjara, Kasim! Kamu telah membawa lari calon istri saya!.

Mata juragan Kasim membelalak.

"Yang mana calon istrimu?".

Dia bertanya dengan suara lantang, seakan tak gentar dengan pistol yang ada di tanganku.

"Alifa! Dia calon istri saya!",sahutku lebih lantang.

Wuih! Sudah dua kali aku menyebut Alifa calon istri. Entah bagaimana ekspresi wajah gadis itu. Ingin aku memalingkan wajah sekedar ingin tahu reaksinya. Tapi tidak mungkin! Dalam keadaan seperti ini, aku tak boleh lengah sedikitpun.

"Berbalik ke dinding!", kuarah pistol kesisi kanan kamar, agar ketiga parasit itu membuka jalan keluar.

"Yok Dek, kita pulang."

Alifa mengernyitkan dahinya. Tapi dia tidak melawan saat tangannya kutarik dengan kuat.

"Tunggu! Saya punya surat perjanjian untuk menikahi Alifa. Dan dia sudah sah jadi istri saya!", sanggah juragan itu saat aku hampir melewati pintu.

"Pernikahan kita nggak sah, Mas. Di mata hukum, juga negara. Bagaimana mungkin aku nikah tanpa wali, penghulu yang menikahkan kita, dia fasik. Shalat aja nggak pernah. Aku bukan istri Mas Kasim!", tegas, Alifa menyanggah kata-kata Juragan itu.

Terasa lega dadaku seketika.

"Dengar Kasim! Surat perjanjianmu dengan ayahnya Alifa batal!. Aku sudah memberikannya uang sepuluh juta kemarin. Tapi ayah Alifa membawa kabur uang itu. Jadi sebaiknya sekarang, kau cari ayahnya untuk mengembalikan uangmu. Satu lagi, Alifa sangat mencintaiku. Dan kami sudah berencana menikah minggu depan. Jadi dia ikut aku!".

Hah, entah dari mana lagi kata-kata itu bisa keluar. Seakan semua sudah kupersiapkan jauh-jauh hari.
 
"Jika kau tak bisa mencari ayahnya, datanglah ke kantor polisi. Aku akan membantumu, mencarikannya!".

Ucapanku ditanggapi dengan amarah yang terpancar dari sorot mata juragan Kasim. Apa peduliku, yang penting aku bisa membawa lari Alifa dari tempat ini.

Kami sukses keluar kamar itu. Dapat kurasakan Alifa ketakutan luar biasa, tangannya terasa dingin. Sebenarnya jantungku juga tak henti berdegup kencang. Tapi aku harus bisa bersikap tenang dan tegas.

Akhirnya, dengan berjalan mundur kami sampai pada teras tempatku masuk tadi ke dalam rumah ini. Juragan Kasim dan kedua anak buahnya hanya bisa melihat tanpa berani mencegah. Disaat begini, aku merasa begitu beruntung karena dahulu aku memutuskan menjadi polisi. Setidaknya dengan pistol ini, mereka tak berani berkutik.

Setelah berada di luar, kutarik tangan Alifa agar bisa berjalan dengan cepat. Kami harus bisa keluar dengan segera, takut jika juragan dan anak buahnya kembali menyerang. Sampai di pagar, Nindi menyambut kedatangan kami dengan suka cita. 

Bertiga, kami melesat cepat di atas jalanan. Hari ini, tak pernah ada dalam prediksiku. Menyelamatkan seorang gadis, dan mengaku akan menikahinya. Semoga Alifa tidak menuntut ucapanku tadi.

***
 
Tepat jam satu malam kami sampai di rumah. Mami sudah menunggu di teras rumah dengan ditemankan Aisyah, juga Bi Minah.

"Nindi, Faiz, dari mana aja kalian?. Mami telpon nggak diangkat-angkat."

Nindi turun dari motor dan segera berhamburan dalam pelukan mami, dia menangis terisak.

"Ada apa sebenarnya Iz, ini siapa?".
Mami menunjuk pada Alifa.

"Dia Alifa, Mi. Yang Nindi ceritain waktu itu."

"Ya Allah, Nak. Kenapa bisa begini wajahmu...".

Mami melepas rangkulannya pada Nindi lalu mendekati Alifa yang masih berdiri disisi motor. Saat tangan mami menyentuh bahu gadis itu, Alifa tersungkur ke lantai.

"Alifa ....!.

***
Semua ada di kamar ini, bahkan yang lebih utama untuk dikhawatirkan adalah Alifa. Tapi kenapa, mataku tak sedikitpun teralih dari menatap Aisyah yang duduk di sofa.

Mami dan Nindi duduk di atas ranjang. Aisyah tampak kaku di tengah-tengah kami.

"Istirahatlah dulu, Syah, kamu pasti ngantuk."

Kuberikan segelas air putih pada gadis itu. Dia meraih pemberianku dan segera meneguknya.

"Ya Allah, Mami sampai lupa. Kamu ngantuk, Sayang?. Kamu istirahat dulu ya, besok Bara pulang. Dia pasti nggak suka jika kamu begadang begini."

Mami bangkit lalu mengelus puncak kepala Aisyah. Gadis itu mengangguk, detik berikutnya ia bangkit dan keluar kamar.

"Faiz ke kamar dulu ya, Ma".

Kususul Aisyah dari belakang. Tersadar, gadis itu segera berbalik.

"Mas Faiz, mau kemana?".

Aku tersentak.

"Mau ke kamar."

"Oh...".

"Mas duluan".

Dia menyilahkanku dengan memiringkan badan.

"Nggak, kamu duluan...".

Dia menghela napas. Lalu kembali berjalan. Dan aku dibelakangnya, hanya untuk?

Ah, cinta kadang tak selaras dengan pemahaman. Saat kita ingin berhenti, tapi rasa itu memaksa untuk meneruskan. Tak sejenak pun ia memberi waktu untuk meyakini diri, bahwa kita bisa tanpanya. Cinta membuat sesuatu yang bisa menjadi tak bisa. Pun jua sebaliknya.

Ya, apapun yang terjadi pada hidupku, tiap kali aku melihat Aisyah, aku merasa semakin memiliki alasan untuk mempertahankan rasa ini.

Salahkah sikapku ini ya, Allah?

***
 
Sayup kudengar azan berkumandang di mushalla terdekat. Enggan, kugerakkan tubuh untuk membasahkan diri dengan wudhu. Kini saatnya bertamu pada Allah.

Kubentang sajadah, larut dalam doa yang khusuk. Usai shalat, kucoba merebahkan diri kembali di atas ranjang. Lelah masih bergelayut manja pada tubuh. Kejadian semalam sejenak berputar ulang di benak. Kuhela napas panjang, ingin aku memastikan keadaan Alifa. Tapi ah sudahlah.

Hampir saja mata ini hendak terpejam, namun suara ketukan pintu membuatnya kembali membuka.

"Iz, minum susunya dulu...".

Mami membawa segelas susu buatku. Kuambil dan kuseduh beberapa teguk.

"Alifa gimana, Mi?", tanyaku penasaran.

"Sudah siuman?".

"Kalau Aisyah?".

Mami memicingkan mata. Ya Allah, aku salah mengajukan pertanyaan. Kenapa Aisyah coba, diakan baik-baik aja!.

"Emangnya Aisyah kenapa, Iz?".

Pertanyaan mami? Aku pura-pura memejamkan mata.

"Maksudmu Mas Bara?. Dia sudah pulang semalam, saat Mami telpon kasih tau kalau dirumah lagi ada kejadian. Kamu gimana, Iz? Baik semua?"

Aku mengangguk. Sesaat, dadaku kembali sakit. Pantesan perasaanku sedaritadi nggak enak, ternyata, Aisyah sudah bersama Mas Bara.

Kupejamkan mata, mengusir rasa perih yang tiba-tiba menggerus dada.
 
"Faiz mau rebahan lagi, Mi. Masih ngantuk. Nanti, bangunin Faiz jam setengah delapan ya, Mi."

"Iya Sayang. Ya sudah Mami keluar, ya."

Selepas kepergian mami, kututup wajahku dengan bantal. Kapan semua ini hilang, cemburu, sakit? Kenapa bisa sedemikian terasa menyesakkan dada?

***

Suara celoteh dan candaan mengantarkan mataku terbuka. Langit-langit kamar menjadi sumber penglihatanku kini.

Kugerakkan tubuh, sambil melirik jam yang menempel di dinding. Pukul tujuh lewat lima belas menit. Rasanya ingin kembali merebahkan kepala, tapi takut terlambat ke kantor. Akhirnya kubangkitkan tubuh menuju jendela, penasaran siapa yang sedang bercanda ria di taman belakang.

Kusibak tirai penutup jendela.

Harusnya aku tak melihat. Mas Bara dan Aisyah sedang berduaan di taman belakang. Keduanya duduk di kolam, Aisyah memberi umpan pada ikan-ikan. Sedang Mas Bara duduk di sampingnya. Aku penasaran juga, bagaimana jika mereka sedang dua-duaan begitu.

Kutarik kursi, memantau kejadian apalagi yang akan terjadi berikutnya.

Aisyah memberi kantong berisi umpan pada Mas Bara. Lalu mereka berjalan ke pondok. Mas Bara mengeluarkan ponsel, mengambil beberapa foto. Sungguh kegiatan membuang-buang waktu. Bosan, aku mau mandi!

Saat hendak menggerakkan tubuh, sesuatu membuat langkahku terhenti. Tubuhku yang sudah berpaling kembali menoleh.

Deg!...

Mataku terpejam, ada nyeri yang menghujam dada. Tatkala sesuatu yang ranum pada Aisyah disentuh oleh Mas Bara.

Kuhela napas panjang. Kuyakinkan diri, bahwa Mas Bara berhak melakukan apapun pada Aisyah. Sebab mereka adalah sepasang suami istri. Ya, aku memang sudah yakin. Hanya saja aku ingin menyangkal!

Dengan perasaan yang campur aduk kubasuh tubuh dengan air, setelahnya memakai pakaian dan bergerak keluar kamar. Jika ada Mas Bara di rumah, sebaiknya aku di luar.

Saat sudah menjejak di lantai bawah, Alifa keluar dari kamar Nindi. Dia melihatku dan berjalan mendekat.

"Mas mau ngantor?".

Aku mengangguk. "Kamu udah baikan?".
Kini giliran dia yang mengangguk.

"Makasih ya, Mas. Atas semua bantuannya. Alifa nggak tahu gimana cara membalasnya."

Dia menunduk.

"Kamu bisa membalasnya."

Wajahnya yang tertunduk kini terangkat.

"Gimana caranya, Mas?".

Sejenak otakku bekerja, 'tentu aku bisa seperti Aisyah dan Mas Bara, bermesraan, bercinta, mendapatkan perhatian. Alifa memiliki semua kriteria gadis yang ingin kujadikan istri. Soal cinta, tak jadi patokan. Baiklah. Mungkin menikah adalah solusiku melupakan Aisyah.'

"Menikahlah denganku...".

Dia tercengang.

Degup jantungku riuh berdetak. Sebenarnya bukan begini cara yang kuinginkan untuk melamar seorang gadis.

"Bagaimana?", tanyaku lagi.

"Emm ....".



Bersambung.

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 4)

Aku Mencintai Istrimu Mas
Karya Ayu Wahyuni
Part 4

Motorku melesat dengan cepat diatas jalanan. Aku berhenti disalah satu lorong sempit di perkampungan pinggiran kota. 

Motor tak dapat masuk ke lorong itu. 
Maka, kuputuskan untuk berjalan kaki menuju alamat yang kudapat dari salah satu teman Nindi. Sekali lagi, aku menyentuh pistol yang tersemat pada tali pinggang. Benda ini kubawa untuk jaga-jaga. 

Aku pernah ke kampung ini, menggerebek komplotan pengedar sabu dan berhasil meringkus semuanya kecuali pimpinan mereka.

Bisa jadi, lelaki yang kini menjadi buronan itu, memiliki mata-mata yang masih menetap di kampung ini.

"Rumah paling ujung..."

Seorang wanita menunjuk pada sebuah rumah petak di ujung lorong. Di jalan kecil ini hanya ada tujuh buah rumah, jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya tidak terlalu jauh. Di sebalik lorong setelah rumah Aisyah, hanya ada hamparan sungai yang dipenuhi sampah. Tempat ini benar-benar jauh dari kata layak.

Suasana nampak sepi. Hanya rumah pertama yang berpenghuni, rumah lainnya tertutup dengan rapat. 

Aku berjalan perlahan, lalu mulai memberi salam. Sejenak menunggu, tak ada jawaban. 

Kugerakkan tangan menyentuh kaca jendela, tak ada celah untuk bisa menyibak tirai yang menutup jendela itu.

Tak menyerah, kudekatkan telinga pada daun pintu, sepertinya memang ada suara hentakkan kaki yang berasal dari dalam.

Senyap...

"Ada orang di dalam?", ucapku sedikit berteriak.

Tak ada sahutan. Aku kembali mengitari rumah petak itu. Tak ada jendela lain untuk bisa mengecek ke dalam. Akhirnya kuputuskan untuk berbalik ke pintu masuk. 

Kini aku berjongkok, kutelungkupkan wajah hingga menyentuh lantai, usaha untuk bisa tahu keadaan di dalam sana. Mataku memicing sesaat, ada sepasang kaki yang terikat tali menyentuh lantai.  

Tak tinggal diam, aku mencoba mengintip melalui celah kunci untuk memastikan yang kakinya terikat itu adalah benar manusia.

Mataku membelalak.

Kudekatkan lagi untuk memastikan apa yang baru saja kulihat. Seorang gadis dililit ke sebuah kursi, tangan dan kakinya diikat dengan tali. Mulutnya di bekap dengan perekat. Baju yang dikenakan gadis itu, oh tidak!

'Benarkah itu Nindi?'

Seketika aku mendobrak pintu. 

Satu!

Tidak terbuka, kukumpulkan lebih banyak tenaga.

Dua!

Masih belum.

Bismillah. 

Tiga!

Pintu kayu lusuh itu terbuka dihitungan ketiga.

Aku berhamburan ke dalam.

"Astaghfirullah, Nindi."
 
Segera kulepas perekat yang menutup mulutnya.
"Tolong Nindi, Mas," rintihnya ketakutan.

Napasnya terasa panas, wajahnya berantakan. Air matanya kembali luruh.

"Kamu nggak apa-apa 'kan? Jangan takut, Mas udah disini. Sebentar, Mas cari pisau dulu buat membuka ikatannya."

Nindi mengangguk. Aku berjalan ke dapur, menggeser-geser peralatan memasak untuk mencari pisau. Terlihat bercak darah, di beberapa tempat di lantai.

Ketemu. Aku segera kembali pada Nindi. Kupotong tali yang melilit di tubuh, kaki dan tangan adikku itu. Lalu, dia berhamburan dalam pelukanku.

"Mas Faiz ....".

Nindi terisak dalam dadaku. 

"Siapa yang berani melakukan semua ini?"

Nindi menarik napas. "Anak buahnya Juragan Kasim, Mas."

"Kenapa? Alifa belum kasih uang yang Mas pinjamkan kemarin?"

Nindi menggeleng.

"Ayah Alifa membawa kabur semua uangnya, Mas. Pas aku datang, Ayahnya memang udah kabur. Dan Alifa ditinggalkan dalam keadaan sudah penuh luka lebam. Beberapa ada luka bekas cakaran Mas. Aku rasa dia berusaha mempertahankan uang itu. Aku kasihan sama dia, Mas."

"Sekarang kemana dia?".

"Tadinya Nindi pikir bisa membawa Alifa pergi, tapi ternyata, anak buahnya Juragan Kasim datang. Dia memaksa Alifa ikut bersama mereka. Saat aku melawan, mereka malah menampar dan mengikatku begini."

"Sialan mereka! Mas pastikan mereka semua mendekap di penjara."

Nindi menarik tanganku.

"Kita nggak akan biarin Alifa sendirian 'kan Mas."

Aku terdiam sesaat. Berpikir, bagaimana cara bisa membawa pergi gadis itu.

"Aku takut Alifa dipaksa nikah sama Juragan Kasim, Mas. Kasihan Alifa Mas, selama ini dia baik banget sama Nindi. Dia yang selalu nolongi Nindi, dia yang ngamuk waktu Nindi digodain sama anak-anak gank motor waktu itu, dia yang selalu ngasih jawaban kalau lagi midterm...".

Aku menghela napas, mendengar pertolongan Alifa yang terakhir, aku hampir mau menempeleng kepala Nindi.

"Mas maukan bantuin Alifa?. Nindi nggak rela jika Alifa jadi istri ke sepuluh Juragan itu."

Jantungku tersentak, tidak bisa dibiarkan.

"Baik, Mas akan membantu temanmu itu."

Sebagai seorang abdi negara, aku tidak boleh membiarkan kejahatan merajalela. Aku akan menolong Alifa.

***

Malam semakin membentang, sinar rembulan tampak tertutup kabut. Kampung ini terlihat sepi, padahal jam baru menunjukkan pukul sepuluh malam.

Kuparkirkan motor di depan pagar sebuah rumah mewah. Pagarnya menjulang tinggi. Rumah ini terlihat begitu tertutup dan terjaga, padahal masih berada di kawasan perkampungan. Hanya berselang beberapa lorong dari rumah Alifa. 

Aku melongok ke dalam. Tampak di halaman, dua buah tenda terbentang nan megah. Di pintu masuk, janur kuning terpasang dengan indah. Halaman dipenuhi sisa-sisa makanan, botol Aqua, dan kotak makanan. Sepertinya tadi disini baru saja digelar pesta perkawinan.

Nindi menarik lenganku.

"Mas, sepertinya Alifa sudah menikah dengan Juragan Kasim, bagaimana ini Mas?".

"Kamu tenang, Nin. Biar Mas yang masuk kedalam, kamu tunggu disini, ya."

"Aku ikut, Mas."

"Jangan, kamu tetap disini. Jika Mas tak keluar dalam lima belas menit. Pergi dari sini. Jika sudah aman, telpon nomor ini," aku meletakkan ponselku di tangan Nindi sambil menunjuk nomor yang harus Nindi telpon.

"Mas ....".

Nindi enggan melepas tanganku.

"Mas bawa pistol, Nin?", Kutunjuk pistol di pinggang, agar Nindi tak khawatir.

"Bagaimana jika mereka punya senjata Laras panjang? Aku takut Mas kenapa-napa?"

"Nggak ada yang memiliki senjata itu kecuali aparat sama teroris."

"Jika mereka teroris?"

"Udah, jangan menghayal. Mas nggak akan apa-apa, ada Allah."

Nindi terlihat menyeka matanya. Langkahku kini memasuki halaman rumah megah itu.

"Siapa anda?", seorang lelaki berbadan besar muncul entah dari mana, meraih lenganku. 

Aku segera menepis.

"Saya polisi!"

Kuangkat kemeja hingga nampak lah pistol di pinggangku.

"Oh, maaf Pak. Ada perlu apa ya, Pak, kemari?"

"Saya ingin bertemu dengan Juragan Kasim."

Kedua bodyguard juragan itu saling melirik. 

"Juragan kami sedang ada kegiatan, Pak. Beliau baru saja menikah. Siapapun nggak boleh mengganggu. Bahkan kesembilan istrinya saja sudah dipulangkan ke kampung semua. Juragan tidak membolehkan siapapun mengganggunya hari ini."

'Astaghfirullah, jadi pernikahannya sudah terjadi? Apakah Alifa sudah direnggut kegadisannya? Ya Allah, semua ini salahku. Andai aku tak egois, dan mau menolongnya tadi siang, tentu semua nggak seperti ini."

"Katakan pada juraganmu, ada polisi ingin meminta kesaksian padanya."

"Maaf, Pak. Kami nggak berani."

"Kalau begitu, biarlah komandanku yang turun tangan langsung."

Kedua lelaki itu tampak kaget.

"Wah, jangan Pak. Baik Pak, biar saya ngomong dulu sama Juragan. Bapak tunggu di situ dulu, ya."

Mereka menunjuk ke pos jaga. Aku mengangguk.

Sepeninggal dua lelaki itu, aku mulai berpikir, bagaimana cara agar bisa masuk ke dalam. Lalu membawa kabur Alifa. Ah, sial! 

Kenapa jadi seperti di film-film. Tapi nggak ada cara lain. Tidak mungkin meminta ijin pada Juragan kelainan seksual itu untuk membawa istri yang baru saja dinikahinya. Mana mungkin ia ijinkan. Kesembilan istrinya saja disingkirkan, apalagi aku.

Sebaiknya aku menerobos masuk. Baiklah, pertualangan kita mulai.

Kakiku kembali tergerak, taman belakang kini menjadi tujuan.



Bersambung.

Minggu, 03 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Cerbung - Bagian 1-3)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
#Part 1
#Ayu Wahyuni

Kenalkan Iz, ini calon kakak iparmu....".

Mataku membelalak menatap gadis ayu yang dikenalkan Mas Bara sebagai calon kakak iparku. Bagaimana mungkin, gadis yang kuimpikan dan kusebut-sebut tiap habis shalat fardhu justru dijodohkan Allah sama kakak kandungku sendiri?.

***

Kreeek!....

Aku menginjak botol Aqua kosong yang tergeletak di halaman. Pelaminan khas Aceh masih bertengger indah di sisi kanan rumah, tapi suasana sekeliling terlihat begitu senyap. Tentu sebab saat ini sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
 
Seharusnya, aku ditugaskan mami sebagai penerima tamu pada acara perkawinan Mas Bara, satu-satunya kakak kandung yang kumiliki. Tapi, mana mungkin aku betah, jika yang menjadi mempelai wanita, adalah gadis yang tak lama sudah lebih dahulu kupinang dengan Bismillah.

Jadilah aku mengolah ide ajaib pada mami. Kukatakan padanya jika malam ini aku ditugaskan untuk menggerebek rumah kosong, yang diduga sebagai markas penyuplai sabu ke beberapa wilayah di Jakarta Barat ini.

Karena ini perintah Komandan, mami tak dapat mengelak!

Huh, demi apa coba aku harus berbohong?.

Menatap Aisyahku bersanding di pelaminan dengan lelaki yang sangat kuhargai selama ini, rasanya lebih sakit dari patah hati.
Kulangkahkan kaki memasuki rumah.

Selama menjadi polisi, mami memberiku kunci cadangan agar setiap waktu aku bisa masuk dan keluar rumah tanpa membangunkannya.

Kini langkahku enggan menaiki tangga. Setiap kali kaki menjejal lantai, tiap kali itu pula jantung riuh berdetak.

Sebelum masuk ke kamar, aku berdiri lama didepan pintu. Entah apa yang ingin kudengar, mungkin erangan pengantin baru menjelang subuh!

Ah, gobloknya diri ini!.

Kubuka pintu kasar, lalu meletakkan tas ranselku di pinggir ranjang, jaket kulepas dan kuhempas asal di atas ranjang. Kemudian kugerakkan tubuh dengan malas ke kamar mandi. Mencuci kaki, tangan dan wajah.

Kutatap lama wajah yang sekarang kelihatan mirip seperti oppa Korea. Menyesal! Ya aku menyesal karena Aisyah kini menjadi pengantin Mas Bara. Seandainya aku tidak hanya melamarnya dengan Bismillah, tapi dengan mahar. Tentu malam ini kami sudah bersatu di dalam kamar pengantin.

Uh!....

Kuhempas tubuh di atas ranjang, mencoba memejamkan mata. Tapi, sial!..

Justru wajah Aisyah yang tampak anggun dalam baju pengantinnya tak mau teralih sedikitpun.

"Kalau begini, aku bisa gilaaa!", teriakanku memecah keheningan malam.

Saat aku diam, keadaan kembali hening. Tak lama,

"Iz, kamu kenapa?".

Mas Bara memukul dinding kamarku yang berdempetan dengan kamarnya.

"Nggak papa, Mas. Cuma mimpi, lagi nangkap bandar sabu...".

"Oh, ya sudah. Makanya sebelum tidur jangan lupa baca doa, biar nggak ngigau terus kamu, Dik!".

Kuhela napas. Nah kan benar, jam segini mereka belum tidur, ngapain aja coba!.

***

Pagi ini terlihat tak biasa, rambut Mas Bara basah. Ini sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya sehari-hari, ia tidak pernah keramas pagi-pagi. Katanya keramas hanya boleh sekali di satu hari, jadi dia memilih sore hari untuk mencuci rambut tebalnya. Setelah berlelah-lelah dan membiarkan rambutnya berkeringat sepanjang hari.

Ah, tapi mungkin ini akan menjadi hal wajar yang bakalan tiap pagi aku nikmati. Bukankah semua pengantin baru memang begitu?.

Kuhela napas panjang sambil mengumpulkan keping-keping hati yang berserakan.

"Aisyah mana, Bar?", tanya Mama memecah lamunanku.

"Masih di kamar, Ma. Lagi beresin tempat tidur...".

"Pasti tempat tidurnya kayak kapal perang ya, Mas?".
"Hus!, anak kecil jangan suka asbun, nanti didengar kakak iparmu 'kan nggak enak...", sanggah Mama sambil menutup mulut Nindi, adikku semata wayang.

Dan disini, lagi-lagi aku harus mengurut dada. Ada baiknya aku tidak di rumah di waktu-waktu kumpul begini, atau aku harus siap menderita batin setiap waktu.

"Bara, sebaiknya kamu menjemput Aisyah untuk sarapan. Pasti dia malu-malu. Mama juga dulu begitu, hari pertama di rumah mertua itu rasanya kok kayak nginap di rumah presiden. Nggak berani  ngapa-ngapain....".

"Beneran, Ma?".

Itu Nindi lagi punya suara!. Pasti sebentar lagi Nindi bakalan nanya tentang pengalaman mami bersama papi ngelewatin malam pertama mereka. Oh, bikin jealous, sebaiknya aku pergi. Kutolak kursi ke belakang, dan hendak berlalu. Tapi,

"Mau kemana, Iz?. Kamu 'kan belum sarapan?...", tanya Mami sambil menarik tanganku.

"Faiz masih kenyang, Mi. Tadi malam selesai razia, seperti biasa, ditutup dengan makan-makan...".

Kujawab santai pertanyaan mami dengan harapan bisa terbebas dari sarapan pagi bersama.

"Tapi Iz, duduk sebentar lagi, ya. Kita sambut kakak iparmu dimeja makan. Cepat Bar, jemput Aisyah...".

Apalagi yang harus kulakukan, selain menurut. Sedang Mas Rama terlihat segera beranjak dan berjalan ke kamarnya. Tak lama, dia dan ... gadis yang kucintai kembali ke ruang makan.

"Selamat pagi menantu Mami yang cantik, mari duduk, Sayang....". Mami bangkit dan menyambut gadis itu.

Ah, anggun sekali dia. Beruntungnya Mas Bara bisa menyunting gadis seperti Aisyah. Aku menghela napas, entah kenapa, susu putih yang baru saja kuteguk terasa asin. Sepertinya ada yang sengaja menambah garam dalam susuku.

Mami menyilakan wanita yang pastinya tak lagi gadis itu untuk duduk, tepat di hadapanku. Tapi tetap, disamping Mas Bara.

"Gimana tidurnya semalam, Aisyah?. Kalau Bara lasak di atas kasur, kasih tau Mami, ya...".

'Ehey mami, lelucon macam apa ini. Sudah pastilah para bujang lasak di atas ranjang pengantin, kenapa harus buat laporan.'.

Jiwa bujangku kini malah ingin berontak. Harusnya yang lasak bersama Aisyah itu aku, bukan Mas Bara. Dasar kau Mas, kau tikung adikmu tanpa basa  basi. Lihat nanti pembalasanku.

Mataku kini beralih ke atas meja di hadapanku. Dua tangan itu kini saling menggenggam mendengar guyonan mami. Ah, romantisnya mereka. Lagi-lagi, kumenangis.

Kudorong kembali kursi dengan belakang lutut. Mami kembali mencegah.

"Apa lagi sih, Mi?".

"Duduklah sebentar lagi, Iz...", ucap mami sambil memegang lenganku.

"Biarin aja, Mi. Mungkin Mas Faiz cemburu!".

Nindi kembali membuka suara sambil terkekeh, dasar centil nggak punya perasaan.

"Benar Iz kamu cemburu?. Kalau kamu sudah siap, bawa gadis manapun yang kamu inginkan untuk jadi istri ke hadapan Mami. Kamu juga sudah pantas untuk menikah Iz, biar teratur hidupmu itu lo."

"Ehuk! Uhuk!.

Aku terbatuk mendengar ucapan mami. Aku harus bawa siapa ke hadapan Mami, Kaniya?. Polwan genit yang selalu minta kujadikan pacar? Atau Lusi, perawat bahenol yang selalu menelponku minta diapelin?.

Kuhela napas berat. "Faiz ngantuk, Mi. Faiz belum dua jam mejami mata. Faiz sudah minum susu, makannya nanti kalau Faiz sudah bangun...", jawabku masih dengan lembut. Mami paling tidak senang jika anaknya bersuara keras.

"Mas Faiz kayaknya belum punya pacar deh, Ma...".
Nindi kembali terkekeh sambil menatapku. Sialnya lagi, Aisyah kini juga menatapku, pasti dia menaruh kasihan. Ah!.

"Mas Faiz mau nggak aku jodohin sama temanku?. Anaknya baik, cantik, rajin sholat, setia kalau berteman. Pasti setia sama suami."

Aku kembali duduk, kupicingkan mata ke arah Nindi. Sepertinya bakalan serius obrolan ini.

"Siapa, Nin?.

Mama bertanya dengan nada penasaran.
"Namanya Alifa, Mi. Kasihan banget hidupnya. Dia disuruh kawin sama juragan ayam sama orang tuanya demi melunaskan hutang sebanyak sepuluh juta?".

"Apa?. Menjual anak karena uang sepuluh juta?. Keterlaluan ini!". Mami mengempas sendok ke atas meja.

Ah mami kalau marah mah berlebihan, urusan apa coba sama mami. Kenapa harus naik darah begitu!

"Iz, nikahi gadis itu Iz, kasih dia mahar sepuluh juta. Biar lunas hutang Bapaknya!"
Hah? Mataku membelalak!.

"Apa-apaan sih, Mi?. Nggak, Faiz nggak mau nikah kecuali sama yang Faiz cintai, titik nggak pakai tanda seru...".

Kudorong kursi dengan tangan, lalu tubuhku berlalu dari ruang makan. Tak kuperdulikan lagi mami yang terus memanggil dengan begitu lembut. Sebelum berlalu dari ruang makan, aku memilih berhenti sejenak.

Lalu aku berbalik, kulempar pandang ke belakang. Dan ternyata, netra Aisyah bertemu dengan netraku.

Ah, sial!..

Gadis itu, apa maunya coba?.

==================================

Aku Mencintai Istrimu, Mas
#Part 2


[Maaf ya, Mas Faiz]
Aku mengucek-ngucek kelopak mata, benarkah yang kulihat?. Aisyah mengirimkanku sebuah pesan? Ck, tidak bisa diterima akal. Segera kuketik balasan.

[Untuk apa?]

[Saya tidak tahu kalau Mas Bara adalah Kakak kandung sampeyan]

Sontak jantungku berdegup kencang membaca pesan dari wanita itu.

[Terus?]

Sok jaim dulu lah, masak iya aku ngamuk sama kakak ipar sendiri.

[Ya, sebenarnya waktu Mas Bara melamar, saya teringat sampeyan. Tapi Abah memaksa, beliau bilang, saya  nggak harus percaya saya orang yang cuma janji nikah doank, tapi nggak merealisasikannya. Makanya Abah langsung nerima gitu aja lamaran Mas Bara]

'Huh!. Air mataku mendesak keluar. Jangan cengeng Faiz!. Lu polisi, senjata lu pegang, mafia lu bentak, sama cewek lu nangis, bodoh!'..

[Tapi kamu 'kan bisa nelpon saya dulu, minta kejelasan. Saya 'kan cuma minta waktu enam bulan lagi, itu bukan karena saya nggak siap nikah. Lahir batin saya siap. Masalahnya cuma satu, saya masih dalam masa training. Dan seorang polisi yang masih dalam masa training, dilarang untuk menikah. Emang kamu mau nikah tapi nggak terdaftar di KUA? Nggak 'kan?]

Kesalnya hati ini, wanita memang ya suka berkilah. Aku yakin bukan karena kepastian dariku yang belum ia terima, tapi karena pesona Mas Bara yang melebihi pesonaku di hadapannya.

Makanya dia langsung nerima gitu aja pas Mas Bara ngelamar.

Masak iya dia mau menyamakan aku yang baru tamat pendidikan dengan Mas Bara yang udah ketebalan dompet sekian lama.

[Yah, Mas Faiz nggak ngomong begini waktu itu. Ya sudah lah Mas, kita ikhlas aja ya, mungkin kita memang nggak berjodoh. Saya yakin, Mas Faiz pasti akan mendapat jodoh yang lebih baik dari saya.]

Jiah!.. Kuempaskan tubuh ke atas ranjang. Semua cewek juga bakalan bilang begini, setelah meninggalkan seorang cowok. Enak emang ya jadi perempuan, ninggalin satu lelaki, langsung aja dapat pengganti. Lha si cowok dapat apa coba?

Ting!..

Nggak berselang lima menit, ponselku kembali kemasukan pesan. Cepat-cepat kubuka.

[Assalamualaikum Mas Faiz, lagi ngapain?]
Kaniya!..

Kuabaikan pesan dari Aisyah, mungkin Kaniya bisa jadi pelampiasan.

[Waalaikum salam]

[Kok nggak ngantor, Mas?]

[Lagi off]

[Jalan-jalan yuk, Mas]

CK! Beneran ni cewek, agresif banget. Jadi juga tak kerjain.

[Kemana?]

[Nongkrong aja, di Cafe]

[Oke]

[Jemput saya ya, Mas]

Yealah! Nggak punya modal banget nih cewek. Ah, tapikan lebih bagus, biar bisa lebih dekat. Cepat-cepat bisa melupakan Aisyah.

[Oke, tunggu aja dikostan.]

Sengaja tak kubalas pesan Aisyah, biar dia berpikir dan menyadari bahwa apa yang dia lakukan padaku adalah kesalahan besar.

Kugerakkan tubuh keluar kamar, sejenak berhenti di depan kamar Mas Bara.

Kupasang indera pendengar agar tahu sedang apa dia seorang diri di kamar itu. Sebenarnya aku kesal sama Mas Bara, dia benar-benar lelaki nggak berperi kejantanan!.

Kalau urusan uang sama karier, istri di nomor duakan. Masak iya, baru nikah dua hari udah mau ditinggal tu bini. Bukan untuk sehari, tapi seminggu. Kasihan Aisyah, bisa-bisa dia jamuran di dalam kamar karena nggak berani keluar.

Ck! Lagi-lagi emosi bujangku melonjak naik. Andai aku yang jadi suaminya, tak kubiarkan dia kesepian sedetikpun!

Ceile, ngayal tingkat parah!

Senyap!.. Tak ada suara apapun di dalam sana, seakan tak ada kehidupan manusia di dalamnya.

Kuhela napas panjang, sambil kembali menuruni tangga. Sampai di garasi, kuhidupkan motor besar kesayangan. Lalu aku melesat cepat keluar rumah.

Sebenarnya main perempuan bukan hobbyku, aku lulusan pesantren. Dekat sama perempuan juga baru sama Aisyah. Itupun kebetulan, waktu gadis itu dan teman-temannya kena tilang gegara nggak pakai helm.

Kaniya, dia bahkan lebih tua dariku. Lama sudah dia mencoba mendekat, semenjak pertama aku menyandang gelar Bripda. Tapi aku selalu berusaha menjaga diri. Aku juga tidak suka perempuan agresif.

Lusi, memang dia lebih muda. Tapi dia juga agresif. Aku cuma nolongin dia sekali waktu ban motornya kempes, setelah dia selesai memperpanjang kartu SIM. Lha dia pikir aku tulang ojek, yang mau ngantar dua, tiga atau empat kali.

Kadang perempuan itu aneh, dikasih wajah cantik sedikit saja sama Allah, udah disalah gunakan. Padahal Allah memerintahkan kaum wanita untuk menundukkan pandangan, lha ini malah tebar pesona, sampai kaum Adam dikejar-kejar mimpi basah. Halah!

Hanya Aisyah, gadis shalihah yang tak pernah ku dapati menatap mataku saat aku singgah di rumahnya.

Ah, Aisyah, mengapa kau tercipta bukan dari tulang rusukku?

Ting!

Ponselku bergetar, tepat saat motorku berhenti di depan rumah Kaniya.

Gadis itu keluar dari kostannya. Allahu Rabbi, aku sontak menutup mata. Dia berpakaian apa enggak sih, kok begitu?

"Cepat banget Mas sampainya, belum siap nih. Gimana?" tanyanya santai tak tahu adab.

Kaniya berdiri diambang pintu. Melihatnya mengucir rambut, jantungku berpacu kencang. Sebaiknya, kubatalkan saja keinginan ini, tapi...

"Masuk dulu, yuk," ajaknya manja. Duh, kupastikan tak ada lelaki yang bisa menolak ajakannya kecuali aku. Kenapa? Karena disaat genting begini, omongan Ustadz di pesantren seperti diputar ulang.

'Walataqrabuzzina'

Wallahu, aku sudah mendekati zina. Sebentar lagi, syaitan akan menarikku dalam kubangan kehinaan. Hatiku saling bertengkar. Kugelengkan kepala.

"Faiz nunggu disini aja, Kak."

"Eh, jangan panggil Kakak lagi, donk. Panggil nama aja, udah...".

Aku mengangguk. Lalu Kaniya berlalu kedalam. Kukeluarkan ponsel yang tadi sempat bergetar.

[Mas Faiz, boleh minta tolong nggak?]

Jantungku kembali berdegup kencang saat membaca pesan yang dikirimkan Aisyah ke ponselku. Ya Allah, Aisyah. Apalagi sih maunya perempuan ini? Sengajakah dia mau buat aku nggak bisa move on sepanjang abad?

[Mau minta tolong apa?]

Sabar Iz, Allah Maha Penyayang.

[Sebenarnya malu Mas ngomongnya, tapi Aisyah bingung, dari tadi nelpon Mas Bara nggak diangkat. Tak kirimin pesan pun nggak di balas. Aisyah malu keluar, Mas.]

Huh, kasihan sekali perempuan ini. Baru sehari di rumah mertua, udah ditinggal suami kemana-mana. Kutarik napas dalam.

[Ya sudah ngomong aja, nanti Mas tolongin.]

[Tapi janji jangan mikir macam-macam ya, Mas]

[Iya]

[Gini, Mas. Tolong belikan Aisyah So**** donk]

Aku membelalak menatap ponselku kini. Masak iya aku yang masih jomblo disuruh beli barang gituan, apa kata dunia!

[Mas, maaf ya, udah lancang. Nggak ada kain yang bisa digunakan, Mas. Aisyah bingung mesti gimana. Maaf banget, Mas.]

Huh! Kuatur degup di dada. Disaat bersamaan, Kaniya keluar dari rumahnya. Mataku membulat. Katanya mau ganti pakaian, tapi masih seperti tadi, kurang bahan!

Kupastikan jika nongkrong bersamanya, banyak mata yang tak berkedip, termasuk aku, barangkali.

Sebaiknya aku pergi, lebih baik malu sama manusia karena membeli pembalut Asiyah, daripada malu sama Allah dan malaikat karena berduaan sama gadis seperti Kaniya. Pakai baju kayak nggak pakai. Ah mending kabur aja.

"Mas Faiz ....!".

Kaniya berteriak memanggil namaku.

Alamak bisa mati aku besok di Kantor! Lebih baik mati di tangan manusia, daripada disiksa malaikat.

Kaburrr!

***

"Aisyah ....".

Kuketuk pintu kamar Mas Bara pelan. Jantungku kembali berpacu, kenapa sih nggak bisa diajak kompromi dikitpun.

Aisyah membuka pintu.

Ck! Cantik! Dia selalu menyita mataku.

"Ini pesananmu."

Dia tersenyum lalu meraih kantong plastik di tanganku.

"Makasih ya, Mas," ucapnya sambil kembali tersenyum.

Kuanggukan kepala, sekilas kamar pengantin Mas Bara terlihat oleh mataku. Begitu indah, seprai dan bed cover putih, serta bantal-bantal yang diatur rapi.

Oh Aisyah, kumenangis ... membayangkan.

Dreettt!

Ponselku kembali berdering. Dari tadi di atas motor, beberapa kali juga benda itu berbunyi. Kaniya tak henti menelpon. Kali ini sebaiknya kuangkat.

"Mas Faiz kok pulang?. Curang ah!".

Suara manja Kaniya terdengar keluar ponsel. Kulirik Aisyah, dia menunduk.

"Bentar," lirihku pada Aisyah. Dia mengangguk, lalu aku berjalan sedikit menjauh.

"Maaf Kaniya, tadi Mami nelpon nyuruh beli roti bantal."

Yaelah, bohong, bohong!

"Oh gitu, kok nggak bareng aja, Mas. Biar sekalian kenal sama Maminya Mas Faiz?"

Busyet! Ngenalin Kaniya ke mami, bisa berabe urusan.

"Lain kali aja ya. Oh, jalan-jalan hari ini kita batalin aja, oke. Soalnya aku disuruh mami beresin kandang kelinci piaraannya."

Aku memelas sambil berdoa, semoga Kaniya mengiyakan.

"Ya sudah deh, lain kali jangan kabur lagi, ya."

"Oke sip, aku janji."

Huh! Kelar urusan sama Kaniya. Sekarang waktunya kembali pada bidadari Mas Bara.

"Duduk di teras, yuk," ajakku pada Aisyah yang masih berdiri di depan pintu kamar.

Dia menggeleng. "Nggak Mas, mau di kamar aja. Yang tadi, calonnya Mas Faiz?"

Aku terhenyak, kutangkap aura cemburu di wajahnya. Benarkah?

"Ehm, iya," jawabku sengaja.

"Oh, selamat ya, Mas. Semoga bisa segera naik pelaminan"m

"Aamiin".

Tanpa basa basi lagi, dia menutup pintu kamar, keras!

Aneh, cemburukah dia? Apa haknya, bukankah dia sudah menelantarkan hatiku?

==================================

Aku Mencintai Istrimu, Mas
#Part 3

"Ya Allah, mengapa tak kau beri kesempatan untukku memilikinya?. Mengapa juga harus kau takdirkan dia dimiliki Mas Bara?".

***

Namaku Faiz Alfarisy, saat ini umurku sudah genap dua puluh dua tahun. Jatuh cinta dan mencintai, buatku adalah proses belajar. Aku sering jatuh cinta, pada Ustadzah kalem dan cerdas di pesantren, pada seorang gadis yang kutemui beberapa kali di supermarket. Tapi semua itu hanya sebatas jatuh, cinta. Tidak untuk kucintai.

Namun, Aisyah, aku jatuh cinta, dan ingin mencintainya. Tapi kenapa, Mas Bara juga mencintai gadis yang kucintai?.

Kembali ke biodata, sebelum memilih meneruskan pendidikan di kepolisian, aku sudah lebih dahulu mengecap pendidikan di Fakultas Ekonomi selama dua semester. Kata Mami biar kelak jika sudah jadi sarjana, aku bisa membangun usaha mandiri seperti Mas Bara. Kakak kandungku.
 
Tapi, belakangan, aku dibuat pusing dengan angka-angka yang harus kutotal-total dalam setiap mata kuliah. Alhasil aku memutuskan mundur dan meneruskan apa yang selama ini ada dalam anganku. Menjadi abdi negara. Mami menganjurkan agar aku langsung ikut tes Akademi Kepolisian (Akpol), tapi sayang, aku jatuh dites psikologi ke 2. Jadilah aku hanya bisa mengikuti tes Bintara polisi.

Bercerita tentang Mas Bara, tiada kata lain yang cocok untuknya, selain spesial. Ya, dia dikaruniai wajah yang tampan, akhlak terpuji, kecerdasan diatas normal. Apa yang dilakukan, selalu berhasil. Usahanya cukup maju dan berkembang. Di beberapa kota di wilayah Jawa ini bahkan sudah banyak yang membuka cabang.

Sedang aku, hanya polisi berpangkat Bripda. Aku tak punya apa-apa, selain cinta, yang  sampai detik ini belum ada pemiliknya. Adakah yang bersedia untuk kucintai?.

***

Mataku membulat menatap gadis berjilbab besar di hadapanku kini. Jika bukan karena ulah Nindi, tentu aku takkan rela uang sepuluh jutaku tertarik dari ATM. Uang itu seharusnya kugunakan untuk membeli maharnya Aisyah, ah biarlah, toh Aisyah juga sudah dinikahi Mas Bara.

"Siapa namamu?", tanyaku sok jadi detektif.

"Alifa, Mas Faiz. Nindi 'kan-"..

Stttt!..

Kuletakkan jari telunjuk di mulut Nindi. "Jika Mas bertanya pada sahabatmu, maka yang harus menjawab sahabatmu, Ndi. Ini mekanisme dalam sidak kepolisian".

Nindi menjulurkan lidahnya.

"Siapa namamu?", kuulang pertanyaanku.

Gadis itu mengangkat. wajahnya, menatap mataku sejenak lalu kembali menunduk. Sikapnya, mengingatkanku pada, Aisyah.

"Alifa Azkadina, Mas...", jawabnya terbata.

"Berapa uang yang kamu butuhkan?".

Aku menelaah pertanyaanku sendiri, kok rasa-rasanya seperti sedang berada di ruang interogasi?. Padahal gadis ini, sama sekali bukan penjahat. Ah, biarlah, kasus harus diusut tuntas.

Gadis di hadapanku mulai memutar- mutar ujung jilbabnya. Sebenarnya aku tak ingin bersikap ala detektif begini pada gadis itu, hanya saja aku ingin memastikan bahwa benar apa yang dikatakan Nindi kemarin dimeja makan. Tentang juragan ayam itu.

"Sepuluh juta, Mas. Saya janji, akan kerja part time untuk bisa segera melunasi uang yang saya pinjam itu...".

Aku mendengus.

"Benar Ayah kandungmu yang berhutang pada seorang juragan ayam?".

Gadis itu mengangguk.
"Lalu, kamu mau aja dijadikan taruhan?"

Dia terhenyak.

"Udah lah Mas, niatan ngasih nggak sih, nanya mulu kayak rentenir...".
Mataku seketika teralih. Dasar Nindi, apa dia nggak tahu jika Masnya ini sedang berusaha mencari kebenaran.

Kutajamkan pandangan kembali pada Alifa. Gadis itu terkesiap.

"Ayah saya kecanduan togel, Mas. Beberapa minggu ini, dia kalah terus, hingga harus berhutang pada juragan Kasim. Ternyata saat  berhutang itu, Ayah sedang mabuk, jadi dia menandatangani surat persetujuan tanpa sadar. Isi surat persetujuan itu adalah, apabila Ayah tak mampu mengembalikan uang yang ia pinjam dalam kurun waktu sebulan, maka Juragan Kasim berhak menikahi saya...".

Aku menelan saliva, aneh benar kasus yang menimpa gadis itu. Kasihan!.

Kuhela napas sambil mengeluarkan uang dari tas selempang.
"Kamu nggak harus mengembalikan uang ini...".

Ucapanku membuat gadis itu terperangah.

"Lakukan sesuatu untuk saya, lalu kamu terbebas dari hutang ini."

Aku kembali membuatnya termanggu.

"Mas jangan ngaco, ah. Mas beneran mau minta Alifa menikahi Mas sebagai bayarannya?", sanggah Nindi yang semakin membuat sahabat di sampingnya kaget.

Aku menggeleng. Tentu aku nggak serendah ini kalau soal mencari istri.
"Saya cuma punya satu permintaan. Jika suatu ketika ibu saya mengundangmu ke rumah dan bertanya kesiapanmu untuk menikah, katakan padanya kamu sedang tidak ingin menikah, kamu mau meneruskan pendidikan, bekerja membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Nah, itu aja...".

Nindi dan gadis itu, saling tatap-tatapan. Sebenarnya kasihan juga uang sepuluh juta melayang demi seorang gadis yang kukenal saja baru hari ini. Tapi tak mengapa lah, daripada dipaksa mami menikah dengannya.

Kelar dah hidup gua!

***

"Akhirnya selesai juga".

Aku menggeliat, meluruskan otot-otot leher yang terasa kaku. Laporan kasus penyalahgunaan narkoba kemarin sudah rampung dan siap kuletakkan di atas meja komandan. Sekarang saatnya membeli bakso pesanan Aisyah. Sejam yang lalu, dia mengirimiku pesan agar membelikannya bakso ayam.

Dengan santai kuhidupkan motor besarku, ketika hendak melaju, ponselku berbunyi.

Nindi!

[Hallo Nin]

[Mas dimana? Bisa bantu aku nggak?]

Kuhela napas berat, apalagi sih Nindi?. Entah kenapa dari pagi kepalaku berdenyut, ditambah seharian di depan layar komputer, rasanya sekarang malah mau pecah.

[Ada apa sih, Nin? Mas baru kelar kerjaan ni]

[Berarti sedang nggak sibuk 'kan, Mas? Nindi mau buat laporan]

[Bukan nggak sibuk, tapi baru istirahat dari sibuk. Laporan apa?]

[Gini lo Mas. Dari kemarin aku coba nelpon Alifa, ponsel nya nggak aktif, hari inipun sama. Alifa juga nggak ngampus, Mas. Aku curiga terjadi sesuatu sama temanku itu. Mas bisa bantuin aku nggak, ngecek keberadaan Alifa]

Ogah! kurang kerjaan banget aku mencari-cari temannya.

[Mungkin dia sakit, atau apalah. Kenapa nggak langsung kamu samperin ke rumahnya?]

Nindi terdiam.

[Udah ya, Nin. Mas lagi buru-buru, ni.]

Kumatikan ponsel tanpa mendengar lagi penjelasan Nindi. Udah nggak sabar kepala pengen rebah di bantal.

***

Rumah nampak sepi, mami mana pernah dirumah. Beliau seorang kepala sekolah, jadi biasa pulang sore atau menjelang magrib. Di rumah hanya ada Aisyah dan Bik Minah.

Dengan tak semangat aku melangkah masuk. Sampai di depan kamar Aisyah, kuketuk pintu kamarnya perlahan.

"Syah," panggilku sedikit kuat.

"Iya...".

Aisyah membuka pintu. Kali ini penampilannya membuat mataku tak dapat berkedip. Dia nampak cantik, padahal Mas Bara nggak di rumah. Apa dia sengaja mau membuatku berkali-kali terpana.

"Ini pesananmu."

Kusodorkan plastik ke hadapannya.
"Cuma sebungkus?" tanya Aisyah yang tak kumengerti maksudnya.

"Emang kamu sanggup habisin dua bungkus sekalian?"

Dia tersenyum. Ehm, aku harus mengatur irama jantungku melihatnya tersenyum.

"Maksud Aisyah, Mas Faiz nggak mau bakso? Kok belinya cuma satu?".

Aku menghela napas. "Mas nggak suka bakso. Kamu mau makan dimana? Makan dibawah aja."

Aisyah mematung. Mana berani dia ke bawah. Selain jam makan dan sarapan, tak pernah kulihat gadis ini keluar kamar. Ah, harusnya jika tidak ada Mas Bara, mamilah yang bertugas membuat Aisyah melebur di rumah ini. Atau sekurang-lurangnya Nindi. Tapi kenapa mereka tak punya waktu sedikitpun untuk sekedar duduk bersama Aisyah?

"Yok, Mas kawanin".

Aisyah terkesiap, buru-buru dia mengikuti langkahku. Sampai di ruang makan, kuambil piring, sendok dan meletakkan di atas meja. Aisyah benar-benar pemalu, dia bahkan hanya duduk di atas kursi sambil celingak celinguk lihat kiri-kanan.

"Mami mana?", tanyanya lirih.

"Mami belum pulang dari sekolah. Syah, Mas Bara itu 'kan suamimu. Jadi kamu jangan malu-malu lagi di rumah ini, anggap aja rumah sendiri. Kalau lapar, kamu tinggal ke bawah ambil apa aja yang mau kamu makan. Kalau bete di kamar, kamu tinggal duduk di taman belakang sambil ngasih makan ikan di kolam. Kalau bosan sendirian, kamu tinggal nyari Bi Minah untuk diajak ngobrol. 

Aisyah mengangguk. "Iya, Mas. Makasih ya, Mas."

Dia kembali menekuni baksonya. Dituangkan bola-bola dari daging itu ke dalam mangkuk. Lalu dia melahap dengan berselera. Sepertinya di rumah ini, hanya aku satu-satunya manusia yang tidak disegani Aisyah. Bahkan sama Bik Minah pun dia  enggan berbicara.

Yah, mungkin karena dia masih terlalu muda. Dia baru saja tamat SMA. Dan seharusnya jika dia meneruskan kuliah, dia sudah duduk di semester dua seperti Nindi, tapi orang tuanya malah memilih menikahnya terlebih dahulu.

"Syah, boleh Mas nanya sesuatu?"

Aisyah menghentikan menyendoki baksonya.

"Boleh Mas."

"Kamu nggak pengen kuliah?".

Dia tersenyum.

"Ya pengen lah, Mas. Mas Bara bilang, setelah nikah Aisyah boleh kok lanjut kuliah."

"Emm ... kalau hamil duluan? Gimana?".

Aisyah menatapku tajam. "Kami belum ngapa-ngapain?".

Aku terhenyak mendapati kejujuran yang keluar dari mulutnya.

"Kok bisa?. Bukannya emm ...."

"Aisyah lagi datang bulan, Mas."

What? Bernapas lega, Aisyah masih perawan. Yeay.

Emang kenapa kalau dia masih perawan, lha 'kan haram bagiku mendekatinya.

"Mas boleh nanya lagi, nggak?"

"Nanya aja, Mas."

"Dari mana kamu mengenal Mas Bara?"

Matanya yang besar kini menatapku. Dia kembali tersenyum. Ah, berkali-kali aku 
harus mengatur degup di dada kala melihatnya tersenyum.

"Ayah itu, pelayan di restoran milik Mas Bara, Mas. Sebulan yang lalu, Mas Bara ke rumah, entah ada keperluan apa. Saat itu, Aisyah yang mengangkat minum untuknya. Setelah  hari itu, Mas Bara jadi sering main ke rumah. Dan terakhir Minggu yang lalu, saat dia melamar Aisyah pada Ayah."

Huh! Aku cuma selisih satu bulan dengan Mas Bara, tapi Aisyah malah jadi miliknya.

"Syah?".

Dia kembali menatapku. Mata kami bertemu sejenak.

"Apa kamu mencintai Mas Bara?".

Dia membelalak. Aku tertegun, aku benar-benar jatuh cinta dan ingin mencintai gadis ini.

Serasa ada yang mendesir dalam dada. Tubuhku seakan terdorong, ingin sekali kusentuh bagian berwarna kemerah-merahan yang dimiliki Aisyah.

Wajahku kini semakin mendekati wajahnya. Bolehkah aku menyentuh bibirnya?

Teeettt!

Suara klakson mobil mami membuat kami tersentak. Aisyah gelagapan, dia meninggalkan piring berisi bakso dan hendak berlari ke kamar.

"Aisyah, nggak perlu lari."

Aku memegang tangannya. Dia menoleh dan berusaha melepas tanganku.

"Maaf. Duduk aja lagi, Syah. Habisin baksonya. Aku temani sampai Mami masuk...".

Aisyah kembali duduk, tapi terlihat gugup dan kaku. Ah, entah mengapa kami harus berada pada situasi ini.

***

Mataku terus saja menatap nanar 
langit-langit kamar. Kejadian tadi di meja makan, membuat pikiran ini tak berhenti mengingat Aisyah.

Ya Allah, mengapa tak kau beri kesempatan untukku memilikinya?. Mengapa juga harus kau takdirkan dia dimiliki Mas Bara?

Aku larut dalam pikiran yang teramat sakit kurasa. Tiba-tiba gedoran pintu kamar membuyarkan lamunanku.

"Iz buka pintunya".

Mami.

Segera aku menuruni ranjang. Dengan cepat membuka pintu saat mendengar mami berteriak-teriak.

"Ada apa, Mi?".

"Iz, Nindi Iz, jam segini dia belum pulang juga. Nggak pernah Nindi pulang selarut ini, mami telponin teman- temannya, semua pada nggak tau Nindi ada dimana?".

Mami menangis ketakutan. Nindi, bukannya tadi siang dia menelponku untuk mengecek keadaan Alifa. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, aku tidak bisa tinggal diam.

"Mana Mi, nomor salah satu temannya, biar Faiz cek!"



*Bersambung*

Rabu, 15 September 2021

Surat Terbuka Untuk Mas Menteri | Sedih berurai air mata membacanya (bagi yang paham)

kotretaniyek Surat ini saya temukan di grup WhatsApp ketika musim tes untuk PPPK guru. Memang terasa mencabik perasaan ini. Tapi memang iniliah hidup, semuanya penuh perjuangan. Berikut isi surat dari seorang pengawas PPPK yang sedikit banyaknya mewakili perasaan kami pejuang pencerdas anak bangsa!

Yang terhormat,
Mas menteri
Nadiem Makarim 

Tak adakah rasa ngilu di dalam dada mas menteri melihat sepatu tua yang lusuh ini?

Memang benar sepatu tua ini terlihat bermerek, tetapi tahukan ini hanya sepatu loak apkiran

Tahukah Mas menteri,
Sepatu ini telah dipakai bertahun-tahun lamanya oleh si empunya

Seorang bapak dengan pakaian putih lusuh dan celana hitam yang warnanya sudah tak hitam lagi karena pudar. 

Mendekati usia senja masih setia mengajari anak-anak di pelosok negeri ini membaca dan mengeja

Di saat putus pengharapan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Beliau tetap semangat. Tak sekedar mengajar tetapi mendidik

Gaji di bawah lima ratus ribu sungguh tak cukup untuk makan sebulan. Apalagi untuk membeli sepatu

Terpaksa di saat pulang mengajar beliau mencari pendapatan tambahan sebagai pekerja serabutan

Tahun ini mas menteri memberikan secercah harapan untuk beliau. Program PPPK untuk memberikan harapan kehidupan yang lebih layak

Tetapi tahukah mas menteri? soal-soal yang mas menteri berikan hanya teori belaka saja. Tak sebanding dengan praktik pengabdian berpuluh-puluh tahun lamanya

Soal-soal yang membuat beliau terseok-seok ketika memegang mouse dan membuat kepalanya pening

Akhirnya, PASSING GRADE pun tak diraih. Pecahlah tangis beliau di dalam hati. Terlihat jelas ketika nilai-nilai itu terpampang di layar monitor. Beliau terdiam seribu bahasa.

Entahlah, apa yang dipikirkan. Melihatnya sayapun ikut terisak.

Memang benar beliau tak secerdas, sejenius, sekreatif mas menteri. Tetapi beliaulah yang menjadi pelita di tengah gulita buta aksara di pelosok negeri

Memang benar beliau tak pandai teknologi, tetapi tanpa teknologi beliau mampu membuat anak-anak negeri ini merangkai kata dari A hingga Z. Berhitung hal-hal dasar untuk memahami hidup

Memang benar para muridnya sebagian besar menjadi TKI dan TKW. Tapi tahukah mas menteri, bukankah mereka juga merupakan pahlawan penghasil devisa negara tercinta ini?

Beliau mempunyai andil yang besar dalam membangun negeri tercinta ini.

Sudi kiranya mas menteri memberikan keringanan untuk melihat beliau bisa menikmati masa tua dengan sepatu dan kehidupan yang layak

Tak usah diperumit

Jika tidak ada kebijakan untuk mengangkat derajat mereka, setidaknya di surga besok sepatu ini akan menjadi saksi bahwa ilmu yang beliau ajarkan sangat bermanfaat untuk keberlangsungan umat

Dari saya,
Novi Khassifa
Pengawas ruang PPPK
Ditulis dengan berurai air mata

Senin, 16 Agustus 2021

Membeli Keringat Guru

kotretaniyek Dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada gurunya,

Murid : "Jika memang benar para guru adalah orang-orang yang pintar, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang-orang kaya raya itu?

Gurunya tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia masuk ke ruangan nya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan.

Ia meletakkan timbangan tersebut diatas meja, dan  berkata : " Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram".
"Berapa harga emas seberat itu? "
Murid mengernyitkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia mejawab,

"Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 milyard rupiah,"

Guru : "Baik lah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga emas 5000 gram, adakah yang bersedia membelinya?"
Murid berkata : "Timbangan emas tidak lebih berharga dari emasnya, saya bisa mendapatkan timbangan tersebut dengan harga dibawah dua juta rupiah, mengapa harus membayar sampai 4 milyar?"

Guru menjawab : "Nah, anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasimu, kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar kemajuanmu. "

Guru berkata lagi, "Satu lagi pertanyaanku. Jika ada seseorang datang kepadamu membawa sebongkah berlian ditangan kanannya dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata : "Ditangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kananku ini, tanpa keringat ini tidak akan ada berlian, maka belilah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian"
"Apakah ada yang mau membeli keringatnya? "
"Tentu tidak." Ujar murid.

"Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami, para guru, menjadi keringat itu, dan kalianlah yang menjadi berliannya."

Sang murid menangis, ia memeluk gurunya dan berkata : "Wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya kalian, terima kasih guru. Kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kemajuan kami, setiap kilau berlian kami, ada tetes keringatmu..."

Guru berkata : "Biarlah keringat itu menguap, mengangkasa menuju alam hakiki disisi ilahi rabbi, karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak-pernik di dunia ini."

Untuk semua guru, Terima kasih atas segenap perjuanganmu semoga Allah Azza Wa Jalla melindungmu dan memberkahi umurmu..

Jazakumullahu khairaan..

Kamis, 01 Juli 2021

Hadis Arbain Nawawi I (Bagian 3)

kotretaniyek Hadis Arbain Nawawi I No. 3
Hadis Ke-3   Dari Abu Abdirrohman Abdulloh bin Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhuma, dia berkata “Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: ’Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh, menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitulloh, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”(HR.Bukhori dan Muslim) Kedudukan Hadis Hadis ini merupakan hadis yang agung karena menyebutkan tonggak-tonggak Islam atau yang disebut dengan Rukun Islam. Berpangkal dari kelima rukun tersebut Islam dibangun. Macam-macam penggunaan istilah Islam Istilah islam digunakan dalam dua bentuk, yaitu: 1. Islam ‘Am berarti berserah diri kepada Allah dengan cara bertauhid, tunduk kepada-Nya dalam bentuk ketaatan serta bersih dan benci dari syirik dan penganutnya. Islam dalam pengertian ini merupakan ke-Islam-an makhluk secara umum tak seorangpun keluar dari ketentuan ini baik suka atau-pun terpaksa. Islam seperti ini-lah Islam yang diajarkan oleh seluruh rasul. 2. Islam Khos berarti Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallaahu álaihi wa sallam, yaitu: mencakup Islam dengan makna ‘am yang sesuai dengan tuntunan Muhammad shallallaahu álaihi wa sallam. Jika istilah Islam datang secara mutlaq maka maksudnya adalah Islam khos. Syahadatain Syahadat tidaklah sah sehingga terkumpul padanya tiga hal: keyakinan hati, ucapan lisan dan menyampaikan kepada orang lain. Dalam kondisi tertentu terkadang diperbolehkan untuk tidak menyampaikan kepada orang lain. Makna syahadat “la ilaha illa’llahu” adalah menafikan hak disembah pada selain Allah dan menetapkan hanya Allah-lah yang berhak untuk disembah. Konsekuensinya harus mentauhidkan Allah dalam ibadah, oleh karena itu kalimat tersebut dinamakan sebagai kalimat tauhid. Makna syahadat “Muhammad Rasulullah” adalah meyakini dan menyatakan bahwa Muhammad bin Abdillah adalah benar-benar utusan Allah yang mendapatkan wahyu berupa Kalamullah untuk disampaikan kepada manusia seluruhnya. Dan dia adalah penutup para Rasul. Konsekuensi dari syahadat ini yaitu membenarkan beritanya, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah kepada Allah hanya dengan syar’iatnya . Utusan Allah dari kalangan manusia mendapatkan wahyu melalui utusan Allah dari kalangan malaikat maka tidak-lah mereka langsung mendapatkan dari Allah kecuali pada sebagian, sesuai dengan kehendak Allah. Hukum meninggalkan rukun Islam. Hukum meninggalkan Rukun Islam dapat diperinci sebagai berikut: 1. Meninggalkan syahadatain hukumnya kafir secara ijma’. 2. Meninggalkan shalat hukumnya kafir menurut jumhur ulama atau ijma’ sahabat. 3. Meninggalkan rukun yang lainnya hukumnya tidak kafir menurut jumhur ulama. Meninggalkan disini dalam arti tidak mengerjakan dengan meyakini kebenarannya dan kewajibannya, adapun jika tidak meyakini kebenarannya dan kewajibannya maka hukumnya kafir walaupun mengerjakannnya. Pembagian Rukun Islam Rukun islam terbagi menjadi empat kelompok yaitu: 
1. Amal i’tiqodiyah yaitu syahadataian
2. Amal badaniyah yaitu solat dan puasa. 3. Amal maliyah yaitu Zakat. 
4. Amal badaniyah dan maliyah yaitu haji.  

Minggu, 27 Juni 2021

Hadis Arbain Nawawi I (Bagian 2)

kotretaniyek Hadis Ke-2 Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga, beliau berkata: Pada suatu  hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam,  tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya  sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada  seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi  shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi,  dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata:  ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh  shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau  bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya  Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar  zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika  engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.”  Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.  Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”.  (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman  kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan  hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”Orang tadi  berkata: ”Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu  terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah  engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau  tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat  engkau.” Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari  kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu  daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah  kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: ”Apabila budak melahirkan  tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang  miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.”  Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya.  Lalu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar, tahukah engkau  siapa orang yang bertanya itu ?”. Aku menjawab: ”Alloh dan Rosul-Nya  yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat  Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”(HR.  Muslim).  Kedudukan Hadis Materi hadis ke-2 ini sangat penting sehingga sebagian ulama menyebutnya  sebagai “Induk sunnah”, karena seluruh sunnah berpulang kepada hadis ini.  Islam, Iman, dan Ihsan Dienul Islam mencakup tiga hal, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Islam berbicara  masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan mencakup keduanya. Ihsan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari iman, dan iman memiliki  kedudukan yang lebih tinggi dari Islam. Tidaklah ke-Islam-an dianggap sah  kecuali jika terdapat padanya iman, karena konsekuensi dari syahadat mencakup  lahir dan batin. Demikian juga iman tidak sah kecuali ada Islam (dalam batas  yang minimal), karena iman adalah meliputi lahir dan batin.  Perhatian! Para penuntut ilmu semestinya paham bahwa adakalanya bagian dari sebuah istilah  agama adalah istilah itu sendiri, seperti contoh di atas.   Iman Bertambah dan Berkurang Ahlussunnah menetapkan kaidah bahwa jika istilah Islam dan Iman disebutkan  secara bersamaan, maka masing-masing memiliki pegerttian sendiri-sendiri, namun  jika disebutkan salah satunya saja, maka mencakup yang lainnya. Iman dikatakan  dapat bertambah dan berkurang, namun tidaklah dikatakan bahwa Islam bertambah  dan berkurang, padahal hakikat keduanya adalah sama. Hal ini disebabkan karena  adanya tujuan untuk membedakan antara Ahlussunnah dengan Murjiáh.  Murjiáh mengakui bahwa Islam (amalan lahir) bisa bertambah dan berkurang,  namun mereka tidak mengakui bisa bertambah dan berkurangnya iman (amalan batin).  Sementara Ahlussunnah meyakini bahwa keduanya bisa bertambah dan berkurang.  Istilah Rukun Islam dan Rukun Iman Istilah “Rukun” pada dasarnya merupakan hasil ijtihad para  ulama untuk memudahkan memahami dien. Rukun berarti bagian sesuatu yang menjadi  syarat terjadinya sesuatu tersebut, jika rukun tidak ada maka sesuatu tersebut  tidak terjadi.Istilah rukun seperti ini bisa diterapkan untuk Rukun Iman,  artinya jika salah satu dari Rukun Iman tidak ada, maka imanpun tidak ada.  Adapun pada Rukun Islam maka istilah rukun ini tidak berlaku secara mutlak,  artinya meskipun salah satu Rukun Islam tidak ada, masih memungkinkan Islam  masih tetap ada.  Demikianlah semestinya kita memahami dien ini dengan  istilah-istilah yang dibuat oleh para ulama, namun istilah-istilah tersebut  tidak boleh sebagai hakim karena tetap harus merujuk kepada ketentuan dien,  sehingga jika ada ketidaksesuaian antara istilah buatan ulama dengan ketentuan  dien, ketentuan dien lah yang dimenangkan.  Batasan Minimal Sahnya Keimanan  1. Iman kepada Allah. Iman kepada Allah sah jika beriman kepada Rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan  asma’ dan sifat-Nya.  2. Iman kepada Malaikat. Iman kepada Malaikat sah jika beriman bahwa Allah menciptakan makhluk bernama  malaikat sebagai hamba yang senantiasa taat dan diantara mereka ada yang  diperintah untuk mengantar wahyu.  3. Iman kepada Kitab-kitab. Iman kepada kitab-kitab sah jika beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab yang  merupakan kalam-Nya kepada sebagian hambanya yang berkedudukan sebagai rasul.  Diantara kitab Allah adalah Al-Qurán.  4. Iman kepada Para Rasul. Iman kepada para rasul sah jika beriman bahwa Allah mengutus kepada manusia  sebagian hambanya mereka mendapatkan wahyu untuk disampaikan kepada manusia, dan  pengutusan rasul telah ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallaahu álaihi wa  sallam.  5. Iman kepada Hari Akhir. Iman kepada Hari Akhir sah jika beriman bahwa Allah membuat sebuah masa sebagai  tempat untuk menghisab manusia, mereka dibangkitkan dari kubur dan dikembalikan  kepada-Nya untuk mendapatkan balasan kebaikan atas kebaikannya dan balasan  kejelekan atas kejelekannya, yang baik (mukmin) masuk surga dan yang buruk  (kafir) masuk neraka. Ini terjadi di hari akhir tersebut.  6. Iman kepada Taqdir. Iman kepada taqdir sah jika beriman bahwa Allah telah mengilmui segala sesuatu  sebelum terjadinya kemudian Dia menentukan dengan kehendaknya semua yang akan  terjadi setelah itu Allah menciptakan segala sesuatu yang telah ditentukan  sebelumnya.   Demikianlah syarat keimanan yang sah, sehingga dengan itu  semua seorang berhak untuk dikatakan mukmin. Adapun selebihnya maka tingkat  keimanan seseorang berbeda-beda sesuai dengan banyak dan sedikitnya kewajiban  yang dia tunaikan terkait dengan hatinya, lesannya, dan anggota badannya.  Taqdir Buruk Buruknya taqdir ditinjau dari sisi makhluk. Adapun ditinjau dari pencipta  taqdir, maka semuanya baik.  Makna Ihsan Sebuah amal dikatakan hasan cukup jika diniati ikhlas karena Allah, adapun  selebihnya adalah kesempurnaan ihsan. Kesempurnaan ihsan meliputi 2 keadaan:  1. Maqom Muraqobah yaitu senantiasa merasa diawasi dan  diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktifitasnya, kedudukan yang lebih tinggi  lagi.  2.  Maqom Musyahadah yaitu senantiasa memperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan  seluruh aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut.     

Download Aplikasi KESAN (Gratis & Tanpa Iklan) di https://kesan.id/app/hadis/Arbain_Nawawi_I/2

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...