Minggu, 03 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Cerbung - Bagian 1-3)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
#Part 1
#Ayu Wahyuni

Kenalkan Iz, ini calon kakak iparmu....".

Mataku membelalak menatap gadis ayu yang dikenalkan Mas Bara sebagai calon kakak iparku. Bagaimana mungkin, gadis yang kuimpikan dan kusebut-sebut tiap habis shalat fardhu justru dijodohkan Allah sama kakak kandungku sendiri?.

***

Kreeek!....

Aku menginjak botol Aqua kosong yang tergeletak di halaman. Pelaminan khas Aceh masih bertengger indah di sisi kanan rumah, tapi suasana sekeliling terlihat begitu senyap. Tentu sebab saat ini sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
 
Seharusnya, aku ditugaskan mami sebagai penerima tamu pada acara perkawinan Mas Bara, satu-satunya kakak kandung yang kumiliki. Tapi, mana mungkin aku betah, jika yang menjadi mempelai wanita, adalah gadis yang tak lama sudah lebih dahulu kupinang dengan Bismillah.

Jadilah aku mengolah ide ajaib pada mami. Kukatakan padanya jika malam ini aku ditugaskan untuk menggerebek rumah kosong, yang diduga sebagai markas penyuplai sabu ke beberapa wilayah di Jakarta Barat ini.

Karena ini perintah Komandan, mami tak dapat mengelak!

Huh, demi apa coba aku harus berbohong?.

Menatap Aisyahku bersanding di pelaminan dengan lelaki yang sangat kuhargai selama ini, rasanya lebih sakit dari patah hati.
Kulangkahkan kaki memasuki rumah.

Selama menjadi polisi, mami memberiku kunci cadangan agar setiap waktu aku bisa masuk dan keluar rumah tanpa membangunkannya.

Kini langkahku enggan menaiki tangga. Setiap kali kaki menjejal lantai, tiap kali itu pula jantung riuh berdetak.

Sebelum masuk ke kamar, aku berdiri lama didepan pintu. Entah apa yang ingin kudengar, mungkin erangan pengantin baru menjelang subuh!

Ah, gobloknya diri ini!.

Kubuka pintu kasar, lalu meletakkan tas ranselku di pinggir ranjang, jaket kulepas dan kuhempas asal di atas ranjang. Kemudian kugerakkan tubuh dengan malas ke kamar mandi. Mencuci kaki, tangan dan wajah.

Kutatap lama wajah yang sekarang kelihatan mirip seperti oppa Korea. Menyesal! Ya aku menyesal karena Aisyah kini menjadi pengantin Mas Bara. Seandainya aku tidak hanya melamarnya dengan Bismillah, tapi dengan mahar. Tentu malam ini kami sudah bersatu di dalam kamar pengantin.

Uh!....

Kuhempas tubuh di atas ranjang, mencoba memejamkan mata. Tapi, sial!..

Justru wajah Aisyah yang tampak anggun dalam baju pengantinnya tak mau teralih sedikitpun.

"Kalau begini, aku bisa gilaaa!", teriakanku memecah keheningan malam.

Saat aku diam, keadaan kembali hening. Tak lama,

"Iz, kamu kenapa?".

Mas Bara memukul dinding kamarku yang berdempetan dengan kamarnya.

"Nggak papa, Mas. Cuma mimpi, lagi nangkap bandar sabu...".

"Oh, ya sudah. Makanya sebelum tidur jangan lupa baca doa, biar nggak ngigau terus kamu, Dik!".

Kuhela napas. Nah kan benar, jam segini mereka belum tidur, ngapain aja coba!.

***

Pagi ini terlihat tak biasa, rambut Mas Bara basah. Ini sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya sehari-hari, ia tidak pernah keramas pagi-pagi. Katanya keramas hanya boleh sekali di satu hari, jadi dia memilih sore hari untuk mencuci rambut tebalnya. Setelah berlelah-lelah dan membiarkan rambutnya berkeringat sepanjang hari.

Ah, tapi mungkin ini akan menjadi hal wajar yang bakalan tiap pagi aku nikmati. Bukankah semua pengantin baru memang begitu?.

Kuhela napas panjang sambil mengumpulkan keping-keping hati yang berserakan.

"Aisyah mana, Bar?", tanya Mama memecah lamunanku.

"Masih di kamar, Ma. Lagi beresin tempat tidur...".

"Pasti tempat tidurnya kayak kapal perang ya, Mas?".
"Hus!, anak kecil jangan suka asbun, nanti didengar kakak iparmu 'kan nggak enak...", sanggah Mama sambil menutup mulut Nindi, adikku semata wayang.

Dan disini, lagi-lagi aku harus mengurut dada. Ada baiknya aku tidak di rumah di waktu-waktu kumpul begini, atau aku harus siap menderita batin setiap waktu.

"Bara, sebaiknya kamu menjemput Aisyah untuk sarapan. Pasti dia malu-malu. Mama juga dulu begitu, hari pertama di rumah mertua itu rasanya kok kayak nginap di rumah presiden. Nggak berani  ngapa-ngapain....".

"Beneran, Ma?".

Itu Nindi lagi punya suara!. Pasti sebentar lagi Nindi bakalan nanya tentang pengalaman mami bersama papi ngelewatin malam pertama mereka. Oh, bikin jealous, sebaiknya aku pergi. Kutolak kursi ke belakang, dan hendak berlalu. Tapi,

"Mau kemana, Iz?. Kamu 'kan belum sarapan?...", tanya Mami sambil menarik tanganku.

"Faiz masih kenyang, Mi. Tadi malam selesai razia, seperti biasa, ditutup dengan makan-makan...".

Kujawab santai pertanyaan mami dengan harapan bisa terbebas dari sarapan pagi bersama.

"Tapi Iz, duduk sebentar lagi, ya. Kita sambut kakak iparmu dimeja makan. Cepat Bar, jemput Aisyah...".

Apalagi yang harus kulakukan, selain menurut. Sedang Mas Rama terlihat segera beranjak dan berjalan ke kamarnya. Tak lama, dia dan ... gadis yang kucintai kembali ke ruang makan.

"Selamat pagi menantu Mami yang cantik, mari duduk, Sayang....". Mami bangkit dan menyambut gadis itu.

Ah, anggun sekali dia. Beruntungnya Mas Bara bisa menyunting gadis seperti Aisyah. Aku menghela napas, entah kenapa, susu putih yang baru saja kuteguk terasa asin. Sepertinya ada yang sengaja menambah garam dalam susuku.

Mami menyilakan wanita yang pastinya tak lagi gadis itu untuk duduk, tepat di hadapanku. Tapi tetap, disamping Mas Bara.

"Gimana tidurnya semalam, Aisyah?. Kalau Bara lasak di atas kasur, kasih tau Mami, ya...".

'Ehey mami, lelucon macam apa ini. Sudah pastilah para bujang lasak di atas ranjang pengantin, kenapa harus buat laporan.'.

Jiwa bujangku kini malah ingin berontak. Harusnya yang lasak bersama Aisyah itu aku, bukan Mas Bara. Dasar kau Mas, kau tikung adikmu tanpa basa  basi. Lihat nanti pembalasanku.

Mataku kini beralih ke atas meja di hadapanku. Dua tangan itu kini saling menggenggam mendengar guyonan mami. Ah, romantisnya mereka. Lagi-lagi, kumenangis.

Kudorong kembali kursi dengan belakang lutut. Mami kembali mencegah.

"Apa lagi sih, Mi?".

"Duduklah sebentar lagi, Iz...", ucap mami sambil memegang lenganku.

"Biarin aja, Mi. Mungkin Mas Faiz cemburu!".

Nindi kembali membuka suara sambil terkekeh, dasar centil nggak punya perasaan.

"Benar Iz kamu cemburu?. Kalau kamu sudah siap, bawa gadis manapun yang kamu inginkan untuk jadi istri ke hadapan Mami. Kamu juga sudah pantas untuk menikah Iz, biar teratur hidupmu itu lo."

"Ehuk! Uhuk!.

Aku terbatuk mendengar ucapan mami. Aku harus bawa siapa ke hadapan Mami, Kaniya?. Polwan genit yang selalu minta kujadikan pacar? Atau Lusi, perawat bahenol yang selalu menelponku minta diapelin?.

Kuhela napas berat. "Faiz ngantuk, Mi. Faiz belum dua jam mejami mata. Faiz sudah minum susu, makannya nanti kalau Faiz sudah bangun...", jawabku masih dengan lembut. Mami paling tidak senang jika anaknya bersuara keras.

"Mas Faiz kayaknya belum punya pacar deh, Ma...".
Nindi kembali terkekeh sambil menatapku. Sialnya lagi, Aisyah kini juga menatapku, pasti dia menaruh kasihan. Ah!.

"Mas Faiz mau nggak aku jodohin sama temanku?. Anaknya baik, cantik, rajin sholat, setia kalau berteman. Pasti setia sama suami."

Aku kembali duduk, kupicingkan mata ke arah Nindi. Sepertinya bakalan serius obrolan ini.

"Siapa, Nin?.

Mama bertanya dengan nada penasaran.
"Namanya Alifa, Mi. Kasihan banget hidupnya. Dia disuruh kawin sama juragan ayam sama orang tuanya demi melunaskan hutang sebanyak sepuluh juta?".

"Apa?. Menjual anak karena uang sepuluh juta?. Keterlaluan ini!". Mami mengempas sendok ke atas meja.

Ah mami kalau marah mah berlebihan, urusan apa coba sama mami. Kenapa harus naik darah begitu!

"Iz, nikahi gadis itu Iz, kasih dia mahar sepuluh juta. Biar lunas hutang Bapaknya!"
Hah? Mataku membelalak!.

"Apa-apaan sih, Mi?. Nggak, Faiz nggak mau nikah kecuali sama yang Faiz cintai, titik nggak pakai tanda seru...".

Kudorong kursi dengan tangan, lalu tubuhku berlalu dari ruang makan. Tak kuperdulikan lagi mami yang terus memanggil dengan begitu lembut. Sebelum berlalu dari ruang makan, aku memilih berhenti sejenak.

Lalu aku berbalik, kulempar pandang ke belakang. Dan ternyata, netra Aisyah bertemu dengan netraku.

Ah, sial!..

Gadis itu, apa maunya coba?.

==================================

Aku Mencintai Istrimu, Mas
#Part 2


[Maaf ya, Mas Faiz]
Aku mengucek-ngucek kelopak mata, benarkah yang kulihat?. Aisyah mengirimkanku sebuah pesan? Ck, tidak bisa diterima akal. Segera kuketik balasan.

[Untuk apa?]

[Saya tidak tahu kalau Mas Bara adalah Kakak kandung sampeyan]

Sontak jantungku berdegup kencang membaca pesan dari wanita itu.

[Terus?]

Sok jaim dulu lah, masak iya aku ngamuk sama kakak ipar sendiri.

[Ya, sebenarnya waktu Mas Bara melamar, saya teringat sampeyan. Tapi Abah memaksa, beliau bilang, saya  nggak harus percaya saya orang yang cuma janji nikah doank, tapi nggak merealisasikannya. Makanya Abah langsung nerima gitu aja lamaran Mas Bara]

'Huh!. Air mataku mendesak keluar. Jangan cengeng Faiz!. Lu polisi, senjata lu pegang, mafia lu bentak, sama cewek lu nangis, bodoh!'..

[Tapi kamu 'kan bisa nelpon saya dulu, minta kejelasan. Saya 'kan cuma minta waktu enam bulan lagi, itu bukan karena saya nggak siap nikah. Lahir batin saya siap. Masalahnya cuma satu, saya masih dalam masa training. Dan seorang polisi yang masih dalam masa training, dilarang untuk menikah. Emang kamu mau nikah tapi nggak terdaftar di KUA? Nggak 'kan?]

Kesalnya hati ini, wanita memang ya suka berkilah. Aku yakin bukan karena kepastian dariku yang belum ia terima, tapi karena pesona Mas Bara yang melebihi pesonaku di hadapannya.

Makanya dia langsung nerima gitu aja pas Mas Bara ngelamar.

Masak iya dia mau menyamakan aku yang baru tamat pendidikan dengan Mas Bara yang udah ketebalan dompet sekian lama.

[Yah, Mas Faiz nggak ngomong begini waktu itu. Ya sudah lah Mas, kita ikhlas aja ya, mungkin kita memang nggak berjodoh. Saya yakin, Mas Faiz pasti akan mendapat jodoh yang lebih baik dari saya.]

Jiah!.. Kuempaskan tubuh ke atas ranjang. Semua cewek juga bakalan bilang begini, setelah meninggalkan seorang cowok. Enak emang ya jadi perempuan, ninggalin satu lelaki, langsung aja dapat pengganti. Lha si cowok dapat apa coba?

Ting!..

Nggak berselang lima menit, ponselku kembali kemasukan pesan. Cepat-cepat kubuka.

[Assalamualaikum Mas Faiz, lagi ngapain?]
Kaniya!..

Kuabaikan pesan dari Aisyah, mungkin Kaniya bisa jadi pelampiasan.

[Waalaikum salam]

[Kok nggak ngantor, Mas?]

[Lagi off]

[Jalan-jalan yuk, Mas]

CK! Beneran ni cewek, agresif banget. Jadi juga tak kerjain.

[Kemana?]

[Nongkrong aja, di Cafe]

[Oke]

[Jemput saya ya, Mas]

Yealah! Nggak punya modal banget nih cewek. Ah, tapikan lebih bagus, biar bisa lebih dekat. Cepat-cepat bisa melupakan Aisyah.

[Oke, tunggu aja dikostan.]

Sengaja tak kubalas pesan Aisyah, biar dia berpikir dan menyadari bahwa apa yang dia lakukan padaku adalah kesalahan besar.

Kugerakkan tubuh keluar kamar, sejenak berhenti di depan kamar Mas Bara.

Kupasang indera pendengar agar tahu sedang apa dia seorang diri di kamar itu. Sebenarnya aku kesal sama Mas Bara, dia benar-benar lelaki nggak berperi kejantanan!.

Kalau urusan uang sama karier, istri di nomor duakan. Masak iya, baru nikah dua hari udah mau ditinggal tu bini. Bukan untuk sehari, tapi seminggu. Kasihan Aisyah, bisa-bisa dia jamuran di dalam kamar karena nggak berani keluar.

Ck! Lagi-lagi emosi bujangku melonjak naik. Andai aku yang jadi suaminya, tak kubiarkan dia kesepian sedetikpun!

Ceile, ngayal tingkat parah!

Senyap!.. Tak ada suara apapun di dalam sana, seakan tak ada kehidupan manusia di dalamnya.

Kuhela napas panjang, sambil kembali menuruni tangga. Sampai di garasi, kuhidupkan motor besar kesayangan. Lalu aku melesat cepat keluar rumah.

Sebenarnya main perempuan bukan hobbyku, aku lulusan pesantren. Dekat sama perempuan juga baru sama Aisyah. Itupun kebetulan, waktu gadis itu dan teman-temannya kena tilang gegara nggak pakai helm.

Kaniya, dia bahkan lebih tua dariku. Lama sudah dia mencoba mendekat, semenjak pertama aku menyandang gelar Bripda. Tapi aku selalu berusaha menjaga diri. Aku juga tidak suka perempuan agresif.

Lusi, memang dia lebih muda. Tapi dia juga agresif. Aku cuma nolongin dia sekali waktu ban motornya kempes, setelah dia selesai memperpanjang kartu SIM. Lha dia pikir aku tulang ojek, yang mau ngantar dua, tiga atau empat kali.

Kadang perempuan itu aneh, dikasih wajah cantik sedikit saja sama Allah, udah disalah gunakan. Padahal Allah memerintahkan kaum wanita untuk menundukkan pandangan, lha ini malah tebar pesona, sampai kaum Adam dikejar-kejar mimpi basah. Halah!

Hanya Aisyah, gadis shalihah yang tak pernah ku dapati menatap mataku saat aku singgah di rumahnya.

Ah, Aisyah, mengapa kau tercipta bukan dari tulang rusukku?

Ting!

Ponselku bergetar, tepat saat motorku berhenti di depan rumah Kaniya.

Gadis itu keluar dari kostannya. Allahu Rabbi, aku sontak menutup mata. Dia berpakaian apa enggak sih, kok begitu?

"Cepat banget Mas sampainya, belum siap nih. Gimana?" tanyanya santai tak tahu adab.

Kaniya berdiri diambang pintu. Melihatnya mengucir rambut, jantungku berpacu kencang. Sebaiknya, kubatalkan saja keinginan ini, tapi...

"Masuk dulu, yuk," ajaknya manja. Duh, kupastikan tak ada lelaki yang bisa menolak ajakannya kecuali aku. Kenapa? Karena disaat genting begini, omongan Ustadz di pesantren seperti diputar ulang.

'Walataqrabuzzina'

Wallahu, aku sudah mendekati zina. Sebentar lagi, syaitan akan menarikku dalam kubangan kehinaan. Hatiku saling bertengkar. Kugelengkan kepala.

"Faiz nunggu disini aja, Kak."

"Eh, jangan panggil Kakak lagi, donk. Panggil nama aja, udah...".

Aku mengangguk. Lalu Kaniya berlalu kedalam. Kukeluarkan ponsel yang tadi sempat bergetar.

[Mas Faiz, boleh minta tolong nggak?]

Jantungku kembali berdegup kencang saat membaca pesan yang dikirimkan Aisyah ke ponselku. Ya Allah, Aisyah. Apalagi sih maunya perempuan ini? Sengajakah dia mau buat aku nggak bisa move on sepanjang abad?

[Mau minta tolong apa?]

Sabar Iz, Allah Maha Penyayang.

[Sebenarnya malu Mas ngomongnya, tapi Aisyah bingung, dari tadi nelpon Mas Bara nggak diangkat. Tak kirimin pesan pun nggak di balas. Aisyah malu keluar, Mas.]

Huh, kasihan sekali perempuan ini. Baru sehari di rumah mertua, udah ditinggal suami kemana-mana. Kutarik napas dalam.

[Ya sudah ngomong aja, nanti Mas tolongin.]

[Tapi janji jangan mikir macam-macam ya, Mas]

[Iya]

[Gini, Mas. Tolong belikan Aisyah So**** donk]

Aku membelalak menatap ponselku kini. Masak iya aku yang masih jomblo disuruh beli barang gituan, apa kata dunia!

[Mas, maaf ya, udah lancang. Nggak ada kain yang bisa digunakan, Mas. Aisyah bingung mesti gimana. Maaf banget, Mas.]

Huh! Kuatur degup di dada. Disaat bersamaan, Kaniya keluar dari rumahnya. Mataku membulat. Katanya mau ganti pakaian, tapi masih seperti tadi, kurang bahan!

Kupastikan jika nongkrong bersamanya, banyak mata yang tak berkedip, termasuk aku, barangkali.

Sebaiknya aku pergi, lebih baik malu sama manusia karena membeli pembalut Asiyah, daripada malu sama Allah dan malaikat karena berduaan sama gadis seperti Kaniya. Pakai baju kayak nggak pakai. Ah mending kabur aja.

"Mas Faiz ....!".

Kaniya berteriak memanggil namaku.

Alamak bisa mati aku besok di Kantor! Lebih baik mati di tangan manusia, daripada disiksa malaikat.

Kaburrr!

***

"Aisyah ....".

Kuketuk pintu kamar Mas Bara pelan. Jantungku kembali berpacu, kenapa sih nggak bisa diajak kompromi dikitpun.

Aisyah membuka pintu.

Ck! Cantik! Dia selalu menyita mataku.

"Ini pesananmu."

Dia tersenyum lalu meraih kantong plastik di tanganku.

"Makasih ya, Mas," ucapnya sambil kembali tersenyum.

Kuanggukan kepala, sekilas kamar pengantin Mas Bara terlihat oleh mataku. Begitu indah, seprai dan bed cover putih, serta bantal-bantal yang diatur rapi.

Oh Aisyah, kumenangis ... membayangkan.

Dreettt!

Ponselku kembali berdering. Dari tadi di atas motor, beberapa kali juga benda itu berbunyi. Kaniya tak henti menelpon. Kali ini sebaiknya kuangkat.

"Mas Faiz kok pulang?. Curang ah!".

Suara manja Kaniya terdengar keluar ponsel. Kulirik Aisyah, dia menunduk.

"Bentar," lirihku pada Aisyah. Dia mengangguk, lalu aku berjalan sedikit menjauh.

"Maaf Kaniya, tadi Mami nelpon nyuruh beli roti bantal."

Yaelah, bohong, bohong!

"Oh gitu, kok nggak bareng aja, Mas. Biar sekalian kenal sama Maminya Mas Faiz?"

Busyet! Ngenalin Kaniya ke mami, bisa berabe urusan.

"Lain kali aja ya. Oh, jalan-jalan hari ini kita batalin aja, oke. Soalnya aku disuruh mami beresin kandang kelinci piaraannya."

Aku memelas sambil berdoa, semoga Kaniya mengiyakan.

"Ya sudah deh, lain kali jangan kabur lagi, ya."

"Oke sip, aku janji."

Huh! Kelar urusan sama Kaniya. Sekarang waktunya kembali pada bidadari Mas Bara.

"Duduk di teras, yuk," ajakku pada Aisyah yang masih berdiri di depan pintu kamar.

Dia menggeleng. "Nggak Mas, mau di kamar aja. Yang tadi, calonnya Mas Faiz?"

Aku terhenyak, kutangkap aura cemburu di wajahnya. Benarkah?

"Ehm, iya," jawabku sengaja.

"Oh, selamat ya, Mas. Semoga bisa segera naik pelaminan"m

"Aamiin".

Tanpa basa basi lagi, dia menutup pintu kamar, keras!

Aneh, cemburukah dia? Apa haknya, bukankah dia sudah menelantarkan hatiku?

==================================

Aku Mencintai Istrimu, Mas
#Part 3

"Ya Allah, mengapa tak kau beri kesempatan untukku memilikinya?. Mengapa juga harus kau takdirkan dia dimiliki Mas Bara?".

***

Namaku Faiz Alfarisy, saat ini umurku sudah genap dua puluh dua tahun. Jatuh cinta dan mencintai, buatku adalah proses belajar. Aku sering jatuh cinta, pada Ustadzah kalem dan cerdas di pesantren, pada seorang gadis yang kutemui beberapa kali di supermarket. Tapi semua itu hanya sebatas jatuh, cinta. Tidak untuk kucintai.

Namun, Aisyah, aku jatuh cinta, dan ingin mencintainya. Tapi kenapa, Mas Bara juga mencintai gadis yang kucintai?.

Kembali ke biodata, sebelum memilih meneruskan pendidikan di kepolisian, aku sudah lebih dahulu mengecap pendidikan di Fakultas Ekonomi selama dua semester. Kata Mami biar kelak jika sudah jadi sarjana, aku bisa membangun usaha mandiri seperti Mas Bara. Kakak kandungku.
 
Tapi, belakangan, aku dibuat pusing dengan angka-angka yang harus kutotal-total dalam setiap mata kuliah. Alhasil aku memutuskan mundur dan meneruskan apa yang selama ini ada dalam anganku. Menjadi abdi negara. Mami menganjurkan agar aku langsung ikut tes Akademi Kepolisian (Akpol), tapi sayang, aku jatuh dites psikologi ke 2. Jadilah aku hanya bisa mengikuti tes Bintara polisi.

Bercerita tentang Mas Bara, tiada kata lain yang cocok untuknya, selain spesial. Ya, dia dikaruniai wajah yang tampan, akhlak terpuji, kecerdasan diatas normal. Apa yang dilakukan, selalu berhasil. Usahanya cukup maju dan berkembang. Di beberapa kota di wilayah Jawa ini bahkan sudah banyak yang membuka cabang.

Sedang aku, hanya polisi berpangkat Bripda. Aku tak punya apa-apa, selain cinta, yang  sampai detik ini belum ada pemiliknya. Adakah yang bersedia untuk kucintai?.

***

Mataku membulat menatap gadis berjilbab besar di hadapanku kini. Jika bukan karena ulah Nindi, tentu aku takkan rela uang sepuluh jutaku tertarik dari ATM. Uang itu seharusnya kugunakan untuk membeli maharnya Aisyah, ah biarlah, toh Aisyah juga sudah dinikahi Mas Bara.

"Siapa namamu?", tanyaku sok jadi detektif.

"Alifa, Mas Faiz. Nindi 'kan-"..

Stttt!..

Kuletakkan jari telunjuk di mulut Nindi. "Jika Mas bertanya pada sahabatmu, maka yang harus menjawab sahabatmu, Ndi. Ini mekanisme dalam sidak kepolisian".

Nindi menjulurkan lidahnya.

"Siapa namamu?", kuulang pertanyaanku.

Gadis itu mengangkat. wajahnya, menatap mataku sejenak lalu kembali menunduk. Sikapnya, mengingatkanku pada, Aisyah.

"Alifa Azkadina, Mas...", jawabnya terbata.

"Berapa uang yang kamu butuhkan?".

Aku menelaah pertanyaanku sendiri, kok rasa-rasanya seperti sedang berada di ruang interogasi?. Padahal gadis ini, sama sekali bukan penjahat. Ah, biarlah, kasus harus diusut tuntas.

Gadis di hadapanku mulai memutar- mutar ujung jilbabnya. Sebenarnya aku tak ingin bersikap ala detektif begini pada gadis itu, hanya saja aku ingin memastikan bahwa benar apa yang dikatakan Nindi kemarin dimeja makan. Tentang juragan ayam itu.

"Sepuluh juta, Mas. Saya janji, akan kerja part time untuk bisa segera melunasi uang yang saya pinjam itu...".

Aku mendengus.

"Benar Ayah kandungmu yang berhutang pada seorang juragan ayam?".

Gadis itu mengangguk.
"Lalu, kamu mau aja dijadikan taruhan?"

Dia terhenyak.

"Udah lah Mas, niatan ngasih nggak sih, nanya mulu kayak rentenir...".
Mataku seketika teralih. Dasar Nindi, apa dia nggak tahu jika Masnya ini sedang berusaha mencari kebenaran.

Kutajamkan pandangan kembali pada Alifa. Gadis itu terkesiap.

"Ayah saya kecanduan togel, Mas. Beberapa minggu ini, dia kalah terus, hingga harus berhutang pada juragan Kasim. Ternyata saat  berhutang itu, Ayah sedang mabuk, jadi dia menandatangani surat persetujuan tanpa sadar. Isi surat persetujuan itu adalah, apabila Ayah tak mampu mengembalikan uang yang ia pinjam dalam kurun waktu sebulan, maka Juragan Kasim berhak menikahi saya...".

Aku menelan saliva, aneh benar kasus yang menimpa gadis itu. Kasihan!.

Kuhela napas sambil mengeluarkan uang dari tas selempang.
"Kamu nggak harus mengembalikan uang ini...".

Ucapanku membuat gadis itu terperangah.

"Lakukan sesuatu untuk saya, lalu kamu terbebas dari hutang ini."

Aku kembali membuatnya termanggu.

"Mas jangan ngaco, ah. Mas beneran mau minta Alifa menikahi Mas sebagai bayarannya?", sanggah Nindi yang semakin membuat sahabat di sampingnya kaget.

Aku menggeleng. Tentu aku nggak serendah ini kalau soal mencari istri.
"Saya cuma punya satu permintaan. Jika suatu ketika ibu saya mengundangmu ke rumah dan bertanya kesiapanmu untuk menikah, katakan padanya kamu sedang tidak ingin menikah, kamu mau meneruskan pendidikan, bekerja membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Nah, itu aja...".

Nindi dan gadis itu, saling tatap-tatapan. Sebenarnya kasihan juga uang sepuluh juta melayang demi seorang gadis yang kukenal saja baru hari ini. Tapi tak mengapa lah, daripada dipaksa mami menikah dengannya.

Kelar dah hidup gua!

***

"Akhirnya selesai juga".

Aku menggeliat, meluruskan otot-otot leher yang terasa kaku. Laporan kasus penyalahgunaan narkoba kemarin sudah rampung dan siap kuletakkan di atas meja komandan. Sekarang saatnya membeli bakso pesanan Aisyah. Sejam yang lalu, dia mengirimiku pesan agar membelikannya bakso ayam.

Dengan santai kuhidupkan motor besarku, ketika hendak melaju, ponselku berbunyi.

Nindi!

[Hallo Nin]

[Mas dimana? Bisa bantu aku nggak?]

Kuhela napas berat, apalagi sih Nindi?. Entah kenapa dari pagi kepalaku berdenyut, ditambah seharian di depan layar komputer, rasanya sekarang malah mau pecah.

[Ada apa sih, Nin? Mas baru kelar kerjaan ni]

[Berarti sedang nggak sibuk 'kan, Mas? Nindi mau buat laporan]

[Bukan nggak sibuk, tapi baru istirahat dari sibuk. Laporan apa?]

[Gini lo Mas. Dari kemarin aku coba nelpon Alifa, ponsel nya nggak aktif, hari inipun sama. Alifa juga nggak ngampus, Mas. Aku curiga terjadi sesuatu sama temanku itu. Mas bisa bantuin aku nggak, ngecek keberadaan Alifa]

Ogah! kurang kerjaan banget aku mencari-cari temannya.

[Mungkin dia sakit, atau apalah. Kenapa nggak langsung kamu samperin ke rumahnya?]

Nindi terdiam.

[Udah ya, Nin. Mas lagi buru-buru, ni.]

Kumatikan ponsel tanpa mendengar lagi penjelasan Nindi. Udah nggak sabar kepala pengen rebah di bantal.

***

Rumah nampak sepi, mami mana pernah dirumah. Beliau seorang kepala sekolah, jadi biasa pulang sore atau menjelang magrib. Di rumah hanya ada Aisyah dan Bik Minah.

Dengan tak semangat aku melangkah masuk. Sampai di depan kamar Aisyah, kuketuk pintu kamarnya perlahan.

"Syah," panggilku sedikit kuat.

"Iya...".

Aisyah membuka pintu. Kali ini penampilannya membuat mataku tak dapat berkedip. Dia nampak cantik, padahal Mas Bara nggak di rumah. Apa dia sengaja mau membuatku berkali-kali terpana.

"Ini pesananmu."

Kusodorkan plastik ke hadapannya.
"Cuma sebungkus?" tanya Aisyah yang tak kumengerti maksudnya.

"Emang kamu sanggup habisin dua bungkus sekalian?"

Dia tersenyum. Ehm, aku harus mengatur irama jantungku melihatnya tersenyum.

"Maksud Aisyah, Mas Faiz nggak mau bakso? Kok belinya cuma satu?".

Aku menghela napas. "Mas nggak suka bakso. Kamu mau makan dimana? Makan dibawah aja."

Aisyah mematung. Mana berani dia ke bawah. Selain jam makan dan sarapan, tak pernah kulihat gadis ini keluar kamar. Ah, harusnya jika tidak ada Mas Bara, mamilah yang bertugas membuat Aisyah melebur di rumah ini. Atau sekurang-lurangnya Nindi. Tapi kenapa mereka tak punya waktu sedikitpun untuk sekedar duduk bersama Aisyah?

"Yok, Mas kawanin".

Aisyah terkesiap, buru-buru dia mengikuti langkahku. Sampai di ruang makan, kuambil piring, sendok dan meletakkan di atas meja. Aisyah benar-benar pemalu, dia bahkan hanya duduk di atas kursi sambil celingak celinguk lihat kiri-kanan.

"Mami mana?", tanyanya lirih.

"Mami belum pulang dari sekolah. Syah, Mas Bara itu 'kan suamimu. Jadi kamu jangan malu-malu lagi di rumah ini, anggap aja rumah sendiri. Kalau lapar, kamu tinggal ke bawah ambil apa aja yang mau kamu makan. Kalau bete di kamar, kamu tinggal duduk di taman belakang sambil ngasih makan ikan di kolam. Kalau bosan sendirian, kamu tinggal nyari Bi Minah untuk diajak ngobrol. 

Aisyah mengangguk. "Iya, Mas. Makasih ya, Mas."

Dia kembali menekuni baksonya. Dituangkan bola-bola dari daging itu ke dalam mangkuk. Lalu dia melahap dengan berselera. Sepertinya di rumah ini, hanya aku satu-satunya manusia yang tidak disegani Aisyah. Bahkan sama Bik Minah pun dia  enggan berbicara.

Yah, mungkin karena dia masih terlalu muda. Dia baru saja tamat SMA. Dan seharusnya jika dia meneruskan kuliah, dia sudah duduk di semester dua seperti Nindi, tapi orang tuanya malah memilih menikahnya terlebih dahulu.

"Syah, boleh Mas nanya sesuatu?"

Aisyah menghentikan menyendoki baksonya.

"Boleh Mas."

"Kamu nggak pengen kuliah?".

Dia tersenyum.

"Ya pengen lah, Mas. Mas Bara bilang, setelah nikah Aisyah boleh kok lanjut kuliah."

"Emm ... kalau hamil duluan? Gimana?".

Aisyah menatapku tajam. "Kami belum ngapa-ngapain?".

Aku terhenyak mendapati kejujuran yang keluar dari mulutnya.

"Kok bisa?. Bukannya emm ...."

"Aisyah lagi datang bulan, Mas."

What? Bernapas lega, Aisyah masih perawan. Yeay.

Emang kenapa kalau dia masih perawan, lha 'kan haram bagiku mendekatinya.

"Mas boleh nanya lagi, nggak?"

"Nanya aja, Mas."

"Dari mana kamu mengenal Mas Bara?"

Matanya yang besar kini menatapku. Dia kembali tersenyum. Ah, berkali-kali aku 
harus mengatur degup di dada kala melihatnya tersenyum.

"Ayah itu, pelayan di restoran milik Mas Bara, Mas. Sebulan yang lalu, Mas Bara ke rumah, entah ada keperluan apa. Saat itu, Aisyah yang mengangkat minum untuknya. Setelah  hari itu, Mas Bara jadi sering main ke rumah. Dan terakhir Minggu yang lalu, saat dia melamar Aisyah pada Ayah."

Huh! Aku cuma selisih satu bulan dengan Mas Bara, tapi Aisyah malah jadi miliknya.

"Syah?".

Dia kembali menatapku. Mata kami bertemu sejenak.

"Apa kamu mencintai Mas Bara?".

Dia membelalak. Aku tertegun, aku benar-benar jatuh cinta dan ingin mencintai gadis ini.

Serasa ada yang mendesir dalam dada. Tubuhku seakan terdorong, ingin sekali kusentuh bagian berwarna kemerah-merahan yang dimiliki Aisyah.

Wajahku kini semakin mendekati wajahnya. Bolehkah aku menyentuh bibirnya?

Teeettt!

Suara klakson mobil mami membuat kami tersentak. Aisyah gelagapan, dia meninggalkan piring berisi bakso dan hendak berlari ke kamar.

"Aisyah, nggak perlu lari."

Aku memegang tangannya. Dia menoleh dan berusaha melepas tanganku.

"Maaf. Duduk aja lagi, Syah. Habisin baksonya. Aku temani sampai Mami masuk...".

Aisyah kembali duduk, tapi terlihat gugup dan kaku. Ah, entah mengapa kami harus berada pada situasi ini.

***

Mataku terus saja menatap nanar 
langit-langit kamar. Kejadian tadi di meja makan, membuat pikiran ini tak berhenti mengingat Aisyah.

Ya Allah, mengapa tak kau beri kesempatan untukku memilikinya?. Mengapa juga harus kau takdirkan dia dimiliki Mas Bara?

Aku larut dalam pikiran yang teramat sakit kurasa. Tiba-tiba gedoran pintu kamar membuyarkan lamunanku.

"Iz buka pintunya".

Mami.

Segera aku menuruni ranjang. Dengan cepat membuka pintu saat mendengar mami berteriak-teriak.

"Ada apa, Mi?".

"Iz, Nindi Iz, jam segini dia belum pulang juga. Nggak pernah Nindi pulang selarut ini, mami telponin teman- temannya, semua pada nggak tau Nindi ada dimana?".

Mami menangis ketakutan. Nindi, bukannya tadi siang dia menelponku untuk mengecek keadaan Alifa. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, aku tidak bisa tinggal diam.

"Mana Mi, nomor salah satu temannya, biar Faiz cek!"



*Bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...