Part 6
by Ayu Wahyuni
Disepertiga malam kau selalu menengadah meminta keikhlasan. Disaat itu juga, aku selalu menengadah meminta didekatkan. Doamu atau doaku yang akan terlebih dahulu mencapai langit?.
***
Kupandangi selembar foto dan sebuah kotak perhiasan berisi cincin permata. Ini adalah cincin pertama yang ingin kuhadihkan untuk seorang gadis saat aku masih duduk di bangku kuliah.
Dialah gadis pertama yang membuatku mengenal cinta. Aku sungguh mencintainya, hingga berani meminang gadis itu walau masih bergelar mahasiswa.
Cinta bersambut, tapi orang tua tak merestui. Kemana harus kubawa rasa ini?.Sekian tahun aku terus memilih sendiri, mengumpulkan kepingan hati yang berserak karena ulah orang tua gadis itu. Setiap saat aku terus belajar melupakan anak gadisnya. Tapi ternyata, mencintai dia dalam semu masih menjadi candu yang selalu kurindui.
Hingga, bertepatan dengan dua puluh tujuh Ramadhan kemarin, aku bertemu dengan Aisyah. Saat itu aku terjun langsung ke rumah-rumah karyawan untuk membagikan bingkisan Ramadhan. Rumah yang terakhir kukunjungi adalah rumah orang tuanya Aisyah. Aku tak pernah tahu jika Rahman lelaki paruh baya yang berasal dari Aceh itu memiliki kehidupan yang sangat memprihatinkan.
Istrinya sakit jantung, anaknya ada empat orang, yang sulung baru tamat pesantren, sedang yang bungsu baru duduk di kelas satu SD.
"Yang itu siapa namanya, Pak?" tanyaku pada Pak Rahman saat salah satu anak gadisnya mengantar minum.
"Yang itu si Sulung, Pak. Namanya Siti Aisyah, sudah setahun nganggur. Dianya sih pengen kuliah, tapi mengingat ibunya keluar masuk rumah sakit, dua adiknya mau naik SMP dan SMA. Saya meminta Aisyah untuk bersabar beberapa tahun lagi."
"Lho, beberapa tahun lagi, maksudnya?" Aku bertanya tak mengerti, atau jangan-jangan Pak Rahman memang tak ingin menyekolahkan anak gadisnya ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin saja Pak Rahman menganut prinsip, 'setinggi-tinggi perempuan menuntut ilmu, dapur, sumur, kasur juga kembalinya.'
Miris, aku ingin menceramahi lelaki itu.
"Setidaknya nunggu dua tahun lagi lah, Pak. Sampai uangnya terkumpul dulu."
"Aisyah sebenarnya mau masuk Fakultas apa?" tanyaku kemudian, rasanya aku ingin membantu Pak Rahman, hitung-hitung beramal. Uangku juga berlebih, anak sendiripun belum punya.
"Katanya sih pengen jadi guru Bahasa Arab."
"Kalau gitu, suruh dia daftar terus di perguruan manapun yang dia mau. Semua biaya, biar saya yang tanggung."
Pak Rahman tampak terkejut. "Bapak serius?" tanyanya tak percaya.
"Ya, saya serius, Bapak."
Lelaki paruh baya itu kembali terdiam.
"Jangan atuh, Pak. Saya nggak enak."
"Lho kok nggak enak, Pak Rahman 'kan tidak meminta, saya yang menawarkan."
Lelaki itu bergeming, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Bagaimana kalau Bapak beri anak saya pekerjaan, sebagai wujud terima kasihnya pada Bapak," tawarnya padaku.
"Ah, nggak usah Pak, karyawan saya 'kan udah cukup."
Aku kembali menolak keinginan Pak Rahman
Lelaki itu kembali bergeming.
"Kalau begitu jika Bapak tidak menolak, saya ingin menjodohkan anak saya untuk menjadi istri Bapak. Supaya dia bisa mengerjakan pekerjaan Bapak yang tidak dikerjakan orang lain."
Aku terhenyak. Saat itu, kata-kata Pak Rahman, tak langsung kutolak. Sepertinya hatiku ingin memberi ruang untuk berpikir.
"Maafkan saya Pak sudah lancang. Mana mungkin seorang pengusaha muda sukses seperti Bapak mau menikahi gadis biasa yang bahkan kuliah saja belum," ucapnya menunduk.
"Nggak ada yang salah Pak, selama dia menjaga diri, siapapun bisa menjadi pasangannya. Tawaran Bapak akan saya pikirkan, kebetulan saya juga sedang mencari calon istri."
Setelah hari itu, beberapa kali aku kembali ke rumah Pak Rahman. Mencari sela agar aku bisa belajar menerima Aisyah sebagai istri. Kupikir untuk melupakan Alifa, aku harus menikah. Karena setelah menikah, akan ada seorang wanita yang selalu mencintai dan mengajakku untuk mencintainya.
Tentang kriteria, memang banyak yang ingin menjadi istri dan tentunya yang melebihi Aisyah. Tapi aku mau yang sederhana, harapanku Alifa. Tapi, Aisyah juga memiliki semua kriteria wanita muslimah yang kuinginkan menjadi pendamping.
Akhirnya, dikali ketiga aku mengunjungi rumah itu, tidak lagi sekadar bertamu. Tapi, menyatakan keinginanku untuk menikahi Alifa.
***
Kupikir semua akan berjalan dengan mudah, layaknya pengantin baru lain dimana-mana.
Ternyata tidak denganku dan Aisyah.
Malam pertama kami, sangat aneh. Aku dan Aisyah seperti dua orang asing yang diletakkan dalam satu kamar. Hampir lebih lima belas menit kami duduk diam membisu di atas ranjang.
Berusaha memecah keheningan, aku mulai membuka suara.
"Kamu nggak mau ke kamar mandi?".
Dia mengangguk sambil menunduk. Terlihat seperti seorang siswa yang sedang disidang oleh guru pembimbing. Memangnya aku kelihatan seperti guru BP?
Selama sepuluh menit dia di kamar mandi, saat keluar. Tubuhnya sudah berbalut gamis super lengkap.
Kini giliranku membersihkan diri. Entah berapa menit aku di ruangan itu, namun saat keluar, Aisyah masih duduk termanggu di tempat semula dia duduk.
"Kamu nggak mengantuk?".
Dia mengangguk lagi.
"Ya sudah kamu tidur aja duluan."
Dia mengangkat wajahnya. Baru kali ini aku melihat wajah gadis itu setelah sekian lama prosesi pernikahan berlangsung.
"Mas nggak mengantuk?".
Pertanyaan pertama..Aku menggeleng.
"Ada yang harus Mas kerjakan, kamu tidur aja duluan, nggak papa."
Lirih, gadis itu menjawab, "baik, Mas."
Sepertinya, dia menanggapi ucapanku seumpama perintah. Aisyah kini mengangkat tubuh menaiki ranjang, lalu tidur membelakangiku.
Kuhela napas panjang sambil menarik langkah menuju meja kerja yang ada didalam kamar. Kini semua terasa kembali senyap.
'Bisakah gadis itu menggantikan posisi Alifa di hatiku?'
Ada yang terasa perih di sudut hati saat memandangi tubuh gadis itu dari kejauhan. Selintas bayang Alifa mencabut kembali keinginanku untuk melupakannya.
'Andai yang sedang terbaring itu Alifa, tentu tak kubiarkan malam ini berlalu tanpa menyentuhnya.'
***
Pagi ini aku bangun terlambat, tentu saja karena semalaman aku tak mampu memejamkan mata. Teringat bahwa hari ini adalah hari pertama setelah aku resmi menikah. Pasti Mami dan Nindi akan menyambutku dengan berbagai pertanyaan.
Kuedarkan pandang pada seluruh penjuru kamar, tidak ada Aisyah di tempat ini. Apa jangan-jangan, gadis itu sudah turun ke bawah.
Ah, tidak mungkin. Bisa jadi dia di kamar mandi.
Kugerakkan tubuh menuruni ranjang, lalu mengetuk pelan kamar mandi.
"Syah, kamu di dalam?"
"Iya, Mas."
"Oh, ya sudah."
Kembali aku mendudukkan diri di atas ranjang, menunggu Aisyah selesai. Sepuluh menit berlalu, akhirnya gadis itu keluar dengan berpakaian lengkap. Seperti semalam.
"Kamu mau kemana?", tanyaku penasaran, dia rapi pagi-pagi begitu.
"Mau shalat, Mas."
Aku hampir tertawa. "Mas pikir mau jalan-jalan."
Lekas aku berjalan ke kamar mandi. Sedang di atas sajadah Aisyah tampak tersenyum malu.
***
"Aisyah mana, Bar?", tanya Mama saat aku baru menginjakkan kaki di ruang makan.
"Masih di kamar, Ma. Lagi beresin tempat tidur."
"Pasti tempat tidurnya kayak kapal perang ya, Mas?"
Ah, Nindi, kalau ngomong memang suka ngasal. Apa semua pengantin baru itu harus berantakin kamar? Ck, kumakluki masih dibawah umur.
"Hus! Anak kecil jangan suka asbun, nanti di dengar kakak iparmu 'kan nggak enak," sanggah Mama sambil menutup mulut Nindi.
Aku tak terlalu peduli.
"Bara, sebaiknya kamu menjemput Aisyah untuk sarapan. Pasti dia malu-malu. Mama juga dulu begitu, hari pertama di rumah mertua itu rasanya kok kayak nginap di rumah presiden. Nggak berani ngapa-ngapain."
Aku mendelik.
"Beneran, Ma?"
Nindi lagi, kapan sih dia bisa menahan suaranya?
"Mau kemana, Iz? Kamu 'kan belum sarapan?"
Setelah Nindi, kini Faiz menjadi sumber kerecokan. Kemana juga dia dari kemarin menghilang. Bukannya jadi penerima tamu tapi malah keluyuran di kantor.
"Faiz masih kenyang, Mi. Tadi malam selesai razia, seperti biasa, di tutup dengan makan-makan."
Oh, ternyata benar ada kerjaan kantor. Untung aku nggak jadi polisi, jadi jam kerja bisa kuatur sesuka hati. Jika ada acara sakral seperti kemarin, setidaknya aku bisa stay dirumah. Kasihan Faiz.
"Tapi Iz, duduk sebentar lagi, ya. Kita sambut kakak iparmu di meja makan. Cepat Bar, jemput Aisyah."
Mendengar perintah mani, aku segera beranjak. Saat sampai di kamar, benar saja, gadis itu sedang duduk di bibir ranjang sambil termenung. Benar-benar pemalu.
"Yuk ikut Mas sarapan sama-sama di bawah," ajakku padanya.
Aisyah bangkit dan berdiri di sebelahku. Kutatap wajahnya sejenak. Cantik. Tapi, ah...
Kumiringkan tubuh lalu menggandeng lengannya.
Dia terhenyak. "Bolehkan?"
Aku mencoba memastikan. Aisyah hanya mengangguk.
Kami menuruni tangga berbarengan. Baru menampakkan wajah di ambang ruang makan, mami menyapa penuh kehangatan.
"Selamat pagi menantu Mami yang cantik, mari duduk, Sayang." Mami bangkit dan menggandeng Asiyah untuk duduk di kursi.
Entah kenapa saat akan duduk, mataku terbidik pada Faiz yang posisi duduknya berhadapan dengan Aisyah. Kuperhatikan gelagatnya.
Beberapa menit dia terus menatap istriku. Apa dia jatuh cinta pada kakak iparnya?
"Gimana tidurnya semalam, Aisyah?" pandanganku kembali pada mami, "kalau Bara lasak di atas kasur, kasih tau Mami, ya."
Aku menghela napas mendengar pertanyaan Mami. Bisa-bisanya pertanyaan konyol begitu keluar di meja makan.
Detik berikutnya, netraku kembali terlempar pada Faiz. Menemukannya terus manatap Aisyah, kumenyengaja menggenggam tangan gadis itu, ingin tahu reaksi adikku saat melihat keromantisan kami.
Faiz bangkit. Jiah! Dia terlihat emosional.
"Apa lagi sih, Mi?".
Benar-benar emosional. Tak dapat kupercaya, benarkah karena Aisyah?
"Duduklah sebentar lagi, Iz."
Mami memegang tangan Faiz.
"Biarin aja, Mi. Mungkin Mas Faiz cemburu!", celutuk Nindi yang semakin membuat muka Faiz memerah.
"Benar Iz kamu cemburu?. Kalau kamu sudah siap, bawa gadis manapun yang kamu inginkan untuk jadi istri ke hadapan Mami. Kamu juga sudah pantas untuk menikah Iz, biar teratur hidupmu itu lo."
"Ehuk! Uhuk!
Sepertinya Faiz pura-pura batuk. Jurus jitu menghindar, selama ini 'kan Faiz nggak pernah dekat sama cewek
"Faiz ngantuk, Mi. Faiz belum dua jam mejamin mata. Faiz udah minum susu, makannya nanti kalau Faiz udah bangun," jawabnya masih dengan suara lembut.
"Mas Faiz kayaknya belum punya pacar deh, Ma."
Ck, Nindi. Kompor merek apa sih dia?
"Mas Faiz mau nggak aku jodohin sama temanku? Anaknya baik, cantik, rajin sholat, setia kalau berteman. Pasti setia sama suami."
Faiz kembali duduk. Suasana sedikit lebih tenang. Kutolehkan pandangan menatap Aisyah, dia nampak terbengong. Hah, penyambutan menantu yang kurang tepat.
"Siapa, Nin?"
Mami tak berhenti bertanya.
"Namanya Alifa, Mi. Kasihan banget hidupnya. Dia disuruh kawin sama juragan ayam sama orang tuanya demi melunaskan hutang sebanyak sepuluh juta?"
'Alifa?'
Jantungku sontak bertabuh kuat saat mendengar nama Alifa tersebut dari mulut Nindi.
Sejenak kepalaku dipenuhi pertanyaan, dan kembali tersentak saat Faiz mendorong kuat kursi duduknya. Lalu tanpa menggubris panggilan Mami, dia beranjak meninggalkan ruang makan.
Ada apa dengan Faiz, tidak pernah dia begitu?
Belum juga menemukan jawaban, mendadak jantung kembali berdegup, saat mendapati Faiz berhenti menmlangkah. Dia memiringkan kepala dan kembali menatap Aisyah. Sebuah pemandangan yang mengejutkan ketika pada saat yang sama, Aisyah juga membalas tatapan itu.
Sebenarnya ada apa diantara mereka??
*Bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar