Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 4)

Aku Mencintai Istrimu Mas
Karya Ayu Wahyuni
Part 4

Motorku melesat dengan cepat diatas jalanan. Aku berhenti disalah satu lorong sempit di perkampungan pinggiran kota. 

Motor tak dapat masuk ke lorong itu. 
Maka, kuputuskan untuk berjalan kaki menuju alamat yang kudapat dari salah satu teman Nindi. Sekali lagi, aku menyentuh pistol yang tersemat pada tali pinggang. Benda ini kubawa untuk jaga-jaga. 

Aku pernah ke kampung ini, menggerebek komplotan pengedar sabu dan berhasil meringkus semuanya kecuali pimpinan mereka.

Bisa jadi, lelaki yang kini menjadi buronan itu, memiliki mata-mata yang masih menetap di kampung ini.

"Rumah paling ujung..."

Seorang wanita menunjuk pada sebuah rumah petak di ujung lorong. Di jalan kecil ini hanya ada tujuh buah rumah, jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya tidak terlalu jauh. Di sebalik lorong setelah rumah Aisyah, hanya ada hamparan sungai yang dipenuhi sampah. Tempat ini benar-benar jauh dari kata layak.

Suasana nampak sepi. Hanya rumah pertama yang berpenghuni, rumah lainnya tertutup dengan rapat. 

Aku berjalan perlahan, lalu mulai memberi salam. Sejenak menunggu, tak ada jawaban. 

Kugerakkan tangan menyentuh kaca jendela, tak ada celah untuk bisa menyibak tirai yang menutup jendela itu.

Tak menyerah, kudekatkan telinga pada daun pintu, sepertinya memang ada suara hentakkan kaki yang berasal dari dalam.

Senyap...

"Ada orang di dalam?", ucapku sedikit berteriak.

Tak ada sahutan. Aku kembali mengitari rumah petak itu. Tak ada jendela lain untuk bisa mengecek ke dalam. Akhirnya kuputuskan untuk berbalik ke pintu masuk. 

Kini aku berjongkok, kutelungkupkan wajah hingga menyentuh lantai, usaha untuk bisa tahu keadaan di dalam sana. Mataku memicing sesaat, ada sepasang kaki yang terikat tali menyentuh lantai.  

Tak tinggal diam, aku mencoba mengintip melalui celah kunci untuk memastikan yang kakinya terikat itu adalah benar manusia.

Mataku membelalak.

Kudekatkan lagi untuk memastikan apa yang baru saja kulihat. Seorang gadis dililit ke sebuah kursi, tangan dan kakinya diikat dengan tali. Mulutnya di bekap dengan perekat. Baju yang dikenakan gadis itu, oh tidak!

'Benarkah itu Nindi?'

Seketika aku mendobrak pintu. 

Satu!

Tidak terbuka, kukumpulkan lebih banyak tenaga.

Dua!

Masih belum.

Bismillah. 

Tiga!

Pintu kayu lusuh itu terbuka dihitungan ketiga.

Aku berhamburan ke dalam.

"Astaghfirullah, Nindi."
 
Segera kulepas perekat yang menutup mulutnya.
"Tolong Nindi, Mas," rintihnya ketakutan.

Napasnya terasa panas, wajahnya berantakan. Air matanya kembali luruh.

"Kamu nggak apa-apa 'kan? Jangan takut, Mas udah disini. Sebentar, Mas cari pisau dulu buat membuka ikatannya."

Nindi mengangguk. Aku berjalan ke dapur, menggeser-geser peralatan memasak untuk mencari pisau. Terlihat bercak darah, di beberapa tempat di lantai.

Ketemu. Aku segera kembali pada Nindi. Kupotong tali yang melilit di tubuh, kaki dan tangan adikku itu. Lalu, dia berhamburan dalam pelukanku.

"Mas Faiz ....".

Nindi terisak dalam dadaku. 

"Siapa yang berani melakukan semua ini?"

Nindi menarik napas. "Anak buahnya Juragan Kasim, Mas."

"Kenapa? Alifa belum kasih uang yang Mas pinjamkan kemarin?"

Nindi menggeleng.

"Ayah Alifa membawa kabur semua uangnya, Mas. Pas aku datang, Ayahnya memang udah kabur. Dan Alifa ditinggalkan dalam keadaan sudah penuh luka lebam. Beberapa ada luka bekas cakaran Mas. Aku rasa dia berusaha mempertahankan uang itu. Aku kasihan sama dia, Mas."

"Sekarang kemana dia?".

"Tadinya Nindi pikir bisa membawa Alifa pergi, tapi ternyata, anak buahnya Juragan Kasim datang. Dia memaksa Alifa ikut bersama mereka. Saat aku melawan, mereka malah menampar dan mengikatku begini."

"Sialan mereka! Mas pastikan mereka semua mendekap di penjara."

Nindi menarik tanganku.

"Kita nggak akan biarin Alifa sendirian 'kan Mas."

Aku terdiam sesaat. Berpikir, bagaimana cara bisa membawa pergi gadis itu.

"Aku takut Alifa dipaksa nikah sama Juragan Kasim, Mas. Kasihan Alifa Mas, selama ini dia baik banget sama Nindi. Dia yang selalu nolongi Nindi, dia yang ngamuk waktu Nindi digodain sama anak-anak gank motor waktu itu, dia yang selalu ngasih jawaban kalau lagi midterm...".

Aku menghela napas, mendengar pertolongan Alifa yang terakhir, aku hampir mau menempeleng kepala Nindi.

"Mas maukan bantuin Alifa?. Nindi nggak rela jika Alifa jadi istri ke sepuluh Juragan itu."

Jantungku tersentak, tidak bisa dibiarkan.

"Baik, Mas akan membantu temanmu itu."

Sebagai seorang abdi negara, aku tidak boleh membiarkan kejahatan merajalela. Aku akan menolong Alifa.

***

Malam semakin membentang, sinar rembulan tampak tertutup kabut. Kampung ini terlihat sepi, padahal jam baru menunjukkan pukul sepuluh malam.

Kuparkirkan motor di depan pagar sebuah rumah mewah. Pagarnya menjulang tinggi. Rumah ini terlihat begitu tertutup dan terjaga, padahal masih berada di kawasan perkampungan. Hanya berselang beberapa lorong dari rumah Alifa. 

Aku melongok ke dalam. Tampak di halaman, dua buah tenda terbentang nan megah. Di pintu masuk, janur kuning terpasang dengan indah. Halaman dipenuhi sisa-sisa makanan, botol Aqua, dan kotak makanan. Sepertinya tadi disini baru saja digelar pesta perkawinan.

Nindi menarik lenganku.

"Mas, sepertinya Alifa sudah menikah dengan Juragan Kasim, bagaimana ini Mas?".

"Kamu tenang, Nin. Biar Mas yang masuk kedalam, kamu tunggu disini, ya."

"Aku ikut, Mas."

"Jangan, kamu tetap disini. Jika Mas tak keluar dalam lima belas menit. Pergi dari sini. Jika sudah aman, telpon nomor ini," aku meletakkan ponselku di tangan Nindi sambil menunjuk nomor yang harus Nindi telpon.

"Mas ....".

Nindi enggan melepas tanganku.

"Mas bawa pistol, Nin?", Kutunjuk pistol di pinggang, agar Nindi tak khawatir.

"Bagaimana jika mereka punya senjata Laras panjang? Aku takut Mas kenapa-napa?"

"Nggak ada yang memiliki senjata itu kecuali aparat sama teroris."

"Jika mereka teroris?"

"Udah, jangan menghayal. Mas nggak akan apa-apa, ada Allah."

Nindi terlihat menyeka matanya. Langkahku kini memasuki halaman rumah megah itu.

"Siapa anda?", seorang lelaki berbadan besar muncul entah dari mana, meraih lenganku. 

Aku segera menepis.

"Saya polisi!"

Kuangkat kemeja hingga nampak lah pistol di pinggangku.

"Oh, maaf Pak. Ada perlu apa ya, Pak, kemari?"

"Saya ingin bertemu dengan Juragan Kasim."

Kedua bodyguard juragan itu saling melirik. 

"Juragan kami sedang ada kegiatan, Pak. Beliau baru saja menikah. Siapapun nggak boleh mengganggu. Bahkan kesembilan istrinya saja sudah dipulangkan ke kampung semua. Juragan tidak membolehkan siapapun mengganggunya hari ini."

'Astaghfirullah, jadi pernikahannya sudah terjadi? Apakah Alifa sudah direnggut kegadisannya? Ya Allah, semua ini salahku. Andai aku tak egois, dan mau menolongnya tadi siang, tentu semua nggak seperti ini."

"Katakan pada juraganmu, ada polisi ingin meminta kesaksian padanya."

"Maaf, Pak. Kami nggak berani."

"Kalau begitu, biarlah komandanku yang turun tangan langsung."

Kedua lelaki itu tampak kaget.

"Wah, jangan Pak. Baik Pak, biar saya ngomong dulu sama Juragan. Bapak tunggu di situ dulu, ya."

Mereka menunjuk ke pos jaga. Aku mengangguk.

Sepeninggal dua lelaki itu, aku mulai berpikir, bagaimana cara agar bisa masuk ke dalam. Lalu membawa kabur Alifa. Ah, sial! 

Kenapa jadi seperti di film-film. Tapi nggak ada cara lain. Tidak mungkin meminta ijin pada Juragan kelainan seksual itu untuk membawa istri yang baru saja dinikahinya. Mana mungkin ia ijinkan. Kesembilan istrinya saja disingkirkan, apalagi aku.

Sebaiknya aku menerobos masuk. Baiklah, pertualangan kita mulai.

Kakiku kembali tergerak, taman belakang kini menjadi tujuan.



Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...