Part 5
Karya Ayu Wahyuni
Dengan hati-hati, kakiku menjejak jalan setapak menuju belakang rumah. Halaman rumah juragan Kasim cukup luas. Penyinaran alami sang rembulan menjadi penuntun. Karena memang pada taman itu tak ada lampu sebagai penerang.
Setelah berjalan sekitar tujuh meter, sampailah aku pada teras belakang yang pintu menuju ke dalam rumah tampak terbuka lebar. Dari sini, nampak juragan Kasim baru saja keluar dari sebuah kamar. Lalu, bersama kedua anak buahnya, dia berjalan menuju pintu masuk.
Ini kesempatanku. Dengan cepat aku melesat masuk hingga sampai di depan kamar dimana tadi juragan ayam itu keluar.
Kubuka pintu perlahan. Netra ini membelalak, dua meter ke depan seorang gadis tengah bermandikan air mata di atas ranjang.
Gadis itu tak lagi mengenakan pakaian pengantinnya, tapi setidaknya pakaian lain yang melekat di tubuh Alifa masih lengkap. Jilbab pun masih membalut kepala.
Entahlah, apa dia sudah dilakoni atau belum, yang jelas Alifa sedang dalam tekanan. Buktinya, dia menangis sesenggukan.
"Alifa...".
Gadis yang menekuk wajahnya itu menoleh.
"Mas Faiz?".
Ya Allah, benar kata Nindi, pelipis sebelah kanan Alifa dan di bawah mata terdapat luka lebam
Kuputuskan untuk masuk dan mendekatinya.
"Kamu nggak papa?"
Dia tak menjawab, justru nampak sangat ketakutan.
"Mas Faiz kenapa di sini, nanti kalau ketahuan Juragan Kasim bisa bahaya?"
"Mas mau jemput kamu?".
"Sebaiknya nas Faiz pergi, aku nggak papa kok disini."
"Apanya yang nggak papa, lihat wajah kamu. Seharusnya kamu di rumah sakit, bukan disuruh melayani lelaki beristri sepuluh...", ucapku asal.
"Dia sudah jadi suamiku sekarang, Mas".
"Pernikahannya nggak sah! Ayo ikut Mas!"
Dia terdiam. Kutarik tangannya hendak berlari keluar. Namun disaat bersamaan, dari depan pintu terdengar suara teriakan lantang!.
"Woi! Siapa kamu, lepaskan istri saya!"
Mataku teralih, Juragan Kasim dan kedua bodyguardnya sudah siap-siap hendak menghadang.
Dua lelaki berbadan besar itu, mendekat terlebih dahulu, mereka sudah siap dengan bogem sebesar telapak kaki gajah.
Tak ada cara lain.
"Angkat tangan kalian!", kuarahkan senjata ke arah dua lelaki itu.
Keduanya terhenyak dan berhenti melangkah.
"Saya polisi! Seharusnya saya menyeret kamu ke penjara, Kasim! Kamu telah membawa lari calon istri saya!.
Mata juragan Kasim membelalak.
"Yang mana calon istrimu?".
Dia bertanya dengan suara lantang, seakan tak gentar dengan pistol yang ada di tanganku.
"Alifa! Dia calon istri saya!",sahutku lebih lantang.
Wuih! Sudah dua kali aku menyebut Alifa calon istri. Entah bagaimana ekspresi wajah gadis itu. Ingin aku memalingkan wajah sekedar ingin tahu reaksinya. Tapi tidak mungkin! Dalam keadaan seperti ini, aku tak boleh lengah sedikitpun.
"Berbalik ke dinding!", kuarah pistol kesisi kanan kamar, agar ketiga parasit itu membuka jalan keluar.
"Yok Dek, kita pulang."
Alifa mengernyitkan dahinya. Tapi dia tidak melawan saat tangannya kutarik dengan kuat.
"Tunggu! Saya punya surat perjanjian untuk menikahi Alifa. Dan dia sudah sah jadi istri saya!", sanggah juragan itu saat aku hampir melewati pintu.
"Pernikahan kita nggak sah, Mas. Di mata hukum, juga negara. Bagaimana mungkin aku nikah tanpa wali, penghulu yang menikahkan kita, dia fasik. Shalat aja nggak pernah. Aku bukan istri Mas Kasim!", tegas, Alifa menyanggah kata-kata Juragan itu.
Terasa lega dadaku seketika.
"Dengar Kasim! Surat perjanjianmu dengan ayahnya Alifa batal!. Aku sudah memberikannya uang sepuluh juta kemarin. Tapi ayah Alifa membawa kabur uang itu. Jadi sebaiknya sekarang, kau cari ayahnya untuk mengembalikan uangmu. Satu lagi, Alifa sangat mencintaiku. Dan kami sudah berencana menikah minggu depan. Jadi dia ikut aku!".
Hah, entah dari mana lagi kata-kata itu bisa keluar. Seakan semua sudah kupersiapkan jauh-jauh hari.
"Jika kau tak bisa mencari ayahnya, datanglah ke kantor polisi. Aku akan membantumu, mencarikannya!".
Ucapanku ditanggapi dengan amarah yang terpancar dari sorot mata juragan Kasim. Apa peduliku, yang penting aku bisa membawa lari Alifa dari tempat ini.
Kami sukses keluar kamar itu. Dapat kurasakan Alifa ketakutan luar biasa, tangannya terasa dingin. Sebenarnya jantungku juga tak henti berdegup kencang. Tapi aku harus bisa bersikap tenang dan tegas.
Akhirnya, dengan berjalan mundur kami sampai pada teras tempatku masuk tadi ke dalam rumah ini. Juragan Kasim dan kedua anak buahnya hanya bisa melihat tanpa berani mencegah. Disaat begini, aku merasa begitu beruntung karena dahulu aku memutuskan menjadi polisi. Setidaknya dengan pistol ini, mereka tak berani berkutik.
Setelah berada di luar, kutarik tangan Alifa agar bisa berjalan dengan cepat. Kami harus bisa keluar dengan segera, takut jika juragan dan anak buahnya kembali menyerang. Sampai di pagar, Nindi menyambut kedatangan kami dengan suka cita.
Bertiga, kami melesat cepat di atas jalanan. Hari ini, tak pernah ada dalam prediksiku. Menyelamatkan seorang gadis, dan mengaku akan menikahinya. Semoga Alifa tidak menuntut ucapanku tadi.
***
Tepat jam satu malam kami sampai di rumah. Mami sudah menunggu di teras rumah dengan ditemankan Aisyah, juga Bi Minah.
"Nindi, Faiz, dari mana aja kalian?. Mami telpon nggak diangkat-angkat."
Nindi turun dari motor dan segera berhamburan dalam pelukan mami, dia menangis terisak.
"Ada apa sebenarnya Iz, ini siapa?".
Mami menunjuk pada Alifa.
"Dia Alifa, Mi. Yang Nindi ceritain waktu itu."
"Ya Allah, Nak. Kenapa bisa begini wajahmu...".
Mami melepas rangkulannya pada Nindi lalu mendekati Alifa yang masih berdiri disisi motor. Saat tangan mami menyentuh bahu gadis itu, Alifa tersungkur ke lantai.
"Alifa ....!.
***
Semua ada di kamar ini, bahkan yang lebih utama untuk dikhawatirkan adalah Alifa. Tapi kenapa, mataku tak sedikitpun teralih dari menatap Aisyah yang duduk di sofa.
Mami dan Nindi duduk di atas ranjang. Aisyah tampak kaku di tengah-tengah kami.
"Istirahatlah dulu, Syah, kamu pasti ngantuk."
Kuberikan segelas air putih pada gadis itu. Dia meraih pemberianku dan segera meneguknya.
"Ya Allah, Mami sampai lupa. Kamu ngantuk, Sayang?. Kamu istirahat dulu ya, besok Bara pulang. Dia pasti nggak suka jika kamu begadang begini."
Mami bangkit lalu mengelus puncak kepala Aisyah. Gadis itu mengangguk, detik berikutnya ia bangkit dan keluar kamar.
"Faiz ke kamar dulu ya, Ma".
Kususul Aisyah dari belakang. Tersadar, gadis itu segera berbalik.
"Mas Faiz, mau kemana?".
Aku tersentak.
"Mau ke kamar."
"Oh...".
"Mas duluan".
Dia menyilahkanku dengan memiringkan badan.
"Nggak, kamu duluan...".
Dia menghela napas. Lalu kembali berjalan. Dan aku dibelakangnya, hanya untuk?
Ah, cinta kadang tak selaras dengan pemahaman. Saat kita ingin berhenti, tapi rasa itu memaksa untuk meneruskan. Tak sejenak pun ia memberi waktu untuk meyakini diri, bahwa kita bisa tanpanya. Cinta membuat sesuatu yang bisa menjadi tak bisa. Pun jua sebaliknya.
Ya, apapun yang terjadi pada hidupku, tiap kali aku melihat Aisyah, aku merasa semakin memiliki alasan untuk mempertahankan rasa ini.
Salahkah sikapku ini ya, Allah?
***
Sayup kudengar azan berkumandang di mushalla terdekat. Enggan, kugerakkan tubuh untuk membasahkan diri dengan wudhu. Kini saatnya bertamu pada Allah.
Kubentang sajadah, larut dalam doa yang khusuk. Usai shalat, kucoba merebahkan diri kembali di atas ranjang. Lelah masih bergelayut manja pada tubuh. Kejadian semalam sejenak berputar ulang di benak. Kuhela napas panjang, ingin aku memastikan keadaan Alifa. Tapi ah sudahlah.
Hampir saja mata ini hendak terpejam, namun suara ketukan pintu membuatnya kembali membuka.
"Iz, minum susunya dulu...".
Mami membawa segelas susu buatku. Kuambil dan kuseduh beberapa teguk.
"Alifa gimana, Mi?", tanyaku penasaran.
"Sudah siuman?".
"Kalau Aisyah?".
Mami memicingkan mata. Ya Allah, aku salah mengajukan pertanyaan. Kenapa Aisyah coba, diakan baik-baik aja!.
"Emangnya Aisyah kenapa, Iz?".
Pertanyaan mami? Aku pura-pura memejamkan mata.
"Maksudmu Mas Bara?. Dia sudah pulang semalam, saat Mami telpon kasih tau kalau dirumah lagi ada kejadian. Kamu gimana, Iz? Baik semua?"
Aku mengangguk. Sesaat, dadaku kembali sakit. Pantesan perasaanku sedaritadi nggak enak, ternyata, Aisyah sudah bersama Mas Bara.
Kupejamkan mata, mengusir rasa perih yang tiba-tiba menggerus dada.
"Faiz mau rebahan lagi, Mi. Masih ngantuk. Nanti, bangunin Faiz jam setengah delapan ya, Mi."
"Iya Sayang. Ya sudah Mami keluar, ya."
Selepas kepergian mami, kututup wajahku dengan bantal. Kapan semua ini hilang, cemburu, sakit? Kenapa bisa sedemikian terasa menyesakkan dada?
***
Suara celoteh dan candaan mengantarkan mataku terbuka. Langit-langit kamar menjadi sumber penglihatanku kini.
Kugerakkan tubuh, sambil melirik jam yang menempel di dinding. Pukul tujuh lewat lima belas menit. Rasanya ingin kembali merebahkan kepala, tapi takut terlambat ke kantor. Akhirnya kubangkitkan tubuh menuju jendela, penasaran siapa yang sedang bercanda ria di taman belakang.
Kusibak tirai penutup jendela.
Harusnya aku tak melihat. Mas Bara dan Aisyah sedang berduaan di taman belakang. Keduanya duduk di kolam, Aisyah memberi umpan pada ikan-ikan. Sedang Mas Bara duduk di sampingnya. Aku penasaran juga, bagaimana jika mereka sedang dua-duaan begitu.
Kutarik kursi, memantau kejadian apalagi yang akan terjadi berikutnya.
Aisyah memberi kantong berisi umpan pada Mas Bara. Lalu mereka berjalan ke pondok. Mas Bara mengeluarkan ponsel, mengambil beberapa foto. Sungguh kegiatan membuang-buang waktu. Bosan, aku mau mandi!
Saat hendak menggerakkan tubuh, sesuatu membuat langkahku terhenti. Tubuhku yang sudah berpaling kembali menoleh.
Deg!...
Mataku terpejam, ada nyeri yang menghujam dada. Tatkala sesuatu yang ranum pada Aisyah disentuh oleh Mas Bara.
Kuhela napas panjang. Kuyakinkan diri, bahwa Mas Bara berhak melakukan apapun pada Aisyah. Sebab mereka adalah sepasang suami istri. Ya, aku memang sudah yakin. Hanya saja aku ingin menyangkal!
Dengan perasaan yang campur aduk kubasuh tubuh dengan air, setelahnya memakai pakaian dan bergerak keluar kamar. Jika ada Mas Bara di rumah, sebaiknya aku di luar.
Saat sudah menjejak di lantai bawah, Alifa keluar dari kamar Nindi. Dia melihatku dan berjalan mendekat.
"Mas mau ngantor?".
Aku mengangguk. "Kamu udah baikan?".
Kini giliran dia yang mengangguk.
"Makasih ya, Mas. Atas semua bantuannya. Alifa nggak tahu gimana cara membalasnya."
Dia menunduk.
"Kamu bisa membalasnya."
Wajahnya yang tertunduk kini terangkat.
"Gimana caranya, Mas?".
Sejenak otakku bekerja, 'tentu aku bisa seperti Aisyah dan Mas Bara, bermesraan, bercinta, mendapatkan perhatian. Alifa memiliki semua kriteria gadis yang ingin kujadikan istri. Soal cinta, tak jadi patokan. Baiklah. Mungkin menikah adalah solusiku melupakan Aisyah.'
"Menikahlah denganku...".
Dia tercengang.
Degup jantungku riuh berdetak. Sebenarnya bukan begini cara yang kuinginkan untuk melamar seorang gadis.
"Bagaimana?", tanyaku lagi.
"Emm ....".
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar