Part 7
Menikahlah denganku."
Alifa tampak tercengang. Terdiam sesaat.
Degup jantungku kini riuh berdetak menanti jawabannya. Bagaimana kalau dia menolak?
Huh!
"Bagaimana, mau nggak?" tanyaku lagi terkesan memaksa.
"Emm ...," dia sedikit menunduk, "kenapa tiba-tiba Mas Faiz ingin melamar saya, bukankah kita baru kenal sehari?"
"Setelah kejadian semalam, Mas pikir kamu butuh pelindung."
"Jadi Mas mau nikahi Aliya hanya untuk melindungi saya dari Juragan Kasim?"
"Itu misi awal," jawabku santai. Entah juga, visi misiku menikahi Aliya sampai detik ini memang belum jelas. Tapi nggak ada salahnya, sambil jalan dibentuk visi misinya.
"Kalau boleh Aliya tahu, misi Mas selanjutnya apa?"
Aku sedikit terhenyak, pertanyaan menantang.
"Misi selanjutnya ya ... mencintai, kamu."
Dia tertegun. Kini aku yang menunduk dan menarik napas. Ya Allah, bisakah aku mencintai wanita selain Aisyah.
"Jadi diterima apa nggak?"
Aneh sebenarnya dan yang pasti tidak romantis. Jelas bukan begini caraku dahulu melamar Aisyah.
Gadis di hadapanku kini tampak tersenyum. Sejenak mataku diajak membingkai wajahnya, cantik memang. Ditambah gingsul sebelah kanan.
"Alifa pikir-pikir dulu ya, Mas?"
Hah! Nah rasain lu Iz, digantungin!"
"Oke, Mas tunggu."
Aku berlalu dari hadapannya. Sedikit kesal, harusnya langsung aja dijawab, iya apa nggak. Tapi ya sudah lah, wanita memang harus terlihat jual mahal, supaya terkesan berharga.
"Eh, Mas Faiz. Tunggu sebentar."
Ucapan Alifa membuat langkahku terhenti.
"Makasih ya, Mas. Bantuannya semalam. Jika Allah tak mengirim Mas, mungkin saya sudah diapa-apain sama Juragan Kasim."
Kuhela napas panjang. Tak kujawab, hanya sekadar mengangguk. Lalu langkah ini kembali tergerak untuk berlalu pergi. Benar adanya, jika mengingat kejadian tadi di taman, antena di kepalaku benar-benar oleng.
***
Motor baru bergulir beberapa kilometer. Jalanan sedikit sepi. Tiba-tiba, berbagai kejadian melintas lalu di benak. Pertemuan pertamaku dengan Aisyah, saat aku mendatangi rumahnya pertama kali, bahkan saat aku memberanikan diri melamar meski hanya bermodalkan doa. Dan yang membuat napasku tercekat adalah peristiwa saat Mas Bara mengenalkan Aisyah sebagai calon istrinya. Kutarik napas dalam.
Tak mau berhenti sampai disitu, kepalaku kembali terlempar pada peristiwa tadi pagi di taman. Aku menepuk dada perlahan. Aku memang tidak berhak menyimpan rasa ini untuk seseorang yang sudah dimiliki oleh lelaki lain. Tapi gimana cara membunuhnya?
Arghhh!..
Sakit berlipat-lipat menghujam dada. Tak bisa lagi kukontrol emosi diri, seketika kunaikkan kopling motor, seperti melayang kendaraan terpacu di jalanan.
Jarum merah pada speedometer kini semakin menanjak naik, bertahan di 120 km/jam. Berlenggak lenggok motor menyelip diantara ramainya kendaraan.
Tiba-tiba, mataku mengabur. Kabut yang sedari tadi memenuhi pelupuk membuat penglihatanku buram.
Teeettt!..
Klakson yang terdengar dari truk bermuatan besar di depan membuat tubuhku tersentak.
Truk itu sedang menyalip kendaraan dari arah kanan, dan posisiku saat ini, juga tengah menyalip kendaraan dari arah kiri. Seketika aku berusaha menaikkan kecepatan maksimal agar bisa mendahului mobil yang kini berada di sampingku. Sial, usahaku tak berjalan mulus, body belakang motor besarku menyentuh ujung bagian depan truk. Seketika itu motor yang kunaiki oleng, terpental dan terseret sejauh beberapa meter ke sisi kiri jalan. Sedang aku terempas dan ikut terseret beberapa meter.
Astaghfirullah!. Setiap kali terempas, rasanya begitu menyakitkan. Sesaat gambaran neraka terpampang di depan mata. Siksa dunia saja, aku sudah tak mampu bertahan. Lalu bagaimana lagi jika yang menghujam tubuh adalah cambukan yang terbuat dari api neraka?
Maafkan hamba-Mu ini ya Allah.
Dihempasan terakhir, aku merasa seluruh daging dan tulang terlepas dari tubuh. Sakit luar biasa! Aku tak bisa menggambarkan remuknya tubuh ini. Tak ada kekuatan untuk bergerak. Bahkan untuk melepas helm yang masih menyangkut di kepala.
Aku terbaring lemah. Tiada yang mendekat. Inikah akhir hayatku ya Allah? Dengan denyut jantung yang ikut melemah, aku berusaha menarik napas walau begitu berat, terasa ada yang menusuk dada dengan kuat, sakit sekali.
Mataku masih berkedip. Dapat kurasakan darah perlahan mengalir dari pelipis. Sedikit-sedikit semua mulai gelap, tapi sebelum semua sempurna menghitam, aku masih bisa menatap dari kaca helm, api menyala menyambar motor besar kesayangan.
Ya Allah, jika ini akhir hidupku. Maka maafkan diri ini, yang masih begitu berharap bisa bersamanya.
Deg!..
Deg!..
Deg!..
Mami, maafkan Faiz, Mi. Fais menyerah, Faiz tak mampu bertahan.
Kututup mata yang mulai basah. Rasa kecewa, sakit, cinta yang terabaikan, perasaan dikhianati, mungkin semua akan hilang tanpa bekas. Terima kasih ya Allah.
Hidup adalah tentang belajar dan menerima, atau pergi dan belajar melupakan. Untukmu Aisyah, selamat menempuh hidup bahagia bersama Mas Bara.
"Tolonggg ....!"
Teriakan demi teriakan masih terdengar.
"Angkat pemuda ini."
Seseorang mengangkat tubuhku. Sekarang nyeri hebat pindah ke dada. Perlahan menjalar ke leher. Apakah sudah sampai janjiku pada Allah?
***
Aisyah!
Aku melihat sosok wanita berdiri di ambang pintu, seberkas sinar menerpa wajahnya. Hingga mataku harus memicing ketika menatap sosok itu.
"Aisyah."
Wanita itu tersenyum.
"Mas Faiz ....".
"Benarkah itu kamu, Aisyah?".
Wanita itu hanya memberi isyarat dengan anggukan.
"Jangan begini lagi ya, Mas. Mas hanya harus berjuang dalam doa, setelah itu ajaklah hati untuk bertawakal. Ingat Mas sesuatu yang baik tidak datang dalam waktu yang cepat. Jika Allah menghendaki suatu kebaikan buat hamba-Nya, Dia akan memberi hamba itu ujian."
Aku tertegun. Sesuatu membuat kedua netra ku terasa berat.
'Andai kau tahu Aisyah, kaulah ujian dalam hidupku.'
Tiba-tiba, semburat warna kekuningan mengalahkan berkas putih yang tadi menerpa wajah Aisyah. Mataku tertutup karena pantulan sinarnya.
"Aisyahhh ...!"
Kubuka mata perlahan. Nanar. Langit-langit kamar berwarna putih kini menjadi sumber penglihatanku. Kugerakkan kepala ke samping, terasa begitu sakit. Tapi masih bisa kukondisikan.
"Mi ....".
Lirih aku memanggil mami yang nampak tertidur di sofa. Wanita itu menggeliat, lalu pandangannya tersorot padaku.
"Ya Allah, Faiz. Kamu sudah sadar, Sayang?".
Aku hanya bergeming, suaraku terlalu berat.
"Mami panggil dokter dulu, ya.
"Mi-"
Aku ingin mencegah, tapi suara terasa amat berat untuk kukeluarkan. Ya Allah, ternyata masih Kau beri aku kesempatan untuk hidup.
Rasanya begitu terharu, setelah apa yang kualami kemarin, sekarang aku bisa menarik napas kembali.
Kuhela napas panjang. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Aku menoleh, barangkali yang datang adalah Mami dan dokter. Ternyata bukan, Aisyah.
Kami berpandangan sejenak. Dia terdiam. Entah benar, matanya berkaca-kaca, lalu buliran menetas di kedua sudut mata gadis itu. Tak lama, Mami dan beberapa perawat serta seorang dokter masuk. Aisyah tergeser, karena usaha orang-orang itu untuk memasuki kamar.
"Bagaimana perasaannya sekarang, Pak?". Dokter muda berjas putih bertanya sambil meletakkan stetoscop pada perutku.
Aku tak langsung menjawab, mataku terus menatap seseorang yang tengah asyik menyeka matanya. Tapi mendadak ia kaku, saat sebuah tangan kekar menghampiri dan merangkul bahunya.
Mas Bara.
Kuhela napas berat. Mataku sejenak terpejam, kusesapi kembali rasa sakit ini. Mungkin aku harus berhenti, mengubur rapat semua rasaku buatnya.
Allah memberiku kesempatan hidup tentu karena Dia menginginkan adanya perbaikan dalam diriku, bukan semakin tenggelam pada rasa yang tak sewajarnya ini.
"Aku akan mengakhiri semuanya Aisyah, setelah ini, aku akan pergi."
"Sudah baikan, Dok."
"Mas harus banyak bersyukur, karena kalau saya istilahkan, Allah memberi dua nyawa untuk Mas. Setelah koma selama tiga hari, dengan kerusakan parah di bagian belakang otak, saya pikir mustahil bisa sadar dalam waktu secepat ini. Tapi hidup memang Allah yang mengatur. Kunfayakun. Setelah sehat, shalat sunnahlah dua rakaat."
Dokter berpeci itu memberi ceramah singkat. Semua tampak terharu, tak terkecuali Mami dan Nindi. Ternyata selain Aisyah, kedua wanita itu juga bermandikan air mata menyikapi tersambungnya hidupku.
"Kak, helmnya rusak parah lho. Motornya hangus."
Nindi seperti wartawan yang mengekspose peristiwa kecelakaan.
"Tapi Mami janji, bakalan beliin Mas Faiz mobil, biar nggak suka balapan lagi."
Aku mendelik, kalau dulu mungkin aku akan sangat tergiur dengan yang dibicarakan Nindi barusan. Tapi untuk sekarang, aku tidak terlalu memperdulikannya. Kesempatan hidup yang Allah beri ini, akan kugunakan untuk semakin mendekatkan diri pada-Nya.
"Eh ada Alifa. Masuk, Fa."
Aku menoleh saat Nindi menyebut nama Alifa, gadis yang sedang menggantung perasaanku.
"Gimana sudah baik keadaannya, Mas?"
Aku tersenyum, "baik."
"Apa karena Alifa tidak memberi jawaban atas pertanyaan Mas Faiz, makanya Mas Faiz tak konsentrasi mengendarai motor?"
Aku tersentak mendengar pertanyaan Alifa.
"Jawaban apa, Sayang?"
Mami yang duduk di sofa bersama Mas Bara juga Aisyah, segera merespon. Jantungku riuh, entah kenapa sekarang malah tak lagi menginginkan Alifa memberi jawaban.
"Mas mau Alifa jawab sekarang?", tanyanya padaku.
Aku terdiam. Pandanganku terlempar pada Aisyah juga Mas Bara.
"Ya Allah, apa yang harus kulakukan?".
"Faiz ngelamar kamu, Fa?" tanya Mami yang kini, mendekati kami.
Alifa mengangguk. Aku memilih menunduk.
"Ayo kasih jawaban, Mami harap nggak ditolak lho.
"Bismillahirrahmanirrahim, Alifa menerima lamaran Mas Faiz."
Aku terhenyak. Entah apa yang dirasa hatiku, tapi aku tak seperti seseorang yang begitu menanti jawaban dari seorang gadis yang ia lamar. Lebih tepatnya aku merasa hampa.
"Ya Allah, ikhlaskanlah hati ini."
Mami tak henti mendengungkan syukurnya, sambil memeluk Alifa.
Aku memilih diam, sekuat tenaga berusaha tak melirik gadis itu.
"Iz, kamu dah ngucap syukur belum?".
"Udah Mi, dalam hati."
Ah, entah kapan itu terucap.
BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar