Fery sedikit kebingungan dalam posisi ini, dia bekerja di Sejahtera Jaya sekedar mengisi waktu menganggur, jika gajinya bisa mensejahterakan akan di lanjut, jika tidak, mungkin harus bergerak di bidang lain seperti cita dan harapannya membuka pabrik dalam bidang kuliner.
Sekitar pukul 7 pagi berangkat Fery menuju tempat ia bekerja. Disana Fery bertugas sebagai pengangkut barang yang di pesan pembeli, ada yang di angkut ke mobil untuk di antarkan, ada juga yang di angkut pakai motor pembeli. Sekitar 6 hari lamanya Fery menekuni pekerjaan itu.
Hingga di suatu hari, ketika ia hendak mengangkut semen, ditegur oleh konsumen yang sedang membeli semen dan bahan lainnya. Ternyata dia adalah kawan lama Fery ketika SMA, sebut saja namanya Fajar. Menurut cerita dari kawan Fery lainnya, Fajar adalah salah satu kawan yang terbilang sukses, karena dia diberi warisan toko Grosir mainan anak-anak yang cukup terkenal di sana. Berbincang lah mereka segitu asyiknya, karena kurang enak dengan bos nya Fery pun menghentikan pembicaraan dan menutup dengan kata nanti kita ketemu, nongkrong sambil ngopi di tempat dekat pasar sambung Fajar.
Esok harinya setelah pulang kerja sekitar pukul 4 sore, Fery langsung menuju tempat ngopi langganan Fajar. Disana ia menunggu kurang lebih 10 menit, dan tibalah Fajar di tempat itu dengan mobil putih mengkilap. Ngobrol kesana kemari melapas rindu masa lalu, dan sesekali bercerita kegilaan Meraka waktu dulu, di selingi tawa terbahak-bahak dan tawa kecil juga malu.
Hingga bercerita masa depan, membuat Fajar merasa kasihan pada Fery yang sedikit bermasalah dalam kondisi perekonomian. Fajar pun menawarkan bantuan modal jika memang Fery menginginkan membuka pabrik rumahan.
Sumringah Fery karena merasa bisa di bantu. Fajar menyuruh Fery membuat rencana anggaran untuk perencanaan pabrik rumahannya. Dan Fery meminta waktu 2 sampai 3 hari untuk hal itu.
"Saya sangat bergantung dan berharap sekali padamu Jar, untuk bisa menjalankan mimpiku ini dan sangat berterimakasih sebelumnya".
Hari berselang, rencana anggaran pun selesai tersusun rapi dan tertata. Berangkatlah Fery menuju rumah Fajar. Sesampai nya di dekat rumah Fajar, terlihat banyak orang di sana, Fery pun sedikit menghentikan langkahnya seraya bertanya-tanya ada apa gerangan di sana? Semakin dekat, Fery tambah penasaran. Dan mencoba mencari orang yang bisa di tanya tentang ada apa yang terjadi di sana. Ternyata Fajar telah di tipu oleh dua karyawannya yang membawa uang di tokonya dan tidak menyetorkan uang hasil pesanan yang di bayar tempo. Hampir 100 juta kerugian yang di derita Fajar, kata orang tersebut yang tadi ikut masuk di dalam rumah Fajar.
Fery pun melamun, dan merasa kasihan pada Fajar juga kecewa, karena dana untuk cita-citanya membuat pabrik rumaha kandas dan sirna.
Masuklah Fery ke rumah Fajar, dan tiba-tiba Fajar berlari memeluk Fery sambil menangis dan berbisik "Aku di tipu anak buahku sendiri, maafkan aku tidak bisa melanjutkan membantu impianmu itu".
Sesampainya Fery di rumah, dengan penuh kesadaran, berbisik di hatinya bahwa salah besar jika bergantung kepada selain Alloh SWT karena hanya Dia tempat manusi bergantung dan meminta pertolongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar