Fery masih bekerja di Sejahtera Jaya dengan posisi yang sama ketika masuk pertama kali kesana. Memang gajinya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, tapi cape dan lelahnya juga cukup merepotkan badannya.
Waktu lama berselang terasa begitu cepat, tak terasa Fery sudah bekerja di sana setahun lamanya. Menandakan Fery sudah cukup kerasan dan adaptasi yang cocok sebagai karyawan di toko bangunan tersebut. Baju kaos bermerk alat dan bahan bangunan sudah tak terhitung, baju seragam dari toko juga cukup banyak, bonus dan gaji pokok tidak pernah telat. Selamatlah perekonomian dari keluarga Fery ini.
Keinginan terdekatnya sekarang ini adalah harus punya si kuda besi alias motor untuk kemudahan dia dalam mobilitas ketika berangkat ke tempat kerja atau setidaknya membawa anak isterinya berkunjung ke nenek atau sanak keluarga lainnya.
Waktu sudah sore, seperti biasa Fery pulang di bonceng Oni, karena satu arah.
Di perjalanan Fery curhat ingin punya motor sendiri. Oni pun memberi motivasi agar dia cepat beli motor.
Setibanya di rumah, setelah selesai makan dan mandi, Fery membawa main Kenzi di ruang tamu, hilanglah semua penat dan beban hidupnya ketika Kenzi berada di pangkuannya. Hindun yang telah menyelesaikan semua tugasnya menghampiri Kenzi dan Fery sambil membawa gorengan panas di piring putih bercorak merk penyedap masakan. Fery tersenyum renyah, dan membuka obrolan, mengutarakan keinginannya memiliki motor. Di jawab dengan senyum oleh Hindun, dan berkata bahwa dirinya ada simpanan uang tiga juta. Fery keheranan, darimana uang sebanyak itu? Lirih jawab Hindun sisa dari uang belanja.
Senyum lepas dari Fery, bisa membeli motor bekas dalam pikirannya.
Hindun mengizinkan menggunakan uang tersebut untuk motor asal tidak melalui kredit, lebih baik motor jadul bekas saja dulu, agar tidak kebingungan dengan uang setoran bulanannya. Sedikit merengut Fery, karena dia inginnya motor baru walau kredit. Diskusi cukup alot antara keduanya. Namun setelah di bolak balik berfikir Fery pun mengerti dan paham atas pendapat isterinya Hindun.
Dengan uang 5 juta Fery mulai melakukan pencarian motor second. Uang 3 juta simpanan Hindun dan 2 juta simpanan Fery di tempat kerja Fery. Setiap bulan gajinya di potong untuk di simpan di kantor, itung itung celengan saja.
Oni memberi rekomendasi sebuah motor matic yang dia tahu akan di jual.
Di carinya posisi motor tersebut, dengan penuh ketelitian akhirnya Fery cocok dengan motor tersebut. Di beli lah motor itu dengan harga 4,7juta. Ada sisa uang 300.000 ia guanakan untuk service motornya agar enak di gunakan.
Beberapa bulan kemudian, keinginan Fery baru lagi, dia ingin membuat rumah.
Ini bukan permasalahan tapi itu adalah harapan.
Oke
BalasHapus