Hindun kembali ke kamar untuk menemani Kenzi. Sedangkan Fery menghampiri ayahnya yang sedang nonton sinetron Tersanjung malam itu. Fery langsung memegang punggung ayahnya, sambil memijit kecil dan membuka perkataan. "Dulu bapak pernah nawarin Fery sebidang tanah untuk di buat rumah, apa itu masih berlaku?" Tanya Fery.
Ayah Fery tersenyum dan menjawab bahwa tanah itu boleh di bangun rumah untuk Fery.
Satu tahun berjalan, pasir, batu, bata, kayu beberapa kubik sudah terkumpul, sekarang simpanan sudah menuju semen.
Namun, hari itu ayahnya Fery sakit masuk rumah sakit. Ayahnya tidak punya biaya, Hindun menyuruh Fery mengambil uang simpanannya di toko bangunan, padahal tinggal sebulan lagi bahan bangunan akan hampir terkumpul. Setan sedikit berbisik, bahwa uang itu sayang jika di kasih ayahnya karena Fery susah payah bekerja dan cukum lama. Namun energi positif Hindun mengalahkan bisikan setan pada Fery. Akhirnya uang di ambil dan menghentikan sementara harapan itu.
Satu Minggu kemudian ayahnya sehat kembali, pulang dari rumah sakit. Namun hampir semua simpanannya habis. Fery tidak kecewa juga tidak marah, karena dalam pemikirannya yang terpenting ayahnya sehat kembali.
Fery kembali bekerja di toko bangunan seperti biasa. Tiba-tiba sore hari sebelum pulang, semua pegawai di suruh untuk berkumpul sebelum pulang.
Ternyata bos dari toko bangunan sejahtera Jaya mendapatkan bonus dari semen karena target penjualan tercapai bahkan lebih. Ada bonus untuk pemilik toko dan ada bonus untuk pegawai disana. Semua bahagia dan semua pegawai senang.
Semua karyawan dapat bagian yang sama. Fery tidak menerima uang tunai, ia membelikan bonusnya untuk membeli bahan bangunan lainnya yang ia butuhkan. [Yek] bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar