Senin, 12 April 2021

Hadis Arbain Nawawi (Bagian 2)

kotretaniyek Bismillahirrahmanirrahim sebagai awal ucapan sebelum melanjutkan bacaan berikut. Saya memposting postingan ini seraya agar bisa menyimpan bacaan ini dan agar bisa menyebar untuk di baca dan di pahami oleh pemirsa Kotretan Iyek.
Konten ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya mengenai Hadis Arbain Imam Nawawi yang di rahmati Alloh SWT.

Hadis Arbain Nawawi I No. 2

Hadis Ke-2    Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga, beliau berkata: Pada suatu  hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam,  tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya  sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada  seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi  shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi,  dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata:  ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh  shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau  bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya  Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar  zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika  engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.”  Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.  Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”.  (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman  kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan  hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”Orang tadi  berkata: ”Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu  terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah  engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau  tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat  engkau.” Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari  kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu  daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah  kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: ”Apabila budak melahirkan  tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang  miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.”  Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya.  Lalu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar, tahukah engkau  siapa orang yang bertanya itu ?”. Aku menjawab: ”Alloh dan Rosul-Nya  yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat  Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”(HR.  Muslim).  Kedudukan Hadis Materi hadis ke-2 ini sangat penting sehingga sebagian ulama menyebutnya  sebagai “Induk sunnah”, karena seluruh sunnah berpulang kepada hadis ini.  Islam, Iman, dan Ihsan Dienul Islam mencakup tiga hal, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Islam berbicara  masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan mencakup keduanya. Ihsan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari iman, dan iman memiliki  kedudukan yang lebih tinggi dari Islam. Tidaklah ke-Islam-an dianggap sah  kecuali jika terdapat padanya iman, karena konsekuensi dari syahadat mencakup  lahir dan batin. Demikian juga iman tidak sah kecuali ada Islam (dalam batas  yang minimal), karena iman adalah meliputi lahir dan batin.  Perhatian! Para penuntut ilmu semestinya paham bahwa adakalanya bagian dari sebuah istilah  agama adalah istilah itu sendiri, seperti contoh di atas.   Iman Bertambah dan Berkurang Ahlussunnah menetapkan kaidah bahwa jika istilah Islam dan Iman disebutkan  secara bersamaan, maka masing-masing memiliki pegerttian sendiri-sendiri, namun  jika disebutkan salah satunya saja, maka mencakup yang lainnya. Iman dikatakan  dapat bertambah dan berkurang, namun tidaklah dikatakan bahwa Islam bertambah  dan berkurang, padahal hakikat keduanya adalah sama. Hal ini disebabkan karena  adanya tujuan untuk membedakan antara Ahlussunnah dengan Murjiáh.  Murjiáh mengakui bahwa Islam (amalan lahir) bisa bertambah dan berkurang,  namun mereka tidak mengakui bisa bertambah dan berkurangnya iman (amalan batin).  Sementara Ahlussunnah meyakini bahwa keduanya bisa bertambah dan berkurang.  Istilah Rukun Islam dan Rukun Iman Istilah “Rukun” pada dasarnya merupakan hasil ijtihad para  ulama untuk memudahkan memahami dien. Rukun berarti bagian sesuatu yang menjadi  syarat terjadinya sesuatu tersebut, jika rukun tidak ada maka sesuatu tersebut  tidak terjadi.Istilah rukun seperti ini bisa diterapkan untuk Rukun Iman,  artinya jika salah satu dari Rukun Iman tidak ada, maka imanpun tidak ada.  Adapun pada Rukun Islam maka istilah rukun ini tidak berlaku secara mutlak,  artinya meskipun salah satu Rukun Islam tidak ada, masih memungkinkan Islam  masih tetap ada.  Demikianlah semestinya kita memahami dien ini dengan  istilah-istilah yang dibuat oleh para ulama, namun istilah-istilah tersebut  tidak boleh sebagai hakim karena tetap harus merujuk kepada ketentuan dien,  sehingga jika ada ketidaksesuaian antara istilah buatan ulama dengan ketentuan  dien, ketentuan dien lah yang dimenangkan.  Batasan Minimal Sahnya Keimanan  1. Iman kepada Allah. Iman kepada Allah sah jika beriman kepada Rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan  asma’ dan sifat-Nya.  2. Iman kepada Malaikat. Iman kepada Malaikat sah jika beriman bahwa Allah menciptakan makhluk bernama  malaikat sebagai hamba yang senantiasa taat dan diantara mereka ada yang  diperintah untuk mengantar wahyu.  3. Iman kepada Kitab-kitab. Iman kepada kitab-kitab sah jika beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab yang  merupakan kalam-Nya kepada sebagian hambanya yang berkedudukan sebagai rasul.  Diantara kitab Allah adalah Al-Qurán.  4. Iman kepada Para Rasul. Iman kepada para rasul sah jika beriman bahwa Allah mengutus kepada manusia  sebagian hambanya mereka mendapatkan wahyu untuk disampaikan kepada manusia, dan  pengutusan rasul telah ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallaahu álaihi wa  sallam.  5. Iman kepada Hari Akhir. Iman kepada Hari Akhir sah jika beriman bahwa Allah membuat sebuah masa sebagai  tempat untuk menghisab manusia, mereka dibangkitkan dari kubur dan dikembalikan  kepada-Nya untuk mendapatkan balasan kebaikan atas kebaikannya dan balasan  kejelekan atas kejelekannya, yang baik (mukmin) masuk surga dan yang buruk  (kafir) masuk neraka. Ini terjadi di hari akhir tersebut.  6. Iman kepada Taqdir. Iman kepada taqdir sah jika beriman bahwa Allah telah mengilmui segala sesuatu  sebelum terjadinya kemudian Dia menentukan dengan kehendaknya semua yang akan  terjadi setelah itu Allah menciptakan segala sesuatu yang telah ditentukan  sebelumnya.   Demikianlah syarat keimanan yang sah, sehingga dengan itu  semua seorang berhak untuk dikatakan mukmin. Adapun selebihnya maka tingkat  keimanan seseorang berbeda-beda sesuai dengan banyak dan sedikitnya kewajiban  yang dia tunaikan terkait dengan hatinya, lesannya, dan anggota badannya.  Taqdir Buruk Buruknya taqdir ditinjau dari sisi makhluk. Adapun ditinjau dari pencipta  taqdir, maka semuanya baik.  Makna Ihsan Sebuah amal dikatakan hasan cukup jika diniati ikhlas karena Allah, adapun  selebihnya adalah kesempurnaan ihsan. Kesempurnaan ihsan meliputi 2 keadaan:  1. Maqom Muraqobah yaitu senantiasa merasa diawasi dan  diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktifitasnya, kedudukan yang lebih tinggi  lagi.  2.  Maqom Musyahadah yaitu senantiasa memperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan  seluruh aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...