Part 26
Sudah satu jam Faiz didalam ruang operasi, sedang di luar Aisyah duduk seorang diri dengan kecemasan terhebat. Tak ada satupun yang keluar dari ruangan, yang dari luar masih tampak menyala lampu pertanda operasi.
Aisyah duduk tak tenang, pandangannya tak menentu. Kadang melirik ponsel, detik berikutnya menelisik ke dalam ruangan melalui kaca buram. Padahal sudah pasti tak terlihat apapun melainkan pantulan wajahnya sendiri.
Aisyah benar-benar khawatir.
Setengah jam berikutnya berlalu, derit pintu berkaca buram itu membuat Aisyah terhenyak. Buru-buru ia bangkit untuk menanti informasi dari dokter atau siapa saja.
"Maaf, Adik ini keluarga dari pasien Faiz Alfarisy?".
"Iya benar, Pak...".
"Alhamdulillah operasi sudah selesai Dik, tapi pasien masih dalam masa kritis. Mohon doanya, agar pasien bisa sadar dalam 24 jam ke depan...".
Sambil mengangguk, Aisyah menghela napas berat. Dadanya kembali terasa sesak. Doa yang sedari tadi tak henti ia langitkan, dengan maksud agar sang calon imam bisa sadarkan diri, kini terasa bagai mengambang di langit. Tak sampai pada Sang Penguasa Kehidupan.
Aisyah kembali terduduk lemas di atas kursi tunggu. Tak ada tempat menumpahkan segala kesedihan, sang ayah pun setengah jam lalu, ijin pulang untuk mengurusi jenazah mami.
Seharusnya saat ini Makcik beserta sepupunya sudah di rumah sakit menemani, tapi musibah menimpa dua saudaranya itu. Kendaraan yang mereka tumpangi ditahan pihak polisi saat razia. Tersebab surat menyurat motor yang mereka naiki tidak lengkap.
Beberapa menit berlalu, tampak dua orang perawat keluar dari ruang operasi sambil mendorong brangkar. Jantung gadis itu berdentum tak karuan. Ia kembali memandang wajah itu, wajah yang teramat ia jaga untuk tak dirindui.
'Akankah kita bisa bersama, Mas?'.
Dengan lembut ia menyeka sebulir bening yang menyembul di sudut mata. Diiringi langkah yang terasa amat goyah, ia barengi brangkar itu hingga berhenti di ruang ICU.
Setelah mendapatkan bed khusus. Perawat kembali menyambungkan berbagai alat ke tubuh Faiz. Aisyah tak kuasa menahan perih yang menghujam dada bertubi-tubi. Dengan jarak beberapa meter, ia berdiri kaku di dekat tirai.
Ingin mendekat, tapi ingat akannya batasan haram yang tidak boleh ia abaikan. Aisyah memilih bergeming. Menatap sesekali , selebihnya menunduk.
"Bertahan Mas, saya disini. Menunggu...".
***
Menjelang ashar, Aisyah meninggalkan Faiz untuk melaksanakan shalat fardhu di mushalla. Dengan khusuk gadis itu menengadahkan tangan memanjat doa, agar Allah memberi kesempatan hidup dan memberi keberkahan umur pada calon imamnya.
Ia juga melangitkan doa terbaik untuk wanita yang pernah dan akan menjadi ibu mertuanya kembali. Doa agar selamat iman, Husnul Khatimah, mendapat pengampunan dan tempat terbaik disisi Allah.
Usai shalat, Aisyah tidak berlama-lama di mushalla. Sebab Faiz seorang diri tanpa keluarga yang mendampingi.
Begitu terhenyak saat ia mendapati Nindi dan ayahnya berdiri di pintu masuk ICU.
"Mbak?".
Nindy menoleh, segera ia merentangkan tangannya, menyambut Aisyah.
"Aisyah ....".
"Yang sabar, Mbak. Dunia hanya singgahan, di sanalah tempat kita kembali. Hanya masalah waktu yang menjadi rahasia Allah."
"Iya, Syah. Makasih ya. Semoga Mas Faiz bisa segera sadar. Mbak kasihan sama kamu."
Aisyah bergeming sejenak, mengusap air mata dengan punggung tangan.
"In Syaa Allah Mbak, kita harus yakin. Bukankah Allah sesuai prasangka hamba-Nya?"
Nindy mengangguk. Tak lama, kedua netra Aisyah membelalak. Lelaki yang dahulu pernah begitu ia cintai muncul di ujung koridor bersama seorang wanita.
"Mas Bara?".
Nindy segera berpaling ke belakang.
Suasana terasa canggung, terlebih saat Bara dan istrinya sudah bergabung bersama mereka.
"Selamat atas pernikahannya, Mas," ucap Aisyah lirih.
"Terima kasih Aisyah. Ini Siska..", kenal Bara pada Aisyah.
"Aisyah."
"Siska."
"Harusnya bukan begini pertemuan kita ya, Mas?".
Nindy kembali berduka.
"Semua sudah musibah, Dik. Kita semua harus ikhlas. Biar Mami pun tenang disana."
"Mami sudah dikebumikan?". Aisyah bertanya pada mereka semua.
Sesak kembali memenuhi dada, teringat Faiz yang belum sadar dan tidak sempat melihat jenazah sang ibu untuk terakhir kalinya. Bagaimana jika nanti lelaki itu sadar, dan Faiz tak bisa menerima semua ini?.
Semua terdiam.
"Kenapa nggak nunggu Mas Faiz sadar, Pak?".
"Sudah lepas ashar Aisyah, kita tak mungkin menunggu lebih lama."
Ayah Aisyah menimpali. Nindy berusaha menenangkan Aisyah dengan pelukan.
"Ini yang terbaik melihat kondisi Mami, Aisyah ....".
"Ya Allah, kasihan Mas Faiz. Pasti dia akan sangat sedih karena tidak sempat melihat jenazah Mami terakhir kalinya ...."
Air mata Aisyah kembali berderai.
"Faiz pasti akan mengerti Aisyah."
Sang ayah mencoba ikut menenangkan anaknya.
Hari itu menjadi hari kedukaan buat mereka. Rencana menggelar bahagia, justru musibah yang menimpa. Namun, tak ada sesuatu yang terjadi, melainkan Allah selipkan hikmah dibalik semua itu.
Aisyah tetap sabar dan yakin bahwa Allah Maha Penolong, Allah Maha penyayang. Dengan meluaskan sabar, Aisyah percaya Allah akan memberi jalan keluar terbaik.
***
Tak sekalipun gadis itu mendekat, ia tetap memandang rindu dari kejauhan. Sudah lewat dua puluh empat jam seperti yang diisyaratkan oleh dokter, namun Faiz belum juga sadarkan diri.
"Sudah Aisyah, kamu pulang saja. Biar Mbak sama Mas Bara yang menunggu".
Nindy memberi solusi, melihat Aisyah yang tampak lemah bahkan tak sanggup lagi untuk berjalan.
"Nggak papa Mbak, Aisyah mau disini aja. Kalau gitu makanlah, dari siang Mbak lihat makanmu sedikit sekali."
Nindy menyodorkan nasi bungkus ke arah Aisyah. Dengan air mata mengalir, gadis itu meraih untuk kemudian menundukkan wajah. Menutupi kedukaan dan rasa cemasnya.
Bagaimana jika Faiz tak juga siuman?
Haruskah ia terus menanti sambil menatap dari kejauhan? Sedang dirinya ingin sekali bisa merawat pemuda itu?
Pertanyaan tersebut sedari tadi terus memenuhi kepalanya.
Ia ambil sesuap nasi, lalu memasukkan ke dalam mulut dengan terpaksa.
Tiba-tiba, dua orang perawat berlarian ke arah bed dimana Faiz di rawat. Bara yang hendak masuk, segera memberi tahu yang lain.
"Tolong menunggu diluar ya, Pak."
Suster mencegah keluarga masuk berbarengan. Hanya Bara yang ikut mendampingi di dalam. Sedang yang lain menunggu di luar dengan perasaan tak menentu.
Tak lama, Bara kembali keluar dengan rona wajah lega.
"Faiz udah sadar..".
"Alhamdulillah."
"Kamu masuk Nin, nggak boleh ramai-ramai"
Nindy segera meluncur ke dalam bersama suaminya.
Aisyah merasa jantungnya tak karuan, bahagia, lega, seketika ia bersujud ke lantai memanjatkan syukur tak terhingga kepada Sang Pemilik Kehidupan.
"Terima kasih ya, Allah."
Aisyah tak tahu seperti apa menggambarkan bahagia yang kini ia rasa. Ternyata benar, setelah hujan badai, ada pelangi indah yang membuat mata takjub. Bahkan saat kita melihat hamparan padang sahara yang seolah memanjang tanpa batas, agar kita ketahuilah bersama bahwa di balik kejauhan itu terdapat kebun yang rimbun penuh hijau dedaunan.
Wahai manusia, kita harus yakin, setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah bergadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap yang hilang pasti ketemu. Sebagaimana dalam kesesatan akan datang petunjuk, juga dalam kesulitan ada kemudahan. Dan sudah pasti, setiap kegelapan akan terang benderang.
Maka dari itu, jangan pernah merasa terhimpit sejengkalpun. Karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baiknya ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar.
***
"Mami mana, Mbak?"
Pertanyaan Faiz menyayat hati siapa saja yang mendengar. Termasuk salah satu suster yang sedang memeriksa keadaan pemuda itu. Dengan segera wanita itu pergi, membiarkan keluarga besar memberitahu kabar kematian ibu mereka.
"Mami baik, Mas."
"Bawa saya ketemu Mami, Mbak."
"Iya, Mas. Nanti Nindy bawa."
"Ada apa, Ndy? Katakan yang sesungguhnya sama Mas?".
Sejenak suasana hening, air mata Nindy menjadi jawaban buat Faiz. Denyut jantungnya melemah.
"Mami nggak papa 'kan Ndy?"
Nindy semakin terisak.
"Yang sabar Iz, Mami udah nggak ada", jawab Bara mencoba menenangkan Faiz.
"Innalillahi wainnailaihi rajiun ... Ya Allah, Mami...".
Hancur perasaan Faiz mendengar kabar duka tersebut. Betapa terkenang detik-detik kepergian mereka ke rumah Aisyah, dimana mami masih saja memberi nasihat padanya. Agar ia menjaga Aisyah, mencintai dan melindungi Aisyah sepanjang umur.
Faiz terhenyak saat mendapati kata-kata perpisahan yang tak ditangkap oleh dirinya saat itu. 'Nanti Mami akan pergi, Iz. Berjanjilah untuk selalu bertanggung jawab pada pernikahanmu. Jangan pernah sakiti Aisyah. Jika Mami gak ada, maka nggak ada lagi yang bakalan ngingatin kamu, kecuali dirimu sendiri, Iz.'
"Ya Allah, Mi, Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa Mami, dan menempatkan Mami di syurga-Nya." Faiz berucap seraya merahup wajah
"Aisyah mana, Ndy?"
"Ada diluar...".
Tanpa diperintah, Nindy segera berjalan keluar untuk memanggil. Istri Bara dan suami Nindy begantian keluar ruangan.
Faiz masih menanti kedatangan gadis yang menjadi alasan kuat untuknya terus memohon agar terus hidup.
Aisyah kini ada di hadapan. Haru syukur menyeruak memenuhi dada. Netra pemuda itu kini tampak berkaca-kaca, hal yang sama pun dialami oleh gadis itu. Pandangan itu bertemu sejenak. Sebelum akhirnya sang gadis menundukkan wajah.
"Aisyah ....".
"Alhamdulillah Mas sudah sadar," ucapnya sambil terisak.
"Mami Mas--" diangkatnya wajah sambil menatap sekilas, sungguh Aisyah tak kuasa menatap bola mata itu. Akan ada rindu yang membarengi walau pandangan hanya bertemu sekejap kedipan mata. Dan Aisyah sangat menjaga hal itu. Ia ingin merindui Faiz dengan halal.
"Mas yang sabar, ya?"
Faiz mengangguk lalu mengalihkan pandangan menatap Pak Rahman. Tak ada cara untuknya selain menghalalkan gadis itu.
"Ijinkan saya menikahi Aisyah, Pak."
Semua terhenyak, tak terkecuali Aisyah. Tak percaya sekaligus teramat bahagia.
"Apa Nak Faiz yakin sekarang waktunya?"
Aisyah masih mengatur degup di dadanya, diam-diam dia melangitkan doa pada Rabbnya.
'Teguhkanlah pendiriannya ya Allah.'
"In Syaa Allah, saya yakin, Pak. Ini juga yang Mami inginkan. Agar saya tidak lagi menunda. Saya ingin melalui semua ini bersama Aisyah sebagi kekasih halal saya."
"Alhamdulillah ...."
Dengan mahar berupa cincin emas seberat sembilan gram yang diniatkan Faiz sebagai cincin tunangan, pemuda itu menikahi Aisyah hari itu juga.
"Saya nikahkan anak saya Siti Aisyah binti Abdurrahman dengan mas kawin cincin seberat sembilan gram dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Siti Aisyah binti Abdurrahman dengan mas kawin cincin seberat sembilan gram dibayar tunai."
"Sah."
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah."
BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar