*Aku Mencintai Istrimu, Mas*
Part 25
Aisyah mematut diri di depan cermin, gamis coklat susu dengan hijab senada tampak indah di tubuhnya. Sedang di luar riuh beberapa saudara juga tetangga dekat membuat jantungya semakin berdebar tak menentu.
Semua menanti kedatangan Faiz dan maminya. Yang menurut kabar sudah sampai ke Aceh sejak kemarin pagi. Karena ingin tinggal beberapa hari, mami tidak menyewa hotel, melainkan memilih kosan Faiz sebagai tempat tinggal sementara.
"Aisyah ...."
Suara seorang lelaki terdengar dari luar kamarnya. Aisyah beringsut dan berjalan untuk membukakan pintu.
Setelah pintu kayu tersebut terbuka, tampak ayahnya berdiri dengan membawa sebuah ponsel. Wajahnya tak biasa, terlihat tegang.
"Ada apa, Pak?" tanya Aisyah dengan raut ketakutan.
"Kita ke rumah sakit Meraxa."
"Apa, Pak? Ke rumah sakit? Bukannya sebentar lagi Mas Faiz mau kemari?"
Sesaat hening, Bapak terlihat ragu untuk berkata.
"Calon suami dan ibu mertuamu, kecelakaan, Aisyah."
"Apa? Astaghfirullah ... bagaimana bisa, Pak?"
"Nanti di sana kita tanyakan."
"Iya Pak. Ayo Pak, kita pergi sekarang."
Aisyah kembali ke kamar mengambil tas serta handphone, lalu bergegas mengikuti langkah sang Bapak yang terlihat sangat cepat.
Beberapa saudara dan para tetangga yang hadir, semua terlihat berduka. Acara yang harusnya meriah malah berganti kedukaan.
Tak sepetah katapun keluar dari mulut mereka. Padahal satu jam yang lalu semua terlihat amat bahagia, terlebih setelah tahu jika yang melamar adalah Faiz, adik ipar mantan suaminya yang pernah melamar Aisyah dahulu sebelum dilamar sang kakak.
Aisyah memandang rumahnya saat motor yang dijalankan sang ayah perlahan bergerak meninggalkan halaman.
Dalam hati tak henti ia melangitkan doa, agar Faiz dan ibunya dalam lindungan Allah. Bulir air mata terus membanjiri wajah, teringat bahwa hari yang paling ia nanti ternyata harus berakhir dengan tragis.
Hanya doa yang ia harap mampu membawa angannya menjadi kenyataan. Mimpi mengecap rumah tangga bahagia bersama lelaki pujaan, semoga bisa diijabah Allah.
***
UGD terlihat ramai, sepertinya kecelakaan melibatkan banyak pihak. Aisyah berjalan tergesa mengikuti langkah ayahnya yang tak kalah cepat. Sampai di depan ruangan itu, sang ayah langsung membuka pintu.
"Mohon tunggu di luar, Pak."
Langkah Pak Rahman dihadang oleh seorang petugas rumah sakit.
"Kami keluarga korban, Pak."
"Oh baik. Silakan masuk, Pak."
Abah dan Aisyah langsung berhamburan ke dalam ruangan. Terlihat beberapa bed yang harusnya tertutup, kini tirai tersibak dengan para perawat ada pada tiap bed. Kedua netra Aisyah langsung terlempar pada dua bed yang letaknya bersisian.
Di sana, ada seorang wanita yang amat ia sayangi seumpama rasa sayangnya pada ibu kandung sendiri.
'Mami.'
Wanita itu terlihat memejamkan matanya, kedua tangan terletak di samping tubuh. Darah masih mengalir di pelipis yang sudah di tutupi kain perban. Tak ada sesiapun lagi perawat yang membersamainya. Semua berpencar pada sekian banyak bed lainnya yang ada di ruangan itu.
Aisyah sudah tak lagi dapat membendung tangisnya. Kembali air mata mengalir di kedua sudut. Sedang jantungnya kian melemah, tak mampu lagi bahkan untuk memompa dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
Dia alihkan pandangan. Terasa kedua tungkai gadis itu kini kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya berdiri, saat mata teralih pada bed di sebelah mami.
Di sana, Faiz masih ditangani oleh beberapa petugas. Dengan bergantian, mereka mengusahakan agar berbagai tempat yang mengeluarkan darah bisa segera tertutup.
"Ya Allah, selamatkan mereka."
Doa yang tak henti mengalir seiring embusan napasnya.
"Bapak keluarga korban yang mana?"
Pak Rahman menunjuk pada bed yang diatasnya terbaring mami dan Faiz.
"Oh, yang satu harus segera dioperasi. Ada benturan pada kepala yang menyebabkan perdarahan. Korban yang satunya lagi, kami mohon maaf. Sudah tak terselamatkan."
"Astaghfirullah! Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Ya Allah ...."
Tangis Aisyah pecah di dalam dekapan sang ayah. Pak Rahman mencoba menenangkan anak sulungnya. Meski sejujurnya hatinya pun sama hancur dan terluka terhadap musibah ini.
"Siapa yang harus dioperasi, Pak?"
"Pemuda itu."
Aisyah mengatup mulutnya, berusaha agar suara isakannya tak terdengar pada siapapun.
"Berarti mami sudah tiada, Pak," sebutnya dengan hati bak diiris-iris sembilu.
Wanita yang teramat ia sayangi, yang bahkan tadi malam cukup banyak memberi nasihat padanya di telpon. Tak tersirat bahwa saat itu adalah kesempatan terakhir mendengar suara lembut wanita itu.
"Kamu yang sabar ya, Aisyah. Kita doakan mamimu Husnul Khatimah. Sekarang, kita harus fokus pada keselamatan calon suamimu. Semoga Allah memanjangkan umurnya. Coba kamu beri kabar pada keluarga yang di Jakarta tentang semua ini."
"Aamiin Allahumma Aamiin ... baik, Pak."
Dengan mengumpulkan segenap kekuatan, Aisyah mengeluarkan ponselnya. Segera ia menelpon Nindy untuk menyampaikan kabar duka tersebut.
Sedang Seorang perawat terlihat membimbing Pak Rahman untuk menandatangi surat persetujuan operasi.
[Assalamualaikum Mbak.]
[Aisyah, selamat ya. Maaf nggak bisa hadir.]
Aisyah terdiam, menarik napas sambil terisak.
[Ada apa, Syah?]
[Mami, Mbak.]
[Mami kenapa?]
[Mami sama Mas Faiz kecelakaan]
[Astaghfirullah. Sekarang gimana keadaan mereka?]
[Mbak yang sabar, ya. Mami sudah mengembuskan napas terakhirnya, Mbak.]
[Innalillahi wainna ilaihi rajiun.]
Tangis Nindy terdengar pilu. Aisyah tak lagi dapat menggambarkan remuk hatinya.
[Mas Faiz gimana, Aisyah?]
[Alhamdulillah, Mas Faiz selamat. Tapi harus segera dioperasi, Mbak. Kepalanya mengalami benturan yang terus mengeluarkan darah.]
[Ya Allah, kenapa bisa begini? Lakukan yang terbaik Aisyah, Mbak sama Mas Bara segera terbang ke Aceh.]
[In Syaa Allah, Mbak.]
Setelah menutup telpon dari Nindy. Aisyah berusaha tegar berjalan menghampiri mami. Gadis itu menarik napas dalam, berusaha tak menangis di depan jenazah maminya.
"Mi, maafkan Aisyah. Aisyah sayang sama mami."
Air matanya menetes perlahan, ia sapu cepat dengan punggung tangan. Lalu mulai membacakan doa.
"Bismillahirrahmanirrahim. Subhanallah hayyil ladzi la yamuutu Allahumagfirlihadzal mayyiti warhamhuma. Allahumma Anis filqobri wahdatahu waghurbatahu wannawwir Wallahu. Maha suci Allah dzat Yang Maha Hidup dan Tidak Mati. Ya Allah berilah ampunan kepada mayit ini dan belas kasihanilah dia. Ya Allah berikanlah kesenangan kepadanya dalam kubur sendirian dan dalam rantauan, serta sinarilah kuburnya....".
Aisyah mengecup pelan wajah yang tampak pucat itu. Sejenak kenangannya bersama wanita yang pernah dan harusnya kembali ia sebut ibu mertua, kembali berputar dibenak. Bagai putaran kaset di layar lebar.
Bagaimana mami menerimanya dengan penuh suka cita sebagai menantu. Hingga melepaskannya dengan hati tersayat ketika pengajuan cerainya diterima di pengadilan agama.
Selain ibunya, mami adalah wanita luar biasa kedua yang pernah ia kenal.
"Terima kasih, Mi untuk semua kebaikan Mami selama ini. Semoga Allah membalas dengan syurga-Nya."
Setelah cukup puas memanjatkan doa, Aisyah terhenyak saat menyadari brangkar yang diatasnya berbaringkan Faiz, didorong keluar ruangan. Buru-buru Aisyah mengejar brangkar itu.
"Mas Faiz mau dibawa kemana, Pak?"
Aisyah bertanya saat sudah membarengi sang ayah yang terlihat ikut di belakang brangkar.
"Faiz harus dioperasi secepatnya Aisyah. Mencegah darah keluar terlalu banyak."
Aisyah kembali merasa sesak di dadanya. Buliran bening kembali menganak sungai di pelupuk. Ia mencoba kuat.
"Sudah ditelpon keluarga di Jakarta?" tanya ayahnya sembari terus berjalan.
Aisyah mengangguk.
"Apa kata mereka?"
"Mbak Nindy dan Mas Bara segera ke Aceh, Pak."
"Alhamdulillah ... Pemakaman Bu Ningsih sebaiknya tidak berselang hari. Mudah-mudahan mereka bisa sampai sebelum Ashar."
Kembali jantung gadis itu bagai tertancap sembilu tertajam.
'Ya Allah, kuatkanlah hati ini.'
Tepat di depan pintu ruang operasi, perawat tampak mencegah Pak Rahman dan Aisyah yang hendak memasuki ruangan.
"Keluarga mengantar sampai sini saja, ya".
Aisyah berdiri kaku. Ia terpaksa melepaskan Faiz untuk berjuang seorang diri. Dengan air mata yang tak henti mengucur, gadis itu berucap lirih.
"Bertahanlah Mas, aku menunggumu. Kamu sudah janji padaku, untuk menghadiahkan rumah tangga bahagia setelah pernikahan kita. Aku menunggu kamu menunaikan janjimu, Mas. Bertahanlah Mas, bertahanlah demi apa yang sudah kita perjuangkan selama ini."
Perlahan pintu ruang operasi tertutup, menyisakan bayang kabur yang berakhir pada gambar buram pintu kaca.
"Ya Rabb, kasihanilah kami, berilah umur panjang baginya. Beri kemudahan, agar kami bisa menunaikan Sunnah Rasul-Mu."
BERSAMBUNG...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar