Part 23
Dari mana aja kamu Aisyah?".
Pak Rahman memergoki Aisyah yang baru sampai rumah sekitar pukul sepuluh malam. Wajahnya memerah menahan kekesalan. Seharian ia terus menghubungi ponsel anak sulungnya itu, tapi panggilan tersebut terus saja dijawab oleh call center.
"Maaf Pak, Aisyah pergi menemui teman di Purwokerto".
"Sendirian kamu?".
Aisyah mengangguk.
"Semalam menantuku pulang dalam keadaan mabuk, hari ini anakku yang tak pernah meninggalkan rumah tanpa pamit, baru pulang setelah jam selarut ini. Sebenarnya apa yang terjadi dengan rumah tanggamu, Aisyah?. Tolong jelaskan sama Bapak!....".
Aisyah menunduk, berdebar jantungnya mendengar suara lantang sang ayah. Dengan segenap keberanian, gadis itu mencoba memberi jawaban.
"Kami sudah bercerai, Pak....".
"Apa, bercerai?. Astaghfirullah... kenapa bisa bercerai, Nak?", ucapnya sambil mengusap wajah lemah. Ia tak menyangka, apa yang dipikirkannya semalam benar-benar menjadi kenyataan.
"Kami sudah tidak bisa bersama, Pak".
"Tapi kenapa Aisyah?".
"Aisyah tidak bisa memberitahu alasannya. Aisyah hanya berharap, agar Bapak tidak menentang keputusan kami ini. Bukan sebulan Aisyah memikirkan semuanya, tapi berbulan-bulan, Pak".
Pak Rahman menghela napas panjang. Terlalu sakit menerima kenyataan bahwa pernikahan putri pertamanya hanya bertahan seumur jagung. Dan juga, menantu yang telah ia gantungkan harap agar bisa bersama dengan putrinya sampai tua, kini kembali menjadi orang asing.
"Katakan pada Bapak Aisyah, apakah Bapak telah salah memilihkan suami untukmu ....".
Terhunus jantung gadis itu mendengar pertanyaan sang ayah. Memang nyatanya, Bara adalah lelaki terbaik yang dipilihkan ayahnya. Namun urusan hati, bukankah tiada satupun yang tahu, kecuali Allah.
Begitupula dengan hati seorang Bara, siapa bisa menebak jika ternyata, di balik jiwanya yang tenang ada satu kisah yang mampu membuat semua ketenangan itu berguncang hebat.
Aisyah kembali merasakan berat pada kedua bola matanya. Ada yang terasa menggantung disana, andai tak hiraukan siapa yang di depannya kini, sudah ia biarkan bendungan itu mengembun.
"Nggak ada yang salah, Pak. Aisyah udah ikhlas dengan semua ini. Sekarang Aisyah hanya minta agar Bapak pun bisa menerima dan berlapang dada dengan keputusan kami...".
***
Mentari terlihat menyembul dibalik pepohonan, sinarnya yang tegas seolah menjadi semangat baru bagi Aisyah memulai harinya tanpa kehadiran Bara.
Jika biasanya, setiap pagi ia terlihat cantik dengan make up tipis, hari ini semua alat kosmetiknya masih tertutup rapat di dalam tas. Andai setiap pagi ia sering kelihatan kebingungan menentukan menu makanan, pagi ini ia hanya membuat nasi goreng telur dadar.
Selalu, bersama Bara ia sarapan pagi dalam keheningan. Tapi di rumah ayahnya, riuh sang adik mengalihkan rindunya akan sang suami.
Setelah semua selesai sarapan, adik keduanya mengambil alih membersihkan meja. Sedang Aisyah memilih kembali ke kamar.
Ketukan pintu depan membuat gadis itu urung melangkahkan kaki. Ia kembali berjalan ke ruang tamu untuk kemudian mengecek siapa gerangan yang bertamu ke rumahnya pagi-pagi.
Sangat terhenyak ketika Aisyah menemukan siapa yang kini berdiri di ambang pintu. Mami dan Bara.
Serasa ada yang kembali menghujam dadanya. Melihat Bara didepan mata, Aisyah tak mempu menutupi rasa sakit dan kecewa. Terlebih jika mengingat kejadian malam kemarin. Rasanya ingin ia kembali menutup pintu rumah.
Tapi, saat melihat wanita bersahaja di samping sang lelaki, rasa hormatnya mampu menyingkirkan segala duka.
"Silakan masuk, Mi."
Sengaja Aisyah hanya menyuruh maminya masuk, bermaksud agar Bara tahu bahwa kehadirannya sedang tidak diinginkan.
"Silahkan duduk, Mi. Biar Aisyah panggilkan Bapak."
Terlihat Bara pun ikut duduk disamping maminya. Aisyah masih bersikap acuh. Ia meninggalkan tamu untuk kemudian menemui sang ayah.
"Ibu Ningsih, Nak Bara? Oh maaf ini sebenarnya saya sudah siap-siap mau berangkat," ucap ayah Aisyah setenang mungkin.
"Kami cuma sebentar, Pak."
"Iya, tidak apa-apa, Bu. Wong saya juga kerjanya di tempat menantu sendiri, jadi terlambat sedikit bisa dimaklumi," lelaki paruh baya itu mencoba berguyon mengusir ketegangan.
Mami hanya tersenyum kecut. Sedang Bara terlihat menunduk.
"Aisyah, buatkan minuman untuk ibu mertua dan suamimu."
'Suami? Bukankah Mas Bara sudah menceraikanku?' batin Aisyah bergejolak hebat.
Ingin ia membenarkan, tapi takut merusak suasana. Akhirnya ia memilih ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan.
"Maaf Pak, mungkin Bapak sudah tahu apa yang telah terjadi dalam rumah tangga putra putri kita. Sejujurnya, sebagai seorang wanita, saya sangat menyesalkan gegabahnya sikap Bara hingga dengan mudah mengucap kata cerai. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, Pak. Kata cerai itu sudah terlanjur terucap. Kini, saya hanya bisa menuruti keinginan Bara untuk kembali merujuk Aisyah."
Pak Rahman menarik napas panjang.
"Hem ... sebaiknya kita tunggu Aisyah dulu, Bu. Biar masalahnya bisa mereka selesaikan berdua. Dan jika memang masih ada kesempatan untuk kembali, supaya mereka bisa sama-sama memperbaiki diri. Karena menurut saya, kata cerai itu adalah akhir dari sebuah cara yang dilakukan suami untuk mencari jalan keluar. Jika Nak Bara sudah berani mengucap kata itu, maka Nak Bara pun harus tahu konsekuensinya."
Mami menghela napas panjang, menahan rasa malu dan kecewa pada kesalahan putranya. Sedang Bara lebih memilih bergeming.
Lima menit berlalu, Aisyah kembali dengan nampan berisi makanan dan minuman di tangan. Setelah meletakkan makanan dan minuman di depan tamu. Aisyah memilih duduk di kursi sebelah sang ayah.
"Aisyah, ibu mertuamu datang kemari dengan membawa sebuah tujuan. Beliau ingin kamu rujuk dengan suamimu," ucap Pak Rahman mengawali.
Aisyah tersentak, sejenak ia menatap lekat pada bola mata sang ayah. Ingin dirinya supaya lelaki itu bisa membantu mempertahankan apa yang sudah ia katakan semalam. Bahwa ia ingin berpisah dari Bara.
Bukan tak ingin mencoba, tapi takut terluka.
"Nak Aisyah, Mami nggak tahu masalah apa yang terjadi diantara kalian, tapi Mami harap kalian bisa segara berbaikan dan kembali menjadi sepasang suami istri. Mami sangat terkejut saat Bara mengatakan sudah menceraikan kamu. Mami tidak menyangka, masalah sebesar apa yang menimpa kalian hingga membuat Bara lepas ucap begitu. Tapi di atas semua kejadian ini, Mami minta maaf. Mami sudah habis-habisan mengulang wejangan yang pernah Mami sampaikan dulu sebelum Bara memutuskan melamar kamu. Bahwa pernikahan itu bukan mainan, bukan pula tindakan coba-coba. Allah mengistilahkannya mitsaqan ghalizhan, perjanjian yang teguh. Kata cerai itu tidak selayaknya diucapkan jika memang tujuannya untuk evaluasi diri dan menyambung pernikahan. Mami harap ini menjadi suatu pembelajaran buat kalian, terutama buat Bara. Ingat, suami istri itu jika diibaratkan seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Dengan karakter masing-masing yang khas, kalian seharusnya bisa saling memahami dan terus belajar, demi terciptanya hubungan yang harmonis. Bukan saling melepas amarah lalu berujung pada perpisahan."
Aisyah tergugu, buliran bening kembali memenuhi pelupuk mata.
'Dua sisi mata uang, benarkah begitu?'
Disisi lain, Bara tertunduk tak berdaya, mendengar nasihat yang entah keberapa kalinya diucapkan sang ibu. Sesekali ia mengangkat wajah, menatap Aisyah yang juga tertunduk.
"Bara sangat menyesali kecerobohannya, Aisyah. Dia sudah berjanji untuk tidak mengedepankan emosi dalam menyelesaikan masalah. Dan sekarang semua Mami serahkan sama Aisyah, gimana baiknya. Tapi besar harapan Mami, agar Aisyah bisa memaafkan Bara, dan kembali sebagai menantu pertama yang sangat Mami sayangi."
Buliran yang sedaritadi sekuat tenaga ditahan, kini luruh sudah. Tak kuasa ia pendam tatkala mendengar ibu mertuanya mengucap kata 'menantu pertama yang sangat disayangi.'
Sejenak hening. Tak ada suara yang terdengar selain detak jarum jam di dinding.
"Bagaimana dengan Bara sendiri, adakah yang mau disampaikan pada Aisyah?".Pak Rahman berusaha memecah keheningan.
Semua pandangan sekarang teralih pada Bara, termasuk Aisyah.
"Aisyah, Mas mau minta maaf sama kamu. Mas banyak salah sama kamu. Mungkin jika ditulis tidak akan cukup seratus halaman untuk menjabarkan semuanya."
Aisyah menatap lekat bola mata yang nampak kelelahan di hadapannya.
'Sungguhkah permintaan maafnya ini?' batin Aisyah kembali meracau. Jika kesalahan itu adalah perkara ringan, seperti tidak sepaham dalam satu masalah, mungkin Aisyah masih bisa bernego dengan hatinya. Tapi yang
menjadi masalah antara mereka adalah masa lalu. Masa lalu yang masih hidup dalam hati suaminya.
Kembali, gadis itu menarik napas panjang.
"Aisyah sudah memaafkan Mas Bara, sekalipun jika Mas tidak memintanya," jawab gadis itu dengan suara bergetar menahan isak.
Bu Ningsih dan Pak Rahman ikut terharu. Seumur hidup mereka tidak pernah berada pada situasi begini, namun putra putri merekalah yang membuatnya kini terasa nyata.
"Mas ingin merujukmu kembali Aisyah. Maukah kamu menerima niat Mas ini?".
Aisyah terhenyak, sejenak ia menarik napas panjang. Semalam ia larut dalam sujud khusuk, memantapkan hati untuk melupakan dan benar-benar memilih mengakhiri pernikahan ini. Tapi kenapa kenyataan yang ia temukan justru membuatnya ragu.
Sungguh, ia tak ingin kembali tersakiti oleh Bara. Tapi, juga tak tega memusnahkan harapan ibu mertua?
Aisyah benar-benar tak ingin menyakiti hati ibu mertuanya.
Apakah berkorban kembali dan memberi kesempatan akan membuat Bara berubah? Pikirannya saling beradu.
'Ya Allah, bantulah hamba ....'.
"Bismillahirrahmanirrahim ... Semoga Allah melimpahkan kebaikan bagi kita semua, Mas," Aisyah kembali menarik napas sambil memejamkan mata sejenak.
"Baiklah Mas, jika memang Mas sangat ingin kembali pada Aisyah. Aisyah bersedia menerima kembali Mas Bara, tapi ada satu syarat yang harus Mas penuhi."
Semua mendelik seraya menatap Aisyah.
"Apa syaratnya Aisyah?"
"Jika kejadian serupa terulang kembali, maka ijinkan Aisyah mengajukan khulu."
Bara terhenyak dan segera memutar otak, sedang di sisinya mami nampak mengelus dada. Hanya berselang lima menit, Bara langsung mengemukakan pendapatnya.
"Baiklah Aisyah, Mas akan mengabulkan permintaanmu. Terima kasih karena kamu sudah mau memaafkan dan menerima Mas kembali."
"Alhamdulillah ...."
Serempak mami dan Pak Rahman mengucap tahmid tanda syukur. Raut bahagia tak dapat ditutupi dari keduanya. Pun demikian dengan Bara, lelaki itu terlihat amat lega. Hanya Aisyah yang nampak bimbang.
Benarkah yang ia pilih ini akan mengantarnya pada kebahagiaan?
Aisyah hanya bisa bertanya dalam hati, sembari berharap agar Allah tidak lagi membiarkan lelaki bergelar suami itu, terus membuatnya menangis sepanjang sujud.
***
Hari itu juga Bara dan Aisyah kembali ke rumah mereka. Aisyah tak menolak, kata rujuk yang diiyakannya otomatis menjadi syarat dimana Bara bisa kembali menentukan apapun dalam hidupnya.
Dua hari kembali serumah dengan Bara, Aisyah akui, lelaki itu terlihat lebih banyak berbicara, tersenyum beberapa kali dalam sehari, dan lebih peduli.
Namun, pada beberapa keadaan, Bara terlihat menahan marah hingga memilih pergi meninggalkan Aisyah. Salah satunya ketika Aisyah terlihat berias di malam hari. Pasti Bara memintanya untuk menghapus lalu menjauh dengan muka masam.
Aisyah mencoba kembali menguatkan hati dan bertahan, ia sangat tidak ingin kembali berpisah. Teringat olehnya, bagaimana ketika mereka rujuk dahulu, hingga kedua pihak orang tua terpaksa terlibat untuk menyatukan mereka.
Hingga suatu malam, malam ketiga puluh setelah mereka rujuk. Bara demam tinggi. Dia mengigau tak jelas.
Aisyah dengan penuh kesabaran menemani sepanjang malam. Mengompres, hingga bersedia menjadi selimut saat Bara memintanya dirangkul karena terus menggigil.
Hingga kata itu terucap, antara sadar dan tidak. Bara kembali mengigau dengan menyebut nama seorang wanita, tapi bukan dirinya.
"Alifa ...," sebutnya sambil mengeratkan tangan Aisyah yang melingkar di pinggang.
Tubuh Aisyah bergetar hebat, jantungnya hampir berhenti berdetak. Sakit, perih ia rasa sampai ke dasar hati. Ternyata Bara tak sepenuhnya melupakan Alifa.
"Saya Aisyah, Mas. Bukan Alifa," bisik Aisyah di telinga Bara. Air matanya perlahan kembali membasahi pipi.
Mendengar bisikan itu, Bara melepas tangan Aisyah yang tadi digenggamnya erat.
Aisyah tersentak.
'Ternyata kamu tak menginginkanku, Mas?'
Gadis itu beringsut perlahan.
'Saya sudah memberi Mas kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi Mas kembali mengulang kesalahan dahulu. Kini, tidak ada lagi alasan untuk saya bertahan, Mas. Saya akan mengajukan khulu padamu.'
*Bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar