Selasa, 21 Juni 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 22)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
AyuWahyuni
#Part 22

Kedua kaki Aisyah kini sudah menapak di depan kediaman Alifa. Jantungnya tak lagi tenang, sudah riuh sejak lima belas menit yang lalu.

Gadis itu sejenak kembali merenung dengan apa yang sudah ia perbuat kini, sudah benarkah yang ia lakukan? Dirinya tak ingin apa yang diyakini berbuah baik justru menjadi duri dalam daging.

Kembali Aisyah menarik napas panjang. Dilangkahkan kedua kaki dengan pasti memasuki pagar. Namun, netra gadis itu membelalak tatkala melihat sosok yang ia tunggu keluar dari rumah.

Sejenak kedua pasang netra kini saling berpandangan. 

Melihat Aisyah di depan rumahnya, Alifa tampak begitu terkejut, tapi tak urung menyunggingkan seulas senyuman.

"Aisyah?" sapanya lembut setelah jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah.

Aisyah mengatur napas.

"Bisa bicara sebentar, Mbak?"

***

Di bawah rindangnya pohon kenari, kedua gadis itu tampak sedikit canggung. Mereka saling memandang pada satu titik dengan perasaan campur aduk. Aisyah mengawali pembicaraan.

"Apa kabar, Mbak?"

"Baik, kamu gimana?"

"Alhamdulillah, saya baik, Mbak."

"Kira-kira apa gerangan yang menuntun kamu hingga sampai ke kampung ini?"

Alifa masih bertanya dengan nada santai, membuat Aisyah sedikit menoleh.

"Hanya ingin silaturrahmi sambil membawa sebuah tujuan, Mbak."

Seketika pandangan Alifa tertoleh mendengar jawaban yang keluar dari mulut Aisyah.

"Tujuan apa??"

Gadis yang nampak cantik dengan gamis tosca di hadapan Alifa, menyunggingkan senyuman.

"Saya ingin mengembalikan sesuatu yang sudah lama saya rebut dari pemiliknya."

Alifa mendelik, menatap Aisyah dengan penuh tanya.

"Mbak, Aisyah mohon, menikahlah dengan Mas Bara."

Sesuatu mengguncang tubuh Alifa.

"Apa maksud kamu Aisyah?"

Mereka kembali bersitatap.

"Saya melamar Mbak untuk menjadi istri dari Mas Bara."

Alifa mencoba tersenyum, meski dada teramat terasa sesak. Sedang di sisinya, Aisyah terlihat menundukkan wajah, tengah mengusap mata. Nyatanya, ia sedang belajar untuk tegar, walau sebenarnya rapuh. Air mata terus meluncur bebas dari pelupuk mata, beberapa kali Aisyah menyeka buliran itu. 

Melihat gadis yang yang duduk di sampingnya sesengukan, Alifa menggenggam jemari yang terkulai di atas kedua paha.

"Jika kamu mencintainya, maka jangan pernah kamu lepaskan."

Sesaat waktu terasa hening. Mereka larut dalam kedukaan.

"Menikah bukankah untuk mencari kebahagiaan, Mbak? Mencari penyempurna hidup. Tapi, cinta Aisyah tidak menjadikan hidup Mas Bara sempurna Mbak. Mas Bara tidak bahagia bersama Aisyah."

Alifa tampak terhenyak. Diwaktu bersamaan, Aisyah mengeluarkan cincin bermata berlian yang yang masih bertahta di jari manisnya. Lalu ia meraih jemari tangan Alifa, dan meletakkan cincin itu diatas telapak tangan yang kini terasa amat dingin.

"Cincin ini seharusnya menjadi milik Mbak Alifa. Tapi malah singgah di jemari saya selama setahun," ucapnya dengan sangat hati-hati.

"Mbak nggak bisa Aisyah ...."

Alifa berusaha mengembalikan cincin itu pada Aisyah.

"Jangan lagi membohongi diri, Mbak. Mas Bara masih sangat mencintai Mbak Alifa. Dan Aisyah tahu, Mbak pun masih sangat mencintainya. Aisyah mohon Mbak, jangan lagi berdusta. Atau kita semua akan saling menyiksa satu sama lain karena kebohongan itu."

Kedua bola mata Alifa tampak berkaca.

"Untuk apa kamu bertahan jika pada akhirnya hanya akan kamu lepaskan Aisyah?

Bertahanlah sejenak lagi, Mbak pastikan hati Mas Bara akan seutuhnya menjadi milikmu."

Aisyah menggeleng.

"Nggak Mbak, sudah cukup Aisyah menyiksa Mas Bara karena keegoisan hati ini. Tolong Mbak, terima Mas Bara jika suatu ketika ia datang menyatakan perasaannya."

Aisyah kini bangkit dari duduknya.

"Tunggu Aisyah, Mbak nggak bisa menyakiti perasaanmu. Perasaan Mami, Mas Faiz dan Nindy," ucap Alifa setengah terisak.

"Aisyah sudah ikhlas Mbak. Aisyah yakin, Mami dan yang lain pasti tidak akan menyalahkan kita. Bukankah saya dan Mas Bara sudah bertahan? Namun hingga detik ini, perasaan kami memang nggak bisa bersatu. Kami memang dipersatukan dalam satu rumah, tapi ada tabir yang membentengi kami untuk sekadar saling menyapa, Mbak. Aisyah lelah, Mbak. Aisyah ingin mencari kebahagiaan sendiri."

"Bersabarlah sedikit lagi, Aisyah.. Mbak yakin Mas Bara hanya butuh lebih banyak waktu untuk bisa mencintaimu."

"Tidak Mbak, setahun bukan waktu yang sebentar untuk seseorang belajar mencintai--"

Aisyah menahan ucapannya. Haruskah ia berterus terang bahwa selama pernikahan, bahkan Bara tidak pernah sekalipun mengecup bibirnya, apalagi untuk hubungan yang lebih intim dari itu.

"Hanya itu saja Mbak yang mau saya sampaikan. Setelah ini saya akan pergi, jauh. Dan jika suatu saat saya kembali, saya harap Mbak dan Mas Bara sudah dikaruniai banyak momongan."

Air mata Alifa tak lagi terbendung. Ucapan Aisyah benar-benar mengoyak bathinnya. 

Dua langkah Aisyah menuruni pondok tempat mereka duduk lesehan, langkahnya kembali terhenti. 

"Aisyah, maafkan Mbak ... maaf, karena kehadiran Mbak, rumah tanggaku berantakan ...."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mbak. Mbak nggak bersalah, kita hanya diharuskan menjalani takdir Allah. Dan dari semua ini, Aisyah belajar banyak hal, terutama tentang sabar dan ikhlas. Aisyah yakin, dibalik seetiap cobaan, pasti ada hikmah yang dapat kita ambil."

Gadis itu tak lagi menunggu. Langkah kembali tergerak. Air mata Alifa mengiringi kepergiannya. 

Jika kali ini Alifa dirundung rasa bersalah, maka hal sebaliknya terjadi pada Aisyah. Gadis itu kini benar-benar merasa lega, serasa ada berton-ton batu besar yang dipindahkan dari pundaknya. Sedemikian bebas jiwanya setelah mengungkapkan apa yang dia rasakan pada Bara selama ini.

Tak ada lagi air mata, hanya senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya. 

'Ya Allah, janganlah Engkau memurkai apa yang telah hamba putuskan. Hamba anggap ini adalah jawaban atas dosa hamba dihampir sepertiga malam selama perkawinan ini. Jagalah ia, bahagiakan ia dimana pun dirinya berada. Himpun ia dalam rumah tangga islami bersama wanita yang amat dicintainya. Dan beri hal sama bagi diri ini. Pertemukan hamba dengan lelaki shalih yang dapat mencintai hamba dengan sepenuh hati.'

***

Sudah lima belas menit semenjak kepergian Aisyah, Alifa masih memilih berdiam di tempat semula. Perasaannya bergemuruh hebat. Masih tak percaya dirinya pada apa yang baru saja diminta Aisyah padanya. 

"Menikah? Dengan Mas Bara?" 

Alifa menghela napas, dikumpulkan cukup kekuatan untuk melangkah masuk. Namun, sebelum kaki berhasil menuruni tempat duduknya, kedatangan sebuah mobil yang pemiliknya tak lain adalah yang menjadi buah bibir beberapa waktu tadi, membuat Alifa kehilangan kekuatan untuk bergerak.

Bara terlihat menuruni mobil, penampilannya berantakan, rambut kusut tak tersisir. Berbeda dengan biasanya, Bara terlihat kacau pagi ini.

'Beginikah kamu tanpa dirinya, Mas? Kau sudah lama mencintainya, tapi karena aku matamu tertutup.'

"Alifa, apa Aisyah tadi kemari?"

Bara bertanya dengan gegabah.

Dada Alifa terasa sesak, jelas terlihat dari sorot mata Bara, jika dia sangat mengkhawatirkan Aisyah.

"Iya Mas, Aisyah memang kemari tadi. Tapi lima belas menit yang lalu, dia sudah pergi."

"Berarti masih di terminal? Saya akan segera menyusulnya."

"Tunggu, Mas."

Bara menoleh sejenak.

"Saya akan kembali nanti, setelah masalah saya dengan Aisyah selesai."

Alifa hanya bisa menghela napas, membiarkan lelaki itu pergi dari pandangannya.

"Lihat Aisyah, jika saja kamu mau bertahan. Mas Bara akan menjadi milikmu seutuhnya."

Tak dapat disangkali, bahwa apa yang tersirat dari raut wajah Bara telah membuat Alifa cemburu. Tapi, bukankah ini yang dia inginkan?

'Kenapa aku harus cemburu? Ya Tuhan ....'

*** 

Bara terlihat seperti orang kebingungan, setiap loket pemberangkatan bus ia singgahi. Lelaki itu tampak begitu kecewa, karena yang ia cari tak jua ketemu. Aisyah tak ada di terminal itu.

"Kemana kamu Aisyah?" lirihnya pasrah. Ia kembali ke mobil, tak henti merutuki betapa bodohnya menjadi lelaki. Jelas ia secara sadar melamar Aisyah pada orang tuanya, tapi dengan semena-mena ia menghadirkan masa lalu dalam rumah tangga mereka.

Setahun, sebagai suami, ia telah menelantarkan Aisyah sebagai seorang istri yang sah. Ia justru hidup dengan membangun mahligai harapan bersama gadis masa lalunya. 

Kemana kewarasannya selama ini?

'Astaghfirullah! Aku sudah sangat berdosa padanya ... Akankah ia memaafkanku?'

Sedang di balik sebuah bangunan tua, seorang gadis tampak mengusap matanya. Tidak ada yang memerintah, buliran itu kembali tumpah ruah tatkala melihat kedatangan Bara di terminal itu.

"Maafkan aisyah, Mas. Aisyah nggak bisa membiarkan hati ini kembali mencintai, Mas. Kembalilah pada Mbak Alifa. Semoga kamu bahagia bersamanya, Mas."

***

Detik setelah kepergian Bara, terasa amat menyiksa bagi Alifa. Ia masih betah berlama-lama duduk di pondok di halaman rumahnya.

Matanya terus menatap ke jalanan. Berharap sosok itu kembali hadir sesuai janjinya tadi sebelum meninggalkan tempat itu.

Tak lama, harapannya menjadi kenyataan. Bara kembali, seorang diri.

"Bagaimana Mas, ketemu?" tanya Alifa setelah Bara berdiri dekat dengannya.

Lelaki itu menggeleng lemah. Tak sengaja matanya menatap sesuatu yang ada digenggaman Alifa.

"Kenapa cincin Aisyah ada di tangan kamu?"

Alifa terhenyak.

"Aisyah yang memberikannya, Mas. Dia meminta saya untuk--" 

Alifa memberi jeda pada ucapannya. Ragu, tapi ia kembali merangkai kalimat itu.

"Aisyah meminta saya menikah dengan Mas Bara ...."

Seketika itu tubuh sang lelaki bergetar. Pikirannya masih kacau. Dia masih meraba, apa yang diingin hatinya. Jika Alifa tujuannya, maka dia sudah mendapatkan semua itu. Tapi kenapa, sisi lain hatinya berkata bukan. Ada hal lain yang masih membuatnya resah.
 
"Lalu kamu jawab apa?"

"Saya bilang nggak bisa, Mas. Saya minta dia untuk bertahan beberapa waktu lagi. Tapi dia menolak."

Bara menghela napas.

"Kesalahan saya sudah sangat fatal. Saya telah melukainya terlalu dalam. Jika saja saya mendengar kata-katamu kemarin, mungkin saya tidak akan kehilangannya seperti hari ini."

Bara terduduk lemah.

"Saya yakin masih ada waktu, Mas. Berusahalah untuk menemuinya, lalu tunjukkan bahwa Mas benar-benar telah berubah. 

Bara kembali menatap Alifa. Andai ia bisa mengganti memori kepalanya. Ingin dia melakukan hal itu. Dua gadis dengan pesona yang berbeda, tak bisa ia pilih, apalagi untuk melepaskan.

Ia masih mencintai Alifa, tapi Aisyah? Ia tak mungkin menelantarkan gadis itu setelah semua yang ia lakukan selama ini untuknya. 

Pengabdian Aisyah? Tak ada satu manusia pun yang bisa seperti dirinya.

Lalu, apakah meninggalkan Alifa akan membuat hidupnya bahagia?

'Ya Allah ....'

"Pergilah, Mas. Bawa ia kembali ke dalam rengkuhan Mas. Lupakan saya, sampai kapan pun, saya tidak akan menikah dengan Mas Bara," ucap Alifa sambil menyerahkan cincin Aisyah.

Detik berikutnya, Alifa beranjak.

"Alifa ...."

Gadis itu berhenti sejenak, lalu ia kembali melangkah.

"Hidup dengan mengenang masa lalu, hanya akan menghancurkan kebahagiaan di masa depan. Ingat itu, Mas. Semoga Allah mempersatukan kita dengan jodoh terbaik kita, Mas."


Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...