Selasa, 21 Juni 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 24)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 24



Rasulullah SAW bersabda: "Siapa saja wanita yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas wanita tersebut".

***

Aisyah menyibak gorden yang menutupi jendela kamarnya, lalu merasakan embusan angin lembut membelai wajah. Sudah tiga tahun ia berada di kota itu, salah satu kota penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia, 'Lhokseumawe.'

Setelah sidang pengajuan khulunya diterima di Mahkamah Agung Jakarta Barat, ia dan seluruh keluarga memutuskan untuk kembali ke Aceh. Meski berjauhan, hubungannya dengan ibu mertua masih tetap terjaga. Bu Ningsih hampir tiap bulan menyempatkan diri memberi kabar.

Dan info terakhir yang Aisyah dapat, ternyata setelah kata talak sah terucap dari mulut Bara, lelaki itu terkena depresi berat. 

Hampir setahun mami menemani Bara melalui masa-masa sulitnya. Memasuki tahun kedua pasca perceraian, lelaki itu sudah terlihat lebih baik. Walau masih rutin mengikuti terapi EMDS untuk mencegah depresi ulangan.

Di tahun kedua itu pula, mami mengabarkan bahwa Nindy telah hamil setelah sekian lama menanti kehadiran buah hati. 

Dan yang paling membuat Aisyah tak mengerti dengan jalannya takdir Allah adalah kenyataan bahwa 'Alifa sudah menikah dengan lelaki lain di kampungnya.'

Jika mengingat hal itu, Aisyah tak henti mengucap istighfar. Teringat akannya sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam: "Ahbib ma ahbabta fainnaka mufariquhu, wa'isy ma syi-ta fainnaka mayyitun wa'mal ma syi-ta fainnaka mujziun bih...". 

Cintailah apa atau siapa saja, tapi sadarilah bahwa anda akan berpisah dengan semuanya itu, hiduplah sesuka Anda, tapi yakinlah bahwa Anda pasti mati. Dan berbuatlah sesuka Anda, tapi ingatlah bahwa Anda akan dapat balasan atas perbuatan Anda itu." (H.R. Al-Thabrani).

Bagaimana Bara begitu mencintai Alifa, hingga ia membiarkan seorang istri sah tak tersentuh bahkan hingga kata cerai terucap kedua kali.

"Sungguh benar yang pernah dipesankan oleh Umar bin Al-Khaththab r.a. Beliau berkata: “Wahai Aslam, janganlah rasa cintamu berlebihan dan jangan sampai kebencianmu membinasakan”.

 Aslam berkata: “Bagaimana itu?”.

Umar radiallohu anhu berkata : “Jika engkau mencintai seseorang, janganlah berlebihan seperti halnya anak kecil yang menyenangi sesuatu dengan berlebihan. Jika engkau membenci seseorang, jangan sampai kebencian menimbulkan keinginan orang yang kamu benci celaka atau binasanya”.

***

Aisyah memejamkan matanya, menyesapi nikmat udara yang sampai detik ini masih ia syukuri sebagai karunia terindah dari Allah.

"Maafkan kami ya Rabb, yang setiap saat bergelimpangan dosa ...," lirihnya dalam hati.

Sejenak pikirannya terlempar pada sesosok pemuda, berwajah oriental khas oppa Korea... Faiz Alfarisy.

Jika tiap kali memberi kabar melalui telpon, mami kerap membicarakan semua anak-anaknya. Tapi ada apa dengan Faiz, kenapa nama itu tak pernah menyebutnya?. Padahal Aisyah pun menaruh rasa penasaran, apakah pemuda itu juga sudah menikah. Jika sudah, apakah sudah memiliki momongan, berapa jumlahnya?.

Seketika Aisyah menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran akan mengingat seseorang yang haram untuk diingat.

Kenyataannya, Aisyah memang sengaja menjauh, mengganti nomor handphone, dan sangat menekankan kepada keluarganya yang di Banda Aceh untuk tidak memberi tahu keberadaannya pada siapapun. Termasuk jika suatu ketika Faiz bertanya.

Dan keinginan untuk menjauh dari dua lelaki yang pernah hadir di hidupnya itu memang terpenuhi seutuhnya. Hingga malam ini, untuk pertama kalinya nama pemuda yang kerap tersebut pada bentangan kedua tangannya, terdengar kembali di telinga Aisyah.

"Faiz titip salam buatmu, Aisyah...".

Jantung Aisyah tersentak kuat. Ia tak dapat menutupi rasa gugup yang mendera tatkala mendengar nama pemuda itu kembali disebut mami.

"Sekarang Faiz lagi ambil cuti dua hari untuk pulang ke Jakarta. Sekaligus mau menghadiri pernikahan--".

Ucapan wanita itu terpenggal.

"Mas Bara mau menikah lagi, Mi?".

Sejenak hening, wanita di seberang telpon ragu mengatakan hal sebenarnya. 

"Iya, Aisyah. Mami terus mendukung agar dia segera mencari pasangan, agar ada yang memperhatikan, dan tidak terus larut dalam depresi."

"Mas Bara nya gimana, Mi?. Apa juga sudah siap menikah?".

"Tadinya Mami juga takut, bakal keulang kejadian dahulu. Tapi Bara yang meyakinkan Mami. Lagipun sekarang, Bara sudah sangat sering berbaur dalam setiap kajian, pendalaman agamanya sudah lebih baik".

"Alhamdulillah kalau gitu Mi, semoga wanita itu menjadi jodoh dunia akhirat Mas Bara."

"Aamiin, terima kasih, Sayang."

"Boleh Aisyah tahu, siapa nama mempelai wanitanya, Mi?"

"Tentu Sayang, namanya Siska. Maafkan Mami ya Aisyah, sengaja Mami tidak mengundang kamu. Mami takut kamu kecewa ...."

"Astaghfirullah, Mi, tidak mungkin Aisyah kecewa. Justru Aisyah bahagia, karena Mas Bara sudah kembali mau membuka hati."

"Kamu mau bicara sama orangnya?" tanya mami membuat Aisyah sedikit deg-degan.

Sejenak ia menarik napas, ingin tapi entahlah.

[Assalamualaikum Aisyah ....]

Gadis itu memperbaiki posisi duduk, padahal ia belum menjawab iya pada mami, wanita itu sudah duluan memberikan ponselnya. Huh!

[Aisyah ....]

Deg!

'Ini bukan suara Mas Bara.'

[Waalaikum salam, Mas.]

Jantung gadis itu berdentum tak karuan. Bukankah tadi mereka sedang membicarakan Bara, tapi kenapa mami memberi ponselnya pada Faiz?

[Apa kabar Aisyah?]

[Mas Faiz?]

[Iya, ini saya Aisyah.]

'Alhamdulillah.' 

Entah kenapa gadis itu sangat bahagia, akhirnya kembali bisa mendengar suara Faiz.

[Apa kabar, Aisyah?]

[Baik, Mas. Mas Faiz sendiri, apa kabar?]

[Ehm ...]

Faiz berdehem pelan, mencoba mengusir kecanggungan. Nyatanya, mereka memang hanya berbicara di telepon. Tapi entah kenapa, serasa Aisyah ada di depannya. 

Tiga tahun ia mencoba menjaga perasaan, tak sekalipun menghubungi Aisyah. Padahal hati terus meronta. Terlebih saat ia tahu bahwa kakaknya sudah resmi menceraikan gadis itu.

Faiz berjuang menahan diri, tak ingin mengganggu Aisyah yang pastinya sedang dalam kedukaan. Tapi hari ini, saat kakaknya sudah kembali membuka hati, seakan ada yang menggerakkan batin pemuda itu. 

Semalaman ia tak bisa berhenti memikirkan Aisyah. Hingga puncaknya, ia memberanikan diri menyatakan pada mami akan keinginan untuk melamar gadis impian.

Faiz amat tercengang ketika melihat Mami yang tampak tenang menanggapi. Ternyata beliau sudah lebih dahulu tahu dari Roy. Sahabat Faiz itulah yang menceritakan semua duduk masalah. 

Dalam wejangannya Mami berpesan, bahwa tidak ada keharaman menikahi mantan kakak ipar. Tapi yang mami takutkan adalah putusnya kembali tali silaturrahmi karena perselisihan. Mami berharap penuh agar Faiz bisa bertanggung jawab pada perasaan dan keinginannya itu.

Berdebar dada Faiz ketika kini ia kembali mendengar suara Aisyah. Wejangan dan keijinan sang ibu, semakin membulatkan tekadnya.

[Aisyah ....]

[Ya, Mas.]

[Sudah lama Mas ingin mengutarakan hal ini, tapi Mas pendam sebab dirasa belum sampai waktunya. Tapi sekarang Mas rasa waktunya sudah tepat. Ijinkan Mas dengan segenap kerendahan diri menyatakan keinginan untuk melamarmu, menjadi istri Mas, Aisyah ....]

Gadis di ujung telpon terduduk ke atas ranjang. Benarkah yang ia dengar kini?

'Mas Faiz melamarku ya Allah?'

Seketika ia menundukkan diri, bersujud melangitkan syukur dan tahmidnya. 

[Aisyah ....]

[Ya, Mas] jawabnya dengan linangan air mata bahagia yang mulai mengenangi pelupuk.

Rasa harunya tak lagi dapat ia lukiskan. Syukur tak henti mengalir dalam batinnya. 

[Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak Mas kelak?]

Sejenak hening melingkupi keduanya. Aisyah tak tahu harus berkata apa. 

"Datanglah pada Bapak, Mas. Lamarlah Aisyah pada orang tua Aisyah," ucap gadis itu lirih, berusaha menutupi suara isak tangis bahagianya.

[Mas takut, Aisyah ....]

[Takut kenapa?]

[Mas takut Bapak nggak merestui.]

[Aisyah yang akan membantu Mas mendapatkan restu Bapak.]

[Benarkah? Alhamdulillah ... Mas langsung pulang malam ini, ya?]

[Lho, jangan Mas. Besok 'kan acara Mas Bara. Tinggallah sehari lagi. Yakinlah Mas, jika jodoh, kita pasti akan bertemu.]

[Iya. Aisyah. Mas ... Hihihi]

[Kenapa, Mas?]

[Nggak ada apa-apa.]

[Yaudah, Aisyah tutup telponnya ya, Mas. Sampaikan salam untuk Nindy dan Mas Bara.]

[Siap.]

[Assalamualaikum, Mas.]

[Waalaikum salam, Sa ...]

Aisyah menutup telponnya dengan rasa gembira yang tak lagi tertakar. Sedang di seberang, Faiz melengkapi kata yang diucapnya terputus.

"Waalaikum salam, Sayang."

"Ya Allah, Engkau persatukan kami setelah sekian lama mengubur rapat perasaan bernama cinta. Aku yakin, nyatanya kesabaran dan doa menjadi jawaban. Bahwa jodoh akan saling bertemu ketika cinta pada manusia tidak lagi menjadi yang utama. Tapi mencintai-Mu adalah tujuan cinta kami."

"Aisyah, lihatlah, cinta selalu punya caranya sendiri, mempertemukan yang terbuang, atau menyatukan yang hilang. Keharaman telah membuat kita saling mengubur cinta, menahan rindu atau membunuh suka. Tapi keberhasilan kita melenyaplah rasa itu, telah membuat Allah ridha. Mas percaya, cerita kita akan jadi cerita bersama saat kita bertemu. In Syaa Allah."



*Bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...