Mencari arti apa itu tawakal?
Saya mengambil satu artikel dari sebuah blog, dengan link seperti ini, izin share semoga artikelnya bermanfaat untuk saya pribadi, dan umumnya untuk pembaca yang berkunjung ke blog saya.
Sumber : http://ruly-islami.blogspot.com/2015/02/arti-tawakal-kepada-allah-swt-yang.html?m=1
Tawakal adalah menyerahkan segala sesuatu kepada Allah setelah berusaha dengan sunguh-sungguh. Sebagai contoh, si Fulan ingin lulus dalam ujian, dia selalu giat dan tekun dalam belajar. Setelah itu ia serahkan kepada Allah sambil berdoa agar ia lulus. Si fulan sadar akan kewajibannya bahwa ia hanya berusaha yakni dengan giat belajar. Adapun yang menentukan lulus atau tidaknya adalah Allah swt.
Apabila sudah berusaha dengan sekuat tenaga, tetapi masih gagal juga, maka kita harus bersabar. Bersabar tidak berarti berdiam diri, melainkan terus berusaha lebih giat disertai doa. Ketika suatu usaha atau pekerjaan belum dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, kemudian orang tersebut berserah diri kepada Allah, maka orang itu belum dikatakan sebagai orang yang bertawakal. Sebab orang yang bertawakal adalah orang yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Dalam QS. Āli ‘Imrān/3:159, Allah berfirman, yang terjemahnya sperti berikut:
“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” Berserah dirilah kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya niscaya Allah akan menolong kita. Hal ini dijelaskan dalam QS. Āli ‘Imrān/3: 160 yang artinya sebagai berikut:
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”
Hubungan Tawakal dengan Usaha
Tawakal kepada Allah bukan berarti menghilangkan dan meninggalkan usaha atau ikhtiar. Bahkan tawakal tidak sah tanpa adanya usaha. Rasulullah saw. adalah contoh orang yang paling bertawakal. Namun beliau selalu mengadakan persiapan dalam menghadapi sesuatu. Beliau memerintahkan kepada orang lain agar bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Orang yang tidak mau berusaha, ia tidak akan memperoleh sesuatu yang ia harapkan. Jika seseorang ingin sembuh dari penyakitnya, hendaklah ia berobat. Dalam hal ini Rasulullah menegaskan, “Hai manusia, berobatlah! Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali telah menyiapkan obatnya.”
Ada lagi sebuah riwayat,: Pada suatu sore ada seorang lelaki datang menghadap Rasulullah. Dia berkeinginan meninggalkan begitu saja unta kendaraannya tanpa diikat di depan masjid. Dia kemudian berkata, “Ya Rasulullah, aku harus mengikat unta itu ataukah bertawakal, atau meninggalkan begitu saja tanpa diikat kemudian bertawakal?” Rasulullah menjawab,
“Ikatlah, baru kemudian bertawakal!” (HR. Tirmidzi dari Anas bin Malik).
Tawakal tidak sah tanpa disertai usaha dan mengikuti sunah, serta aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah swt. Setelah berusaha baru kemudian berserah diri kepada Allah, menyerahkan segala perkara kepada-Nya dan tidak mengharapkan hasil apa pun kecuali dari sisi-Nya. Dalam QS. Hūd/11: 123, Allah telah menegaskan: “Dan milik Allah meliputi rahasia langit dan bumi dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia, dan ber-tawakallah kepada-Nya.” Suatu ketika Umar bin Khaththab melihat sekelompok orang yang salah sangka, bahwa tawakal itu meninggalkan segala usaha. Mereka meninggalkan bekerja, sehingga menjadi lemah dan malas. Umar kemudian berkata, “Mengapa kalian demikian?”Jawab mereka, “Kami bertawakal kepada Allah.”Lantas Umar berkata, “Kamu bohong, kamu bukan bertawakal, tetapi malas.”
Keuntungan Memiliki Sifat Tawakal
Banyak keuntungan yang dapat kita peroleh dengan memiliki sifat tawakal, antara lain:
Giat dan bersemangat dalam bekerja.
Senantiasa berserah diri kepada Allah swt. dengan berdoa.
Bersyukur jika mendapat kebahagiaan dan bersabar apabila mengalami kegagalan.
Terhindar dari sifat sombong karena keberhasilan itu bukan semata-mata hasil pekerjaan seseorang, tetapi atas kehendak Allah.
Tidak gelisah, tetapi selalu tenang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dari beberapa ulasan di atas, tentu kita dapat memperoleh pengetahuan tentang arti sebenarnya tawakal. Begitu juga kita ingin menjalani hidup ini dengan tenang dan sukses, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Nah, salah satu kuncinya adalah hayati dan amalkan sifat tawakal ini dalam kehidupanmu sehari-hari.
Penting: Ingatlah bahwasannya tawakal tidaklah hanya untuk menggapai kepentingan dunia saja. Tawakal tidak hanya guna meraih kemanfaatan duniawiyah atau hanya untuk menolak kesulitan dalam urusan dunia. Akan tetapi seyogyanya seseorang musti bertawakal mengedepankan urusan akhiratnya, demi meraih keridhaan Allah swt. Oleh karenanya seseorang harus juga bertawakal agar bagaimana tetap teguh (istiqamah) dalam keimanan, dakwah, dan perjuangannya membela agama Allah swt.. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Al Fawa’id mengatakan,
“Bahwa tawakal yang paling luhur adalah tawakal demi meraih atau untuk mendapatkan hidayah (petunjuk), tetap teguh berdasar tauhid dan tetap teguh dalam mentaati/mengikuti segala apa yang telah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan, serta jihad memerangi ahli bathil (para pejuang kebatilan)." Dan beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bahwa inilah tawakal yang para rasul telah lakukan dan para pengikut rasul yang utama."
Menjelang akhir tulisan, Kami dalam pembahasan ini akan menyampaikan salah satu faedah dari bersikap tawakal. Berupa dengan mengumandangkan kembali ayat Allah swt. Yang penuh keagungan dan kemuliaan (yang artinya) sebagaimana berikut: " Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaaq/ 65: 2-3). Imam Al-Qurtubi dalam kitabanya Al-Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan, “Siapa orangnya yang menyerahkan sepenuhnya urusannya kepada Allah, maka Allah pasti akan mencukupi apa yang menjadi kebutuhannya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah membaca ayat pada surah at-Thalaq tersebut kepada sahabat Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. berkata kepada Abu Dzar,
“Seandainya seluruh manusia mengambil nasihat ini, maka sungguh hal ini akan mencukupi bagi mereka.” Yaitu seandainya manusia benar-benar bertakwa dan bertawakal, maka sungguh Allah swt. akan mencukupkan urusan dunia dan agama mereka. (diambil dari sumber: Jamiul Ulum wal Hikam, hadis no. 49). Hanya Allah-lah yang bisa mencukupi segala urusan kami, tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya (hak) kecuali Dia. Hanya kepada Allah-lah kami bertawakal dan Dia-lah Penguasa (Rabb) ‘Arsy yang agung.
Antara usaha (ikhtiar) dan tawakal adalah satu paket. Mari Belajar dan berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu bertawakal!….itu!!!
Wallahu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar