AyuWahyuni
Part 19
"Dia masih coas Iz, namanya Salsabila. Anaknya santun, supel dan energik."
Faiz mengerling pada sosok gadis berjas dokter yang baru saja turun dari mobil jazznya. Dengan mengenakan rok hitam dan jilbab ungu, gadis itu terlihat modis dan berkharisma.
"Kedua orang tuanya dokter, kalau kata ulama sih, nasabnya bagus. Tinggal kamunya aja, Iz gimana ngedeketin mereka. Soalnya Salsabila itu anak perempuan satu-satunya. Keturunan ningrat pula. Tapi nggak ada salahnya dicoba. Siapa tahu kamu jodohnya."
Kata-kata Hasan Minggu lalu saat mengenalkannya pada Salsa kembali terngiang. Kini disinilah dia, di ruang tamu rumah megah milik orang tua gadis yang mulai memberi warna lain pada hidup Faiz.
"Diminum dulu Mas, teh melatinya."
Faiz mengangguk canggung lalu meneguk seteguk teh beraroma melati itu. Tak lama keluar seorang lelaki paruh baya dari dalam sebuah kamar.
"Itu Ayah, Mas."
Faiz berdiri dan menyalami lelaki tersebut dengan penuh hormat.
"Kamu yang namanya Faiz?"
"Iya, Pak."
"Kesatuan apa?"
"Reserse narkoba di Polda, Pak."
"Asli orang Aceh?"
"Bukan Pak, saya keturunan Jawa."
"Jadi di sini cuma penugasan atau penempatan?"
"Penugasan, Pak selama satu tahun."
"Jadi nanti balik lagi ke Jawa?"
"In Syaa Allah, Pak."
Berdebar jantung Faiz mendengar pertanyaan lugas yang diajukan oleh lelaki berperawakan besar itu. Sekilas ia teringat akan kisahnya dahulu ketika melamar Aisyah.
'Kenapa tiap kali berurusan dengan orang tua, selalu terasa bagai sedang disidang di tengah pengadilan mahkamah?'
Faiz menghela napas sambil mengatur degup tak menentu di dada. Matanya mencoba melirik ke sebelah lelaki yang kini tampak sibuk dengan gawai di tangan.
Salsa tersenyum menanggapi lirikan Faiz.
'Saatnya benar-benar move on. Bismillah, semoga kali ini diterima.'
"Waduh Nak Faiz, kebetulan saya ada jadwal operasi mendadak. Nak Faiz silahkan duduk sambil nikmati cemilannya, ya."
Faiz mengangguk sembari tersenyum. Penerimaan orang tua Salsa hari itu meninggalkan kesan baik di hati Faiz. Ia yakin, keinginannya kali ini untuk melamar Salsabila bakalan diterima.
Tapi, kenyataan yang ia terima sungguh menyakitkan. Setelah hari itu, ia merasa ada jarak yang membentang antara dirinya dan Salsabila.
Apakah ayah gadis itu tak merestui?
Karena semakin merasa dijauhi, sebab tiap kali Faiz mencoba menghubungi, selalu saja ada alasan Salsa menolak berbicara.
Maka hari ini, Faiz mengajak Hasan untuk kembali mempertemukannya dengan Salsa.
"Gimana pendapat orang tuamu Dik, tentang Faiz?"
Hasan mengawali pembicaraan. Dia duduk di sebelah Faiz yang langsung berhadapan dengan Salsa. Suasana cafe siang itu amat hening.
"Maafkan saya Mas Faiz. Sebenarnya saya ada rasa sama Mas, tapi ayah meminta saya untuk tidak memelihara rasa itu. Ayah mau saya bersuamikan lelaki pribumi, keturunan Teuku supaya garis keturunan kami tetap terjaga. Makanya saya menjaga jarak dengan Mas Faiz. Saya tidak ingin Mas Faiz kecewa dengan keputusan orang tua saya."
Faiz menghela napas mendengar penuturan Salsa. Dadanya terasa perih, sedang tubuhnya bergetar. Dua kali ia sudah berniat ingin serius membina hubungan, tapi kedua-duanya malah tak direstui orang tua pihak wanita.
Apa salahnya?
Faiz hanya tersenyum dan mencoba tegar.
"Tidak apa-apa, Dik. Berarti kita belum jodoh."
"Mas Faiz masih mau 'kan berteman sama Salsa?"
"Tentu."
Perasaan pemuda itu benar-benar kacau. Ia merenungi nasib, apa yang salah padanya. Selama ini, ia begitu menjaga diri perihal wanita dan jodoh. Ia tidak pernah menghalalkan trend pacaran yang berselimutkan ta'aruf, seperti kebanyakan teman-temannya lakukan. Dia jauh dari kata zina. Dari kecil hingga ia sedewasa ini. Tapi kenapa Allah tidak memudahkan jalannya mendapat jodoh?
'Astaghfirullah!
Faiz mengusap wajah, begitu menyesal karena telah melampiaskan kekecewaan pada Rabb-Nya. Hanya karena cinta, lalu lupa betapa karunia yang lain tak pernah henti mengalir.
Udara yang tiap detik ia hela, nikmat pandangan yang hingga detik ini masih terus diberi secara gratis, nikmat kekuatan pada kedua kaki. Semua itu, apakah sebanding dengan cintanya pada satu manusia?
Faiz benar-benat menyesal telah menangisi nasibnya. Ia.memutuskan untuk kembali kekosan. Namu, sebelum menanjak naik ke motor RX-King nya, gawai pemuda itu berdering.
'Pak Hasan?'
[Assalamualaikum.]
[Waalaikum salam, Nak Faiz. Bapak dengar dari Aisyah kamu sedang berada di Aceh, ya?]
[Nggih, iya Pak.]
[Wah, kebetulan sekali. Kalau ada waktu, singgah di Kampung Bapak hari ini, di Aceh Besar. Kebetulan ada acara nikahan anak sepupu saya.]
[Oh, tapi ini sudah sore, Pak.]
[Nggak papa, datang aja. Kasih tahu mereka kamu keluarga suaminya Aisyah di Jakarta, ya.]
[Baik, Pak.]
Faiz menutup telpon lalu duduk sejenak menimbang- nimbang.
Pemuda itu tersenyum, lalu melesat cepat dengan motornya menuju kampung Pak Hasan.
'Daripada di kos merana, lebih baik beramai-ramai di tempat pesta orang. Siapa tahu dalam waktu dekat, bisa mengadakan pesta sendiri,' racaunya dalam hati.
***
Suasana perkampungan yang tadi disebutkan alamatnya oleh Pak Hasan terlihat jauh berbeda dengan tempat tinggal Faiz kini di Kota Banda Aceh. Di Aceh besar ini, suasana pedesaan dengan hamparan sawah yang menghijau, mampu membius indera penglihatan untuk beberapa detik menatap tanpa ingin berkedip.
Ditambah kicauan burung yang mengalun menyuarakan masuknya petang, Faiz benar-benar seperti berada di alam yang berbeda.
Kedua netra pemuda itu tak lekang dari memperhatikan berbagai bentuk Rumoh Aceh yang mendominasi kampung itu dengan berbagai corak dan model.
Rumah adat dengan pondasi kayu berbentuk persegi panjang disertai tangga sebagai jalan masuk ke dalam rumah, masih menjadi pemandangan utama di perkampungan tersebut. Tidak ada pagar pembatas halaman, hanya tanaman yang dibentuk menyerupai pagar yang mambatasi antara rumah yang satu dengan rumah lainnya.
Setelah berhenti di sebuah kios untuk menanyakan alamat rumah keluarga Pak Hasan, Faiz kembali menjalankan motornya hingga berhenti pada sebuah lorong yang telah dipasang janur kuning sebagai penanda adanya pesta pernikahan.
Hanya berselang tiga rumah, pemuda itu bisa melihat bahwa di rumah keempat terpasang dua buah tenda dengan kursi berwarna hijau. Kursi-kursi itu masih tersusun rapi walau nampak kosong. Pertanda bahwa acara sudah selesai. Hanya satu dua orang yang masih tersisa, duduk-duduk sambil membersihkan sisa-sisa sampah.
Faiz mendekati lelaki yang tengah mengelap meja sambil melipat kain alas meja tersebut.
"Assalamualaikum," ucanya sopan.
"Waalaikum salam."
"Benar ini alamat keluarganya Pak Hasan?".
Dua lelaki itu menatap heran, dilihatnya Faiz dari kepala hingga ujung kaki. Pemandangan yang tak biasa, pemuda bertubuh tegap dengan pistol menyembul dibalik baju kemeja yang sedikit terangkat.
"Bapak ada perlu apa kemari?", tanya salah satu dari mereka, seakan tahu jika Faiz adalah seorang polisi.
"Saya salah satu keluarga besarnya beliau yang di Jakarta. Saat ini sedang tugas di Kota Banda aceh," jawab Faiz santai.
"Sebentar biar saya tanya ke dalam dulu."
Lelaki itu berlari ke dalam rumah menaiki anak tangga. Tak lama ia keluar bersama seorang wanita.
"Nak Faiz?".
Wanita itu menyapa dari kejauhan. Faiz sedikit terhenyak, ia tak mengenali wanita tersebut.
"Hasan tadi sudah telepon kasih tahu kalau adik ipar Aisyah mau bertamu. Ayo masuk ke dalam Nak," ajak wanita itu sambil membarengi jalan Faiz.
Halaman rumah itu jadi ramai kembali, beberapa warga terdekat mulai mengerumuni rumah keluarga Pak Hasan. Terutama yang gadis-gadis, satu persatu mulai berdatangan karena heboh ada pemuda Jakarta yang datang ke rumah tersebut.
Faiz disambut tak biasa oleh keluarga Pak Hasan. Ia dilayani layaknya pengantin baru. Berbagai hidangan di angkat menggunakan talam ke hadapan Faiz. Ditemani pengantin lelaki, ia melahap berbagai masakan khas Aceh yang dihidangkan untuknya.
Kuah sie Itek (kuah daging bebek), kuah pliek (sayur dari patarana), telor bebek asin, engkot keumamah, udang tumis, telor balado, semua dicicipi Faiz tanpa ketinggalan.
Terakhir pemuda itu meneguk juz timun sebagai penyeimbang kadar darah.
Wanita bernama Salimah kini terlihat mengambil ponselnya. Lalu dia menelpon seseorang.
[Assalamualaikum Hasan.]
[Waalaikum salam, Kak Ima. Pue katrok adik ipar Aisyah keunan u rumoh?] (Apa sudah sampai adik ipar Aisyah ke rumah?)
[Ka, Bang. Kalheuh ji pajoh bue saree. Aisyah Hoka, lon neuk peugah haba siat?] (Sudah, Bang. Sudah makan pula. Aisyah mana? Saya mau bicara sebentar.)
[Jeut] (Baik.)
Pak Hasan berjalan keluar kamar menuju kamar Aisyah. Gadis itu baru saja sampai ke rumahnya tadi malam. Pak Hasan begitu terhenyak, saat mendapati anaknya pulang seorang diri ke rumah tanpa ditemani suami, terlebih itu waktunya sudah tengah malam.
Ada apa sebenarnya yang tengah terjadi pada rumah tangga putrinya? Pak Hasan belum mendapatkan jawaban dari Aisyah. Tapi biar begitu, ia tahu satu hal, anaknya sedang tidak dalam keadaan baik.
"Aisyah, Makbitmu menelpon, apa kamu mau bicara?"
Aisyah yang tidur berbalik menghadap jendela seketika membalikkan badannya.
"Mana telponnya, Pak?"
Gadis itu beringsut menghampiri sang ayah.
Dan lelaki itupun memberikan ponselnya.
[Assalamualaikum Makbit?]
[Waalaikum salam. Aisyah, apa kabar?]
[Baik Makcik. Makcik sehat?]
[Alhamdulillah Makcik sehat? Kamu hamil? Kok bengkak gitu wajahnya?]
Aisyah terdiam, matanya berkaca. Apa yang harus ia katakan pada semua orang? Tentu menyandang status janda sedang usia perkawinan belumpun melewati angka satu, pastinya sangat memalukan bila diumbar pada orang lain.
[Belum, Makcik.]
Aisyah tak berani jujur.
[Aisyah, ada adik iparmu di rumah kami. Kemarin pas di Jakarta Makcik nggak terlalu perhatian Syah. Rupanya that tari lageu (cukup tampan), that sopan (sopan), si Rini ka jatuh cinta ie ke Faiz, kiban Syah?( Gimana Aisyah?)]
Aisyah terdiam sejenak, entah kenapa tiba-tiba ia merasa takut.
[Cocok Makcik, Kak Rini kan tamatan AKBID, cocok sama Faiz. Sama-sama abdi negara.]
[Kalau gitu, coba tanyain ya, Syah. Udah punya calon belum, kalau belum coba kamu jodohin, ya.]
Aisyah kembali bergeming sejenak, hatinya bagai ada yang merambat perlahan. Perpaduan rasa sakit, kecewa, dan takut. Aisyah menelan saliva.
[Ya Makcik. Nanti Aisyah tanya.]
[Syah,ngomong bentar sama Faiz ya.]
[Eh Mak---]
Belum sempat Aisyah menolak, wanita itu sudah mengarahkan ponselnya pada Faiz?
"Siapa?" tanya Faiz pelan saat benda pipih milik Salimah mengarah ke hadapannya.
"Aisyah?"
Faiz terhenyak mendengar nama gadis yang belum sepenuhnya menghilang di jiwanya itu tersebut kembali. Beberapa detik ia menatap layar yang sedang menyala itu tanpa menyentuh.
"Ini ambil, bicara sebentar."
Dengan bergetar ia meraih ponsel itu.
"Assalamualaikum, Aisyah."
"Waalaikum salam, Mas Faiz."
Suara Aisyah bergetar, Faiz yang punya kepekaan segera dapat membaca situasi gadis itu.
"Aisyah, kamu kenapa?"
Aisyah menarik napas, menahan isak yang sudah keduluan terdengar.
"Aisyah ...."
Tut!
Gadis itu mematikan ponsel milik ayahnya. Ia berhamburan kembali ke atas ranjang. Air mata turut membersamai. Ia ingin bercerita, tentang nasib hidupnya. Tentang usahanya yang tak berbuah hasil. Tentang keinginannya membangun rumah tangga hingga ke Jannah yang telah gagal.
Pada siapa? Aisyah malu menceritakannya pada siapapun.
Sedang di seberang sana, Faiz tampak galau. Ia mengembalikan ponsel Makcik Aisyah, lalu mengeluarkan ponselnya dan kembali menelpon gadis itu.
Beberapa panggilan berlalu, Aisyah tetap tak mengangkat.
'Kamu kenapa Aisyah?'
Saat tengah sibuk membaca keadaan Aisyah, wanita tadi kembali bersuara.
"Malam ini menginap di sini semalam 'kan?'
Faiz membelalak dan hendak menolak.
"Alhamdulillah, siapkan kamar buat tamu dari Jakarta."
Perintah Salimah pada saudaranya yang lain.
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar