Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 14)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 14

Aisyah menatap sosok yang kini berdiri dipintu teras rumahnya. Ada kekecewaan yang mencoba menguasai hati. Nyatanya, sosok ini telah menjadi sebab kenapa Aisyah tak hadir saat ibunya mengembuskan napas terakhir. 

Tapi, tak jua dapat ditutupi, kelegaan saat melihat sang suami dalam keadaan sehat, tak kurang satu apapun.

Aisyah berjalan perlahan mendekati sosok itu. Saat ia meraih tangan suaminya untuk ia cium seperti biasa, diwaktu itu pula tubuhnya tersungkur ke lantai.

Sudah terlalu lama ia bertahan, kini bukan saja jiwanya yang lemah. Tubuhnya pun tak mampu lagi memendam segala rasa.

"Aisyah!"....

Teriakan Bara masih terdengar di telinga gadis itu. Sebelum semua, benar-benar gelap.

***

Sudah satu jam Aisyah pingsan. Bara terlihat tenang menunggui didalam kamar. Sedang Faiz terlihat mondar mandir keluar masuk rumah. Selalu menjadi tempat Pak Rahman meminta tolong, entah itu untuk membentang terpal, bahkan hingga membeli keperluan pemakaman.

Tepat jarum merah berdetak di angka dua belas, sedang jarum pendek berada di angka sebelas. Kedua netra kecoklatan milik Aisyah terbuka perlahan. Gadis itu memandang nanar pada langit-langit kamar, lalu menarik wajah ke arah samping. Masih serupa bayangan, ia melihat seseorang duduk sambil membaca buku di atas meja belajar miliknya.

"Mas Faiz ....".

Ia mencoba memanggil sosok yang sedang membaca itu. Sosok itupun bangkit mendekat. 

Aisyah mengerjap, memperjelas pandangan.

Lelaki yang tadi ia panggil berjalan mendekat.

"Kamu sudah sadar, Aisyah?" tanya lelaki itu  sambil mengelus pucuk kepala Aisyah.

"Mas Bara ...."

.

"Iya, ini saya. Maafkan Mas karena pulang terlambat. Mas, merasa amat bersalah padamu ...."

Lelaki itu menatap lekat manik sang istri yang kini tampak berkaca. Tak ada genggaman tangan, atau pelukan layaknya pasangan lain jika meminta maaf untuk sebuah kesalahan besar.

Hanya kata ...

"Jangan menangis ...."

Hanya itu?

Air mata Aisyah semakin deras mengucur, dua perasaan, kecewa-lega, tak mau menyingkir sama sekali. Ingin ia menanyakan alasan, kenapa sampai mematikan ponsel. Tapi ia lupa cara memanjakan diri pada seorang lelaki yang sudah bergelar suami.

Tok ... Tok ...

Suara ketukan pintu kamar membuat keduanya terhenyak.

"Aisyah sudah sadar, Bara?"

Maminya muncul dari balik pintu.

"Alhamdulillah, sudah Mi."

Mami melangkah memasuki kamar dengan raut lega. Masih di tempat yang sama, setelah mami Bara melangkah maju. Sosok yang sedaritadi dipertanyakan benak Aisyah, tampak berdiri gagah.

Faiz!

Aisyah segera menundukkan pandangannya. Tanpa ia perintah, buliran bening kembali mengembun membasahi pipi.

'Ya Allah, kenapa hati ini masih terikat pada mencintainya? Kenapa selalu Engkau hadirkan dia disaat hamba dalam kesedihan, kenapa kesempurnaan itu Engkau beri padanya, bukan pada suamiku?'

"Kamu baik-baik saja anakku, yang sabar, ya. Mami tahu gimana perasaanmu. Tapi kamu harus kuat, harus ikhlas."

Pandangan Aisyah kembali tertuju pada Bara, entah kenapa ia ingin orang yang menyemangatinya bukan yang lain, melainkan suaminya sendiri. Tapi seolah menutup mata hati, setelah kehadiran mami. Bara memilih duduk kembali di kursi baca.

'Apa kau tak mencintaiku, Mas. Jangan abaikan aku disaat aku membutuhkanmu ...."

Faiz memerhati keadaan dalam kamar dengan seksama.

'Yang sabar, Syah. Aku memang tak tahu persis apa yang membuatmu menangis, mungkin karena kepergian ibumu, atau karena kakakku yang tak punya hati itu. Kamu hanya harus yakin, Syah, semua indah pada waktunya. Allah takkan membiarkan air matamu keluar sia-sia, pasti Ia akan segera merubah segalanya.'

Faiz menghela napas panjang, ingin ia menghampiri. Tapi tak mungkin. Beberapa hati ini, kentara sekali ia mendapati perubahan sikap Aisyah padanya. 

'Semoga Mas Bara segera melupakan Alifa, dan belajar mencintaimu Aisyah. Sebagaimana engkau terlihat sangat mencintainya.'

Faiz melesat jauh dari rumah duka. Berlama di tempat itu hanya akan membuat jiwa perempuan dalam dirinya meronta.

Ia memilih berhenti pada sebuah kios kecil pinggiran jalan. Hatinya berperang hebat!

'Katanya sabu bisa membuat lupa diri, tapi candu sabu membuat lupa Allah!'

Faiz menggeleng-gelengkan kepalanya. Bodoh jika patah hati membuatnya ingin mencecapi barang laknat itu! 

"Minta rokoknya satu bungkus, Mang."

Lelaki pemilik kios itu menyerahkan sebungkus rokok.

"Mancisnya, Mang."

Lelaki itu kembali mengulurkan mancis.

"Ini uangnya, kembalian ambil aja buat beli gadis kecil itu mainan," ucap Faiz sambil melirik gadis kecil yang sedang bermain tanah di pinggir kios.

Kini ia kembali menaiki mobilnya. Pemuda itu memilih bergeming sejenak. Wajah Aisyah saat menanti kedatangan Bara terngiang-ngiang dalam benaknya. Sambil pikiran diajak melambung jauh, tangan Faiz tergerak untuk menyalakan sebatang rokok yang baru ia beli tadi. 

"Belum pernah aku mencobanya. Tapi ini nggak haram, hanya makruh!" lirihnya pelan.

Ia mulai menyalakan batang rokok itu. Tarikan pertama, terasa ada yang mencekik lehernya. Bukan karena asap yang mengandung Nikotin dan Tar. Melainkan cintanya untuk Aisyah! 

Semakin kuat ia menghapus, semakin sakit terasa di dada!

Faiz menghentikan menghisap rokok pertama seumur hidupnya. Lalu dia ... menangis.

***

Satu minggu terasa amat cepat berlalu. Faiz sudah bersiap dengan pakaian kebanggaan SAMAPTA lengkap dengan baretnya.  Hari ini dia dan beberapa personil lainnya akan diberangkatkan ke Aceh selama setahun.

Faiz mematut diri di depan cermin, beberapa waktu lalu sempat frustasi dan memilih lari pada sebatang rokok!

Mengingat hal itu, ia ingin menertawai diri. Harusnya saat frustasi, aku menyibukkan diri dengan Al Qur'an, mengulang hafalan dan mendalami tafsirnya. Setelah istikharah walau hanya semalam ia mantap untuk mencari pengganti Aisyah. 

Semoga saat kembali ke Jakarta, ia bisa membawa pulang nama calon menantu untuk maminya.

Ia meraih tas ransel, lalu beranjak ke lantai bawah. Semua sudah siap mengantar Faiz ke bandara. Ada mami, Nindi, juga Bara. 

Mana Aisyah?

"Aisyah kemana? Nggak ikut mengantar?" tanya mami sebelum menaiki mobil yang akan dikemudikan oleh Bara.

"Aisyah kurang sehat, Mi. Tadi Bara suruh Aisyah istirahat biar nggak sakit."

"Oh, yaudah."

Faiz menghela napas, sejujurnya ada kecewa yang mendera hati. Ingin rasanya ia berpamitan pada gadis itu.

'Semoga kamu selalu sehat Aisyah.'

Ia kembali menggerakkan langkahnya, namun entah kenapa netra pemuda itu diajak melirik jendela kamar kakaknya di lantai dua.

Benar atau salah, dia dapat melihat gadis itu, bersembunyi di balik gorden untuk melihat kepergiannya. Faiz tersenyum. 

'Selamat tinggal Aisyah."

Sedang di kamarnya, Aisyah menyeka sebulir bening yang menetes di sudut mata.

'Selamat jalan Mas Faiz. Semoga Allah selalu melindungimu.'

Aisyah kembali membuka selembar kertas. Semalaman ia menulis sebuah surat terbuka pada Allah.

Bismillahirrahmanirrahim...

Aku bersyukur pada-Mu Rabb, karena sampai detik ini Engkau masih mengaruniakanku dan dirinya nafas. Aku tahu, semua hanya untuk satu tujuan, semakin mendekatkan diri pada-Mu.

Maafkan aku ya Rabb, sempat memabukkan diri pada cinta yang salah. Aku pasti telah membuat-Mu marah, marah karena memandangnya dengan ratapan cinta, marah karena setitik sentuhan padahal tak halal untuk disentuh. Marah karena membiarkan lamunanku penuh akan bayangannya.

Maafkan aku ya Rabb...

Tapi kini, aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik dari-Nya. Yang tidak pernah mengantuk dan Tak Pernah Tidur. Yang siap terus menerus Memperhatikanku dan Mengurusku. Yang bersedia berduaan di sepertiga malam. Yang siap Memberi apapun yang kupunya. Engkau yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.

Ijinkan kupersembahkan cinta ini hanya pada-Mu, ya Rabb. Ampuni aku, berikan aku kebaikan, sebagaimana siapapun tak berkuasa memberi kecuali atas kehendak-Mu.

***

Aisyah menutup surat cintanya untuk Allah, sedang tangan ia gunakan untuk menyapu mata.

'Aku percaya, jika kita mendekati Allah, Allah akan mendekatkan kita pada hal baik. Jangan berharap cepat. Karena semua akan indah jika telah sampai waktunya. Kamu harus meyakini itu, Mas Faiz.'



Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...