Karya Ayu Wahyuni
Part 16
Tepat pukul setengah delapan malam, Pak Surya menelpon meminta agar Bara dan Aisyah ikut acara bakar ayam yang dibuat lelaki paruh baya itu di depan villanya. Dengan semangat Aisyah memilih baju terbaik diantara beberapa baju yang ia bawa.
"Ini bagus nggak, Mas?".
Aisyah memperlihatkan sebuah gamis yang sudah melekat di tubuhnya. Bara hanya melihat sekilas sambil mengangguk. Lalu ia kembali asyik dengan gawai di tangan.
Aisyah menghela napas. Padahal ia menyuruh Bara untuk menilai bukan saja karena ingin lelaki itu melihatnya memakai gamis terbagus yang ia punya, tapi karena malam ini ia memutuskan untuk memoles listip pada bibirnya.
Tapi, jangankan menilai, dilihatpun sekejap mata.
'Sedingin itukah kamu padaku, Mas?'
Kecewa pada sikap suaminya, Aisyah segera mengambil tissu lalu membasahkan benda itu dengan air. Digosok-gosok kasar bibirnya hingga bekas merah jambu yang terlukis indah itu terhapus tak bersisa. Lalu ia membuka lemari.
Sebelum tangannya berhasil mengeluarkan sebuah gamis lainnya, terlebih dahulu Aisyah kembali menatap Bara. Berharap lelaki itu tersadar karena grasak grusuknya seorang diri.
Semakin sesak dada Aisyah melihat lelaki lelaki itu tetap asyik dengan gawainya. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera membuka pakaiannya. Ia bahkan tak lagi ragu-ragu melakukannya di depan Bara. Toh, lelaki itu tidak akan melihat.
Aisyah kemudian mengambil sebuah gamis yang warnanya sudah sangat pudar. Lalu ia mengenakan gamis terburuk itu pada tubuhnya.
Emosi yang membuncah diikuti tabuhan jantung yang riuh berdetak, membuat napas Aisyah tiba-tiba terengah-engah. Ia mencoba menarik napas, menstabilkan kekacauan yang sedang melanda jiwa. Sejenak gadis itu merasa badannya begitu tak bergairah.
Aisyah mendudukkan kembali tubuhnya di samping Bara. Mungkin karena amarah serta berselimutkan kekecewaan yang luar biasa, hingga membuatnya semangatnya yang tadi membara kini hilang entah kemana.
"Sudah siap?",tanya Bara saat mendapati istrinya terduduk dalam kebisuan.
Aisyah bergeming.
"Lho, kok pakai baju yang itu, kamu nggak bawa baju yang lain?"
Aisyah menatap tajam ke dalam bola kelam sang suami.
Kecewa, ternyata benar Bara tak menggubris saat tadi ia memperlihatkan dirinya mengenakan baju terbagus.
'Apakah ponsel itu lebih kau senangi daripada melihat aku, istrimu, Mas?'
Tak sanggup melempar mata terlalu lama, Aisyah memutuskan untuk berbaring.
"Lho, kok malah tidur?"
"Aisyah, nggak enak badan, Mas," jawabnya setelah memalingkan wajah ke arah tembok. Suaranya bergetar, betapa kecewa yang ia rasa sudah memenuhi seluruh ruang dalam hatinya.
"Yah, padahal tadi 'kan kamu teramat bersemangat."
Aisyah memilih bergeming, tengah mencari cara melawan rapuhnya diri karena suaminya.
"Ya sudah, kalau kamu nggak enak badan, biar Mas aja yang pergi. Kamu istirahat saja, ya," ucap Bara sambil menepuk-nepuk telapak kaki Aisyah.
Sejenak hening. Mereka sesaat seperti berada dalam ruang hampa udara.
"Mas pergi dulu, Pak Surya sudah mengirimkan wa."
Aisyah hanya mengangguk.
Bara mulai merasa ada yang berbeda dengan istrinya. Tak pernah Aisyah membiarkannya keluar rumah tanpa mengecup punggung tangan. Malam ini, jangankan mengecup, memandangnya pun tidak.
Bara menggeleng- gelengkan kepalanya. Tak ingin membiarkan hatinya tersentuh kembali oleh sesuatu yang bernama cinta.
Mencintai manusia, hanya akan membuat kecewa. Ia tak akan membiarkan penyakit itu kembali menguasai dirinya. Cukup Alifa saja yang sudah membuat hidupnya sengsara.
Tidak untuk yang lain.
'Alifa?'
Bayang gadis itu kembali melintas lalu di ingatannya. Kembali ia rasakan perih menghujam dada.
***
Tanpa Aisyah, Bara tetap memutuskan untuk ikut pada acara bakar ikan. Tersebab acara inilah ia ada di villa tersebut. Oleh sebab itu, apapun rintangan yang menghadang. Ia tak boleh mengabsenkan diri pada undangan Pak Surya.
Suasana malam tampak begitu meneduhkan jiwa, Bara yang baru saja menjejakkan satu langkah di luar rumah, dapat merasakan energi positif pada dirinya. Yang tadi moodnya dibawah rata-rata, seketika menjadi meningkat bersemangat.
'Andai Aisyah ikut?' batinnya berkata pelan.
Ia teruskan langkah hingga sampai pada villa Pak Surya. Di sana, terlihat beberapa keluarga sudah berbaur pada karpet yang dibentang lesehan di atas rumput.
Setelah sampai di dekat pemanggangan. Matanya langsung beradu dengan lelaki paruh baya yang mengajaknya ke villa itu.
"Alhamdulillah, Nak Bara sudah hadir. Nyonya dimana?" tanya lelaki paruh baya itu dengan sedikit guyonan.
"Sedang kurang sehat, Pak. Jadi nggak bisa ikut bergabung.
Pak Surya menghentikan kegiatannya dan mengajak Bara duduk di sebuah kursi.
"Istrimu sedang hamil?", tanya lelaki itu santai, dibukanya kulit kacang lalu mengarahkan dua butir isinya ke dalam mulutnya.
Bara menggeleng. "Hanya tidak enak badan, Pak."
"Oh, Bapak kira hamil."
"Belum, Pak...".
Bara mencoba bersikap biasa, meski jujur hatinya seperti ada yang menyentak saat mendengar kata hamil.
"Bara, apa kamu tahu, wanita itu pandai sekali menutup perasaannya demi menjaga perasaan suaminya?".
Bara mendelik.
"Maksud saya, adakalanya, wanita itu sangat menginginkan sesuatu. Tapi karena ia melihat suaminya belum mampu, atau sedang tak sehati dengan keinginannya. Maka ia memilih diam atau berbohong."
Bara semakin tak mengerti dengan maksud perkataan Pak Surya.
"Saya yakin istrimu tidak sakit. Dia hanya berpura-pura sakit. Ada hal yang ia ingin sampaikan padamu, tapi mungkin karena tak ingin kau membatalkan hadir di acara saya, dia harus berbohong dan mengatakan bahwa dirinya sedang tidak enak badan."
Bara menghela napas panjang. Ia teringat akan gamis yang dikenakan Aisyah. Sepertinya kata-kata Pak Surya benar. Aisyah sengaja menutupi perasaannya agar dirinya bisa tetap hadir di acara ini.
"Kembalilah padanya, tanyakan apa keinginannya padamu."
Bara tersentak.
"Jagalah hati istrimu. Karena nabi pernah bersabda, "Sebaik-baik diantara kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluargaku.(HR. Ibnu Majah).
Sesuatu membuat tubuh Bara tergerak.
"Terima kasih, Pak. Saya minta maaf karena tak dapat hadir di acara puncak Bapak ini."
"Sudah, jangan risaukan. Aku hadiahkan liburan ini, untukmu berbulan madu bersama istrimu. Nikmatilah, semoga setelah ini, akan ada zuriyah yang kau tanamkan di rahim istrimu."
Bergetar hati Bara mendengar keinginan Pak Surya, sama dengan harap haru maminya di rumah. Tapi bagaimana, mampukah ia melakukannya dengan wanita selain Alifa.
Dengan perasaan tak menentu Bara kembali ke rumah. Ia tak langsung menuju kamar, tapi memilih duduk merenung sejenak di ruang tamu. Sekiranya telah habis waktu satu jam berlalu, barulah akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menaiki lantai dua.
Dibukanya pintu perlahan. Ia melihat Aisyah masih tidur dengan menghadap ke arah dinding.
"Assalamualaikum," ucapnya lembut.
Aisyah tergerak.
'Benar saja, Aisyah tidak tidur. Matanya pun bengkak, apa dia baru saja menangis,' batin Bara bergumam penasaran.
"Mas Bara sudah pulang?"
Bara mengangguk dan memilih duduk di samping Aisyah yang sudah terlebih dahulu memposisikan dirinya untuk bangkit.
"Aisyah, Mas ingin bertanya sesuatu."
Aisyah terhenyak. Lalu duduk dengan baik menghadap suaminya.
"Mas mau nanya apa?"
Bara menarik napas sejenak.
"Sebelum memutuskan menikah dengan Mas, apa kamu pernah mencintai lelaki lain?"
Aisyah merasa sekujur tubuhnya bergetar, pertanyaan Bara sejenak melempar kembali ingatannya pada Faiz.
Aisyah mengangguk.
"Boleh Mas tau siapa orangnya?"
Lagi-lagi Aisyah terdiam beberapa detik. Bara sudah pernah menanyakan hal ini. Dan saat itu Aisyah memilih berdusta. Apakah malam ini ia harus kembali menutupinya dari lelaki itu?
"Aisyah akan jujur Mas, tapi perlu Mas ketahui bahwa semua itu adalah masa lalu. Dan Aisyah pun sudah tidak lagi ingin mengingatnya."
Bara semakin lekat memandang sang istri. Membuat Aisyah harus menunduk dalam saat ingin mengeluarkan suaranya.
"Pemuda yang pernah singgah di hati Aisyah adalah adik Mas Bara sendiri, Mas Faiz."
Bara sedikit terhenyak mendapati kejujuran sang istri. Lelaki itu menghela napas berat lalu ia merebahkan kepala di atas pangkuan Aisyah.
"Ijinkan Mas tidur di sini, Aisyah. Sebentar, saja."
Mata lelaki itu basah. Aisyah tak dapat menggambarkan retak hatinya ketika mendapati sang suami menangis dalam pangkuannya.
"Maafkan Mas Aisyah ...."
"Maaf untuk apa, Mas?"
Bagaimana kecewanya ia pada Bara tadi, tapi itu tak akan berlangsung lama. Aisyah tetap berjiwa besar memaafkan suaminya.
"Mas bukan lelaki terbaik untukmu."
Aisyah tak kuasa lagi membendung tangisnya. Ia biarkan setetes demi setetes buliran itu merembes dari pelupuk matanya. Lalu jatuh mengenai wajah Sang suami.
"Mas yang terbaik, buktinya Aisyah memilih Mas Bara?" ucapnya dengan suara bergetar menahan isak.
Bara memandang sorot sayu yang dipenuhi guratan merah yang kini telah berurai air mata.
"Tapi Mas tidak bisa memenuhi kewajiban Mas sebagai seorang suami," isakan lelaki itu semakin jelas terdengar.
Aisyah mengulurkan tangan mengusap wajah suaminya.
"Kenapa tidak, Mas?"
Sesaat hening, seolah Bara kehabisan kata untuk menjawab. Jiwanya benar-benar tak lagi dapat dibacanya dengan baik. Kala ia berusaha sekuat tenaga menghapus wajah Alifa, tapi semakin jelas bayang dan rasa buat gadis itu bertahta di hatinya.
"Maaf Aisyah, Mas belum bisa melupakan sosok Alifa dalam hati Mas.
Deg!
Dunia Aisyah gelap gulita. Tak ada tempatnya lagi bertahan, ia hampir terjerembab ke dalam lembah terpekat di dunia.
"Inikah alasanmu tak pernah menyentuhku sebagai istri sahmu, Mas?. Tapi kenapa harus Alifa? Ya Rabb ....".
Aisyah tak dapat lagi dapat berkata, suaranya tertahan di tenggorokan. Sedang Bara, usai memporak-porandakan dunia Aisyah. Ia tak lagi mampu menatap wajah gadis itu.
Dia sadar, ucapannya barusan pasti telah memusnahkan segala angan Aisyah berumah tangga bersamanya.
Kini Bara membalikkan wajahnya menelungkup di paha sang istri. Ia sudah sangat rapuh tersebab perasaannya terhadap wanita.
Aisyah yang mendapati suaminya menangis sesengukan, hanya bisa mengelus pelan rambut tebal yang ingin sekali ia miliki pemiliknya.
Dengan segenap kebesaran hati, ia mencoba memberika jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Tak mengapa jika ia harus berkorban, asal keutuhan rumah tangganya bisa terpelihara. Karena bagi Aisyah, setelah menikah, yang tidak ingin sama sekali ia terima adalah perceraian.
"Tidak apa-apa, Mas. Aisyah akan menunggu Mas siap melakukannya. Kapanpun itu".
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar