Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 18)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 18
Ayu Wahyuni

Bara telah menuruni mobil, Aisyah yang masih shock dengan mimpinya memilih duduk sejenak sambil membaca situasi. Detik berikutnya, langkah gadis itu pun turut tergerak.

Tak lekang dari matanya setiap apa yang dilakukan Bara. Mengingat mimpinya bercerai dari sang suami, membuat gadis itu merasa teramat takut. 

Tapi, jika mengingat pengabaian yang diberikan Bara padanya, sungguh ia ingin mengakhiri semua.

Aisyah kembali menghela napas saat mendapati sang suami dengan langkah cepat memasuki kamar dan tak peduli dengan dirinya. Mungkin jika Aisyah memilih tidur di mobil, itu akan terasa lebih baik untuk Bara. 

Gadis itu kembali sadar bahwa Bara memang bersama dengannya di rumah itu, tapi tidak dengan hatinya. Seseorang telah membawa pergi hati lelaki itu.

***

Bara terbangun setelah satu jam merebahkan tubuh di atas ranjang. Dipandanginya Aisyah begitu lekat. Sesuatu amat dalam menusuk dada. Bukan tak tahu ia perihal signal rindu dan cinta yang dikirimkan Aisyah untuknya. Tapi untuk apapun, ia tak bisa membalas perasaan Aisyah. Hatinya masih terlalu dalam mencintai Alifa.
Digerakkan tangan menyentuh pucuk kepala sang istri.

"Maafkan Mas, Aisyah. Sudah lama kamu berjuang seorang diri, sedang Mas selalu mengacuhkanmu siang dan malam. Kenapa kamu harus memberi Mas pilihan yang begitu menyakiti dirimu sendiri. Andai Mas bisa mengakhiri semua ini, kamu takkan terlalu lama terluka."

Bara merebahkan kembali tubuhnya dengan membelakangi Aisyah. Sesaat hening, dengan susah payah ia mengelola perasaannya agar tak terlalu memikirkan Alifa, terutama disaat malam begini. Disaat ia sudah merebahkan tubuh di sisi sang istri. 

Sedang di sampingnya, ternyata dua bola mata milik Aisyah kembali terbuka. Rupanya gadis itupun tidak juga tertidur meski sudah melalui satu jam di kamar itu dalam keadaan terpejam. Ia mampu mendengar lirihan yang keluar dari mulut lelaki itu.

Perasaan hatinya saling berdebat, sisi yang satu selalu mendengungkan kata sabar, mengingatkan bahwa perceraian adalah tindakan yang mendatangkan bala serta kebencian Allah. 

Sedang sisi yang lain memberinya pilihan agar menyerah dan melepaskan.
Aisyah terguncang. Begitu sakit untuk dipendam terlalu lama seorang diri. Sekilas ia teringat pada sebuah kisah para shahabiyah di masa Rasulullah, pernikahan dua orang shalih-shalihah Zaid bin Haritsah dan Zainab binti Jahsy. 

Keduanya adalah orang terdekat Rasulullah. Zaid bin Haritsah adalah seorang budak yang kemudian dijadikan sebagai anak angkat Rasulullah. Sedangkan Zainab binti Jahsy merupakan anak dari bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muthalib.

Keduanya menikah karena perintah Allah, yang turun dalam firman surat Al Ahzab ayat 36. Zainab yang semula terus menolak, namun karena ketaatannya pada Allah dan Rasul, akhirnya menyetujui untuk menikah dengan Zaid. 

Namun, pernikahan mereka hanya bertahan satu tahun. Zaid meminta ijin kepada Rasul untuk bercerai dari Zainab. 

Tidak seperti Khadijah dan Rasulullah yang ditakdirkan Allah terus bersama meski perbedaan strata terlihat begitu jelas diantara keduanya. Zainab tidak bisa menerima perbedaan strata antara dirinya dengan Zaid sang suami. Zainab tidak mampu melihat hal-hal yang baik pada diri Zaid. Apabila Zaid ingin mendekatinya, Zainab menjauh darinya. Apabila Zaid berbicara kepadanya dengan lemah lembut, Zainab menjawabnya dengan keras. Hal itu lah yang membuat keduanya tidak bahagia menjalani biduk pernikahan.

Ketika Zaid meminta kepada Rasul untuk bercerai, Rasul menyuruh agar Zaid bersabar. Hingga pada akhirnya Rasulpun mengijinkan Zaid bercerai setelah turun perintah dari Allah.

Di balik gagalnya pernikahan Zaid bin Haritsah dan Zainab binty Jahsy, Allah memberikan ganti kepada keduanya pasangan yang lebih baik. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa Zainab menikah dengan Zaid atas dorongan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga ketika menunggu masa iddahnya berakhir, Allah menurunkan perintah kepada Rasulullah agar menikah dengan Zainab melalui malaikat Jibril dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 37-39.

Sedangkan Zaid bin Haritsah menikah dengan mantan budak dan pengasuh Rasulullah, Ummu Aiman. Keduanya dianugerahi anak yang luar biasa dan juga salah satu sahabat kesayangan Rasulullah, Usamah bin Zaid.

Aisyah merenung dengan cepat, lalu bertanya pada diri sendiri, jika benteng dalam diri suaminya tak mampu ia runtuhkan, haruskan ia bertahan?. Apakah kesabarannya akan berbuah bahagia?. Bagaimana jika sebaliknya, mereka terus berada dalam keberasingan dan saling menyakiti perasaan?.

Aisyah tak mampu menjawab. Hanya air mata yang kian berderai seolah menjadi penghibur hatinya begitu gundah.

***

Tahajud Aisyah kini lebih panjang, waktunya disepertiga malam bertamu pada Sang Khalik menjadi moment paling ia nanti. Di atas sajadah, dengan dua tangan terbuka, air mata menjadi saksi. Betapa harapannya pada Allah agar segera memberi jalan keluar terbaik, bagi masalah dalam rumah tangganya. 

Hampir genap setahun, ia bertahan. Bahkan kesuciannya menjadi bukti, betapa Bara sang suami tak pernah ingin menyentuhnya sama sekali.

Malam ini, genap setahun pernikahan mereka. Aisyah telah mempersiapkan semuanya, brownies cokelat, nasi goreng istimewa, ditemani dua gelas jus poligami. Aisyah menanti kepulangan sang suami di meja makan. 

Pakaian yang ia kenakan tak biasa. Sengaja ia membeli gamis bercorak pelangi dengan hijab warna pink muda. Tak lupa lipstick, perona pipi, celak dan maskara. Semakin menawan dengan aroma bunga Seulanga khas Aceh yang diberikan makciknya saat pernikahan dahulu.

Sudah satu jam ia menunggu di kursi tamu. Bara belum juga pulang. Aisyah terus melempar pandangannya keluar rumah melalui jendela, berharap sosok yang dinanti segera tiba. 

Tapi, hingga pukul setengah dua belas malam, lelaki itu tak jua kunjung datang.

Aisyah mengeluarkan ponsel, tadi selepas magrib dia sempat menelpon, Bara mengatakan bahwa ia akan pulang selepas isya. Gadis itu berpikir, tak ada salahnya menghubungi kembali.

Tuuuttt!

'Nomor yang anda tuju, sedang berada di luar jangkauan. Silahkan tinggalkan pesan atau menghubungi beberapa saat lagi.'

Aisyah menghela napas. Lalu dia menyandarkan kepalanya pada sofa. Perlahan, kelelahannya menanti sang suami bertemu tempat ternyaman. Alam tidur.

"Aisyah."

Gadis itu membuka mata, sesuatu menyentuh pipinya dengan lembut.

"Mas Bara? Maaf Mas, Aisyah ketiduran."

Bara terlihat menghela napas. Pandangannya intens menatap gadis yang sudah resmi menjadi istrinya semenjak setahun yang lalu.

"Berhentilah seperti ini, Aisyah. Mas tidak mau kamu terluka lebih lama".

Aisyah terhenyak. Dadanya sesak mendengar tutur sang suami.

"Hari ini kita genap setahun, Mas," ucapnya dengan mata yang mulai kembali dipenuhi cairan.

"Aisyah ...."

Bara amat menyesali kenapa dirinya terperangkap pada rasa cinta yang salah. Tak sanggup lagi menahan, sebulir bening meluncur lebih dahulu dari pelupuk mata lelaki itu.

"Maafkan Mas Aisyah, Mas menyayangimu. Tapi Mas tidak bisa mencintaimu, Aisyah."

Gadis itu menghela napas berat. Serasa sesuatu mengantam tubuhnya kuat.

"Mari kita akhiri pernikahan ini, Aisyah. Kamu berhak bahagia, kamu berhak mendapat cinta dan kasih sayang dari orang yang begitu mencintaimu. Dan orang itu bukanlah Mas Aisyah. Maafkan Mas Aisyah."

Detik itu juga Aisyah merasa lututnya goyah, pijakannya runtuh. Bahu gadis itu berguncang pelan.

"Mas menceraikan Aisyah?" 

Dia bertanya dengan suara bergetar.

Bara mengangguk. "Iya Aisyah, maaf. Mas tak ingin kamu terluka lebih lama. Mas menceraikan kamu."

Aisyah mengatup mulutnya dengan kedua tangan. Isakannya kini terdengar, lalu secepat kilat ia berlari ke dalam kamar.

"Inikah jawabanmu ya Allah?".

Dia mulai memasukkan bajunya kedalam koper. Sesekali tangan kanan menyeka air mata yang sudah menganak sungai membasahi wajah.

Tak lama pintu kamar terbuka. Bara muncul di balik pintu itu dengan wajah tak karuan. Perpaduan rasa bersalah dan penyesalan. Tapi ia tak ingin menahan kebahagiaan gadis di hadapannya.

"Maafkan Mas Aisyah. Mas hanya ingin kamu bahagia."

Dengan penuh luka ia menjawab kata suaminya.

"Aisyah mengerti Mas. Aisyah juga sudah memaafkan Mas Bara. Sekarang ijinkan Aisyah pergi dari rumah ini."

Cepat gadis itu segera mengangkat koper berisi pakaiannya ke luar kamar.

"Mas yang akan mengantarmu pulang."

"Tidak usah Mas, Aisyah akan pulang sendiri," ucapnya sambil menghentikan langkah sejenak.

"Kembalilah pada Alifa, Mas. Jika bersamanya Mas bahagia, Aisyah rela."

Bara kembali menatap wajah gadis di hadapannya.

"Aisyah ....".

Seulas senyum duka terukir di wajah gadis itu.
"Selamat tinggal, Mas. Terima kasih untuk waktu yang tak sebentar ini. Aisyah bersyukur, walau pada akhirnya kita memutuskan untuk berpisah."

Langkahnya kembali tergerak. Bara tidak tahu harus bagaimana bersikap. Ia pada akhirnya membiarkan gadis itu pergi. 

***

Ada kalanya kita harus bertahan dan berjuang. Namun, ada suatu waktu dimana kita harus menyerah dan ikhlas. Mencintai itu tidak cukup dengan tidak melukai yang dicintai. Tapi juga harus sabar saat dilukai oleh yang dicintai. (KH Baha'uddin Nursalim)

'Semuanya sudah kulewati, dan kini waktu untukku berbahagia.'

***

Sementara itu, di belahan bumi yang lain. Faiz tampak mondar mandir di depan kamar kosannya. Pemuda itu melirik jam di dinding. Sambil membuka kaos oblong ia menelungkupkan tubuh di atas ranjang, lalu memukul-mukul kepala pada bantal.

"Aisyah, romantisnya cintamu dengan Nabi. Dengan Baginda kau pernah main lari-lari. Selalu bersama, hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah."

Ia bernyanyi sambil bersiul-siul. Entah kenapa malam ini ia merasa tak tenang. Pikirannya yang sudah lama hampir sempurna menghapus jejak Aisyah, kini seakan kembali diminta untuk mengingatnya.

Ia membalikkan tubuhnya perlahan. Sembari menatap lampu pada langit-langit kamar yang dikelilingi rumah laba-laba.
"Sudah hamil belum ya, dia?"



*Bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...