Selasa, 12 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 20)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Ayu Wahyuni
Part 20

Bara memukul setir, emosinya membara tatkala melihat Alifa baru saja turun dari sebuah motor yang dikendarai oleh seorang lelaki. Matanya bak elang membidik mangsa, jika tak pikirkan posisinya saat ini, sudah ia layangkan sebuah bogem ke wajah lelaki kurus itu.

Bara masih menanti. Selepas kepergian lelaki yang mengantar Alifa, ia segera turun dan menghampiri gadis itu.

Dengan cepat ia menyambar tangan Alifa yang hendak memasuki pagar.

Alifa terhenyak. "Mas Bara?"

Bara memandang tanpa berbicara. Tatapannya tajam menusuk lawan.

"Lepas Mas, sakit!"

Alifa berusaha melepaskan tangannya, namun sia-sia. Genggaman tangan Bara pada tangannya terlampau kuat.

"Siapa dia?"

"Siapa?"

"Yang tadi ngantar kamu?"

"Apa urusannya sama Mas?"

"Kamu sekarang milikku, aku sudah bercerai dari Aisyah!"

"Apa?"

Kedua bola mata Alifa membulat. "Bercerai? Kenapa, Mas?"

"Mas mencintai kamu Alifa. Setahun Mas memendamnya, Mas mencoba mencintai Aisyah dengan sepenuh hati. Tapi tetap nggak bisa! Mas ingin kembali padamu!"

Alifa menghela napas. Matanya terasa menghangat, sungguh lelaki itu masihlah yang amat ia cintai. Tapi demi apapun, ia takkan bisa menerima kembali Bara dalam hidupnya. Terlebih jika apa yang tadi diucapkannya benar. Menceraikan Aisyah.

"Berhentilah mengejar Alifa, Mas."

"Nggak akan pernah Alifa? Tolong, menikahlah denganku, Alifa."

Sesaat hening. Kedua pasang bola mata itu saling bertatapan dalam luka.

"Alifa nggak bisa, Mas. Kembalilah pada Aisyah, dia adalah istri yang terbaik untuk Mas Bara. Biarkan Alifa memilih jalan bersama orang lain, Mas ...."

"Takkan pernah Mas biarkan!"

"Kenapa Mas keras kepala! Jika Mas begini, aku akan membenci Mas Bara seumur hidupku!...", bentak Alifa sambil menghempas lengan Bara dengan tangan kirinya.

Bara terhenyak. Dadanya terasa sesak, jantungnya seakan hendak berhenti berdetak.

Sedang disisi lain, Alifa terlihat membalikkan tubuh setelah terlepas dari genggaman Bara. Ia mengerjap beberapa kali, agar air mata yang mengenangi pelupuk mata, tak berjatuhan di hadapan lelaki itu.

"Saya akan menikah, Mas."

Deg!

Bara mengangkat wajahnya.

"Yang tadi Mas lihat, dia adalah calon suami saya". Alifa membalikkan kembali badan menghadap Bara: "Jadi berhentilah mengejar Alifa, Mas. Rujuk dan bahagiakanlah istri Mas sendiri."

Tanpa memperpanjang perkataan, Alifa seketika berhamburan ke dalam rumahnya. Sedang masih di tempat itu, Bara seperti baru saja kehujanan batu es dari langit. Hatinya hancur berantakan, cintanya kandas sudah.

Ia mencoba meraba, bertahan dengan rasa sakit yang terus menghujam dada. Sesaat lelaki itu kesulitan menarik napas. Pikirannya benar-benar kacau. Detik itu juga ia kembali ke Jakarta. Ia butuh menenangkan perasaannya yang tak karuan.

Sedang dalam rumah Alifa.

"Mana Rifki, Alifa?"x sapa sang nenek begitu Alifa muncul di pintu kamar.
"Sudah kembali ke pangkalan ojek, Nek".

"Kamu bilang nggak sama dia, kalau besok pagi suruh antar nenek ke rumah Kang Sapta?"

Alifa mengangguk.

"Nenek ucuma takut dia lupa, Nduk. Soalnya dia 'kan ojek terlaris",

Alifa menghela napas. Ia terpaksa membohongi Bara, agar lelaki itu berhenti berharap bisa hidup bersama. Alifa memang masih mencintai Bara, dan tak sedikitpun berniat mencari pengganti lelaki itu. Tapi ia tak ingin menyakiti hati Aisyah, hati mami, hati Faiz juga Nindy. Ia ingin mereka semua bahagia, terutama Bara. Alifa ingin Bara menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mengerti akan kedudukannya sebagai suami dalam sebuah rumah tangga.

Bukankah tak perlu cinta untuk menikah? Bahkan jika menikah melulu mengedepankan cinta, bagaimana jika nanti pasangan tersebut sudah tidak seperti yang kita temui diawal pernikahan, bagaimana jika setelah sekian lama menikah pasangan menjadi lebih gemuk, kelihatan tua, tak secantik dulu, lantas sang suami bisa mencari pengganti lain karena sudah tak cinta lagi?

Lebih dari itu, pernikahan adalah tentang tanggung jawab terhadap Allah. Bukankah berjodoh tidak harus dengan seseorang yang kita cintai. Tapi mencintai jodoh kita adalah sebuah keharusan dalam sebuah rumah tangga. 

Alifa yakin, jika ia keras. Pelan Bara akan belajar melupakannya secara utuh. Dan akan belajar mencintai Aisyah dengan ikhlas, tidak hanya pada ucapan. Tapi dengan sepenuh hati.

***

Gemerlap lampu diskotik membuat mata elang lelaki berkemeja putih itu silau. Ia menutup telinga saat pertama kali menjejak di dalam ruangan pengap penuh lautan manusia yang terlihat minim busana. 

Belum pernah sekalipun dalam hidupnya ia memberanikan diri membaur dalam syurga dunia yang penuh kemaksiatan tersebut. Tapi hari ini, ia sudah tidak tahu lagi kemana harus membawa perasaannya. 

Lelaki gagah itu menenggak wine beraroma strawberry yang disuguhkan dalam gelas kecil ke hadapan. Matanya menyipit sedang bibirnya mengerut saat merasakan perpaduan asam, sepet, manis, hingga asin menyatu dalam satu minuman yang ia teguk barusan.

Tandas satu gelas. Ia merasa kepalanya amat ringan. Ia mendorong gelas kecil itu kembali pada writers. Tak ayal, lelaki di hadapan Bara kembali menuang wine merah dalam gelas.

Bara menuang isi dalam gelas keduanya seteguk dalam mulut. Mendadak, penglihatannya mulai samar, perut terasa mual. Bara menghentikan menenggak minuman itu. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya.

"Mau saya temani, Mas?"

Bara mengangkat wajah. Dimata lelaki itu, wanita di hadapannya adalah Alifa. Ia merangkul wanita itu.

"Alifa ...."

"Oh, yaudah, saya temani di tempat lain ya, Mas," ucap wanita itu sambil memapah Bara. Ia membawa Bara pada sebuah kamar yang ada di bagian belakang discotik.

Wanita itu lalu merebahkan Bara yang sudah setengah sadar ke atas ranjang. Dengan licik ia membuka pakaian lalu mengelus lembut rambut tebal yang dimiliki Bara.

***

Ini adalah malam kedua setelah dirinya berpisah dari Bara. Aisyah masih menanti lelaki itu datang menjemput, atau setidaknya menelpon.

Entah, sepertinya Aisyah masih berharap rujuk atau mengutarakan apapun untuk menenangkan gundah gulananya setelah memutuskan pergi dari rumah. 

Malam itu, ia sadari, talak yang diucapkan Bara membuatnya begitu terguncang. Tanpa pikir panjang, ia memutuskan untuk pergi. Padahal Allah melarang seorang istri yang ditalak oleh suaminya untuk keluar dari rumah, sebagaimana yang tersebut dalam surat Ath-Thalaq:1 :

"Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.”

Aisyah tampak tak tenang. Seharian ia mematikan ponsel tersebab ia tak ingin semakin terpuruk karena Faiz terus saja menghubunginya. 

Sekarang ia berniat menghidupkan kembali benda pipih itu. 

Aisyah ingin menghubungi Bara. Merendah dan meminta maaf tak akan mengurangi derajat seorang manusia di hadapan Allah. Tak mengapa jika di hadapan manusia kita terlihat hina, karena jika kita benar dan sesuai syariat, maka ada Allah yang akan 

mengangkat derajat kita kelak.

Aisyah mulai menghidupkan ponselnya. Beberapa pesan dari Faiz masuk, gadis itu mengabaikan.

Ia mencari nomor Bara untuk dihubungi.

***

Wanita dengan rambut merah bata itu meraih dompet Bara. Lalu ia membuka benda tersebut. Seketika matanya membelalak menatap rupiah yang nangkring indah dalam saku tengah. 

"Alifa ...."

Bara terus memanggil nama Alifa sambil menangis.

"Diam! Lemah banget jadi laki lu!" teriak wanita itu ke wajah Bara.

Setelah ia menghitung jumlah rupiah yang ada di dalam dompet Bara, ia mengambil semua lembaran itu lalu memasukkan ke dalam dompetnya. Saat hendak beranjak dari kasur, tangannya berhasil diraih oleh lelaki itu.

"Alifa ...."

"Sinting, frustasi nyebut Tuhan! Ini wanita lu panggil, tambah sinting lu!"

"Alifa ...."

"Huh!"

Wanita itu mendesah sebal. Lalu menatap Bara.

"Tampan juga sih."

Wanita itu kembali ke atas ranjang.

"Sebenarnya aku udah nggak boleh melayani siapapun, karena penyakit pada alat kelaminku sudah parah. Aku hanya perlu uang untuk menghidupi anak haramku. Tapi, karena kamu sangat butuh belaian, aku akan sedikit mengulurkan waktuku," wanita itu berhenti berucap, lembut ia mengelus pipi Bara yang kelihatan seperti orang kebingungan, "Jangan salahkan aku jika nanti kamu dan istrimu akan mengalami penyakit yang sama."

Ia tersenyum sinis. Saat hendak melancarkan aksinya, tiba-tiba ponsel Bara yang masih di saku celana berdering.

Dengan malas wanita itu beringsut dan meraih ponsel Bara. Ditatapnya layar yang sudah menyala itu.

'Aisyah.'

'Pasti istrinya, tapi daritadi ia memanggil nama Alifa. Apa dia lelaki beristri dua?'

Wanita itu mengangkat telpon Aisyah dengan penuh tanya.

[Hallo]

Aisyah terhenyak mendapati seorang wanita mengangkat telpon Bara. Batinnya kembali terasa sesak. Pelupuk matanya pun kembali digenangi cairan.

[Assalamualaikum.] Ucapnya lembut.

[Waalaikum salam.]

Aisyah menarik napas dalam. 'Jadi benar Mas kamu ke rumah Alifa?'

[Maaf, Mbak Alifa---]

[Saya bukan Alifa]

Aisyah terhenyak.

[Lalu anda siapa?]

[Saya Iren, suamimu sedang bersamaku sekarang. Dia mabuk, aku yang sudah menyelamatkannya. Dan kini dia aku letakkan di sebuah kamar di Club ******.]

[Apa dia baik-baik saja, Mbak?]

Aisyah merasa jantungnya berhenti berdetak saat tahu keberadaan Bara kini. Sekujur tubuh pun ikut bergetar menahan kecewa.

[Sangat baik Mbak, aku belum menyentuhnya. Dia hanya sedang fly. Untung saya yang menemaninya, jika wanita lain, mungkin mereka sudah check in.]

Lagi-lagi, Aisyah mengelus dada mendengar penuturan wanita itu.

[Bisa Mbak sebutkan alamatnya, biar saya menjemput.]

Wanita itu tertawa keras.

[Kamu pasti wanita berkerudung besar 'kan? Namamu saja Aisyah. Sebaiknya kamu jangan kemari, atau kamu akan dikerjai lelaki hidung belang di sini.]

Aisyah terdiam. Jelas dia tidak berani ke tempat haram seperti itu.

[Mbak tenang saja di rumah, saya akan menaikkan suami Mbak ke dalam taksi. Sebutkan alamatnya dimana.]

Aisyah memberi tahu alamat rumah ayahnya dengan suara serak. Sedikit saja ia naikkan intonasi, maka jelas sudah terdengar isakan nya ke seberang sana.

[Uang yang ada di dalam dompet, semuanya buat aku ya Mbak. Sebagai ganti rugi karena telah menjaga suami Mbak.]

[Baiklah, Mbak. Silahkan diambil saja, tapi tolong pastikan supir taksi mengantar suami saja sampai ke tempat]

[Oke, jangan khawatir.]

Setelah telpon terputus, Aisyah menangis dalam diam. Betapa ia amat menyesali apa yang sudah terjadi pada suaminya. 

'Ya Allah, apa yang seharusnya hamba lakukan kini? Hamba salah ya Allah, telah meninggalkannya. Andai bisa mengulang, aku ingin kembali ke malam itu, nggak akan kuangkat kakiku walau selangkah hingga masa iddahku habis. Ampuni hamba ya Allah ....'



BERSAMBUNG
[29/3 11:54] +62 813-7834-7019: *#Aku Mencintai Istrimu, Mas*
Part 21



Aisyah masih menanti di ruang tamu, detik kini terasa begitu lambat merangkak.

'Bagaimana jika wanita itu berbohong? Dia tidak jadi membantu Mas Bara pulang, justru membiarkannya menghabiskan waktu semalamam di discotik, bersama wanita-wanita yang lain?'

'Bagaimana jika ada wanita berpenyakit yang mencoba menggoda? Bukankah orang mabuk nggak sadarkan diri? Diajak melakukan sesuatu, pasti mau? Lalu bagaimana jika sampai wanita itu mengajak Mas Bara---?'

Aisyah tak tenang dalam duduknya. Berbagai pertanyaan melintas lalu di benak. Sebentar-sebentar ia bangkit, menyibak gorden sambil menatap ke luar pagar. Berharap Bara bisa segera sampai ke rumahnya. Tapi setengah jam berlalu, yang ditunggu tak jua nampak.

Memasuki menit ke empat puluh lima, Aisyah terhenyak saat mendengar deru mobil yang berhenti di depan rumah. Segera ia bangkit membuka pintu.

Tampak oleh kedua netranya, Bara menuruni taksi sambil dibantu oleh supir. Kini mereka sudah memasuki halaman rumah. 

Aisyah berdiri kaku, tulang belulangnya serasa lunglai, bahkan tak kuasa lagi berjalan. Melihat lelaki yang pernah mengijab qabul namanya itu awut-awutan setengah sadar. 

Berbicara ngawur dan terus menyebut nama 'Alifa.'

'Kuatkan hati ini ya Allah.'

Di atas teras ia menyambut Bara lalu memapahnya masuk ke dalam rumah.

"Alifa? Mas mencintaimu Alifa ....'

Bara terus mengucap kalimat yang membuat daging gadis itu seakan dikupas dengan paksa. Sakit tak berperi, andai bisa ia ganti dengan nyawanya, maka akan ia lakukan demi tidak lagi merasakan sakit yang demikian kuat.

"Siapa Aisyah?",

Ayah Aisyah keluar dari kamarnya dan terlihat kaget saat mendapati Aisyah memapah seorang lelaki. Gadis itu hanya mematung tak menjawab.

"Bara? Sini Bapak bantu."

Kini lelaki paruh baya itu mengambil alih tugas Aisyah untuk memapah dan membawa Bara ke dalam kamar putri sulungnya. Setelah merebahkan Bara untuk berbaring di atas ranjang, lelaki itu memangg Aisyah untuk berbicara di luar kamar.

"Selama Bapak mengenal Bara, nggak pernah sekalipun Bapak melihatnya begini. Sebenarnya apa yang terjadi sama kalian?"

Aisyah bergeming, menunduk dalam.

"Katakan Aisyah, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Jika sepasang suami istri mengalami kebuntuan dalam memecahkan masalah rumah tangga mereka, ada baiknya mereka membicarakan dan meminta pendapat pada orang yang lebih dipercayai. Orang tua adalah pihak pertama yang harus kalian mintai pendapat. Jika kami tidak bisa mencari pemecahan masalahnya, barulah kita sama-sama membicarakannya dengan pihak lain, semisal seorang ustadz, jika masalah yang kalian hadapi lebih kepada syari'at."

Aisyah masih bergeming. Bagaimana jika ia mengatakan bahwa Bara sudah menceraikannya? Apakah Bapak masih bisa bersikap tenang begini?

"Selama ini Bapak menyekolahkanmu di Pesantren, tujuannya agar kamu bisa lebih menghormati orang tua. Dan sekarang kamu sudah berkeluarga, maka yang harus kamu hormati bukan hanya Bapak saja, tapi suamimu. Bapak tidak mau kamu lupakan hal itu."

Aisyah mengangguk tetap tak membuka suara. Melihat anak gadisnya yang hanya mengangguk, Rahman terlihat gundah.

"Ya sudah beristirahatlah. Besok kita bicarakan lagi. Kamu bantu suamimu melewati malam ini, pasti dia akan sangat kerepotan karena pengaruh minuman memabukkan itu," ucap ayahnya mengakhiri percakapan.

Selepas kepergian sang ayah, Aisyah melangkahkan kaki menuju dapur. Ia menghangatkan air, lalu memasukkan air tersebut ke dalam baskom kecil. Lalu Aisyah berjalan kembali ke kamar. 

Dipandangi suaminya yang terbaring lemah di atas ranjang. Hanya berselang beberapa detik, Bara terlihat berusaha bangkit.

"Mas kenapa?" 

Aisyah segera mendekat sambil meletakkan baskom air hangat di atas nakas. 

Oeeekkk!

Bara memuntahkan isi perutnya ke lantai.

"Astaghfirullah, Mas."

Gegabah ia segera mengambil plastik untuk menampung muntahan yang terus dikeluarkan Bara. Setelah agak tenang, Aisyah membantu lelaki itu untuk kembali berbaring.

"Mas tiduran dulu ya, nanti Aisyah balurkan minyak telon di punggung. Biar enakan."

Gadis itu kembali membersihkan muntahan yang berserakan di lantai. Setelah selesai, ia kembali ke sisi Bara yang kini mulai semakin parah meracau.

"Mas, minum air hangatnya dulu," tawar Aisyah sambil mengarahkan gelas minuman kepada Bara.

Lelaki itu memandang Aisyah dengan tatapan tak biasa.

"Alifa ...," sebutnya kemudian. Jantung gadis itu seolah diremas kuat. Perih hingga keulu hati.

"Saya Aisyah, Mas."

"Alifa ....".

Bara semakin mendekati Aisyah yang sedikit-sedikit menjauhkan posisi duduknya. Ia teringat akan ilmu yang pernah ia pahami. Jika seorang suami yang sudah mentalak seorang istri dengan talak satu, lelaki itu boleh merujuk kapan saja selama masa Iddah. Tidak perlu akad, cukup mengucapkan aku kembalikan kamu sebagai istriku atau bisa juga dengan langsung menggaulinya. Tapi tentu saja jika itu dilakukan dalam keadaan sadar.

Melihat Bara saat ini yang sedang mabuk, dan dimulutnya pun tak henti tersebut nama gadis lain. Meski Aisyah sangat ingin Bara menyentuhnya. Tentu ia tak akan menyerahkan dirinya pada lelaki itu.

Buat apa bersama, jika yang diingatnya wanita lain. Buat apa bersatu jika setelah ini ia lupa siapa yang telah membersamai menikmati secawan madu.

Aisyah bangkit.

"Jangan pergi Alifa, Mas sangat ingin bersamamu."

Tak lagi berdiri tegak, tergopoh gadis itu berlarian ke luar kamar. Tertatih ia mengelola perasaannya yang tak lagi berwujud. Hancur berantakan tersebab cinta tulusnya untuk sang suami. Detik ini dirinya yakin, tak ada satupun wanita yang akan bertahta di hati suaminya. Kecuali Alifa. Ya, hanya Alifa pemilik seluruh cinta yang dimiliki oleh lelaki itu.

***

Sudah lewat tengah malam, Aisyah masih betah duduk di kursi tamu. Beberapa saat lalu, masih terdengar suara berisik dari dalam kamarnya. Tapi, kini senyap. Sepertinya Bara telah tertidur.

Perlahan gadis itu beringsut dan berjalan mendekati kamar. Dibuka pintu dengan perlahan. Matanya menatap sosok Bara yang sudah tertidur dengan kedua kaki selonjor ke lantai, dan sebuah bantal menutup wajah.

Pelupuk matanya kembali terasa berat. Aisyah menguatkan hati untuk melangkah mendekat. Ia mengangkat bantal, lalu membawa kedua kaki lelaki itu untuk sepenuhnya berada di atas ranjang. 

Aisyah memandangi Bara dari jarak dekat. Terenyuh ia jika membayangkan bagaimana cintanya lelaki itu pada Alifa.

"Kenapa bukan aku? Ah!"

Aisyah menghela napas.

"Mas, ijinkan untuk yang pertama dan terakhir kali buat saya, Mas," lirihnya sangat pelan.

Lalu gadis itu mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Bara. Ia seka wajah dan badan lelaki itu dengan handuk yang sudah ia basahi air hangat. Ragu, tetapi ia mulai menurunkan pakaian bawah yang dikenakan Bara. Hal yang sama ia lakukan kembali, mengusap kedua kaki lelaki itu hingga telapak kaki. 

Tak lelah, walau harus bolak balik ke dapur untuk mengganti dan menghangatkan ulang air dalam baskom. Sesekali tangannya tergerak untuk mengusap air mata yang ikut luruh membasahi pipi.

Usai menyeka, Aisyah kembali memakaikan Bara sebuah kaos. Sedikit kepayahan dia juga memasangkan sarung menutupi tubuh bagian bawah sang lelaki. Setelah semua selesai ia lakukan, jantungnya melemah. Ternyata tadi ia hanya berpura-pura tegar. Beginilah rasanya, mengurusi seseorang yang kita cintai namun tak mencintai kita?

Tubuh Aisyah roboh ke atas ranjang.

'Allah, setiap kali aku kecewa, aku memendamnya kuat dalam dada. Saat tak mampu lagi kupendam, maka kubiarkan air mata ini luruh membersamai. Harapanku setelah itu, aku bisa kembali tersenyum dan menyambut hari seolah tak pernah terjadi apapun dalam hidupku. Tapi kini aku sadar Tuhan, menangis tidak seutuhnya membuatku melupakan segalanya. Mungkin aku benar-benar harus ikhlas, tak perlu lagi berharap padanya. Apakah memang Engkau tak mentakdirkan dia untukku ya Rabb?'

Ia berbalik memandang Bara.

"Kamu sangat mencintainya, Mas? Baiklah aku akan membuat kalian bersatu ...."

***

"Bus keberangkatan Purwokerto sesaat lagi akan berangkat, bagi penumpang yang sudah mengambil tiket, agar dapat segera masuk ke dalam bus."

Aisyah mempercepat langkahnya. Ia sudah membulatkan tekad untuk bertemu dengan Alifa. Tiada satu orangpun yang tahu tentang kepergiannya, termasuk Bara. 

Alamat ini, ia dapat sebulan yang lalu, saat tak sengaja membuka notebook milik suaminya.

Sambil menghela napas, kakinya mantap menaiki bus. 

'Bismillah, mudahkan ya Allah.'

***

Bara terhenyak saat untuk kesekian kalinya alarm pada ponselnya berbunyi nyaring. Seketika kepalanya terasa berputar-putar, sakit di berbagai belahan otak.

Bara kembali merebahkan tubuh di atas bantal. Matanya teliti menelisik keberadaan kini.

'Aisyah.'

Dia menundukkan pandangan, menatap tubuhnya yang sudah berganti kostum. Dan yang membuat perasaannya merinding, celana yang semalam ia kenakan sudah berganti sarung.

"Aisyah, kamukah yang melakukan ini semua?"

Sakit, Bara merasa dadanya teramat perih. Begitu baik dan perhatiannya wanita yang telah ia abaikan selama ini. Betapa ikhlas Aisyah membersamainya dalam setahun pernikahan. Tidak pernah gadis itu mengeluh, pun memperlihatkan kekecewaan atas sikap Bara padanya.

"Ya Allah ... Astaghfirullah!"

Saat hendak bangkit, tangan lelaki itu tak sengaja menyentuh bagian atas nakas. Sesuatu terjatuh akibat sentuhan tangannya itu. Bara menunduk, memeriksa apa yang telah terjatuh barusan.

Sebuah surat.

Bara segera membuka kertas yang sudah terlipat itu, lalu membaca satu persatu untaian kata yang tertulis dengan sangat rapi.

*

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Semoga saat membaca surat ini, Mas Bara sudah dalam keadaan sehat dan sadar sepenuhnya. Mas, maafkan Aisyah, karena telah lancang membuka pakaian yang Mas kenakan semalam. Aisyah pula yang telah lancang menyeka seluruh tubuh Mas, tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Tapi Aisyah tak sampai hati membiarkan Mas tertidur dengan pakaian yang menguar bau alkohol.

Anggaplah ini yang pertama dan yang terakhir Aisyah persembahkan untuk Mas sebagai seorang suami.

Mas, selama ini Aisyah terus menyangkal, bahwa hati dan cinta Mas Bara selamanya hanya akan dimiliki oleh Mbak Alifa semata. Aisyah berkeyakinan, bahwa suatu saat Aisyah akan menjadi satu-satunya wanita yang akan menduduki tahta tertinggi dalam hati Mas Bara. Tapi ternyata, semua hanya asa yang takkan pernah menjadi kenyataan. Tadi malam adalah bukti, bahwa saat sedang tidak tersadar pun, Mas tetap menyebut nama Mbak Alifa. Hanya Mbak alifa yang Mas ingat, bukan saya. 

Bahkan, Mas hampir saja melakukan sesuatu yang selama ini begitu Mas hindari. Maaf, karena Aisyah menolak melakukannya. Karena saya yakin, Mas menginginkannya karena dimata Mas, saya adalah Mbak Alifa.

Aisyah tidak perlu menceritakan bagaimana rasa sakit yang menghujam dada ini. Dan tak perlu pula menggambarkan bagaimana rasanya mencintai tapi tak dicintai. Aisyah hanya berharap Allah menganugerahkan rasa ikhlas yang dalam pada diri Aisyah. Karena pada akhirnya, hanya keikhlasanlah yang akan membuat hidup Aisyah bahagia.

Mas ....

Hari ini, Aisyah akan membawa kembali Mbak Alifa dalam rengkuhan Mas. Aisyah tak perlu bermohon, karena Aisyah tahu Mas akan menjaga, mencintai, menyayangi dan memperlakukannya layaknya seorang istri. Karena dialah wanita yang Mas cintai.

Aisyah hanya meminta satu hal sama Mas, sebelum Mas pergi dari rumah Bapak. Mas katakan pada Bapak, bahwa Aisyahlah yang sudah meminta bercerai dari Mas. Aisyah tidak ingin Bapak kecewa pada Mas Bara. Mas adalah lelaki yang sangat dihormati oleh Bapak. Aisyah tak ingin Bapak mengurangi rasa itu terhadap Mas Bara. 

Biarlah Aisyah sendiri yang akan menanggung kemarahan Bapak. Aisyah tahu bagaimana Bapak, dia tidak akan sanggup mendiamkan Aisyah dalam waktu lama.

Terakhir, sebelum Aisyah mengakhiri surat ini. Ijinkan Aisyah jujur Mas, Aisyah sangat bahagia bisa menjadi istri Mas, walau hanya setahun. Tapi setidaknya Aisyah sudah memberikan pengabdian yang sempurna sebagai seorang istri.

Semoga Mas bisa segera naik pelaminan bersama wanita yang Mas cintai. 

Yang selalu akan mendoakanmu.

Siti Aisyah.

*

Bergetar tubuh Bara membaca surat dari Aisyah. Tak menunggu lama, ia segera mengganti pakaiannya. 

'Aku harus menemuinya. Aisyah, maafkan Mas Aisyah. Maafkan Mas. Jangan pergi ....'



BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...