Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 12)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 12

Alifa berdiri mematung menatap sosok lelaki tegap yang berdiri di ambang pintu pagar rumahnya. Beberapa gadis lain yang ikut bermain badminton tampak terkesima.

Mereka mulai berbisik-bisik, memuji ketampanan lelaki itu bak artis Korea.

Bara menarik langkahnya memasuki halaman. Ia terus berjalan hingga mendekati Alifa yang dikelilingi sahabat-sahabatnya.

"Mas Bara?".

"Wah, jadi ini pacar kamu, Fa?.Masya Allah, keren tenan, tho. Perkenalkan Mas, nama saya Siti."

"Saya Icha...".

"Saya Fathin. Mas mau donk dikenalin sama cowok-cowok Jakarta, pasti nggak kalah keren dari sampeyan...".

"Hus!.Ngomongnya mbok ya, malu gitu sama tamu. Monggo Mas mari masuk ke dalam."

Bara nampak canggung menghadapi serangan dari gadis-gadis yang nampak ayu itu.

"Eh, Alifa, kami langsung balik, yo. Udah magrib, besok kita main lagi".

Alifa hanya mengangguk.

Selepas kepergian beberapa gadis itu, suasana kembali hening. Mereka saling melempar pandang.
"Kenapa kamu pergi? Kamu marah sama, Mas?".

Alifa mengacuhkan, lalu menggerakkan langkah menaiki tangga memasuki rumahnya.

Bara yang ditinggal sendiri, hanya mematung. Kesal tapi juga diliputi rasa bahagia. Karena gadis yang ia cari ternyata benar ada di kampung ini.

"Masuk, Mas!".

Alifa menyeru dari balik jendela. Bergegas Bara menaiki tangga memasuki rumah. Di dalam, kehadirannya sudah disambut oleh wanita tua yang sudah nampak bungkuk. Pasti itu adalah neneknya Alifa.

Bara segera mendatangi perempuan tua itu untuk kemudian menyalami tangannya.

"Alhamdulillah, sopan sekali kamu, Nak."

Bara hanya tersenyum.

"Duduk dulu, Mas".

Alifa mempersilakan Bara duduk lesehan di sebuah tikar dari daun Rumbia.

"Jadi kamu yang namanya Bara?".

Hah? Bara terhenyak mendapati pertanyaan sang nenek?. Apa jangan-jangan Alifa sudah bercerita perihal hubungan mereka, pertanyaan yang muncul tanpa disadari.

"Nenek nggak nyangka, bisa sampai sini mencari Alifa", wanita tua itu menarik napas, "Alifa sudah cerita semuanya sama nenek, nggak ada satupun yang ditutupi. Jadi benar, kamu mencari Alifa sampai kemari hanya karena khawatir?".

Bara menelan saliva. Ia menatap Alifa yang nampak menunduk. Mungkin malu, atau apa karena sudah berterus terang tentang hubungannya dengan Bara.

"Benar, Nek. Saya nggak tau sebatas mana Alifa bercerita tentang saya pada Nenek. Tapi sebelum Alifa pergi, sayalah orang yang memintanya untuk pergi. Alasannya, karena saya cemburu, dia menerima pinangan adik saya."

Alifa mengangkat wajahnya.
'Cemburu? Aisyah, apa kabar?'.
batin Alifa bertanya seorang diri.

"Apa kamu sudah menikah?".
'Oh, ternyata nggak semua dia ceritakan pada Neneknya, apa karena berharap restu dari wanita itu untuk bersamaku?', batin Bara terus meracau tak jelas.

"Sudah!".

"Lalu kenapa kamu mencemburui Alifa?. Harusnya jika suka, kamu menikahi cucu saya, bukan orang lain?".

"Saya sudah melamarnya dari semenjak tiga tahun lalu. Tapi saat itu, lamaran saya ditolak karena saya masih seorang mahasiswa. Lalu Alifa pergi, tak ada kabar. Saya tak pernah berhenti mencarinya, hingga sebulan yang lalu saya memutuskan untuk menikahi seorang gadis."

Wanita tua itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Lantang dan tegas ucapan Bara, membuatnya ingin mengacungkan jempol. Tapi untuk sebuah kesalahpahaman, tentu harus ada pembenaran.

"Alifa dan keluarga, pulang ke kampung tiga tahun yang lalu. Saat itu tiba-tiba ayahnya sakit keras, dan qadarullah, anak saya itu tidak berumur panjang. Setahun lebih Alifa dan ibunya tinggal di kampung bersama saya. Terakhir wanita itu, memutuskan kembali ke Jakarta untuk bekerja. Nenek pikir kalian memang nggak berjodoh. Kalau tidak, pasti Allah akan mempertemukan kalian kembali sebelum kamu menikahi gadis lain."

Bara menarik napas.

"Jika boleh, saya ingin melamar Alifa, Nek. Untuk jadi istri kedua saya."

Kedua wanita di hadapan Bara tersentak kaget.

"Melamar Alifa?" tanya wanita itu tak percaya.

"Iya, seorang lelaki tidak dilarang untuk menikahi lebih dari satu wanita. Dan niat saya menikahi Alifa, supaya hati saya bisa tenang."

Jika tadi dia berbicara denga tegas, kali ini suaranya seumpama lirihan. Amat halus dan hati-hati.

Bara menunduk dalam. Wanita tua di di hadapannya tersenyum.

"Apa Nak Bara pikir poligami itu apa melulu tentang keinginan lelaki yang tidak dihalangi agama? Bagaimana jika pihak perempuan tidak setuju? Lalu, bagaimana jika lelaki itu tidak bisa bersikap adil. Lagipula Nak Bara baru saja menikah, nikmat bulan madupun belum habis tercecap. Kenapa sudah ingin mencari yang kedua?"

Wanita itu menekan tiap kata-katanya. Alifa masih menunduk, sementara Bara terlihat mulai mengangkat wajahnya.

"Nak Bara, jika dalam berpoligami seorang lelaki tidak bisa bersikap adil terhadap istri-istrinya, terlebih saat menikah memang sudah diketahui sang suami memiliki perasaan yang cenderung pada satu wanita, maka kelak di Yaumil Mahsyar, Allah akan membangkitkannya dalam keadaan miring sebelah, Nak. Apa Nak Bara tidak takut berurusan dengan keadilan Allah?. Timbangan Allah itu amatlah adil, Nak. Tidak seperti timbangan manusia, yang cenderung berat kalau ditambah helaian rupiah ...."

Bara menttghela napas panjang.

"Terima dan syukuri apa yang sudah menjadi ketetapan hidup Bak Bara sekarang. Karena hanya itu yang bisa membuat kamu mencintai istrimu dengan sepenuh hati."

Ada yang menghujam dada lelaki itu dengan kuat, tapi ia sadar, apa yang dikatakan Nenek Alifa, semuanya benar. Tapi untuk kbenar-benar ikhlas, ia masih harus berusaha.

Allahuakbar ... Allahuakbar

"Sudah azan, malam ini menginap saja disini. Tapi jangan lupa minta ijin pada istrimu."

Wanita itu bangkit lalu berjalan ke kamarnya, "ini sarung buat Nak Bara shalat. Kamu Alifa, tidur di kamar Nenek, biar Bara tidur di kamarmu."

Layaknya tamu, Bara dilayani begitu baik di rumah itu oleh sang nenek. Alifa tak diijinkan keluar sekalipun, meski untuk makan. Wanita tua itu yang membawa makanan ke dalam kamar. Tujuannya hanya untuk menjaga, agar kedua insan yang masih terpaut hati itu, tak terpercaya syaitan hingga menghalalkan apa yang telah Allah haramkan.

***

Bulan bersembunyi di balik awan, pendar cahayanya ditemani taburan bintang menjadi lahapan netra Bara malam ini. Ia sangat menikmati malam di kampung Alifa, walau hanya serumah dan tak bisa memandang apalagi berbicara.

Sejenak terlintas di pikirannya tentang Aisyah yang ia tinggalkan dengan mata berkaca pagi tadi, ingin ia menghubungi istrinya itu, tapi ada daya. Baterai handphonenya habis. Mau pinjam sama Alifa, gadis itu malah dilarang keluar kamar.

Tiba-tiba, matanya menelisik. Seseorang tampak berjalan ke halaman belakang.

Siapa? Bara mengikuti langkah itu.

Hanya tinggal beberapa langkah, sosok yang diikuti Bara menoleh ke belakang.

"Mas Bara?"

"Alifa?"

"Mas ngapain kemari?"

"Saya kira pencuri?"

Alifa menghela napas.

"Saya mau BAB, Mas."

"Oh, maaf. Saya masuk."

Dengan salah tingkah ia kembali ke ruang tengah. Tapi bisa juga di sebut ruang tamu karena di rumah itu hanya itu satu-satunya ruangan, sebagai tempat melakukan segalanya. Jika mau memasak, harus turun ke bawah dan ada tempat khusus untuk memasak yang dibuat langsung di atas tanah.

Bara kembali menatap panorama langit malam dari jendela yang ia buka lebar. Kembali wajah Alifa dan Aisyah menari-nari dalam benak.

Tak lama, Alifa masuk dan langsung hendak menuju kamar. Mendadak langkahnya berhenti di depan kamar. Gadis itu berbalik.

"Mas kenapa belum tidur?".

"Belum ngantuk".

"Mas ... menang itu bukan sebatas mendapatkan apa yang kita mau, tapi mensyukuri apa yang kita dapat. Jika Mas menjauhi Alifa, lalu mendekatkan diri pada Allah. Saya yakin, Allah akan memberi yang terbaik untuk Mas Bara. Bukankah selama ini Mas sudah berikhtiar, mas tak berhenti mencari saya. Namun kenyataannya, Allah berkehendak lain. Sekarang ajaklah hati Mas untuk bertawakkal. Doa yang terbaik dari saya untuk Mas Bara dan Mbak Aisyah."

Ada yang menggantung di kedua pelupuk mata lelaki itu. Inikah akhir segalanya?
 
Sedang Alifa, berhamburan ke atas kasur kapuk yang tergeletak di atas lantai kayu. Dia bekap wajahnya kuat, tak ingin sang Nenek menyadari bahwa ia sedang menangisi takdir. Takdir yang seolah sedang mempermainkan hidupnya.

Tapi ia yakin, tak ada jalan yang tak menemukan ujung, begitu pula masalah. Tentu akan segera bertemu dengan solusinya. Hanya perlu bersabar. In Syaa Allah, semua akan indah pada waktunya.

***

Sementara itu disudut lain kota Jakarta ...

[Aisyah, kenapa belum sampai, Nak? Ibumu dari tadi nanyain kamu terus. Usahakan malam ini harus datang, ya. Bapak takut, Nak. Takut jika kamu tak punya kesempatan untuk memohon ampun padanya.]

[Iya, Pak. Saya nunggu Mas Bara pulang dulu. Daritadi tak telpon, handphonenya nggak aktif.]

Aisyah menjawab telpon ayahnya dengan suara bergetar menahan tangis.

[Ya sudah, Bapak doakan Bara bisa cepat pulang. Assalamualaikum.]

[Waalaikum salam.]

Seusai menutup telpon, embun yang sedari tadi mengenangi pelupuk mata, kini jatuh berderai. Ia meratapi nasibnya, dari semalam gadis itu ingin menyampaikan kabar pada suaminya, tapi Bara terlihat begitu resah. Ia memutuskan untuk menunda.

Saat pagi tiba, ia kembali ingin menyampaikan dan meminta ditemani ke rumah sakit menjenguk ibunya, yang diopname karena serangan jantung tiba-tiba. Tapi sang suami malah buru-buru mau keluar kota.

"Aku harus bagaimana ya Rabb? Maafkan Aisyah, Bu. Ya Allah, panjangkankah umur Ibuku."

***

Dikamar yang lain, masih di rumah itu. Faiz memegang sebuah surat di tangan.

"Surat Perintah Tugas"

...

Tembusan :

Kapolda Nanggroe Aceh Darussalam

Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam

'Inikah yang terbaik untukku ya Rabb?'

Jauh di lubuk hati terdalam, keharusan untuk ditempat tugaskan di Aceh ingin ia tolak mentah-mentah. Tapi sisi hati yang lain mengiyakan, bukankah menjauh adalah cara terbaik untuk melupakan.

Untukmu Aisyahku

Aku hanya butuh waktu untuk berdamai dengan diriku

Aku akan belajar mengendalikan rasa untukmu

Aku sedang menata sudut-sudut rapuh kepingan hati, bersiap menerima kenyataan jika kelak takdir membiarkanku menemui mu kembali.

Aku menunggu hari, dimana aku dapat melangkah mantap tanpa ikatan rasa, meski takdir berkata kau dan aku akan kembali saling bertatap.



Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...