Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 11)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 11

Malam itu harusnya menjadi malam kami berpamitan pada mami. Ya, aku sudah membulatkan tekad untuk hidup bersama Aisyah di rumah yang berbeda. Kukira, ini juga untuk kebaikan Faiz. Aku paham bagaimana rasanya mencintai seseorang, namun tak bisa memiliki. Aku tak ingin Faiz doble menderita karena terus melihat Aisyah di rumah ini.

Semua sudah kusepakati sebelumnya bersama Aisyah. Baru hendak membuka suara, teriakan Nindi membuat jantungku hampir berhenti berdetak.

"Alifa nggak ada di kamarnya, Mi."

Takut, khawatir? Jelas aku sangat mengkhawatirkan keadaan Alifa. Terlebih, saat tak ada satu temannyapun yang mengetahui keberadaan gadis itu.

'Kemana dia, apa dia marah karena kejadian tadi pagi? Atau dia merasa terhina karena aku memberinya kartu kredit? Uh, seharusnya Alifa tidak segegabah ini, apa dia takut aku akan meminta bayaran atas bantuanku itu? Eeerghhh! Kemana kamu pergi Alifa ....!'

Makan malam kali ini terasa menegangkan, tak ada yang bernafsu untuk mengeluarkan satu katapun. Termasuk aku. Padahal jelas, kuah sop buntut yang tersedia sebagai menu kesukaanku terasa amatlah asin.

Biarlah, ini tak seberapa daripada berita kepergian Alifa.

Usai makan, aku dan Aisyah kembali ke lantai atas. Memasuki kamar, ponsel Aisyah berbunyi, gadis itu segera mengangkat panggilan yang masuk ke handphonenya. Kira-kira siapa yang menelpon, entahlah? Kuabaikan ia dan kembali meraih ponsel dalam saku celana. Tadi saat menelpon Alifa di ruang makan, nampak beberapa pesan masuk dari beberapa nomor.

Dengan cepat kubuka aplikasi berwarna hijau di layar ponsel, lalu menggeser-geser ke bawah. Mataku membelalak, sebuah pesan masuk dari nomor Alifa.

[Assalamualaikum Mas Bara, maaf saya pergi tanpa memberitahu siapapun di rumah ini. Mas, saya meninggalkan sebuah surat di kamar tamu, tepatnya di bawah lampu hias di atas nakas. Di situ juga ada kartu kredit yang tadi pagi Mas beri kepada saya. Sekali lagi, maaf jika pesan ini mengganggu malam Mas bersama Aisyah. Mas jangan cari saya, juga jangan menelpon kemari lagi. Karena nomor ini segera akan saya nonaktifkan.]

Aku terhenyak membaca pesan itu. Secepat kilat aku keluar kamar, menuruni tangga hingga sampai di depan pintu kamar tamu. Pelan tanganku tergerak untuk menarik handle ke bawah. Saat pintu kamar terbuka, ketercekatanku semakin menjadi.

Faiz ada di dalam kamar sambil memegang surat yang seharusnya ada di tanganku. Jika tadi pagi aku yang menuntut kejujurannya atas Aisyah, maka saat ini, Faiz menuntut agar aku jujur tentang perasaanku pada Alifa.

Aku sengaja jujur pada Faiz, supaya dia lebih berhati-hati jika mau bermain-main dengan perasaan Alifa. Takkan kubiarkan siapapun menyakiti perasaan gadis itu. Termasuk Faiz, adikku sendiri.

"Apapun tujuan Mas, tetap aja ini adalah sesuatu yang melanggar aturan. Mas sudah bermain di belakang semua orang, termasuk Aisyah. Ini adalah perkara yang sudah menyalahi batasan."

Perkataan Faiz yang ini adalah yang teramat menusuk dadaku. Salahkah jika aku ingin melindunginya? Toh, aku juga tidak akan rakus, menikahi dua perempuan walau itu dibolehkan.

Sudah pernah kukatakan pada diriku sendiri, aku akan mencintainya dalam doa. Tapi jika sesuatu menimpanya, aku tidak akan tinggal diam. Harus kupastikan dia dalam keadaan baik dan selamat.

***

Kuketuk pintu kamar Nindi. Aku takkan berhenti sebelum menemukannya.

"Nin, kamu nggak berniat mencari Alifa?"

Nindi yang sepertinya hendak menutup mata jadi urung melakukannya.

"Mencari kemana, Mas?"

"Entah, mungkin ke rumahnya."

Nindi ragu menjawab.

"Kenapa Nin, kamu ada keinginan nggak untuk mencari sahabatmu itu? Kebetulan Mas lagi baik hati ini."

Semoga Nindi nggak bisa membaca gelagat khawatirku akan Alifa. Dia justru bergeming.

"Sebenarnya bukan Nindi nggak mau Mas, tapi masih trauma. Kalau Mas Bara mau bantu mencarikan, Nindi kasih alamat rumahnya ya, Mas," ucap adikku sambil menulis sebuah alamat di selembar kertas dan menyerahkannya padaku.

"Mas ajak Mas Faiz aja, jangan ajak Aisyah. Hidup Alifa itu dikelilingi oleh orang-orang jahat. Tapi kalau Mas mencarinya bersama seorang polisi, sudah pasti Mas akan aman."

Deg!

Jantungku seperti terhunus mendengar kata-kata Nindi. Niatku untuk mencari Alifa semakin kuat, setidaknya akan reda sampai aku tahu dia tidak dalam bahaya.

"Iya, nanti Mas ajak Faiz," jawabku sambil berlalu dari kamarnya.

Aku kembali ke lantai atas untuk meminta ijin pada Aisyah. Semoga saja, istriku juga tak menaruh curiga pada niat baik ini. Sampai di kamar, aku menemukan Aisyah berbaring di atas ranjang.

"Aisyah, kamu sudah tidur?"

Dia segera bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Kedua tangannya saling meremas. Sebenarnya gadis ini kenapa?

"Aisyah, Mas mau keluar sebentar, ada hal penting yang harus Mas kerjakan. Kamu nggak papa 'kan Mas tinggal sebentar?"

Dia seperti termanggu. Dengan lemas dia mengangguk.

Sebenarnya dia kenapa? Tapi ah, nanti saja kutanyakan saat pulang. Sekarang keadaan Alifa adalah yang lebih penting.

"Kamu istirahat lagi aja."

Dia menurut, lalu kembali merebahkan kepalanya. Diantara segenap tekadku untuk menemukan Alifa, ada satu titik di sudut terkecil hatiku yang terasa perih. Aku tak dapat membaca dengan pasti penyebabnya, tapi akan segera kutemukan jawaban setelah semua masalah ini tenang.

***

Perlahan mobil bergerak keluar garasi. Lalu mengitari halaman hingga keluar dari pintu pagar. Dengan dada berdebar kukemudikan mobil dengan kecepatan sedang.

Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, aku sampai pada alamat yang diberikan Nindi.

Kuberhentikan mobil di pinggiran jalan. Lalu mengikuti jalan setapak memasuki sebuah lorong yang hanya berisi beberapa rumah.

Menurut info dari Nindi, rumah Alifa adalah rumah paling ujung. Maka tanpa bertanya lagi, aku teruskan melangkah.

Kuketuk pintu beberapa kali, tak ada jawaban. Salam kuberipun tak ada yang menjawab. Tak lama, seorang wanita keluar dari rumah yang bersebelahan dengan rumah Alifa.

"Mas cari Alifa?"

Wanita berpakaian daster itu bertanya di balik pintu.

"Em iya Mbak, apa Alifa sedang keluar?"

"Dia udah lama nggak pulang, Mas. Barangkali ke rumah neneknya di Purwokerto."

"Mbak, tahu alamatnya?"

Wanita itu menggeleng. "Tapi saya tahu nama kampung dan nama neneknya Alifa. Mas catat saja, nanti disana tanya-tanya lagi aja. Oya, Mas ini calonnya Alifa?".

Aku bergeming sejenak, lalu tersenyum. Entah apa yang mendorong kepalaku untuk mengangguk.

Huh!

Setelah berhasil mencatat alamat rumah nenek Alifa. Aku kembali ke mobil. Dengan perasaan campur aduk, kuputuskan untuk melanjutkan pencarian esok hari. Mungkin akan langsung mencari ke rumah nenek Alifa di Purwokerto.

Mobil yang kunaiki kembali bergerak pulang. Di sepanjang perjalanan, kepalaku hanya dipenuhi akan Alifa seorang. Aku tak bisa menghentikan, seolah hal itu menjadi candu yang selalu membuat perasaanku bahagia.

***

Gerimis mengurung pagi. Matahari yang seharusnya sudah bersinar dengan gagah justru bersembunyi di balik gumpalan kapas raksasa hitam yang mengambang di angkasa.

Aisyah baru saja menyelesaikan shalat dhuhanya. Mulut gadis itu masih terus larut dalam zikir. Ia memang gadis muslimah idaman semu lelaki shalih di dunia ini.

Ah, mungkin aku memang bukanlah lelaki shalih, yang begitu bersyukur karena mendapatkan istri seshalihah Aisyah. Aku malah sibuk mengurusi gadis lain yang sudah menjadi bagian dari sesuatu bernama masa lalu.

Tapi, bukankah menolong sesama juga kebaikan? Jelas, aku membantu Alifa hanya sebatas membantu sesama manusia. Tapi, bagaimana dengan kebohongan-kebohongan yang kuciptakan, bukankah itu dosa?

Baik, aku akan jujur. Tapi tidak sekarang.

"Aisyah."

Gadis yang tengah melipat mukenanya itu menoleh saat mendengar suaraku memanggil namanya.

"Iya, Mas."

"Pagi ini Mas harus keluar kota. Ada hal kemanusiaan yang harus Mas lakukan disana."

Aisyah seperti terkejut, wajahnya pias, menunjukkan kekecewaan yang dalam.

"Jika selesai dalam waktu cepat, Mas akan langsung pulang malam ini juga."

Kulihat pelupuk matanya basah, apakah dia bersedih?

"Kamu nggak papa 'kan, Mas pergi?"

Dia menunduk dan mengangguk.

Kuelus kepalanya dan segera beranjak mengambil tas ransel yang sudah kuisi beberapa helai pakaian. Semua kupersiapkan semalam saat gadis itu tertidur.

Dia mengantarku hingga sampai ke pintu. Tubuhnya terus berdiri di ambang pintu, dan mataku pun terus memperhatikannya dari kaca spion hingga mobilku keluar dari pintu pagar.

'Maafkan Mas Aisyah.'

***

Matahari hampir tenggelam, semburat jingga nampak di ufuk timur. Mobilku telah memasuki Kota Purwokerto. Kusempatkan diri berhenti di sebuah swalayan, membeli sebuah kue bolu untuk kuhadihkan pada keluarga Alifa. Setidaknya tidak datang dengan tangan kosong, walau hanya ingin tahu benarkah Alifa telah aman di tempat ini.

Kembali kuyakinkan diri dengan niat awal aku ke kampung ini. Jika memang Alifa ada di sini, dan dalam kondisi aman. Maka malam ini juga aku akan pulang. Tak tega juga melihat Aisyah tadi seperti sedih saat kutinggalkan.

Kendaraan roda empat yang kukemudikan kini memasuki perkampungan seperti yang tertulis pada kertas. Terus berjalan hingga behenti di depan pagar sebuah rumah.

Mataku segera terbidik pada sosok anggun yang tengah tertawa bersama teman-temannya, kala bola badminton yang ia pukul mengenai wajah lawan.

Hatiku kembali berdesir melihatnya.

'Alifa, sekali menatapmu, sesuatu seperti menambah semangatku. Mungkin jika kau benar-benar pergi lagi, aku akan menemukan kehampaan dalam sisa hidupku.'

Kuputuskan untuk menuruni mobil. Meski ragu aku tetap meneruskan langkah hingga sampai di pagar masuk yang terbuat dari kayu.

Langkahku terhenti, saat tiba-tiba Alifa berdiri kaget mendapati kehadiranku. Pandangan kami saling bertemu.

'Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini. Rasa itu datang lagi. Apakah seumur hidup aku takkan bisa melupakannya?'



Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...