Part 15
Sudah sebulan Mas Faiz pergi, suasana rumah terasa ada yang berbeda. Kupikir, tidak bertemu akan membuat hati ini lupa padanya. Tapi ternyata, mengingatnya lebih mudah dari menghela napas.
***
Aisyah membuka kamar yang dahulu amat dihindarinya bahkan untuk sekadar dilirik. Entah apa yang mendorong gadis itu menuju kamar Faiz. Mungkin karena bosan, sendirian menghabiskan dua belas jam di rumah menunggu yang lainnya pulang. Atau sekadar melepas sesuatu yang sudah memenuhi dadanya semenjak sebulan yang lalu.
Aisyah tak bisa membohongi diri, selama Faiz tak lagi terlihat oleh mata, semenjak itulah sesuatu bernama rindu kian menaungi hati.
Ia berjalan mendekati ranjang. Menilik kasur, bantal dan selimut yang tersusun begitu rapi. Sekali waktu, dielus pelan ranjang berbalut seprai dengan motif Bayern Munchen.
'Jadi seperti ini kamarnya.'
Aisyah meneruskan langkah menuju meja belajar. Beberapa berkas tertata dengan teratur di samping kalender duduk. Ada sebuah foto berukuran dompet tertanam di bawah kaca yang melapisi meja.
Faiz nampak rapi dan menawan dalam kemeja putih lengan panjang lengkap dengan dasi menjuntai sepanjang garis dada.
Aisyah tak dapat menutupi keterpanaan pada pemuda itu. Sejenak seperti ada yang menghentak dadanya, ia segera membuang wajah.
"Maafkan hamba ya Allah ...."
Perih, ia sudah berjanji akan melupakan Faiz, tapi lagi-lagi ia kalah pada bisikan itu.
Menyadari rasa bersalah di hati kian besar. Aisyah tak ingin lagi berada di kamar itu. Ia membalikkan badannya dengan cepat, namun sesuatu menyentuh tangan hingga terjatuh ke lantai. Penasaran, gadis itu meraih benda tersebut lalu membukanya.
Halaman pertama.
Matanya membelalak menatap rincian tanggal yang tertulis dengan tinta hitam.
'Kenalan, 15 Januari 2015.'
Angannya terlempar pada masa pertama mengenal Faiz.
***
"Siti Khadijah?".
"Bukan Mas, Siti Aisyah."
"Nggak ada beda, dua-duanya 'kan nama istri Nabi?", ucap Faiz segarang mungkin.
"Ya bedalah Mas, Siti Khadijah ra adalah nama istri Nabi yang pertama, kalau Siti Aisyah ra adalah nama istri Nabi yang kedua."
***
Aisyah tersenyum mengingat bagaimana Faiz berhasil menggodanya waktu itu. Kembali, Aisyah membaca paragraf kedua.
'Menyatakan cinta, 15 Februari 2015.'
*
"Mas suka kamu...".
Sungguh ia tak menyangka Mas Faiz menyukainya dan berani melamar tanpa bekal apapun pada Bapak.
"Saya ingin melamar Aisyah, Pak."
*
Deg!
Jantungnya berdegup kencang.
'Waktu itu entah apa yang Bapak tak suka dari dirimu, Mas. Apakah karena Bapak trauma pada lelaki bersenjata. Karena setau Aisyah dahulu, Bapak sampai harus pindah dari Aceh karena dituduh oleh aparat Kepolisian sebagai salah satu penggerak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di era pemerintahan Gus Dur. Ya Allah, jika mengingat semua itu, hatiku ingin menjerit kuat.
*
Kembali Aisyah membaca paragraf terakhir.
'Ditinggal kawin 15 Maret 2015. Sungguh dia telah menghancurkan duniaku. Kenapa harus Mas Bara?'
*
'Ya Allah Mas, sungguh Aisyah nggak tahu jika kalian bersaudara.'
Aisyah menghela napas berat. Selintas terbesit pikiran, begitu menyesal karena dahulu tak mampu bertahan pada lamaran Faiz yang ditolak Bapak. Padahal kenyataannya sekarang, Faiz-lah yang kelihatan benar-bemar cinta, sedang Bara yang kini bergelar suami, malah terus mengabaikannya tanpa sedikitpun menaruh simpati.
"Astaghfirullah, maafkan Aisyah Mas!"
Aisyah merasakan dadanya begitu sesak. Menarik napaspun terasa tercekat di kerongkongan.
'Buatlah hati ini benar-benar ikhlas ya Allah ....'
Gadis itu memutuskan untuk meninggalkan kamar tersebut. Saat ingin menutup kembali pintu, Aisyah begitu terkejut mendapati bahunya dicengkeram oleh sebuah tangan. Segera ia menoleh.
"Mas Bara?".
"Kamu ngapain di kamar Faiz?",tanya sang suami yang tampak keheranan.
"Em ....".
Aisyah gelagapan.
"Tadi Aisyah dengar suara berisik di kamar ini, Mas. Jadi Aisyah periksa...".
Bara melewati tubuh istrinya, lalu membuka kembali pintu kamar Faiz yang telah tertutup. Sejenak lelaki itu menoleh ke dalam.
"Nggak ada apa-apa 'kan?"
Bara mengangkat bahu memastikan. Aisyah menggelengkan kepala.
"Mungkin cuma suara cicak..".
Bara mencoba mencari jawaban.
"Iya, Mas. Sepertinya begitu. Mas kok cepat pulangnya?", tanya Aisyah sambil meraih tangan Bara lalu mencium takzim.
"Semua urusan sudah beres, jadi Mas langsung pulang," ucapnya menggantung.
"Aisyah, sebenarnya kita dapat undangan dari Pak Surya, pelanggan tetap restaurant untuk menginap di villa beliau di puncak. Beliau membuat acara anniversary ke dua puluh bersama istrinya di tempat itu. Menurutmu, bagaimana?"
Aisyah tersenyum sebelum menjawab. Mungkin ini adalah kesempatan buatnya mendapat ijazah istri lahir batin dari seorang Bara. Bukankah selama ini suaminya terlihat begitu dingin di atas ranjang, siapa tahu jika berlibur di tempat yang sangat romantis, bisa membangkitkan gairah seorang lelaki normal?
"Hai!"
Bara menggerak-gerakkan tangan di depan wajah Aisyah.
"Maaf, Mas. Kalau Aisyah sih, mau aja Mas. Selama ini Aisyah juga belum pernah sekalipun ke tempat itu. Pasti asyik," serunya begitu bersemangat.
"Acaranya malam ini, lho?"
"Kalau begitu, biar Aisyah siapkan terus pakaiannya, Mas."
Bara termanggu menatap gadis di hadapannya. Tampak begitu bersemangat. Padahal tadi dia sempat berpikir ingin menolak, tapi saat melihat keinginan yang menggebu di hati sang istri. Rasanya tak tega jika membatalkan.
"Yasudah, bersiaplah. Kita berangkat sehabis Ashar."
***
Setelah melaksanakan shalat Ashar, mereka pun menuruni tangga hingga sampai di lantai satu. Mami yang tengah duduk di ruang teve nampak kaget melihat anak menantunya sudah siap dengan koper di tangan.
"Mau kemana sore-sore begini bawa koper, Bara?"
Keduanya berhenti melangkah, Aisyah segera mendekati mami hendak menyalami.
"Kami mau ke puncak, Mi."
Nindi yang juga ada di ruang itu seketika bereaksi.
"Mau bulan madu, Mas? Telat amat! Hihi."
Bara tak menggubris, ia hanya melempar pandang pada bola coklat milik istrinya.
"Cie ... Cie."
Nindy kembali menggoda.
"Sudah seharusnya Aisyah itu dibawa bulan madu, Bara. Dan seharusnyapun bukan ke puncak. Tapi ke luar kota, atau ke luar negeri," goda mami membuat Bara dan Aisyah salah tingkah.
"Mi, bulan madu nggak harus kemana-mana kok, di rumah juga bisa."
Aisyah bergetar mendengar ucapan Bara. Memang perkataan lelaki itu sangatlah benar. Tapi apakah yang mereka lakukan selama sebulan ini sudah dikatakan berbulan madu di rumah?
Lagi-lagi gadis itu hanya bisa menghela napas
"Kepergian kami ini, cuma memenuhi undangan klien, Mi."
"Lha terus, bulan madunya kapan donk, Bara? Jangan di rumah, harus keluar rumah gitu. Nyenangin istri itu 'kan dihitung shadaqah. Lagipula Mami membaca Aisyah pasti nggak pernah kemana-mana, wong dia 'kan lulusan pesantren. Wes seneng dia kalau kamu ajak jalan-jalan."
Bara hanya bergeming.
"Satu lagi Bara, kalau nggak sekarang, mau kapan lagi. Nanti kalau Aisyah udah hamil, bawaannya udah malas diajak kemana-mana."
Bara dan Aisyah tersentak bersamaan.
"Ck! Kalau usul Mami sih, jadikan kesempatan ini untuk kalian berbulan madu. Nggak baik disibukin terus sama kerjaan, Bara. Tinggalin dulu semua urusan kamu di dunia usaha, fokus sama Aisyah untuk beberapa hari."
Bara tercenung.
"Iya, Mi," jawabnya singkat.
"Pokoknya, Mami nggak mau besok kalian udah bertengger lagi di rumah, Bar. Maksimal seminggu, minimal tiga hari lah ...."
Bara kembali menoleh ke arah sang istri. Yang juga ternyata sedang melempar pandang pada kedua matanya. Sejenak ia menyunggingkan senyuman.
"Iya, Mi. Kami akan liburan selama beberapa hari."
"Dan, setelah pulang liburan, Mami harap sudah ada kabar pasti tentang kehadiran calon cucu Mami, ya Mas Bara."
Seketika lelaki itu berdehem untuk menutupi ketidakstabilan rasa, ketika mendengar kata calon cucu keluar dari mulut maminya.
Sedang Aisyah, tampak menunduk malu. Meski sejujurnya, hal ini pula yang telah dipikirkan oleh hatinya sedari awal.
***
Sekitar sepuluh menit mereka mendapat siraman nasihat dari sang ibu. Setelah melewati beberapa pertanyaan penutup, akhirnya keduanya diperbolehkan untuk meneruskan perjalanan.
Kurang lebih satu jam, mereka sampai di kawasan Villa Arjuna Puncak Resort. Villa yang terdiri dari dua lantai ini terletak di kawasan Sukanagalih, Cipanas. Ada empat kamar dengan dua kamar mandi, terdapat dalam satu villa.
Bara mengira, keluarga kecilnya akan menempati satu villa yang sama dengan keluarga besar Pak Surya, yang sudah memiliki empat buah hati. Ternyata mereka malah di tempatkan berdua saja dalam satu villa.
"Ayo masuk," ajak Bara pada Aisyah setelah memarkirkan mobil.
Suasana saat itu amat sejuk, sepoi angin penghujung hari membelai lembut khimar besar yang digunakan Aisyah. Ia mengikuti langkah tegap suami memasuki rumah yang berdasar hijau muda itu.
Berdesir dada Aisyah saat untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki melewati batas pintu memasuki villa. Seperti ada yang menyentak, jantungnya tiba-tiba berpacu kencang. Terlebih saat mendengar sesuatu keluar dari mulut sang suami.
"Mau tidur dimana? Lantai atas atau lantai bawah?".
Yang terpikir di benak Aisyah saat itu adalah yang kebanyakan dipikir oleh seorang gadis berstatus pengantin baru.
'Memadu kasih sepanjang malam bersama pasangan halal.'
Terlebih selama menikah, ini adalah perjalanan pertama mereka keluar rumah.
'Ah, benarkah ini bulan madu kita, Mas?'
Secercah bahagia menyeruak di hati gadis itu. Persatuan mereka amat ia harapkan, karena sebelum menikah ibunya pernah berpesan, 'menikahlah dengan siapapun meskipun kamu belum mencintai lelaki itu. Asalkan dia baik, taat agama, lembut dan sayang sama keluargamu. Karena setelah kamu melalui satu malam saja bersamanya dengan penuh keikhlasan, kamu akan tahu bagaimana hatimu begitu mudah mencintainya, Anakku.'
"Aisyah ....".
Gadis itu tersentak ketika Bara memanggil-manggil namanya sambil menggerakkan-gerakkan tangan.
"Kalau Mas nggak keberatan, Aisyah mau tidur di lantai atas aja, Mas."
"Oke, nggak masalah. Ya sudah yuk," ajaknya dengan kembali menggerakkan langkah. Tak ada pegangan tangan padahal jelas sebelah tangan lelaki itu bebas dari memegang benda apapun.
Langkah Bara juga terlihat begitu cepat, seakan ia tak merasa ada yang sedang mengekornya dari belakang. Dan seseorang itu tak lain adalah istrinya.
Kenyataan itu membuat angan Aisyah yang tadi sempat melambung tinggi seketika terhempas ke jurang terdalam. Detik itu ia semakin yakin, bahwa tak ada namanya dalam hati Bara.
'Katakan Mas, selain memenuhi undangan, tak adakah hal lain yang ingin kau lalui bersamaku malam ini?'
Tak disadari, air mata gadis itu mulai mengenangi pelupuk. Ia kembalikan bulir-bulir itu agar tak berjatuhan dengan mengerjap beberapa kali.
Sayang, embun itu sudah terlalu jauh untuk kembali ke peraduan. Aisyah kini menangis, sendiri di belakang Bara.
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar