Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 8)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 8

"Saya ingin bicara".
Dengan sikap tegasnya, Bara menghadang Aliya dipintu masuk ke kamar tamu. Lelaki itu segera menarik Aliya masuk dan mengunci pintu dari dalam.
"Apa-apaan ini, Mas?".
"Saya perlu bicara sama kamu".
"Iya, tapi nggak begini, Mas. Saya mau keluar!".

Aliya mencoba menerobos tubuh Bara yang menutupi pintu. Tapi lelaki itu tak sedikitpun memberi ruang.

"Mas ini kenapa, sih? Kalau ketahuan sama orang rumah gimana, Mas?".

"Biar!....".

"Kok biar, Mas?. Orang tua Mas sudah sangat baik memberiku tempat tinggal, Faiz sangat berjasa sudah menyelamatkan hidupku dari tangan lelaki tukang kawin. Aisyah, istri Mas, aku tak ingin menyakiti perasaannya hanya karena ketahuan sekamar begini sama Mas. Tolong Mas biarkan aku keluar ...",  Alifa dengan deraian air mata.

Bara menggeleng. Tatapannya tajam seumpama elang yang hendak menerkam mangsa.

"Jelaskan padaku kenapa kamu pergi tanpa memberiku kabar, tiga tahun aku terus mencarimu, Alifa?".

Sesaat hening. Alifa menghapus jejak air mata di pipinya. 

"Apa yang harus saya lakukan Mas, dari dulu hidup memang tak pernah berpihak pada saya. Mungkin bagi Mas cinta dan keinginan Mas adalah segalanya. Tapi tidak buatku, Mas. Hidupku ini perjuangan. Bagaimana aku bertahan dalam naungan ayah tiriku. Bahkan apa Mas tahu, tiga bulan setelah ibu meninggal, aku tidak hanya berjuang mempertahankan hidup, tapi berjuang mempertahankan kegadisanku, Mas. Tinggal serumah dengan ayah tiri, pemabuk, suka judi, dia bahkan tega menjualku pada lelaki yang sudah beristri. Apa Mas tau itu semua. Buatku cinta bukan yang terpenting dalam hidup. Asal bisa menghirup napas lega, bersama siapapun aku tak masalah!".

Air mata Alifa semakin deras mengalir. Bara yang mendengar segala curahan hati gadis itu merasa begitu sakit. Ia tak pernah tahu jika selama ini, sedemikian sulit hidup gadis impiannya.

"Ma-ma, maafkan Mas, Alifa. Mas hanya-"

"Sudah Mas, lupakanlah saya. Apalagi, sekarang Mas sudah menikah. Ada seorang wanita yang harus Mas jaga perasaannya. Anggaplah cinta Mas dulu buat saya, hanyalah cinta monyet dua anak muda. Sudah seharusnya semua itu menjadi sebuah kenangan yang selayak kita kubur rapat-rapat".

Bara terhenyak. Matanya pun kini basah. Nyatanya, sampai sekarang Alifalah gadis yang masih memenuhi seluruh hatinya.

"Nggak semudah itu!...".

"Lalu Mas mau bagaimana?. Mas ingin menceraikan Mbak Aisyah dan kembali pada cinta konyol Mas dulu?".

Cinta konyol?. Betapa hancur hati lelaki itu mendengar ucapan Alifa. Dia berusaha meraih tangan Alifa. Namun, gadis itu menepis.

"Jauhi Faiz, Dik. Mas mohon. Mas akan sangat terluka jika melihatmu bersama Faiz...".

Bara bersimpuh di kaki Alifa. Entah bagaimana lagi ia meluapkan rasa sakit yang menghujam dadanya. Perih hingga bernapas pun rasa begitu sulit. 

Alifa sangat terhenyak mendapatin seorang lelaki bersimpuh di hadapannya. Buru-buru ia ikut berjongkok.

"Jangan begini, Mas." Embun terus saja membasahi pipi gadis itu. Bara menatap Alifa yang kini ada di hadapannya. Sesuatu menggerakkan tangan Bara lelaki itu untuk mengusap air mata yang sudah sedari tadi mengajak sungai pada pipi gadis yang ia cintai. Tapi lagi-lagi, Alifa buru-buru memalingkan wajah.

"Alifa janji akan menjauhi Faiz, Mas. Sekarang lepaskan aku, sebelum semua orang memergoki kita sedang berduaan di kamar ini!".

Untuk kesekian kali Bara kembali menatap gadis itu, keinginan untuk merengkuh Alifa dalam dadanya benar-benar harus ia kubur sudah.

Bara bangkit, sedang Alifa masih berjongkok menghadap ke dinding. Lelaki itu membuka dompetnya, dikeluarkan selembar kartu kredit lalu ia letakkan benda itu ke meja rias. 

Selanjutnya, Bara meraih ponsel Alifa yang terletak di atas meja itu juga untuk kemudian memencet tombol panggilan agar terhubung ke ponselnya.

"Mas akan mencarikanmu sebuah rumah dekat dengan kampus. Bilang sama Mami, kamu tidak jadi menerima pinangan Faiz, alasannya terserah. Gunakan kartu kredit ini, jika kamu butuh uang. Terima kasih, kamu sudah hadir kembali di hidup Mas...".

Bara mengangkat kembali langkahnya, dengan cepat ia membuka pintu lalu menuju ke kamarnya di lantai atas. 

Sepeninggal Bara, Alifa kembali membiarkan bening-bening embun menghujam wajahnya. Dengan kuat ia bekap wajah pada bantal. Tak ingin sesiapapun mengetahui jika ia sedang bergelimang tangis.

"Mas ... Alifapun masih sangat mencintai Mas Bara. Andai kamu tahu, tak pernah sekalipun aku melewatkan namamu dalam doaku...".

***

Sebuah ambulance tampak bertengger di depan pintu keluar. Hari ini, setelah lima hari dirawat, Faiz dinyatakan boleh pulang. Namun, dengan ditemani sekantong obat-obatan selama rawat jalan. 

Faiz menggeleng-gelengkan kepala, jangankan sekantong, sebutir aja dia berniat tak lagi ingin memanjakan diri dengan obat-obatan.

Seorang suster, mendorong kursi roda yang diduduki Faiz hingga sampai di depan ambulance. Lalu, perempuan berusia kira-kira tiga puluhan tahun itu memegangi tangan Faiz. Seketika pemuda itu mengelak.

"Saya bisa sendiri, Sus...".

"Oh, iya, silakan...".

Dengan berpegangan pada jemari sang ibu, Faiz menaiki ambulance. Netranya terus memerhatikan tempat itu sejenak setelah mobil yang dia naiki bergerak. Tak lama bunyi sirene terdengar sepanjang perjalanan.

"Iz, coba kamu udah nikah sama Alifa, Mami 'kan jadi tenang, soalnya kamu sudah ada yang jaga".

Wanita berkerudung hitam itu membuka percakapan lima menit setelah mobil melaju.

"Mi, Faiz ini masih masa training. Nggak boleh nikah dulu".

"Kalau begitu, tunangan saja dulu, Iz...".

"Nantilah, Mi. Faiz saja masih begini, jalan aja belum benar, Mi. Sabar-sabarlah satu atau dua bulan lagi".

"Kelamaan itu Iz, anak gadis orang sudah kamu tangguhkan. 'Kan kamu sendiri yang ngelamar Alifa  kemarin?".

"Ya itu kemarin Mi, sebelum kecelakaan. Setelah mengalami musibah ini, Faiz sadar bahwa bukan menikah satu-satunya tujuan hidup. Ada yang lebih penting dari itu semua, Mi ....".

"Apa Iz?".

"Taubat...".

"Emang kamu salah apa, Iz?. Mami pikir selama ini kamu nggak pernah berbuat salah".

Faiz bergeming.

"Salah itu 'kan nggak usah nunggu diumumkan baru minta ampun, Mi. Setiap saat manusia juga kerap buat dosa. Terlebih Faiz. Kehidupan kedua yang Faiz rasakan sekarang, tidak terlepas dari pengampunan Allah atas segala dosa-dosa Faiz. Dan aku  nggak mau nyia-nyiakan kesempatan yang Allah kasih ini".

Mami Faiz menghela napas. Jika sudah begini, dia tak tahu lagi harus berkata apa. Dari kecil hingga sudah berusia dua puluh dua tahun, memang diantara ketiga anak-anaknya, Faiz yang paling keras. Tapi, Faiz juga yang paling tanggung jawab.

Mami Fina memang sangat menyayangi Faiz, terutama setelah suaminya meninggal. Melihat Faiz selalu menyembuhkan rasa rindunya untuk sang suami. Karena Faiz menurunkan seluruh fisik ayahnya sampai ke bentuk mata.

Ambulance terus melaju, Faiz menyelingi embusan napasnya dengan zikir Al Matsurat. Menutupi kerisauan jiwa yang terus mengecoh benteng pertahanan hatinya. Sesaat lagi, ia akan kembali ke rumah. Di sana, ia akan kembali bertemu Aisyah. Dia harus menguatkan diri, memperkuat iman, dan mendamaikan hati.

'Manusia memang mudah sekali melafalkan kata cinta. Tanpa berpikir panjang. Sebuah ketertarikan dan rasa suka segera menggerakkan lisan untuk melafal kalimat 'Aku Cinta Padamu.' Tak banyak yang tahu apa itu cinta, lebih sedikit lagi yang mencaritahu tentang hakikatnya. Orang bilang, cinta kita karena Allah semata. Dibuktikan dengan saling menasehati dalam keshalihan. Tetapi tanpa ikatan apapun, bahkan berani memberi perhatian khusus pada seseorang tanpa dilandasi ijab qabul.

Cinta adalah energi. Seharusnya energi cinta adalah energi yang akan meredakan segala resah dan gelisah dengan mengingat Sang Khalik. Lalu bagaimana jika mencintai tidak dalam batas yang diridhai Allah? Inilah salah satu sebab keberdosaan yang akan kita bawa kelak menghadap Allah Subhana Huwataala. 

Hati yang tak lagi khusuk, karena selalu mengingat kekasih, mata yang selalu mencuri pandang ataupun saling menatap. Tangan dan kulit yang saling menyentuh. Sekecil apapun pelanggaran, ia tetap akan menjadi sebab keberdosaan kita.' (Salim A. Fillah)

Faiz kini sadar, cinta yang tumbuh sebelum ikatan sah terucap benar membawa kesengsaraan. Sejenak ia menyesal, bahkan terpikir, andai dulu dirinya terus melanjutkan pendidikan di pesantren. Dan ketika terjun ke dunia luar, langsung meminta mami mencarikan jodoh. Sudah barang tentu pikirannnya kini bersih dari dosa.



Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...