Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 17)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Ayu Wahyuni
Part 17

Enam bulan berlalu begitu cepat, tapi tidak bagi Aisyah. Enam bulan serasa enam tahun lamanya. Selama ini, ia terus menghitung hari-hari kelabunya bersama Bara. 

Setiap malam ia menanti, kapankah lelaki itu dengan segenap keinginan, mendekati dan meminta haknya dari Aisyah sebagai seorang istri. Ia tak pernah putus berharap, suatu ketika Bara bisa tersenyum, tertawa dan menatap matanya penuh cinta.

Apapun itu, segala doa ia langitkan, pun bermacam upaya ia lakukan. Dari berpakaian lingerie yang bahkan dirinya sendiri pun terlihat risih mengenakan, hingga pengkodean baik terselubung maupun terang-terangan. Tapi semua tak ditanggapi dengan baik. Aisyah terkalahkan oleh rasa yang terpelihara ldalam kebersalahan.

Memang, setelah kepulangan mereka dari villa tempo hari, Bara terlihat lebih pemurung. Tersenyum dan berbicara seadanya. Perpaduan rasa bersalah dan rasa tak sanggup melupakan tengah menguasa hati dan pikiran lelaki itu. 

Aisyah tersakiti. Tapi, bukankah ia telah berjanji untuk menanti waktu dimana sang suami akan membuka hatinya?.

Hal itulah yang menjadi kekuatan untuknya bertahan hingga detik ini. Aisyah tetap tersenyum, memberi pelayanan paripurna, meski kadang ia harus berhenti sejenak, kala merasa bahwa usahanya hanya akan menjadi asa yang sia-sia.

Aisyah tidak membenci Bara, pun tidak pernah menyesal karena harus menjalani takdir yang sedemikian pelik bersama seorang suami. Ia hanya sedikit menaruh angan, andai bisa bertemu Bara lebih dahulu dari pada Alifa, tentu sekarang mereka sudah hidup bahagia.

Sebuah petuah mengatakan, adakalanya seseorang datang tidak selalu menjadi teman seumur hidup, melainkan ia hadir sebagai pembelajaran agar kita menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih baik. Andai bisa, sampai kapanpun Aisyah ingin memusnahkan petuah itu. Ia ingin Bara tidak hadir sebagai pembelajaran melainkan sebagai teman seumur hidupnya.

***

Hari ini, Aisyah dan Bara kembali ke rumah Mami. Setelah berbulan-bulan lamanya mereka memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri. 

Pertunangan Nindi menjadi alasan dua sejoli itu berpulang sejenak ke rumah orang tua mereka.

Jika tidak, maka ibu mertualah yang kerap bertandang ke rumah mewah milik sulungnya itu.

"Wah, Nak Aisyah apa kabar? Sudah ngisi belum, ini?".

Salah satu tetangga terlihat menggoda Aisyah. Gadis itu hanya tersenyum menanggapi.

"Belum Bu, belum rejeki."

"Kok bisa? Padahal masih muda, ya?".

"Ya namanya rejeki Bu, kalau Allah belum berkehendak, kita bisa apa ....".

"Tapi ibu dengar dari kader posyandu, kalau sudah lebih setahun itu udah disebut mandul atau kata lainnya infertil. Benar nggak sih?".

Aisyah tersentak. 

"Tapi Aisyah 'kan belum setahun menikah Bu Lastri ...."

Wanita yang lain ikut menyanggah. Aisyah masih bersikap tenang.

"Kalau begitu, Nak Aisyah kudu lebih ekstra biar segera punya momongan. Kasihan, soalnya lelaki tujuannya menikah salah satu 'kan supaya punya momongan."

Aisyah menghela napas.

"Anak itu 'kan anugerah dari Allah Buk, dikasih cepat ya bersyukur. Kalau belum, tetap tawakkal dibarengin ikhtiar. Saya dan Mas Bara tidak mempermasalahkan kapan waktunya, kami lebih ke mempersiapkan diri. Karena manusia tidak boleh memaksa Tuhan dalam hal apapun."

Wanita yang tadinya hendak nyinyir karena Aisyah belum juga hamil, sekarang terlihat menunduk dan diam.

"Maaf, Ibu-Ibu, saya permisi ke belakangan sebentar."

Aisyah berpamitan ketika dirasa obrolan itu sudah membuat perasaannya terluka. Gadis itu memilih menyendiri di taman belakang. Ia memerhati kawanan ikan yang terlihat mengelilingi tempat pemancuran. 

Selintas, ia kembali terkenang awal pernikahannya dengan Bara. Di taman ini, ia pernah merasa diperlakukan sebagai seorang istri, tangannya disentuh, netranya ditatap lekat, bahkan keningnya pernah dikecup oleh lelaki itu.

Dan benar, semua itu terjadi sebelum kedatangan Alifa ke rumah ini. Setelah kedatangan Alifa, sikap Bara berubah seratus persen padanya. Jangankan berharap mendapat perlakuan manja, perhatian lebih yang ia berikan saja, Bara terlihat enggan menerima.

'Ah, ternyata peribahasa waiting tresno jalaran Suko kulino itu ada kalanya tak berlaku dalam sebuah hubungan suami istri. Kita salah satu contohnya, Mas."

Aisyah menarik napas panjang, dikerjapkan mata beberapa kali. Mencoba mengusir derasnya bulir-bulir yang mendesak keluar. 

Ia mencoba meraih umpan yang terletak di dinding dekat kolam. Ingin mengulang apa yang pernah dilakukannya dahulu bersama Bara, tapi mendadak gerakan gadis itu terhenti. Nindi memanggilnya untuk bergabung.

Aisyah kembali ke dalam seraya memasang wajah ceria. Di atas karpet putih berbulu tebal yang di latar belakangi backdrop simple bernuansa cream-putih, semua telah siap untuk diabadikan dalam selembar foto.

'Di sana ada suamiku, Mas Bara, Mami, Nindy, dan ... Roy. Sahabat Mas Faiz yang ternyata akan menjadi calon suami adik iparku. Sungguh, jika dipikir-pikir, dunia amat sangat sempit.'
 
Aisyah berjalan cepat, lalu berdiri di sebelah Bara. Terasa melayang tubuhnya ke angkasa, kala lengan kekar suami merangkul pinggang saat blizt camera menerpa wajah.

Senyumnya terkembang, gundah yang melebihi tingginya Gunung Krakatau, lebur sudah. Beberapa kali jepretan dengan gaya yang berbeda, semua tampak begitu bahagia.

"Mi, Mas Faiz telpon."

Nindy menjerit kegirangan, mengalihkan keharuan yang tengah membalut perasaan Aisyah ketika Bara mengajaknya foto berdua.

[Assalamualaikum Mas Faiz.]

[Waalaikum salam, Ndi.]

[Mas kok nampak kurusan? Mas pasti makannya nggak teratur, ya?]

[Mas bukan kurusan Ndi, Mas lagi proses membentuk tubuh. Mas lagi persiapan mau ikut pendidikan perwira akhir tahun ini.]

[Ceile Mas, kawin dulu nggih. Baru mikir pangkat.]

[Ah, kawin gampang itu.]

[Udah dapat tapi 'kan Mas?]

[Apanya?]

[Calon?]

Faiz tersenyum menanggapi. Wajahnya yang tampak pada video call di gawai Nindi tak sengaja terlihat oleh kedua netra Aisyah. Kali ini gadis itu tak lagi menunduk atau memalingkan wajah. Ia merasa sudah cukup membentengi hatinya dengan cinta pada suami.

[Calon Mas biar Mas yang pikirkan, sekarang kamu fokus sama acara yang bakal digelar bentar lagi, ya. Ndi, Mas cuma bisa ngucapin Barakallah deh buat adik Mas tercinta ini. In Syaa Allah, pesta pernikahanmu nanti Mas usahakan pulang.]

[Iya, Mas. Makasih ya, Mas.]

[Ryo mana, Ndi? Mas mau beri wejangan.]

[Bentar,]

Nindy memberikan ponselnya pada Ryo. 

[Hallo, Komandan.]

[Yo, kamu jaga adikku baik-baik. Jangan sakiti dia, setia, jangan mendua. Atau kuturunkan pangkat jadi security.]

[Hihihi ... Siap laksanakan Ndak. Ada lagi, Ndan?]

[Sebelum nikah, jangan kamu boncengin adikku, kuharamkan kamu menyentuhnya sebelum akad terucap.]

[Siap empat lima, Ndan.]

Aisyah tersenyum mendengar guyonan Faiz. Tak bisa ia sangkali, dimana ada Faiz, disitu ada keceriaan. Pemuda itu punya magnet tersendiri untuk membuat siapapun yang ada didekatnya merasa bahagia dan nyaman.

Nindy kembali mengambil gawainya dari Ryo dan memberi benda itu pada Mami.

[Assalamualaikum ibunda. Apa kabar, Mi?]

[Faiz ... Mami rindu, Nak.]

Mami tak dapat menahan deraian air matanya. Wanita itu menangis.

[Faiz juga rindu, Mi.]

Terdengar di seberang, suara Faiz pun bergetar.

[Kapan pulang, Nak?]

[Segera Mami Sayang.]

[Jaga kesehatanmu ya, Nak. Jangan telat makan, shalat tepat waktu, tidur yang cukup. Itu rambutnya dipangkas dikit, biar rapi. Jambangnya ditipisin. Kamu udah nggak mirip polisi lagi Le, malah mirip model.]

[Hihihi ... Iya, Mi.]

[Kamu mau bicara sama Mas Bara?]

[Boleh, Mi.]

Jantung Aisyah berdegup seiring langkah mami yang mendekati suaminya.

"Bicaralah sama adikmu, Bara."

Bara mengangguk dan meraih ponsel dari tangan maminya. Dia melempar pandang ke arah Aisyah, lalu mulai menatap wajah sang adik yang nampak di layar.

[Apa kabar, Dik]

[Alhamdulillah baik, Mas.]

Terlihat Faiz mencuri pandang menatap gadis di samping Abangnya. Hanya sekejap kedipan mata, pandangannya langsung teralih.

[Mas Bara sekeluarga, gimana kabarnya?]

[Kami sehat, Iz. Kamu baik-baik di sana ya, Dik. Mas doakan apapun yang kamu impikan, bisa segera terwujud.]

[Aamiin ... Makasih, Mas]

Bara menutup sambungan telpon, lalu menyerahkan benda pipih itu pada Nindi.

"Udah, Mi. Jangan sedih, Faiz sehat banget itu. Nampak aura wajahnya benar-benar nggak ada beban."

Bara mencoba menenangkan maminya yang masih menyeka air mata.

"Iya, Mami cuma kepikir aja. Kasihan adikmu, dari dulu nggak pernah lama hidup sama Mami. Yang sekolah minta masuk pesantren, yang maunya tamat pesantren ikut pendidikan polisi. Sekarang malah dilempar ke pulau lain, nanti pulang ke Jawa sudah bawa istri. Entah kapan Mami bisa bahagiain dia."

Bara dan Nindy terkekeh berbarengan, jika semasa kecil Bara kerap mengamuk tiap kali Mami memanjakan Faiz berlebihan, setelah dewasa. Hal itu malah menjadi lelucon buatnya.

"Mi, ada juga dari di dalam kandungan Mami udah bahagiain Faiz. Kasih ibu itu tak terhingga, jauh pun tetap dia rasa."

Mami tampak semringah. Sedang Aisyah merasa amat terharu mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut suaminya. Seketika ia mengelus perut yang masih nampak tipis.

'Kapan Mas, kamu menitipkan benih di rahimku?'

***

Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Aisyah pikir, malam ini ia akan menginap di rumah mami. Sebab sudah lama mereka tak berkunjung ke rumah itu, tentu suaminya ingin menghabiskan malam bersama keluarga besar. Ternyata tidak, malam itu juga Bara mengajak Aisyah pulang.

"Menginaplah semalam Bara, kasihan Aisyah. Pasti dia kecapean dan butuh istirahat."

Terdengar mami tak menyetujui keinginan anak lelaki sulungnya. Tapi Bara tetap pada pendirian.

Akhirnya dengan berat hati mami mengijinkan anak mantu pergi malam itu juga. Di perjalanan pulang, Bara lebih memilih diam. Membuat Aisyah yang duduk di sisinya merasa serba salah.

"Mas kenapa?"

"Hmm ... Nggak kenapa-kenapa?"

"Tapi kenapa seperti sedang memikirkan sesuatu, Mas?"

"Mas cuma kecapean. Mas pengen cepat pulang dan beristirahat."

Aisyah mengatur degup di dadanya. Entahlah, setiap kali melihat suaminya itu, sesuatu sering berdesir di dada. Hanya saja sikap Bara teramatlah dingin.

Gadis itu menggerakkan tubuh, melihat Nindy dan Rio berbahagia, iapun seperti sangat ingin memanjakan diri pada lelaki yang sudah bisa direngkuhnya dengan halal.

Sedikit ragu, Aisyah memberanikan diri merebahkan kepala di pundak sang suami. Tapi mendadak, Bara mengerem mobilnya. Membuat gadis itu terhunyung ke depan dan hampir menabrak kaca mobil bagian depan.

"Astaghfirullah! Maaf, kamu nggak papa, Aisyah?"

Aisyah menatap lelaki itu penuh luka.

'Sebegitu tak inginkah kamu untuk kudekati, Mas?'

Aisyah membuang wajah, kecewa karena sikap Bara padanya. Tapi sangat ia harapkan lelaki itu mau mengulur tangan mengelus bagian kepalanya yang sakit akibat rem mendadak yang dilakukan Bara.

Tapi apa? Jangankan mengelus, menolehpun tak lagi. Bara kembali fokus menyetir.

Sikap Bara kali ini begitu membuat jiwanya terguncang. Ia tak bisa lagi diam. Aisyah hanya perlu bersabar hingga sampai rumah. Ia sudah bertekad akan mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini pada sang suami.

***

Mobil perlahan memasuki teras. Lalu kendaraan itu berhenti sempurna setelah Bara memasukkannya ke dalam garasi. Aisyah berjalan tergesa ke dalam rumah. Di belakang, Bara menyusul langkah gadis itu yang terlihat tak biasa.

"Aisyah kamu kenapa?"

"Kita perlu bicara, Mas?"

"Bicara? Tentang apa?"

"Aisyah mau kita bercerai, Mas. Aisyah udah nggak kuat, Mas. Tiap saat Mas acuhkan begini. Aisyah ini seorang wanita yang juga punya perasaan. Jika hanya untuk menjadi pajangan, buat apa kita teruskan pernikahan ini ...."

Bara terhenyak mendengar kata-kata Aisyah. 

"Baiklah jika itu yang kamu mau. Sudah lama Mas ingin melakukannya. Tapi Mas masih ingat Mami, Mas ingat Bapakmu. Tapi jika kamu sendiri yang meminta, Mas akan kabulkan. Mas ceraikan kamu dengan talak satu."

Deg!

"Mas Bara ...."

*

"Aisyah ... Bangun, kita udah sampai di rumah."

Sebuah tepukan pelan menyentuh pipi Aisyah. Gadis itu mengangkat wajah dan membuka mata perlahan. Ia melihat sekeliling, memerhatikan dengan baik keberadaannya saat itu.

"Mas, kita dimana?"

"Kita di teras. Kamu ketiduran daritadi. Ayo, bangun."

Aisyah menghela napas. 'Jadi yang tadi hanya mimpi?'

Aisyah benar-benar merasa takut. Keinginannya untuk memancing dengan kata-kata cerai mulai ia pikir ulang. Ia takut, jika hal yang terjadi dalam mimpinya, benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. 

'Bercerai! Tidak, aku tidak mau menjadi janda.'


*Bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...