Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 13
Faiz berhenti melangkah, rencananya hendak mengikuti apel peresmian pasukan yang dikirim ke Aceh, tertunda sejenak saat mendengar suara tangis dari kamar kakaknya.
Ragu, tapi pelan ia meyakinkan diri untuk mengetuk pintu kamar itu.
'Kenapa Aisyah menangis?. Apa ia dan Mas Bara bertengkar?'.
Pertanyaan yang sejenak terasa memenuhi memori kepala. Yang ia tahu, dari kemarin pagi hingga semalam, sang kakak tak ada di rumah. Pemuda itu curiga, jangan-jangan Bara malah pergi mencari Alifa.
'Keterlaluan jika itu yang kamu perbuat diluar sana, Mas'.
Sekitar lima menit Faiz menunggu dengan hati penuh tanya. Saat pintu itu terbuka. Aisyah muncul di sebaliknya dengan wajah berurai air mata.
Faiz mematung melihat dua bola kecoklatan milik kakak iparnya bergelimang cairan. Seketika hatinya pun terasa begitu sakit.
"Aisyah?....".
Reflek dia menggerak tangannya hendak menyentuh pipi gadis itu.
Aisyah terhenyak, dengan segera ia menutup kembali pintu kamarnya. Besar harapan jika yang memanggilnya tadi adalah sang suami. Tapi kenyataan, justru lelaki dengan seribu pesona, yang tak lagi ingin ditatapnya yang selalu terlihat.
'Kenapa kamu tak seperti dia, Mas?. Apa kamu tidak mencintaiku?. Atau kamu mencintai orang lain?'.
Aisyah kembali menyeka sudut matanya yang mulai terasa perih.
Sementara itu, Faiz kembali mengetuk pintu.
"Syah, kenapa nangis, ada masalah?".
Aisyah tak menjawab. Semenjak kecelakaan yang menimpa Faiz kemarin, Aisyah sangat menjaga sikapnya. Ia takut, jika kembali larut dalam perasaan yang haram, Allah akan memberi cobaan sebagai pelebur dosa. Dan ia tak mau cobaan itu ditimpakan atas diri Faiz.
Dua kali Faiz memanggil, tapi Aisyah tak juga menjawab. Dia semakin terisak dengan membekap wajahnya pada bantal. Indahnya sinar mentari diluar sana yang mulai menanjak naik, seolah tersapu oleh air matanya.
'Pergilah, Mas. Jangan lagi perdulikan Aisyah. Aisyah tak ingin, Mas Faiz koma seperti kemarin ....".
"Buka pintunya Aisyah...".
Faiz terlihat semakin cemas. Karena terus diacuhkan, akhirnya pemuda yang sudah terlihat lebih bugar itu, segera turun memberi tahu mami tentang keadaan Aisyah.
Mami terlihat begitu syok dengan penuturan Faiz yang nampak ditambah- tambahkan.
"Aisyah menangis, wajahnya pucat pasi, Mi."
Bak terbang mami sampai di lantai atas.
"Aisyah, buka pintunya, Sayang".
Hening, pintu kamar tak terbuka, suara tangis pun tak lagi terdengar.
"Ketuk lagi, Mi. Jangan-jangan Aisyah bunuh diri!"
Kata-kata Nindi membuat maminya semakin kalut.
"Kok bunuh diri, emang Aisyah diapain sama Bara?".
"Ya, mana Nindi tau, Mi. Kali aja mas Bara nggak pernah nafkahi batin Mbak Aisyah. Mami 'kan lihat sendiri, Mas Bara kerjaannya keluar kota Mulu!".
Faiz terhenyak. Bisa-bisanya gadis belia itu mengeluarkan argumen yang menyesakkan begitu. Sedang mami mereka terlihat merenung sejenak, lalu kembali menggedor pintu. Namun, tetap tak ada sahutan.
"Iz, kamu dobrak ya Iz, pintunya. Mami khawatir ini, takut Aisyah kenapa- kenapa...".
Faiz ragu untuk menuruti kemauan maminya. Tapi nggak ada salah mencoba.
Bruuukkk!..
Sekali dobrakan tak membuahkan hasil. Justru badan Faiz yang terasa sakit.
"Mas coba lagi, Mas. Mas 'kan spesialis dobrak pintu. Dulu aja, pintu rumah Alifa Mas dobrak sampai terbuka...".
"Itu pintunya gimana, ini pintunya kokoh, Ndi!. Mas nggak kuat, Mas 'kan baru sembuh."
Sang ibu mencoba menghentikan gerakan putranya.
"Udah Iz jangan lagi, nanti malah kamu yang kenapa-kenapa. Ambil linggis, Ndi. Kita congkel saja!".
Segera Nindi berlari kebawah, membongkar gudang untuk menemukan benda yang maminya maksud. Setelah kembali ke lantai atas, sebelum Faiz menyongket pintu kamar Aisyah, ternyata pintu itu terbuka dengan sendiri.
Aisyah lengkap dengan mukena muncul di sebaliknya.
"Alhamdulillah, kamu nggak apa-apa Sayang?", tanya mami sambil memeluk tubuh gadis itu.
Tak kuasa menahan, tak juga bersuara, hanya air mata yang mengisyaratkan bahwa gadis itu sedang dalam masalah.
"Kamu kenapa menangis, Nak?".
Aisyah sesengukan.
"Ibu saya, Mi."
"Kenapa ibu kamu?".
"Beliau sedang dirawat di rumah sakit, kemarin malam di rujuk karena kena serangan jantung...", jawab Aisyah lirih.
"Astaghfirullah, kenapa baru bilang sekarang. Harusnya kamu 'kan ikut menemani?".
"Aisyah bingung Mi, Aisyah telpon Mas Bara hapenya nggak aktif. Aisyah khawatir Mas Bara juga dalan keadaan tidak baik ...".
Mami kembali merangkul gadis itu.
"Kita ke rumah sakit dulu, nanti Bara kita pikirkan belakangan. Kamu bisa nyetir, Iz?".
"Em, Faiz hari ini ada apel, Mi...".
"Ya sudah biar pakai mobil Mami, aja. Kamu hati-hati nyetir ya, Iz...".
Mereka pun berlalu dari hadapan Faiz. Meninggalkan pemuda itu, dengan kekesalan teramat besar didalam dada. Lagi-lagi, pikirannya dipenuhi nama kakaknya. Faiz merasa begitu kecewa pada Bara.
"Jika benar kamu pergi untuk mencari keberadaan Alifa, maka siap-siap kamu, Mas!".
***
Tepat pukul dua siang hari, Faiz selesai mengurus semua persiapan administrasi. Keberangkatannya ke provinsi yang terkenal dengan sebutan Seurambi Mekkah itu hanya menghitung hari. Entah bagaimana harus menyampaikan pada mami. Apalagi keluarga Aisyah sedang ada musibah.
Saat hendak menuju parkiran, sapaan seorang wanita membuat langkahnya terhenti.
"Mas Faiz ...!".
Faiz segera berbalik.
'Astaghfirullah! Kaniya! Alamak dapat dosa ini!'.
"Eh, Kaniya, apa kabar?",sapanya basi basi.
"Baik Mas. Mas Faiz sombong banget sih, mentang-mentang mau dipindahin ke provinsi lain...".
"Ah, nggak. Biasa aja lho!"
"Mas Faiz udah benar-benar sembuh?.Kemarin waktu Mas koma, saya sama teman-teman yang lain ikut ngejenguk lho!".
"Oya, makasih ya...".
Kaniya mengangguk manja.
"Mas Faiz ....".
Kini mata gadis itu mengerling seksi ke arah mobil baru Faiz.
"Jangan lupain Kaniya, ya. Nanti kalau Mas sudah di sana, masih mau nggak berkirim kabar sama Kaniya?".
Faiz tersenyum menanggapi. Membuat gadis di hadapannya tersipu malu. Kegantengan Faiz sempurna hakiki di mata gadis itu.
"Tentu boleh, donk. Eh tapi saya pamit dulu, ya. Kebetulan mau jenguk saudara di rumah sakit".
"Oh nggak papa, Mas. Semoga saudaranya cepat sembuh ya, Mas."
Faiz menghela napas panjang, sambil kembali duduk di balik kemudi.
"Hm ... Kaniya, Kaniya. Andai lebih tertutup sedikit, juga lebih pendiam. Bisa jadi aku akan membalas perasaannya. Eh! CK! Impossible Aisyah nomor satu!".
Faiz kembali menghidupkan mobilnya. Dia membaca kabar hati. Sudah lama berharap mami mengganti motor besar dengan mobil spot seperti yang dinaikinya kini. Tapi ketika sudah di tangan, malah negara mengharuskannya pergi.
'Nasib jadi abdi negara!'
Faiz berencana pulang terlebih dahulu, mengganti pakaian. Baru setelahnya ikut ke rumah sakit untuk mengantar jenazah ibunya Aisyah pulang.
Sampai di rumah, dadanya bergemuruh hebat. Mobil Bara sudah terparkir di garasi.
'Sialan kau, Mas!'.
Dengan tak lagi setenang tadi, Faiz berhamburan ke dalam rumah. Ia mempercepat langkah menaiki tangga. Lalu dengan napas memburu ia mengetuk pintu kamar kakaknya.
Saat pintu itu terbuka.
Bruuukkk!
Sebuah pukulan membuat Bara terhempas ke lantai.
"Itu pantas untuk seorang lelaki bajingan seperti Mas!"
Bara bangkit!
"Nggak sopan kamu, Iz!"
Bruuukkk!
Pukulan kedua kembali membuat tubuh Bara terjungkit ke pinggir ranjang.
"Kenapa Mas diam! Lawan Faiz Mas! Beraninya jangan sama perempuan! Lawan Faiz Mas, kita buktikan siapa yang lebih jantan diantara kita!"
Bara terlihat meringis kesakitan, tangan kanannya menyentuh bawah bibir yang mulai mengeluarkan darah segar.
"Kamu kenapa sih, Iz. Ngigau kamu!".
"Mas yang ngingau! Kemana Mas dari kemarin malam. Mas tinggalkan Aisyah demi mencari Aliya, iya!", bentak Faiz masih begitu emosi.
Pemuda itu kembali ingin melayangkan tangannya, tapi Bara menahan.
"Berhenti Iz! Mas berjanji untuk tidak lagi memikirkan Alifa!"
Faiz menghentak kedua tangan. Dia berusaha menarik napas dan meredam amarah.
"Mas sudah menemukan Alifa. Dia sudah aman di kampungnya. Jadi sekarang, Mas tinggal memfokuskan diri untuk membangun kembali rumah tangga bersama Aisyah."
Faiz menghela napas. Dadanya sakit mendengar kalimat terakhir Bara.
"Mas nggak perlu berjanji pada siapapun. Mas harus berjanji sama diri Mas sendiri. Aisyah itu tanggung jawab Mas sepenuhnya. Mas pasti belum tahu, kalau Ibu Aisyah sudah meninggal dunia."
"Apa?"
"Asal Mas tau, Aisyah bahkan tidak sempat bertemu dengan ibunya, hanya karena menunggu ijin dari Mas sebagai suami."
"Astaghfirullah!"
Bara mengusap wajahnya.
"Sekarang dimana mereka?"
Faiz menghela napas, rasanya tak ingin memberi tahu. Supaya Bara merasa menyesal. Tapi, ia teringat akan Aisyah. Pasti gadis itu amat menanti kehadiran Bara disisinya.
"Tadi Faiz menelpon Mami, katanya masih di rumah sakit. Tapi akan segera dibawa pulang."
Bara menghela napas berat. Perlahan mulai menyesali apa yang sudah ia perbuat pada istrinya.
"Sebaiknya Mas segera ke sana. Berdoalah supaya Aisyah bisa memaafkan kesalahan Mas ini."
*Bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar