Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 10)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 10
Ayu Wahyuni

Malam semakin menanjak, terlihat purnama membulat sempurna. Faiz menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati. Padahal mami sudah menyuruhnya menunggu di atas, biar Bik Minah yang mengantar makanan. Namun, pemuda itu merasa masih sangat kuat untuk menunggu hantaran makanan seperti seorang lansia.

Saat kakinya menginjak gundakan terakhir, ia menangkap sosok Aisyah yang tengah meletakkan makanan di atas meja. Gadis itu tampak cantik dalam balutan hijab berwarna coklat susu.

Seketika mata Faiz menunduk, tak ingin berlama-lama dalam keharaman. Saking asyiknya berjalan sambil menunduk, ia bahkan hampir menabrak sesuatu.

Diangkatnya wajah.

"Aisyah?".

Gadis itu membelalak.

"Kalau jalan sambil nunduk, ya sudah pasti nabrak lah, Iz. Mbok ya diangkat wajahnya. Untung cuma nabrak Aisyah, kalau nabrak tembok, gimana?".

Mami mengagetkan keduanya yang sejenak saling bertatapan.

"Yuk Iz, Mami bantu," lanjut wanita itu sambil memegang tangan putra keduanya. Faiz sedikit menolak. 

"Faiz bisa sendiri, Mi. Faiz nggak papa, lho?".

Aisyah masih terdiam meratapi kepergian Faiz, sembari menyesapi rasa yang seketika membuat dadanya terasa nyeri. Ia kembali menunduk dan memilih berjalan ke dapur.

Faiz yang telah duduk sempurna, memerhatikan gadis itu, yang kini hilang dari pandangan.

"Nggak papa sih menurut kamu, Iz. Tapi bagi yang melihat kamu itu kenapa-kenapa. Kok nggak nunggu di atas saja, padahal Mami sudah siapin semua buat kamu lho, tinggal diantar aja sama Bik Minah tuh...", ucap mami sambil menunjuk nampan berisi nasi serta lauk yang ada di tangan asisten rumah tangga mereka.

Faiz menghela napas.

"Udah Bik, bawa sini aja!", seru Faiz tanpa menggubris omelan maminya.

Nindi kini ikut bergabung di tempat itu.
"Apaan sih Mi, ribut-ribut?".
"Kakakmu ini, dibilangin bawel. Eh, Alifa mana?. Biasanya dia rajin banget bantuin Mami ngangkat makanan?".

"Oh, bentar aku panggilkan dulu ya, Mi".

Nindi segera bangkit dan menuju kamar tamu. Diketuknya perlahan pintu kamar Alifa, tapi tak terdengar suara apapun sebagai sahutan.

Nindi berinisiatif untuk membuka langsung pintu yang bertempelkan pahatan kalimat Assalamualaikum itu.
 
Saat pintu terbuka lebar, Nindi terheran. Tak ada sesiapa di kamar. Gadis itu kembali meneriakkan nama Alifa hingga ke kamar mandi, yang ternyata juga kosong setelah ia buka.

Dengan resah Nindi kembali ke ruang makan.

"Alifa nggak ada di kamarnya, Mi!".

Semua tersentak. Termasuk Bara yang kini juga sudah bergabung di ruang makan.

"Kemana Alifa?".

Suara Bara terdengar pertama kali. Ia kelihatan begitu cemas.

"Nggak tau Mas, kamarnya kosong".

"Lho, kok bisa kosong. Bukannya tadi sore masih ada?".

Lagi, Bara terlihat semakin cemas. Melebihi kecemasan siapapun yang ada di tempat itu. Dia teringat akan kejadian tadi pagi, ketika dirinya mengunci Alifa dalam kamar dan meminta gadis itu untuk pergi dari rumah.

"Ya tapi sekarang udah nggak ada, Mas. Di kamar mandi juga kosong. Apa mungkin juragan Kasim diam-diam nyelinap masuk, terus menculik Alifa?".

Nindi bertanya dengan wajah penuh ketakutan.

"Hus, ngomongnya jangan ngasal, mana mungkin Juragan Kasim masuk dan menculik Alifa sedang kita nggak ada yang tahu. Coba telpon ke handphonenya!".

Mami mencoba menenangkan keadaan.

Bara segera mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menekan sebuah nomor.

Faiz yang menyaksikan sedikit bertanya-tanya, darimana Masnya itu mendapatkan nomor ponsel Alifa?.

"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, silahkan menghubungi beberapa saat lagi."

Panggilan yang dilakukan Bara dijawab oleh call center.

"Duh, gimana ini Mas Faiz? Mas 'kan Intel, coba donk Mas cari tau keberadaan Alifa ...", rengek Nindi sambil menggoyang- goyangkan tubuh Faiz yang duduk di sebelahnya.

"Nomor telpon teman-temannya yang lain, ada?", Faiz mencoba memberi solusi.

"Bentar....".

Nindi berlari ke kamarnya, mencoba menelpon beberapa orang sahabat mereka. Semua menjawab tidak mengetahui keberadaan Alifa.
 
"Jadi gimana Iz, bisa buat laporan orang hilang nggak?".

Mami bertanya sambil mengusap- usap jari. Baginya Alifa sudah dia anggap seperti anaknya juga. Dia menyayangi Alifa, selayaknya menyayangi Nindi juga Aisyah.

"Nggak bisa Mi, harus nunggu dua puluh empat jam baru bisa buat laporan kehilangan. Kita tunggu sampai besok aja, Mi. Barangkali Alifa mengunjungi suatu tempat, dan kebetulan dia nggak bertemu dengan siapapun untuk meminta ijin saat mau keluar tadi?".

Faiz masih tetap bersikap tenang.

Semua terdiam, membawa persepsi berbeda dalam tiap-tiap pikiran. Malam itu, makan malam terasa begitu menegangkan. Nggak ada bercandaan, bahkan protes saat kuah yang jadi lauk utama ternyata terasa asin.

***

Usai makan malam, semua kembali ke kamar masing-masing. Begitulah kiranya ritual yang biasa terjadi di rumah itu. Kecuali Nindi yang biasa menghabiskan waktu di depan televisi.

Faiz masih di ruang makan, saat meja itu sudah terlihat rapi pun, ia masih betah tak beranjak.

"Mami bantuin kamu ke atas, Iz?"

"Nggak Mi, nanti Faiz naik sendiri. Mami tidur aja, pasti capek seharian di sekolah."

"Oh iya Iz, Mami ngantuk banget. Yaudah, kamu hati-hati naik tangga, ya. Jika butuh bantuan, minta bantu sama Nindi."

Faiz hanya mengangguk. Matanya tak lepas dari kamar tamu yang langsung berhadapan dengan ruang makan. Saat sudah sepi, ia bangkit menuju ruangan itu.

Sebagai seorang penyidik, ia biasa menangani kasus begini. Perlahan, tangannya tergerak untuk membuka pintu. Setelah berada di dalam, cekatan dan begitu teliti ia memeriksa tiap sudut. Sepertinya insting pemuda itu berkata, Alifa meninggalkan suatu tanda di kamar.

Saat tengah asyik menyibak seprai. Matanya terbidik pada satu titik. Kertas putih yang hanya nampak ujungnya, terletak di bawah lampu hias di atas nakas.

Dengan segera Faiz mengangkat lampu berbentuk mahkota itu. Netranya sedikit membelalak. Ternyata benar ada sebuah surat.

Faiz meraih kertas yang terlipat segiempat, lalu mulai membukanya. Tampaklah sebuah kartu kredit di dalam lipatan kertas itu.

Yang membuat ia begitu terhenyak bukan pada isi dalam surat itu, melainkan saat ia membaca sebuah nama yang tak asing tertulis di kartu tersebut.

'Alfi Sabara.'

Deg!

Jantungnya seketika bertabuh kencang. Kenapa kartu kredit Mas Bara ada di kamar Alifa?

Segera pemuda itu membaca pesan yang tertulis pada kertas di tangannya.

Assalamualaikum Mas Bara.

Maaf Mas, saya tidak bisa menerima semua kebaikan yang hendak Mas beri kepada saya. Perlakuan Mas, tidak membuat saya merasa sedang ditinggikan, tapi merasa sedang dihinakan. Semua bantuan Mas itu, sungguh tak pantas Mas beri kepada saya. Sekali lagi, Mas minta saya menjauh. Baik, saya akan pergi. Terima kasih untuk semuanya.

Wassalamualaikum.

***

Bergemuruh dada Faiz membaca pesan yang tertulis pada kertas tersebut.

'Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa Mas Bara menawarkan bantuan sedemikian hebat pada Alifa?'.

Saat tengah tertegu n diajak memikirkan Alifa, tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Faiz terhenyak, segera ia menoleh, mencari tahu siapa yang telah membuka pintu.

"Mas Bara?".

Keduanya berpandangan sejenak. Waktu sesaat berhenti berputar. Jantung Bara riuh berdetak mendapati langkahnya kalah cepat dengan langkah sang adik.

Ia menyesal kenapa terlambat membaca pesan yang dikirimkan Alifa padanya sejak maghrib tadi. Harusnya semua ini masih tertutup rapat.

"Mas cari ini?", seru Faiz yang membuat Bara harus menarik napas untuk meredakan gemuruh di dadanya.
 
"Kemarin Mas tanya sama aku, apa hubunganku sama Aisyah. Sekarang giliran aku yang nanya sama Mas Bara, apa hubungan Mas sama Alifa?".

Bara terhenyak, dengan berusaha tetap tenang, lelaki itu mendekati Faiz.

"Benar kamu mau tahu, Iz?".

Faiz merasa ada sesuatu yang menghujam dadanya. Sikap Bara, membuat jiwanya ingin berontak.

"Iya, Mas."

"Alifa adalah masa lalu yang hingga detik ini tak sepenuhnya hilang dari ingatan Mas."

Sesuatu membuat pandangan Faiz mengabur. Kepalanya berdenyut mendengar penuturan sang kakak.

"Mas nggak pernah menyangka, jika Allah mempertemukan kembali kami disaat Mas sudah resmi menjadi seorang suami. Sedang bertahun-tahun lamanya, Mas terus mencari jejak keberadaan Alifa."

Faiz terduduk di atas ranjang. Ia merasa dadanya begitu sakit, jika Alifa masih begitu berarti di hati Bara, maka bagaimana kedudukan Aisyah? Ia tak bisa membayangkan jika Aisyah dinikahkan Bara hanya sebagai alasan untuk Bara belajar melupakan masa lalu.

"Kamu jangan takut, Iz. Mas tidak akan menyakiti Aisyah. Mas hanya minta Alifa untuk pergi dari rumah ini, ke suatu tempat yang sudah Mas siapkan dengan baik. Tujuannya hanya untuk menjaga perasaan kita semua. Mas juga memberi kartu kredit, dengan tujuan agar dia bisa mempergunakan jika dia butuh."

Faiz kembali menatap Bara.

"Apapun tujuan Mas, tetap aja ini adalah sesuatu yang melanggar aturan. Mas sudah bermain di belakang semua orang, termasuk Aisyah. Ini adalah perkara yang sudah menyalahi batasan. Tadi Mas minta aku untuk mendengarkan kata-kata Mas, sekarang giliran aku yang meminta sama Mas. Lupakan Alifa! Cintai dan hargailah Aisyah sebagai seorang istri. Tentang Alifa, apapun, tak perlu lagi Mas cemaskan, aku yang akan menjaganya!"

Pemuda itu melewati Bara yang masih berdiri dalam kaku. Ada hati yang tersakiti, ada jiwa yang terkoyak. Andai bisa mengelola perasan dengan baik, tentu semua tak semenyakitkan kini.



Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...