Senin, 04 April 2022

Aku Mencintai Isterimu, Mas (Bagian 9)

Aku Mencintai Istrimu, Mas
Part 9

Aisyah berdiri di ambang pintu kamar Faiz yang sedikit terbuka, sesaat setelah pemuda itu sampai di rumahnya. Terlihat di mata gadis itu, Faiz berusaha meraih sesuatu di atas nakas. Aisyah yang menyadari seketika ingin membantu, tapi mendadak langkahnya terhenti. Ia ingat, ada batasan yang harus dijaga.

Perlahan, Aisyah, membalikkan badan menjauhi kamar itu. Sakit, tentu. Siapa yang tega membiarkan seseorang yang begitu dicintai, berusaha susah payah untuk mengambil sesuatu, sedang orang itu dalam ketidaksanggupan.

Tiga hari Faiz koma, Aisyah tak henti menengadahkan tangan memohon agar Allah mengembalikan kesadarannya. Setiap ada kesempatan, ia selalu mendatangi Faiz untuk mendengungkan kalimat-kalimat suci, yang hampir dilupakan oleh seisi rumah ibu mertuanya.

Karena Faiz pula, tahajudnya menjadi lebih panjang. Di detik ini, ia mulai sadar. Mungkin, ini adalah teguran Allah, karena selama ini dirinya telah mendikte Allah perihal jodoh.

Bagaimana tidak, semenjak mengenal Faiz, Aisyah bahkan lupa cara meminta jodoh terbaik. Yang ia minta tiap kali menengadahkan tangan hanyalah agar Allah menjodohkan Faiz dengannya.

Bukankah jodoh itu adalah hak prerogatif Allah semata?.

Seandainya seorang manusia meminta jodoh dengan paksa, lalu Allah memberikannya, kiranya apakah manusia itu bisa menebak itukah jodoh yang terbaik? Tentu tak selalu.

Karena bisa jadi, Allah tak mengulurkannya dengan kelembutan, tapi Ia melemparnya dengan marah karena niat yang terkotori. Jika hal ini terjadi, maka bersiaplah menggigit jari dalam kekecewaan.

Pelan, Aisyah menyapu matanya yang basah. Ketika ingin meninggalkan tempat itu, ia terhenyak akan kedatangan sahabat Faiz, 'Rio.'

"Aisyah?",sebut pemuda itu.

Aisyah hanya tersenyum. Rio adalah salah satu yang pernah bertamu ke rumah Aisyah saat Faiz mengembalikan SIMnya yang ditilang petugas lantas.

Dengan segera gadis itu membalikkan badan memasuki kamarnya.

Rio seperti bisa membaca apa yang sedang menimpa sahabatnya Faiz juga gadis itu. Ia menghela napas sesaat, lalu melanjutkan langkah menuju kamar Faiz.

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salam. Rio? Masuk Yo...".

Faiz mempersilakan Rio masuk. Kini Faiz berusaha untuk duduk dengan bersandar pada kepala ranjang.

"Udah baikan Mas Bro...".

"Alhamdulillah, sudah".

"Ngelamun apa sih, sampe nabrak truk semen?", Rio bertanya setengah melucu : "Atau jangan-jangan keasikan mikirin Aisyah kali, ya?".

Faiz terhenyak seketika. Tak jujurpun, Rio sudah bisa membaca pikirannya.

"Pasti nyesek ya, serumah sama mantan. Apalagi jika yang menikahi mantan adalah kakak kandung sendiri!. Kamu sabar banget, Iz. Kalau aku jadi kamu, sudah tak jujur dari awal!".

***

"Benar yang dikatakan Rio, Iz?. Kenapa kamu nggak jujur sama Mas?".

Sesuatu seperti menghujam tubuh Faiz, dia tersentak kaget mendapati Bara berdiri di ambang pintu. Jantungnya kini riuh berdetak.
 
Rio gelagapan. Menit berikutnya Faiz memilih bergeming dan berusaha tenang.

"Iz, saya pamit ya. Kebetulan ada kegiatan di kantor".

"Lho, kamu 'kan baru nyampe, Yo? Kok balik?".

Faiz masih bersikap begitu tenang.

"Nanti aku balik lagi. Permisi, Mas...".

Rio berlalu dari tempat itu. Kini hanya tersisa mereka berdua. Bara dan Faiz.

"Katakan pada Mas, Iz, sejak kapan kamu mengenal Aisyah?".

"Faiz mau istirahat, Mas?", elaknya tegas.

"Mas nggak akan biarkan kamu istirahat sebelum semua ketidakjujuranmu terbongkar...".

"Ketidakjujuran apa yang Mas maksud?".

"Perasaanmu terhadap Aisyah, Iz. Kamu sudah dewasa, bertitel polisi. Mas nggak perlu ajarin kamu lagi 'kan, gimana caranya jujur?".

Faiz mencebik.

"Faiz mau istirahat!"

Dia balikkan badannya ke dinding. Bara yang merasa diacuhkan menjadi semakin tak sabaran. Didekatinya Faiz untuk kemudian duduk di atas ranjang.

"Katakan Iz, sejak kapan kamu mengenal Aisyah?. Mas mohon jujurlah".

"Awal Januari".

Bara mendelik, sekarang bulan Maret, dia melamar Aisyah bulan Februari.

"Kamu menyukai Aisyah?".

Faiz tak menjawab. Melihat gelagat 'iya' dari sikap sang adik, Bara mengganti pertanyaan.

"Kenapa kamu diam saja waktu Mas mengenalkan Aisyah padamu?".

"Semua itu sudah berlalu, Mas".

"Tetap aja Mas merasa bersalah sama kamu, jika benar kamu menyukai Aisyah."

"Aku nggak papa, Mas. Yang berhak yang duluan ngelamar".

"Iz ... Iz. Ck! Apa kamu tersiksa tiap kali melihat Aisyah sama Mas di rumah ini?".

"Faiz nggak papa, Mas. Sebentar lagi Faiz juga mau menikah!".

Jika tadi tahu Faiz mencintai Aisyah, masih membuat Bara tenang. Tidak kini. Mendengar kata menikah, jantungnya seketika terlonjak. Bukan sebab tak ingin adiknya mengakhiri status bujang, tapi tersebab calon pengantin wanita yang ingin dipinang Faiz, adalah gadis yang begitu berarti di hatinya.

"Kamu mencintai Alifa?".

Bara mulai mencemaskan gadis itu.

Faiz memilih bergeming. Apa yang harus ia katakan, nyatanya memang ia tak menyukai Alifa. Tapi, bukankah cinta itu hadir seiring saling memberi perhatian kelak jika sudah menikah?

"Jika untuk pelampiasan, Mas larang kamu menikahi Alifa!".

Faiz menoleh! Sedikit tersinggung, dia tak suka diatur!

"Jangan sakiti Alifa, Iz!".

Seketika dahi Faiz terlipat, kenapa ia menangkap adanya nada perintah sekaligus permohonan pada kalimat terakhir Bara?.

Kini Bara bangkit dari ranjang.

"Ingat pesan Mas itu ya, Iz. Jangan jadikan Alifa pelarian. Jika kamu tak mencintai, maka jangan paksakan diri untuk menikahinya. Lebih baik kamu bersabar, menunggu hingga rasa itu muncul walau hanya secuil."

Detik berikutnya, Bara melangkah meninggalkan kamar itu. Meninggalkan Faiz dalam perasaan yang tak terjelaskan.

***

Bara memasuki kamarnya. Dia pandangi sang istri yang sedang sibuk dengan memasukkan baju yang sudah digosok ke dalam lemari. Aisyah tak menyadari kehadirannya di kamar ini.

'Apa aku harus melepaskanmu?'

Dia menggeleng- gelengkan kepala. Biar tak seperti Faiz dalam hal penguasaan ilmu agama, tapi ia tahu bahwa perceraian adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Allah.

'Setelah sejauh ini aku memberanikan diri menentang perasaanku, memintamu pada kedua orangtuamu, tak mungkin jika aku harus mentalak kamu, Aisyah. Aku akan berusaha untuk mencintaimu. Kita hanya harus pergi, untuk menjaga perasaan Faiz.'

"Aisyah ....".

Gadis itu terhenyak tak menyadari suaminya ada di dalam kamar.

"Mas Bara, maaf Mas, Aisyah nggak tahu kalau Mas sudah masuk ke kamar," ucapnya sambil meletakkan pakaian di atas ranjang dan mendekati Bara. Diraihnya jemari sang suami untuk kemudian di kecup pelan.

"Kok cepat baliknya, Mas? Katanya mau ngecek restaurant?"

"Mas ketinggalan handphone."

"Ketinggalan handphone?"

Aisyah segera menoleh ke belakang.

"Ya Allah, iya. Ada di atas nakas. Aisyah ambilkan ya, Mas."

"Tunggu, Syah."

Faiz menahan kepergian istrinya dengan memegangi tangan.

"Mas mau bicara," ucapnya lirih.

Deg! Sesuatu membuat dada gadis itu sedikit berdebar.

Bara membawa Aisyah untuk duduk di atas ranjang.

"Dik, sebelum menikah, Mas sudah membeli sebuah rumah di kawasan Jakarta Barat.
 
Menurut kamu, gimana kalau kita membangun rumah tangga sendiri di sana?".

Bara bertanya dengan sangat hati-hati. Takut gadis muda di hadapannya tak setuju. Tapi, tak seperti dugaan, Aisyah malah terlihat bersemangat.

"Kenapa nggak, Mas?.Aisyah ikut aja gimana keputusan Mas Bara", jawabnya sambil tersenyum kecil.

"Alhamdulillah, kalau gitu, nanti malam Mas akan menyampaikan hal ini sama Mami."

Aisyah menghela napas. Sesuatu membuat dadanya bergemuruh, pindah rumah, berarti tidak bisa lagi melihat Faiz. 

'Ya Rabb ... Astaghfirullah!'

"Tolong ambilkan ponsel Mas. Mas harus breafing sama beberapa pengelola tiap cabang jam sebelas nanti."

Aisyah bergegas bangkit dan mengambilkan apa yang diminta suaminya. Setelah itu ia mengantar Bara hingga ke pintu keluar.

Selepas kepergian sang suami. Aisyah termenung, entah apa yang jadi sorotan matanya kini.

"Ini akan lebih baik, semakin jauh, makan semakin mudah untuk melupakan.'



Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Besi dan Karat

Besi merupakan salah satu benda yang paling kuat di muka bumi ini. Namun tidak berarti kuat itu tidak terkalahkan. Besi ternyata kalah oleh ...